[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 12 – Pondasi dan Landasan ISLAM 11

Kebutuhan Manusia terhadap Rasul

           Paranabi adalah utusan-utusan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan segala perintah, memberi kabar gembira kepada mereka tentang kenikmatan-kenikmatan yang telah disiapkan apabila mereka menta’ati perintah-perintah-Nya. Para nabi juga memberikan peringatan kepada mereka dari adzab yang kekal apabila mereka melanggar larangan-Nya, juga menceritakan kepada mereka tentang cerita umat-umat terdahulu serta apa yang dari adzab dan siksa yang menimpa mereka di dunia yang disebabkan oleh penyelisihan mereka terhadap perintah Rabb-nya.

          Perintah serta larangan-larangan Allah SWT ini tidak mungkin untuk dapat diketahui oleh akal dengan sendirinya, oleh karena itu Allah menetapkan syari’at dan mewajibkan perintah dan larangan, sebagai bentuk kebaikan bagi umat manusia, pemuliaan terhadap mereka dan penjagaan atas segala maslahatnya, karena manusia terkadang suka menempuh jalan yang mengikuti syahwatnya, sehingga melanggar keharaman dan berbuat dzolim terhadap orang lain dengan merebut hak-hak mereka. 

Diantara hikmah mulia bahwa Allah mengutus kepada mereka pada setiap masa para rasul yang akan mengingatkan mereka tentang perintah-perintah Allah, memperingati mereka agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, membacakan mau’idzoh dan mengingatkan mereka tentang kabar kaum-kaum yang terdahulu, karena jika kabar-kabar yang menakjubkan telah mengetuk telinga, pengetahuan-pengetahuan yang baru telah menggugah pikiran, niscaya akan diresap oleh akal sehinga bertambahlah ilmu padanya dan lurus pemahamannya. Orang yang paling banyak mendengar akan menjadi yang paling banyak pemasukannya, yang paling banyak pemasukan akan menjadi yang paling banyak berfikir, yang paling banyak berfikir akan menjadi yang paling banyak ilmu, dan yang paling banyak ilmunya akan menjadi yang paling banyak pengamalannya. Tidak didapat dari pengutusan rasul itu suatu tandingan dan tidak pula ada pengganti mereka dalam merapihkan kebenaran.

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Risalah (wahyu) merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk memperbaiki hamba bagi kehidupanya di dunia dan akhirat. Sebagaimana bahwasanya tidak ada kebaikan baginya untuk akherat kecuali dengan mengikuti rasul, begitu pula tidak ada kebaikan baginya dalam kehidupan dunia kecuali dengan mengikuti rasul. Manusia akan selalu butuh terhadap syari’at, karena dia berada diantara dua gerakan: gerakan yang mendatangkan manfaat baginya, dan gerakan yang dapat menolak bala darinya. Sedangkan syari’at adalah cahaya yang akan menerangkan apa yang bermanfaat dan apa yang menjadikan malapetaka baginya, dialah cahaya Allah di bumi-Nya, keadilan-Nya di antara hamba serta benteng-Nya yang akan menjadikan aman setiap orang yang memasukinya.”

          Syari’at bukan hanya membedakan antara yang bermanfaat dan mendatangkan madharat dengan perasaan saja, karena yang seperti itu bisa didapat oleh binatang, keledai dan onta dapat membedakan antara gandum dan tanah, bahkan juga dapat membedakan perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan malapetaka bagi pelakunya, baik itu di dunia maupun akherat. Perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dalam kehidupan dan tempat kembalinya seperti iman, tauhid, keadilan, bakti, kebaikan, amanah, penjagaan diri, keberanian, ilmu, sabar, amar ma’ru nahi mungkar, silaturahmi, bakti terhadap kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama tetangga, melaksanakan segala yang menjadi hak baginya, ikhlas dalam beramal karena Allah, bertawakal kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, ridho terhadap takdir-takdir-Nya, berserah diri terhadap hukum-hukum-Nya, membenarkan-Nya dan membenarkan rasul-rasul-Nya dalam seluruh apa yang mereka kabarkan, dan lain sebagainya termasuk seluruh yang dapat mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi seorang hamba untuk dunia dan akheratnya. Dan menyelisihi itu semua dapat mendatangkan kesusahan dan malapetaka bagi dunia dan akheratnya.

          Kalau seandainya tidak ada risalah (wahyu) niscaya akal tidak akan mendapat petunjuk kepada rincian dari segala yang bermanfaat dan yang mendatangkan malapetaka bagi kehidupannya. Diantara kenikmatan Allah terbesar bagi hamba-Nya dan karunia-Nya yang paling mulia adalah diutusnya para rasul kepada mereka, menurunkan kitab dan menunjukkan kepada jalan yang lurus, jika seandainya hal tersebut tidak ada, niscaya mereka akan menjadi seperti binatang ternak, bahkan lebih jahat darinya. 

Barang siapa yang menerima risalah Allah dan beristiqomah padanya, maka dia menjadi makhluk terbaik, dan barang siapa yang menolak dan keluar darinya, maka dia akan menjadi makhluk terburuk, bahkan lebih buruk keadaannya dari anjing, babi dan lebih hina dari segala sesuatu yang hina. Tidak ada kehidupan bagi penghuni bumi kecuali dengan mengikuti risalah yang ada pada mereka. Apabila anda mempelajari tentang jejak para rasul yang ada di muka bumi, niscaya anda akan mendapatkan petunjuk hidayah mereka, nantinya Allah akan menghancurkan alam seluruhnya dan membangkitkan hari kiamat.

          Kebutuhan penduduk bumi terhadap rasul tidak seperti kebutuhan mereka terhadap matahari, bulan, angin dan hujan, tidak pula seperti kebutuhan manusia terhadap kehidupannya, tidak seperti kebutuhan mata terhadap cahayanya, tubuh terhadap makanan dan minuman, bahkan lebih besar dari semua itu dan lebih butuh dari setiap keinginan dan apa yang terbersit dalam pikiran. Karena para rasul adalah perantara yang menghubungkan antara Allah beserta makhluk-Nya dalam perkara perintah dan larangan, mereka adalah duta Allah kepada hamba-hamba-Nya. Penutup mereka, yang paling mulia diantara mereka adalah Muhammad yang Allah utus sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagai hujjah bagi mereka yang menempuh perjalanan dan juga hujjah bagi seluruh makhluk. Allah mewajibkan bagi seluruh hamba untuk menta’ati, mencintai, merendahkan diri, memuliakan dan melaksanakan segala hak-haknya, mengambil janji dan ikatan untuk mempercayai dan mengikutinya bagi seluruh nabi dan rasul. 

Dia memerintahkan mereka untuk membawanya kepada mereka yang mengikutinya dari kalangan kaum mukminin. Dia utus Muhammad dekat dengan hari kiamat sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, sebagai penyeru kepada Allah dan penerang yang bercahaya, dengannya risalah ditutup, dengannya ditunjukan jalan kesesatan, mengajarkan dari kebodohan, dan dengan risalahnya dibukakanlah mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli dan hati-hati yang kaku. Sehingga dengan risalahnya bercahayalah bumi ini setelah kegelapan, bersatu hati manusia setelah bercerai-berai, juga diluruskanlah keyakinan yang menyimpang dijelaskanlah hujjah yang terang, dilapangkan dada dan dihilangkan darinya kesesakan, lalu diangkat namanya dan menjadikan rendah serta kecil dia yang menyelisihinya. 

Beliau diutus setelah sekian lama terputusnya para rasul, terputusnya pelajaran dari kitab-kitab, diutus tatkala firman telah dilencengkan, syari’at telah dirubah-rubah, setiap kaum telah bersandar kepada kedzoliman pendapatnya masing-masing, dan menghukumi atas nama Allah diantara hamba-hamba-Nya dengan makalah-makalah yang rusak dan menurut hawa nafsu. Sehingga Allah curahkan dengannya hidayah diantara para makhluk, menunjuki jalan-jalannya, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengannya bisa dibedakan antara orang yang beruntung dan dia yang merugi. Barang siapa yang mengambil petunjuknya niscaya dia akan mendapatkan hidayah, dan barang siapa yang berpaling dari jalannya maka dia akan sesat dan merugi. Salawat serta salam semoga tercurahkan kepadanya dan juga kepada seluruh nabi dan rasul.

          Kita bisa meringkas tentang kebutuhan manusia terhadap risalah (rasul) sebagaimana berikut ini:
1        Bahwasanya dia adalah seorang manusia, diciptakan dan butuh kepada Rabb, dia haruslah seorang yang mengenal penciptanya, mengetahui apa yang di inginkan-Nya, kenapa dia diciptakan, yang mana hal seperti ini tidak mungkin untuk dapat diketahui oleh manusia biasa, dan tidak ada jalan kepadanya kecuali dari sela-sela pengetahuan para nabi dan rasul serta pengetahuan apa yang mereka datangkan dengannya berupa petunjuk dan cahaya.

2        Bahwasanya manusia terdiri dari jasad dan ruh, gizi untuk jasad adalah apa yang mudah baginya berupa makanan dan minuman, sedangkan gizi bagi ruh adalah apa yang telah ditentukan oleh penciptanya, yaitu agama yang benar dan amal shaleh. Para nabi dan rasul datang dengan membawa agama yang benar dan menunjuki kepada amal shaleh.

3        Bahwasanya secara fitrah manusia akan condong kepada agama, dia memerlukan suatu agama yang harus dipeganginya, dan agama tersebut haruslah agama yang benar. Tidak ada jalan untuk sampai kepada agama yang benar kecuali dari sela-sela keimanan terhadap para nabi dan rasul serta mengimani apa yang mereka bawa.

4        Bahwasanya manusia membutuhkan sesuatu yang dapat menunjukannya kepada jalan yang dapat menyampaikan kepada keridhoan Allah di dunia, dan kepada surga serta kenikmatan-Nya di akherat, sedangkan jalan ini tidak ada yang dapat menunjukinya dan mengarahkan kepadanya kecuali hanyalah para nabi dan rasul.

5        Bahwa manusia pada dasarnya adalah lemah, dikelilingi oleh musuh yang banyak, dari kalangan syetan yang ingin menyesatkannya, dari pendamping jelek yang memperindah kejelekan padanya dan dari jiwa yang condong kepada kejelekan, oleh karena itu ia butuh terhadap apa yang bisa dijadikan sebagai penjaga bagi dirinya dari tipu daya musuhnya, para nabi dan rasul akan memberi petunjuk kepada hal tersebut dan menerangkan dengan sejelas-jelasnya.

6        Secara tabi’at, manusia memiliki sifat kemasyarakatan, perkumpulan dengan sesama makhluk dan mempergauli mereka membutuhkan suatu syari’at agar manusia bisa menengahi dan bersifat adil –karena kalau tidak, kehidupannya akan sama dengan kehidupan di hutan- syari’at ini menjaga hak setiap individu yang berhak, tanpa melebihkan atau mengurangi. Dan tidak ada yang bisa datang membawa syari’at yang sempurna kecuali para nabi dan rasul.

7        Bahwasanya butuh kepada pengetahuan tentang segala yang dapat mewujudkan ketenangan dan ketentraman jiwa, menunjukinya kepada penyebab-penyebab kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan inilah yang ditunjuki oleh para nabi dan rasul.

Setelah menjelaskan tentang kebutuhan makhluk terhadap para nabi dan rasul, alangkah baiknya kalau kita menyebutkan berita tentang tempat kembali di akhirat, serta bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukanya.
 Tempat kembali
          Setiap manusia mengetahui dengan seyakin-yakinnya kalau dia pasti akan mati dan tidak mungkin dapat menghindarinya, akan tetapi kemanakah selanjutnya setelah mati? Dan apakah dia akan berbahagia ataukah akan merugi?

          Sesungguhnya kebanyakan dari masyarakat serta umat berkeyakinan bahwa mereka akan dibangkitkan setelah dia mati, dan dihisab atas amal perbuatannya, kalau baik maka ia akan mendapatkan kebaikan dan bila buruk maka ia akan mendapatkan keburukan. Permasalahan ini –yaitu kebangkitan dan hisab- ditetapkan oleh akal yang sehat dan didukung oleh syari’at-syari’at Allah SWT, bangunannya didirikan diatas tiga pondasi:

1        Ketetapan kesempurnaan ilmu Allah.
2        Ketetapan kesempurnaan kekuasaan-Nya
3        Ketetapan kesempurnaan hikmah-Nya subhanahu wata’ala.
Banyak dalil-dalil aqli maupun naqli yang saling menopang dalam menetapkanya, diantaranya:

1        Dalil dari penciptaan langit dan bumi atas kebangkitan orang yang telah mati, Allah berfirman:

” أولم يروا أن الله الذي خلق السموات والأرض ولم يعي بخلقهنّ بقادر على أن يحيي الموتى بلى إنّه على كلّ شيء قدير

dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”, dan firman Ta’ala:

أوليس الذي خلق السموات والأرض بقادر على أن يخلق مثلهم بلى وهو الخلاق العليم

dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”.

2        Berdalil dengan kekuasaan-Nya dalam menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya, untuk menetapkan kekuasaannya dalam mengembalikan kembali makhluk tersebut. Dia yang mampu mengadakan pasti mampu untuk dapat mengembalikan kembali tentunya, firman Allah:

وهو الذي يبدأ الخلق ثم يعيده وهو أهون عليه وله المثل الأعلى

dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi” dan firman-Nya:
dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh? (78) katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”.

3        Penciptaan manusia dengan sesempurna-sempurnanya, dengan bentuk yang saling mendukung diantara anggota tubuhnya, kekuatannya, sifat-sifatnya dan apa yang ada padanya berupa daging, tulang, urat-urat, persendian, juga tempat-tempat masuk, peralatan-peralatan, keinginan-keinginan serta ciptaan-ciptaan yang merupakan dalil paling agung yang menunjukkan akan kemampuan Allah untuk menghidupkan orang yang telah mati.

4        Berdalil dengan dihidupkannya orang yang telah mati dalam kehidupan dunia, menunjukkan akan kemampuan Allah untuk menghidupkan orang yang telah mati di alam akherat. Kabar tentang ini telah termuat dalam kitab-kitab ilahiyyah yang telah Allah turunkan kepada rasul-rasul-Nya. Diantaranya penghidupan yang telah mati atas izin Allah melalui tangan nabi Ibrahim dan Isa Al-Masih, dan banyak lagi lainnya.

5        Berdalil dengan kemampua-Nnya dalam menghimpun dan memisahkan, atas kekuasaan-Nya untuk menghidupkan yang telah mati, diantaranya:

a-  Penciptaan Allah terhadap manusia dari setetes air mani yang asalnya tersebar pada seantero anggota tubuh –oleh karena itu seluruh anggota tubuh ikut merasakan kenikmatannya ketika bersetubuh- lalu Allah kumpulkan air mani tersebut dari sekujur tubuh kemudian dikeluarkan menuju tempatnya dalam rahim dan Allah ciptakan manusia darinya, apabila ia tadinya berpencar lalu dikumpulkan dan diciptakan darinya seseorang, maka apabila ia berpencar kembali setelah dipisah oleh kematian, lalu bagaimana mungkin bagi-Nya untuk tidak dapat mengumpulkannya kembali, firman Allah:
Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan (58) kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?”.

b-  Bahwa bibit tanaman dengan perbedaan bentuknya apabila ia jatuh pada sebidang tanah yang lembab, lalu dipenuhi oleh air dan tanah, maka akal akan mengatakan bahwa ia akan rusak dan binasa, karena salah satu dari keduanya cukup untuk dijadikan alat pemusnah, maka jika dengan keduanya akan lebih utama. Namun ia tidak rusak, bahkan tetap ada terjaga, kemudian apabila kelembabannya bertambah akan terpecah biji tersebut dan keluar darinya tumbuhan. Tidakkah yang demikian itu menunjukkan kepada penciptaan yang sempurna dan hikmah yang luas?. Maka Tuhan yang Maha bijaksana, Maha kuasa ini, bagaimana mungkin bagi-Nya untuk tidak mampu menggabungkan segala sesuatu dan menyusun anggota tubuh? Allah berfirman:
Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? (63) kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya”, perbandingannya adalah ayat berikut ini:

وترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزّت وربت وأنبتت من كلّ زوج بهيج                                                                          

dan kamu melihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah

6        Bahwa Sang Pencipta yang Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana adalah Maha Suci untuk menciptakan sesuatu dengan sia-sia dan membiarkan mereka begitu saja, berfirman Allah:

وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلاً ذلك ظنّ الذين كفروا فويل للّذين كفروا من النار

dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”, bahkan Dia menciptakan ciptaan-Nya dengan hikmah yang sangat besar dan tujuan mulia, Allah berfirman:

وما خلقت الجنّ والإنس إلاّ ليعبدون

dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, sungguh tidak patut bagi Ilah yang Maha Bijaksana ini untuk menyamakan di sisi-Nya antara dia yang menta’ati dan yang bermaksiat kepada-Nya, firman Allah:

أم نجعل الذين آمنوا وعملوا الصالحات كالمفسدين في الأرض أم نجعل المتقين كافجّار

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” oleh karena itu, termasuk dari kesempurnaan hikmah dan keagungan kekuasaan-Nya adalah membangkitkan makhluk pada hari kiamat, agar setiap manusia dapat diganjar sesuai dengan amalnya, orang yang berbuat kebaikan akan mendapatkan pahala dan yang berbuat kejelekan akan mendapat siksa, firman-Nya:

“إليه مرجعكم جميعًا وعد الله حقّا إنه يبدأ الخلق ثمّ يعيده ليجزي الذين آمنوا وعملوا الصالحات بالقسط والذين كفروا لهو شراب من حميم وعذاب أليم

Hanya kepada-Nyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih”.
 Beriman kepada hari akhir –hari kebangkitan dan dikumpulkan- membawa banyak dampak positif terhadap individu maupun masyarakat, di antaranya:
1        Manusia akan selalu menjaga ketaatan kepada Allah SWT dengan mengharap ganjaran untuk hari tersebut, dan menjauhi maksiat kepada-Nya karena takut akan hukuman yang ada pada hari tersebut.

2        Beriman kepada hari akhir. Terdapat hiburan bagi seorang mukmin atas apa yang telah luput darinya dari kenikmatan dunia serta hiasannya, karena apa yang ia harapkan dari kenikmatan di akhirat dan ganjarannya.

3        Dengan beriman kepada hari akhir manusia akan mengetahui ke mana ia akan pergi setelah meninggal dunia, ia akan mengetahui dengan pasti bahwa ia akan menghadapi penghitungan amalannya, apabila baik akan mendapatkan kebaikan dan apabila buruk akan mendapatkan keburukan. Dan bahwasanya dia akan dihadapkan untuk dihisab, akan diberikan kepadanya haknya dari orang yang menzoliminya, dan hak orang lain akan diambil darinya kalau dia telah berbuat zolim atau menganiayanya.

4        Bahwa keimanan terhadap Allah SWT dan hari akhir akan mewujudkan keamanan dan kedamaian bagi manusia –disaat susah mencari keamanan dan peperangan yang tiadahenti- tidaklah yang demikian itu terjadi kecuali karena keimanan terhadap Allah SWT dan hari akhir mengharuskan manusia untuk menghentikan kejelekannya terhadap orang lain, baik itu secara tersembunyi ataupun terang-terangan, bahkan ia akan masuk dan menetap pada dadanya dan menyingkirkan niat buruk –jika masih ada- dan mengalahkannya sebelum dikeluarkan.

5        Keimanan terhadap hari akhir akan menahan seseorang untuk menganiaya orang lain dan merebut hak-haknya. Apabila manusia telah beriman dengan hari akhir, maka mereka akan selamat dari aniaya sebagian lainnya, dan hak-hak merekapun akan terjaga.

6        Beriman kepada hari akhir akan menjadikan seseorang hanya melirik kepada kehidupan dunia sebagai sebuah fase dari fase-fase kehidupan, dan bukan kehidupan seutuhnya.

Pada penutupan alinea ini, alangkah baiknya kalau kita mengambil perkataan “Wainbit” seorang Nashrani Amerika, yang pada mulanya bekerja pada salah satu gereja kemudian memeluk Islam dan mendapatkan hasil dari keimanan terhadap hari akhir. Ia mengatakan: “Sesungguhnya aku sekarang ini mengetahui jawaban-jawaban atas empat pertanyaan yang banyak menyibukkan kehidupanku, yaitu: “Siapakah aku? Apa yang aku inginkan? Kenapa aku datang? Dan kemanakah tempat kembaliku?”.


والله أعلمُ بالـصـواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *