[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 08 – Pondasi dan Landasan ISLAM 7

Ciri-ciri Agama yang Hak

           Setiap pemeluk suatu kelompok akan memiliki keyakinan bahwa kelompoknyalah yang hak, dan setiap pengikut suatu agama akan meyakini bahwa agama merekalah agama yang paling tepat dan memiliki manhaj yang terlurus. Ketika anda bertanya kepada pengikut agama-agama yang menyimpang atau para pengikut agama-agama yang dibuat oleh manusia dengan berdasarkan pada dalil menurut keyakinan sendiri, lalu mereka berhujjah bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka menjalankan satu aliran, sedangkan mereka hanya mengikutinya saja, kemudian mereka menyebutkan hikayat-hikayat serta kabar-kabar yang tidak shohih sanadnya, dan matan yang tidak selamat dari cacat serta celaan, mereka berpegang pada buku-buku warisan yang tidak diketahui siapa yang mengatakannya dan tidak pula siapa yang menulisnya, tidak pula diketahui pada mulanya ditulis dengan bahasa apa, dan dinegara mana ditemukan, ia hanyalah celotehan-celotehan yang dikumpulkan lalu diagungkan dan diwariskan pada generasi-generasi berikutnya tanpa diteliti secara ilmiyah untuk menyelamatkan sanad dan memastikan matannya.

          Buku-buku yang tidak diketahui sumbernya ini, hikayat-hikayat serta taklid buta tidak pantas untuk dijadikan hujjah dalam permasalahan agama dan aqidah, apakah setiap agama yang menyimpang dan buatan manusia ini benar ataukah batil?

          Mustahil kalau semuanya berada diatas kebenaran, karena kebenaran itu hanya satu dan tidak terbagi-bagi, dan mustahil pula kalau seluruh agama yang menyimpang dan buatan manusia ini datang dari sisi Allah dan benar, jika banyak –sedangkan yang hak hanya satu- maka manakah yang hak? Oleh karena itu harus ada garisan-garisan yang kita ketahui darinya antara agama yang hak dan batil, apabila kita mendapatkan garian-garisan ini berada pada suatu agama maka kita akan ketahui bahwa itulah agama yang hak, dan apabila tidak ada garisan-garisan ini atau salah satunya pada sebuah agama, maka kita akan mengetahui bahwa agama tersebut adalah agama yang batil.
Ciri-ciri yang membedakan antara agama yang hak dan batil adalah:
Pertama: Agama tersebut dari sisi Allah SWT. Diturunkan melalui salah seorang malaikat-Nya kepada salah seorang rasul-Nya untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya, karena agama yang hak adalah agama Allah, Allah subhanah Dialah yang menentukan agama dan menghisab seluruh makhluk pada hari kiamat atas agama yang Dia turunkan kepada mereka, firman Allah:

” إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داووود زبورًا

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud”, dan firman-Nya:

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلاّ نوحي إليه أنه لا إله إلاّ أنا فاعبدون

“…dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”, dibangun atas itu semua, maka agama apapun yang dibawa oleh seseorang dan dinisbatkan kepada dirinya, bukan kepada Allah maka itu adalah agama yang batil, tanpa alasan apapun.
Kedua: Hendaklah ia mengajak untuk meng-esakan Allah dalam ibadah, mengharamkan syirik dan mengharamkan segala perantara yang mengarah kepadanya, karena dakwah kepada tauhid merupakan pondasi dakwahnya seluruh Nabi dan Rasul, setiap Nabi berkata terhadap kaumnya:

اعبدوا الله ما لكم من إله غيره

Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”, berdasarkan ini maka agama apapun yang mencakup kesyirikan dan mengambil sekutu bersama Allah baik berupa Nabi, Malaikat ataupun wali adalah agama yang batil, walaupun para berafiliasi kepada salah seorang Nabi.
Ketiga: Hendaklah ia sesuai dengan pondasi yang didakwahkan oleh para Rasul yaitu beribadah hanya kepada Allah saja, berdakwah kepada jalan-Nya, mengharamkan syirik, kedurhakaan terhadap kedua orang tua, membunuh jiwa tanpa haknya, serta mengharamkan kejelekan-kejelekan yang tampak dan tersembunyi, Allah berfirman:

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلاّ نوحي إليه أنه لا إله إلاّ أنا فاعبدون

dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”, firman-Nya:

قل تعالوا أتل ما حرّم ربّكم عليكم ألاّ تشركوا به شيئًا وبالوالدين إحسانًا ولا تقتلوا أولادكم من إملاق نحن نرزقكم وإياهم ولا تقربوا الفواحش ما ظهر منها وما بطن ولا تقتلوا النفس التي حرّم الله إلاّ بالحق ذلكم وصّاكم به لعلكم تعقلون

Katakanlah: “marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)” dan firman-Nya:

واسأل من أرسلنا من قبلك من رسلنا أجعلنا من دون الرحمن آلهة يعبدون

dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”.
Keempat: Hendaklah ia tidak saling bertentangan dan berlawanan antara sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga ia tidak memerintahkan suatu perkara kemudian membatalkannya dengan perintah yang lain, tidak mengharamkan sesuatu kemudian menghalalkan hal yang serupa tanpa alasan, dan tidak pula mengharamkan suatu perkara ataupun membolehkannya bagi satu kelompok kemudian mengharamkannya bagi kelompok yang lain, Allah berfirman:

أفلا يتدبّرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافًا كثيرًا

maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.
Kelima: Hendaklah syariat agama tersebut mencakup perkara-perkara yang bisa menjaga bagi manusia agama, kehormatan, harta, jiwa serta keturunan mereka, baik berupa perintah, larangan, peringatan, serta akhlak yang menjaga kelima perkara tersebut.
Keenam: Hendaklah agama tersebut merupakan rahmat bagi seluruh makhluk dari kedzoliman diri sendiri dan kedzoliman sebagian terhadap sebagian lainnya, baik kdzoliman tersebut disebabkan oleh pelanggaran terhadap hak-hak, atau dengan mengenyampingkan kebaikan, atau penindasan yang besar terhadap yang kecil, Allah berfirman seraya mengabarkan tentang rahmat yang terkandung dalam Taurat yang Dia turunkan kepada Musa as:

ولمّا سكت عن موسى الغضب أخذ الألواح وفي نسختها هدى ورحمة للّذين هم لربّهم يرهبون

sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya”, Allah berfirman ketika menghabarkan tentang diutusnya Isa as:

ولنجعله آية للناس ورحمة

“…dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat”, firman-Nya ketika menghabarkan tentang Soleh as:

قال يا قوم أرأيتم إن كنت على بيّنة من ربّي وآتاني منه رحمة

Shaleh berkata: “hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat”, dan firman Allah tentang Al-Qur’an:

وننزّل من القرآن ما هو شفاء ورحمة للمؤمنين

“…dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
Ketujuh: Hendaklah ia mengandung hidayah kepada syari’at Allah, menunjukan kepada manusia akan tujuan diciptakanya mereka, mengabarkan dari mana mereka datang dan kemanakah mereka dikembalikan? Allah berfirman tentang Taurat:

إنّا أنزلنا التوراة فيها هدى ونور

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya”, dan firman-Nya tentang Injil:

وآتيناه الإنجيل فيه هدى ونور
“…dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil edang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya”, serta firman-Nya tentang Al-Qur’anul Karim:

هو الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق

Dialah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar”. Dan agama yang benar adalah agama yang mencakup hidayah kepada syari’at Allah yang dapat mewujudkankan rasa aman dan tentram bagi jiwa, dapat mengusir segala keraguan, menjawab seluruh pertanyaan dan menerangkan seluruh permasalahan.
Kedelapan: Hendaklah ia mengajak kepada akhlak dan perbuatan yang mulia, seperti jujur, adil, amanat, malu, menjaga diri dan kedermawanan, dan juga melarang dari kejelekannya, seperti durhaka terhadap kedua orang tua, membunuh, serta mengharamkan perbuatan buruk, dusta, berbuat zolim, zina, kikir dan kejahatan.
Kesembilan: Hendaklah ia mewujudkan kebahagiaan bagi orang yang beriman kepadanya, firman Allah:
Thaahaa (1) Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”, dan hendaklah ia sejalan dengan fitrah yang murni:

فطرت الله التي فطر الناس عليها

(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”, dan juga sejalan dengan akal yang benar, karena agama yang benar adalah apa yang disyari’atkan oleh Allah, dan akal yang benar adalah ciptaan Allah, maka mustahil akan bertentangan antara syari’at Allah dan ciptaan-Nya.
Kesepuluh: Hendaklah ia menunjukkan kepada kebenaran dan menjauhkan dari kebatilan, mengarahkan kepada petunjuk dan menjauhi kesesatan, dan juga menyeru umat manusia kepada jalan lurus yang tidak ada kemiringan dan tidak pula kebengkokan, Allah Ta’ala berfirman tentang bangsa jin, bahwasanya ketika mereka mendengar Al-Qur’an sebagiannya berkata kepada sebagian lainnya:

يا قومنا إنا سمعنا كتابًا أنزل من بعد موسى مصدّقًا لّما بين يديه يهدي إلى الحق وإلى طريق مستقيم

Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus”, hendaknya ia tidak mengajak mereka kepada yang membikin mereka sendiri susah, firman Allah:
Thaahaa (1) Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah”, tidak memerintahkan mereka dengan apa yang membinasakan diri mereka sendiri, firman Allah:

ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيمًا

“…dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”, dan juga ia tidak membeda-bedakan diantara pengikutnya, baik itu disebabkan oleh jenis, warna ataupun juga kabilah, Allah berfirman:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبًا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله  أتقاكم إن الله عليم خبير”                                                                                                                                                
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. 

Takaran yang dianggap untuk membedakan dalam agama adalah ketakwaan terhadap Allah. Setelah saya menampilkan ciri-ciri yang dapat memisahkan antara agama yang benar dan agama yang batil –dan saya telah membawakan bukti untuk semua itu dengan apa yang ada dalam Al-Qur’anul Karim, yang menunjukkan bahwa cirri-ciri ini bersifat umum mencakup setiap rasul yang telah diutus oleh Allah- maka sangat tepat sekali kalau kita menampilkan macam-macam agama.


والله أعلمُ بالـصـواب



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *