[ UIC 3 ] Etika Menuntut Ilmu 02

PASAL KEDUA : TATA CARA MENUNTUT DAN MENGAMBIL ILMU

16.    Tata cara menuntut ilmu dan tingkatannya:

          ‘Barangsiapa yang tidak mantap dalam ilmu dasar niscaya ia terhalang untuk sampai’ dan ‘barangsiapa yang mencari ilmu secara menyeluruh niscaya ia akan mendapatkan nya secara menyeluruh’,  dan atas dasar itulah maka harus memulai dari dasar bagi setiap bidang ilmu yang dituntut, dengan cara mencatat dasar dan kesimpulannya di hadapan syaikh yang baik.

          Firman Allah SWT:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

          Dan al-Qur’an itutelah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isra:106)
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

          Berkatalah orang-orang kafir:”Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. al-Furqan:32)

          Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan di dalam setiap mata pelajaran yang kamu tuntut:

1.   Menghapal mukhtashar (ringkasan).
2.   Mempelajarinya di hadapan guru yang pandai.
3.   Tidak menyibukkan diri dengan kitab besar dan berbagai macam        kitab sebelum mempelajari dan mantap dalam ilmu dasarnya.
4.   Jangan berpindah dari satu kitab mukhtashar (ringkas) kepada kitab           lain tanpa alasan. Ini termasuk pengganggu.
5.   Mencatat faedah ilmiyah.
6.   Menyatukan jiwa untuk menutut ilmu dan mempelajari nya, dan        bersungguh-sungguh untuk mendapat ilmu dan mencapai yang          lebih di atas, sehingga ia bisa mempelajari kitab-kitab besar dengan     cara yang benar.

          Dan ketahuilah, sesungguhnya menyebutkan kitab-kitab ringkas sampai kitab-kitab besar yang menjadi dasar dalam menuntut ilmu dan mempelajarinya di hadapan syaikh, biasanya berbeda satu daerah/negara dengan negara yang lain, menurut perbedaan mazhab serta berdasarkan pengalaman belajar para ulama di daerah tersebut.

          Para ulama di negara ini (kerajaan Saudi Arabia-KSA) melewati tiga tingkatan dalam belajar di hadapan para guru dalam pengajian di masjid-masjid: mubtadiin (pemula), kemudian mutawassith(pertengahan), kemudian mutamakkin (pemantapan).

          Dalam belajar tauhid: tsalatsatu ushul wa adillatuha (tiga dasar dan dalil-dalilnya), qawa`id arba’(empat kaidah), kemudian kasyfu syubuhat (menyingkap syubhat), kemudian kitab tauhid.

          Dalam belajar tauhid asma dan sifat: aqidah wasithiyah, kemudian al-Hamawiyah dan Tadmuriyah, lalu Thahawiyahbersama syarahnya.

          Dalam mata pelajaran nahwu: al-Jurumiyah, kemudian Mulihatul i`rab karya al-Hariri, kemudian Qathrun nida` karya Ibnu Hisyam dan Alfiyah Ibnu Malik bersama syarahnya karya Ibnu Aqil.

          Dalam bidang hadits: Arba`in an-Nawawiyah, kemudian Umdatul Ahkam karya al-Maqdisi, kemudian Bulughul Maram karya Ibnu Hajar dan al-Muntaqa karya al-Majd Ibnu Taimiyah.

          Dalam bidang Mushthalah: Nukhbatul Fikr karya Ibnu Hajar kemudian Alfiyah al-Iraqi.

          Dalam bidang fiqih misalnya: Adabul masyyi ila shalah, kemudian Zadul Mustaqna` karya al-Hajawi, atau ‘Umdatul Fiqh, kemudian al-Muqni` untuk mempelajari khilaf dalam mazhab, dan al-Mughniuntuk mempelajari perbedaan yang lebih tinggi.

          Dalam Ushul Fiqh: al-Waraqatkarya al-Juwaini, kemudian Raudhatun Nadhir karya Ibnu Quddamah.

          Dalam ilmu faraidh: ar-Rahbiyah, kemudian bersama syarahnya, dan Fawaid Jaliyah.

          Dalam tafsir: tafsir Ibnu Katsir.

          Dalam ushul tafsir: al-Muqaddimah karya Ibnu Taimiyah.

          Dalam sirah: Mukhtashar sirah nabawiyah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan asalnya karya Ibnu Hisyam, dan dalam Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim.

          Dalam bidang lisanul arab(bahasa arab): banyak mempelajari syair-syairnya seperti Mu`allaqat sab`, membaca qamus al-Muhith karya Fairuzabadi. Rahmatullahi ‘alaihim jami`an.
17.       Mengambil ilmu dari para ulama:

          Dasar dalam menuntut ilmu adalah dengan cara talqin dan talaqqi (belajar langsung) dari para ulama, mengambil dari mulut para masyayikh, bukan langsung dari tulisan dan kitab.

          Auza`i berkata: ilmu ini (syari’at) sangat mulia, satu sama lain saling belajar silih berganti, maka tatkala masuk dalam kitab, masuklah di dalamnya yang bukan ahlinya.


  والله أعلمُ بالـصـواب



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *