[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 2 : Fanatik Mahzab Part 2


Lanjutan dari part 1

Lantas apa sebaiknya sikap kita terkait adanya mazhab tersebut, di sini Kita Harus berpikir dengan cerdas tanpa adanya kepentingan tertentu ataupun hawa nafsu, karena yang kita inginkan dari mempelajari mazhab ini adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan Islam dengan pemahaman yang benar.

Mungkin kita bisa sedikit menelaaah ke belakang bahwa imam Malik sebenarnya bukanlah seorang bermadzhab Maliki, imam Abu Hanifah bukanlah seorang yang bermazhab Hanafi, imam Syafi’i bukanlah seseorang yang bermazhab Syafi’i, Begitu juga dengan Imam Ahmad bin hambal bukanlah seseorang yang bermazhab Hambali.

Ketika kita melihat sejarah bahwa apa yang dilakukan Imam Syafi’i yaitu beliau berguru kepada Imam Malik selama lebih dari 20 tahun, namun beliau bukannya seorang Maliki atau beliau tidak menganggap dirinya sebagai seorang Maliki.

Imam Bukhari berguru kepada Imam Ahmad bin hambal, namun beliau tidak mendeklarasikan dirinya sebagai seorang penganut mazhab Hambali, lantas sebenarnya mazhab Apakah para imam yang sudah dikenal di dunia Islam tersebut, apakah dia tidak memiliki mazhab sama sekali?

Jawabannya adalah kembali kepada generasi umat Islam terbaik yaitu rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya, para imam tersebut berusaha mengikuti tata cara beragama Islam sesuai dengan tuntunan mereka.

Mereka berusaha mendapatkan ilmu dari sebanyak mungkin guru atau ulama yang tentu saja telah beliau teliti dahulu untuk mengambil ilmu dari mereka, yang tentu saja tujuan akhirnya untuk mendapatkan ilmu Islam berdasarkan pemahaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Pada zaman Khalifah Abu Bakar pada dasarnya umat Islam mengikuti mazhab Abu Bakar, khalifah Abu Bakar sebagai seorang pembuat keputusan berdasarkan al-quran dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Begitu juga di zaman Umar, Usman dan Ali seperti yang nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sabdakan, ikutilah sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin, umat Islam di zaman tersebut berusaha mengamalkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ini.

Di antara dalil lain adalah riwayat Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang shahih lighairihi (shahih karena dikuatkan dengan sanad yang lain), dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, dia berkata:

وَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى الهُِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati kami dengan nasehat yang menyentuh, meneteslah air mata dan bergetarlah hati-hati. Maka ada seseorang yang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat perpisahan. Maka apa yang akan engkau wasiatkan pada kami?”

Beliau bersabda: “Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah serta mendengarkan dan mentaati (pemerintah Islam), meskipun yang memerintah kalian seorang budak Habsyi. Dan sesungguhnya orang yang hidup sesudahku di antara kalian akan melihat banyak perselisihan.

Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). 

Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“

Namun bagaimanapun pendapat para Khulafaur Rasyidin tersebut tidaklah sempurna, ada beberapa pendapat yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, dan jelas itu diingatkan atau dibantah oleh sahabat lainnya.

Contohnya terkait pelaksanaan haji yang mana abdullah bin Umar berdasarkan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tentang preferensi dari haji tamattu yaitu haji yang mencakup umroh dengan pelaksanaan terpisah merupakan praktek yang terbaik.

Sementara pendapat Abu Bakar dan Umar menghasilkan bahwa pelaksanaan Haji terbaik adalah Haji qiran yaitu memakai ihram dengan niat umroh dan haji sekaligus, maka Ibnu Umar membantah pendapat tersebut karena tidak sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam ajarkan.

Dan itulah yang dilakukan atau diajarkan kepada kita oleh generasi tersebut yaitu mereka berusaha bermadzhab kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, mereka meneruskannya ke generasi selanjutnya termasuk generasi para imam besar dan seterusnya.

Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa apabila satu hadits itu otentik atau shohih Maka itulah mazhab yang sebenarnya yang berarti aturan atau pendapat siapapun yang diambil dari hadits yang tidak otentik sampai kemudian disuatu hari ditemukan hadits yang otentik maka Tinggalkanlah aturanku yang diambil dari hadits yang tidak otentik tersebut.

Dan itulah ajaran dari para imam tersebut, mazhab yang sejati adalah hadis otentik atau pernyataan otentik dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang merupakan mazhab yang harus kita ikuti sebagaimana para imam mengikutinya.

Pengaruh negatif dari taqlid kepada mazhab yang berlangsung dari abad ke-13 hingga ke-25 yaitu melakukan 4 shalat berbeda disekeliling kabah pada waktu shalat yang berbeda. Jadi saat adzan dzuhur, atau subuh, ashar, maghrib, isya. Di sekeliling kabah ada 4 kanopi dengan nama masing-masing, Maqram Syafei, Maliki, Hanafi, Hambali.

Jadi Imam dari Mazhab Syafei akan berdiri dan melakukan iqamat, kemudian pengikut Mazhab Syafei yang sedang bertawaf berdiri dibelakang Imam untuk shalat Dzuhur. Setelah itu, Imam dari Mazhab Hanafi berdiri dibawah kanopi Hanafi dan melakukan iqamat, memimpin shalat dzuhur, diikuti oleh pengikut mazhab Hanafi yang sedang tawaf.

Dan selanjutnya hal yang sama dengan pengikut Mazhab Maliki dan Hambali. Jadi ada 4 sholat dzuhur terpisah. Dan ada aturan tiap mazhab bahwa pengikutnya tidak boleh shalat dibelakang imam dari mazhab lain. Banyak contoh lainnya.

Bahkan ada buku bertajuk Fanatisme Mazhab oleh Syeikh Abbasi, dalam bahasa Arab. Isinya kumpulan hal-hal seperti itu yang memecah umat. Bagus untuk kalian membaca buku itu sebagai pendukung mata kuliah ini. Efek berbahaya dari Mazhabisme.

Yang harus kita lakukan sebaiknya adalah mengikuti mazhab-mazhab Rasulullah Shalallahu Wassalam yang salah satu usaha atau ikhtiar nya adalah mengikuti pendapat dari para imam tersebut dengan tidak taqlid atau berlebih-lebihan kepada semua pendapatnya.

Dan yang ada di benak kita adalah bahwa para ulama di masa tersebut hanya membantu kita dalam mengikuti mazhab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan berpikiran terbuka dan menelaaah pendapat-pendapat dari para imam tersebut.

Ketika satu waktu kita mendapati ada perbedaan pendapat diantara mereka Maka dengan lapang dada dan pikiran terbuka kita menerima pendapat mana yang menurut kita/ustadz yang kita percaya  paling kuat dengan tidak merendahkan pendapat lainnya.

Karena walau bagaimanapun para imam tersebut ketika mengeluarkan atau menyatakan pendapatnya (yang mungkin saat itu dibutuhkan oleh umatnya) mereka berusaha mengemukakan pendapat tersebut dengan ilmu yang dimiliki serta berusaha mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tentu saja keilmuan dari para Imam tersebut berbeda dan itulah mungkin yang menyebabkan perbedaan pendapat tersebut, maka ketika kita memilih satu pendapat yang dianggap paling kuat kita tidak berhak merendahkan pendapat yang lainnya.

Bukankah keilmuan kita masih jauh dibandingkan dengan mereka? 

والله أعلمُ بالـصـواب

Tulisan ini merupakan intisari pembelajaran Fiqh yg diajarkan oleh Dr. Bilal Philips.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *