[ UIC 0.2 ] Dasar-Dasar Agama Islam 05 – Pondasi dan Landasan ISLAM 4

Penciptaan Manusia serta Pemuliannya

           Allah SWT telah menetapkan untuk menciptakan suatu ciptaan yang pantas untuk memakmurkan alam ini, makhluk yang diciptakan tersebut adalah manusia, kandungan hikmah-Nya subhanahu adalah dengan menjadikan bahan dalam menciptakan manusia adalah bumi, penciptaannya dimulai dari tanah, kemudian dibentuk dengan bentuk yang indah ini seperti yang tampak pada manusia, setelah berdiri sempurna dalam bentuknya, Dia tiupkan disana rohnya, dialah manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, mendengar, melihat, bergerak dan berbicara, maka Allah letakkan dia untuk tinggal di surga-Nya, mengajarkannya seluruh apa yang perlu untuk diketahuinya, menghalalkan baginya seluruh apa yang ada dalam surga, dengan hanya melarang satu pohon –sebagai ujian dan cobaan- Allah ingin menunjukkan kedudukan serta martabatnya, lalu Dia perintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk sujud kepadanya, sehingga sujudlah terhadapnya seluruh malaikat, kecuali iblis yang menolak untuk sujud karena sombong dan takabbur, maka marahlah Dia kepadanya, karena ia menyelisihi perintah-Nya, lalu Dia mengusir iblis tersebut dari rahmat-Nya, disebabkan karena ia takabbur terhadap-Nya, lalu iblis meminta kepada Rabbnya agar umurnya dipanjangkan dan ditangguhkan siksanya sampai hari kiamat, maka Allah-pun menangguhkanya dan memanjangkan umurnya sampai hari kiamat. 

Setan dengki terhadap Adam as, karena dia beserta keturunannya diberi keutamaan, ia bersumpah atas nama Allah untuk menyesatkan seluruh anak cucu Adam, dan bahwasanya ia akan mendatangi mereka dari hadapan, belakang, samping kanan dan kirinya, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas, benar dan bertaqwa, karena Allah akan membentengi mereka dari tipu daya setan serta makarnya, Allah telah memperingatkan Adam as dari tipu daya setan, setan membisikan pikiran jahat kepada mereka (Adam as serta isterinya Hawa) agar bisa mengeluarkan keduanya dari surga, dan agar mereka menampakan aurat mereka (yang selama ini) tertutp, seraya bersumpah: sesungguhnya aku adalah penasehat bagi kalian berdua, dan bahwasanya Allah tidaklah melarang kalian dari pohon tersebut kecuali agar kalian tidak menjadi seperti malaikat atau agar kalian berdua tidak menjadi orang yang kekal untuk selamanya (dalam surga).

           Keduanya makan dari pohon yang telah Allah larang itu. Hukuman yang pertama kali menimpa mereka akibat menyelisihi perintah Allah adalah terlihatnya aurat mereka, lalu Allah ingatkan keduanya akan peringatan-Nya dahulu tentang tipu daya setan, maka Adam as meminta ampun kepada-Nya, lalu Dia menerima taubatnya dan memberinya hidayah, memerintahnya untuk turun dari surga tempat tinggalnya menuju bumi, yang kemudian menjadi tempat tinggalnya, disana terdapat seluruh keperluannya, dan Diapun mengabarkannya bahwa dia diciptakan darinya, tinggal diatasnya dan meninggal padanya dan darinya pula akan dibangkitkan.

          Adam as turun ke bumi bersama isterinya Hawa, keturunannya berlanjut, mereka menyembah Allah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan, karena Adam adalah seorang Nabi.

          Allah telah menghabarkan hal ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud (11) Allah berfirman: “apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?” menjawab iblis: “saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (12) Allah berfirman: 

“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina” (13) iblis menjawab: “beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” (14) Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” (15) iblis menjawab: “karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus” (16) kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) (17) Allah berfirman: keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa diantara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka jahanam dengan kamu semuanya” (18) (dan Allah berfirman): 

“Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon itu, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim (19) maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)” (20) dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: 

“sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua” (21) maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (22) keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (23) Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) dimuka bumi sampai waktu yang telah ditentukan” (24) Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan

          Ketika anda memperhatikan ciptaan Allah terhadap manusia, yang mana telah diciptakan dengan sebaik-baiknya, dan dipakaikan berbagai jenis kemuliaan mulai dari akal, ilmu, pemahaman, ucapan, bentuk, gambar yang bagus, keadaan yang mulia, tubuh yang seimbang, mengenyam ilmu dengan dalil dan pemikiran, serta menyerap akhlak-akhlak mulia dan utama, seperti kebaikan, ketaatan dan keselamatan. Berapa jarak antara keadaannya ketika masih berupa air mani di dalam rahim yang terjaga padanya, dengan keadaannya saat malaikat menemuinya di surga ‘adn? “Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.

          Dunia bagaikan sebuah desa dan manusia sebagai penghuninya, seluruhnya sibuk dengannya, bekerja untuk kemaslahatnya, semua disiapkan untuk melayani dan memenuhi keperluannya, para malaikat bertugas untuk menjaganya pada malam dan siang hari, begitujuga hujan dan tumbuhan, mereka bekerja dan bertugas dalam rangka menyediakan rizki untuknya, gugusan bintang tunduk dan patuh pada orbitnya untuk menjaga kemaslahatanya, matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk dan berputar sesuai dengan zaman dan waktu serta maslahat kebutuhan manusia sehari-hari, alam terbuka tunduk kepadanya dengan angin dan udaranya, begitu pula dengan awan, burung serta apa yang ada padanya, alam yang berada di bawah seluruhnya tunduk kepadanya, diciptakan untuk maslahatnya, bumi dan gunungnya, laut dan sungainya, tumbuhan serta binatangnya, dan seluruh apa yang ada diatasnya, Allah berfirman:
 “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah mnundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar dilautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai (32) dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang (33) dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).

          Di antara kesempurnaan pemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia adalah Dia menciptakan baginya segala yang diperlukan dalam kehidupannya di dunia dan seluruh sarana yang dapat menyampaikannya kepada derajat tertinggi di akhirat, Dia turunkan kitab-kitab-Nya, diutus Rasul-Rasul-Nya untuk menerangkan syariat Allah dan mengajak manusia agar mengikutinya.

          Kemudian Dia ciptakan dari dirinya –yaitu dari diri Adam as- seorang isteri untuk bersandar padanya dan menutupi kebutuhan fitrahnya –kebutuhan jiwa, akal dan jasad- sehingga dia mendapatkan padanya ketenangan, rileks dan ketentraman, keduanya tatkala berkumpul mendapat ketenangan, kecukupan, mawadah serta rahmat, karena susunan jasad, jiwa serta syaraf keduanya saling melengkapi dan memenuhi keinginan satu sama lain, bersatu untuk membangun generasi baru, keduanya saling menyambut kasih sayang serta perasaannya, dari hubungan tersebut terbentuklah ketenangan bagi jiwa dan urat syaraf, kesenangan bagi tubuh dan hati, ketentraman bagi hidup dan penghidupan, kelembutan bagi ruh dan anggota tubuh, serta ketuma’ninahan yang merata antara laki dan wanita.

          Allah SWT mengkhususkan orang-orang mukminin diantara seluruh manusia, Dia menjadikannya sebagai penguasa wilayah-Nya, mereka berhidmah dalam keta’atan kepada-Nya, mereka berbuat sesuai dengan syari’at-Nya, agar mereka pantas untuk berada di samping-Nya di surga. Dari mereka Allah pilih para Nabi, Rasul, wali serta syuhada, Dia anugerahi mereka di dunia ini kenikmatan terbesar yang diterima oleh tubuh, ia adalah: ibadah kepada Allah, keta’atan dan bermunajat kepada-Nya, Dia khususkan mereka dengan nikmat yang besar –yang tidak didapatkan oleh selainnya- diantaranya adalah keamanan, ketenangan serta kebahagiaan, bahkan yang lebih besar dari semua itu, bahwa mereka mengetahui kebenaran yang dibawa oleh para Rasul dengan beriman kepadanya, dan Dia siapkan bagi mereka –di akhirat- kenikmatan yang kekal dan kemenangan yang sangat besar, yang mana hal tersebut sesuai dengan kemuliaan-Nya, Dia beri ganjaran atas keimanan dan keikhlaan mereka, bahkan memberi mereka tambahan dari fadhilah-Nya.

Kedudukan Wanita:

           Dalam Islam wanita menempati kedudukan yang tinggi, belum pernah setinggi yang dicapai oleh agama-agama terdahulu, dan tidak pula diraih oleh umat berikutnya, karena pemuliaan Islam terhadap manusia mencakup wanita dan pria dengan hak yang sama. Mereka dihadapan hukum-hukum Allah di dunia ini sama, sebagaimana juga mereka di hadapan ganjaran serta imbalan  di akhirat juga sama. Allah berfirman: “…dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.

Kemudian Allah SWT berfirman:

للرجال نصيب مّما ترك الوالدان والأقربون وللنساء نصيب مّما ترك الوالدان والأقربون

“…bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya.” Lalu firman-Nya:

ولهن مثل الذي عليهنّ بالمعروف

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.

Berfirman subhanahu wa ta’ala:

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض

“…dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagiaan yang lain”, firman-Nya:

وقضى ربّك ألاّ تعبدوا إلاّ إياه وبالوالدين إحسانًا إمّا يبلغنّ عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لّهما أفّ ولا تنهرهما وقل لهما قولاً كريمًا  .واخفض لهما جناح الذلّ من الرحمة وقل ربّ ارحمهما كما ربّياني صغيرًا
“…dan Tuhan-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”, firman-Nya:

فاستجاب لهم ربّهم أنّي لا أضيع عمل عامل مّنكم من ذكر أو أنثى

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan”, firman-Nya:

من عمل صالحًا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينّه حياة طيبة ولنجزينّهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”, serta firman-Nya:

من يعمل من الصالحات من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون نقيرًا

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.

          Kemuliaan yang diraih oleh wanita dalam Islam ini tidak ada bandingannya dalam agama, kelompok atau hukum manapun, kebudayaan Romawi telah menetapkan bahwa wanita adalah budak bagi laki-laki, dia tidak memiliki hak apapun, pernah diadakan sebuah pertemuan di Roma untuk membahas permasalahan wanita, yang kemudian memutuskan bahwa dia adalah sesuatu yang ada namun tidak berjiwa, bahwa dia tidak akan mewarisi kehidupan akherat, dan bahwasanya wanita itu kotor.

          Dahulu wanita di Athena dianggap sebagai barang yang tidak berharga, dia diperjual belikan, dan dianggap sebagai kotoran dari hasil perbuatan setan.
          Syari’at India kuno telah menetapkan: bahwa wabah penyakit, kematian, neraka, racun binatang serta api lebih baik dari wanita. Hak wanita akan berakhir dalam kehidupannya dengan meninggalnya sang suami –yang notebene ia itu tuannya- ketika ia melihat jasad suaminya sedang dibakar, ia harus melemparkan dirinya ke dalam api tersebut, dan jika tidak maka ia berhak untuk mendapatkan laknat.

          Adapun wanita dalam agama Yahudi, terdapat hukum baginya dalam perjanjian lama sebagaimana berikut ini: “Berputar aku dan hatiku untuk mengetahui, membahas dan mencari hikmah dan secara akal, dan untuk mengetahui bahwa kejelekan itu merupakan kebodohan dan kedunguan bahwa ia itu gila, maka aku dapati yang lebih pahit dari kematian: ialah wanita yang merupakan jendelanya, hatinya penjerat dan kedua tangannya merupakan pengikat”.

          Itulah mereka, para wanita pada masa-masa terdahulu, adapun keadaannya pada zaman pertengahan dan terkini akan dijelaskan oleh fakta-fakta berikut ini:

          Penulis Denmark Wieth Kordstenmenjelaskan tentang arahan gereja Katolik sekitar permasalahan wanita dengan ungkapan: “Pada masa pertengahan, perhatian terhadap wanita Eropa sangat terbatas sekali, dengan mengikuti arah mazhab Katolik sebelumnya yang menganggap bahwa wanita itu diciptakan pada derajat kedua.” Di Perancis telah diadakan pertemuan pada tahun 586 M, untuk membahas permasalahan wanita dan apakah dia akan dianggap sebagai manusia atau tidak dianggap sebagai manusia? setelah perdebatan: mereka yang hadir memutuskan bahwa wanita itu manusia, akan tetapi dia diciptakan untuk melayani kaum pria. 

Pembahasan ke dua ratus tujuh belas dari hukum Perancis berbunyi sebagai berikut ini: “wanita yang telah menikah –walaupun pernikahannya berdasarkan atas dasar pemisahan antara apa yang dia miliki dan apa yang suaminya miliki- dia tidak boleh menghibahkan sesuatu, tidak pula memindahkan miliknya dan tidak pula menjaminkannya, sebagaimana juga dia tidak boleh memiliki baik melalui tukar-menukar atau dengan percuma(diberi) tanpa keterlibatan suami dalam akad atau minimal persetujuannya secara tertulis).

Di Inggris, Henry VIII mengharamkan wanita Inggris untuk membaca kitab suci, Ia juga tidak dianggap sebagai penduduk hingga tahun 1850 M, dan tidak jua memiliki hak pribadi hingga tahun 1882.

          Adapun wanita sekarang di Eropa, Amerika dan  di negara-negara industri modern lainnya sebagai makhluk hina dan barang komersial dalam tumpukan barang dagangan, ia menjadi bagian iklan-iklan produk komersial yang murah, bahkan  terkadang harus dengan telanjang dan melepask pakaiannya untuk menawarkan barang dagangan di depan kelompok dagang, tubuh serta kehormatannya dihalalkan untuk tunduk serta menuruti kemauan kaum laki-laki yang hanya menjadikan wanita sebagai alat  kesenangan bagi mereka di setiap tempat.

          Wanita menjadi pusat perhatian selama ia masih muda dan cantik serta sanggup untuk memberi dan mengorbankan pikiran ataupun tubuhnya, apabila ia telah  tua dan hilang kecantikan dan kemampuannya dalam memberi, maka masyarakat akan memandang sebelah mata, baik itu secara perorangan ataupun yayasannya, sehingga dia akan hidup sendirian di rumahnya atau di panti-panti jompo.

          Bandingkan semua ini –pasti tidak akan sama- dengan apa yang datang dari Al-Qur’anul Karim sebagaimana difirman Allah SWT:

المؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض

“…dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.
Berfirman Dzat Yang Maha Mulia:

ولهنّ مثل الذي عليهن بالمعروف

“…dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”, serta firman-Nya:
“…dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (23) dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

          Tatkala Allah memuliakan wanita dengan pemuliaan yang seperti ini, Dia jelaskan kepada seluruh umat manusia dengan tegas bahwa Dia menciptakannya sebagai ibu, isteri, putri dan saudari, serta mensyari’atkan untuk itu syari’at syari’at khusus yang berhubungan dengan wanita.



والله أعلمُ بالـصـواب


Source: id_alislam_usoolh_wa_mabadeoh




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *