[ UIC 8.2 ] Belajar Fiqh 2 : Fanatik Mahzab Part 1

Bagi sebagian besar umat islam mazhab adalah bagaikan sebuah misteri, sebagian dari kita tidak mengetahui apa asalnya atau dasarnya bagi kita untuk mengikuti mazhab tertentu, mengapa setiap orang harus mengikuti satu mazhab dan bagaimana suatu mazhab itu terbentuk.

Bagi orang awam ataupun seseorang yang baru memeluk Islam, masalah mazhab ini adalah masalah yang cukup kritis bagaimana bisa mereka mengenal bahwa umat Islam di suatu daerah memiliki mazhab tertentu dan di daerah lainnya memiliki mazhab yang berbeda dan itu berarti mereka menilai ajaran Islam yang berbeda-beda dan membuatnya bingung.

Pada dasarnya masing-masing sudah mengikuti satu mazhab tertentu seperti India Selatan berarti Syafi’i, dari Sri Lanka anda Syafi’i, Pakistan berarti Hanafi, Indonesia Syafi’i, Malaysia Syafi’i, Sudan Maliki, Mesir kemungkinan Syafi’i kemungkinan Maliki juga. Daerah-daerah Afrika Utara, Tunisia, Algeria,Maroko, Ghana, Sudan. Di Selatannya Maliki di Nigeria, Turki Hanafi dll.

Salah satu contohnya Apabila seseorang pria menyentuh seorang wanita yang merupakan istrinya, menurut Mazhab Syafi’i ini wudhunya batal dan menurut mazhab Hanafi wudhunya tidak batal, Dengan menerima bahwa semua mazhab adalah benar, maka ada masalah yang tidak logis disini.

Kalau kita menggunakan logika maka tidaklah mungkin untuk seseorang memiliki wudhu dan tidak memiliki wudhu dalam waktu yang bersamaan, jadi ketika kita berfikir bahwa semua mazhab adalah benar ( dalam kasus ini Mazhab Syafi’i dan Hanafi benar ) maka kita harus mengesampingkan logika kita.

Sama dengan umat nasrani yang menonaktifkan logikanya dalam hal Tuhan adalah satu dan tiga, Bahwa satu tambah satu tambah satu sama dengan satu. Tidak diperlukan alasan. Apabila prinsip ini yang dipakai, kita masuk ke jebakan taqlid. Yang bertentangan dengan logika dan akal yang telah Allah karuniakan. Tentu tidak semua perbedaan masuk kategori demikian.
Akan kita lihat nanti perbedaan-perbedaan dan bagaimana mengelompokkannya. Seperti misalnya mengangkat kedua tangan setelah tiap takbir menurut mazhab Syafi’i. Sementara pada mazhab Hanafi mengangkat tangan hanya pada takbir pertama.

Pada kenyataannya, kedua hal tersebut dilakukan Nabi Muhammad shallallahu Alaihi Wasallam pada kesempatan yang berbeda. Jadi ini adalah perbedaan yang bisa terjadi bersamaan.

Perbedaan yang pertama adalah yang tidak dapat terjadi dalam waktu bersamaan, seperti Tidak mungkin seseorang memiliki dan tidak memiliki whudhu dalam waktu yang bersamaan.

Bagian dari umat Islam berusaha untuk tidak terjebak di dalam masalah perbedaan ini, beberapa diantara mereka Langsung menolak seluruh mazhab kemudian mereka hanya mengikuti Alquran dan Sunnah saja.

Banyak orang yang tidak mau mendengar tentang ulama mazhab manapun dengan dalih bahwa mereka merujuk kepada Quran dan Sunnah, tentu Hal ini terdengar sebagai sesuatu yang amat Mulia akan tetapi ini bisa menjadi berbahaya.

Yang pasti karena ini berhubungan dengan Alquran dan Sunnah, maka kita harus memerlukan ilmu pengetahuan yang komprehensif tentang Alquran dan Sunnah tersebut yang justru sebagian orang tidak memilikinya.

Oleh sebab itu kita butuh bahkan bergantung kepada ulama-ulama, yaitu orang-orang yang berilmu, pada waktu2 tertentu seseorang mungkin harus mencari bukti-bukti terkait Hadits yang didapatnya.

Namun ketika kita berjalan di jalan sendiri untuk memahami perkara-perkara di dalam agama Islam dan tanpa pemahaman yang komprehensif, maka kemungkinan kita akan mengarah pada sesuatu hal yang menyimpang.

Sementara sebagian kelompok lainnya berusaha untuk memilih salah satu mazhab yang dianggap paling benar atau paling yakin untuk diikuti, di tingkat tertentu mereka menolak mazhab lain yang tidak dipilihnya.

Untuk golongan seperti ini juga bisa berbahaya salah satu alasannya adalah kondisi seperti ini memungkinkan untuk seseorang mengingkari bagian kedua dari rukun Islam pertama, yaitu menetapkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah satu-satunya manusia yang harus kita ikuti dengan penuh keyakinan.

Itu berarti tidak satupun manusia berhak untuk diikuti dengan sangat penuh dengan keyakinan seperti keyakinan kita terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan taqlid buta terhadap seseorang bisa merusak pemahaman tersebut.

Kelompok-kelompok seperti ini juga bisa memicu perpecahan di dalam umat Islam, karena ketika ada satu kelompok yang merasa dirinya paling benar dan menyalahkan kelompok lainnya, maka ini bisa menjadi awal perpecahan yang merugikan umat Islam itu sendiri.

Masih seputar mazhab, kita juga bisa menilai ada kelompok-kelompok lain yang menolak secara keseluruhan adanya mazhab, hal ini juga bisa menjadi bahaya, karena ini memungkinkan mereka membuat aturan dan menilai syariat Islam dengan ilmu pengetahuan yang terbatas.

Lanjut Part 2 


والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *