[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 14 – Pondasi dan Landasan ISLAM 13

Risalah yang Kekal*
          Beberapa penjelasan yang terdahulu tentang keadaan agama-agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Zardasytiyyah dan penyembah berhala yang bermacam-macam menerangkan keadaan manusia pada abad ke-6 Masehi. Dan apabila agama rusak, maka akan rusak pula situasi politik, sosial dan ekonomi. lalu menyebarlah perang-perang berdarah, dominasi kezaliman, dan manusia hidup dalam kegelapan yang pekat dan bertumpuk, hati menjadi redup disebabkan oleh gelapnya kekufuran dan kebodohan, akhlak tertindas, kehormatan ternodai dan kerusakan tampak terlihat didarat dan lautan. Bahkan kalau seandainya seorang berakal memperhatikan, nicaya dia akan mendapati bahwa manusia –pada waktu tersebut- dalam keadaan sakaratul maut dan hampir punah, kalau saja seandainya Allah tidak menyelamatkannya dengan suatu maslahat agung yang membawa cahaya kenabian serta isyarat petunjuk agar bisa menerangi jalan umat manusia dan menunjukinya kepada jalan terbaik.

          Pada zaman itu Allah SWT memberi izin agar cahaya kenabian yang kekal kembali bersinar dari Makkah al-Mukarramah yang padanya terdapat rumah agung (Ka’bah). Pada saat itu keadaan disana sama dengan keadaaan perkampungan lainnya dari sisi kesyirikan, kebodohan, kezaliman serta penganiayaan, kecuali bahwa ia berbeda dari daerah lainnya dengan kelebihan-kelebihan yang banyak, diantaranya:

1        Bahwasanya ia merupakan daerah bersih yang belum terpengaruhi oleh berbagai jenis falsafah Yunani, Romawi ataupun Hindi, orang-orangnya masih menikmati penjelasan-penjelasan yang murni, akal yang cemerlang serta tabiat yang suci.

2        Bahwasanya ia terletak tepat pada pusat dunia, yang mana tempatnya tepat berada diantara Eropa, Asia dan Afrika, yang menjadikannya sebagai faktor utama bagi tersebarnya risalah dakwah yang kekal itu dengan cepat bisa sampai kepada seluruh penjuru dalam waktu yang singkat.

3        Bahwasanya ia merupakan Negara yang aman, Allah telah menjaganya ketika Abrahah berniat untuk memeranginya, iapun tidak sampai dikuasai oleh embratur (kekuasaan) Parsi dan Romawi. Bahkan ia memiliki keamanan sehingga dapat menjalankan  perdagangannya baik di utara dan selatan. Kesemua hal tersebut menunjang di utusnya nabi yang bijaksana ini, Allah telah menceritakan tentang keadaan penduduknya dengan kenikmatan tersebut dalam firman-Nya:

” أولم نمكّن لهم حرمًا آمنًا يجبى إليه ثمرات كلّ شيء

dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ketempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan)”.

4        Bahwasanya ia merupakan daerah padangpasir yang masih konsisten menjaga  unsur-unsur dan kedermawanan, rukun tetangga sangat menjaga kehormatan, serta kelebihan-kelebihan yang lain  yang ada padanya, sehingga tempat tersebut cocok untuk menerima risalah.

Dari tempat yang agung ini, dan dari kabilah Quraisy yang terkenal akan kefasihan balaghah, serta keagungan akhlaknya, dan yang pernah memiliki kedudukan dan kemuliaan, Allah memilih Nabi-Nya Muhammad untuk menjadi penutup para nabi dan rasul, yang mana beliau dilahirkan pada abad ke enam masehi, sekitar tahun 570 M. Beliau tumbuh dalam keadaan yatim, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih berada dalam perut ibunya, kemudian ditinggal oleh ibu dan kakek dari ayahnya ketika beliau baru berumur enam tahun, akhirnya beliau diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Beliau yang masih belia tumbuh dalam keyatiman, namun demikian tampak darinya tanda-tanda kepandaian, yang mana kebiasaan, akhlak dan perilakunya berbeda dari kebiasaan yang ada pada kaumnya. 

Beliau tidak berdusta dalam perkataan, tidak mengganggu siapapun, juga terkenal dengan kejujuran, terhormat dan amanah, bahkan  kebanyakan orang dari kalangan kaumnya mempercayakan harta-harta berharga mereka dan menitipkannya kepada beliau, karena beliau selalu menjaganya sebagaimana menjaga diri serta harta pribadinya, sehingga mendapat julukan al-amin (yang dapat dipercaya). Beliau adalah seorang pemalu, tidak pernah menampakkan badannya dalam keadaan telanjang kepada siapapun sejak mencapai umur baligh, beliau adalah seorang bersih dan bertaqwa, sehingga cukup menyakitinya apa yang beliau lihat dari perilaku kaumnya yang menyembah berhala, meminum minuman keras dan menumpahkan darah. Beliau bergaul dengan kaumnya sebatas dalam aktifitas yang beliau ridhai, berpisah darinya tatkala mereka dalam keadaan menyimpang dan fasik. Beliau membela anak-anak yatim serta para janda dan memberi makan mereka yang lapar… hingga tatkala mendekati umur empat puluh tahun beliau merasa tidak dapat berbuat apa apa terhadap kerusakan yang ada di sekelilingnya, dan beliau mulai untuk mengkhususkan ibadah kepada Allah, meminta kepada-Nya agar ditunjuki kepada jalan yang benar. 

Tatkala beliau masih dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba turun kepadanya salah seorang malaikat dengan membawa wahyu dari Tuhannya. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan agama ini kepada orang lain, mengajak mereka agar mau menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan-sesembahan, sehingga turunnya wahyu kepada beliau terus berlanjut dengan dibarengi oleh syari’at dan berbagai macam hukum, hari demi hari dan tahun demi tahun, sampai Allah sempurnakan agama ini bagi seluruh manusia, kesempurnaan agama adalah kesempurnaan nikmat Allah SWT kepada manusia. Tatkala tugas beliau telah selesai, maka Allah memanggilnya, ketika wafat beliau berumur enampuluh tiga tahun,  empatpuluh tahun diantaranya sebelum diangkat menjadi nabi dan duapuluh tiga tahun tatkala menjadi nabi dan rasul.

Barang siapa yang memerhatikan keadaan para nabi dan mempelajari sejarah mereka, dia akan mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwasanya tidak ada satu metode yang  digunakan dalam menetapkan kenabian seorang nabi dari nabi-nabi Allah SWT, kecuali metode itu akan lebih dapat menetapkan kenabian Muhammad SAW secara pasti.

 Apabila anda memperhatikan bagaimana turun temurunnya kabar tentang kenabian Musa dan Isa, niscaya akan anda dapati bahwa hal tersebut dinukil dengan jalan mutawatir, dan riwayat  mutawatir yang mengabarkan tentang kenabian Muhammad lebih jelas dan lebih kuat, juga lebih dekat lagi masanya.

Begitu pula kemutawatiran kabar tentang mukjizat dan tanda-tanda kenabian  mereka adalah sama, bahkan hal itu pada Muhammad kuat, karena mukjizat dan tanda-tanda tentang beliau sangat banyak, bahkan yang terbesar adalah Al-Qur’an ini yang masih saja terus dinukil dan diriwayatkan secara mutawatir, baik itu suara bacaannya ataupun tulisannya.

Barang siapa yang membandingkan antara apa yang disampaikan oleh Musa dan Isa dan apa yang disampaikan oleh Muhammad tentang aqidah yang benar, syari’at yang teratur dan ilmu yang bermanfaat, niscaya dia akan mengetahui bahwa seluruhnya bersumber dari satu pusat, yaitu pusat kenabian.
Barang siapa yang membandingkan antara pengikut para nabi dan pengikut Muhammad, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka adalah sebaik-baiknya manusia, bahkan mereka adalah pengikut para nabi yang paling besar pengaruhnya terhadap mereka yang datang setelahnya, karena mereka telah menyebarkan tauhid, menebarkan keadilan dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang lemah dan miskin.
Apabila Anda menginginkan tambahan keterangan yang menunjukkan akan kenabian Beliau, maka akan saya nukilkan dalil-dalil dan tanda-tanda yang didapatkan oleh Ali ibn Robban at-Thabry yang sebelumnya adalah seorang Nasrani kemudian masuk Islam karena ini.

Dalil-dalil tersebut adalah:
1        Bahwa Beliau mengajak untuk beribadah kepada Allah saja dan mengajak untuk meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, yang mana ini sama dengan apa yang diajarkan oleh seluruh nabi.
2        Bahwa Beliau menampakkan tanda-tanda yang jelas, yang tidak didatangkan kecuali oleh para nabi utusan Allah.
3        Bahwa Beliau mengabarkan tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi pada masa yang akan datang, dan itu benar terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.
4        Bahwa Beliau mengabarkan tentang kejadian-kejadian menyeluruh yang menimpa seluruh dunia dengan Negara-negaranya, dan hal tersebut terjadi sebagaimana yang beliau kabarkan.
5        Bahwa kitab yang didatangkan oleh Muhammad -yaitu Al-Qur’an- merupakan salah satu dari tanda-tanda kenabian, karena ia merupakan kitab paling fasih, dan diturunkan Allah kepada seorang ummi yang tidak dapat membaca dan tidak pula menulis, iapun membawa tantangan kepada mereka yang paling fasih untuk mendatangkan apa yang sepertinya atau cukup satu surat yang mirip dengannya, dan juga karena Allah SWT telah menjamin kalau Dia akan menjaganya, termasuk pula menjaga aqidah yang benar, dikandungkan padanya syari’at terlengkap dan ditetapkan dengannya umat terbaik.
6        Bahwa Beliau adalah penutup para nabi, dan jika belum diutus niscaya akan batal kenabian-kenabian para nabi yang memberi kabar gembira tentang akan diutusnya beliau.
7        Bahwa para nabi telah saling mengabarkan tentangnya sejak zaman sangat jauh sebelum munculnya beliau, mereka menjelaskan pengutusannya, daerahnya dan tunduknya para umat dan raja kepada beliau dan pengikutnya, merekapun telah mengabarkan tentang akan tersebarnya agama beliau.
8        Bahwa kemenangan Beliau terhadap kaum-kaum yang memeranginya merupakan suatu tanda kenabian, karena merupakan suatu perkara yang mustahil kalau seseorang mengaku bahwa dia utusan Allah –yaitu berdusta- kemudian dia dipuji oleh Allah dengan kemenangan dan kemapanan, kemenangan terhadap para musuh, tersebarnya dakwah dan juga banyaknya pengikut, karena sesungguhnya hal ini tidak akan terealisasi kecuali melalui tangan seorang nabi yang benar.
9        Apa yang ada pada Beliau berupa ibadah, penjagaan diri, kejujuran, kebaikan sirah, sunnah dan syari’at-syari’atnya, kesemua sifat ini tidak akan berkumpul kecuali pada diri seorang nabi.

Orang yang mendapat hidayah ini berkata setelah dia membawakan bukti-bukti ini: “Ini merupakan sifat-sifat yang cemerlang dan bukti-bukti yang sempurna, barang siapa yang memilikinya maka pasti seorang nabi, dia telah menang dari celaan, benar haknya dan wajib untuk dipercayai, barang siapa yang menolak dan menentangnya maka telah sia-sia usahanya serta merugi dunia dan akhiratnya”.

Pada penutupan alenia ini saya akan membawakan dua persaksian untuk anda: persaksian Raja Roma dahulu kala, yaitu yang satu zaman dengan Muhammad, dan persaksian misionaris Inggris saat ini, yaitu “John Saint”.

Persaksian pertama: Persaksian Hiraklius: Imam Bukhari menyebutkan kabar tentang Abu Sufyan tatkala ia dipanggil oleh Raja Roma dengan riwayatnya: (menceritakan kepada kami Abul Yaman, dia berkata: mengabarkan kepada kami Syu’aib dari az-Zuhri dia berkata: mengabarkan kepadaku Ubaidillah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud bahwa Abdullah ibn Abbas mengabarkannya bahwa Abu Sufyan ibn Harb bercerita kepadanya bahwa Hirakl pernah mengutus kepadanya ketika dia sedang bersama rombongan Quraisy yang mana mereka adalah para pedagang yang sedang berada di Syam, pada waktu Rasulullah sedang dalam masa perjanjian bersama Abu Sofyan dan orang-orang kafir Quraisy, mereka mendatanginya pada saat sedang berada di Iliya, dia mengundang mereka ke majlisnya yang saat itu disekitarnya terdapat para pembesar Roma, kemudian dia mengundang mereka dan mengundang penterjemahnya. 

Dia bertanya: siapakah diantara kalian yang paling dekat nasabnya terhadap orang yang mengaku dirinya nabi tersebut? Menjawab Abu Sofyan: saya yang paling dekat nasabnya. Dia berkata: dekatkan dia dariku dan dekatkan teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya. Kemudian dia berkata kepada penterjemahnya: katakan kepada mereka bahwa aku akan bertanya kepada ini tentang orang ini, jika dia berdusta terhadapku maka  mereka akan mendustakanya, berkata Abu Sofyan: Demi Allah, kalau tidak karena malu bahwa mereka akan mengatakan dusta terhadapku niscaya aku akan berdusta. Kemudian pertanyaan pertama yang dia lontarkan terhadapku adalah: bagaimana tentang nasab dia diantara kalian? Saya jawab: dia adalah seorang yang memiliki nasab (memiliki kedudukan yang baik). Dia bertanya: apakah pernyataan seperti ini pernah dikatakan oleh salah seorang dari kalian sebelumnya? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah salah satu dari orang tuanya ada yang menjadi Raja? 

Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah para pengikutnya orang-orang terpandang ataukah dari golongan yang lemah? Saya jawab: bahkan pengikutnya adalah orang-orang lemah. Dia bertanya: apakah mereka semakin banyak ataukah semakin berkurang? Saya jawab: bahkan semakin bertambah. Dia bertanya: apakah diantara mereka ada yang murtad karena membenci agamanya setelah dia memeluknya? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah kalian menuduhnya sebagai seorang pendusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang? Saya jawab: tidak. Dia bertanya: apakah dia berkhianat? Saya jawab: tidak. Saat itu kami dalam situasi yang tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat itu. Berkata Abu Sofyan: aku tidak memiliki kesempatan untuk menambahkan perkataan selain dari ini. Dia bertanya: apakah kalian memeranginya? Saya jawab: ya. Dia bertanya: bagaimana pertempuran kalian dengannya? Saya jawab: peperangan diantara kami dengannya keras, terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya. Dia bertanya: apa yang dia perintahkan terhadap kalian? Saya jawab: dia berkata sembahlah oleh kalian Allah saja dan jangan menyekutukannya sedikitpun, dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian, dia memerintahkan kami untuk shalat, jujur, menjaga kehormatan dan menyambung silaturahmi. 

Dia berkata kepada penterjemahnya: katakan kepadanya: saya telah bertanya tentang nasabnya kepadamu dan kamu sebutkan bahwa dia adalah seorang yang punya nasab (keturunan bangsawan), demikian pula bahwa seluruh rasul diutus dari keturunan bangsawan kaumnya, dan saya bertanya kepadamu adakah salah seorang diantara kalian yang mengatakan perkataan ini, dan dijawab olehmu tidak, maka saya katakan: kalau seandainya ada seseorang yang telah mengatakan perkataan ini sebelumnya niscaya aku katakan bahwa orang ini mengikuti suatu perkataan yang telah dikatakan sebelumnya, dan saya bertanya kepadamu adakah salah satu dari orang tuanya yang menjadi Raja, lalu kamu jawab tidak, aku katakan: kalau seandainya salah satu nenek moyangnya ada yang menjadi Raja niscaya aku katakan bahwa orang ini menuntut kerajaan ayahnya, dan aku bertanya kepadamu apakah kalian menuduhnya seorang pendusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya, lalu kamu jawab tidak, maka aku ketahui kalau seandainya dia tidak berdusta kepada manusia maka tidak mungkin akan berdusta kepada Allah, dan saya bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya para pembesar ataukah mereka yang lemah diantara mereka, lalu kamu jawab kalau mereka adalah orang-orang yang lemah, dan memang demikian dengan pengikut para rasul, dan saya bertanya kepadamu apakah mereka semakin bertambah ataukah berkurang, lalu kamu jawab bahwa mereka semakin bertambah, dan memang demikianlah keadaan iman sampai ia sempurna, dan saya bertanya kepadamu adakah diantara mereka yang murtad karena membenci agamanya setelah dia memeluknya, lalu kamu jawab tidak, demikianlah keadaan cahaya iman ketika ia telah bercampur dengan hati, dan saya bertanya kepadamu apakah dia khianat, lalu dijawab olehmu tidak, begitulah keadaan para rasul, tidak pernah berkhianat, dan saya bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan terhadap kalian, lalu dijawab olehmu bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, melarang kalian untuk menyembah berhala, memerintahkan shalat, jujur dan menjaga kehormatan jiwa, apabila apa yang kamu ucapkan tersebut benar, maka dia pasti akan menguasai tempat pijakan kedua kakiku ini, dan saya telah mengetahui kalau dia akan diutus, namun tidak menyangka kalau dia dari golongan kalian, jika aku mengetahui bahwa aku bisa sampai kepadanya niscaya aku akan berusaha sekuat tenaga untuk sampai kepadanya, dan jika telah berada disisinya niscaya aku cuci telapak kakinya. 

Setelah itu dia pinta surat Rasulullah yang dibawa oleh Dihyah kepada pembesar kota Basri, lalu diserahkan kepada Hirakl dan dibacanya, ternyata ia berisi: Bissmillahir Rahmanir Rahim, dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Hirakl pembesar Roma: keselamatan atas dia yang yang mengikuti petunjuk, amma ba’du: bahwasanya saya mengajak anda dengan ajakan Islam, peluklah Islam maka anda akan selamat, Allah akan memberimu ganjaran dua kali lipat, sedangkan jika berpaling maka atasmu dosa orang-orang Yuris. “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Persaksian kedua: Persaksian seorang misionaris Inggris abad ini, John Saint: dengan ungkapannya: setelah meneliti secara terperinci tentang pembagian-pembagian Islam dan landasan-landasannya dalam melayani perorangan maupun kelompok, serta keadilannya dalam membangun masyarakat diatas pondasi-pondasi persamaan dan tauhid, menjadikan diriku terdorong kepada Islam dengan segala akal dan jiwaku, dan aku berjanji kepada Allah –dari hari tersebut- untuk menjadi seorang juru dakwah bagi Islam dan sebagai pembawa kabar gembira dengan petunjuknya di setiap belahan dunia.

Ia telah sampai kepada keyakinan ini setelah mempelajari Nasrani dan memperdalaminya, maka dia dapati padanya kalau agama tersebut tidaklah menjawab kebanyakan dari pertanyaan yang tersebar pada kehidupan umat manusia, sehingga dia mulai dirasuki oleh keraguan. Kemudian dia mempelajari komunis dan Budha, namun pada keduanya ia tidak mendapatkan apa yang ia cari. kemudian mempelajari Islam dan mendalaminya sampai dia beriman dengannya dan menjadi juru dakwah yang mengajak kepadanya.



والله أعلمُ بالـصـواب


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *