[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 09 – Pondasi dan Landasan ISLAM 8

Pembagian Agama

 Manusia menurut agamanya terbagi menjadi dua:
          Bagian pertama adalah mereka yang memiliki kitab yang diturunkan Allah SWT, seperti Yahudi, Nasrani dan Islam. Adapun Yahudi dan Nasrani, disebabkan oleh ketidak beramalan mereka terhadap apa yang ada dalam kitabnya, disebabkan karena mereka mengangkat manusia sebagai tuhan selain Allah, dan disebabkan oleh lamanya waktu… kitab yang telah Allah turunkan kepada Nabi-nabi mereka telah hilang, maka para pendeta menulis untuk mereka sebuah kitab kemudian disandarkan kepada Allah, padahal sebenarnya ia bukanlah dari sisi Allah, akan tetapi hanyalah kutipan ahli batil dan hasil penyimpangan orang-orang yang melampaui batas.

          Adapun kitabnya kaum Muslimin [Al-Qur’anul Adzim] adalah kitab Allah yang terakhir diturunkan dan yang paling kuat ikatannya, karena Allah telah berjanji untuk menjaganya, Dia tidak membebankan permasalahan ini terhadap manusia, firman-Nya:

” إنّا نحن نزّلنا الذكر وإنّا له لحافظون
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar 

memeliharanya”, sehingga ia akan tetap terjaga di dalam dada serta lembaran-lembaran, karena ia merupakan kitab terakhir yang Allah kandungkan padanya petunjuk bagi manusia, menjadikannya hujjah bagi mereka sampai hari kiamat, Dia tentukan kalau ia akan kekal, dan menyiapkan pada setiap zaman orang-orang yang akan selalu menjaga batasan-batasan serta huruf-hurufnya, yang mana mereka akan beramal dengan syari’atnya serta beriman kepadanya. Akan ada tambahan rincian 
tentang kitab yang agung ini pada alinea-alinea berikutnya.
         
 Bagian lainnya adalah agama yang tidak memiliki kitab yang Allah turunkan, walaupun mereka memiliki kitab yang diwariskan secara turun temurun dan disandarkan terhadap pendiri agama mereka, seperti Hindu, Majusi, Budha, Konghucu serta bangsa Arab sebelum diutusnya nabi Muhammad.

          Tidak ada satu umatpun kecuali ia akan memiliki ilmu dan amalan yang sesuai dengan apa yang mendatangkan maslahat bagi dunianya. Ini termasuk dari hidayah umum yang Allah anugerahkan kepada setiap manusia, bahkan juga setiap hewan, sebagaimana Dia memberi petunjuk kepada binatang untuk mencari makanan dan minuman yang bermanfaat baginya serta menghindari dari apa yang merugikanya. Allah telah menciptakan padanya rasa cinta kepada sesuatu dan rasa benci kepada sesuatu, firman Allah:
 “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (1) yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) (2) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”, berkata Musa as terhadap Fir’aun:

ربّنا الذي أعطى كلّ شيء خلقه ثمّ هدى

Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”, al-kholil Ibrahim  berkata:

الذي خلقني فهو يهدين

(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku”, sebagaimana yang telah diketahui oleh setiap yang memiliki akal –ia memiliki pandangan dan pemikiran terendah- bahwa para pemeluk agama lebih sempurna dalam permasalahan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh, jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memeluk sebuah agama. Tidak ada kebaikan apapun yang terdapat pada para pemeluk agama selain islam, kecuali hal tersebut akan di dapat pada kaum muslimin apa yang lebih sempurna darinya. pada para pemeluk agama akan didapat apa yang tidak terdapat pada selainnya. Semua ini karena ilmu dan amal terbagi menjadi dua bagian:

Pertama: Ilmu yang didapat melalui akal, seperti ilmu hisab, kedokteran dan karya tangan, yang seperti ini bisa didapat pada para pemeluk agama ataupun bukan pemeluk agama, bahkan para pemeluk agama lebih sempurna penguasaanya. Adapun apa yang tidak diketahui jika hanya dengan mengutamakan akal, seperti ilmu ketuhanan dan ilmu yang berhubungan dengan agama, maka ini khusus hanya bagi para pemeluk agama saja, walaupun darinya ada yang memungkinkan untuk dikemukakan dengan dalil aqli. Pararasul memberikan petunjuknya kepada seluruh makhluk yang berhubungan dengan dalil aqlinya, sehingga ia dinamakan aqliah syar’iyyah.

Kedua: apa yang tidak diketahui kecuali dengan berita dari para rasul –ini tidak ada kemungkinan untuk didapat melalui jalan akal- seperti berita tentang Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, serta apa yang ada di alam akherat berupa kenikmatan bagi yang menta’ati-Nya dan adzab bagi yang bermaksiat kepada-Nya, juga keterangan tentang syari’at Allah, berita tentang para nabi terdahulu bersama umat-umatnya dan lain sebagainya.


والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *