[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 05

PASAL YANG KEENAM : BERHIAS DIRI DENGAN AMAL IBADAH

44.       Di antara tanda ilmu yang bermanfaat: 

a.    Mengamalkannya.
b.   Tidak suka sanjungan dan pujian serta tidak sombong terhadap orang lain.
c.    Engkau bertambah tawadhu’ (rendah diri) setiap kali bertambah ilmu.
d.   Menghindar dari suka pujian, terkenal dan dunia.
e.    Tidak mengaku punya ilmu.
f.     Berburuk sangka terhadap diri sendiri dan berbaik sangka (husnuzh Zhan) terhadap orang lain.
45.       Mengeluarkan zakat ilmu:

          Tunaikan zakat ilmu untuk menyampaikan kebenaran, menyuruh yang ma’ruf, melarang yang mungkar, menjaga keseimbangan di antara mashlahat dan madharrat, menyebarkan ilmu, menyukai manfaat, memberikan syafaat bagi kaum muslimin dalam kebenaran dan kebaikan.

          Berusahalah menjaga pakaian (bekal) ini, ia merupakan pokok buah ilmu yang engkau dapatkan. Dan karena kemuliaan ilmu, maka ia menjadi bertambah karena diinfakkan dan berkurang karena disimpan, dan penyakitnya adalah disembunyikan. Dan janganlah karena alasan zaman yang sudah rusak, banyak orang fasik, nasehat tidak berfaedah mendorong engkau untuk tidak menunaikan kewajiban berdakwah. Maka jika engkau melakukan hal itu, maka ia merupakan perbuatan yang diinginkan oleh orang-orang fasik untuk bisa keluar meninggalkan keutamaan dan mengangkat bendera kehinaan.

46.       Izzatul ulama (kemuliaan ulama):

          Berhias diri dengan (izzatul ulama): untuk menjaga ilmu dan mengagungkannya. Maka janganlah engkau mau dimanfaatkan oleh orang-orang sombong atau bodoh, maka janganlah engkau lemah dalam berfatwa, atau memutuskan perkara, atau riset, atau ucapan…Maka janganlah engkau berjalan dengannya kepada ahli dunia dan janganlah engkau berdiri di atas pundak mereka, janganlah engkau berikan kepada bukan ahlinya sekalipun tinggi kedudukannya.

          Berilah kenikmatan kepada penglihatan dan mata hatimu dengan membaca biografi dan riwayat para imam yang telah mendahului niscaya engkau melihat padanya pengorbanan jiwa dalam menjaga jalan ini, terutama orang yang menggabungkan contoh teladan dalam hal ini.

47.       Menjaga ilmu:

          Jika engkau telah mendapatkan kedudukan, ingatlah selalu bahwa benang merah yang menyampaikan engkau kepadanya adalah menuntut ilmu. Maka dengan karunia Allah SWT, kemudian karena menuntut ilmu engkau telah mencapai kedudukan dalam mengajar, atau berfatwa, atau qadha, maka berikanlah ilmu sesuai kedudukannya berupa mengamalkannya dan menempatkan di tempat layak.

          Hindarilah jalan orang-orang yang menjadikan dasar (menjaga kedudukan), maka mereka menutup lidah mereka dari perkataan yang benar dan mendorong mereka menyukai wilayah dari mujarah.

48.       Mudarah, bukan mudahanah:

          Mudahanah adalah akhlak yang rendah. Adapun mudarah, maka ia tidak seperti itu. Oleh karena itu janganlah engkau campur adukan di antara keduanya. Maka mudahanah mendorongmu mendatangkan sifat nifak secara terbuka, dan mudahanah itulah yang menyentuh agamamu.

49.       Rindu dengan kitab-kitab

      Kemuliaan ilmu sudah diketahui karena manfaatnya yang nyata dan sudah menjadi kebutuhan. Karena inilah para penuntut ilmu sangat rindu untuk menuntut ilmu dan rindu untuk mengumpulkan kitab-kitab disertai memilih/menyaring.

50.       Melengkapi maktabahmu:

          Hendaklah engkau memiliki kitab-kitab yang ditulis dengan cara mengambil dalil dan memahami illat-illat hukum, serta mendalami rahasia masalah, dan yang paling utama adalah kitab-kitab karya:

a.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
b.   Ibnul Qayyim.
c.    Ibnu Abdil Barr, terutama kitab at-Tamhid.
d.   Ibnu Quddamah, terutama kitab al-Mughni.
e.    adz-Dzahabi.
f.     Ibnu Katsir.
g.    Ibnu Rajab.
h.   Ibnu Hajar.
i.     Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.
j.     Kitab-kitab ulama dakwah, dan di antara yang menggabungkannya adalah kitab ad-Durarus Saniyah.
k.   ash-Shan’ani, terutama kitab Subulus Salam.
l.     Shidiq Hasan Khan al-Khanuji.
m.  Al-‘Allamah Muhammad al-Amin asy-Syanqithi, terutama kitabnya ‘Adhwaul Bayan’. Dan kitab-kitab lainya yang sangat banyak.
51.       Berinteraksi dengan kitab

     Engkau tidak bisa mengambil faedah dari kitab apapun sehingga engkau mengetahui istilah yang digunakan pengarang di dalamnya, dan biasanya muqaddimah mengungkapkan hal itu. Maka mulailah membaca muqaddimah (pengantar) setiap kitab.

52.       Membuka kitab sebelum meletakkannya di perpustakaan:

           Apabila engkau mengoleksi suatu kitab, maka janganlah engkau letakkan di perpustakaanmu  kecuali setelah membukanya, atau membaca pengantarnya, daftar isi dan beberapa tempat darinya. Adapun jika engkau meletakkannya bersama yang lain di perpustakaan, mungkin setelah berlalu beberapa waktu dan usia terus berjalan sedang engkau tidak sempat melihat kitab tersebut.

53.       Menjelaskan penulisan:

          Apabila engkau menulis, maka perjelaslah tulisan dengan menghilangkan ketidakjelasan, dan hal itu dengan berbagai cara:

a.    Tulisan yang jelas.
b.   Tulisanya menurut qaidah imla (penulisan).
c.    Memberikan titik bagi yang bertitik dan menghilangkan titik bagi yang tidak bertitik.
d.   Memberi harakat (baris) bagi yang rumit.

e.    Memberi tanda baca selain al-Qur`an dan hadits.

  والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *