[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 10 – Pondasi dan Landasan ISLAM 9

Keadaan Agama-agama yang Pernah Ada

           Agama-agama besar, kitab-kitabnya yang lama serta syari’at-syari’atnya yang usang menjadi buruan bagi orang-orang yang suka berbuat usil dan mempermainkan, ia pun menjadi mainan bagi para perubah (syari’at) dan orang-orang munafik, juga menjadi pemicu terjadinya berbagai peristiwa berdarah serta malapetaka besar. Ia kehilangan ruh dan bentuknya, sehingga kalau seandainya para pemeluknya yang pertama dan juga rasul-rasulnya dibangkitkan, niscaya mereka akan mengingkari dan mengatakan  ketidak tahuannya akan agama tersebut.

          Agama yahudi* –dewasa ini- tak ubahnya hanya sekumpulan simbul dan adat istiadat yang kosong dari ruh dan kehidupan, ia –disamping semua itu- merupakan agama turun temurun yang khusus bagi kaum dan jenis tertentu, ia tidak membawa suatu risalah yang umum bagi seluruh alam ini, atau dakwah bagi seluruh umat, serta tidak pula membawa rahmat bagi segenap umat manusia.
          
Keaslian aqidah agama ini telah ternodai, padahal dulu ia adalah symbol dikenal dihadapan seluruh agama dan umat. Tadinya ia memiliki rahasia kemuliannya, yaitu aqidah tauhid yang telah diwasiatkan oleh Ibrahim kepada putranya Ya’qub . Yahudi telah menukil banyak dari aqidah umat-umat yang rusak, mereka adalah umat yang tinggal berdekatan dengannya ataupun juga mereka yang berada dibawah kekuasaannya. Kebanyakan diambil dari kebiasaan dan taklid para penyembah berhala jahiliyah. Yang seperti ini telah diakui oleh ahli-ahli sejarah yahudi yang jujur, disebutkan dalam “Dairotul ma’arif al-yahudiyah” yang maknanya: “Sesungguhnya kemurkaan dan kemarahan para nabi dalam permasalahan ibadah terhadap berhala menunjukkan bahwa perkara penyembahan berhala dan tuhan-tuhan telah merasuk pada jiwa orang-orang Israel, mereka telah menerima keyakinan-keyakinan syirik dan khurafat. Sesungguhnya Tulmudpun telah bersaksi bahwa berhala memiliki tarikan khusus bagi Yahudi”.

          Tulmud Babil –yang terlalu dilebih-lebihkan oleh yahudi dalam pemuliannya, terkadang lebih mereka utamakan dari taurat, ia tersebar dikalangan yahudi pada abad ke enam, ia dipenuhi oleh contoh-contoh aneh yang dilemahkan akal dan mudah diucapkan, berani menentang Allah, tidak sungguh-sungguh dengan kebenaran serta mempermainkan agama dan akal- menunjukkan kepada apa yang telah dicapai oleh masyarakat yahudi pada abad ini, berupa kemunduran akal dan kerusakan sensitifitas keagamanya.

          Adapun Nasrani*, ia telah dicoba dengan dirubah oleh orang-orang yang melampaui batas, dita’wil oleh mereka yang bodoh dan juga terpengaruhi oleh penyembah berhala Roma yang masuk Kristen, sejak zaman pertamanya, setiap dari mereka menjadi penyusun, didalamnya dipendam ajaran al-masih yang agung, cahaya tauhid dan keikhlasan beribadah kepada Allah menjadi samar di belakang gumpalan awan penyimpangan yang tebal ini.

          Seorang penulis Nasrani berbicara tentang jauhnya gejolak aqidah trinitas dalam masyarakat Kristen, sejak akhir abad keempat miladi, dia berkata: “berkecamuk keyakinan bahwa tuhan yang satu tersusun dari tiga unsur dalam seluruh kehidupan alam masehi dan pemikirannya, sejak akhir  abad keempat, ia tetap menjadi aqidah resmi yang dipegang diseluruh penjuru dunia masehi, dan tidak terungkap rahasia  perkembangan aqidah trinitash kecuali pada pertengahan kedua dari abad sembilan belas miladi.

          Ahli sejarah Nasrani pada abad ini berbicara dalam buku: “Tarikh masehi fi dhow’il ‘ilmil muashir” tentang tampaknya unsur keberhalaan dalam masyarakat Nasrani dalam keadaan berbeda dan beraneka ragam. Nasrani memperindah dalam menyadur ajaran, kebiasaan, hari raya serta pahlawan para penyembah patung dari umat-umat dan agama-agama yang mengakar pada kesyirikan dengan dalih taklid, kagum atau bodoh. Dia berkata: “telah punah penyembah berhala, namun ia tidak dibuang secara keseluruhan, bahkan masih berkecamuk dalam jiwa dan segala sesuatunya masih terus berjalan dengan nama masehi dan dalam kelambunya. Orang-orang yang berlepas diri dari tuhan mereka, pahlawan mereka dan berpisah darinya mengambil salah satu dari mereka yang mati darinya, dan memberinya julukan dengan sifat-sifat ketuhanan, kemudian mereka membuatkan patungnya. 

Demikianlah perpindahan kesyirikan dan penyembahan patung kepada para pahlawan setempat, tidak sampai selesai abad tersebut hingga tersebarlah penyembahan terhadap para pahlawan dan wali, maka terbentuklah aqidah baru, yaitu bahwa para wali mengusung sifat-sifat ketuhanan. Para wali beserta orang-orang yang disucikan menjadi penengah antara Allah dengan manusia. Lalu mereka merubah nama hari-hari perayaan terhadap berhala menjadi nama-nama baru, sehingga pada tahun 400 miladi hari raya matahari lama menjadi hari raya kelahiran al-masih”.

          Adapun Majusi, mereka telah dikenal sejak dahulu kala dengan penyembahan terhadap unsur-unsur alami dan yang paling besar bagi mereka adalah api, yang akhirnya mereka memutuskan untuk menyembahnya, mereka membangun padanya patung dan tempat ibadah, menjadikan rumah-rumah api semakin membanyak di seluruh pelosok negeri. Seluruh aqidah dan keagamaan punah kecuali penyembahan kepada api dan pengagungan terhadap matahari, bagi mereka agama hanyalah gambaran tentang tata cara dan adat yang dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu.

          Pengarang “Iranfi ahdi as-sasaniyyin” yang berwarga Negara Denmark, Arther Kristen Seen, seorang punggawa agama dan pelayannya, dia berkata:

          “pada mulanya merupakan suatu kewajiban bagi para pelayan untuk menyembah matahari sebanyak empat kali setiap harinya, disamping itu ditambah dengan menyembah bulan, api dan air, mereka diperintahkan untuk tidak membiarkan api padam, api dan air jangan sampai bertemu dan tidak membiarkan tembaga berkarat, karena tembaga merupakan suatu yang suci bagi mereka”.

          Mereka menjadi dekat terhadap kekembaran pada setiap masa dan menjadi sebuah syi’ar bagi mereka, mereka beriman kepada dua tuhan yang salah satunya cahaya atau tuhan kebaikan yang dinamakan “Ahormazda” atau “Yazdan”, dan yang kedua adalah kegelapan atau tuhan kejelekan, ia adalah “Aherman”. Pertikaian masih terjadi diantara keduanya dan peperangan tetap berlangsung.
          Sedangkan Budha –agama yang tersebar di India dan Asia tengah- merupakan agama penyembah berhala yang selalu membawa patung kemana saja mereka pergi, membangun pura dan meletakkan patung “budha” ditempat yang tepat dan disinggahi.

          Adapun al-barhamiyyah –agama India-, ia telah dikenal dengan banyaknya sesembahan dan tuhan. Pada abad ke enam miladi berhala telah mencapai puncaknya, pada abad ini tuhan berjumlah 330 juta, segala sesuatu menjadi indah, segala sesuatu terpuji dan segala sesuatu bermanfaat menjadi tuhan yang disembah, sehingga pemahatan patung semakin meningkat dan pehias semakin memperindah.

          Berkata: “C. Y. Wid” seorang India dalam bukunya: “Tarikh Hindi al-Wustha” dia berbicara tentang raja Hers “606 – 648M”, yang bertepatan dengan kemunculan Islam di jazirah arab:
          “agama India dan Budha keduanya sama-sama merupakan agama penyembah berhala, bahkan mungkin agama budha telah melebihi agama India dalam permasalahan keberhalaan, yang mana permulaan agama ini – budha – adalah meniadakan tuhan, akan tetapi secara berangsur menjadikan “budha” sebagai tuhan terbesar, kemudian ditambahkan kepadanya tuhan-tuhan yang lain seperti “Bodhistavas”. Berhala sampai memiliki kedudukan di India, bahkan sampai kalimat “Buddha” menjadi sama dengan kalimat “berhala” atau “patung” dalam beberapa bahasa di timur”.

          Tidak diragukan lagi bahwa berhala semakin merebak diseantero dunia pada masa kini. Seluruh dunia mulai dari Lautan Atalantik sampai Laut Tengah telah dikuasai oleh berhala. Seolah-olah agama masehi, samiyyah dan Buddha telah berlomba-lomba dalam pengagungan serta pengkultusan berhala, seolah-olah bagaikan kuda tergadai yang berlari dalam satu kotak.

          Berkata seorang India lain dalam bukunya yang diberi nama”: Al-hindukiyyah as-saaidah”: (sesungguhnya permasalahan pembuatan tuhan) tidak selesai sampai di sini. Tuhan-tuhan kecil masih terus digabungkan pada masa-masa sejarah yang berbeda kedalam “kumpulan tuhan” dengan jumlah yang cukup besar, bahkan ia sampai terkumpul melebihi ukuran dan tidak terjumlah.

          Inilah keadaan agama yang ada, adapun Negara-negara rapih yang tersusun padanya pemerintahan-pemerintahan besar, tersebar padanya ilmu yang banyak, dan merupakan ladang bagi kemajuan, industri dan adab, merupakan Negara yang agamanya telah dirubah, keorisinalitasan dan kekuatanya sirnah, kehilangan penasehat dan pendidiknya, didalamya merebak kekufuran, sehingga semakin banyak kerusakan, berubah segala takaran, dan manusia jadi menghinakan dirinya sendiri, oleh karena itu semakin banyaklah pelaku bunuh diri, hubungan kekeluargaan terputus, dan hubungan kemasyarakatan jadi semakin hancur, klinik-klinik dokter jiwa menjadi ramai dengan pasien, muncul pasar para pesulap, orang-orang mencoba seluruh perkara yang dikatakan hiburan dan mengikuti seluruh cara yang dikatakan baru… ; semua itu karena keinginan untuk menghilangkan dahaga yang ada pada rohnya dan untuk menghibur diri serta untuk menenangkan hati. Seluruh hiburan, rasa bosan dan berbagai macam pandangan belum berhasil merealisasikan apa yang diinginkan, mereka akan tetap berada dalam kesusahan jiwa dan terus tersiksa rohnya sampai dia mau berhubungan dengan penciptanya, menyembah-Nya sesuai dengan manhaj yang diridhoi-Nya serta diperintahkan oleh rasul-Nya, Allah berfirman dengan menerangkan keadaan orang yang berpaling dari Rabb-nya, dan mengharap petunjuk selain-Nya:

” ومن أعرض عن ذكري فإنّ له معيشة ضنكًا ونحشره يوم القيامة أعمى

“…dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Dan firman-Nya ketika mengabarkan tentang keamanan kaum mukminin serta kebahagiaan mereka dalam kehidupan ini:

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مّهتدون

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”, serta firman-Nya:

وأما الذين سُعدوا ففي الجنة خالدين فيها ما دامت السموات والأرض إلاّ ما شاء ربّك عطاءً غير مجذوذ

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”.

          Agama-agama di atas –selain islam- kalau kita terapkan padanya ciri-ciri agama yang benar, sebagaimana yang telah lalu, niscaya akan kita dapati bahwa unsur-unsur tersebut banyak yang tidak ada, sebagaimana yang terlihat jelas dalam pemaparan singkat tentang agama-agama tersebut.

          Cacat terbesar yang ada dalam agama-agama tersebut adalah tauhid kepada Allah SWT, para pengikutnya telah melakukan kesyirikan kepada-Nya dengan tuhan-tuhan yang lain, sebagaimana juga bahwa agama ini telah dirubah dan tidak mengedepankan syari’at yang tepat bagi setiap zaman dan tempat, yang mana ia bisa menjaga bagi umat manusia agama, kehormatan, keturunan, harta serta darah mereka, iapun tidak menunjukkan dan mengarahkan mereka kepada syari’at Allah yang telah diperintahkan, juga tidak mendatangkan ketenangan serta kebahagiaan terhadap pemeluknya, karena di dalamnya terdapat berbagai macam pertentangan dan kebertolak belakangan.

          Adapun Islam, maka akan datang pada bab-bab berikut keterangan yang menjelaskan bahwasanya ia adalah agama Allah yang hak, yang kekal nan diridhoi oleh-Nya dan diridhoi untuk dipeluk oleh umat manusia.

          Dalam penutupan alenia ini, sangat tepat kalau kita memperkenalkan tentang hakekat dan tanda-tanda kenabian serta kebutuhan manusia. Kamipun akan menjelaskan tentang pondasi-pondasi dakwah para rasul dan hakekat risalah nabi penutup yang tetap ada.


والله أعلمُ بالـصـواب



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *