[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 07 – Pondasi dan Landasan ISLAM 6

Kebutuhan Manusia terhadap Agama

           Kebutuhan manusia terhadap agama jauh lebih besar dari pada kebutuhannya terhadap hajat hidup. Manusia harus mengetahui sisi-sisi yang yang dapat mendatangkan  keridhaan Allah SWT dan sisi-sisi yang dapat mengundang kemurkaan-Nya, ia juga harus melakukan tindakan yang dapat mendatangkan manfaat baginya dan menolak madharat darinya. Syari’at yang akan membedakan antara perbuatan-perbuatan yang bermanfaat dan yang merugikan, yang mana itu adalah bentuk keadilan Allah terhadap makhluk-Nya dan sebagai cahaya petunjuk bagi hamba-hamba-Nya, sehingga manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa syari’at yang denganya ia bisa membedakan antara apa yang harus dia kerjakan dan apa yang harus dia tinggalkan.

          Apabila manusia memiliki keinginan, maka dia harus mengetahui apa yang diinginkannya, dan apakah ia itu bermanfaat baginya ataukah tidak? Apakah ia sesuatu yang memperbaiki atau merusaknya?. Permasalahan ini telah diketahui oleh sebagian manusia oleh fitrahnya, sebagian mengetahuinya dengan dalil yang bisa diterima oleh akalnya dan sebagiannya ada yang tidak bisa diketahui kecuali setelah diajarkan, dijelaskan serta ditunjukan oleh para Rasul.

          Walaupun faham-faham materialistik kufur bermunculan, berbagai teori dan pemikiran bertebaran, namun tiap pribadi dan masyarakat tetap tidak akan bisa lepas dari kebutuhan akan agama yang benar, semua teori dan pemikiran itu tidak akan bisa menutupi semua kebutuhan ruh dan jasad, bahkan seorang yang semakin jauh mendalaminya, akan semakin yakin dengan seyakin-yakinnya kalau hal tersebut tidak akan bisa mendatangkan keamanan, tidak pula menghilangkan dahaga, dan bahwasanya tidak ada tempat untuk berlindung kecuali hanyalah kepada agama yang benar, berkata Arnest Rinand: “bahwasanya sangat mungkin sekali segala sesuatu yang kita sukai akan rusak,  kebebasan menggunakan akal, ilmu dan berkarya akan terhenti, akan tetapi merupakan sesuatu yang mustahil terhentinya kegiatan beragama, bahkan ia akan tetap ada sebagai hujjah yang berbicara atas kebathilan faham materialistik yang ingin membatasi manusia dalam kesempitan yang hina dalam kehidupan diatas bumi.

          Berkata Muhammad Farid Wajdy: “mustahil pemikiran keagamaan ini akan lenyap, karena ia adalah kecenderungan jiwa tertinggi dan termulia, bahkan kecenderungan terhadapnya akan semakin bertambah, karena fitrah keagamaan akan mengenai manusia selama dia memiliki akal yang bisa dipergunakan untuk membedakan antara baik dan buruk, dan fitrah ini akan semakin bertambah sesuai dengan tingginya tingkat pemahaman serta perkembangan pengetahuannya”.

          Apabila manusia menjauhkan diri dari Rabb-nya, maka sesuai dengan ketinggian pengetahuan dan keluasan ilmunya, dia akan menyadari kebodohanya akan Rabb-nya dan apa yang wajib untuk dilakukan olehnya, begitu pula kebodohanya akan dirinya serta apa yang bermanfaat dan merusaknya, serta apa yang bisa menjadikannya berbahagia dan bersedih, ia juga akan menyadari kebodohannya akan cabang-cabang ilmu dan satuan-satuannya, seperti ilmu falak, orbit tempat berputar, ilmu hisab, ilmu tumbuhan dan lain sebagainya… pada saat tersebut akan seorang ilmuan akan berubah dari  ketertipudayaan dan kesombongan menjadi rendah diri serta berserah diri, dia akan meyakini bahwa dibelakang setiap ilmu itu ada Dzat Yang Maha berilmu dan Maha Bijaksana, dibalik alam ini ada Pencipta Yang Maha Kuasa, hakekat ini mengharuskan seorang peneliti bijaksana untuk beriman kepada yang gaib dan tunduk terhadap agama yang lurus serta mengijabahi panggilan fitrah dan tabi’at yang murni. Jika tidak begiu maka manusia akan terbalik fitrahnya dan terlempar sampai kepada derajat binatang.

          Dengan ini kita menyimpulkan bahwa agama yang hak ini –yang dibangun diatas meng-Esakan Allah dalam beribadah kepada-Nya sesuai apa yang Dia syari’atkan- merupakan sebuah unsur penting bagi kehidupan, agar darinya seseorang bisa merealisasikan ubudiyyahnya terhadap Allah Penguasa alam, dan untuk mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan dari kebinasaan, kesusahan dan kesengsaraan pada dua tempat (dunia dan akherat), hal itu juga merupakan suatu yang penting agar kekuatan pandangan seseorang menjadi sempurna, hanya dengannya saja akal akan mendapatkan apa yang bisa memuaskan keinginannya, dan tanpanya tidak bisa terealisasi harapan tertingginya.

          Ia merupakan unsur dhoruri untuk menyucikan jiwa dan melatih kekuatan tubuh, karena perasaan yang cemerlang akan mendapat kesempatan yang banyak dalam agama dan peluang yang akan selalu mendapatkan pertolongan dalam mencapai apa yang menjadi tujuannya.
          Ia merupakan unsur penting untuk menyempurnakan kekuatan kehendak dengan suplay dorongan dan sokongan yang diberikan juga kekebalan dalam melawan penyebab-penyebab kebosanan dan keputusasaan.

          Oleh sebab itu apabila ada yang berkata: “bahwa tabiat manusia itu cenderung kepada kemajuan”. Maka sudah seharusnya untuk kita katakan: “bahwa fitrah manusia cenderung beragama”, karena manusia memiliki dua kekuatan: kekuatan ilmiyyah nadhoriyyah (pandangan), dan kekuatan ilmiyyah iradiyyah (keinginan), kebahagiaannya yang sempurna akan terhenti dihadapan kesempurnaan kedua kekuatan tersebut, dan kesempurnaan kekuatan ilmiyyah tidak akan terealisasi kecuali dengan mengetahui perkara-perkara berikut ini:

1        Mengetahui Tuhan Pencipta, Pemberi Rizki yang mengadakan manusia dari ketidak adaan dan menyempurnakan kenikmatan kepadanya.
2        Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah, apa yang wajib terhadap-Nya, serta pengaruh nama-nama tersebut terhadap hamba-Nya.
3        Mengetahui jalan yang bisa menyampaikan kepada-Nya.
4        Mengetahui halangan serta rintangan yang dapat menghalangi antara manusia dan pengetahuan akan jalan ini serta apa yang dapat mengantarkan nikmat kepadanya.
5        Mengetahui diri anda sendiri dengan sebenar-benarnya, mengetahui apa yang anda perlukan, apa yang bermanfaat atau apa merusaknya, serta mengetahui aib dan kelebihan yang dimilikinya.

Dengan mengetahui kelima perkara tersebut, seseorang akan menjadi sempurna kekuatan ilmiyyahnya, penyempurnaan kekuatan ilmiyyah dan irodiyyah tidak akan didapat kecuali dengan memperhatikan hak-hak Allah terhadap hamba-Nya, dan mengerjakannya dengan penuh ikhlas, kejujuran, nasehat, mutaba’ah dan persaksian atas kesungguhan terhadapnya, tidak ada jalan untuk sampai kepada kesempurnaan kedua kekuatan tersebut kecuali dengan pertolongan-Nya, Allah SWT pasti akan menunjukanya kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang Dia telah tunjukkan kepada para wali-wali-Nya.

          Setelah kita mengetahui bahwa agama yang benar adalah yang dapat memberi suply kekuatan bagi berbagai macam jiwa, ia juga merupakan baju besi yang melindungi masyarakat, itu karena kehidupan manusia tidak mungkin terselenggara kecuali dengan adanya kerja sama diantara anggota tubuh, kerjasama ini tidak akan sempurna kecuali dengan aturan yang mengatur hubungan diantara mereka, menentukan kewajiban-kewajibannya, serta menanggung hak-haknya. Peraturan ini tetap membutuhkan sebuah kekuasaan sepiritual yang dapat memberi efek jerah bagi setiap jiwa untuk melanggar aturan, mendorong untuk tetap konsisten padanya, dan tetap menjaga kewibawaanya dihadapan manusia, serta mencegah terjadinya pelanggaran terhadap batasan-batasanya. kekuasaan apakah ini? Maka saya katakan: diatas muka bumi ini tidak ada kekuatan yang menandingi kekuatan agama atau menyamainya dalam menjaga dan memelihara kehormatan sebuah peraturan, juga dalam menjamin keutuhan hidup masyarakat dan keterpaduan unsur-unsur ketentraman dan ketenangan.

          Rahasianya adalah bahwa manusia memiliki kelebihan diantara berbagai macam makhluq hidup yang ada, hal itu tercermin dalam setiap gerakan dan tindakan yang ia lakukan yang kesemuanya disetir oleh keimanan, sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pendengaran maupun penglihatan. Keyakinan dan imanlah yang membimbing ruh dan meluruskan raga, manusia selamanya disetir oleh keyakinan yang benar atau keyakinan yang salah, jika keyakinanya benar maka benar pula selainya, tetapi jika keyakinanya rusak maka akan rusak pula selainya.
          Keyakinan dan iman merupakan pengawas khusus bagi manusia, keduanya –sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan manusia- terbagi dalam dua bentuk:

1        Meyakini akan nilai keutamaan dan kemuliaan insan serta segala makna yang menjadikan manusia malu untuk menyelisih terhadap ajakan-ajakanya meskipun tanpa ada balasan materi atau dorongan eksternal lainya.

2        Iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan bahwasanya Dia-lah yang mengawasis segala sesuatu yang tersembunyi, Dia mengetahui apa yang rahasia dan disembunyikan, syari’ah memiliki kendali kekuasaan yang terbangun dari perintah dan larangan-Nya, perasaan penuh malu kepadan-Nya bergejolak karena cinta atau takut kepadan-Nya atau karena keduanya. tidak diragukan lagi bahwa keimanan yang seperti ini adalah yang paling kuat penguasaannya terhadap jiwa manusia, dan ia lebih kuat perlawanannya terhadap tuntutan-tuntutan hawa nafsu dan gejolak perasaan, ia lebih cepat meresap pada hati setiap orang.

Oleh karena itu semua, agama merupakan jaminan terbaik untuk membangun hubungan diantara umat manusia yang dibangun diatas tiang-tiang keadilan dan kebijaksanaan, yang mana hal tersebut merupakan tuntutan kemasyarakatan, maka tidak heran bahwa posisi agama dalam umat ini seperti hati bagi tubuh.

          Apabila secara umum agama berada pada kedudukan ini, tetapi yang kita saksikan dewasa ini adanya berbagai macam agama dan aliran, masing-masing kelompok berbangga dengan agamanya, berpegang teguh dengan aliranya, maka agama manakah yang benar yang dapat merealisasikan bagi jiwa manusia apa yang ia harapkan? Dan apakah ciri-ciri agama yang hak itu?


والله أعلمُ بالـصـواب


Source: id_alislam_usoolh_wa_mabadeoh





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *