[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 17 – Pondasi dan Landasan ISLAM 16

Pondasi Islam dan Sumber-sumbernya
          Sudah menjadi tradisi bahwa pengikut agama-agama terdahulu baik agama samawiyah yang terhapus maupun agama buatan manusia mengkultuskan dan mengagungkan kitab-kitab warisan para pendahulunya, yang ditulis pada masa terdahulu dan terkadang tidak diketahui hakekat penulisnya dan siapa yang menterjemahkannya atau pada zaman kapan kitab tersebut ditulis, ia hanyalah kitab yang ditulis oleh orang-orang yang memiliki sifat sama dengan manusia lainnya, mereka memiliki kelemahan, kekurangan, menuruti hawa nafsu dan pelupa.
          Adapun Islam, bahwasanya ia memiliki kelebihan dari selainnya karena bersandar kepada sumber yang hak (wahyu Ilahi) Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut ini pengenalan singkat tentang keduanya:
A- Al-Qur’anul ‘Adzim:
Telah Anda ketahui sebelumnya bahwa Islam adalah agama Allah SWT, oleh karena itu Dia menurunkan Al-Qur’an kepada rasul-Nya Muhammad SAW  sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, pegangan bagi kaum muslimin, penyembuh bagi hati orang-orang yang Allah inginkan kesembuhan padanya, dan sebagai ciri bagi mereka yang Allah inginkan padanya kemenangan dan cahaya, ia mencakup pondasi yang menjadi penyebab diutusnya rasul. Al-Qur’an bukanlah kitab samawi yang baru, sebagaimana juga Muhammad bukanlah rasul yang baru diantara para rasul, karena Allah telah menurunkan kepada Ibrahim beberapa lembaran (suhuf), memuliakan Musa  dengan Taurat dan Daud dengan Zabur, serta datang al-Masih dengan membawa Injil. Seluruh kitab-kitab tersebut merupakan wahyu dari Allah yang Dia wahyukan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, akan tetapi kitab-kitab yang lama ini kebanyakan darinya telah hilang dan kebanyakan darinya telah direvisi sehingga mengalami perubahan dan penggantian.

          Adapun Al-Qur’anul Adzim telah dijamin oleh Allah penjagaannya, dan dijadikan sebagai ujian serta penghapus atas kitab-kitab yang telah lalu.
Allah SWT berfirman:

” وأنزلناإليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الك تاب ومهيمنا عليه ”                 

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu“, dan Allah mensifatinya sebagai penjelas bagi segala sesuatu, firman-Nya:

ونزلناعليك الكتاب تبيانا لكل شيء ”                                                             

Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu“, dan bahwasanya ia sebagai petunjuk dan rahmat, sebagaimana firman-Nya:

فقدجاءكم بينة من ربكم وهدى ورحمة ”                                                   

Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat” iapun sebagai petunjuk kepada jalan yang lebih lurus, sebagaimana firman Allah:

إنهذا القرآن يهدي للتي هي أقوم ”                                                               

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus“, sehingga ia merupakan pemberi petunjuk bagi manusia kepada jalan yang lebih lurus dalam setiap urusan kehidupannya.

          Barang siapa yang mengetahui bagaimana Al-Qur’an diturunkan dan bagaimana ia dijaga; niscaya mereka akan mengetahui kedudukan Al-Qur’an dan menujukan segala keikhlasannya kepada Allah. Allah berfirman:
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam (192) dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) (193)ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan

Siapa yang menurunkan Al-Qur’an? Dia adalah Allah Penguasa semesta alam.
Siapa yang membawanya? Dia adalah ruhul amin Jibril as.

Kepada hati siapa ia diturunkan? Kepada Nabi.

          Al-Qur’an ini merupakan tanda yang kekal dari Muhammad -termasuk tanda-tanda yang kekal sampai hari kiamat- Tanda-tanda para nabi yang terdahulu dan mukjizat mereka telah berakhir dengan berakhirnya kehidupan mereka, adapun Al-Qur’an ini telah Allah jadikan sebagai hujjah yang kekal.

          Ia merupakan hujjah yang kuat dan tanda yang nyata, Allah menantang umat manusia untuk mendatangkan yang sepertinya, atau dengan sepuluh surat yang sepertinya, atau bahkan juga dengan satu surat yang sepertinya, namun mereka seluruhnya tidak mampu melakukannya, padahal ia terdiri dari huruf dan kalimat-kalimat, dan umat yang diturunkan kepadanya adalah umat yang fasih dan ahli bahasa, Allah berfirman:

أميقولون افتراه قل فأتوا بسورة مثله وادعوا من استطعتم من دون الله إن كنتم صادقين ”    

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.“.

          Diantara dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari sisi Allah, bahwasanya ia mengandung kabar-kabar yang cukup banyak tentang umat-umat terdahulu, mengabarkan tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada waktu yang akan datang dan benar terjadi sebagaimana yang dikabarkannya, dan menyebutkan banyak dari petunjuk-petunjuk ilmiah yang tidak diketahui sebagian dari hakekatnya kecuali oleh para ahli di abad ini. Diantara dalil yang menunjukkan juga bahwa Al-Qur’an merupakan wahyu dari Allah, bahwa nabi yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an ini, tidak diketahui sebelumnya dan tidak pernah pula dinukil darinya apa yang mirip dengannya sebelum ia (Al-Qur’an) diturunkan, Allah berfirman:

قللو شاء الله ما تلوته عليكم ولا أدراكم به فقد لبثت فيكم عمرا من قبله أفلا تعقلون ”            

Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?“, bahkan beliau adalah seorang ummi yang tidak dapat membaca, tidak menulis, tidak belajar kepada seorang syeikh dan tidak pula mengaji kepada seorang guru, namun meski demikian ia tantang orang-orang fasih dan ahli bahasa untuk mendatangkan yang sepertinya:

وماكنت تتلو من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون ”                   

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)“, orang yang ummi ini, yang telah disebutkan sifatnya dalam Taurat dan Injil bahwa dia seorang ummi yang tidak dapat membaca dan tidak pula menulis, para pemuka yahudi dan nasrani –yaitu orang-orang yang masih tersisa padanya Taurat dan Injil- berbondong-bondong datang kepadanya menanyakan berbagai permasalahan yang mereka perselisihkan dan meminta keputusan hukum darinya, Allah berfirman ketika menjelaskan kabar tentang beliau dalam Taurat dan Injil:

الذينيتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجبل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ”    
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk“, Allah berfirman ketika menjelaskan  pertanyaan orang Yahudi dan Nasrani kepada Muhammad:          
                 
يسألك أهل الكتاب أن تنزّل عليهم كتابًا من السماء

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit” firman Dzat yang Maha Mulia Pujian atas-Nya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh“, firman-Nya:
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain“, serta firman-Nya:
Sesungguhnya Al Quran ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya“.

 Pendeta Ibrahim Philips telah berusaha dalam desertasi doktornya untuk meniru Al-Qur’an, namun dia tidak mampu melakukannya, ia dikalahkan oleh Al-Qur’an dengan hujjah-hujjah, bukti-bukti dan dalil-dalilnya, yang kemudian dia umumkan akan ketidak mampuannya, lalu berserah diri kepada Penciptanya dan mengumumkan keislamannya (memeluk Islam).

          Ketika salah seorang muslim menghadiahkan sebuah terjemah Al-Qur’an kepada seorang Doktor Amerika yang bernama Jefry Lang, dia mendapati bahwa Al-Qur’an tersebut ditujukan kepada dirinya, menjawab segala pertanyaannya dan menghilangkan pembatas yang ada diantara diri dengan jiwanya, bahkan dia berkata: “Sesungguhnya yang menurunkan Al-Qur’an ini sepertinya Dia mengenalku lebih dalam daripada diriku sendiri”, bagaimana tidak? Karena yang menurunkan Al-Qur’an adalah Dia yang telah menciptakan manusia, Dialah Allah Ta’ala:
Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?“.

Kemudian bacaannya terhadap terjemah Al-Qur’anul Karim menjadi penyebab dirinya memeluk Islam dan juga penyebab dirinya mengarang buku ini yang saya nukil sedikit darinya untuk Anda.

          Al-Qur’anul Adzim mencakup segala apa yang dibutuhkan oleh manusia, ia mencakup seluruh prinsip-prinsip agama, aqidah, hukum, muamalah serta adab-adab, Allah berfirman:
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam AKitab.”

Padanya terdapat ajakan untuk meng-esakan Allah, menyebutkan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya, mengajak untuk menetapkan kebenaran ajaran yang dibawa para nabi dan rasul, menetapkan tempat kembali, hari pembalasan, hisab dengan memberikan dalil serta petunjuk terhadapnya, juga menyebutkan kabar tentang umat-umat terdahulu dan apa yang menimpa mereka dari bencana di dunia, serta apa yang menunggu mereka dari azab dan siksaan di akherat.
          Di dalamnya juga terdapat ayat, dalil, petunjuk-petunjuk yang banyak, yang membuat para ahli tercengang, ia sesuai dengan setiap zaman, serta padanya para ahli dan para peneliti menemukan kesesatan diri mereka. Akan saya sebutkan untuk anda tiga contoh saja yang akan mengungkapkan bagi anda sebagian darinya yaitu:
1        Firman Allah SWT:
Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi“, dan firman-Nya:

أوكظلمات في بحر لجي يغشاه موج من فوقه موج من فوقه سحاب ظلمات بعضها فوق      بعض إذا أخرج يده لم يكد يراها ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور ”                  

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”                   

    Sebagaimana yang telah diketahui, bahwasanya Muhammad tidak pernah mengarungi lautan, pada zamannyapun belum terdapat peralatan-peralatan yang dapat membantu mengukur kedalaman laut. Maka siapakah yang telah memberi tahu Muhammad akan maklumat-maklumat seperti ini kalau bukan Allah.

2        Firman Allah SWT:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik“, para ahli belum dapat mengungkapkan perincian yang mendetail tentang vase penciptaan janin ini kecuali pada zaman sekarang.

3        Firman Allah SWT:
“وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلاّ هو ويعلم ما في البرّ والبحر وما تسقط من ورقة إلاّ يعلمها ولا حبّة في ظلمات الأرض ولا رطب ولا يابس إلاّ في كتاب مّبين                   

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)“, manusia belum terbiasa untuk menguasai pemikiran yang mencakup seperti ini, bahkan tidak pula pernah berfikir tentangnya, apalagi kalau sampai memahaminya. Bahkan satu kelompok dari para pakar berhasil meneliti sebuah tanaman atau seekor serangga, mereka akan mencatatnya dan kita merasa bangga akannya, padahal apa yang masih tersembunyi dari mereka tentang keadaannya lebih banyak dari apa yang telah mereka temukan.

Seorang pakar Perancis Moris Pokai telah membandingkan antara Taurat, Injil dan Al-Qur’an, dengan apa yang telah dicapai oleh penemuan-penemuan terkini yang berhubungan dengan penciptaan langit, bumi dan manusia, maka dia dapati bahwa penemuan-penemuan terkini sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an, sementara itu dia mendapatkan dalam Taurat dan Injil yang ada sekarang ini mengandung maklumat-maklumat banyak yang salah tentang penciptaan langit, bumi, manusia dan hewan.
B: Sunnah Nabawiyyah:
          Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’anul Karim kepada Rasul, dan Dia pun telah mewahyukan hal yang sama kepadanya, yaitu sunnah nabawiyyah yang merupakan penjabar dan penjelas bagi Al-Qur’an, telah bersabda :

ألا إنّي أوتيت القرآن ومثله معه

Ketahuilah bahwasanya aku telah diberikan Al-Qur’an dan yang semisalnya bersamanya.

Beliau telah diberi izin untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al-Qur’an dari yang umum, khusus ataupun global.

Allah SWT berfirman:

وأنزلنا إليك الذكر لتبيّن للناس ما نزل إليهم ولعلّهم يتفكّرون

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan“.

          As-Sunnah merupakan sumber kedua dari sumber-sumber Islam, dan ia adalah seluruh apa yang diriwayatkan oleh nabi. -dengan sanad yang shahih, bersambung sampai kepada rasul-, baik itu dari perkataan, perbuatan, ketetapan ataupun sifat.

          Dan ia merupakan wahyu dari Allah kepada rasul-Nya Muhammad, karena nabi tidak berbicara menurut hawa nafsu, firman Allah:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya (3) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat“, beliau hanyalah diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia, firman Allah:

إن أتّبع إلاّ ما يوحى إليّ وما أنا إلاّ نذير مّبين

Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan“.

          As-Sunnah Al-Muthahharoh adalah praktek nyata dalam Islam dari segi hukum, aqidah, ibadah, muamalah serta adab, dan nabi hanyalah mempraktekkan apa yang diperintahkan kepadanya, menjelaskannya kepada umat manusia, dan memerintah mereka untuk mengerjakan seperti apa yang beliau kerjakan, sebagaimana sabdanya:

صلوا كما رأيتموني أصلي

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat“, dan Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk mengikuti seluruh apa yang beliau ucapkan dan kerjakan sehingga sempurna keimanan mereka.

Allah SWT berfirman:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Para sahabat yang mulia telah menukilkan seluruh sabda Nabi dan perbuatan-perbuatannya kepada generasi setelahnya, kemudian merekapun mengajarkannya kepada yang setelahnya lagi, yang kemudian akhirnya ditulis dalam buku-buku sunnah. Pada waktu itu para penukil sunnah memperketat orang-orang yang meriwayatkan sunnah kepadanya, dan memberi syarat bahwa orang yang meriwayatkan harus pernah bertemu dengan orang yang diriwayatkannya, sehingga sanad-sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, dan hendaknya seluruh orang yang ada dalam sanad haruslah tsiqot (dapat dipercaya), adil, seorang jujur dan memegang amanah.

          Sebagaimana sunnah merupakan praktek nyata tentang Islam, maka iapun sebagai penjelas bagi Al-Qur’anul Karim, menerangkan ayat-ayatnya dan merinci yang global dari hukum-hukumnya, karena Nabi menerangkan apa yang diturunkan kepadanya, terkadang dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan kedua-duanya, dan terkadang as-sunnah terpisah dari Al-Qur’an dengan menjelaskan sebagian hukum serta syari’at yang tidak terdapat dalam al-qur’an.

          Beriman kepada Al-Qur’an dan as-sunnah adalah wajib, karena keduanya adalah sumber pokok dalam agama Islam, yang mana diharuskan untuk mengikuti keduanya dan merujuk padanya, mengikuti segala perintahnya, menjauhi larangannya serta mempercayai seluruh kabar yang bersumber dari keduanya, juga mengimani apa yang ada pada keduanya berupa nama, sifat dan perbauatan-perbuatan Allah, serta apa yang telah Allah siapkan bagi wali-wali-Nya dari kaum mukminin dan apa yang Dia ancamkan bagi musuh-musuh-Nya dari golongan orang-orang kafir, firman Allah:

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجًا مّما قضيت ويسلّموا تسليمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya“, dan firman-Nya

وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah“.

          Setelah pengenalan terhadap sumber-sumber agama ini, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan urutannya, ia adalah: Islam, Iman dan Ihsan, kita akan membahas sebagian darinya dengan singkat tentang rukun-rukun urutan ini.


Urutan Pertama*
          Islam: Rukun-rukunnya ada lima, yaitu: Dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.
Pertama: Syahadat Laa Ilaaha Illallah, wa anna Muhaamadan Rasulullah.
          Makna syahadat Laa Ilaaha Illallah: yaitu tidak ada yang pantas untuk di ibadahi dengan hak, baik itu di bumi ataupun langit kecuali Allah saja satu-satunya, karena Dialah Tuhan yang hak, dan setiap tuhan selain-Nya adalah batil, dan ia mengandung keikhlasan dalam beribadah hanya kepada Allah saja, menafikan peribadatan kepada selain-Nya. Orang yang mengucapkan kalimat ini tidak akan bermanfaat baginya kalimat ini sehingga terealisasi padanya dua perkara:

1. Ucapan Laa Ilaaha Illallah diucapkan dengan itikad, ilmu, keyakinan, kepercayaan dan kecintaan.

2. Mengkufuri apa yang disembah selain Allah. Barang siapa yang mengucapkan syahadat ini dengan tanpa mengkufuri apa yang disembah selain Allah, maka ucapannya tidak akan bermanfaat baginya.

          Dan makna syahadat anna Muhammadan Rasulullah: yaitu mentaati apa yang beliau perintahkan, mempercayai apa yang dikabarkannya, menghindari dan menjauhi apa yang dilarangnya, tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang telah disyari’atkan, dan dengan mengetahui dan meyakini bahwa Muhammad diutus kepada seluruh umat manusia, dan bahwasanya beliau adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, Rasul yang tidak boleh didustakan, ia harus dita’ati dan diikuti, barang siapa yang menta’atinya maka dia akan masuk surga dan yang bermaksiat kepadanya akan masuk neraka. Serta mengetahui dan meyakini bahwa penerimaan syari’at, baik itu dalam permasalahan aqidah, syiar-syiar ibadah yang Allah perintahkan, peraturan hukum dan syari’at, dalam segi akhlak, segi pembangunan keluarga atau dalam segi penghalalan dan pengharaman.. seluruhnya tidak terjadi kecuali melalui Muhammad rasul Karim karena beliau adalah utusan Allah yang menyampaikan syari’at-Nya.
Kedua: Shalat*:
          Shalat adalah rukun kedua dari rukun Islam, bahkan ia merupakan tiangnya Islam, karena ia merupakan penyambung antara hamba dengan Rabb-nya, ia mengulanginya setiap hari sebanyak lima kali, dengannya ia dapat memperbaharui iman, membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran dosa, sholat juga dapat menghindarkanya dari perbuatan keji dan dosa. Apabila seorang hamba bangun dari tidurnya pada pagi hari –dia berserah diri dihadapan Rabb-nya dalam keadaan suci dan bersih-, sebelum disibukkan oleh kesibukan duniawi- kemudian dia bertakbir kepada Rabb-nya, dan memberikan ubudiah-Nya, memohon pertolongan-Nya serta hidayah-Nya, diapun memperbaharui janji ketaatan dan ibadahnya kepada Rabb-nya sambil bersujud dan ruku, dia ulangi hal tersebut dalam setiap harinya sebanyak lima kali. 

Diharuskan dalam pelaksanaan shalat ini adalah dia harus dalam keadaan suci baik hati, badan, pakaian dan tempat shalatnya, dan hendaklah dilaksanakan oleh seorang muslim dengan berjama’ah –apabila memungkinkan- sambil menghadapkan hatinya kepada Allah dan menghadapkan wajahnya kepada Ka’bah baitullah. Shalat telah disusun dengan sempurna dan paling baik yang dilakukan hamba dalam beribadah kepada Sang Pencipta, ia mencakup pengagungan terhadap-Nya dengan seluruh anggota tubuh, mulai dari ucapan dengan lisan, amal dengan kedua tangan, kedua kaki, kepala dan panca inderanya serta seluruh bagian dari tubuhnya, setiap darinya mengambil bagian masing-masing dari ibadah yang agung ini.

          Panca indera dan anggota tubuh mendapat bagian masing-masing darinya, hati memiliki bagian darinya, karena ia mencakup pujian, pengagungan, tasbih dan takbir, persaksian yang hak, bacaan Al-Qur’an dan berdiri dihadapan Rabb dengan kedudukan seorang hamba yang hina serta tunduk terhadap Rabb yang Maha Pengatur, kemudian merendahkan diri kepada-Nya pada kesempatan tersebut dengan memelas dan bertaqarrub kepada-Nya, kemudian ruku, sujud dan duduk dengan rendah diri, khusu’ dan tunduk akan keagungan-Nya dan hina dihadapan kemulian-Nya, terkadang semua itu dibarengi oleh keluluhan hati, kerendahan jiwa dan kekhusu’an anggota tubuhnya, kemudian shalatnya tersebut ditutup dengan memuji Allah dan bershalawat serta salam terhadap Nabi-Nya Muhammad, kemudian meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akherat.
Ketiga: Zakat*:
          Zakat merupakan rukun ketiga dari rukun-rukun Islam, diwajibkan terhadap muslim kaya untuk mengeluarkan zakat hartanya, yang merupakan bagian kecil sekali darinya, dibayarkan kepada para fakir miskin dan lainnya yang memang diperbolehkan untuk diberikan kepadanya.

          Ia wajib dibayarkan oleh seorang muslim kepada orang yang berhak dengan keikhlasan hati, lalu dia tidak menyebut-nyebut kebaikanya kepada dia yang menerima dan tidak pula menyakitinya dengan mengungkit-ungkit kebaikanya. Zakat wajib dibayar oleh seorang muslim dengan harapan untuk mendapat ridha Allah, dia tidak menginginkan darinya balasan dan tidak pula terima kasih dari para makhluk, akan tetapi dia bayarkan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena riya dan tidak pula sum’ah.

          Mengeluaran zakat merupakan sarana yang dapat mendatangkan keberkahan, membersihkan jiwa orang-orang fakir, miskin dan mereka yang membutuhkan,  mencukupkan mereka dari kehinaan meminta, dan juga sebagai rahmat bagi mereka dari kebinasaan dan kesulitan apabila ditinggalkan oleh orang-orang kaya. Mengeluaran zakat adalah bentuk sifat kedermawanan, kemurahan, I’tsar (mementingkan keperluan orang lain), pengorbanan dan kasih sayang, serta terbebas dari sifat-sifat orang kikir, pelit dan hina. Padanya nampak kebersamaan dan saling sepenanggungan diantara kaum muslimin, yang kaya mengasihi yang miskin, sehingga tidak tinggal dalam masyarakat –apabila syiar ini dipraktekkan- seorang fakir yang kesulitan, orang yang berhutang ketakutan dan tidak pula seorang musafir yang terputus perjalanannya.
Keempat: Puasa*:
          Puasa pada bulan Ramadhan mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman dan hubungan badan selama berpuasa sebagai ibadah kepada Allah Ta’ala, dia harus menahan diri dari syahwatnya. Allah telah memberikan keringanan puasa terhadap orang yang sakit, musafir (dalam perjalanan), wanita hamil, menyusui, haidh dan nifas, setiap darinya memiliki hukum masing-masing yang sesuai dengannya.

          Pada bulan tersebut seorang muslim akan menahan diri dari syahwatnya, sehingga dengan ibadah ini dia keluarkan dirinya dari kemiripan dengan binatang menjadi mirip dengan Malaikat yang mendekatkan diri, bahkan seorang yang berpuasa sampai digambarkan dengan gambaran seorang yang tidak memiliki kebutuhan terhadap dunia, kecuali apa yang dapat menghasilkan keridhaan Allah.

          Puasa dapat menghidupkan hati, zuhud terhadap dunia, mengharap apa yang ada disisi Allah, dan orang kaya menjadi ingat akan keadaan orang-orang miskin, sehingga hati mereka tersentuh karenanya, semakin merasakan besarnya kenikmatan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, sehingga semakin tambah rasa syukurnya.

          Puasa sebagai penyuci jiwa, mengarahkannya untuk bertakwa kepada Allah, serta menjadikan seseorang dan masyarakat merasakan adanya pengawasan Allah terhadapnya dalam keadaannya yang senang dan susah serta tersembunyi dan terang-terangan, karena suatu masyarakat akan hidup selama sebulan penuh dengan menjaga ibadah ini, merasa diawasi oleh Rabb-nya yang semua itu dapat mendorong untuk takut kepada Allah, beriman kepada-Nya dan hari akhir, serta meyakini bahwa Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak, dan bahwasanya seseorang pada suatu hari pasti akan berdiri dihadapan Penciptanya, yang mana Dia akan bertanya tentang seluruh amalannya, baik itu yang kecil ataupun besar.
Kelima: Haji*:
  
          Menuju Baitullahil Haram di Makkah Al-Mukarramah, diwajibkan atas muslim yang telah baligh, berakal, memiliki kemampuan, memiliki fasilitas transportasi atau ongkosnya untuk menuju Baitullahil Haram, dan mempunyai biaya yang mencukupinya untuk perjalanan dari rumah hingga kembali lagi, hendaklah biaya itu merupakan sisa uang setelah meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalnya, dia juga harus memiliki rasa aman selama dalam perjalanan, juga aman bagi yang ditinggalkan selama dia tidak ada. Haji hanya diwajibkan satu kali dalam seumur hidup, yaitu bagi dia yang memiliki kemampuan untuk sampai kepadanya.

          Diharuskan bagi dia yang akan pergi haji untuk bertaubat kepada Allah, untuk membersihkan dirinya dari kekotoran dosa. Apabila telah sampai di Makkah dan tempat-tempat suci dia harus melaksanakan syiar-syiar haji sebagai bentuk ibadah dan pengagungan terhadap Allah, dan dalam keadaan mengetahui bahwa Ka’bah serta syiar-syiar yang ada tidak disembah selain daripada Allah, dan bahwasanya semua itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula mudharat. Jika seandainya Allah tidak memerintahkan untuk pergi haji kepadanya, maka tidak sah bagi seorang muslim untuk pergi kepadanya.

          Dalam pelaksanaannya, seorang yang berhaji memakai dua helai kain putih satu sebagai sarung dan yang lain sebagai penutup bagian atas, seluruh kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul pada satu tempat, dengan menggunakan pakaian yang sama, menyembah satu Tuhan, tidak ada perbedaan antara seorang kepala dengan bawahannya, kaya atau miskin, putih atau hitam, seluruhnya adalah makhluk dan hamba Allah, tidak ada perbedaan antara seorang muslim dengan muslim lainnya kecuali dengan takwa dan amal shalih.

          Akan nampak dari kaum muslimin suasana saling tolong menolong dan saling mengenal, mereka akan mengingat hari dimana Allah bangkitkan mereka, lalu dikumpulkan pada satu tempat untuk di hisab, sehingga mereka bersiap-siap dengan keta’atan, demi untuk mempersiapkan apa yang akan terjadi setelah mati.
Ibadah dalam Islam*:
          Makna dan hakekat Ibadah adalah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah, karena Allah adalah Pencipta dan anda yang diciptakan, anda adalah hamba dan Allah yang anda sembah, jika demikian keadaannya, maka seseorang harus berjalan dalam kehidupan ini pada jalan Allah yang lurus dengan mengikuti syari’at-Nya, mengikuti jejak Rasul-Nya. Allah telah mensyari’atkan bagi hamba-hamba-Nya syari’at yang agung, seperti perealisasian Tauhid kepada Allah Rabb penguasa semesta alam, shalat, zakat, puasa dan haji.

          Akan tetapi bukan hanya ini saja ibadah dalam Islam, karena ibadah dalam Islam  sangat umum, yaitu mencakup Seluruh perbuatan dan perkataan yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya, baik yang tampak ataupun tersembunyi. Jadi setiap amal atau perkataan yang anda kerjakan atau katakan dari apa yang Allah cintai dan ridhoi, maka ia adalah ibadah, bahkan setiap kebiasaan baik yang anda lakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah adalah ibadah, pergaulan baik anda terhadap ayah, keluarga, istri, anak dan tetangga, apabila dimaksudkan dengannya karena Allah, maka ia merupakan ibadah, perilaku baik anda di rumah, di pasar dan di kantor, apabila dimaksudkan karena Allah, maka ia ibadah, pelaksanaan amanah dan berpegang dengan kejujuran, keadilan, menghilangkan gangguan, membantu yang lemah, mencari rejeki yang halal, memberi nafkah kepada keluarga dan anak, memberi kelapangan terhadap orang miskin, menjenguk orang sakit, memberi makan orang lapar, serta menolong orang yang terdzolimi, seluruhnya adalah ibadah jika ia tujukan untuk Allah. Maka setiap amal yang anda kerjakan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat ataupun Negara yang dimaksudkan karena Allah, ia adalah ibadah.

Bahkan sampai penyaluran syahwat diri anda pada batasan yang Allah perbolehkan, akan menjadi ibadah apabila dibarengi oleh niat yang shalih, bersabda Rasulullah :

” في بضع أحدكم صدقةقالوا: يا رسول الله! أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال:أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر

Pada setiap air mani kalian terdapat sedekah” para sahabat bertanya: wahai Rasulullah! Apakah tatkala salah seorang dari kita menyalurkan syahwatnya akan mendapatkan ganjaran? Bersabda Rasul: “Bagaimana pendapat kalian kalau hal tersebut disalurkan pada yang haram, bukankah dia akan medapatkan dosa? Begitu pula kalau dia salurkan pada yang halal, dia akan mendapatkan ganjaran“.
          
Serta sabda Beliau SAW:

على كل مسلم صدقةقيل: أرأيت إن لم يجد؟ قال: “يعتمل بيديه فينفع نفسه ويتصدققال: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: “يعين ذا الحاجة الملهوفقال: قيل له: أرأيت إن لم يستطع؟ قال: يأمر بالمعروف أو الخيرقال: أرأيت إن لم يفعل؟ قال: “يمسك عن الشر فإنها صدقة


Atas setiap muslim harus bersedekah” dikatakan kepada beliau: bagaimana pendapat anda jika tidak mampu? Dijawabnya: “dia bekerja dengan kedua tangannya, lalu memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah” ditanyakan: bagaimana kalau seandainya dia tidak mampu? Dijawabnya: “Memberi pertolongan kepada orang yang sangat membutuhkan” dikatakan: bagaimana jika tidak bisa? Dijawabnya: “Memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf atau kebaikan” dikatakan: bagaimana kalau seandainya dia tidak melakukannya? Dijawabnya: “Menahan diri dari kejelekan, maka sesungguhnya itu merupakan sedekah“.


والله أعلمُ بالـصـواب



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *