[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 07

PASAL: HUKUM MENINGGALKAN SHALAT JAMAAH BAGI YANG TIDAK BERHALANGAN

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, bagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam: 42-43)

Ini kejadian pada hari kiamat. Mereka diliputi penyesa’an. Dulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud.

Ibrahim At-Taimiy رحمه الله berkata, “Maksud dari ayat di atas adalah diseru kepada shalat wajib dengan adzan dan iqamah.”

Sa’id bin Musayyib رحمه الله berkata, “Mereka mendengar panggilan ‘Mari mengerjakan shalat! Mari menuju kemenangan!’, namun mereka tidak menjawab panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat sejahtera.”

Ka’ab al-Ahbar رحمه الله berkata, “Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah. Nah, ancaman apa yang lebih dahsyat bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah padahal ia mampu mengerjakannya selain ayat ini?

Adapun dari sunnah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم jgg bersabda, “Sungguh aku hampir saja memerintahkan untuk shalat diiqamati, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang. Sedang aku dan beberapa orang lagi pergi sambil membawa seonggok kayu bakar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah.”1 Tentunya mereka tidak diancam dengan pembakaran rumah -padahal di sana ada anak-anak dan harta kekayaan- kecuali karena mereka meninggalkan perkara yang wajib.”

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, seorang buta menemui Nabi berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntunku ke masjid.” Lalu ia meminta keringanan untuk diperbolehkan mengerjakan shalat di rumah. Rasulullah-pun mengizinkan. Tetapi ketika orang itu undur diri, beliau memanggilnya, “Apakah kamu mendengar seruan untuk shalat (adzan)?” Laki-laki itu menjawab, “Ya”, “Jika demikian jawablah seruan itu!”, sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم.2

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari Amru bin Ummi Maktum, bahwa ia menemui Nabi ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah ini banyak binatang berbisa dan binatang buasnya. Padahal aku ini rusak penglihatanku dan jauh rumahku. Aku punya penuntun jalan tapi aku tidak cocok dengannya. Apakah ada keringanan bagiku untuk mengerjakan shalat di rumah?” “Apakah kamu mendengar adzan?”, tanya Rasulullah. “Ya”, jawab orang itu. Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “jika demikian jawablah seruan itu. Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu.” 3

Seorang lelaki buta telah mengadukan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi selama berjalan menuju masjid. Bahkan ia tidak punya orang yang menuntunnya. Meski begitu, Nabi صلي الله عليه وسلم tetap tidak memberi keringanan baginya untuk mengerjakan shalat di rumah. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang sehat penglihatannya sejahtera tanpa ada udzur?

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mendengar muadzin padahal tidak ada udzur untuk mendatanginya ..” Seseorang menyela, “Apakah udzur itu wahai Rasulullah صلي الله عليه وسلم?” Beliau bersabda, “Yaitu takut atau sakit. Shalat yang ia kerjakan tidaklah diterima.”4 Maksudnya shalat yang dikerjakan di rumah.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” Seseorang bertanya, “Siapakah tetangga masjid itu?” Yaitu orang-orang yang mendengar adzan.”5

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata, “Barangsiapa senang untuk berjumpa dengan Allah esok hari -hari kiamat- sebagai seorang muslim hendaklah menjaga shalat lima waktu setiap kali terdengar panggilan untuk mengerjakannya. Sesungguhnya Allah mensyariatkan sunnah petunjuk (sunanul huda) bagi Nabi kalian. Dan shalat jamaah itu termasuk salah satunya. Andaikata kalian mengerjakan shalat di rumah seperti shalatnya orang yang ketinggalan di rumahnya berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, jika kalian meninggalkan sunnahnya niscaya kalian tersesat. Kalian semua telah melihat, tidak seorangpun di antara kita meninggalkan jamaah kecuali ia adalah seorang munafik yang tampak kemunafikannya atau seorang yang sakit. Sungguh telah ada seseorang yang dipapah oleh dua orang, diberdirikan di shaf atau diantar sampai ke masjid untuk dapat mengerjakan shalat berjamaah.6

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang lelaki yang telah lumpuh. Begitupun ia keluar untuk mengerjakan shalat jamaah dengan dipapah oleh dua orang. Seseorang berkata, “Wahai Abu Muhammad, Anda termasuk yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk mengerjakan shalat di rumah. Anda mempunyai udzur.” “Benar apa yang kalian katakan.” jawab Rabi’. “Tetapi aku mendengar muadzin menyeru, ‘Mari menuju shalat. Mari menuju kemenangan.’ Barangsiapa mampu menjawab seruan itu hendaklah memenuhinya, walau harus merangkak.”7

Hatim al-Asham menuturkan, “Sekali saja aku tidak mengerjakan shalat berjamaah. Abu Ishaq al-Bukhari mendatangiku, berta’ziah. Hanya dia seorang. Padahal seandainya salah satu anakku meninggal, pastilah lebih dari sepuluh ribu orang berta’ziyah ke rumahku. Yah, bagi kebanyakan orang musibah dien memang lebih ringan dari pada musibah dunia.”

Sebagian salaf berkata, “Tidaklah seseorang itu kehilangan kesempatan untuk shalat berjamaah kecuali karena dosa yang telah dikerjakannya.”

Ibnu Umar رضي الله عنهما mengisahkan, “Suatu hari Umar رضي الله عنه pergi ke kebun kurma. Sepulang darinya orang-orang sudah mengerjakan shalat Ashar (berjamaah). Umar pun berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku ketinggalan shalat jamaah. Saksikanlah bahwa kebun kurmaku aku jadikan sedekah bagi orang-orang miskin, semoga menjadi kaffarah atas apa yang dilakukan Umar”.

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *