[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 2 : Fanatik Mahzab Part 3

Belajar Fiqh 2 : Fanatik Mahzab Part 3

Lanjutan Dari Part 2

Yang harus kita lakukan sebenarnya adalah mengikuti mazhab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dengan tetap berpikiran bahwa para ulama-ulama terdahulu dan mazhab yang ada bisa membantu kita dalam mengikuti mazhab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Apabila kita mengunjungi suatu negara dan bisa saja di negara tersebut sudah terdapat suatu mazhab yang diikuti, maka kita bisa menimba ilmu di sana yang tentu saja kita harus analisa terlebih dahulu dan memastikan bahwa mazhab-mazhab tersebut bukalah mazhab yang sesat.

Yang mungkin kita tidak sadari bahwa para ulama terdahulu juga melakukan hal yang demikian, dan itu tidak masalah. Kita lihat salah satu contohnya adalah murid terkemuka Abu Hanifa, Muhammad as-Syebani berguru kepada Imam Malik dan menghafalkan kitab al-Muwaththah.

Bahkan terkadang para murid dari imam besar tersebut merubah pendapat gurunya berdasarkan ilmu pengetahuan yang baru didapat, jadi tidak ada masalah dalam mempelajari sesuatu hal yang baru untuk kemudian menemukan informasi baru dan merubah pandangannya, asalkan kita mencari referensi atau guru yang lurus ajarannya atau tidak sesat.

Kalau kita rinci atau lihat lebih detail bahwa perbedaan-perbedaan diantara mazhab tersebut hanya sebatas dalam urusan fiqh tidak dalam urusan aqidah, oleh sebab itu kita Jangan melihat perbedaan-perbedaan tersebut dari kacamata aqidah.

Kita tidak mengambil pemikiran bahwa mazhab-mazhab tersebut merupakan sesuatu hal yang bisa memecah belah umat atau kita beranggapan bahwa sebaiknya mazhab tersebut dihapus atau diharamkan saja, pemikiran ini keliru dan memiliki arti bahwa perjuangan ulama-ulama di zaman dahulu dalam menyebarkan ajaran Islam menjadi sia-sia.

Padahal kita ketahui bahwa ulama-ulama besar yang keilmuannya serta kecerdasannya sangat luar biasa tetapi mereka juga tetap mengikuti mazhab atau memilih salah satu mazhab yang menurut mereka paling tepat atau diyakininya.

Kita juga tidak beranggapan bahwa empat mazhab tersebut merupakan ajaran-ajaran yang baru atau bahkan di tingkat tertentu Kita menganggap sebagai kepercayaan sampai-sampai menganggap sebagai agama baru, tentu saja pemikiran tersebut merupakan pemikiran keliru dan bisa membuat kehancuran umat.

Jadi bukan Mazhabnya yang buruk Tetapi penerapan atau orang-orang yang menggunakan mazhab tersebut yang bisa menyebabkan keburukan bagi umat Islam.

والله أعلمُ بالـصـواب

Tulisan ini merupakan intisari pembelajaran Fiqh yg diajarkan oleh Dr. Bilal Philips.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *