Fatwa 07 – QODHO SHOLAT QOBLIYAH ZHUHUR…

PERTANYAAN :
Jika seseorang datang ke masjid untuk sholat Zuhur, namun dia tidak dapat melakukan sholat sunnah qobliyah Zuhur empat raka’at, apakah memungkinkan baginya untuk melakukannya setelah sholat fardhu, kemudian sesudah itu dia sholat ba’diyah Zuhur dua raka’at?

JAWABAN :

Alhamdulillah

Pertama:

Menurut pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama, mengqodho sholat sunnah rawatib adalah disunnahkan, ini adalah pendapat dalam mazhab Syafii dan pendapat yang masyhur dalam mazhab Hambali. Berbeda dengan pendapat dalam mazhab Hanafi dan Maliki.

Berdasarkan hadits Ummu Salamah rodhiallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at setelah Ashar, lalu dia ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda,

يَا بِنْتَ أَبِى أُمَيَّةَ ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ ، فَهُمَا هَاتَانِ. رواه البخاري (1233) ومسلم (834)

“Wahai puteri Abu Umayah (maksudnya Ummu Salamah), engkau menanyakan tentang dua raka’at setelah sholat Ashar. Telah datang menemuiku orang-orang dari kabilah Abdil-Qais, sehingga aku tidak sempat melaksanakan kedua roka’at tersebut setelah Zuhur. Maka itulah kedua roka’at (yang aku lakukan setelah sholat Ashar).” (HR. Bukhari, no. 1233, dan Muslim, no. 834)

Imam  Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah bahwa mengqodho sholat sunnah disunnahkan.” Pendapat ini juga dinyatakan oleh Muhammad Al-Muzani, Ahmad dalam salah satu riwayatnya. Sedangkan Abu Hanifah, Malik dan Abu Yusuf dalam riwayatnya yang paling terkenal berpendapat bahwa (sholat sunnah) tidak diqodho. Dalil kami adalah hadits shahih ini.” (Al-Majmu, 4/43)

Al-Mardawi yang bermazhab Hambali rahimahullah berkata, “Ucapannya ‘Siapa yang tidak sempat melaksanakan salah satu sunnah (rawatib) ini, disunnahkan baginya mengqodhonya’ Ini merupakan mazhab yang masyhur dikalangan kami (mazhab Hambali). Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Majd dalam syarahnya, dan dipilih oleh Syekh Taqiyuddin –Ibnu Taimiyah-.” (Al-Inshaf, 2/187)

Syekh Ibnu Utsaimin rohimahullah berkata, “Mengqodho shalat sunnah rawatib jika terlambat (dibolehkan). Dalilnya adalah bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertidur sehingga tidak sempat menunaikan shalat Fajar dan baru bangun setelah matahari terbit, lalu beliau melakukan sunnah Fajar dahulu, baru setelah itu menunaikan sholat Fajar.” (Liqoat Al-Babul-Maftuh, no. 74, soal no. 18. Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiah, 25/284)

Kedua:

Jika seseorang hendak mengqodho sholat qobliyah Zuhur setelah menunaikan sholat Zuhur, apakah dia melakukan sholat qobliyah dahulu kemudian sholat ba’diyah, atau sebaliknya?

Yang lebih kuat adalah bahwa perkara ini fleksibel, apakah sholat qobliyah dahulu atau ba’diyah. Yang penting adalah menunaikannya, baik didahulukan atau diakhirkan.

Sykeh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ulama berkata, jika anda tertinggal melakukan sholat qobliyah Zuhur dua roka’at, maka lakukanlah sholat tersebut setelah sholat, karena dia terhalang melakukannya sebelum sholat. Hal ini sering terjadi apabila seseorang datang ke masjid sementara iqamah sholat sudah dilakukan. Dalam kondisi ini hendaknya dia mengqodhonya setelah shalat Zuhur. Akan tetapi hendaknya dia melakukan sholat rawatib setelah Zuhur dahulu sebelum melakukan rawatib qobliyah Zuhur.

Seseorang datang sedang jama’ah sudah mulai sholat sehingga dia tidak dapat melaksanakan sholat sunnah Zuhur jika dia ikut sholat (bersama jamaah), maka hendaknya dia sholat dua rakaat dengan niat sholat ba’diya, kemudian dia mengqodho sholat rawatib qobliyah sesudahnya.

Demikian sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram Bisyarhi Bulughil Maram, 2/225)

Wallahua’lam.

 

Sumber : http://islamqa. info/id/114233

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *