[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 3 : Fondasi Fiqh ( Part 1 )

Sekarang kita akan mulai mempelajari Tahap pertama didalam perkembangan ilmu Fiqh, yaitu tahap rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang dimulai sejak diangkatnya beliau menjadi Rasulullah yaitu pada usia 40 tahun selama kurang lebih 23 tahun.

Dalam tahap ini satu-satunya sumber hukum dalam Islam adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, baik itu yang terdapat di dalam al-quran ataupun terdapat di dalam Sunnah fase ini disebut juga fase Wahyu.

Al-quran merupakan wahyu dari allah Subhanahu Wa Ta’ala sedangkan Sunnah adalah interpretasi praktis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bagaimana mengaplikasikan Wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Sunnah mencakup apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lakukan, apa yang beliau setujui atas praktek kehidupan yang sudah ada sebelumnya dan apa-apa yang tidak dilarang oleh Beliau. Hal tersebut sudah cukup untuk menjadi dasar hukum didalam Islam meskipun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri tidak melakukannya.

Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam masih hidup kita tidak bisa mengklaim atau menilai bahwa apa yang dilakukan para sahabat merupakan sunnah, kecuali disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengetahui hal tersebut dan tidak melarangnya atau tidak mengatakan apapun.

Karena para ulama setuju bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak akan mungkin menyembunyikan apapun atau tidak berkomentar terhadap sesuatu hal apabila beliau tidak menyetujui sesuatu tersebut ( yang berlangsung dengan sepengetahuannya ).

Misalnya ketika ada pada sahabat yang melakukan sesuatu atau berpendapat sesuatu dan itu sepengetahuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka apabila pendapat atau kelakuan para sahabat tersebut keliru maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam akan berkomentar tentang perkara tersebut.

Sehingga ketika ada sesuatu hal baik itu Perilaku atau pendapat yang dilakukan para sahabat dengan sepengetahuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada komentar dari beliau Shallallahu Alaihi Wasallam maka hal itu bisa menjadi hukum atau dibolehkan.

Begitu juga Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan sesuatu dan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak berkenan dengan perbuatan tersebut maka allah Subhanahu Wa Ta’ala akan segera mengoreksinya atau menegurnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari kesalahan dan itu berarti apa yang beliau sampaikan kepada umatnya adalah suatu kebenaran, sehingga rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan sumber informasi utama dari hukum Islam yang kita jalankan dan kita tidak boleh meragukannya.

Namun apabila kita perhatikan, disamping melalui kebenaran yang disampaikan atau dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Kita juga bisa mendapati aturan-aturan dari kesalahannya yang Allah izinkan untuk terjadi.

Ini salah satu poin yang perlu kita ketahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan rasulnya melakukan ijtihad dan membuat keputusan yang salah untuk kemudian dikoreksi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan bisa menjadi pelajaran buat kita.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa beliau pun manusia biasa Seperti yang disebutkan di dalam al-quran “Katakanlah sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kalian semua. Satu-satunya perbedaan adalah wahyu Allah SWT datang kepadaku”. ( QS.18 : 110)

Metode Penetapan Hukum

Alquran diturunkan secara terus menerus kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam selama kurang lebih 23 tahun, yang mana bagian-bagian solusi atau jawaban dari masalah masalah hadapi Nabi Muhammad SAW atau para sahabatnya.

Sejumlah juga ditujukan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kaum muslimin dan non muslim di kala itu, salah satu contohnya:

{Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah}. (Al-Baqarah 2:217)

Sebagian lainnya diturunkan karena sesuatu insiden yang terjadi di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, contohnya adalah kisah Hilal bin Umayyah yang menuduh istrinya berselingkuh dengan salah seorang sahabat.

Alasan hukum tersebut diturunkan secara bertahap adalah untuk mempermudah orang-orang Arab untuk  menerimanya, Karena di kala itu masyarakat Arab tidak mengenal hukum, jadi tidak mungkin membawa keseluruhan hukum di tengah masyarakat dan oleh karena itu rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampaikannya secara bertahap.

Ini merupakan bentuk strategi untuk memasuki suatu komunitas tertentu tanpa adanya penolakan yang berarti sehingga membuatnya menjadi mudah untuk dipelajari dan dicerna, mekanisme turunnya hukum secara bertahap ini tidak hanya dilakukan pada hukum yang bersifat umum tetapi juga yang bersifat pribadi atau personal.

Lanjut Ke Part 2

والله أعلمُ بالـصـواب


Tulisan ini merupakan intisari pembelajaran Fiqh yg diajarkan oleh Dr. Bilal Philips.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *