[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 16 – Pondasi dan Landasan ISLAM 15

Arti dari Kalimat Islam
          Apabila anda merujuk kepada kamus-kamus bahasa, akan anda ketahui bahwa arti kalimat Islam adalah: “Tunduk, merendah, patuh, berserah diri dan mematuhi perintah dia yang memerintah dan melarang dengan tidak menentang”. Allah telah memberi nama agama yang hak ini dengan Islam, karena ia merupakan keta’atan kepada Allah, tunduk terhadap perintah-Nya tanpa menentang, ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, mempercayai kabar-Nya dan beriman kepada-Nya, sehingga nama Islam telah menjadi ciri bagi agama yang datang dengannya Muhammad
Mengenal Islam* :
          Kenapa agama ini dinamakan Islam? Sesungguhnya apa yang ada di bumi berupa agama yang berbeda-beda telah diberi nama dengan nama-namanya, baik itu disandarkan kepada nama seseorang yang khusus, atau kepada umat tertentu, kalimat Nasrani diambil namanya dari “Nashara”. Budha dinamakan menurut nama pendirinya “Budha”. Dan  Zaradisytiyyah dikenal dengan nama ini karena pendiri dan pembawa benderanya adalah orang “Zaradisyti”, begitu pula Yahudi muncul diantara sebuah kabilah yang dikenal dengan nama “Yahuza” sehingga ia dinamakan Yahudi, dan begitulah seterusnya. 

Kecuali Islam, karena sesungguhnya ia tidak dinisbatkan kepada orang tertentu dan tidak pula kepada umat tertentu, akan tetapi namanya menunjukkan kepada suatu sifat khusus yang mengandung arti kalimat Islam, nampak dari nama ini bahwa ia tidak mengandung keberadaan agama ini dan pendirinya adalah seorang manusia, dan tidak pula khusus untuk umat tertentu tanpa selainnya, akan tetapi tujuannya adalah agar seluruh penduduk bumi menghiasi dirinya dengan sifat Islam, sehingga siapapun yang bersifat dengan sifat ini, baik orang terdahulu atau yang hidup sekarang maka dia dikatakan seorang muslim, dan akan dikatakan muslim pula barang siapa yang bersifat dengannya pada masa yang akan datang.
 Hakekat Islam
          Sebagaimana yang telah diketahui bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini, tunduk terhadap suatu kaidah tertentu dan sunnah yang tetap, sehingga matahari, bulan, bintang-bintang dan bumi seluruhnya berjalan dibawah suatu kaidah yang tetap, ia tidak  akan menyimpang darinya atau membangkang terhadapnya, walau hanya sebatas satu helai rambut. Bahkan sampai manusia sendiripun kalau mau memperhatikan keadaannya niscaya akan jelas baginya kalau dia tunduk terhadap sunnah-sunnah Allah sepenuhnya, sehingga dia tidak bernafas serta tidak merasakan akan kebutuhannya terhadap air, gizi, cahaya dan panas kecuali sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah yang mengatur kehidupannya, begitu pula seluruh anggota tubuhnya tunduk kepada ketentuan ini, pekerjaan apapun yang dilakukan oleh anggota tubuh, sesungguhnya ia tidak bergerak kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah atasnya.

          Ketetapan ini, yang padanya berserah diri serta tidak akan terlepas dari keta’atan terhadapnya sesuatupun di alam ini, mulai dari bintang terbesar yang ada di langit, sampai yang lebih kecil dari butiran pasir di bumi, adalah bagian dari pengaturan Allah SWT Raja Yang Maha Mulia lagi Maha Pengatur. Apabila segala sesuatu apa yang ada di langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya tunduk terhadap ketentuan ini, maka sesungguhnya seluruh alam ini telah patuh terhadap Raja Maha Pengatur yang meletakannya dan mengikuti perintah-Nya. Maka jelaslah dari sudut pandang ini bahwa Islam adalah agama bagi alam seluruhnya, karena Islam memiliki makna: tunduk dan menjalankan perintah Sang Yang Memerintah dan menjauhi larangannya dengan tanpa reserve, sebagaimana yang telah anda ketahui sebelumnya. Matahari, bulan dan bumi berserah diri, udara, air, cahaya, kegelapan dan panas berserah diri, pohon, batu dan binatang seluruhnya berserah diri, bahkan sampai manusia yang tidak mengenal Penciptanya, menentang keberadaan-Nya dan mengingkari ayat-ayat-Nya, atau yang menyembah selain-Nya dan menyekutukan Dia dengan selain-Nya, diapun tetap berserah diri sesuai fitrahnya.
          Apabila anda telah memahami ini, maka marilah kita melihat kepada urusan umat manusia, niscaya anda akan mendapati bahwa manusia dipertentangkan oleh dua perkara:
Pertama: Fitrah yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya berupa berserah diri kepada Allah, mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, mencintai apa yang Allah cintai berupa kebenaran, kebaikan dan kejujuran, membenci apa yang Allah benci berupa kebatilan, kejelekan, amal buruk dan kezoliman, serta dorongan-dorongan fitrah yang mengikutinya yang berupa kecintaan terhadap harta, keluarga dan anak, keinginan untuk makan, minum dan nikah, begitu pula apa yang dituntut darinya yang berupa bekerjanya anggota tubuh sesuai dengan tugas-tugas yang semestimya.

Kedua: Kehendak manusia serta pilihannya. Allah SWT telah mengutus kepadanya para rasul dan menurunkan kitab-kitab agar dia dapat membedakan antara yang hak dan batil, petunjuk dan kesesatan, serta kebaikan dan kejelekan, juga menganugrahkan kepadanya akal dan pemahaman agar dia berada dalam kejelasan tatkala memilih, jika menghendaki dia akan menempuh jalan kebaikan sehingga menggiringnya kepada kebenaran dan petunjuk, dan jika menghendaki dia akan menempuh jalan kejelekan sehingga menggiringnya kepada keburukan dan kerusakan.

          Apabila anda memperhatikan keadaan manusia menurut bagian pertama, maka anda akan mendapatinya bahwa dia diciptakan untuk berserah diri, memiliki fitrah untuk berpegang dengannya dengan tanpa berpaling darinya, permasalahannya adalah seperti permasalahan lainnya dari para makhluk.

          Dan apabila Anda memperhatikannya menurut bagian kedua, niscya akan didapati bahwa ia memiliki hak untuk memilih, ia akan memilih sesuai dengan kehendaknya, baik itu untuk menjadi seorang muslim ataupun seorang kafir:

” إما شاكرًا وإمّا كفورًا

Ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir“.
Oleh karena itu anda akan mendapati manusia terbagi menjadi dua:
          Manusia yang mengenal penciptanya, beriman kepada-Nya sebagai Rabb, Raja, Tuhan yang hanya dia sembah, dan mengikuti syari’at-Nya dalam kehidupan yang didalamnya dia memiliki pilihan (antara taat atau membangkang). Sebagaimana juga dia memiliki fitrah untuk berserah diri terhadap Rabb-nya dengan tanpa menentang, dan menurut terhadap ketentuan-Nya, maka inilah dia muslim sempurna yang telah lengkap keislamannya, dan ilmunyapun telah menjadi benar, karena dia telah mengenal Allah sebagai pencipta dan pengaturnya yang  telah mengutus para rasul kepadanya dan memberinya kekuatan ilmu dan kekuatan belajar, akalnya telah menjadi benar dan pendapatnya menjadi tepat, karena dia telah mempergunakan akalnya, kemudian memutuskan untuk tidak menyembah kecuali Allah yang telah memuliakannya dengan karunia memahami dan berpendapat dalam berbagai urusan, lisannya telah menjadi benar dan berbicara dengan hak, karena sekarang dia tidak berikrar kecuali ikrar pengakuan akan Rabb yang satu, Dia-lah Allah Ta’ala yang telah memberinya nikmat kekuatan dalam berbicara.. seolah-olah tidak ada yang tersisa dari kehidupannya sekarang kecuali kejujuran, karena dia tunduk terhadap syari’at Allah  dalam urusan-urusan yang dia memiliki pilihan (untuk tidak tunduk), dan ikatan ta’aruf serta keakraban antara dia dengan makhluk-makhluk selainya semakin bertambah luas, karena dia tidaklah menyembah kecuali kepada Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, sebagaimana makhluk-makhluk yang lain juga tunduk kepada ketetapanya. Dan mereka sesungguhnya Allah tundukan semata-mata untuk kamu wahai manusia.


Hakekat Kafir
          Disamping itu ada manusia lain, lahir dalam keadaan berserah diri dan hidup selamanya dalam keadaan berserah diri, tanpa merasakan keberserahdirinya tersebut atau tidak memahaminya, tidak mengenal Rabb-nya, tidak beriman terhadap syari’at-Nya, tidak mengikuti rasul-Nya, dan tidak pula mempergunakan ilmu dan akal yang telah Allah berikan kepadanya untuk mengenal Dzat yang menciptakanya, dan menerawangkan pendengaran serta penglihatannya, sehingga dia mengingkari keberadaan-Nya, menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Nya, menolak untuk tunduk kepada syari’at Allah dalam urusan-urusan kehidupan yang ia diberi kemampuan untuk bertindak dan memilih, atau bahkan menyekutukan-Nya dengan yang lain, diapun menolak untuk beriman dengan ayat-ayat-Nya yang menunjukkan kepada ke-esaan-Nya, dan inilah dia yang dikatakan orang kafir. 

Karena arti dari kalimat kafir adalah menghalangi, menutupi dan membelakangi, dikatakan: dia telah mengkufuri baju besi dengan bajunya ketika dia menutupi dengannya dan memakaikan baju diatasnya. Dikatakan terhadap orang seperti ini “kafir” karena dia telah menghalangi fitrahnya dan menutupinya dengan tutup dari kebodohan dan kedunguan. Padahal telah diketahui bahwasanya dia tidaklah dilahirkan kecuali dalam fitrah terhadap Islam, dan tidak pula anggota tubuhnya bekerja kecuali sesuai dengan fitrah Islam. Dan tidak berjalan dunia yang ada disekitarnya beserta isinya kecuali atas sunnah keberserah dirian, akan tetapi dia tutupi dengan hijab kebodohan dan kedunguan, fitrah dunia dan fitrah dirinya terhalang dari pandanganya sendiri, sehingga anda melihatnya tidak menggunakan kekuatannya dalam berfikir dan keilmuan kecuali pada apa-apa yang menyelisihi fitrahnya, dia tidak melihat kecuali apa yang berlawanan dengannya, dan tidak berusaha kecuali untuk apa yang membatalkannya.

          Sekarang anda dapat mengukur dengan diri Anda sendiri kesesatan yang ada pada diri orang kafir begitu nyata dan jauh.

          Dan inilah Islam yang meminta Anda untuk mengikutinya, bukanlah perkara yang sulit, bahkan ia merupakan suatu yang mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah, maka Islam adalah ia yang berjalan padanya seluruh alam ini:

” وله أسلم من في السموات والأرض طوعا وكرها “

Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa“, dan ia adalah agamanya Allah, sebagaimana firman-Nya:

إن الدين عند الله الإسلام

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam“, dan ia adalah  menghadapkan wajah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

فإن حاجّوك فقل أسلمت وجهي لله ومن اتبعن

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku“, dan nabi SAW telah menjelaskan tentang makna Islam dalam sabdanya:

أن تسلم قلبك لله, وأن تولي وجهك لله, وتؤتي الزكاة المفروضة

Hendaklah kamu menyerahkan hatimu untuk Allah, memalingkan wajahmu kepada Allah dan membayar zakat yang diwajibkan“. Seseorang bertanya kepada rasul SAW: apakah Islam itu? Beliau menjawab: “Yaitu menyerahkan hatimu kepada Allah, dan kaum muslimin selamat dari lidah dan tanganmu“. dia bertanya lagi: apakah yang terbaik dari Islam? Dijawab: “Iman“. Dia bertanya: apakah iman itu? Beliau menjawab: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan kebangkitan setelah mati“, juga sebagaimana sabda rasul SAW:

“لإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله, وأن محمدًا رسول الله, وتقيم الصلاة وتوتي الزكاة, وتصوم        رمضان, وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا                                                       

Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada ilah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan dan berhaji ke baitullah al-haram jika mampu

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Seorang muslim adalah yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya“.

          Agama ini –yaitu Islam- yang tidak diterima agama oleh Allah selain darinya, tidak yang pertama dan tidak pula belakangan, karena seluruh nabi berada di atas agama Islam, Allah berfirman tentang Nuh :

واتلعليهم نبأ نوح إذ قال لقومه يا قوم إن كان كبر عليكم مقامي وتذكيري بآيات الله فعلى الله توكلت ” إلى قوله تعالى : ” وأمرت أن أكون من المسلمين ”                                     

Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal” sampai kepada firman-Nya: “dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)“, berfirman Allah tentang Ibrahim:

” إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين “

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam“, dan firman yang Maha mulia segala urusan-Nya tentang Musa:

” وقال موسى يا قوم إن كنتم آمنتم بالله فعليه توكلوا إن كنتم مسلمين “

Musa berkata: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.“, serta firman Ta’ala dalam kabar tentang al-Masih:

” وإذ أوحيت إلى الحواريين أن آمنوا بي وبرسولي قالوا آمنا واشهد بأننا مسلمون “

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)“.

          Agama ini –Islam- syari’at, aqidah dan hukum-hukumnya bersandar dari wahyu Ilahi –Al-Qur’an dan As-Sunnah- dan akan saya sebutkan gambaran ringkas tentang keduanya.




والله أعلمُ بالـصـواب




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *