[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 11 – Pondasi dan Landasan ISLAM 10

Hakekat Kenabian

           Sesungguhnya kewajiban terbesar yang harus diketahui oleh manusia dalam kehidupan ini adalah mengenal Rabb-nya yang telah menciptakannya dari ketidak-adaan, menganugerahkan berbagai nikmat kepadanya. Dan bahwasanya tujuan Allah menciptakan seluruh makhluk adalah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya saja.

          Akan tetapi bagaimanakah seseorang bisa mengenal Rabb dengan sebenar-benarnya? Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang menjadi kewajiban baginya dari berbagai hak serta kewajiban dan bagaimana cara menyembah Rabb-nya? Sesungguhnya manusia bisa mendapatkan siapa yang akan membantunya dalam segala kebutuhan dunianya, menunaikan berbagai macam keperluanya yang berupa pengobatan penyakit, pemberian obat, pertolongan dalam mendirikan rumah, dan lain sebagainya… namun dia tidak akan mendapati pada semua manusia orang yang akan memperkenalkannya terhadap Rabb-nya, menerangkan kepadanya cara menyembah Rabb-nya, karena akal tidak mungkin untuk berdiri sendiri dalam mengetahui keinginan Allah darinya, karena akal manusia lebih lemah untuk dapat mengetahui keinginan manusia sepertinya, sebelum dia menceritakan tentang keinginannya. 

Lalu bagaimana dengan keinginan Allah? Karena perkara-perkara seperti ini terbatas hanya kepada para rasul dan nabi yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah, dan orang-orang setelahnya dari para imam yang mendapat petunjuk, pewaris para nabi, yang mana mereka adalah orang-orang yang mengusung manhajnya, mengikuti jejak-jejaknya, dan menyampaikan risalah-risalah para nabi dan rasul tersebut, karena umat manusia tidak mungkin untuk dapat menerima secara langsung dari Allah Ta’ala, mereka tidak akan sanggup untuk menerimanya, Allah berfirman:

” ما كان لبشر أن يكلمه الله إلاّ وحيًا أو من وراء حجاب أو يرسل رسولاً فيوحي بإذنه ما يشاء إنّه عليّ حكيم

dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”, sehingga memerlukan seorang perantara dan utusan yang akan menyampaikan dari Allah syari’at-Nya untuk para hamba. Para utusan dan perantara yang dimaksud adalah para rasul dan nabi, lalu malaikat membawa risalah Allah kepada seorang nabi, kemudian dia sampaikan kepada seluruh manusia, dan para malaikat tidak akan membawa risalah kepada manusia biasa secara langsung, karena alam malaikat berbeda dengan alam manusia, Allah berfirman:

الله يصطفي من الملائكة رسلاً ومن الناس

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia”.

          Hikmah Allah menghendaki bahwa rasul dipilih dari jenis yang sama dengan kaum yang akan diutus kepadanya, agar mereka bisa lebih memahaminya, agar lebih mudah dalam bercengkerama dan berbicara bersama. Kalau seandainya rasul itu diutus dari seorang malaikat, nicaya mereka tidak akan dapat menghadapinya dan tidak pula mengambil ilmu darinya, Allah berfirman:

وقالوا لو لا أنزل عليه ملك ولو أنزلنا ملكًا لقضي الأمر ثمّ لا ينظرون . ولو جعلناه ملكًا لجعلناه رجلاً وللبسنا عليهم مّا يلبسون

“…dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?” dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun) (8) dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu”, firman Allah:

وما أرسلنا قبلك من المرسلين إلاّ إنهم ليأكلون الطعام ويمشون في الأسواق

“…dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar” sampai dengan firman-Nya:

وقال الذين لا يرجون لقاءنا لو لا أنزل علينا الملائكة أو نرى ربّنا لقد استكبروا في أنفسهم وعتوا عتوًّا كبيرًا

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman”.

          Allah berfirman:

وما أرسلنا من قبلك إلاّ رجالاً نوحي إليهم

“…dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka”, dan firman-Nya:

وما أرسلنا من رسول إلاّ بلسان قومه ليبيّن لهم

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya”, seluruh rasul dan nabi memiliki sifat kesempurnaan dalam akalnya, berfitrah lurus, jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah dalam menyampaikan apa yang diberikan kepadanya, terbebas dari seluruh apa menjadikan buruk sejarah umat manusia, tidak memiliki cacat pada badan, menarik perhatian dan tidak menyebabkan menghindarnya orang lain. Allah telah mensucikan diri dan akhlak mereka, sehingga menjadi orang yang paling sempurna akhlaknya, paling mulia jiwanya dan paling dermawan tangannya. Allah menggabungkan pada mereka akhlak-akhlak mulia serta peringai yang baik, sebagaimana juga Dia menggabungkan pada mereka sifat lemah lembut dan berilmu, pemaaf, baik, dermawan, berani dan adil … sehingga mereka paling menonjol dalam permasalahan akhlak diantara kaumnya. Kaum nabi Shaleh berkata kepadanya, sebagaimana yang telah dikabarkan melalui Al-Qur’an:

قالوا يا صالح قد كنت فينا مرجوًّا قبل هذا أتنهانا أن نعبد ما يعبد آباؤنا

Kaum Tsamud berkata:Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang diantara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?”, berkata kaum Syu’aib terhadap nabi Syu’aib :

أصلاتك تأمرك أن نترك ما يعبد آباؤنا أو أن نفعل في أموالنا ما نشاء إنك لأنت الحليم الرشيد

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”, dan nabi Muhammad SAW terkenal dalam kaumnya dengan memiliki julukan “al-amin” (yang sangat dipercaya), sebelum diturunkan risalah kepadanya dan sebelum disifati oleh Rabb-nya dengan:

وإنك لعلى خلق عظيم

“…dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

          Mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah, Dia memilih mereka untuk mengusung risalah dan menyampaikan amanat, Allah berfirman:

الله أعلم حيث يجعل رسالته

Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan”, dan firman-Nya:

إن الله اصطفى آدم ونوحًا وآل إبراهيم وآل عمران على العالمين

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)”.

          Seluruh rasul dan nabi, walaupun Allah telah mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tinggi yang membuat mereka dikenal, namun mereka tetaplah manusia yang dapat tertimpa apa yang menimpa umat manusia umumnya, mereka merasakan lapar, sakit, tidur, makan, menikah dan meninggal dunia, Allah berfirman:

إنك ميت وإنهم ميتون

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”, dan firman-Nya:

ولقد أرسلنا رسلاً من قبلك وجعلنا لهم أزواجًا وذرّيّة

“…dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”, bahkan mungkin juga mereka akan tertindas, dibunuh atau di usir dari kampung halamannya, Allah berfirman:

وإذ يمكر بك الذين كفروا ليثبتوك أو يقتلوك أو يخرجوك ويمكرون ويمكرالله والله خير الماكرين

“…dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”, akan tetapi masa depan, kemenangan dan kedudukan adalah milik mereka di dunia dan akherat:

 “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya”, dan firman-Nya:
Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.


Tanda-tanda Kenabian
          Ketika kenabian merupakan suatu wasilah untuk dapat mengetahui ilmu yang paling mulia, dan dapat melaksanakan amal yang paling mulia dan agung, adalah bagian dari rahmat Allah Dia menjadikan bagi para nabi tersebut tanda-tanda yang dapat mengenalkan mereka, sehingga orang-orang mengetahuinya dari tanda-tanda tersebut – walaupun setiap orang yang membawa suatu dakwah akan nampak dari indikasinya sesuatu yang menjelaskan kebenaranya jika dia benar, atau sesuatu yang mejelaskan kebohonganya jika dia bohong, – tanda-tandanya banyak sekali, yang terpenting darinya:

1        Rasul tersebut mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selainnya, karena inilah yang menunjukkan tujuan diciptakannya makhluk oleh Allah.
2        Dia akan mengajak orang lain untuk beriman kepadanya, mempercayainya dan agar beramal dengan risalahnya, Allah telah memerintahkan nabi-Nya Muhammad SAW untuk berkata:
 “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua”.
3        Dia akan mendapat pertolongan dari Allah melalui berbagai macam tanda kenabianya, diantara tanda-tandanya adalah sesuatu yang datang dari seorang nabi yang tidak dapat dibantah oleh kaumnya atau tidak bisa didatangkan oleh mereka yang semisalnya, diantaranya adalah tanda Musa, ketika merubah tongkatnya menjadi ular, tanda Isa, ketika menyembuhkan penyakit kusta dan lepra atas seizin Allah, dan tanda Muhammad, yaitu Al-Qur’an, walaupun beliau adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca dan tidak menulis. Dan tanda-tanda kenabian yang lainya.
Diantara tanda-tanda kenabian juga adalah: kebenaran yang jelas dan nyata yang didatangkan oleh para nabi dan rasul, dan tidak dapat dilawan dan tidak pula di ingkari oleh para peseterunya, bahkan para peseteru tersebut mengetahui bahwa apa yang datang dari para nabi tersebut adalah kebenaran yang tidak dapat dilawan.
Dan diantara tanda-tanda tersebut adalah apa yang dikhususkan oleh Allah untuk para nabi-Nya berupa kesempurnaan pribadi, keindahan karakter, kemuliaan sifat dan akhlak.
Diantara tanda-tandanya juga adalah pertolongan Allah terhadap mereka dihadapan para peseterunya dan menampakkan apa yang mereka dakwahkan kepadanya.

4        Dakwah mereka memiliki kesamaan pada prinsip (pondasi) yang diserukan oleh para nabi dan rasul.

5        Dia tidak akan mengajak untuk beribadah kepada dirinya, atau memalingkan sebagian dari ibadah kepadanya, dan dia tidak akan mengajak untuk mengagungkan kabilah ataupun kelompoknya, Allah memerintahkan nabinya Muhammad. untuk berkata kepada orang-orang:
                                                                                                                                                          
Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku

6        Hendaknya dia tidak meminta kepada umat manusia salah satu kedudukan dunia sebagai balasan dari dakwahnya, Allah berfirman ketika mengabarkan tentang nabi-nabi-Nya: Nuh, Hud, Shaleh, Luth dan Syu’aib , bahwasanya mereka berkata terhadap kaumnya:

وما أسألكم عليه من أجر إن أجري إلاّ على ربّ العالمين

“…dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”, Muhammad SAW berkata kepada kaumnya:
قل ما أسألكم عليه من أجر وما أنا من المتكلّفين

Katakanlah (hai Muhammad): “aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”.

Para rasul dan nabi tersebut –yang telah saya sebutkan sebagian dari sifat serta tanda-tanda kenabiannya- berjumlah banyak, firman Allah:

ولقد بعثنا في كلّ أمة رسولاً أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت


“…dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”, umat manusia menjadi bahagia dengan keberadaan mereka, sejarah telah merekam kabar tentang mereka, syari’at agamanya tersebarkan secara mutawatir, bahwasanya ialah yang hak dan adil. Dan secara mutawatir juga banyak diriwayatkan bahawa Allah telah menolong mereka dan membinasakan musuh-musuh mereka, seperti angin topan pada kaum Nuh, ditenggelamkannya Fir’aun, azab yang menimpa kaum Luth serta kemenangan Muhammad atas musuh-musuhnya dan tersebarnya agamanya .. barang siapa yang telah mengetahui hal tersebut, maka dia akan mengetahui dengan seyakinnya bahwa mereka datang dengan membawa kebaikan dan hidayah, menunjukkan kepada seluruh makhluk atas apa yang bermanfaat baginya dan menjauhkan dari apa yang mendatangkan kerugian, yang pertama adalah Nuh dan yang terakhir dari mereka adalah Muhammad.



والله أعلمُ بالـصـواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *