[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 18 – Pondasi dan Landasan ISLAM 17

Urutan Kedua*
          Iman dengan rukunnya yang enam, yaitu: Beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Nya, hari akhir dan beriman terhadap Takdir.
          Pertama: Iman kepada Allah SWT: yaitu dengan beriman kepada Rubiyyah Allah, atau bahwasanya Dia adalah Rabb Pencipta, Maha Raja, Maha Pengatur bagi segala sesuatu, dan beriman kepada Uluhiyyah Allah, atau bahwasanya Dia-lah Tuhan yang hak, setiap sesembahan selain-Nya batil, dan beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya, atau bahwasanya Dia memiliki nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi lagi sempurna.

          Dan beriman dengan ke-esaan Allah, karena tidak ada sekutu baginya dalam Rububiyyah, tidak dalam uluhiyyah dan tidak pula dalam asma dan sifat-Nya, Allah berfirman:

” رب السموات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر لعبادته هل تعلم له سميّا

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada orang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?“.

          Dan mengimani bahwasanya Dia tidak mengantuk dan tidak pula tidur, dan bahwasanya Dia Maha Mengetahui atas segala perkara ghaib dan yang terlihat, dan bagi-Nyalah kerajaan langit dan bumi:

وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ويعلم ما في البر والبحر وما تسقط من ورقة إلا يعلمها ولا حبة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)“.

          Dan mengimani bahwasanya Dia berada diatas Arsy-Nya, lebih tinggi dari seluruh makhluk-Nya, Dia-pun bersama ciptaan-Nya mengetahui setiap keadaan mereka, mendengar setiap ucapan dan melihat tempat mereka, mengatur seluruh urusan mereka, memberi rejeki kepada yang fakir, memperbaiki yang rusak, memberi kerajaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mengambilnya dari siapapun yang Dia kehendaki, dan Dia-pun berkuasa atas segala sesuatu.
Di antara hasil dari keimanan kepada Allah SWT adalah:
1        Lahirnya kecintaan bagi seorang hamba kepada Allah dan pengagungan-Nya, yang menjadikan dia melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Apabila seorang hamba telah melakukan yang demikian, maka dia akan mendapatkan darinya kesempurnaan kebahagiaan di dunia dan akherat.

2        Bahwa iman kepada Allah melahirkan kehalusan dan kemuliaan dalam diri seseorang, karena dia telah mengetahui bahwa Allah adalah Raja yang sesungguhnya atas apa saja yang ada di alam ini, dan bahwasanya tidak ada yang dapat mendatangkan manfaat ataupun mudharat kecuali Dia. Ilmu yang seperti ini akan menjadikannya merasa cukup dari selain Allah, dan hatinya terlepas dari perasaan takut kepada selain-Nya, sehingga dia tidak mengharap kecuali kepada Allah dan tidak takut kepada selain-Nya.

3        Bahwa iman kepada Allah akan menumbuhkan sifat tawadhu dalam dirinya, karena dia tahu bahwa semua kenikmatan yang ada padanya adalah dari Allah, sehingga dia tidak memuliakan setan, tidak sombong dan tidak takabbur, dan tidak merasa bangga pula dengan kekuatan dan hartanya.

4        Bahwa orang yang beriman kepada Allah akan mengetahui dengan sesungguhnya, bahwasanya tidak ada jalan untuk menuju kemenangan dan keberhasilan kecuali dengan mengerjakan amal sholeh yang diridhoi oleh Allah, pada saat orang lain memiliki keyakinan-keyakinan yang batil, seperti keyakinan bahwa Allah memerintahkan agar anak-Nya di salib, sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa manusia, atau beriman terhadap tuhan-tuhan dan meyakini bahwa ia dapat merealisasikan apa yang diinginkannya, yang mana pada hakekatnya semua itu tidak bermanfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat, atau menjadi seorang  komunis sehingga tidak beriman dengan keberadaan Pencipta.. semua ini adalah angan-angan, sehingga tatkala mereka dihadapkan kepada Allah pada hari kiamat, dan ditunjukkan kenyataannya, sadarlah bahwa mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

5        Bahwa keimanan kepada Allah akan mengasah kekuatan manusia dalam berniat untuk maju, bersabar, berpegang serta bertawakal, yaitu pada saat menguatnya perkara-perkara dunia, dengan mengharap ridho Allah, sehingga ia berada pada keyakinan yang sempurna bahwa dirinya telah bertawakal kepada Raja pemilik langit dan bumi, dan bahwasanya Dia akan membantu dan menolongnya, sehingga ia menjadi tegar bagaikan ketegaran gunung dalam bersabar, konsisten dan bertawakal.
Kedua: Iman kepada Malaikat: Bahwasanya Allah-lah yang telah menciptakan mereka untuk menta’ati-Nya, dan disifatkan bahwa mereka:
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan (26) mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya (27) Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya“, dan bahwasanya mereka itu: “Mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih (19) mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya“, Allah menutupi mereka dari kita sehingga kita tidak dapat melihatnya, namun terkadang Allah memperlihatkannya terhadap sebagian Nabi dan Rasul-Nya.

          Para malaikat memiliki tugas-tugas yang dibebankan terhadapnya, diantaranya Jibril yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu, ia turun dengan membawanya dari sisi Allah kepada para Rasul yang dikehendakin-Nya, diantara mereka ada yang ditugaskan untuk mencabut nyawa, diantara para malaikat ada yang ditugaskan  untuk urusan yang berhubungan dengan janin dalam rahim, diantara mereka ada yang ditugaskan untuk menjaga manusia, diantaranya ada yang ditugaskan untuk mencatat amalan mereka, setiap orang didampingi oleh dua malaikat:

عن اليمين وعن الشمال قعيد .ما يلفظ من قول إلاّ لديه رقيب عتيد

Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri (17) Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir“.
Di antara hasil dari keimanan kepada malaikat adalah:
1        Menjadi bersihnya aqidah seorang muslim dari keburukan syirik dan kekotorannya, karena apabila seorang muslim beriman dengan keberadaan malaikat yang Allah tugaskan dengan amalan-amalan besar ini, dia akan terbebas dari keyakinan adanya makhluk-makhluk fiktif (tidak jelas) yang turut serta dalam pengaturan alam semesta.

2        Seorang muslim akan mengetahui bahwa para malaikat tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan mudharat, akan tetapi mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, tidak bermaksiat atas apa yang Allah perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, sehingga dia tidak akan beribadah kepadanya dan tidak pula menghadap ke arahnya, sebagaimana juga tidak akan bergantung kepadanya.
Ketiga: Iman kepada kitab-kitab: Beriman bahwasanya Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada sebagian dari Nabi dan Rasul-Nya, untuk menjelaskan hak-Nya dan berdakwah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan“, kitab-kitab berjumlah banyak, diantaranya: Shahifah (lembaran) Ibrahim, Taurat yang diberikan kepada Musa, Zabur yang dibawa oleh Dawud, dan Injil yang dibawa oleh Al-Masih.

          Iman kepada kitab-kitab terdahulu akan terwujud dengan mengimani bahwa Allah SWT telah menurunkannya kepada para Rasul, dan bahwasanya ia mengandung syari’at yang Allah inginkan untuk disampaikan kepada umat manusia pada masa tersebut.

          Kitab-kitab yang telah Allah kabarkan kepada kita tersebut telah sirna, tidak tersisa lagi keberadaan Shahifah Ibrahim di dunia ini, adapun Taurat, Injil dan Zabur, walaupun keberadaannya dengan nama tersebut ada pada Yahudi dan Nasrani, namun ia telah dirubah, diganti dan telah hilang sebagian besar darinya, dan dimasukan padanya apa yang bukan darinya, bahkan sampai disandarkan kepada yang bukan pemiliknya. Perjanjian lama, terdapat padanya lebih dari empatpuluh bagian, dan yang dinisbatkan kepada Musa hanya lima, dan Injil-Injil yang ada pada hari ini tidak ada satupun yang dinisbatkan kepada Al-Masih.

          Adapun kitab terakhir yang diturunkan dari sisi Allah, yaitu Al-Qur’an yang Dia turunkan kepada Muhammad, ia tetap terjaga dengan penjagaan Allah, ia tidak tersentuh oleh perubahan ataupun pergantian pada huruf, kalimat, harakat ataupun juga maknanya.
          Perbedaan antara Al-Qur’an dengan kitab-kitab terdahulu dapat dilihat dari  banyak sisi, diantaranya:
1        Bahwa kitab-kitab terdahulu telah hilang dan dimasuki oleh perubahan dan pergantian, telah dinisbatkan kepada selain pemiliknya, ditambahkan padanya penjelasan, catatan kaki serta keterangan-keterangan, juga mengandung perkara-perkara yang menafikan wahyu Ilahi, akal dan fitrah.
Adapun Al-Qur’an akan terus terjaga oleh penjagaan Allah, dengan huruf dan kalimat yang sama sebagaimana ketika diturunkan Allah kepada Muhammad, ia tidak tersentuh oleh perubahan dan tidak pula tambahan, karena kaum muslimin selalu berupaya agar Al-Qur’an tetap berada sebagaimana aslinya, mereka tidak mencampuri dengan selainnya, semisal sirah Nabi atau sejarah para sahabat atau tafsirnya ataupun juga dengan hukum-hukum yang berhubungan dengan ibadah dan muamalah.

2        Bahwa kitab-kitab terdahulu tidak diketahui catatan sejarahnya, bahkan sebagiannya tidak diketahui, kepada siapa ia diturunkan dan dengan bahasa apa ditulis, bahkan sebagiannya disandarkan kepada selain dia yang membawanya.

Adapun Al-Qur’an, ia dinukil oleh kaum muslimin dari Muhammad dengan penukilan yang mutawatir, baik secara lisan atau tulisan, pada setiap kaum muslimin di setiap zaman dan tempat terdapat ribuan orang yang menghafalnya dan ribuan cetakan yang berisi tentangnya, apabila ada yang tidak sama antara yang dilafadzkan dan apa yang tertulis, maka ia tidak akan dianggap, karena apa yang ada dalam tulisan harus sama dengan apa yang ada dalam dada para penghafal.

Diatas semua itu, sesungguhnya Al-Qur’an dinukil secara lisan, yang mana ini tidak pernah terjadi pada kitab apapun yang ada di dunia, bahkan tidak pernah ada gambaran tentang cara penukilan ini kecuali pada umat Muhammad, dan cara penukilan ini: yaitu seorang murid menghafal Al-Qur’an dihadapan gurunya dengan cara hafalan dalam hati, dan gurunya tersebut telah menghafalnya dari gurunya juga, kemudian guru tersebut memberikan idzin kepada muridnya yang berupa persaksian dengan nama “ijazah”, padanya guru tersebut bersaksi bahwa muridnya telah membaca kepadanya sebagaimana yang dia lakukan kepada gurunya, setiap dari mereka menyebutkan nama gurunya hingga sanadnya sampai kepada Rasulullah, demikianlah tasalsul(mata rantai) sanad dari seorang murid hingga sampai kepada Rasul, dan demikian pula tasalsul sanad secara lisan dari seorang murid hingga sampai kepada Rasulullah.

Banyak dalil-dalil yang kuat dan bukti-bukti sejarah –yang juga sampai dengan turun temurun secara sanad- yang memberi keterangan tentang setiap suratdan setiap ayat dari Al-Qur’an, dimana ia turun dan kapan diturunkan kepada Muhammad.

3        Bahwasanya bahasa-bahasa yang denganya kitab-kitab terdahulu diturunkan  telah punah sejak zaman dahulu, sehingga tidak didapati seorangpun yang berbicara dengannya, dan sedikit sekali yang memahaminya pada saat ini, adapun bahasa yang dengannya Al-Qur’an diturunkan adalah bahasa hidup yang pada hari ini masih dijadikan sebagai alat komunikasi oleh puluhan juta jiwa, dan ia masih dipelajari dan diajarkan pada setiap penjuru dunia, dan barang siapa yang tidak mempelajarinya, ia tetap akan mendapati pada setiap tempat orang yang akan memahamkan kepadanya makna-makna Al-Qur’an.

4        Bahwasanya kitab-kitab terdahulu diturunkan untuk zaman tertentu, ia ditujukan kepada suatu umat, bukan untuk seluruh umat manusia, oleh karenya ia memuat hukum-hukum yang khusus dengan umat tersebut pada zamannya, selama demikian adanya, maka ia tidak sesuai untuk dijadikan bagi seluruh manusia.

Sedangkan Al-Qur’anul Adzim adalah kitab yang mencakup seluruh zaman, sesuai bagi seluruh tempat, memuat hukum-hukum, muamalah serta akhlak-akhlak yang cocok bagi setiap umat, dan sesuai bagi setiap zaman, sehingga seruan yang ada padanya ditujukan kepada manusia seluruhnya..

          Dari semua itu diketahui, bahwasanya tidak mungkin Allah menjadikan hujjah-Nya atas manusia dalam kitab-kitab yang tidak lagi otentik naskah-naskahnya, dan tidak ada pula diatas muka bumi ini orang yang berbicara dengan bahasa yang dipergunakan untuk menulis kitab-kitab tersebut setelah ia dirubah… akan tetapi hujjah Allah atas makhluknya hanya ada dalam kitab yang masih terjaga dan selamat dari segala bentuk tambahan dan pengurangan ataupun penyimpangan, bentuk aslinya masih tersebar di setiap tempat, ditulis dengan bahasa yang masih hidup sehingga dapat dibaca oleh jutaan manusia, dan merekapun menyampaikan risalah-risalah Allah kepada orang lain. Kitab tersebut adalah [Al-Qur’anul Adzim] yang telah Allah turunkan kepada Muhammad, ia adalah penguat kitab-kitab terdahulu, pembenar atasnya –sebelum diadakan perubahan-, sebagai bukti baginya, dan ia adalah yang diwajibkan bagi seluruh manusia untuk mengikutinya, agar ia dapat menjadi cahaya bagi mereka, menjadi penyembuh, petunjuk dan juga rahmat, Allah berfirman:

وهذا كتاب أنزلناه مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون

Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat

قل يا أيّها الناس إني رسول الله إليكم جميعًا

Hai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua“.
Keempat: Iman kepada para Rasul :
          Bahwasanya Allah telah mengutus para Rasul kepada makhluk-Nya untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan kenikmatan jika mereka beriman kepada Allah dan mempercayai para Rasul-Nya, merekapun bertugas untuk memberi peringatan akan adzab jika umat manusia berbuat maksiat, firman Allah:

ولقد بعثنا في كل أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut itu

رسلاً مبشرين ومنذرين لئلاّ يكون للناس على الله حجة بعد الرسل

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu“.

          Para Rasul tersebut berjumlah banyak, dimulai oleh Nuh dan diakhiri oleh Muhammad, diantara mereka ada yang Allah kabarkan kepada kita tentangnya, seperti: Ibrahim, Musa, Isa, Dawud, Yahya, Zakaria dan Shalih, dan diantara mereka ada juga yang tidak Allah sebutkan kabar tentangnya, Allah berfirman:

ورسلاً قد قصصناهم عليك من قبل ورسلاً لم نقصصهم عليك

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu“.

          Para Rasul tersebut seluruhnya manusia yang Allah ciptakan, mereka tidak memiliki kekhususan sama sekali dalam permasalahan rububiyyah dan uluhiyyah, sehingga tidak boleh dipalingkan kepada mereka sedikitpun dari ibadah, dan merekapun tidak memiliki manfaat ataupun mudharat terhadap diri sendiri, Allah berfirman tentang Nuh, bahwa dia berkata kepada kaumnya:

ولا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول إني ملك

Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: “bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat“, dan Allah memerintahkan kepada Muhammad –yang terakhir dari mereka- untuk berkata:

لا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني ملك

Katakanlah: “aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat“, dan hendaklah mengatakan:

لا أملك لنفسي نفعًا ولا ضرًا إلاّ ما شاء الله

Katakanlah: “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah“.

          Para Nabi adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, mereka dipilih oleh Allah dan dimuliakan dengan risalah, dan tetap disifati sebagai hamba, agama mereka adalah Islam, dan Allah tidak akan menerima agama selainnya, Allah berfirman:

إن الدين عند الله الإسلام

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam“, risalah-risalah mereka memiliki kesamaan pada prinsip/dasar, sedang syariat-syariatnya  bercabang-cabang, sebagaimana firman Allah:

لكلّ جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang“, penutup seluruh syari’at ini adalah syari’at Muhammad, ia merupakan penghapus bagi seluruh syari’at yang telah lalu, dan bahwa risalahnya merupakan penutup bagi risalah-risalah yang lain, dan beliau adalah penutup para Rasul.

          Barang siapa yang beriman dengan seorang Nabi, maka dia berkewajiban untuk beriman dengan seluruhnya, dan barang siapa yang mendustai seorang Nabi, berarti dia telah mendustakan seluruhnya, karena seluruh Nabi dan Rasul mengajak untuk beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari akhir, dan juga karena agama mereka satu, sehingga siapa yang membedakan diantara mereka atau beriman dengan sebagian dan mengkufuri sebagian lainnya, maka dia telah kufur terhadap mereka seluruhnya, karena setiap dari mereka menyeru kepada iman terhadap seluruh Nabi dan Rasul. Allah berfirman:

آمن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كلّ آمن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرق بين أحد من رسله

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir) (150) merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan“.
Kelima: Iman kepada hari akhir: bahwa penghujung setiap makhluk dari dunia ini adalah kematian! Maka apa kelanjutan manusia setelah mati? Apakah tempat bagi pelaku kedzoliman yang telah selamat dari adzab dunia, apakah mereka akan selamat dari perbuatan dzolimnya? Serta orang-orang yang berbuat kebaikan, yang kehilangan bagian serta ganjaran atas kebaikannya ketika di dunia, apakah dia akan hilang ganjarannya?

          Sesungguhnya manusia saling beriringan menuju kematian, generasi demi generasi, sehingga tatkala Allah menghendaki untuk berakhirnya dunia ini, dan seluruh makhluk telah binasa secara nyata, Allah bangkitkan kembali seluruhnya pada suatu hari yang dipersaksikan, Allah kumpulkan yang dari terdahulu sampai yang terakhir, kemudian seluruh hamba akan dihisab menurut amalnya masing-masing, dari kebaikan dan kejelekan yang telah mereka perbuat ketika di dunia, sehingga kaum mukminin di arahkan ke surga dan orang-orang kafir digiring menuju neraka.

          Surga adalah: Kenikmatan yang Allah siapkan bagi wali-wali-Nya yang beriman, padanya terdapat berbagai macam kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan sifatnya oleh siapapun, padanya terdapat seratus derajat (tingkatan), setiap tingkatan di isi oleh penghuni, sesuai dengan kadar keimanan dan ketaatannya kepada Allah, dan yang paling rendah tingkatannya akan diberikan kepadanya kenikmatan yang sama seperti sebuah kerajaan yang ada didunia dan dilipat gandakan sebanyak sepuluh kali lipat.

          Neraka: adalah adzab yang Allah siapkan bagi dia yang mengkufuri-Nya, padanya terdapat berbagai bentuk adzab yang menakutkan untuk disebut, dan jika seandainya Allah memberi idzin kematian untuk seseorang di akherat, niscaya seluruh penghuni neraka akan langsung meninggal hanya dengan melihat neraka saja.

          Allah telah mengetahui –dengan ilmu-Nya- atas apa yang akan dikatakan dan dikerjakan oleh setiap orang, dari kebaikan atau kejelekan, secara tersembunyi ataupun terang-terangan, kemudian diwakilkan bagi setiap orang dua malaikat, yang satu mencatat kebaikan dan yang lain mencatat kejelekan, tidak ada yang terlewat sedikitpun dari keduanya, Allah berfirman:

ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir“, amalan-amalan ini akan dicatat pada sebuah kitab yang akan diberikan kepada setiap manusia pada hari kiamat, Allah berfirman:

ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين ممّا فيه ويقولون يا ويلتنا ما لهذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلاّ أحصاها ووجدوا ما عملوا حاضرًا ولا يظلم ربّك أحدًا

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhan-mu tidak menganiaya seorangpun“, lalu dia baca kitabnya dengan tanpa mengingkari sedikitpun darinya, dan barang siapa yang mengingkari amal perbuatannya, maka Allah akan menjadikan pendengaran, penglihatan, kedua tangan, kedua kaki dan kulitnya  berbicara tentang seluruh apa yang telah diamalkannya, Allah berfirman:
Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (21) kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan“.

          Iman kepada hari akhir -yaitu hari kiamat dan hari kebangkitkan telah didisampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul, firman Allah:

ومن آياته أنك ترى الأرض خاشعة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت إن الذي أحياها لمحيي الموتى إنه على كل شيءقدير

Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu“, dan firman-Nya:

أو لم يروا أن الله الذي خلق السموات والأرض ولم يعي بخلقهن بقادر على أن يحيي الموتى

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati?“, ini semua sesuai dengan hikmah Allah SWT, karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan ciptaannya dengan sia-sia, dan tidak meninggalkan mereka dengan begitu saja, sebab orang yang paling lemah akalnya tidak mungkin akan mengamalkan suatu amalan –yang memiliki akibat- tanpa memiliki tujuan yang jelas, dan tanpa maksud darinya, maka bagaimana mungkin tidak tergambarkan yang seperti ini oleh manusia, kemudian dia akan mengira bahwa Rabb-nya telah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia, dan akan meninggalkan mereka begitu saja, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan, firman-Nya:

أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا وأنكم إلينا لا ترجعون

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?“, dan firman-Nya:

وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلاً ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka“.

          Semua orang yang berakal bersaksi atas keimanan mereka kepada hari akhir,  dan itulah yang menjadi tuntutan akal, dan yang diterima oleh fitrah yang lurus, karena apabila seorang manusia beriman dengan hari kiamat, maka dia akan menyadari kenapa manusia meninggalkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu untuk mengharap apa yang ada di sisi Allah, kemudian diapun akan mendapati bahwa siapa yang berbuat dzolim terhadap orang lain, maka dia akan mengambil bagiannya, orang lain akan mengqishasnya pada hari kiamat, dan bahwa manusia pasti akan mendapatkan ganjarannya, apabila baik dengan kebaikan dan apabila jelek dengan keburukan, agar setiap jiwa diganjar sesuai dengan apa yang dia usahakan, sehingga terealisasilah keadilan Ilahi, firman Allah:
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7) dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“.

          Tidak ada satu makhlukpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, hari ini tidak diketahui oleh Nabi yang diutus, tidak pula oleh malaikat yang didekatkan, akan tetapi ia khusus hanya ada pada Allah ilmunya, sebagaimana firman-Nya:

يسألونك عن الساعة أيّان مرساها قل إنما علمها عند ربي لا يجلّيها لوقتها إلاّ هو

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “bilakah terjadinya?” katakanlah: “sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhan-ku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia“, dan firman-Nya:

إن الله عنده علم الساعة

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat“.
          Keenam: Iman dengan qadha dan qadar: yaitu dengan beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, Dia mengetahui segala keadaan hamba dan amalan, ajal serta rizki mereka, Allah berfirman:

إن الله بكلّ شيء عليم

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“, juga firman-Nya:

وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ويعلم ما في البر والبحر وما تسقط من ورقة إلاّ يعلمها ولا حبة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلا في كتاب مبين

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)“, dan semua itu tertulis dalam kitab di sisi-Nya, Allah berfirman:

و كل شيء أحصيناه في إمام مبين

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)

ألم تعلم أن الله يعلم ما في السماء والأرض إن ذلك في كتاب إن ذلك على الله يسير

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah“, apabila Allah menghendaki sesuatu, maka Dia akan berkata: jadilah!, maka jadilah ia, sebagaimana firman-Nya:

إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia“. Sebagaimana Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia-pun Maha Pencipta atas segala sesuatu, firman-Nya:

إنا كلّ شيء خلقناه بقدر

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” dan firman-Nya:

الله خالق كلّ شيء

Allah menciptakan segala sesuatu“, Dia ciptakan hamba agar mereka menta’ati-Nya, menjelaskan kepada mereka cara mentaatinya dan memerintahkan mereka agar mentaati dengannya, melarang mereka dari perbuatan maksiat dan menjelaskannya, Dia jadikan pada mereka kemampuan dan kehendak yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, sehingga mereka mendapatkan ganjaran, dan barang siapa yang terjerumus kedalam maksiat, maka dia berhak untuk mendapat azab.
Apabila manusia telah beriman kepada qadha dan qadar, maka akan terwujud baginya beberapa hal berikut ini:
1        Ia akan bergantung kepada Allah ketika melaksanakan berbagai sebab(usaha atau upaya dalam meraih sesuatu), karena dia mengetahui bahwa sebab dan akibat (hasil), seluruhnya berada dibawah kehendak dan kekuasaan Allah.

2        Rileksnya jiwa dan tenanganya hati, karena ketika dia mengetahui bahwa itu terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah, dan bahwa apa yang dibenci dan telah ditetapkan pasti terjadi, maka akan tenanglah jiwanya dan ridha akan takdir Allah. Tidak ada seorangpun yang lebih baik hidupnya dan lebih rileks jiwanya serta lebih kuat tumakninahnya (ketenanganya) dari orang yang beriman dengan takdir.

3        Tersingkirnya rasa bangga diri ketika mendapatkan apa yang diinginkan, karena ia bisa meraih yang demikian itu merupakan suatu nikmat dari Allah melalui sebab-sebab kebaikan dan kemenangan yang telah Dia tentukan, sehingga dia bersyukur kepada Allah atas semua itu.

4        Tersingkirnya rasa gundah dan gulana ketika kehilangan apa yang dia inginkan ataupun ketika mendapat apa yang dia benci, karena semua itu terjadi dengan kehendak Allah yang tidak dapat ditolak perintah-Nya, dan tidak ada yang dapat menghukumi atas putusan-Nya, ia pasti akan terjadi, sehingga dia bisa bersabar dan mengharap ganjaran dari Allah, firman-Nya:
     “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (22) (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri“.

5        Tawakkal yang sempurna terhadap Allah Ta’ala, karena seorang muslim mengetahui bahwasanya di tangan-Nyalah –satu-satunya- seluruh manfaat dan mudharat, sehingga dia tidak akan merasa takut kepada kekuatan seorang yang kuat, dan tidak pula berpura-pura mengerjakan suatu amal kebaikan karena merasa takut kepada seseorang, bersabda Nabi kepada ibnu Abbas :

واعلم أن الأمة لو اجتمعوا على أن ينفعوك لم ينفعوك إلاّ بشيء قد كتبه الله لك, ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك


Ketahuilah, kalau seandainya seluruh umat berkumpul untuk menyalurkan suatu manfaat kepadamu niscaya mereka tidak akan dapat menyalurkannya kepadamu, kecuali pada apa-apa yang telah Allah takdirkan untukmu, dan kalau seandainya mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu kemudharatan terhadapmu, niscaya hal tersebut tidak akan menimpamu, kecuali jika ia telah ditakdirkan akan menimpamu“.


والله أعلمُ بالـصـواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *