[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 06

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT TANPA TUMAKNINAH

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (Al-Ma’un: 4-5)

Diriwayatkan, tafsir dari ayat di atas adalah orang yang mengerjakan shalat secepat kilat, tanpa menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan, seseorang memasuki masjid dikala Rasulullah صلي الله عليه وسلم, sedang duduk di sana. Orang itu mengerjakan shalat lalu menghampiri Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi menjawab salam lalu berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya. Maka orang itu pun kembali mengerjakan shalat seperti yang telah dikerjakannya. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi Beliau menjawabnya lalu berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Orang itu pun kembali mengerjakannya seperti semula. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi Beliau menjawabnya dan berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Beliau mengulanginya tiga kali. Mendengar itu orang tadi berkata, “Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran wahai Rasulullah, aku tidak bisa mengerjakan shalat yang lebih baik dari yang sudah aku kerjakan tadi. Karenanya ajarilah aku.” Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُـمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika kamu berdiri untuk mengerjakan shalat, bertakbirlah. Lalu bacalah beberapa ayat al-Qur’an sebisamu, lalu rukulah dengan tumakninah. Lalu angkatlah sampai kamu benar-benar berdiri tegak (I’tidal). Lalu sujudlah dengan tumakninah. Lalu duduklah dengan tumakninah. Lalu sujudlah dengan tumakninah. Demikian ini kerjakanlah dalam setiap (rakaat) shalatmu.”1

Al-Badriy رضي الله عنه meriwayatkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

“Tidak akan diberi pahala shalat seseorang yang tulang belakangnya tidak diluruskan ketika ruku.” (Hadits riwayat Imam Ahmad)

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Pada riwayat yang lain, “… sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.”2

Inilah nash dari Nabi صلي الله عليه وسلم Barangsiapa tidak meluruskan punggungnya setelah ruku’ dan sujud seperti sediakala, maka shalatnya batal. Ini berlaku untuk shalat fardlu. Adapun tumakninah adalah ketika setiap tulang mengambil posisi masing-masing.

Diriwayatkan pula bahwa beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

“Manusia yang paling buruk perbuatan mencurinya adalah orang yang mencuri shalatnya.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah صلي الله عليه وسلم, bagaimanakah seseorang itu mencuri shalatnya?” “Yaitu tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.”, jawab Nabi.”3

Abu Hurairah رضي الله عنه mengabarkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى صَلَاةِ رَجُلٍ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ

“Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang tidak menegakkan tulang belakangnya di antara ruku’ dan sujudnya.”4

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“Inilah shalat seorang munafik. Duduk menunggu matahari sampai ketika ia berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam) orang itu pun berdiri lalu shalat secepat kilat sebanyak empat rekaat. Dia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit dalam mengerjakannya.”5

Abu Musa رضي الله عنه meriwayatkan, suatu hari Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengerjakan shalat bersama para sahabat, lalu beliau duduk. Seseorang datang, berdiri mengerjakan shalat. Ia ruku’ dan sujud seperti mematuk (karena cepat). Maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Lihatlah itu! Seandainya dia mati, sungguh dia mati bukan di atas millah Muhammad. Dia mematuk shalatnya seperti seekor gagak meminum darah.”6

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersujud, hendaklah meletakkan wajahnya, hidungnya, dan tangannya di atas tanah. Karena Allah Ta’ala memerintahkan supaya bersujud dengan tujuh anggota badan: kening, hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung telapak kaki, dan supaya tidak menahan rambut atau pakaian. Barangsiapa shalat dengan tidak memberikan kepada setiap bagian tubuh tersebut haknya, maka bagian tubuh itu akan melaknatnya sampai dia selesai dan shalatnya.” 7

Suatu ketika Hudzaifah bin Yaman melihat seseorang mengerjakan shalat, namun tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Hudzaifah pun menyapanya, “Kamu belum shalat. Andaisaja kamu mati padahal shalatmu seperti itu, sungguh kamu mati di atas selain fitrah Muhammad ” 8

Dalam riwayat Abu Dawud, Hudzaifah رضي الله عنه bertanya, “Sejak kapan kamu mengerjakan shalat seperti yang kulihat tadi?” “Sejak empat putuh tahun yang lalu.”, jawab orang itu. Lalu Hudzaifah berkata, “Selama empat puluh tahun ini kamu tidak shalat sama sekali. Dan jika kamu mati, kamu mati di atas selain fitrah Muhammad.”9

Hasan al-Bashriy رحمه الله bertutur, “Wahai anak Adam apalagi yang kamu baggakan dari dienmu jika shalatmu sudah kamu sepelekan? Padahal, tentang shalat itulah pertanyaan pertama yang diajukan kepadamu pada hari kiamat nanti- Nabi bersabda, “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika kurang, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” Dan bilamana amalan fardlu itu kurang sempurna Allah berfirman, “Lihatlah, apakah hambaKu memiliki amalan sunnah untuk melengkapinya?” Demikian sampai habis seluruh amalnya.”10

Maka, seorang hamba itu mestinya memperbanyak amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan yang wajib. Dari Allah taufiq itu datang.

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *