[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 06

PASAL KETUJUH : PERINGATAN-PERINGATAN
20.       Mimpi di saat jaga

      Hindarilah bermimpi di saat jaga, dan di antaranya adalah bahwa engkau mengaku mengetahui sesuatu yang engkau tidak ketahui, atau menguasai sesuatu yang tidak engkau kuasai. Jika engkau melakukan hal itu maka ia merupakan hijab (penghalang) tebal untuk mendapatkan ilmu.

21.       Janganlah engkau menjadi ‘Aba Syibr’:

          Dikatakan: ilmu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk di jengkal pertama niscaya ia sombong, dan barangsiapa yang masuk di jengkal kedua niscaya ia tawadhu’ (rendah diri), dan barangsiapa yang masuk di jengkal ketiga niscaya ia mengetahui bahwa ia ia tidak mengetahui.

22.       Maju ke depan (menjadi pemimpin) sebelum ahli:

          Hindarilah maju ke depan sebelum ahli, maka ia merupakan penyakit dalam ilmu dan amal.

23.       Tanammur (seolah-olah ahli) dengan ilmu:  

       Hindarilah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bangkrut dalam ilmu, ia muraja’ah satu masalah atau dua masalah. Lalu apabila di satu majelis ada orang yang dijadikan panutan, ia membahas dua masalah itu untuk menampakan ilmunya. Perbuatan ini sangat buruk, setidaknya ia mengetahui bahwa manusia mengetahi hakikatnya.
24.       Tahibir Kaghid (kertas):

          Sebagaimana harus berhati-hati dari karangan yang mengandung bid’ah dan yang akhirnya adalah tahbir kaghid,[1]maka hindarilah mengarang sebelum sempurna alat-alatnya, cukup kemampuanmu, dan matang di atas tangan guru-gurumu.

          Adapun mengarang ilmu yang bermanfaat bagi seseorang yang sudah mampu, sempurna alatnya, luas pengetahuannya, sudah terlatih melakukan riset, muraja’ah, muthala’ah, meringkas yang panjang/besar, menghapal yang ringkas, dan mengingat masalah-masalahnya, maka ia merupakan amal yang paling utama yang dilakukan oleh orang-orang cerdas dari orang-orang yang utama.

25.       Sikapmu terhadap kekeliruan pendahulumu:

       Apabila engkau menemukan kekeliruan seorang ulama maka janganlah engkau merasa senang untuk merendahkannya, akan tetapi berbahagialah dengannya karena meluruskan masalah, mengingatkan kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan seorang imam yang penuh dalam lautan ilmu dan keutamaannya. Akan tetapi tidak membangkitkan fitnah atasnya dengan merendahkannya, maka terperdaya dengannya orang yang awam.
26.       Jauhilah syubhat:

          Hindarilah membangkitkan syubhat dan mendatangkannya atas dirimu atau orang lain. Syubhat itu adalah penculik dan hati itu sifatnya lemah, dan yang paling banyak menyebarkannya adalah ahli bid’ah, maka hindarilah mereka.

27.       Hindarilah lahn (kesalahan ucapan dan bahasa):

          Hindarilah kesalahan dalam ucapan dan tulisan, maka sesungguhnya tidak ada lahn merupakan kebesaran, kebersihan perasaan, berhenti di atas makna yang indah untuk keselamatan susunan kata.

28.       Aborsi pemikiran: Hindarilah aborsi pemikiran dengan mengeluarkan pemikiran sebelum matang.

29.       Israiliyat baru (Neo-Israiliyat):

          Hindarilah israiliyat gaya baru dalam hembusan para orentalis dari kaum yahudi dan kristen, maka lebih berbahaya daripada israiliyat lama. Sebagian kaum muslimin telah mengambil darinya dan yang lain tunduk baginya, maka janganlah engkau terjerumus padanya.

30.       Hindarilah perdebatan bizanthi:

          Maksudnya perdebatan yang mandul atau tidak berarti. Dulu bangsa Bizantium (Roma?) memperdebatkan tentang jenis kelamin malaikat sedangkan musuh sudah berada di pintu gerbang negeri mereka hingga menyerang mereka. Dan petunjuk salaf: Menahan diri dari banyak pertengkaran dan perdebatan, dan sesungguhnya terlalu banyak padanya termasuk tanda sedikit sifat wara’.

31.       Tidak ada kelompok dan tidak pula partai yang diikrarkan sikap wala’ dan bara’ atasnya:

          Dasar Islam bahwa tidak ada bagi mereka tanda selain Islam dan perdamaian. Wahai penuntut ilmu, semoga Allah SWT memberi berkah padamu dan ilmu engkau, tuntutlah ilmu, amalkanlah, dan berdakwahlah karena Allah SWT menurut metode salaf. Jangalah engkau termasuk orang yang suka keluar masuk dalam jamaah (kelompok-kelompok), maka engkau keluar dari yang luas kepada lobang yang sempit. Islam semuanya adalah untukmu secara sungguh dan manhaj. Semua kaum muslimin adalah jamaah, dan sesungguhnya tangan Allah SWT bersama jamaah. Maka tidak ada kelompok dan tidak pula partai di dalam Islam.

Maka hindarilah (semoga Allah SWT memberi rahmat kepadamu) partai-partai dan kelompok-kelompok yang pengikutnya mengelilinginya. Tidak lain ia menyerupai air mancur, mengumpulkan air  dalam kondisi keruh dan memisahkannya secara sia-sia. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu, maka ia berada di atas petunjuk Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
32.       Pembatal-pembatal bekal ini:

       Ketahuilah, sesungguhnya di antara pembatal ‘bekal’ ini, yang merusak tatanannya adalah:
1.       Membuka rahasia.
2.       memindah ucapan dari satu golongan kepada golongan yang lain.
3.       Membual dan banyak omong.
4.       Banyak bercanda.
5.       Masuk dalam pembicaraan di antara dua orang.
6.       Dendam.
7.       Dengki.
8.       Buruk sangka.
9.       Duduk bersama ahli bid’ah.
10.    Melangkahkan kaki kepada yang diharamkan.
       Maka hati-hatilah dari dosa-dosa ini dan sejenisnya, pendekkanlah langkahmu dari semua yang diharamkan. Jika engkau lakukan, maka sungguh engkau memiliki iman yang tipis. Maka dimanakah engkau bahwa engkau seorang penuntut ilmu yang diisyaratkan dengan telunjuk, penuh dengan ilmu dan amal.
       Semoga Allah SWT meluruskan langkah, memberikan taqwa kepada kita  semua, baik di dunia maupun akhirat.
       Semoga rahmat dan salam Allah SWT senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
       Dan akhir doa kita adalah ‘segala puji hanya bagi Allah SWT Rabb semesta alam.
       Diringkas oleh Muhammad bin Fahd bin Ibrahim al-Wad’an
Riyadh, 1428 H. 



[1] Yaitu kertas, bahasa persia yang menjadi bahasa arab.


  والله أعلمُ بالـصـواب


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *