[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 13

MENDAHULUI IMAM SECARA SENGAJA DALAM SHALAT

Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya. Allah سبحانه و تعالي berfirman:

وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

اَلتَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.

”Pelan-pelan adalah dari Allah dan tergesa-gesa adalah dari setan.”1

Dalam shalat jama’ah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku’, sujud, takbir perpindahan, bahkan mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada diri sendiri.

Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu, oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم diperingatkan dan diancam secara keras dalam sabdanya:

أَمَا يَخْشَى الَّذِيْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ.

“Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?”2

Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, bagaimana pula halnya dengan shalat itu sendiri? Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, para fuqaha’ telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini yaitu, hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucap takbir. Ketika imam selesai melafazhkan huruf (ra’) dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerakan imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian, maka batasan itu menjadi jelas.

Dahulu para sahabat رضي الله عنهم sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi صلي الله عليه وسلم. Salah seorang sahabat bernama Al- Barra’ bin Azib رضي الله عنه berkata:

“Sungguh mereka (para sahabat) shalat di belakang Rasulullah صلي الله عليه وسلم, maka jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tidak melihat seorang pun yang membungkukkan punggungnya, sehingga Rasulullah صلي الله عليه وسلم meletakkan keningnya di atas, lalu orang yang berada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya).”3

Ketika Rasulullah صلي الله عليه وسلم mulai uzur dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ بَدَّنْتُ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ

“Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud…”4

Dalam shalatnya, imam hendaknya melakukan sunnah dalam takbir, yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْكَعُ … ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَهْوِيْ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُم يُكَبِّرُ حِيْنَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا، وَيُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ مِنَ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوْسِ.

“Bila Rasulullah صلي الله عليه وسلم berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahud pertama).”5

Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam, sebagaimana disebutkan di muka, maka jama’ah dalam shalat tersebut menjadi sempurna.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *