[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 10

TERUS MENERUS MENINGGALKAN SHALAT JUM’AT DAN SHALAT JAMAAH TANPA HALANGAN

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam: 42-43)

Ka’ab al-Ahbar رحمه الله berkata:

مَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْأَيَةُ فِـيْ الَّذِيْنَ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْـجَمَاعَاتِ

“Ayat ini diturunkan sehubungan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah.”

Said bin Musayyib رحمه الله berkata, “Mereka dahulu mendengar seruan ‘hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah’, namun mereka tidak memenuhi panggilan itu, padahal keadaan mereka sehat tak kurang suatu apa.”

Dalam Shahih Bukhariy dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بـِحَطَبٍ يـُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ لاَ يَشْهَدُوْنَ الصَّلَاةَ فِـيْ الـجَمَاعَةِ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Demi (Dzat) yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku benar-benar telah berniat untuk menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh orang menyerukan adzan, dan menyuruh seseorang untuk mengimami shalat (menggantikanku) kemudian aku pergi kepada orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.”1

Dalam Shahih Muslim ada juga sebuah hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه berbunyi:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ فِتْيَتِي فَيَجْمَعُوا حُزَمًا مِنْ حَطَبٍ ثُمَّ اآتِيَ قَوْمًا يُصَلُّونَ فِي بُيُوتِـهِمْ لَيْسَتْ بـِهِمْ عِلَّةٌ فَأُحَرِّقَهَا عَلَيْهِمْ

“Aku benar-benar telah berniat menyuruh para pemuda untuk mengumpulkan seonggok kayu bakar, kemudian aku datangi orang-orang yang mengerjakan shalat di rumah-rumah mereka tanpa sebab, lalu aku bakar rumah-rumah mereka itu.”2

Ayat dan hadits-hadits di atas berisi ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat jamaah tanpa udzur.

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ اتِّبَاعِهِ عُذْرٌ قَالُوا وَمَا الْعُذْرُ قَالَ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى

Barangsiapa mendengar seruan adzan dan tidak ada suatu halangan pun yang menghalanginya dari memenuhi seruan itu -para sahabat bertanya, “Apakah halangan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Takut atau sakit,”- maka shalat yang dikerjakannya (tidak di masjid) tidak akan diterima Allah.”3

Imam Muslim meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki buta datang menemui Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak mempunyai penuntun yang menuntun saya ke masjid, apakah saya diizinkan untuk mengerjakan shalat di rumah?” Beliau mengizinkan-nya. Tetapi ketika orang itu berbalik hendak pulang, beliau memanggil kembali seraya bertanya, “Apakah kamu mendengar seruan adzan?” Orang itu menjawab, “Ya, saya mendengar.” Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda, “Kalau begitu, penuhilah!”4

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang menemui Nabi صلي الله عليه وسلم, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, di Madinah ini banyak serangga berbisa dan binatang buasnya, sedangkan saya ini seorang yang buta. Apakah saya diizinkan mengerjakan shalat di rumah?” Nabi menjawab, “Apakah kamu mendengar seruan ‘hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah?” Ibnu Ummi Maktum menjawab, “Ya, saya mendengarnya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jawablah, datanglah (ke masjid)!”5

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, saya seorang buta dan rumah saya jauh. Meskipun saya punya orang yang menuntun saya tetapi saya tidak cocok dengannya. Apakah saya mendapatkan keringanan?” Beliau menjawab, “Datang dan jawablah!”‘6

Di dalam kitab al-Mustadrak, Hakim meriwayatkan sebuah hadits dengan syarat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mendengar suara adzan kemudian tidak ada halangan yang menghalanginya untuk mengikutinya, maka tidak ada shalat baginya (kecuali di masjid)?’ Para sahabat bertanya, “Apakah halangan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Takut dan sakit?”

‘Ali bin Abu Thalib رضي الله عنه berkata:

“Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” beliau ditanya, “Siapakah tetangga masjid itu?” Beliau menjawab, “Orang yang mendengar adzan.”

Beliau رضي الله عنه juga berkata, “Barangsiapa mendengar seruan adzan kemudian ia tidak datang, maka shalatnva tidak akan melewati kepalanya (tidak diterima), kecuali jika ia punya udzur.”

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَذِهِ الصَّلَوَاتِ الْـخَمْسِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ أَوْمَرِيْضٌ وَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Barangsiapa yang suka menemui Allah esok hari (pada hari kiamat) sebagai seorang muslim, hendaklah ia memelihara shalat yang lima waktu ini di tempat di mana ia diserukan (di masjid). Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan untuk Nabi kalian ‘sunan huda’, aturan-aturan sebagai petunjuk. Dan sungguh shalat jamaah itu termasuk ‘sunan huda’. Jika seandainya kalian menunaikan shalat di rumah seperti yang dikerjakan oleh orang yang meninggalkan (shalat jamaah) di rumahnya sungguh kamu telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Setahuku, dahulu tidak ada orang yang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang munafik yang sudah jelas kemunafikannya atau orang yang sakit. Dahulu ada seseorang yang dibimbing oleh dua orang dan diberdirikan dalam shaf.” Demi mendapatkan keutamaan dan khawatir pada dosa meninggalkannya.

Keutamaan shalat jamaah itu sangat besar seperti yang disebutkan dalam tafsir firman Allah سبحانه و تعالي.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (QS. Al-Anbiya’: 105)

Mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah.

Firman Allah سبحانه و تعالي:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

“Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin : 12)

Maksud dari ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’ adalah langkah-langkah mereka.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu fardlu dari far dlu-far dlu shalat yang telah diwajibkan Allah, maka setiap langkah yang dilangkahkannya akan menghapuskan satu dosanya, dan langkah yang lainnya menaikkan satu derajat”.7

فَإِذَاصَلِّي لَـمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ اعْفِرْلَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ أَولَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Apabila ia selesai shalat, malaikat akan memohonkan ampunan baginya selama ia masih berada di tempat ia shalatnya. Malaikat berkata, “Ya Allah, ampunilah dia! Ya Allah, rahmatilah dia!”. Begitu selama ia tidak mengganggu di situ dan tidak berhadats.”8

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku beritahu suatu amal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu sampai ke tempat yang sulit, memperbanyak langkah menuju ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya seusai mengerjakan shalat. Itulah ribath (berjaga dalam jihad)! Itulah ribath!”9.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *