[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 4 – Dasar-dasar Penetapan Hukum Islam ( Part 1 )

Belajar Fiqh 4 - Dasar-dasar Penetapan Hukum Islam ( Part 1 )

Dasar penetapan hukum di dalam al-qur’an pada dasarnya mengacu pada aturan dasar bahwa agama Islam diturunkan Bukan untuk menghapus kebiasaan masyarakat yang telah ada sebelumnya melainkan untuk mereformasi atau memperbaiki kondisi umat manusia.

Pendekatan lainnya adalah pembatalan terkait aturan atau adat kebiasaan di masyarakat pada zaman sebelumnya yang kemudian diganti dengan sesuatu aturan yang benar dan tidak merusak masyarakat itu sendiri. Seperti contohnya alkohol, yang sebelumnya dibolehkan lalu kemudian diharamkan.

Dimanapun manusia berada akan secara alami mencari sesuatu yang paling menguntungkan atau dianggap paling benar bagi dirinya sendiri dan masyarakat pada umumnya, dan isi kandungan di dalam Alquran berisi perintah kepada manusia untuk melakukan hal yang benar / baik tersebut.

Itu berarti alquran memerintahkan manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan hal tersebut diketahui sebagai sesuatu yang baik oleh umat manusia dimanapun dia berada.

Selain itu al-quran juga memerintahkan untuk menjauhi / melarang hal-hal yang diketahui sebagai sesuatu yang buruk oleh masyarakat pada umumnya bahkan secara internasional, dengan kata lain hal buruk tersebut secara alami disadari oleh masyarakat luas.

Seperti diketahui, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa alquran merupakan produk duniawi atau adat istiadat orang-orang Arab, padahal sebenarnya Al-Quran merupakan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat manusia, karena tidak sedikit orang yang menganggap bahwa isi Alquran bersumber dari ilmu dunia.

Pada kenyataannya adat istiadat atau kebiasaan bangsa Arab yang disetujui oleh Islam jumlahnya sedikit bahkan jauh lebih banyak dari adat istiadat tersebut yang dihapus oleh aturan islam, seperti misalnya hijab pada zaman dahulu menutup bagian belakang namun memperlihatkan bagian dadanya dan ini dikoreksi oleh aturan islam di dalam al-quran dll.

Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa tujuan penerapan hukum Islam adalah untuk mereformasi aturan-aturan atau tata cara berkehidupan di dalam masyarakat maka untuk mencapai tujuan tersebut telah dibentuk rangkaian perintah dan larangan yang mengatur tata cara kehidupan sosial masyarakat tersebut.

Oleh karena itu ayat-ayat al-quran berisi beberapa hal / kaidah dasar di dalam penerapan hukum-hukumnya:

Menghilangkan kesulitan 

Sebagaimana diketahui bahwa hukum Islam diturunkan untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia hukum Islam memberikan guide atau petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari hal tersebut bertujuan untuk membuat manusia itu sendiri berada di atas jalan yang lurus mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan mempertegas komitmen dalam mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hukum Islam tidaklah dimaksudkan sebagai beban kepada umat manusia, menjadikan manusia tidak dapat tumbuh secara spiritual / duniawi seperti halnya klaim beberapa golongan tertentu, namun hukum Islam dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan tiap-tiap individu di dalam masyarakat, karenanya diantara pilar-pilar adalah menghapuskan kesulitan bagi masyarakat itu sendiri.

Bukti yang mendukung bahwa konsep Islam adalah menghilangkan kesulitan dapat ditemukan di seluruh al-Quran. Berikut adalah beberapa contohnya:

{Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.}
(Al-Baqarah 2:286)

{Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.}
(An-Nisa 4:28)

Atas dasar inilah beberapa hukum di dalam al-quran berisi keringanan-keringanan seperti bolehnya mengkonsumsi hal-hal yang haram dalam kondisi terpaksa, berbuka puasa bagi seseorang yang udzur ketika berpuasa, meng-qashar / menjamak shalat dan lain-lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan Teladan Kita yang paling sempurna di dalam menerapkan hukum Islam, di dalam banyak kesempatan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memilih sesuatu yang mudah bila dihadapkan dengan dua pilihan selama perkara tersebut bukan dosa.

Bahkan kaidah ini dipakai oleh para ulama sebagai prinsip dasar di dalam menerapkan hukum Islam, oleh sebab itu dalam menerapkan hukum syariat para ulama menyimpulkan banyak hukum fiqh dengan dasar hal ini.

Pengurangan kewajiban 

Seseorang bisa saja membandingkan atau memiliki pendapat bahwa ajaran Islam memiliki lebih banyak kewajiban dibanding ajaran lainnya, hal ini tidaklah benar karena ajaran-ajaran kristen bukan lagi agama yang dibawa oleh pendahulunya karena kebanyakan agama lain telah dirubah oleh pemeluknya sendiri.

Ajaran agama Kristen yang sekarang sudah banyak menghapus hukum-hukum terdahulunya sendiri yang pada dasarnya mereka melakukan apa yang diinginkan nya saja, ini adalah perspektif yang salah. sedangkan hukum Islam merupakan refleksi dari kondisi Nabi Adam ‘alaihissalam di surga di mana semua pohon dibolehkan kecuali satu pohon yang terlarang dan itu merupakan deduksi dari kewajiban minimum.

Jadi ketika kita menjelaskan tentang satu hukum dalam al-qur’an, maka kita perlu menerangkan mengenai apa-apa yang terlarang secara mendetail dan ini terjadi secara konsisten di dalam al-quran saat menjelaskan mana yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

Contohnya dalam pernikahan. Terlarang bagimu menikahi ibumu, adik perempuanmu, bibimu, dan seterusnya. Dan di penghujungnya, Allah mengatakan, kecuali yang disebut itu, dibolehkan untuk dinikahi.

Selanjutnya hukum-hukum di berisik tidak secara mendetail sehingga banyak salah untuk disesuaikan dengan kehidupan dunia Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menambahkan beberapa data Sebagai panduan pelaksanaan Alquran itu sendiri.

Dalam qs. Al Maidah:101, “Wahai orang-orang beriman, jangan menanyakan apa yang telah dijelaskan kepadamu karena akan mempersulit dirimu.” Hal-hal tersebut sengaja dibuat umum untuk mempermudah. Saat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memberi nasihat, tidak perlu bertanya lebih jauh.

Seperti contohnya ketika kita diberikan makanan yang halal oleh seorang nasrani maka kita tidak perlu bertanya lebih jauh apakah makanan tersebut dimasak dengan perkakas yang sama untuk memasak makanan yang haram, melihat bumbu-bumbu, tipe minyak yang digunakan dan yang lainnya karena yang demikian itu akan menyulitkan kita walaupun bisa untuk dilakukan sedangkan kita mengetahui sedikit najis tidak menodai keseluruhan makanan.

Pada prinsipnya, Islam memudahkan. Apabila sesuatu itu jelas haram, tinggalkanlah. Suatu waktu di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diberi semangkok makanan oleh seorang yahudi, beliau tidak banyak bertanya. Sahabat mengisahkan hal yang sama juga dilakukan saat menghadapi umat nasrani. Nabi Muhammad SAW dalam sunnahnya melarang banyak bertanya, menggali terlalu dalam hal-hal yang tidak penting karena akan menyulitkan diri sendiri.

Contoh lainnya adalah ketika seseorang menanyakan apakah ibadah haji itu wajib setiap tahun dan beliau tidak menghiraukannya itu berarti orang tersebut tidak dianggap oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hingga orang tersebut bertanya lagi.

Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kalau aku berkata Ya maka akan menjadi kewajiban, Tinggalkanlah aku dengan hal-hal yang kalian dibebaskan untuk memutuskannya, karena generasi sebelumnya telah hancur dikarenakan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting dan argumen yang disebabkannya. Apa yang dilarang oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam jauhi, apa yang diperintahkannya lakukan semampumu.

Saat Rasulullah SAW bersabda, shalatlah seperti aku sholat. Maka kita melaksanakannya semirip mungkin. Kita hiraukan elemen-elemen yang tidak mungkin bisa sama persis.

Berkenaan dengan aturan-aturan di bisnis di dalam al-quran, aturan-aturan tersebut bersifat umum tidak ada banyak detail diantaranya:

“Wahai orang beriman, penuhilah kontrak / janji-janji.” “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”

Itulah prinsip-prinsip dagang. Sifatnya umum. Meskipun aturan di dalam Quran sifatnya umum, bukan berarti detil yang dijelaskan dalam sunnah tidak penting.

Lanjut Ke Part 2

والله أعلمُ بالـصـواب

Tulisan ini merupakan intisari pembelajaran Fiqh yg diajarkan oleh Dr. Bilal Philips.





Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *