Arsip Kategori: Tabi’in

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 85

Abdullah Bin Al-Mubarak

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M. Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini.”

Pertaubatan Abdullah bin Mubarak

Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu. Ketika adzan Shubuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat ‘Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu. “Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!”. Katanya kepada dirinya sendiri. “Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah.”

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.

Setelah bertaubat itu Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh sufi. Dari Baghdad ia pergi ke Mekkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Pada masa itu sebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh. Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai toko yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri. Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan Fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Mekkah.

Di kota ini ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang. Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.

Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum. Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: “Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya”. Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.

Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. “Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!” “Abdullah berhentilah!”, orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. ” Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!”, ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 84

‘Atha` Bin Abi Rabah

“Saya tidak melihat orang yang mencari ilmu karena Allah, kecuali tiga orang yakni: ‘Atha’, Thawus, dan Mujahid.” Salamah bin Kuhail

Kita sekarang memasuki sepuluh hari terakhir bulan Dzul Hijjah tahun 97 H. Dan rumah tua (Ka’bah) ini disesaki oleh tamu-tamu Allah dari segala penjuru; para pejalan kaki dan para pengendara, Tua dan muda, Laki-laki dan perempuan, berkulit hitam dan putih; orang arab dan non Arab serta tuan dan ada yang dipertuan alias rakyat.
Mereka semua telah datang menghadap Raja manusia dengan khusyu’ seraya bertalbiyah dan mengharapkan pahala Allah.

Tersebutlah, Sulaiman bin Abdul Malik, seorang Khalifah kaum muslimin dan salah seorang raja agung yang pernah bertahta di muka bumi sedang berthawaf di sekeliling Ka’bah dengan kepala terbuka dan bertelanjang kaki. Dia hanya mengenakan kain sarung dan selendang. Kondisinya kala itu sama seperti saudara-saudaranya fillah yang menjadi rakyat jelata. Sementara di belakangnya ada dua orang putranya, keduanya adalah dua anak muda yang keceriaan wajahnya bagaikan bulan purnama dan wangi dan kilauannya ibarat bunga yang sedang mekar.
Begitu khalifah menyelesaikan thawafnya, beliau menengok ke arah salah seorang pengawalnya sembari berkata,
“Di mana sahabatmu?.”
Orang itu menjawab, “Dia di sana sedang shalat”, Sambil menunjuk ke pojok Barat Masjid Al-Haram. Lalu Khalifah dengan diikuti kedua putranya menuju tempat yang ditunjuk oleh pengawal tersebut.

Para pengawal pribadinya ingin mengikuti khalifah guna melebarkan jalan bagi dan melindunginya dari suasana berdesak-desakan. Akan tetapi Khalifah melarang mereka melakukan hal itu sembari berkata,
“Para raja dan rakyat jelata sama kedudukannya di tempat ini. Tidak seorang pun yang lebih mulia dari orang lain, kecuali berdasarkan penerimaan (terhadap amalnya) dan ketakwaan. Boleh jadi ada orang yang kusut dan lusuh berdebu datang kepada Allah, lalu Allah menerima ibadahnya dan pada saat yang sama, para raja tidak diterima oleh-Nya.

Kemudian Khalifah berjalan menuju orang tersebut, lalu dia mendapatinya masih melaksanakan shalat, khusyu’ di dalam ruku’ dan sujudnya. Sedangkan orang-orang duduk di belakang, di sebelah kanan dan kirinya, lalu Khalifah duduk di barisan paling belakang dari majlis tersebut dan mendudukkan kedua anaknya di situ.
Mulailah dua anak muda Quraisy ini mengamati laki-laki yang dituju Amirul mu’minin (bapak mereka) dan duduk bersama orang-orang awam lainnya; menunggunya hingga selesai dari shalatnya.

Ternyata orang itu adalah seorang tua yang berasal dari Habasyah, berkulit hitam, berambut keriting lebat dan pesek hidungnya. Jika dia duduk tampak bagaikan gagak hitam.

Ketika orang itu telah selesai dari shalatnya, dia menoleh ke arah dimana Khalifah berada. Lalu Sulaiman bin Abdul Malik, sang khalifah memberi salam dan orang itu membalasnya.

Saat itulah Khalifah menyongsongnya dan bertanya tentang manasik haji, dari satu hal ke hal lainnya, dan orang itu menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang tuntas dan memerincinya sehingga tidak memberikan kesempatan lagi bagi si penanya untuk bertanya lagi. Dan dia juga menisbahkan setiap perkataan yang diucapkannya kepada sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.

Ketika Khalifah telah selesai mengajukan pertanyaannya, beliau mengucapkan, “Mudah-mudahan Allah membalas anda dengan kebaikan,” dan beliau berkata kepada kedua putranya, “Berdirilah,” lalu keduanya berdiri… Kemudian mereka bertiga berlalu menuju tempat sa’i.

Ketika mereka bertiga di pertengahan jalan menuju tempat sa’i, antara Shafa dan Marwa, kedua anak muda itu mendengar ada orang-orang yang berseru,
“Wahai kaum muslimin, siapapun tidak boleh memberi fatwa kepada orang-orang di tempat ini, kecuali ‘Atha’ bin Abi Rabah. Dan jika dia tidak ada, maka Abdullah bin Abi Nujaih.

Maka salah satu dari kedua anak muda itu menoleh kepada ayahnya seraya berkata,
“Bagaimana mungkin pegawai Amirul mu’minin bisa menyuruh orang-orang supaya tidak meminta fatwa kepada siapapun selain kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah dan sahabatnya kemudian kita telah datang meminta fatwa kepada orang ini?… seorang yang tidak peduli terhadap kehadiran Khalifah dan tidak memberikan penghormatan yang layak terhadapnya?.”

Maka Sulaiman berkata kepada putranya,
“Orang yang telah kamu lihat -wahai anakku- dan yang kamu lihat kita tunduk di depannya inilah ‘Atha’ bin Abi Rabah, pemilik fatwa di Masjid Haram dan pewaris Abdullah bin Abbas di dalam kedudukan yang besar ini.”
Kemudian Khalifah melanjutkan perkataannya,
“Wahai anakku, belajarlah ilmu, karena dengan ilmu orang rendah akan menjadi mulia, orang yang malas akan menjadi pintar dan budak-budak akan melebihi derajat raja.”

Perkataan Sulaiman bin Abdul Malik kepada putranya tentang masalah ilmu tidaklah berlebihan. Karena ‘Atha’ bin Abi Rabah pada masa kecilnya adalah hamba sahaya milik seorang perempuan penduduk Mekkah. Akan tetapi, Allah ‘Azza wa Jalla memuliakan budak Habasyah ini, dengan meletakkan kedua kakinya semenjak kecil di jalan ilmu. Dia membagi waktunya menjadi tiga bagian: Satu bagian untuk majikan perempuannya, mengabdi kepadanya dengan sebaik-baik pengabdian dan memberikan hak-haknya dengan sempurna. Dan satu bagian dia jadikan untuk Tuhannya. Waktu ini dia gunakan untuk beribadah dengan sepenuh-penuhnya, sebaik-baiknya dan seikhlas-ikhlasnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan satu bagian lagi dia jadikan untuk mencari ilmu. Dia banyak berguru kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam yang masih hidup, dan menyerap ilmu-ilmu mereka yang banyak dan murni.

Dia berguru kepada Abu Hurairah, ‘Abdullah bin Umar, ‘Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Az-Zubair dan sahabat-sahabat mulia lainnya radliyallâhu ‘anhum, sehingga hatinya dipenuhi ilmu, fiqih dan riwayat dari Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam.
Ketika Majikan perempuannya melihat bahwa budaknya telah menjual jiwanya kepada Allah dan mewakafkan hidupnya untuk mencari ilmu, maka dia melepaskan haknya terhadap ‘Atha’, kemudian memerdekakannya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Mudah-mudah Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.

Semenjak hari itu, ‘Atha’ bin Abi Rabah menjadikan Baitul Haram sebagai tempat tinggalnya, sebagai rumahnya, tempat dia berteduh dan sebagai sekolahan yang dia belajar di dalamnya, sebagai tempat shalat yang dia bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan dan keta’atan. Hal ini membuat ahli sejarah berkata, “Masjid Haram menjadi tempat tinggal ‘Atha’ bin Abi Rabah kurang lebih dua puluh tahun.”

Seorang tabi’i yang mulia ‘Atha’ bin Abi Rabah ini telah sampai kepada kedudukan yang sangat tinggi di dalam bidang ilmu dan sampai kepada derajat yang tidak dicapai, kecuali oleh beberapa orang semasanya.

Telah diriwayatkan bahwa ‘Abdullah bin Umar sedang menuju ke Mekkah untuk beribadah umrah. Lalu orang-orang menemuinya untuk bertanya dan meminta fatwa, maka ‘Abdullah berkata, “Sesungguhnya saya sangat heran kepada kalian, wahai penduduk Makkah, mengapa kamu mengerumuniku untuk menanyakan suatu permasalahan, sedangkan di tengah-tengah kalian sudah ada ‘Atha’ bin Abi Rabah?!.”
‘Atha’ bin Abi Rabah telah sampai kepada derajat agama dan ilmu dengan dua sifat:

Pertama, Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas jiwanya. Dia tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk bersenang-senang dengan sesuatu yang tidak berguna.

Kedua, Bahwa dia menjadikan dirinya sebagai pemimpin atas waktunya. Dia tidak membiarkannya hanyut di dalam perkataan dan perbuatan yang melebihi keperluan.
Muhammad bin Suqah bercerita kepada pengunjungnya, “Maukah kamu mendengar suatu ucapan, barangkali ucapan ini dapat memberi manfaat kepadamu, sebagaimana ia telah memberi manfaat kepadaku?.”
Mereka berkata, “Baik.”

Dia berkata, “Pada suatu hari, ‘Atha’ bin Abi Rabah menasehatiku, Dia berkata, ‘Wahai keponakanku, Sesungguhnya orang-orang sebelum kami dahulu tidak menyukai perkataan yang sia-sia.” Lalu aku berkata, ‘Dan apa perkataan yang sia-sia menurut mereka?’ ‘Atha’ berkata, ‘Dahulu mereka menganggap setiap perkataan yang bukan membaca atau memahami Kitab Allah ‘Azza wa Jalla sebagai perkataan sia-sia. Demikian pula dengan bukan meriwayatkan dan mengaji hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam atau menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau ilmu yang dapat dibuat taqarrub kepada Allah Ta’ala atau kamu berbicara tentang kebutuhanmu dan ma’isyahmu yang harus dibicarakan Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepadaku dan berkata, Apakah kamu mengingkari “sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) ” (Al-Infithar, ayat: 10)
Dan bersama setiap kamu ada dua malaikat “Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir “(Qaaf, ayat: 17-18).

Kemudian dia berkata, “Apakah salah seorang di antara kita tidak malu, jika buku catatannya yang dia penuhi awal siangnya dibuka di depannya, lalu dia menemukannya apa yang tertulis di dalamnya bukan urusan agamanya dan bukan urusan dunianya.”

Allah Azza wa Jalla benar-benar menjadikan ilmu ‘Atha’ bin Abi Rabah bermanfaat bagi banyak golongan manusia. Di antara mereka ada orang-orang yang khusus ahli ilmu dan ada orang-orang pekerja dan lain-lainnya.

Imam Abu Hanifah An-Nu’man bercerita tentang dirinya. Dia berkata: Aku telah berbuat kesalahan dalam lima bab dari manasik haji di Makkah, lalu tukang cukur mengajariku…yaitu bahwa aku ingin mencuckur rambutku supaya aku keluar dari ihram, lalu aku sewaktu hendak cukur, aku berkata, “Dengan bayaran berapa anda mencukur rambutku?”

Maka tukang cukur itu menjawab:Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda. Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran, duduklah dan berikan sekedar kerelaan.” Maka aku merasa malu dan aku duduk, namun aku duduk dalam keadaan berpaling dari arah kiblat.
Lalu tukang cukur itu menoleh ke arahku supaya aku menghadap kiblat, dan aku menurutinya, dan aku semakin grogi.

Kemudian aku menyilakannya supaya dia mencukur kepalaku sebelah kiri, tetapi, dia berkata, “Berikan bagian kanan kepala anda, lalu aku berputar. Dan mulailah dia mencukur kepalaku, sedangkan aku terdiam sambil melihatnya dan merasa kagum kepadanya. Lalu dia berkata kepadaku, “Kenapa anda diam? Bertakbirlah.” Lalu aku bertakbir, sehingga aku berdiri untuk siap-siap pergi. Lalu dia berkata: Ke mana anda akan pergi? Maka aku menjawab, “Aku akan menuju kendaraanku.” Lalu dia berkata, shalatlah dua rakaat, kemudian pergilah kemana anda suka.” Lalu aku shalat dua rakaat dan aku berkata di dalam hati, “Seorang tukang cukur tidak akan berbuat seperti ini, kecuali dia adalah orang yang berilmu.” Maka aku berkata kepadanya: Dari mana anda dapatkan manasik yang anda perintahkan kepadaku ini?
Maka dia berkata: Demi Allah, Aku telah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabah melakukannya lalu aku mengikutinya dan aku mengarahkan orang lain kepadanya.
Dunia telah berdatangan kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah namun dia berpaling dan menolaknya dengan keras Dia hidup sepanjang umurnya hanya dengan mengenakan baju yang harganya tidak melebihi lima dirham.

Para khalifah telah mengundangnya supaya dia menemani mereka. Akan tetapi bukan dia tidak memenuhi ajakan mereka, karena mengkhawatirkan agamanya daripada dunianya; akan tetapi disamping itu dia datang kepada mereka jika dalam kedatangannya ada manfaat bagi kaum muslimin atau ada kebaikan untuk Islam. Di antaranya seperti yang diceritakan oleh Utsman bin ‘Atha’ Al-Khurasani, dia berkata, “Aku di dalam suatu perjalanan bersama ayahku, kami ingin berkunjung kepada Hisyam bin Abdul Malik. Ketika kami telah berjalan mendekati Damaskus, tiba-tiba kami melihat orang tua di atas Himar hitam, dengan mengenakan baju jelek dan kasar jahitannya. serta memakai jubah lusuh dan berpeci. Tempat duduknya terbuat dari kayu, maka aku tertawakan dia dan aku berkata kepada ayah, “Siapa ini?” Maka ayah berkata, “Diam, ini adalah penghulu ahli fiqih penduduk Hijaz ‘Atha’ bin Abi Rabah.” Ketika orang itu telah dekat dengan kami, ayah turun dari keledainya.

Orang itu juga turun dari himarnya, lalu keduanya berpelukan dan saling menyapa. Kemudian keduanya kembali menaiki kendaraannya, sehingga keduanya berhenti di pintu istana Hisyam bin Abdul Malik. Ketika keduanya telah duduk dengan tenang, keduanya dipersilakan masuk. Ketika ayah telah ke luar, aku berkata kepadanya, Ceritakanlah kepadaku; tentang apa yang anda berdua lakukan, maka ayah berkata, “Ketika Hisyam mengetahui bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah berada di depan pintu, beliau segera mempersilakannya masuk- dan demi Allah, aku tidak bisa masuk, kecuali karena sebab dia, dan ketika Hisyam melihatnya, beliau berkata, Selamat datang, selamat datang. Kemari, kemari, dan terus beliau berkata kepadanya, Kemari, kemari, sehingga beliau mempersilakan duduk bersamanya di atas permadaninya, dan menyentuhkan lututnya dengan lututnya.” Dan di antara orang-orang yang duduk adalah orang-orang besar, dan tadinya mereka berbincang-bincang lalu mereka terdiam. Kemudian Hisyam menghadap kepadanya dan berkata, “Apa keperluan anda wahai Abu Muhammad?” ‘Atha’ berkata, “Wahai Amirul Mu’minin; Penduduk Haramain (Makkah dan Madinah) adalah penduduk Allah dan tetangga Rasul-Nya, berikanlah kepada mereka rizki-rizki dan pemberian-pemberian. Maka Hisyam menjawab, “Baik, Wahai ajudan; Tulislah untuk penduduk Makkah dan Madinah pemberian-pemberian dan rizki-rizki mereka untuk waktu satu tahun.

Kemudian Hisyam berkata, Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?.” ‘Atha’ berkata, “Ya wahai Amirul mu’minin, penduduk Hijaz dan penduduk Najd adalah inti arab dan pemuka Islam, maka berikanlah kepada mereka kelebihan sedekah mereka.” Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, Tulislah, bahwa kelebihan sedekah mereka dikembalikan kepada mereka.”
“Apakah ada keperluan lain selain itu wahai Abu Muhammad?” Ya wahai Amirul mu’minin, Kaum muslimin yang menjaga di perbatasan, mereka berdiri di depan musuh-musuh anda, dan mereka akan membunuh setiap orang yang berbuat jahat kepada kaum muslimin, maka berikanlah sebagian rizki kepada mereka, karena kalau mereka mati, maka perbatasan akan hilang.”

Maka Hisyam berkata, “Baik, wahai ajudan, tulislah, supaya dikirim rizki kepada mereka.” “Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?”
‘Atha’ berkata, “Ya, wahai Amirul mu’minin; Orang-orang kafir dzimmi supaya tidak dibebani dengan apa yang mereka tidak mampu, karena apa yang anda tarik dari mereka adalah merupakan bantuan untuk anda atas musuh anda.”
Maka Hisyam berkata, “Wahai ajudan tulislah untuk orang-orang kafir dzimmi, supaya mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu.”
“Apakah ada keperluan lain wahai Abu Muhammad?
‘Atha’ berkata, Ya, Bertakwalah kepada Allah di dalam diri anda wahai Amirul mu’minin, dan ketahuilah bahwa anda diciptakan di dalam keadaan sendiri. dan anda akan mati didalam keadaan sendiri…dan anda akan dibangkitkan di dalam keadaan sendiri dan anda akan dihisab dalam keadaan sendiri dan demi Allah tidak seorang pun dari orang yang anda lihat bersama anda.”
Maka Hisyam menyungkurkan wajahnya ke tanah dan menangis, lalu ‘Atha’ berdiri dan aku berdiri bersamnya.

Dan ketika kami telah sampai ke pintu, ternyata ada seseorang yang mengikuti ‘Atha’ dengan membawa kantong, dan aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, dan orang itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin mengirim ini kepada anda.” Maka ‘Atha’ berkata, “Maaf aku tidak akan menerima ini.”
“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam ” (Asy-Syuara’, ayat:109)
Demi Allah, Sesungguhnya ‘Atha’ menemui Khalifah dan keluar dari sisinya tanpa meminum setetes air pun.

Selanjutnya ‘Atha’ bin Abi Rabah dikaruniai umur panjang hingga seratus tahun. Umur itu dia penuhi dengan ilmu, amal, kebaikan dan takwa.
Dan dia membersihkannya dengan zuhud dari kekayaan yang ada di tangan manusia dan sangat mengharap ganjaran yang ada di sisi Allah.
Ketika dia wafat, dia di dalam keadaan ringan dari beban dunia. Banyak berbekal dengan amal akhirat. Selain itu, Dia melakukan ibadah haji sebanyak tujuh puluh kali, beliau melakukan di dalammya 70 kali wukuf di arafah.
Di sana dia memohon kepada Allah keridlaan-Nya dan surga-Nya.
Dan memohon perlindungan kepada-Nya dari murka-Nya dan dari neraka-Nya.

Rujukan:
1- Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d: 2/386.
2- Hilyatul Auliya’, oleh Abu Nu’aim: 3/310.
3- Sifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 2/211.
4- Ghuraru Al-Khashaish: 117.
5- Wafayat Al-A’yan, oleh Ibnu Khalkan: 3/261
6- Thabaqat Asy-Syairazi: lembar ke 17.
7- Nukatu Al-Hamya: 199.
8- Mizanu Al-I’tidal: 2/197
9- Tadzkiratu Al-Huffadz: 1/92.
10- Tahdzib At-Tahdzib: 7/199.
11- Nuzhatu Al-Khawathir: 1/85.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 83

Al-Hasan Al-Bashri

“Bagaimana mungkin suatu kaum bisa tersesat kalau di antara mereka ada al-Hasan al-Bashri?!” (Maslamah bin Abdul Malik)

Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya “Khairah” telah melahirkan anak laki-laki.

Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu’minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.

Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.

Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.

Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, “Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?”
Khairah menjawab, “Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai.”
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, “Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah ‘al-Hasan.'”
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a memohon kebaikan.

Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu’minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena “Yasar” ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.

Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.

Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.

Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.

Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu’minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu’minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.

Saking cintanya Ummul mu’minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan diam karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu’minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.

Hubungan Ummahat mu’minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.

Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.

Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu’minin dengan kedua tangannya sambil melompat.

Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu’minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.

Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.

Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan “al-Bashri”, yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.

Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi’in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.

Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang ‘Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.

Sehingga dia menjadi seorang ‘alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.

Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal.

Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.

Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.

Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, “Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain.”
Maka aku berkata, “Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya.”

Maka dia berkata, “Coba ceritakanlah apa yang anda miliki.”
Lalu aku berkata,
“Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma’ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki.”
Lalu Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!”

Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.

Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo’akan keberkahan untuknya.

Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.

Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, “Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir’aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu.

Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya.”

Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, “Cukup wahai Abu Sa’id! cukup.!”
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, “Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, “Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!”
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti.”

Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.

Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh ‘izzah seorang mu’min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da’i yang menyeru kepada Allah.”
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, “Kemari wahai Abu Sa’id! Kemarilah!”, Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!.” Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.

Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, “Engkau adalah tuannya para ulama’ wahai Abu Sa’id.!”

Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?”

Maka al-Hasan menjawab, “Aku telah membaca (artinya) ‘Wahai Pembelaku ni’matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.'”

Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.

Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya.

Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.

Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.

Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan “asy-Sya’bi.” Dia berkata kepada keduanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya.

Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?”
Maka asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur.

Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, “Apa pendapatmu, wahai Abu Sa’id?”
Maka Al-Hasan menjawab, “Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.

Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta’ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.

Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.”

Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya’bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.

Maka asy-Sya’bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
“Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya.”

Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.

Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.

Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.

Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya,
“Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih.”

Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
“Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, ‘Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.'”

Pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya.

Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum’at di masjid Jami’ yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang ‘alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami’ Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.

Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.

Catatan:
Sebagai bahan tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:

Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
Wafayat Al-A’yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
Mizan Al-I’tidal: 1/254 dan setelahnya.
Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 82

Syuraih Al-Qadli

(Sisi-Sisi Keadilan Islam Nan Membuat Air Mata Menitik Terharu)

“Ada orang yang bertanya kepada Syuraih, ‘Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini?.’ Dia menjawab, ‘Dengan bermudzakarah bersama para ulama; Aku mengambil dari mereka dan mereka mengambil dariku” (Sufyan al-Ausi)

Amirul mu’minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dari seorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudian menaiki kudanya dan pergi.

Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segera kembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orang Badui tersebut,
“Ambillah kudamu, karena ia terluka.”
Maka orang itu menjawab, “Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirul mu’minin- karena aku telah menjualnya kepada anda dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun.”
Lalu Umar berkata, “Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramu dan aku.”
Lalu orang itu berkata, “Yang akan menghakimi di antara kita adalah Syuraih bin al-Harits al-Kindi.”
Lalu Umar berkata, “Baiklah, aku setuju.”

Amirul mu’minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkan perkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orang Badui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata,
“Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul mu’minin?.”
“Ya.” Jawab ‘Umar
Syuraih berkata, “Simpanlah apa yang anda beli- wahai Amirul mu’minin- atau kembalikanlah sebagaimana anda menerima.”

Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata,
“Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusan yang adil. Pergilah anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagai hakim (Qadli) di sana.”

Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlah seorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yang kedudukannya tidak terdeteksi oleh ulama dan Ahli Ra’yi dari kalangan para pembesar Sahabat dan Tabi’in.

Orang-orang besar dan generasi dahulu, telah mengetahui kecerdasan dan kecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia dan pengalaman hidupnya yang lama dan mendalam.

Dia adalah seorang berkebangsaan Yaman dan keturunan Kindah, mengalami hidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.

Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinar Islam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang-orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayah dan kebenaran.
Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dan keistimewaannya.

Mereka sangat menyayangkan dan bercita-cita andaikata dia ditakdirkan untuk datang ke Madinah lebih awal sehingga bertemu Rasulullah SAW sebelum beliau kembali kepada Tuhannya, dan mentransfer ilmu beliau yang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara dan supaya beruntung mendapatkan predikat “sahabat” setelah mengenyam nikmatnya iman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan.
Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Rasulullah.

Umar al-Faruq radliyallâhu ‘anhu tidaklah tergesa-gesa, ketika menempatkan seorang Tabi’in pada posisi besar di peradilan, sekalipun pada waktu itu langit-langit Islam masih bersinar-sinar dengan bintang-bintang sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Waktu telah membuktikan kebenaran firasat Umar dan ketepatan tindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaum muslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.

Pengakuan terhadap kapasitasnya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyallâhu ‘anhum.

Begitu pula dia diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut.

Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.

Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang dengan sikap Syuraih yang menawan dan berkibar dengan ketundukan kalangan elit dan awam kaum Muslimin terhadap syari’at Allah yang ditegakkan Syuraih dan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya.
Buku-buku induk penuh dengan keunikan, berita, perkataan dan tindakan tokoh langka satu ini.

Di antara contohnya adalah, bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib RA kehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berharga baginya.
Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafir dzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah.
Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata,
“Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, i tempat anu.”
Lalu kafir Dzimmi itu berkata, “Ini adalah baju besiku dan sekarang ada di tanganku, wahai Amirul mu’minin.”
Lalu Ali berkata,
“Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu.”

Lalu orang kafir itu berkata, “Mari kita putuskan melalui seorang Hakim kaum Muslimin.”
Lalu Ali berkata, “Kamu benar, mari kita ke sana.”
Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanya telah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali RA, “Ada apa wahai Amirul mu’minin?.”

Lalu Ali menjawab, “Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu. Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah.”

Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu, “Dan apa jawabmu, wahai orang laki-laki?.”
Lalu dia menjawab, “Baju besi ini adalah milikku dan ia ada di tanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu’minin berdusta.”
Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata,
“Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul mu’minin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang anda klaim tersebut.”

Lalu Ali berkata, “Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akan bersaksi untukku.”
Maka Syuraih berkata,
“Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirul mu’minin.”
Lalu Ali berkata, “Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya!! Apakah anda tidak mendengar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemuda ahli surga.”

Lalu Syuraih berkata, “Benar wahai Amirul mu’minin! namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya.”
Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata,
“Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya.”
Maka kafir Dzimmi itu berkata,
“Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul mu’minin.”

Kemudian dia meneruskan perkataannya,
“Ya Allah! Kok ada Amirul mu’minin menggugatku di hadapan hakim yang diangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkaraku terhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah.”
Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirul mu’minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin (Suatu daerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali dan Muawiyah RA) lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarna abu-abu, lalu memungutnya.”

Maka Ali RA berkata kepadanya,
“Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu, dan aku memberimu juga seekor kuda.”

Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukan mati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawah bendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalam berperang hingga dia mati syahid.”

Di antara sikap menawan yang ditunjukkan juga oleh Syuraih adalah bahwa pernah suatu hari, putranya berkata kepadanya, “Wahai ayahku, sesungguhnya antara aku dan kaum kita ada perselisihan, maka telitilah perkaranya; jika kebenaran ada di pihakku, aku akan menggugat mereka ke pengadilan dan jika kebenaran ada di pihak mereka, aku akan mengajak mereka berdamai.” Kemudian sang putra menuturkan kisahnya kepada ayahnya.

Lalu ayahnya berkata kepadanya, “Kalau begitu, pergilah dan ajukan mereka ke pengadilan.”
Lalu putranya menemui lawannya dan mengajak mereka memperkarakannya ke pengadilan. Mereka pun menyetujuinya.

Dan ketika mereka telah berada di hadapan Syuraih, Syuraih memenangkan perkara mereka terhadap putranya.

Ketika syuraih dan putranya telah pulang ke rumah, sang putra berkata kepada ayahnya, “Engkau telah mempermalukanku, wahai ayahku!” Demi Allah seandainya aku tidak mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepadamu, tentu aku tidak akan mengecammu seperti ini.”
Maka syuraih berkata, “Wahai anakku, Sungguh engkau memang lebih aku cintai daripada bumi dan seisinya, akan tetapi Allah ‘Azza wa Jalla lebih Mulia dan berharga bagiku daripada dirimu. Bila aku beritahukan kepadamu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, aku khawatir engkau akan mengajak mereka berdamai dimana hal ini akan menghilangkan sebagian hak mereka. Karenanya, aku mengatakan kepadamu seperti itu tadi.”

Pernah terjadi bahwa anak Syuraih menjadi jaminan seseorang, dan Syuraih menerimanya, ternyata orang itu kabur dari pengadilan. Maka Syuraih memenjarakan anaknya sebagai ganti jaminan orang yang kabur itu.
Akhirinya, Syuraih sendiri yang mengirimi makanannya setiap hari ke penjara.

Terkadang, Syuraih meragukan sebagian saksi. Namun dia tidak mendapatkan jalan untuk menolak kesaksiannya, karena syarat keadilan telah mencukupi mereka, maka dia berkata kepada mereka sebelum mereka menyatakan kesaksiannya,

“Dengarkanlah aku -mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda semua- Sesungguhnya yang menghakimi orang ini adalah kalian sendiri. Dan sesungguhnya aku hanya menjaga diri dari api neraka melalui kalian. Karena itu, bila kalian sendiri yang berlindung darinya adalah lebih utama lagi.”
Sekarang memungkinkan bagi kalian untuk tidak memberikan kesaksian dan berlalu.

Jika mereka bersikeras untuk bersaksi, Syuraih menoleh kepada orang yang mereka bersaksi untuknya, seraya berkata,
“Ketahuilah, wahai tuan, sesungguhnya aku mengadili anda melalui kesaksian mereka. Dan sesungguhnya aku melihat anda adalah orang yang dzalim. Akan tetapi aku tidak boleh memberikan putusan berdasarkan sangkaan, tetapi berdasarkan kesaksian para saksi. Dan sesungguhnya keputusanku, tidak menghalalkan sama sekali apa yang diharamkan Allah terhadapmu.”

Dan ungkapan yang sering diulang-ulang oleh Syuraih di ruang sidangnya adalah perkataannya,
“Besok orang dzalim akan mengetahui siapa yang rugi. Sesungguhnya orang yang dzalim sedang menunggu siksa. Sedangkan orang yang teraniaya menunggu keadilan. Dan sesungguhnya aku bersumpah kepada Allah, bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla, kemudian dia merasa kehilangannya.”

Syuraih bukan hanya sebagai penasehat karena Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya saja, akan tetapi dia juga penasehat untuk kalangan awam dan kalangan khusus kaum muslimin semua.
Salah seorang dari mereka meriwayatkan, “Syuraih memperdengarkan kepadaku suatu ucapan saat aku mengadukan sebagian sesuatu yang meresahkanku karena ulah seorang kawanku.
Lantas Syuraih memegang tanganku dan menarikku ke pinggir seraya berkata,
“Wahai anak saudaraku, janganlah kamu mengadu kepada selain Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya orang yang kamu mengadu kepadanya, bisa jadi dia adalah kawanmu atau musuhmu. Kalau dia kawan, berarti kamu akan membuatnya bersedih. Dan kalau dia musuh, maka kamu akan ditertawakannya.”

Kemudian dia berkata, “Lihatlah mataku ini- dan dia menunjuk ke salah satu matanya- Demi Allah, aku tidak bisa melihat seseorang dan jalan karenanya sejak lima belas tahun lalu. Sekalipun demikian, aku tidak ceritakan kepada siapapun mengenainya, kecuali kepadamu sekarang ini. Tidakkah kamu mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh (yakni Nabi Ya’qub a.s), ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'(Yusuf:86). Maka jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tempat mengadu dan melampiaskan kesedihanmu setiap kali musibah menimpamu.

Karena Dia adalah Dzat Yang paling Dermawan dan Yang paling dekat untuk diseru.”
Pada suatu hari, dia melihat ada seseorang sedang meminta sesuatu kepada orang lain, lalu dia berkata kepadanya,
“Wahai anak saudaraku, siapa yang memohon hajat kepada manusia, maka dia telah menjerumuskan dirinya ke dalam perbudakan. Jika orang yang diminta itu memberinya, maka dia telah menjadikannya budak karena pemberian itu.

Dan jika orang itu tidak memberinya, maka keduanya akan kembali dengan kehinaa. Yang satu, hina karena bakhil sedangkan yang satu lagi hina karena ditolak.
Maka jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah.
Dan ketahuilah, bahwa tidak ada upaya, kekuatan dan pertolongan kecuali dengan Allah.

Saat suatu ketika, di Kufah telah mewabah penyakit Tha’un, lalu salah seorang sahabat Syuraih kabur dari sana menuju ke Najef untuk menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, maka Syuraih mengirim surat kepadanya,
“Amma ba’du, Sesungguhnya daerah yang kamu tinggalkan tidak mendekatkan kematianmu dan tidak juga merampas hari-harimu.
Dan sesungguhnya daerah yang kamu pindah ke sana adalah berada dalam genggaman Dzat Yang tidak bisa dikalahkan dengan usaha dan tidak akan luput pelarian itu dari-Nya.

Dan sesungguhnya kami dan kamu juga berada di atas hamparan Raja Yang Satu.
Dan sesungguhnya Najef adalah sangat dekat dari Dzat Yang Maha Kuasa.”
Di samping hal itu semua, Syuraih juga seorang penyair, mudah dicerna, manis penyampaiannya dan tema-temanya begitu memikat.

Menurut suatu riwayat, dia mempunyai seorang anak berumur sekitar sepuluh tahun, dan anak itu lebih suka meghabiskan waktu untuk bermain dan berhura-hura.
Pada suatu hari dia kehilangan anak itu, dan ternyata anak itu tidak masuk sekolah dan menggunakan wakut tersebut untuk melihat anjing-anjing.
Dan ketika anak itu pulang, dia bertanya kepadanya, Apakah kamu sudah shalat?
Maka anak itu menjawab, Belum.
Lalu Syuraih meminta kertas dan pena, lalu menulis surat kepada guru anak itu dalam untain berikut:

Anak ini meninggalkan shalat karena mencari anjing-anjing
Mengincar kejelekan bersama anak-anak nakal
Sungguh dia akan menemuimu besok membawa secarik lembaran
Dituliskan untuknya seperti lembaran pemohon (minta dieksekusi)
Jika dia datang kepadamu, maka obatilah dengan celaan
Atau nasehati dengan nasehat orang bijak lagi cerdik
Jika ingin memukulnya, maka pukullah dengan alat
Jika pukulan telah sampai tiga kali, maka hentikanlah
Ketahuilah bahwa anda tidak akan mendapatkan sepertinya
Apapun yang diperbuatnya, ia adalah jiwa yang paling berharga bagiku

Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.

Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yang hingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefiqihannya terhadap syariat Allah.
Berpetunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah.
Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat.
Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih aql-Qadhli.

Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluh tahun, tidak pernah berbuat dzalim terhadap siapapun, tidak pernah melenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara raja dan masyarakat biasa.

CATATAN:
Sebagai bahan tambahan biografi Syuraih al-Qadli, silahkan baca:

ath-Thabaqat al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d, 6/11, 34, 94, 108, 109, 170, 206, 268, dan 7/151, 194, 453 dan 8/ 494.
Shifat ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi (cetakan Halb), 3/38.
Hilyatu al-Auliya, oleh Al-Ashfahani, 4/256-258.
Tarikh ath-Thabari, oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jilid 4,5,6 (Lihat daftar isi di jilid 10)
Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, 129, 158, 184, 217, 251, 266, 298, 304.
Syadzarat adz-Dzahab, 1/85-86.
Fawat al-Wafayat, 2/167-169.
Kitab al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib, 80-81.
al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib, 305, 387.
Dairatu al-Ma’arif, oleh farid Wajdi, 5/373-473.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 81

‘Urwah Bin Az-Zubair

(Kakinya Dibuntung Dengan Gergaji, Karena Menolak Khamar Dan Bius)

“Barangsiapa ingin melihat seseorang dari ahli Surga, hendaklah ia melihat ‘Urwah bin az-Zubair” (Abdul Malik bin Marwan)

Baru saja matahari sore itu memancarkan sinarnya di Baitul Haram dan mempersilahkan jiwa-jiwa yang bening untuk mengunjungi buminya yang suci tatkala sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW dan para pembesar tabi’in mulai berthawaf di sekeliling Ka’bah, mengharumkan suasana dengan pekikan tahlil dan takbir dan memenuhi hamparan dengan do’a-do’a kebaikan.

Dan tatkala orang-orang membuat lingkaran per-kelompok di sekitar Ka’bah nan agung, yang berdiri kokoh di tengah Baitul Haram dalam kondisi yang berwibawa dan agung. Mereka memenuhi pandangan dengan keindahannya yang memikat, dan memoderator pembicaraan-pembicaraan di antara mereka tanpa keisengan dan perkataan dosa.

Di dekat Rukun Yamani, duduklah empat orang pemuda yang masih remaja dan terhormat nasabnya serta berbaju harum seakan-akan mereka bagaikan merpati-merpati masjid, berbaju mengkilat dan membuat hati jinak karenanya.

Mereka itu adalah ‘Abdullah bin az-Zubair, saudaranya; Mus’ab bin az-Zubair, saudara mereka berdua; Urwah bin az-Zubair dan Abdul Malik bin Marwan.
Terjadi perbincangan ringan dan sejuk di antara anak-anak muda ini, lalu tidak lama kemudian salah seorang di antara mereka berkata,

“Hendaklah masing-masing dari kita memohon kepada Allah apa yang hendak dia cita-citakan.”

Maka khayalan mereka terbang ke alam ghaib nan luas, angan-angan mereka berputar-putar di taman-taman harapan nan hijau, kemudian Abdullah bin az-Zubair berkata,

“Cita-citaku, aku ingin menguasai Hijaz dan memegang khilafah.”

Saudaranya, Mus’ab berkata,
“Kalau aku, aku ingin menguasai dua Irak (Kufah dan Bashrah) sehingga tidak ada orang yang menyaingiku.”

Sedangkan Abdul Malik bin Marwan berkata,
“Jika anda berdua hanya puas dengan hal itu saja, maka aku tidak akan puas kecuali menguasai dunia semuanya dan aku ingin memegang kekhilifahan setelah Muawiyah bin Abi Sufyan.”

Sementara ‘Urwah bin az-Zubair terdiam dan tidak berbicara satu kalimat pun, maka saudara-saudaranya tersebut menoleh ke arahnya dan berkata,
“Apa yang kamu cita-citakan wahai Urwah?”

Dia menjawab, “Mudah-mudahan Allah memberkati kalian semua terhadap apa yang kalian cita-citakan dalam urusan dunia kalian. Sedangkan aku hanya bercita-cita ingin menjadi seorang ‘alim yang ‘Amil (Mengamalkan ilmunya), orang-orang belajar Kitab Rabb, Sunnah Nabi dan hukum-hukum agama mereka kepadaku dan aku mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan ridla Allah dan mendapatkan surga-Nya.”

Kemudian waktu pun berjalan begitu cepat, sehingga memang kemudian Abdullah bin az-Zubair dibai’at menjadi Khalifah setelah kematian Yazid bin Muawiyah (Khalifah ke dua dari khilafah Bani Umayyah), dan dia pun menguasai kawasan Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Iraq. Kemudian dia dibunuh di sisi Ka’bah tidak jauh dari tempat dimana dia pernah bercita-cita tentang hal itu.

Dan ternyata Mus’ab bin Az-Zubair pun menguasai pemerintahan Iraq sepeninggal saudaranya, ‘Abdullah namun dia juga dibunuh di dalam mempertahankan kekuasaannya tersebut.

Demikian pula, Abdul Malik bin Marwan memangku jabatan Khalifah setelah ayahnya wafat, dan di tangannya kaum Muslim bersatu setelah pembunuhan terhadap ‘Abdullah bin az-Zubair dan saudaranya, Mus’ab di tangan pasukan-pasukannya. Kemudian dia menjadi penguasa terbesar di dunia pada zamannya.

Lalu bagaimana dengan ‘Urwah bin Az-Zubair? Mari kita mulai kisahnya dari pertama.

‘Urwah bin az-Zubair dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhilafahan Umar al-Faruq, di dalam keluarga paling terpandang dan terhormat kedudukannya dari sekian banyak keluarga-keluarga kaum muslimin.

Ayahnya adalah az-Zubair bin al-‘Awwam, sahabat dekat dan pendukung Rasulullah SAW, orang pertama yang menghunus pedang di dalam Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

Ibunya bernama Asma` binti Abu Bakar yang bergelar berjuluk “Dzatun Nithaqain” (Pemilik dua ikat pinggang. Hal ini karena dia merobek ikat pinggangnya menjadi dua pada saat hijrah, salah satunya dia gunakan untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan yang satu lagi dia gunakan untuk mengikat bekal makanannya).

Kakeknya pancar (dari pihak) ibunya tidak lain adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah SAW dan sahabatnya ketika berada di dalam goa (Tsur). Neneknya pancar (dari pihak) ayahnya bernama Shafiyyah binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah SAW sedangkan bibinya adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah RA. Pada saat jenazah ‘Aisyah dikubur, ‘Urwah sendiri yang turun ke kuburnya dan meratakan liang lahadnya dengan kedua tangannya.

Apakah anda mengira bahwa setelah kedudukan ini, ada kedudukan lain dan bahwa di atas kemuliaan ini, ada kemuliaan lain selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam?

Untuk merealisasikan cita-cita yang telah diharapkannya perkenaan Allah atasnya saat di sisi Ka’bah itu, dia tekun di dalam mencari ilmu dan memfokuskan diri untuknya serta menggunakan kesempatan untuk menimba ilmu dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup.

Dia rajin mendatangi rumah-rumah mereka, shalat di belakang mereka dan mengikuti pengajian-pengajian mereka, sehingga dia berhasil mentrasfer riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas dan an-Nu’man bin Basyir. Dia banyak sekali mentransfer riwayat dari bibinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin sehingga dia menjadi salah satu dari tujuh Ahli fiqih Madinah (al-Fuqahâ` as-Sab’ah) yang menjadi rujukan kaum muslimin di dalam mempelajari agama mereka.

Para pejabat yang shaleh meminta bantuan mereka di dalam mengemban tugas yang dilimpahkan Allah kepada mereka terhadap urusan umat dan negara.
Di antara contohnya adalah tindakan Umar bin Abdul Aziz ketika datang ke Madinah sebagai gubernurnya atas mandat dari al-Walid bin Abdul Malik. Orang-orang datang kepadanya untuk menyampaikan salam.

Ketika selesai melaksanakan shalat dhuhur, dia memanggil sepuluh Ahli fiqih Madinah yang diketuai oleh ‘Urwah bin Az-Zubair. Ketika mereka sudah berada di sisinya, dia menyambut mereka dengan sambutan hangat dan memuliakan tempat duduk mereka. Kemudian dia memuji Allah ‘Azza wa Jalla dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas bagi-Nya, lalu berkata,

“Sesungguhnya aku memanggil kalian semua untuk sesuatu yang kiranya kalian semua diganjar pahala karenanya dan menjadi pendukung-pendukungku dalam berjalan di atas kebenaran. Aku tidak ingin memutuskan sesuatu tanpa pendapat kalian semua, atau pendapat orang yang hadir dari kalian-kalian semua. Jika kalian semua melihat seseorang menyakit orang lain, atau mendengar suatu kedzaliman dilakukan oleh pegawaiku, maka demi Allah, aku meminta agar kalian melaporkannya kepadaku.”

Maka ‘Urwah bin az-Zubair mendo’akan kebaikan baginyanya dan memohon kepada Allah agar menganugerahinya ketepatan (dalam bertindak dan berbicara) dan mendapatkan petunjuk.

‘Urwah bin az-Zubair benar-benar menyatukan ilmu dan amal. Dia banyak berpuasa di kala hari demikian teriknya dan banyak shalat malam di kala malam gelap gulit, selalu membasahkan lisannya dengan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Selain itu, dia selalu menyertai Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dan tekun membacanya. Setiap harinya, dia membaca seperempat al-Qur’an dengan melihat ke Mushafnya.

Kemudian dia membacanya di dalam shalat malam hari dengan hafalan.
Dia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya itu semenjak menginjak remaja hingga wafatnya, kecuali satu kali disebabkan adanya musibah yang menimpanya. Mengenai apa musibah itu, akan dihadirkan kepada pembaca nanti.

Sungguh ‘Urwah bin az-Zubair mendapatkan kedamaian hati, kesejukan mata dan surga dunia di dalam shalatnya, karenanya, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya, melengkapi syarat rukunnya dengan sempurna dan berlama-lama di dalamnya.

Diriwayatkan tentangnya bahwa dia pernah melihat seorang yang sedang melakukan shalat dengan ringan (cepat), maka ketika orang itu telah selesai shalat, dia memanggilnya dan berkata kepadanya, “Wahai anak saudaraku, Apakah anda tidak mempunyai keperluan kepada Tuhanmu ‘Azza wa Jalla?! Demi Allah sesungguhnya aku memohon kepada Allah di dalam shalatku segala sesuatu bahkan garam.”

‘Urwah bin Az-Zubair adalah juga seorang dermawan, pema’af dan pemurah. Di antara contoh kedermawanannya, bahwa dia mempunyai sebuah kebun yang paling luas di seantero Madinah. Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindang dan kurma-kurmanya tinggi. Dia memagari kebunnya selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak. Dan, jika sudah datang waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang mudah untuk memasukinya.

Maka mereka pun memasukinya, datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Dan setiap kali dia memasuki kebunnya ini, dia mengulang-ulang firman Allah, “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu ” MASYA ALLAH, LAA QUWWATA ILLA BILLAH” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)” (Q.,s.al-Kahfi:39)

Dan pada suatu tahun dari kekhilafahan al-Walid bin Abdul Malik (khalifah ke enam dari khalifah-khalifah Bani Umayyah, dan pada zamannya kekuasaan Islam mencapai puncaknya), Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk menguji ‘Urwah bin az-Zubair dengan ujian yang berat, yang tidak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh dengan keimanan dan keyakinan.

Khalifah kaum muslimin mengundang ‘Urwah bin az-Zubair supaya mengunjunginya di Damaskus, lalu Urwah memenuhi undangan tersebut dan membawa serta putra tertuanya.

Dan ketika sudah datang, Khalifah menyambutnya dengan sambutan yang hangat dan memuliakannya dengan penuh keagungan. Namun saat di sana, Allah SWT berkehendak lain, tatkala putra ‘Urwah memasuki kandang kuda al-Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, lalu salah satu dari kuda itu menendangnya dengan keras hingga dia meninggal seketika.

Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu dengan sangat cepat berkembang dan menjalar.

Karena itu, Khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Akan tetapi, para dokter sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis ‘Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Maka, tidak ada alasan lagi untuk tidak menerima kenyataan itu.

Ketika dokter bedah datang untuk memotong betis ‘Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging serta gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada ‘Urwah,

“Menurutku anda harus meminum sesuatu yang memabukkan supaya anda tidak merasa sakit ketika kaki anda dipotong.”

Maka Urwah berkata,
“O..tidak, itu tidak mungkin! Aku tidak akan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang aku harapkan.”

Maka dokter itu berkata lagi,
“Kalau begitu aku akan membius anda.”

Urwah berkata,
“Aku tidak ingin, kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengharap pahala di sisi Allah atas hal ini.”

Ketika dokter bedah itu mulai memotong betis, datanglah beberapa orang tokoh kepada ‘Urwah, maka ‘Urwah pun berkata,
“Untuk apa mereka datang?.”

Ada yang menjawab,
“Mereka didatangkan untuk memegang anda, barangkali anda merasakan sakit yang amat sangat, lalu anda menarik kaki anda dan akhirnya membahayakan anda sendiri.”

Lalu ‘Urwah berkata,
“Suruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan berharap kalian merasa cukup dengan dzikir dan tasbih yang aku ucapkan.”

Kemudian dokter mendekatinya dan memotong dagingnya dengan alat bedah, dan ketika sampai kepada tulang, dia meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara ‘Urwah membaca, “Lâ ilâha illallâh, wallâhu Akbar.”

Dokter terus menggergaji, sedangkan ‘Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga akhirnya kaki itu buntung.

Kemudian dipanaskanlah minyak di dalam bejana besi, lalu kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, ‘Urwah pingsan sekian lama yang menghalanginya untuk membaca jatah membaca Kitab Allah pada hari itu. Dan itu adalah satu-satunya kebaikan (bacaan al-Qur’an) yang terlewati olehnya semenjak dia menginjak remaja. Dan ketika siuman, ‘Urwah meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya berkata,

“Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha mengetahui bahwa aku tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang haram.”

Kemudian dia mengucapkan bait-bait sya’ir karya Ma’n bin Aus,

Demi Engkau, aku tidak pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan
Kakiku tidak pernah mengajakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah menggiringku kepadanya
Pendapatku dan akalku tidak pernah menunjuk kepadanya
Ketahuilah, sesungguhnya tidaklah musibah menimpaku sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku

Al-Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula, maka al-Walid tidak bosan-bosan menjenguknya dan mensugestinya untuk bersabar terhadap musibah yang dialaminya.

Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani ‘Abs singgah di kediaman Khalifah, di antara mereka ada seorang buta, lalu al-Walid bertanya kepadanya perihal sebab kebutaannya, lalu orang itu mejawab,

“Wahai Amirul mukminin, di dalam komunitas Bani ‘Abs tidak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku, lalu terjadi banjir besar yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu menghanyutkan semua yang aku miliki; harta, keluarga dana anak. Yang tersisa hanyalah seekor onta dan bayi yang baru lahir. Sedangkan onta yang tersisa itu adalah onta yang binal sehingga lepas. Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar onta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempat ku hingga tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala yang sedang menyantapnya. Aku segera menyongsongnya namun sayang aku tidak bisa menyelamatkannya, karena srigala telah membunuhnya. Lalu aku mengejar onta dan ketika aku berada di dekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendangan itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku di dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata.”

Maka al-Walid berkata kepada pengawalnya,
“Ajaklah orang ini menemui tamu kita ‘Urwah bin az-Zubair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supaya ‘Urwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya.”

Ketika ‘Urwah diangkut ke Madinah dan dipertemukan dengan keluarganya, dia mendahului mereka dengan ucapan,

“Jangan kalian merasa ngeri terhadap apa yang kalian lihat. Allah ‘Azza wa Jalla telahmenganugerahuiku empat orang anak, lalu mengambil satu di antara mereka dan masih menyisakan tiga orang lagi. Segala puji hanya untuk-Nya. Dan Dia memberiku empat anggota badan, kemudian Dia mengambil satu darinya dan menyisakan tiga untukku, maka segala puji bagi-Nya. Dia juga telah memberiku empat buah yang memiliki ujung (kedua tangan dan kedua kaki-red.,), lalu Dia mengambilnya satu dan menyisakan tiga buah lagi untukku. Dan demi Allah, Jika pun Dia telah mengambil sedikit dariku namun telah menyisakan banyak untukku. Dan jika pun Dia mengujiku satu kali namun Dia telah mengaruniaiku kesehatan berkali-kali.”

Ketika penduduk Madinah mengetahui kedatangan imam dan orang ‘alim mereka, ‘Urwah bin az-Zubair, mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk menghibur dan menjenguknya. Di antara untaian kata ta’ziah yang paling berkesan adalah perkataan Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah kepadanya,

“Bergembiralah wahai Abu Abdillah! salah satu anggota badan dan anakmu telah mendahuluimu menuju surga dan yang keseluruhannya akan mengikuti yang sebagiannya itu, insya Allah Ta’ala. Sungguh, Allah telah menyisakan sesuatu darimu untuk kami yang sangat kami butuhkan dan perlukan, yaitu ilmu, fiqih dan pendapat anda. Mudah-mudahan Allah menjadikan hal itu bermanfaat bagimu dan kami. Allah lah Dzat Yang Maha menanggung pahala untukmu dan Yang menjamin balasan kebaikan amalmu.”

‘Urwah bin az-Zubair tetap menjadi menara hidayah, petunjuk kebahagiaan dan penyeru kebaikan bagi kaum muslimin sepanjang hidupnya. Dia sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya, khususnya, dan anak-anak kaum muslimin lainnya, umumnya. Dia tidak pernah membiarkan kesempatan berlalu tanpa digunakannya untuk memberikan penyuluhan dan nasehat kepada mereka.

Di antara contohnya, dia selalu mendorong anak-anaknya untuk menuntut ilmu ketika berkata kepada mereka,

“Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan kerahkanlah segala kemampuan dengan semestinya. Karena, jika kamu sekarang ini hanya sebagai orang-orang kecil, mudahan-mudahan saja berkat ilmu, Allah menjadikan kamu orang-orang besar.”

Penuturan lainnya,
“Aduh betapa buruknya, apakah di dunia ini ada sesuatu yang lebih buruk daripada orang tua yang bodoh?.”

Dia juga menyuruh mereka untuk menilai sedekah sebagai hadiah yang dipersembahkan untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu, dalam ucapannya,

“Wahai anakku, janganlah sekali-kali salah seorang di antara kamu mempersembahkan hadiah kepada Rabb-nya berupa sesuatu yang dia merasa malu kalau dihadiahkan kepada tokoh yang dimuliakan dari kaumnya. Karena Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Paling Mulia, dan Paling Dermawan serta Yang Paling Berhak untuk dipilihkan untuk-Nya.”

Dia juga pernah memberikan pandangan kepada mereka (anak-anaknya) tentang tipikal manusia dan seakan mengajak mereka menembus langsung menuju siapa inti dari mereka itu,

“Wahai anakku, jika kamu melihat seseorang berbuat kebaikan yang amat menawan, maka harapkanlah kebaikan dengannya meskipun di mata orang lain, dia seorang jahat, karena kebaikan itu memiliki banyak saudara. Dan jika kamu melihat seseorang berbuat keburukan yang nyata, maka menghindarlah darinya meskipun di mata orang lain, dia adalah orang baik, karena keburukan itu juga memiliki banyak saudara. Dan ketahuilah bahwa kebaikan akan menunjukkan kepada saudara-saudaranya (jenis-jenisnya yang lain), demikian pula dengan keburukan.”

Dia juga berwasiat kepada anak-anaknya supaya berlaku lemah lembut, berbicara baik dan bermuka ramah. Dia berkata,
“Wahai anakku, sebagaimana tertulis di dalam hikmah, ‘Hendaklah kamu berkata-kata baik dan berwajah ramah niscaya kamu akan lebih dicintai orang ketimbang cinta mereka kepada orang yang selalu memberikan mereka hadiah.”

Bilamana dia melihat manusia cenderung untuk berfoya-foya dan menilai baik kenikmatan duniawi, dia mengingatkan mereka akan kondisi Rasulullah SAW yang penuh dengan kesahajaan kehidupan dan kepapaan.

Di antara contohnya adalah sebagaimana yang diceritakan Muhammad bin al-Munkadir (seorang tabi’i dari penduduk Madinah, wafat pada tahun 130 H),

“Saat ‘Urwah bin az-Zubair menemuiku dan memegang tanganku, dia berkata, ‘Wahai Abu Abdullah.’
Lalu aku menjawab, “Labbaik.”
Kemudian dia berkata,
“Saat aku menemui Ummul mukminin ‘Aisyah RA, dia berkata, ‘Wahai anakku.’
Lalu aku menjawab, ‘Labbaik.’
Beliau berkata lagi, ‘Demi Allah, sesungguhnya kami dahulu pernah sampai selama empat puluh malam tidak menyalakan api di rumah Rasulullah SAW, baik untuk lentera ataupun yang lainnya.’
Lalu aku berkata, ‘Wahai Ummi, bagaimana kalian semua dapat hidup?’
Beliau menjawab, ‘Dengan dua benda hitam (Aswadân); kurma dan air.’

Selanjutnya ‘Urwah bin az-Zubair hidup hingga mencapai usia 71 tahun, yang diisinya dengan kebaikan, kebajikan dan ketakwaan.

Ketika ajal menjelang, dia sedang berpuasa, lalu keluarganya ngotot memintanyanya agar berbuka saja namun dia menolak. Sungguh dia telah menolak, karena dia berharap kalau kelak dia bisa berbuka dengan seteguk air dari sungai Kautsar di dalam bejana emas dan di tangan bidadari.

CATATAN :
Sebagai bahan bacaan, silahkan merujuk ke:

ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, 1:406; 2:382, 387; 3:100; 4:167; 5:334; 8:102.

Hilyatu al-Auliya` karya Abu Nuaim, 2/176.

Shifat ash-Shafwah, karya Ibnu al-Jauzi, 2:87.

Wafayat al-A’yan, karya Ibnu Khalakan, 3: 255.

Ansabu al-Asyraf, karya al-Baladziri

Jamharatu Ansabi al-‘Arab, karya Ibnu Hazm

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 80

Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzani

(Sosok Yang Dijadikan Icon Kecerdasan)

“Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas.”(Abu Tammam)
Semalaman Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz, tidak dapat tidur, matanya susah terpejam dan beliau diliputi kegelisahan yang amat sangat. Pada malam yang dingin saat keberadaannya di Damaskus, beliau sedang sibuk memikirkan siapa yang bakal dipilih menjadi Qadli (hakim) untuk kawasan Bashrah (suatu kota yang dibangun oleh kaum muslimin setelah Irak ditaklukkan mereka.) yang kelak akan menegakkan keadilan di tengah masyarakat, memberikan putusan sesuai dengan hukum Allah dan dalam menegakkan al-Haq, dia tidak sedikitpun takut baik di saat senang ataupun ketakutan.

Pilihannya hanya tertuju pada dua orang yang sama-sama kredibel, memiliki pemahaman agama yang baik, tegar di dalam menegakkan kebenaran, memiliki pemikiran yang bercahaya dan jeli di dalam memandang sesuatu.

Setiap kali beliau mendapatkan kelebihan pada salah satunya dalam satu sisi, beliau juga menemukan kelebihan itu ada pada yang satunya lagi dalam sisi yang lain.

Pada pagi harinya, beliau memanggil gubernur untuk Irak, ‘Adiy bin Artha‘ah -yang ketika sedang berada di sisinya di Damaskus- seraya berkata kepadanya,
“Wahai ‘Adiy, pertemukanlah antara Iyas bin Muawiyah al-Muzanni dan al-Qasim bin Rabi’ah al-Haritsi. Berbicaralah kepada keduanya mengenai peradilan Bashrah dan pilihlah salah satu dari keduanya sebagai Qadli.”
Adiy berkata,
“Sam’an wa tha’atan, (mendengar dan patuh) terhadap titahmu, wahai Amirul mu’minin.”

Akhirnya, Adiy bin Artha‘ah mempertemukan antara Iyas dan al-Qasim seraya berkata,
“Sesungguhnya Amirul mu’minin- mudah-mudahan Allah memanjangkan umurnya- menyuruhku supaya mengangkat salah satu dari anda berdua untuk menjadi Qadli di Bashrah, bagaimana pendapat kalian?”

Maka masing-masing mereka berbicara tentang kawannya, bahwa dia lebih berhak daripada dirinya dengan jabatan ini dan menyinggung keutamaan, ilmu dan fiqihnya serta hal-hal lainnya.
Adiy berkata,
“Kalian berdua tidak boleh meningalkan majlisku ini kecuali bila telah kalian selesaikan urusan ini.”
Lalu Iyas berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, ‘Tanyakanlah kepada dua orang ahli fiqih Irak; al-Hasan al-Bashri (sudah dibahas tentangnya pada kajian sebelumnya-red.,) dan Muhammad bin Sirin (juga telah dibahas-red.,) tentang saya dan al-Qasim, karena keduanya adalah orang yang paling bisa membedakan antara kami berdua.”

Pada waktu sebelumnya, al-Qasim banyak mengunjungi kedua ahli fiqih tersebut, sedangkan Iyas tidak ada hubungan sama sekali dengan keduanya. Maka tahulah al-Qasim bahwa Iyas sebenarnya ingin melibatkannya (sehingga menjadi Qadli dimana mereka berdua saling menolaknya-red.,).

Demikian juga, bila sang Amir (gubernur) meminta pendapat kepada keduanya, maka keduanya selalu menunjuk ke dirinya bukan orang yang bersamanya (Iyas).
Maka, dia langsung menoleh ke arah gubernur seraya berkata,
“Wahai Amir, jangan tanyakan lagi kepada siapa pun tentangku dan dia.!
Demi Allah Yang tidak ada Tuhan yang haq selain Dia, sesungguhnya Iyas adalah orang yang lebih faham tentang agama Allah dan lebih mengerti tentang peradilan daripadaku.
Jika aku berdusta di dalam sumpahku ini, maka engkau tidak boleh menunjukku sebagi Qadli, karena sudah saya melakukan kebohongan.
Dan jika aku berkata jujur, maka engkau juga tidak boleh menunjuk orang yang kurang keutamaannya padahal ada orang yang lebih utama darinya!.”

Maka Iyas menoleh ke arah gubernur dan berkata kepadanya,
“Wahai gubernur, sesungguhnya telah menghadirkan seseorang untuk engkau jadikan sebagai Qadli, namun engkau menghentikannya di pinggir neraka Jahannam, lalu dia berusaha menyelamatkan dirinya dengan sumpah palsunya yang senantiasa dia mohonkan agar Allah mengampuninya dan dia dapat selamat dari apa yang dia takutkan.”
Adiy berkata kepadanya,
“Seungguhnya orang yang memiliki pemahaman sepertimu ini amat pantas untuk dijadikan Qadli.” Kemudian dia menunjuknya sebagai Qadli di Bashrah.

Siapakah orang yang telah dipilih Khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz sebagai Qadli di Bashrah ini?
Siapakah dia orang yang karena kecerdasan, kecerdikan dan kecepatan pemahamannya itu dijadikan perumpamaan sebagaimana terjadi terhadap Hatim ath-Tha‘iy karena kedermawanannya, atau al-Ahnaf bin Qais karena kelemahlembutannya dan ‘Amr bin Mu’dikarib karena keberaniannya?.
Sehingga membuat Abu Tammam menguntai syair saat memuji Ahmad bin al-Mu’tashim,
Keberanian ‘Amr ditambah ketoleransian Hatim
Ditambah kelemahlembutan Ahnaf ditambah kecerdasan Iyas

Marilah kita mulai riwayat hidup tokoh kita ini dari awal. Tokoh ini memiliki riwayat hidup yang amat mengesankan dan tiadaduanya dalam rangkaian riwayat-riwayat hidup yang ada.

Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah al-Muzani dilahirkan pada tahun 46 H di kawasan Yamamah, Najd. Lalu pindah bersama keluarganya ke Bashrah yang kemudian di sana dia besar dan belajar.

Pada masa kecilnya dia sudah bolak-balik ke Damaskus dan menimba ilmu kepada para sahabat agung yang masih hidup dan para pemuka Tabi’in.

Anak ini sejak kecil telah menampakkan tanda-tanda kecerdikan dan kecerdasannya. Orang-orang mulai menjadikannya buah bibir dalam berita-berita dan hal-hal langka yang ada padanya padahal dia masih anak kecil.

Diriwayatkan bahwa dia pernah belajar ilmu hisab di sekolahan milik orang Yahudi dari golongan dzimmi. Lalu berkumpulllah orang-orang Yahudi di sisi sang guru.
Mereka kemudian berbincang-bincang seputar masalah agama, sedangkan Iyas mendengarkan mereka dengan seksama tanpa disadari oleh mereka. Guru itu berkata kepada sahabat-sahabatnya (orang-orang Yahudi tersebut),
“Apakah kalian tidak merasa heran terhadap orang-orang Islam yang mengklaim mereka bisa makan di surga tanpa membuang hajat (kotoran)!!

Lalu Iyas menoleh kepadanya sembari berkata,
“Apakah anda mengizinkanku, wahai guru, untuk berbicara tentang apa yang kalian perbincangkan barusan.?”
Guru itu berkata, “Ya, silahkan.”
Maka anak muda ini berkata,
“Apakah setiap apa yang dimakan di dunia keluar menjadi kotoran?”
Guru berkata, “Tidak.”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu ke mana perginya makanan yang tidak ke luar itu.?” Guru itu berkata,
“Pergi (hilang) dan menjadi makanan badan (gizi).”
Anak muda itu berkata lagi,
“Lalu apa alasan pengingkaran kalian terhadap sebagian apa yang kita makan di dunia pergi (hilang) dan menjadi makanan badan (gizi) bahwa kelak di surga semuanya menjadi makanan badan?”
Lalu guru itu mengangkat tangannya dan berkata kepadanya,
“Sungguh engkau ini anak yang luar biasa!”

Usia anak muda ini semakin bertambah dari tahun ke tahun dan kecerdasannya terus mengalami kemajuan sehingga beritanya sampai kemana pun dia berada.

Diriwayatkan, bahwa saat memasuki Damaskus dia masih anak kecil (belum mencapai usia baligh), lalu terjadi perselisihan pendapat antara dirinya dan seorang tua, penduduk Damaskus mengenai suatu hak. Ketika dia tidak bisa meyakinkan orangtua tersebut dengan hujjah, maka diapun mengajaknya ke pengadilan.

Ketika keduanya telah berada di hadapan Qadli (hakim), Iyas bersikap keras dan mengeraskan suaranya terhadap lawannya tersebut. Lalu Qadli berkata kepadanya, “Rendahkan suaramu! wahai anak muda sebab lawanmu ini adalah seorang yang tua umur dan kedudukannya.”

Lalu Iyas berkata,
“Akan tetapi, haq (kebenaran) lebih besar (tua) daripada dia.”
Maka Qadli marah kepadanya dan berkata, “Diam!”

Anak muda itu berkata,
“Lalu siapa yang menyampaikan argumentasiku jika aku diam?!”

Maka Qadli semakin marah, dan berkata,
“Sejak masuk majlis peradilan, Aku tidak melihatmu kecuali selalu mengucapkan kebatilan.”
Lalu Iyas berkata,
“ Lâ ilâha illallah wahdahu lâ syarîkalah, apakah ini haq atau batil?”
Qadli terdiam dan berkata,
“Haq, demi Tuhan Ka’bah, itu adalah haq.”

Anak muda al-Muzanni ini kemudian rajin menekuni ilmu dan menimbanya dengan sepuas-puasnya hingga sampai kepada derajat yang menjadikan para syaikh tunduk kepadanya, mengikuti dan berguru di depannya, meskipun dia masih berusia muda.

Pada suatu tahun, Abdul Malik bin Marwan mengadakan kunjungan ke Bashrah sebelum dia menjadi khalifah, lalu dia melihat Iyas yang waktu itu masih seorang pemuda belia dan belum lagi tumbuh kumisnya.
Abdul Malik melihat di belakangnya ada empat orang Qurra‘ (ahli baca al-Qur’an) yang berjenggot dan mengenakan pakaian hijau mereka (pakaian kebesaran orang alim) sementara Iyas ada di hadapan mereka. Lantas, Abdul Malik berkata,
“Percuma dengan orang-orang berjenggot ini. Apakah di antara mereka tidak ada syaikh yang mengetuai mereka.? Maka merekapun menyodorkan anak muda ini.

Kemudian Abdul Malik menoleh kepada Iyas seraya berkata,
“Berapa umurmu wahai anak muda.?”
“Umurku -mudah-mudahan Allah memanjangkan umur Amir (yang menjabat saat itu-red.,)- seusia dengan umur Usamah bin Zaid ketika Rasulullah SAW., mengangkatnya sebagai panglima perang yang di dalamnya ikut serta Abu Bakar dan Umar (Waktu itu umur Usamah belum sampai dua puluh tahun)” Katanya.

Abdul Malik berkata,
“Maju…Majulah wahai anak muda, semoga Allah memberkati kamu.”

Dan pada suatu tahun yang lain, orang-orang sedang ke luar untuk melihat bulan sabit awal Ramadlan dan yang memimpin mereka adalah seorang sahabat agung, Anas bin Malik al-Anshari yang pada waktu itu sudah lanjut usia mendekati seratus tahun.

Orang-orang melihat ke langit dan mereka tidak melihat tanda apa-apa.
Akan tetapi, Anas bin Malik mulai mengamati langit dan berkata,
“Aku sungguh melihat bulan…nah itu dia.” sembari menunjuk ke arah bulan sabit teresbut dengan tangannya namun orang-orang tidak melihat apa-apa.

Ketika itu Iyas melihat Anas bin Malik RA, ternyata ada sehelai rambut panjang menempel di alisnya dan menggantung di depan matanya. Maka Iyas pun dengan soapn minta permisi dan mengulurkan tangannya ke arah sehelai rambut tersebut, lalu mengusapnya dan meratakannya, kemudian berkata kepada Anas,
“Apakah anda masih melihat bulan sabit itu sekarang wahai shahabat Rasulullah?”
Lalu Anas melihat-lihat lagi seraya berkata,
“Tidak, aku tidak melihatnya lagi, aku tidak melihatnya lagi.”

Berita kecerdasan Iyas semakin santer dan menyebar, maka orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru dan menumpahkan segala permasalahan mereka yang berkenaan dengan ilmu dan agama kepadanya.
Sebagian mereka memang ingin mencari ilmu dan sebagian yang lain hanya ingin menjatuhkan dan mengajaknya berdebat kusir secara batil.
Di antara kisah itu, dikisahkan bahwa ada seorang pejabat besar suatu kawasan datang ke majlisnya, lalu berkata,
“Wahai Abu Wâ‘ilah, apa pendapatmu tentang minuman keras?”
Iyas menjawab, “Haram”
Pejabat itu berkata,
“Apa alasan keharamannya padahal ia hanyalah berupa buah-buahan dan air yang dimasak di atas api dan semua itu adalah boleh-boleh saja, tidak apa-apa.”
Iyas berkata,
“Apakah sudah selesai bicaramu, wahai sang pejabat atau masih ada yang nantinya ingin kau utarakan?”
Pejabat itu berkata, “Ya, sudah itu saja.”
Lalu Iyas berkata,
“Seandainya aku mengambil segenggam air lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu?”
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam pasir lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” Katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam lumpur, lalu aku pukulkan ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Tidak.”
“Seandainya aku mengambil pasir lalu aku lapisi dengan lumpur lalu aku siram air, lalu aku aduk-aduk, kemudian aku jemur kumpulan adukan itu di bawah terik panas matahari hingga kering, kemudian aku pukulkan itu ke tubuhmu, apakah itu akan menyakitimu,?” katanya lagi.
Pejabat itu berkata, “Kalau itu, ya, bahkan bisa membunuhku!.”
Lalu Iyas berkata,
“Begitulah dengan khamar; ketika bahan-bahannya disatukan dan diragikan, maka haram hukumnya.”

Ketika Iyas menjabat sebagai Qadli, banyak tampak jelaslah beberapa sikapnya yang menunjukkan kecerdasanya yang memang demikian berlebihan, keluasan wawasannya dan kemampuannya yang luar biasa di dalam menyingkap kenyataan.

Di antara contohnya, bahwa ada dua orang laki-laki yang berhakim kepadanya. Salah satunya mengklaim telah menitipkan uang kepada sahabatnya itu namun ketika dia memintanya, sahabatnya itu mungkir. Lalu Iyas bertanya kepada si tertuduh (terdakwa) tentang titipan itu tetapi orang itu pun mengingkarinya seraya berkata,
“Bila sahabatku yang menuduhku itu memiliki bukti, maka silahkan dia menghadirkannya. Bila tidak, berarti aku tinggal bersumpah saja.”

Manakala Iyas khawatir orang itu memakan harta dengan sumpahnya, maka dia menoleh ke arah orang yang menitpkan (si pendakwa) sembari berkata kepadanya,
“Di mana anda menitipkan uang kepadanya?”
Orang itu menjawab, “Di tempat anu.”
Iyas berkata, “Benda apa yang ada di tempat itu?”
Orang itu menjawab, “Pohon besar, waktu itu kami duduk-duduk di bawahnya dan makan-makan bersama di bawah naungannya. Ketika kami ingin pulang, aku menyerahkan uang itu kepadanya.”
Iyas berkata lagi kepadanya,
“Pergilah ke tempat yang ada pohonnya itu, barangkali jika kamu telah sampai di sana, kamu akan teringat di mana kamu menaruh uang dan apa yang kamu lakukan dengannya. Kemudian temui aku lagi untuk menyampaikan apa yang kamu lihat.”
Maka orang itu berangkat menuju tempat tersebut sedangkan Iyas berkata kepada si terdakwa,
“Duduklah, sampai temanmu itu datang.”

Lalu orang itu pun duduk. Kemudian Iyas menoleh ke arah orang-orang lain yang memiliki perkara, dan mulai memutuskan perkara mereka sambil melirik secara diam-diam ke arah si terdakwa itu. Hingga ketika dia melihatnya sudah dalam kondisi diam dan tenang, dia menoleh ke arahnya seraya bertanya kepadanya lagi dengan secara tiba-tiba,
“Menurut perkiraanmu, sahabatmu itu telah sampai ke tempat dia menyerahkan uang kepadamu itu atau belum.?” Maka orang itu menjawab tanpa berpikir terlebih dahulu, “Tentu belum sebab tempat itu amat jauh dari sini.” jawabnya tanpa berpikir panjang.
Ketika itu, Iyas berkata kepadanya,
“Hai musuh Allah, kamu mengingkari telah menyimpan harta itu padahal mengetahui dimana kamu mengambil uang itu? Demi Allah, sungguh kamu ini seorang pengkhianat.!”

Orang itupun bungkam dan mengaku pengkhianatan yang telah dilakukannya. Lalu Iyas menahannya sampai pemiliknya itu datang dan menyuruhnya supaya mengembalikan titipan tersebut kepada pemiliknya.

Contoh lainnya, diriwayatkan bahwa ada dua orang laki-laki saling berselisih kepadanya mengenai dua potong bahan beludru yang yang biasa dipasang ke atas kepala dan disampirkan ke kedua pundak. Salah satunya berwarna hijau, baru dan mahal dan yang satu lagi berwarna merah namun lusuh.
Si pendakwa (penuduh) berkata,
“Pada waktu itu, aku pergi ke telaga untuk mandi, lalu aku meletakkan beludru hijauku bersama pakaianku di pinggir kolam, lalu datanglah orang ini dan meletakkan beledrunya yang berwarna merah di samping milikku, kemudian dia juga turun ke telaga dan ke luar sebelumku. Dia mengenakan pakaiannya dan mengambil beledru milikku lalu mengenakannya ke kepala dan kedua pundaknya. Setelah itu, dia pergi membawanya. Selanjutnya, aku keluar juga dan menyusulnya seraya meminta beledru milikku itu. Akan tetapi, dia malah mengklaim bahwa itu adalah miliknya.”
Lalu Iyas berkata kepada si tersangka,
“Apa jawabmu?”
Orang itu berkata, “Ini adalah beledru milikku dan sudah berada di tanganku.”
Iyas berkata kepada si pendakwa,
“Apakah kamu memiliki bukti?”
Orang itu menjawab, “Tidak.”
Lalu Iyas berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Ambilkan sisir untukku.!”

Lalu sisir dihadirkan untuknya, kemudian Iyas menyisir rambut kedua orang itu, maka keluarlah dari kepala salah satunya bulu (serbuk) berwarna merah dari rontokan bulu bahan beledru, dan dari kepada yang lainnya keluar bulu (serbuk) berwarna hijau. Setelah itu, Iyas memutuskan bahwa beledru berwarna merah untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) merah itu dan beledru hijau untuk orang yang di rambutnya ada bulu (serbuk) hijau. (mengingat biasanya serbuk dari bahan itu suka menempel-red.,)

Contoh lain dari kisah kecerdikannya, bahwa di Kufah ada orang yang berlagak jadi orang lurus, wara’ dan takwa di hadapan orang-orang, sehingga banyak orang yang memujinya. Sebagian mereka malah menaruh kepercayaan kepadanya dengan menitipkan harta jika mereka sedang pergi. Bahkan, ada juga yang mengangkatnya sebagai pemegang wasiat mewakili anak-anak mereka ketika merasakan bahwa ajal mereka telah dekat.

Lalu ada seseorang datang kepadanya dan menitipkan harta. Ketika orang tersebut membutuhkan uangnya, dia memintanya namun orang itu mengingkarinya.

Kemudian si korban itu pergi menghadap Iyas dan melaporkan perihal orang tersebut.

Maka Iyas berkata kepada si pelapor yang menjadi korban ini,
“Apakah orang itu mengetahui kalau kamu datang kemari?” Orang itu menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata, “Pergilah dan kembalilah menemuiku besok.!”

Kemudian Iyas mengutus seseorang untuk menemui orang yang diserahi amanat (yang berpenampilan lurus itu) agar menghadapnya. Ketika orang itu datang, Iyas berkata kepadanya,
“Di tanganku terkumpul banyak harta milik anak-anak yatim yang tidak memiliki penanggungjawab. Aku melihat engkaulah orang yang pantas untuk dititipi dan mengangkatmu sebagai penanggungjawab mereka. Apakah rumahmu aman dan waktumu luang untuk hal itu?”
Orang itu berkata, “Ya, wahai Qadli.”
Iyas berkata lagi,
“Kemarilah kamu besok lusa, siapkan tempat untuk harta tersebut serta bawalah bersamamu para tukang panggul untuk memanggulnya.”

Pada hari berikutnya, datanglah orang yang melapor. Maka Iyas berkata kepadanya, “Pergilah kamu kepada temanmu dan mintalah harta darinya. Jika dia ingkar, maka katakanlah kepadanya, “Aku akan laporkan kamu kepada Qadli.”

Lalu orang itu datang kepada temannya tersebut dan meminta hartanya, tetapi dia menolak memberikannya dan mengingkarinya.
Maka orang itu berkata, “Kalau begitu akan aku laporkan kamu kepada Qadli.!”

Ketika mendengar ancaman itu, dia segera menyerahkan hartanya dan menenangkan hatinya.

Kemudian orang itu kembali kepada Iyas dan berkata kepadanya, “Temanku itu telah mengembalikan hartaku dan mudah-mudahan Allah membalas kebaikan tuan.”

Selanjutnya, orang yang diserahi amanat itu datang menghadap Iyas pada hari yang telah dijanjikan dan dia membawa serta para tukang panggul.

Namun yang terjadi, Iyas justeru menghardik dan membongkar kebobrokannya sembari berkata kepadanya,
“Kamu adalah orang yang paling jahat, hai musuh Allah, kamu telah menjadikan agama sebagai umpan dunia.”

Akan tetapi, sekalipun Iyas dikenal sangat cerdas, memilik daya fikir yang kuat dan sangat cepat daya tangkapnya, namun hujjahnya suatu ketika pernah berhadapan dengan seorang yang mampu mementahkan hujjahnya dan memangkas ucapannya serta membungkamnya.
Mengenai hal itu, dia menceritakan,
“Tidak ada orang yang dapat mengalahkanku kecuali seorang saja, yaitu ketika aku berada di majlis persidangan di kota Bashrah. Saat itu, seseorang menemuiku dan bersaksi di sisiku bahwa kebun “anu” adalah milik si fulan, lalu dia menyebutkan letak geografisnya kepadaku.”

Saat itu, aku ingin menguji kesaksiannya seraya bertanya kepadanya,
“Berapa jumlah pohon yang ada di kebun tersebut?”
Lalu orang itu menunduk sebentar, kemudian mengangkat kepalanya dan balik bertanya,
“Sudah berapa lama tuan menjadi Qadli di sini?”
“Sejak sekian tahun,” jawabku.
Lalu orang itu bertanya lagi,
“Berapa jumlah kayu atap tempat (majlsi) ini?”

Namun karena tidak tahu, aku berkata kepadanya,
“Kebenaran berada di pihakmu.!” Kemudian aku menerima kesaksiannya.

Ketika Iyas telah berumur tujuh puluh enam tahun, dia melihat di dalam mimpinya bahwa dirinya dan ayahnya masing-masing menunggangi kuda, lalu keduanya berbalapan, namun anehnya dia tidak bisa membalap ayahnya dan ayahnya juga tidak bisa membalapnya. Saat meninggal dunia dulu, ayahnya berumur tujuh puluh enam tahun.

Pada suatu malam, Iyas rebahan di atas tempat tidurnya dan berkata kepada keluarganya,
“Tahukah kalian malam apa ini?”
Mereka menjawab, “Tidak.”
Iyas berkata,
“Pada malam ini, ayahku melengkapi umurnya (wafat).”
Dan pada pagi harinya, mereka menemukannya telah wafat.
Mudah-mudahan Allah merahmati Iyas, sang Qadli. Sungguh dia adalah orang langka dan tanda keajaiban zaman dalam hal kecerdikan, kecerdasan, mencari kebenaran dan menggapainya.

CATATAN:

Sebagai bahan tambahan tentang biografi Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni, silahkan rujuk:

1- Akhbâru al-Qudlât karya Waki’, h.312-374.
2- Syarh al-Maqâmât karya asy-Syuraisyi: 1/113-115.
3- Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jâhizh, Jld.I, h.56
4- Al-‘Iqd al-Farîd karya Ibnu ‘Abdi Rabbih.
5- Hilyah al-Awliy karya Abu Nu’aim, Jld.III, h.123 dan setelahnya.
6- Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khalakân, Jld.I, h.247 dan setelahnya.
7- Tsimar Al-Qulub karya at-Tsa’âlabi, h.92-94.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 79

Antara ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Dan Putranya, ‘Abdul Malik

(Cerminan Keakraban Dan Keharmonisan Antara Ayah Yang Shalih Dan Anak Yang Shalih)

“Tahukah anda bahwa setiap kaum mempunyai orang cerdas, dan orang cerdas Bani Umayyah adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz serta bahwa kelak dia dibangkitkan pada Hari Kiamat seorang diri sebagai umat.?” (Muhammad bin Ali bin al-Husain)

Belum lagi seorang tabi’i yang agung, Amirul mu’minin, ‘‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz membersihkan kedua tangannya dari debu kuburan pendahulunya (yakni, khalifah sebelumnya), Sulaiman bin ‘Abdul Malik, tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh bumi di sekitarnya, lalu beliau berkata, “Apa ini?”

Orang-orang berkata, “Ini adalah kendaraan Khalifah -wahai Amirul mu’minin- telah disiapkan untukmu agar engkau menaikinya.” Lalu Umar melihatnya dengan sebelah mata, kemudian berkata dengan suara gemetar dan terbata-bata karena kelelahan dan kurang tidur, “Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah ini dariku, mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Dan tolong bawa kemari keledaiku, karena ia sudah cukup bagiku.”

Kemudian belum lagi pas posis duduk beliau di atas punggung keledai hingga datanglah komandan polisi yang berjalan di depannya. Bersamanya sekelompok anak-anak buahnya yang berbaris di sektor kanan dan kirinya. Di tangan-tangan mereka tergenggam tombak yang mengkilat. Lalu beliau menoleh ke arahnya dan berkata, “Aku tidak membutuhkan kamu dan mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum muslimin. Aku berjalan pagi hari dan sore hari sama seperti mereka.

Selanjutnya, beliau berjalan dan orang-orang berjalan bersamanya hingga memasuki masjid dan orang-orang dipanggil untuk shalat, “ash-Shalâtu Jami’ah…ash-Shalâtu Jami’ah.”

Maka berdatanganlah orang-orang ke masjid dari segala penjuru. Ketika jumlah mereka telah sempurna, beliau berdiri sebagai khatib. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta bershalawat atas nabi, kemudian berkata,
“Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih dahulu, memintanya ataupun dan bermusyawarah dulu dengan kaum muslimin.

Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku, untuk selanjutnya kalian pilihlah dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridlai.”

Lantas orang-orangpun berteriak dengan satu suara, “Kami telah memilihmu, wahai Amirul mu’minin dan kami ridla terhadapmu. Maka aturlah urusan kami dengan berkat karunia dan barakah Allah.”

Ketika suara-suara telah senyap dan hati telah tenang, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya sekali lagi dan bershalawat atas Muhammad, hamba dan utusan Allah.

Beliau mulai menganjurkan orang-orang supaya bertakwa, mengajak mereka supaya berzuhud dari kehidupan dunia, mensugesti mereka kepada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka kepada kematian dengan intonasi yang dapat melunakkan hati yang keras, menjadikan air mata durhaka bercucuran dengan deras dan keluar dari lubuk hati pemiliknya sehingga terpatri di dalam lubuk hati para pendengarnya.

Kemudian beliau meninggikan suaranya yang agak serak supaya semua orang mendengarnya,
“Wahai manusia barangsiapa yang taat kepada Allah, maka dia wajib ditaati. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka tidak seorangpun yang boleh ta’at kepadanya. Wahai manusia, Taatilah aku selama aku menaati Allah dalam menangani urusan kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah, maka kalian tidak usah taat kepadaku.”

Kemudian beliau turun dari mimbar untuk menuju ke rumahnya dan masuk ke kamarnya. Beliau benar-benar ingin mendapatkan sedikit istirahat, setelah kelelahan yang amat sangat, semenjak wafatnya khalifah sebelumnya.

Akan tetapi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz baru saja mau meletakkan punggungnya di tempat tidurnya, hingga datanglah putranya, ‘‘Abdul Malik yang waktu itu baru menginjak usia tujuh belas tahun. Lalu sang putra berkata,
“Apa yang ingin engkau lakukan, wahai Amirul mu’minin?!!” Ayahnya menjawab,
“Wahai anakku, aku ingin tidur sejenak, karena sudah tersisa lagi tenagaku ini.”
“Apakah engkau masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi, wahai Amirul mukminin?!!” kata putranya lagi.

Lalu sang ayah menjawab,
“Wahai anakku, sesungguhnya aku tadi malam bergadang malam (tidak tidur) karena bersama pamanmu Sulaiman. Nanti kalau sudah datang waktu Dzuhur, aku akan shalat bersama orang-orang dan akan dan aku mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi tersebut, insya Allah.”
Sang putra berkata lagi,
“Siapakah yang menjaminmu, wahai Amirul mukminin kalau usiamu hanya sampai Zhuhur?!”

Ucapan ini berhasil membakar semangat Umar dan melenyapkan rasa kantuk dari kedua matanya sehingga membangkitkan kekuatan dan kesegaran badannya yang sebelumnya demikian lelah. Ketik itu berkatalah dia kepada sang putra,
“Mendekatlah kemari wahai putraku.!”

Sang putrapun mendekat dan Umar langsung memeluk serta menciumi keningnya seraya berkata,
“Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari keturunanku orang yang menolongku di dalam menjalankan agama.”

Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya di umumkan kepada orang-orang, “barangsiapa yang merasa teraniaya, maka hendaklah dia mengajukan perkaranya.”

Lalu, siapakah ‘Abdul Malik ini?! Bagaiman cerita anak muda ini sehingga menjadi buah bibir orang-orang?
Sungguh, dialah anak yang berhasil mensugesti ayahnya untuk rajin beribadah dan mengarahkannya agar menempuh jalan kezuhudan. Marilah kita telusuri lagi kisah pemuda yang shalih ini dari awalnya.!

Adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mempunyai lima belas orang anak, tiga di antaranya ada tiga perempuan. Anak-anak itu semuanya adalah anak-anak yang memiliki tingkat ketakwaan dan keshalihan yang sangat memadai. Namun ‘Abdul Malik adalah putra paling menonjol di antara saudara-saudaranya dan bintangnya mereka yang bersinar-sinar. Dia seorang anak yang ahli sastra, mahir lagi cerdik sekalipun usia masih muda tetapi cara berpikirnya sudah dewasa.

Di samping itu, dia memang tumbuh sebagai anak yang ta’at kepada Allah sejak mudanya sehingga dialah orang yang tingkah lakunya paling dekat dengan keluarga besar al-Khaththab secara umum serta yang paling mirip dengan ‘Abdulllah bin ‘Umar, khususnya dari sisi ketakwaan kepada Allah, rasa takut berbuat maksiat kepada-Nya serta bertaqarrub kepada-Nya dengan melakukan keta’atan.

Keponakannya Ashim (bin Abu Bakar bin Abdul Aziz bin Marwan, dia adalah anak saudara ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) bercerita, “Suatu waktu, aku bertandang ke Damaskus lantas mampir di rumah anak pamanku (sepupuku), ‘Abdul Malik. saat itu, dia masih bujangan, lalu kami menunaikan shalat isya’ kemudian masing-masing kami beranjak ke tempat tidur. Lalu ‘Abdul Malik mendekati lampu dan mematikannya sementara masing-masing kami mulai tidur. Kemudian aku bangun pada tengah malam, ternyata ‘Abdul Malik sedang berdiri shalat dengan khusyu’nya seraya membaca firman Allah Azza wa Jalla (artinya),
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Q.s.,asy-Syu’arâ`:205-207)

Tidak ada yang membuatku begitu terkesan kepadanya kecuali saat dia mengulang-ulang ayat tersebut dan menangis dengan tangisan yang tersedu-sedu dari dalam hati (tidak terdengar). setiap kali dia selesai dari ayat itu, dia mengulanginya kembali, sehingga aku berkata dalam hati, “Anak ini bisa mati oleh tangisannya.”

Ketika aku melihatnya seperti itu, aku mendesis,
“Lâ ilâha illallâh wal hamdu lillâh. Seakan ucapan orang yang bangun dari tidur, padahal tujuanku untuk menghentikan tangisannya.

Ketika mendengar suaraku, dia terdiam dan tidak lagi terdengar suara rintihannya tersebut.”

Pemuda dari keluarga besar ‘Umar ini banyak berguru kepada ulama’-ulama’ besar pada zamannya sehingga begitu ‘enjoy’ dengan Kitab Allah, kenyang dengan hadits Rasulullah serta pemahaman terhadap agama.

Sehingga dia menjadi seorang yang dapat berkompetisi dengan para ulama kelas atas (ternama) pada zamanya, sekalipun usianya ketika itu masih sangat muda.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah mengumpulkan para Qurra` (ahli baca al-Qur’an) dan ahli fiqih negeri Syam. ketika itu, beliau berkata,
“Sesungguhnya aku memanggil kalian untuk penanganan tindak kezhaliman yang sekarang ada di tangan keluargaku, bagaimana pandangan kalian?

Maka mereka berkata,
“Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya hal itu tidak termasuk kawasan wewenang anda. Dosa-dosa atas tindakan kezhaliman tersebut sepenuhnya berada di pundak orang yang mengambilnya secara tidak benar (merampasnya).”

Rupanya beliau belum puas dengan jawaban mereka tersebut, lalu melirik ke arah salah seorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat mereka itu, seraya berkata kepadanya,
“Utuslah orang untuk memanggil ‘Abdul Malik, karena dia tidak lebih rendah ilmunya, pemahaman (fiqih)nya ataupun daya nalarnya dari orang-orang telah yang engkau undang.”

Ketika ‘Abdul Malik menemuinya, Umar berkata kepadanya,
“Bagaimana pendapatmu tentang harta orang-orang yang diambil anak-anak paman kita secara dzalim, sedangkan pemilik-pemiliknya telah datang dan memintanya dan kita telah mengetahui hak mereka pada harta itu?!”

‘Abdul Malik berkata,
“Menurutku, hendaknya ayahanda mengembalikan harta itu kepada para pemiliknya selama ayahanda mengetahui permasalahannya. Sebab, jika tidak, berarti ayahanda termasuk kongsi orang-orang yang mengambilnya secara dzalim tersebut.”

Maka lapanglah seluruh rongga-rongga tubuh Umar, jiwanya menjadi lega dan apa yang menghantuinyapun hilang.

Anak muda keturunan Umar ini lebih menyukai “Murabathah” (berjaga-jaga di perbatasan dari serangan musuh) dengan tinggal di salah satu kota yang dekat dengannya ketimbang tetap tinggal di negeri Syam.
Dia tetap berangkat ke sana sementara di belakangnya kota Damaskus yang bertaman indah, naungan yang rimbun dan memiliki tujuh sungai dia tinggalkan begitu saja.

Dalam pada itu, sekalipun sang ayah telah mengetahui keshalehan dan ketakwaan anaknya, beliau masih mengkhawatirkannya dan kasihan kalau-kalau dia bisa luluh oleh godaan syaitan dan gejolak-gejolak masa muda serta begitu antusias untuk mengetahui segala-galanya tentang dirinya tersebut selama dia bisa mengetahuinya. Dan beliau tidak pernah melalaikan hal itu dan tidak pernah mengabaikannya sama sekali.

Maimun bin Mahran, seorang menteri, Qadli sekaligus penasehat ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, pernah bercerita,
“Sewaktu menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, aku mendapatinya sedang menulis surat kepada anaknya, ‘Abdul Malik. Dalam suratnya itu, beliau memberikan nasehat, pengarahan, peringatan, berita menakutkan dan gembira.

Di antara isinya adalah, ‘Amma ba’du, sesungguhnya engkaulah orang yang paling pantas untuk menangkap dan memahamai ucapanku. Dan sesungguhnya pula, segala puji bagi Allah, Dia telah berbuat baik kepada kita dari urusan sekecil-kecilnya hingga sebeasar-besarnya. Maka ingatlah karunia Allah kepadamu dan kepada kedua orang tuamu. Janganlah sekali-kali kamu berlaku sombong dan bangga diri, karena hal itu adalah termasuk perbuatan syaitan, sedangkan syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman. Dan ketahuilah, bahwa aku mengirimkan surat ini, bukan karena ada laporan tentang dirimu sebab aku tidak mengetahui tentangmu kecuali hal yang baik-baik. Namun demikian, telah sampai laporan kepadaku bahwa perihal tindakanmu yang suka berbangga-bangga diri. Seandainya kebanggaan ini menyeretmu kepada sesuatu yang aku benci, tentu kamu mendapatkan telah melihat dariku sesuatu yang kamu benci.

Maimun berkata,
“Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Maimun, sesungguhnya anakku -’Abdul Malik- telah menghiasi mataku (dikasihi dan tidak ada lagi cacatnya) dan aku menuduh diriku telah melakukan itu. Karenanya, aku khawatir kalau rasa cintaku kepadanya telah melebihi pengetahuanku tentang dirinya sehingga apa yang menimpa nenek moyangku dulu yang buta terhadap aib anak-anaknya menimpa diriku juga. Maka pergilah untuk mengawasinya, carilah informasi akurat tentangnya serta perhatikanlah apakah ada padanya sesuatu yang mirip kesombongan dan berbangga-bangg itu, karena dia masih anak muda dan aku belum dapat menjamin dirinya bisa terhindar dari godaan syaithan.”

Maimun berkata lagi,
“Maka aku segera berangkat hingga bertemu dengan ‘Abdul Malik, lalu minta permisi dan masuk. Ternyata dia adalah seorang yang baru menginjak remaja dan masih muda belia, memiliki pandangan yang ceria dan sangat tawadlu’ (rendah diri). Dia duduk di atas hamparan putih, di atas karpet yang terbuat dari bulu. Lantas menyambutku sembari berkata, ‘Aku telah mendengar ayahanda sering berbicara tentang dirimu yang memang pantas kamu menyandangnya, yaitu seorang yang baik. Aku berharap Allah menjadikanmu orang yang berguna.’ Aku bertanya kepadanya,
‘Bagaimana keadaanmu?’

Dia menjawab,
‘Senantiasa dalam keadaan baik dan mendapat nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Hanya saja, aku khawatir bilamana sangkaan baik ayahanda terhadapku membuatku terbuai sementara sebenarnya aku belum mencapai tingkat keutamaan sebagaimana yang disangkanya itu. Dan sungguh aku khawatir kalau kecintaan ayahanda kepadaku telah melebihi pengetahuannya tentang diriku sehingga aku malah menjadi bebannya.’

Mendengar jawaban itu, aku (Maimun) jadi terkagum-kagum kenapa bisa terjadi kecocokan hati di antara keduanya. Kemudian aku bertanya kepadanya,
‘Tolong beritahu aku dari mana sumber penghidupanmu.?’

Dia berkata, “Dari hasil tanah yang aku beli dari seseorang yang mendapat warisan ayahnya. Aku membayarnya dengan uang yang bukan syubhat sama sekali sehingga karenanya aku tidak membutuhkan lagi harta Fai’ (yang didapat tidak melalui peperangan-red.,) kaum Muslimin.’ Aku bertanya lagi,
‘Apa makananmu?’
‘Terkadang daging, terkadang ‘Adas dan minyak dan terkadang cuka dan minyak. Dan, ini sudah cukup.”

Lalu aku bertanya lagi,
“Apakah kamu tidak merasa bangga dengan dirimu sendiri?” Dia menjawab, “Pernah aku merasakan sedikit dari hal semacam itu namun tatkala ayahandaku memberikan wejangan kepadaku, dia berhasil membelalakkan mataku akan hakikat diriku dan menjadikannya kecil bagiku dan jatuh harkatnya di mataku sehingga akhirnya Allah Azza wa Jalla menjadikan wejangan itu bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah membalas kebaikan ayahandaku.”

Satu jam aku habiskan untuk mengobrol bersamanya dan rileks dengan ucapannya. Rasanya, belum pernah aku melihat pemuda setampan dia, sesempurna otaknya dan seluhur akhlaqnya padahal dia masih beliau dan kurang pengalaman.

Ketika di penghujung siang, pembantunya datang semberi berkata,
“Semoga Allah memperbaiki dirimu, kami sudah kosongkan!.” Lalu dia diam…

Aku bertanya kepadanya,
“Apa yang mereka kosongkan itu?.”
“WC.” Katanya
“Bagaimana caranya.?” Tanyaku lagi
“Yah, mereka kosongkan dari orang-orang.” Jawabnya
“Tadinya sikapmu mendapatkan tempat yang agung di hatiku hingga sekarang aku dengar hal ini.” Kataku
Dia begitu cemas dan mengucap Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn, lalu berkata,
“Apa itu, wahai paman –semoga Allah merahmatimu-?.”
“Apakah WC itu milikmu.?” Tanyaku
“Bukan.” Katanya

“Lantas apa alasanmu mengeluarkan orang-orang darinya.? Sepertinya dengan tindakanmu itu, engkau ingin mengangkat dirimu di atas mereka dan menjadikan kedudukanmu berada di atas kedudukan mereka. Kemudian engkau juga menyakiti si penunggu WC ini dengan tidak mengabaikan upah hariannya dan membuat orang yang datang ke mari pulang sia-sia.” Kataku lagi

Dia berkata, “Adapun mengenai penunggu WC ini, maka aku sudah membuatnya rela dengan memberikan upah hariannya.”
“Ini namanya pengeluaran foya-foya yang dicampuri oleh kesombongan. Apa sih yang membuatmu enggan masuk WC bersama orang-orang padahal engkau sama saja dengan salah seorang dari mereka.?” Kataku

“Yang membuatku enggan hanyalah polah beberapa orang-orang tak beres yang masuk WC tanpa penghalang sehingga kau tidak suka melihat aurat-aurat mereka itu. Demikian pula, aku tidak suka memaksa mereka mengenakan penghalang sehingga hal ini bisa mereka anggap sebagai campur tanganku terhadap mereka dengan menggunakan kewenangan penguasa yang aku bermohon kepada Allah agar kita terhindar darinya. Karena itu, tolong nasehati aku –semoga Allah merahmatimu- sehingga berguna bagiku dan carilah solusi dari permasalahan ini!” Jawabnya.

Aku berkata,
“Tunggulah dulu hingga orang-orang keluar dari WC pada malam hari dan kembali ke rumah-rumah mereka, lalu masuklah.!”

“Kalau begitu, aku berjanji. Aku tidak akan masuk selama-lamanya pada siang hari semenjak hari ini dan andaikata bukan karena begitu dinginnya temperatur di negeri ini (sehingga selalu ingin buang hajat-red.,), tentu aku tidak akan masuk ke WC itu selama-lamanya.” Katanya

Dia berhenti sejenak seakan memikirkan sesuatu, kemudian mengangkat kepalanya menoleh ke arahku sembari berkata,
“Aku bersumpah di hadapanmu, tolong dengan sangat engkau simpan rahasia ini sehingga tidak didengar ayahandaku, sebab aku tidak suka dia masih marah padaku. Aku khawatir bila datang ajal sementara tidak mendapatkan keridlaan beliau.”

Maimun berkata,
“Lalu aku berniat ingin mengetesnya seberapa jauh ke dalaman akalnya, seraya berkata kepadanya,
‘Jika Amirul Mukminin (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, ayahandanya) bertanya kepadaku, apakah aku melihat sesuatu darimu, apakah engkau tega aku berdusta terhadapnya?.”
“Tidak. Ma’adzallâh, akan tetapi katakan padanya, ‘aku telah melihat sesuatu darinya lantas aku nasehati dia, aku jadikan hal itu sebagai perkara besar di hadapan matanya lalu dia cepat-cepat sadar.’ Setelah itu, ayahandaku pasti tidak akan menanyakanmu untuk menyingkap hal-hal yang tidak engkau tampakkan padanya. Sebab, Allah Ta’ala juga melindunginya dari mencari hal-hal yang masih terselubung.” Jawabnya

Maimun berkata,
“Sungguh, aku belum pernah sama sekali melihat seorang anak dan ayah seperti mereka berdua –semoga Allah merahmati keduanya-.“
Semoga Allah meridlai khalifah ar-Rasyid kelima, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, menyejukkan kuburannya dan kuburan putra serta buah hatinya, ‘‘Abdul Malik.

Keselamatanlah bagi keduanya pada hari bertemu dengan Allah Ta’ala, ar-Rafîq al-A’la.
Keselamatanlah bagi keduanya pada hari dibangkitkan bersama orang-orang pilihan dan ahli kebajikan.

CATATAN:

Sebagai bahan tambahan mengenai biografi ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan anaknya ‘Abdul Malik, silahkan rujuk:
1. Sîrah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz karya Ibn al-Jauziy.
2. Sîrah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz karya Ibn Abdil Hakam.
3. Ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jld. I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII
4. Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauziy, Jld.II, h.113-126. Dan di halaman 127 (buku asli) dan setelahnya terdapat bigrafi khusus tentang putranya ‘Abdul Malik.
5. Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâniy, Jld.V,h.203-353. Dan di halaman 353 hingga halaman 364 (buku asli) terdapat biografi khusus tentang putranya ‘Abdul Malik.
6. Wafayât al-A’yân karya Ibn Khalakân, Jld.I,II,III,IV,V
7. Târîkh ath-Thabariy, Jld.I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII
8. Al-‘Iqd al-Farîd karya Ibn ‘Abd Rabbih, Jld.I,II,III,IV,V,VI,VI,VII,VIII
9. Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jâhizh
10. Târîkh Madînah Dimasyq karya Ibn ‘Asâkir, Jld.II, h.115-127
11. Tahdzîb at-Tahdzîb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Jld.VII, h.475-478

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 78

Muhammad Bin Sirin

“Aku tidak pernah melihat seseorang lebih faqih dalam wara’nya, dan lebih wara’ dalam fiqihnya” (Muriq Al-’Ijly)

Sirin telah ber’azam (bertekad kuat) untuk melengkapi separuh agamanya (alias menikah) setelah Anas bin Malik RA., memerdekakannya dan setelah jobnya sudah bisa menghasilkan banyak keuntungan dan harta yang berlimpah.

Sirin adalah seorang pandai besi yang mahir dan piawai dalam membuat panci.
Pilihannya telah jatuh pada seorang budak wanita Amirul Mukminin, Abu Bakar as-Shiddiq RA., yang bernama Shofiyyah untuk menjadi istrinya.

Shofiyyah adaah budak wanita yang masih muda belia, wajahnya bercahaya, akalnya cerdas, mulia tabiatnya, luhur akhlaknya dan dicintai oleh setiap wanita Madinah yang mengenalnya.

Tidak ada bedanya dalam hal itu antara remaja-remaja putri yang seusia dengannya dan antara ibu-ibu yang sudah berumur namun menganggapnya selevel dengan mereka dalam hal kecerdasan akal dan keluhuran akhlak.

Di antara wanita-wanita yang paling mengasihinya adalah istri-istri Rasul SAW terlebih lagi Sayyidah Aisyah RA.

Sirin datang menghadap Amirul mu’minin, lalu melamar budak wanitanya, shofiyyah.
Sementara Abu Bakar ash-Shiddiq RA segera mencari tahu tentang agama dan akhlak si pelamar layaknya seorang ayah yang amat mengasihi saat mencari tahu kondisi si pelamar anak perempuannya.

Dan itu tidaklah aneh, sebab Shofiyyah bagi dirinya sama posisinya dengan posisi seorang anak bagi ayahnya. Di samping itu, dia adalah amanat yang Allah titipkan di pundaknya.

Lalu Abu Bakar mulai meneliti dengan sangat cermat kondisi Sirin dan menelusuri secara detail riwayat hidupnya.

Karena itu, orang pertama yang beliau tanyai mengenai siapa dirinya adalah Anas bin Malik RA.

Maka Anaspun berkata kepadanya,
“Nikahkanlah Shofiyyah dengannya wahai Amirul Mukminin, dan engkau jangan khawatir dia akan bertindak kasar terhadapnya. Yang aku ketahui darinya hanyalah orang yang benar agamanya, mengesankan akhlaqnya dan sempurna maruah dan kelelakiannya.

Dia sudah terbina dengan pendidikanku sejak ditawan oleh Khalid bin Al-Walid pada perang “’Ain at-Tamr” [Sebuah kawasan yang terletak bagian selatan Kufah, berhasil ditaklukkan Khalid bin al-Walid pada masa kekhilafahan Abu Bakar] bersama empat puluh orang anak-anak lainnya, lalu dia membawa mereka ke Madinah. Kebetulan, Sirin adalah bagianku dan aku merasa beruntung mendapatkannya.”

Akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq RA setuju atas pernikahan Shofiyyah dengan Sirin dan bertekad untuk memperlakukannya secara baik sebagaimana perlakuan baik seorang ayah terhadap anak yang paling dikasihinya. Karena itu, dia mengadakan pesta perkawinan yang meriah, yang amat jarang ada wanita-wanita Madinah kala itu yang bernasib baik seperti ini.

Hadir sebagai undangan pesta pernikahan itu sejumlah besar para pembesar shahabat. Di antara mereka ada sebanyak 18 orang Ahli Badar. Juga turut mendoakannya, penulis wahyu Rasulullah, Ubay bin Ka’b dan diamini doanya oleh para undangan.

Bukan itu saja, bahkan tiga orang Ummahatul Mukminin turut menempelkan wewangian ke badannya dan meriasnya ketika akan dipersandingkan dengan calon suami.

Sebagai buah dari pernikahan yang diberkahi tersebut, lahirlah dari kedua orangtua tersebut seorang anak yang sepanjang 20 tahun menjadi salah satu dari bintang para Tabi’in dan tokoh tiada duanya dari kalangan kaum Muslimin pada masanya. Dia lah Muhammad bin Sirin.

Mari kita mulai kisah kehidupan seorang Tabi’i yang agung ini dari mula pertama.
Muhammad bin Sirin dilahirkan dua tahun menjelang berakhirnya kekhilafahan, Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan RA.

Dididik di sebuah rumah yang dipenuhi oleh sifat wara’ dan taqwa dari segala sudutnya.

Dan ketika sudah menginjak usia baligh, si anak yang baik pekerti dan cerdas ini mendapatkan masjid Rasulullah SAW., disesaki oleh sisa-sisa para shahabat yang mulia dan para senior kalangan Tabi’in seperti Zaid bin Tsabit, Anas bin Malik, ‘Imran al-Hushain, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin az-Zubair dan Abu Hurairah.

Maka dia pun menyongsong mereka layaknya orang yang haus menyongsong sumber air yang demikian bening. Menimba ilmu Kitabullah, Fiqhuddin (memahami agama) dan periwayatan hadits dari mereka, sehingga hal itu dapat mengisi akalnya dengan hikmah dan ilmu serta memerisai dirina dengan keshalihan dan kelurusan (berpetunjuk).

Kemudian keluarganya membawa pemuda yang langka ini pindah ke Bashrah, untuk kemudian menjadi tempat menetap mereka. Ketika itu, Bashrah masih merupakan kota yang baru dibuka. Kaum Muslimin berhasil membukanya pada akhir-akhir kekhilafahan ‘Umar, al-Faruq, RA.

Pada masa itu, Bashrah masih merupakan kota yang mewakili karakteristik umat Islam. Ia merupakan pangkalan militer tentara kaum Muslimin yang berperang di jalan Allah. Ia merupakan pusat pengajaran dan penyuluhan bagi orang-orang dari penduduk Iraq dan Persia yang masuk Islam. Ia adalah potret masyarakat Islam yang bekerja keras di dalam beramal untuk dunia seakan hidup selama-lamanya dan beramal untuk akhirat seakan-akan kematian menjelang esok hari.

Di dalam menempuh hidupnya yang baru di Bashrah, Muhammad bin Sirin mengambil dua cara yang berimbang dan transparan: pertama, memfokuskan pada separuh harinya untuk menimba ilmu dan beribadah. Kedua, memperuntukkan sebagiannya lagi untuk mencari rizki dan berbisnis.

Bila fajar telah menyingsing dan dunia telah memancarkan cahaya Rabb-nya, beliau berangkat ke masjid untuk mengajar dan belajar hingga bila matahari sudah naik, beliau beranjak dari masjid menuju pasar untuk berjual-beli.

Bilamana malam telah tiba dan sudah mengibar tabir untuk menyelimuti alam semesta, beliau berbaris di Mihrab rumahnya, merundukkan tulang punggung guna mengulang juz-juz al-Qur’an dan menangis karena takut kepada Allah dengan linangan air mata kedua mata dan hatinya. Sampai-sampai keluarga dan para tetangga dekatnya merasa kasihan terhadapnya lantaran seringnya mereka mendengar tangisanya yang seakan memutus urat nadi hati.

Sekalipun biasa berkeliling ke pasar pada siang hari untuk berjual-beli, namun beliau senantiasa mengingatkan manusia akan akhirat dan membuka mata mereka akan fitnah dunia. Beliau biasa bercerita kepada mereka dengan cerita menarik dan membimbing mereka kepada hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah serta memutuskan perkara yang diperselisihkan di antara mereka.

Terkadang dalam satu dan lain kesempatan, beliau bercerita kepada mereka dengan cerita yang enak didengar sehingga mampu menghapuskan keburaman jiwa mereka tanpa harus mengurangi kewibawaan dan keagungan citra beliau di sisi mereka.

Allah telah menganugerahi beliau sebagai sosok penuntun dan geliat Ahli kebajikan serta mengaruniai beliau sebagai orang yang dapat diterima dan punya pengaruh.

Manakala orang-orang yang tengah tenggelam dalam suasana dan lalai kebetulan melihat beliau di pasar, mereka jadi tersadar lantas mengingat Allah, bertahlil dan bertakbir.

Riwayat hidup yang beliau praktikkan merupakan tuntuan yang baik bagi manusia. Tiadalah dua hal yang dihadapinya di dalam perniagaannya kecuali beliau akan mengambil mana di antara keduanya yang lebih menambat dirinya dengan agamanya sekalipun mengakibatkan kerugian duniawi bagi dirinya.

Pemahamannya yang detail terhadap rahasia-rahasia agama dan kebenaran pandangannya terhadap hal mana yang halal dan haram terkadang mendorongnya untuk mengambil sebagian sikap yang tampaknya aneh bagi manusia.

Salah satunya adalah kisah seorang laki-laki yang menuduhnya punya hutang kepadanya sebanyak dua dirham secara dusta, namun beliau menolak untuk memberikannya.

Lalu laki-laki itu berkata kepadanya, “Anda bersedia untuk bersumpah.?” Sementara orang itu mengira bahwa beliau tidak akan bersumpah karena hanya uang dua dirham saja.
“Ya, aku bersedia.” Jawabnya sembari bersumpah setelah itu.

Maka orang-orang pun berkata kepadanya, “Wahai Abu Bakar! Apakah kamu akan bersumpah juga untuk uang yang hanya dua dirham itu.?”
“Ya, aku akan bersumpah. Sebab, aku tidak ingin memakan hal yang haram sementara aku tahu bahwa ia haram.” Katanya.

Majlis yang diisi oleh Ibn Sirin adalah majlis kebajikan dan penuh dengan wejangan. Bila disinggung nama seseorang yang berbuat kejahatan di sisinya, beliau langsung mengingatkan orang itu dengan penyelesaian yang dia tahu itu adalah terbaik baginya.

Bahkan, suatu ketika beliau mendengar ada salah seorang yang mencaci maki al-Hajjaj (bin Yusuf ats-Tsaqafy, salah seorang penguasa Bani Umayyah yang amat tirani. Para sejarawan banyak memuat kisah kebengisan, kekejaman dan kebiadabannya) sepeninggalnya, maka dia menyongsong orang tersebut sembari berkata kepadanya,
“Diam, wahai saudaraku!!!. Sebab al-Hajjaj sudah berpulang ke Rabb-nya. Sesungguhnya dosa paling hina yang engkau lakukan akan engkau dapatkan ketika menghadap Tuhanmu lebih berat bagimu ketimbang dosa paling besar yang dilakukan al-Hajjaj. Masing-masing kalian akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketahuilah, wahai anak saudaraku, bahwa Allah pasti akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan al-Hajjaj untuk orang-orang yang pernah dizhaliminya. Demikian pula, Dia akan membalaskan kezhaliman yang dilakukan oleh mereka untuknya. Jadi, janganlah sekali-kali engkau menyibukkan dirimu dengan mencaci-maki siapapun.”

Bila ada orang yang berpamitan kepadanya untuk suatu perjalanan bisnis, beliau selalu berpesan kepadanya,
“Bertakwalah kepada Allah, wahai anak saudaraku! Carilah rizki ditakdirkan kepadamu dengan cara yang halal. Ketahuilah bahwa jika engkau mencarinya tanpa cara yang halal, niscaya kamu tidak akan mendapatkannya lebih banyak dari apa yang telah ditakdirkan kepadamu.”

Muhammad bin Sirin memiliki catatan sejarah yang dapat dibuktikan dan amat masyhur di dalam menghadapi penguasa Bani Umayyah dimana beliau berani mengucapkan kebenaran dan dengan ikhlash memberikan nasehat bagi Allah, Rasul-Nya serta para pemimpin kaum Muslimin.

Di antara contohnya, kisah ‘Umar bin Hubairah al-Fazary, salah seorang tokoh besar Bani Umayyah dan penguasa kawasan Iraq yang mengirimkan surat untuk mengundangya berkunjung kepadanya. Maka, beliaupun datang menjumpainya bersama anak saudaranya.

Tatkala beliau datang, sang penguasa ini menyambungnya dengan hangat, memberikan penghormatan untuk kedatangannya, meninggikan tempat duduknya serta menanyakannya seputar beberapa masalah agama dan dien, kemudian berkata kepadanya,
“Bagaimana kondisi penduduk negerimu saat engkau meninggalkannya, wahai Abu Bakar?.”

“Aku tinggalkan mereka dalam kondisi kezhaliman meraja lela terhadap mereka dan kamu lalai terhadap mereka.” Katanya. Karena ucapan ini, anak saudaranya memberikan isyarat dengan pundaknya. Lalu beliau menoleh ke arahnya sembari berkata, “Engkau bukanlah orang yang kelak akan dipertanyakan tentang mereka tetapi akulah orang yang akan dipertanyakan itu. Ini adalah persaksian, siapa yang menyembunyikannya, maka hatinya berdosa.” (dengan mengutip untaian ayat 283 surat al-Baqarah)

Ketika pertemuan itu bubar, ‘Umar bin Hubairah mengucapkan selamat berpisah kepadanya dengan perlakuan yang sama saat menyambutnya, yaitu dengan penuh kehangatan dan penghormatan.

Bahkan dia memberikannya sebuah kantong berisi uang 3000 dinar, namun Ibn Sirin tidak mengambilnya.

Karena penolakan itu, anak saudaranya berkata kepadanya,
“Apa sih yang menyebabkanmu tidak mau menerima pemberian Amir?.”

“Dia memberiku karena baik sangkanya terhadapku. Jika aku benar termasuk orang-orang yang baik sebagaimana sangkaannya, maka tidaklah pantas bagiku untuk menerimanya. Bila aku tidak seperti yang disangkanya itu, maka adalah lebih pantas lagi bagiku untuk tidak membolehkan menerima itu.”

Sudah menjadi kehendak Allah untuk menguji ketulusan dan kesabaran Muhammad bin Sirin. Karena itu, Dia mengujinya dengan ujian yang biasa dihadapi oleh orang-orang beriman.

Di antaranya, bahwa suatu hari beliau membeli minyak secara kredit dengan harga 40.000 dinar. Tatkala dia membuka salah satu tutupan wadah minyak yang terbuat dari kulit itu, dia mendapatkan seekor tikur yang mati dan sudah membusuk. Beliau berkata di dalam hatinya, “Sesungguhnya semua minyak ini berasal dari satu tempat penyaringan. Najis yang ada bukan hanya ada di dalam satu wadah ini saja. Jika, aku kembalikan kepada si penjual karena alasan ada aibnya, barangkali saja dia akan menjualnya lagi kepada orang lain.” Kemudian beliau menumpahkan semuanya.

Hal itu terjadi di saat beliau mengalami kerugian besar sehingga dililit hutang. Ketika pemilik minyak itu menagih uangnya, beliau tidak dapat mengembalikannya.

Maka, masalah itupun diadukan kepada penguasa di sana yang lalu memerintahkan agar mengurung beliau hingga mampu membayar hutang tersebut.

Ketika berada di penjara dan mendekam di situ beberapa lama, sipir penjaga penjara merasa kasihan terhadapnya karena mengetahui betapa kemapanan ilmu agamanya, kewara’annya yang amat berlebihan serta ibadahnya yang demikian panjang. Maka berkatalah sipir itu kepadanya,
“Wahai tuan guru, bilamana sudah malam, silahkan engkau kembali ke keluargamu dan bermalamlah bersama mereka. Bila sudah pagi, maka kembalilah ke sini. Teruslah demikian hingga engkau dibebaskan.”

Beliau menjawab,
“Demi Allah, hal ini tidak akan pernah aku lakukan.”
“Kenapa? Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu.” Tanya sipir

“Yah, hingga aku tidak terlibat dalam bertolong-tolong atas pengkhiatan terhadap penguasa negeri ini.”

Ketika Anas bin Malik RA., dekat ajalnya, dia berwasiat agar yang memandikan dan mengimami shalat atasnya adalah Muhammad bin Sirin yang saat itu masih di penjara.

Tatkala Anas wafat, orang-orang mendatangi penguasa itu dan memberitakannya perihal wasiat shahabat Rasulullah SAW., dan Khadim-nya tersebut, lalu mereka meminta izinnya agar membiarkan Muhammad bin Sirin ikuat bersama mereka untuk merealisasikan wasiat itu, maka sang penguasa pun mengizinkannya.

Lantas berkatalah Muhammad bin Sirin kepada mereka,
“Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara hanya karena ada hutang yang aku harus bayar kepadanya.” Maka si tukang minyakpun mengizinkannya juga.

Ketika itulah, beliau keluar dari penjara, kemudian memandikan dan mengkafani Anas RA. Setelah itu, dia kembali ke penjara sebagaimana biasanya dan tidak sempat menjenguk keluarganya sendiri.

Muhammad bin Sirin mencapai usia 77 tahun. Tatkala kematian menjemputnya, dia mendapatkan dirinya sudah enteng karena tidak memikul beban duniawi lagi namun memiliki bekal yang banyak untuk kehidupan setelah kematian.

Hafshoh bintu Rasyid yang merupakan salah seorang wanita ahli ‘ibadah bercerita,
“Adalah Marwan al-Mahmaly tetangga kami. Dia seorang ahli ibadah dan pegiat dalam berbuat ta’at. Ketika dia wafat, kami sedih luar biasa. Di dalam tidur aku bermimpi melihatnya, lalu aku bertanya kepadanya,
‘Wahai Abu ‘Abdillah, apa yang diperbuat Rabbmu terhadapmu.?’

‘Dia telah memasukkanku ke dalam surga.’jawabnya
‘Lalu apa lagi?.’ Tanyaku
‘Lalu aku dinaikkan untuk bertemu Ash-habul Yamin (Golongan kanan, ahli surga).’jawabnya lagi

‘Kemudian apa lagi.?’ Tanyaku lagi
‘Kemudian aku dinaikkan lagi untuk bertemu al-Muqarrabun (Generasi awal).’ Jawabnya lagi

‘Siapa saja yang engkau lihat ada di sana.?’ Tanyaku lagi
‘Ada al-Hasan al-Bashary dan Muhammad bin Sirin…’ Jawabnya.

CATATAN:
Sebagai bahan tambahan mengenai biografi Muhammad bin Sirin, silahkan merujuk:
1. ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jld.III:385; IV:333; VI:27; VII:11,19,154 dan VIII: 246 dan halaman-halaman lainnya.
2. Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauzy, Jld.III:241-248.
3. Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâny, Jld.II:263-282.
4. Târîkh Baghdad karya al-Khathîb al-Baghdâdy, Jld.V:331.
5. Syadzarât adz-Dzahab, Jld.I:138-139.
6. Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khalakân, Jld.III:321-322.
7. al-Wafayât karya Ahmad bin Hasan bin Ali bin al-Khathîb, h.109.
8. Al-Wâfy Bi al-wafayat karya ash-Shafady, Jld.III:146.
9. Thabaqât al-Huffâzh, Jld.III:9.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 77

Rabi’ah ar-Ra’yi

(Dia Masih Dalam Kandungan Ibunya, Kala Ditinggalkan Sang Ayah Yang Haus Mati Syahid)-1

“Aku tidak melihat seseorang yang lebih memelihara as-Sunnah selain Rabi’ah” (Ibn al-Majisyun)

EPISODE I

Kita saat ini berada di tahun 51 H.
Dan inilah beberapa kompi pasukan kaum muslimin bergerak menuju tanah-tanah terjal di antara perbukitan, ke arah timur dan barat guna mengemban aqidah yang terang bagi umat manusia, mengulurkan kepada mereka tangan pembenah nan lembut, menyebarkan syariat yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia di setiap sudutnya dan menjadikan loyalitasnya hanya kepada Allah saja, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Inilah seorang sahabat agung, ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy, gubernur Khurasan, penakluk Sajistan dan komandan yang gagah berani sedang bergerak memimpin pasukannya berperang di jalan Allah bersama budaknya yang pemberani, Farrukh.

Setelah Allah memuliakannya dengan penaklukan Sajistan dan belahan bumi lainnya, dia bertekad untuk menutup kehidupannya yang semarak dengan menyeberangi sungai Sihun (sebuah sungai besar yang terletak setelah Samarkand, perbatasan Turkistan) dan mengangkat bendera tauhid di atas puncak bumi yang disebut dengan Negeri Di Balik Sungai itu.

Ar-Rabi’ bin Ziad menyiapkan peralatan dan bekalnya untuk peperangan yang sebentar lagi akan terjadi. Dan dia telah menetapkan waktu dan tempat untuk menghadapi musuhnya.

Dan ketika peperangan telah berkobar, ar-Rabi’ dan pasukannya yang gagah berani melancarkan serangan yang hingga kini masih didokumentasikan oleh sejarah dengan penuh sanjungan dan penghormatan.

Sementara budaknya, Farrukh telah menampakkan kegagahan dan keberaniannya di medan laga sehingga membuat ar-Rabi’ tambah kagum, hormat dan menghargai keistimewaannya itu.

Peperangan berakhir dengan kemenangan yang gemilang bagi kaum muslimin. Mereka telah mampu menggoncang musuh, mencerai-beraikan dan mengkocar-kacirkan pasukannya.

Kemudian mereka menyebrangi sungai yang menghalangi mereka untuk menuju ke arah negeri Turki dan menahan laju mereka ke arah negeri Cina dan kerajaan Shughd.

Ketika Panglima besar ini telah berhasil menyeberangi sungai dan telah kedua kakinya telah menapak ke tanah pinggirannya, dia dan pasukannya segera berwudhu dengan air sungai dengan sebaik-baiknya.

Lalu mereka menghadap kiblat dan melakukan shalat dua raka’at sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, Penganugerah kemenangan.

Setelah itu, dia membalas jasa budaknya, Farrukh dengan memerdekakannya, memberinya bagian ghanimah yang sangat banyak, ditambah harta pribadinya yang cukup banyak pula.

Kehidupan setelah hari yang cemerlang dan terang itu tidaklah berlangsung lama bagi ar-Rabi’ bin Ziad al-Haritsy.

Ajal pun menjemputnya setelah dua tahun dari tercapai impiannya yang besar itu, untuk pergi menyongsong Rabbnya dengan penuh ridha dan diridhai.

Sedangkan anak muda nan gagah lagi pemberani, Farrukh, kembali ke Madinah al-Munawwarah dengan membawa bagian ghanimahnya yang banyak dan pemberian berharga yang diberikan oleh panglima besarnya.

Dan di atas semua itu, dia membawa kemerdekaan yang begitu mahal harganya dan kenangan indah bersama ukiran kepahlawanan yang dimahkotai oleh debu-debu peperangan.

Ketika menginjakkan kaki ke kota Rasulullah, Farrukh merupakan seorang pemuda yang sempurna, energik dan penuh semangat ksatria dan kepandaian berkuda. Ketika itu, usianya sudah menganjak 30-an tahun.

Farrukh telah berniat untuk membangun rumah tempat berteduh dan memiliki seorang isteri tempat tambatan hatinya.

Lalu dia membeli sebuah rumah tipe menengah di Madinah dan memilih seorang wanita yang cerdas otaknya, sempurna akhlaknya, baik agamanya dan seumur dengannya, lalu dinikahinyalah wanita itu.

Farrukh merasa nyaman dengan rumah yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Didampingi oleh sang isteri, dia juga mendapatkan rizki yang memadai, perlakuan yang demikian baik dan kehidupan yang cemerlang melebihi apa yang sebelumnya pernah diharapkan dan dicita-citakannya.

Akan tetapi rumah yang mewah beserta kelebihannya dan istri yang shalehah dengan segala yang dikaruniakan Allah kepadanya; sifat yang baik dan prilaku yang agung, tidaklah mampu untuk membendung hasrat sang ksatria Mukmin ini untuk kembali terjun ke medan laga, kerinduan untuk mendengar suara gemerincing pedang saling bersabetan dan kegandrungannya untuk kembali berjihad di jalan Allah.

Setiap kali terdengar berita kemenangan pasukan muslim yang berperang di jalan Allah di Madinah, semakin menyalalah kerinduannya untuk berjihad dan semakin menggebulah hatinya keinginannya mendapatkan kesyahidan.

Suatu kala di hari jum’at, Farrukh mendengar khathib masjid Nabawi mengabarkan berita gembira perihal kemenangan pasukan muslim di berbagai medan peperangan, mengajak jema’ah untuk berjihad di jalan Allah dan menganjurkan untuk mencari kesyahidan demi meninggikan agama-Nya dan mengharap keridhaan-Nya,.

Maka pulanglah Farrukh ke rumahnya sementara dia telah memasang tekad bulat untuk bergabung di bawah bendera kaum muslimin yang bertebaran di bawah setiap komando. Dia menyampaikan niatnya tersebut kepada sang isteri.

Maka sang istri menjawab,
“Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau titipkan diriku dan jabang bayi yang sedang aku kandung ini?! Sebab di Madinah ini adalah orang asing yang tidak mempunyai keluarga dan sanak saudara.”

Lalu Farukh berkata,
“Aku titipkan kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu 30.000 dinar yang aku kumpulkan dari ghanimah perang; jagalah dan investasikanlah harta itu. Belanjakanlah untuk dirimu dan anakmu darinya dengan baik hingga aku pulang dengan selamat dan membawa ghanimah atau Allah karuniakan kepadaku kesyahidan yang aku cita-citakan.”

Kemudian dia berpamitan dengannya dan pergi menuju tujuannya.

Istri yang cerdas otaknya ini kemudian melahirkan bayinya setelah beberapa bulan dari kepergian sang suami.

Ternyata anaknya adalah laki-laki berwajah ceria, tampan dan enak dipandang. Sang ibu sangat bahagia dengan kelahiranya, sampai-sampai dia lupa akan kepergian ayahnya. Anak ini, dia beri nama Rabi’ah.

Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasan telah nampak pada anak kecil ini. Tanda-tanda kepintaran itu nampak pada tingkah laku dan perkataannya. Karena itu, sang ibu menyerahkannya kepada beberapa orang guru dan berpesan kepada mereka agar mengajarkannya dengan sebaik-baiknya. Dia juga mengundang guru-guru akhlaq dan menyarankan merkea agar melakukan penggamblengan yang ketat terhadapnya.

Tak berapa lama dari itu, sang anak sudah menekuni baca-tulis. Dia juga dapat menghafal Kitabullah dan selalu membacanya secara tartil dengan begitu indah layaknya saat diturunkan ke hati Muhammad SAW. Begitu pula, dia banyak menghafal hadits Rasulullah SAW, pandai memamerkan ungkapan Arab yang indah dan mengetahui masalah-masalah agama yang esensial.

Untuk kebutuhan itu, Ummu Rabi’ah sudah banyak mengeluarkan ‘kocek’ buat para guru dan pendidik akhalq sang anak, demikian juga memberi hadiah-hadiah kepada mereka. Setiap dia melihat peningkatan ilmu sang anak, dia menambah uang buat mereka sebagai bentuk kepeduliaan dan penghormatan.

Di samping hal itu, rupanya dia juga selalu menanti-nanti kepulangan sang suami yang raib dan sudah berupaya untuk hanya menjadikannya sebagai belahan hatinya dan anaknya.

Akan tetapi sang suami, Farrukh telah lama menghilang sementara berita tentangnya masih simpang-siur; ada yang mengatakan dia ditawan musuh. Ada yang mengatakan bahwa ia meneruskan jihad. Sementara ada sekelompok orang lainnya yang sudah pulang dari medan jihad bahwa ia telah meraih kesyahidan yang diimpi-impikannya.

Bagi Ummu Rabi’ah pendapat terakhir ini lebih kuat karena sudah terputusnya berita tentangnya. Karena itu, diapun sedih sesedih-sedihnya yang membuat hatinya merana, lantas menyerahkan semua itu kepada Allah Ta’ala semoga dibalas pahala atas kesabarannya.

Ketika itu, Rabi’ah sudah beranjak remaja dan hampir masuk usia pemuda.

Para pemberi nasehat berkata kepada ibundanya,
“Ini si Rabi’ah sudah menyelesaikan baca-tulis yang sudah semestinya diselesaikan untuk orang seusianya. Bahkan dia unggul atas teman-teman seumurnya; dia hafal al-Qur’an dan juga meriwayatkan hadits. Andaikata engkau pilihkan suatu pekerjaan yang dapat menghasilkan kebaikan buatnya, pasti dengan begitu cepat dia bisa menekuninya dan lantas dapat menafkahimu dan dirinya.”

Ibu Rabi’ah menjawab, “Aku memohon kepada Allah agar Dia memilihkan untuknya hal terbaik bagi kehidupan dan akhiratnya…”

Sesungguhnya Rabi’ah telah memilih ilmu untuk dirinya dan bertekad bulat untuk hidup sebagai penuntut ilmu dan pengajar selama hayat dikandung badan.

Rabi’ah terus berlalu sesuai jalan yang telah digariskannya untuk dirinya tanpa menunda-nunda dan berbuat teledor, menyongsong halaqah-halaqah ilmu yang demikian sesak di masjid Madinah sebagaimana layaknya seorang yang dahaga yang menuju sumbe air nan lezat.

Dia berguru dengan para shahabat yang masih tersisa, terutama Anas bin Malik, khadim Rasulullah SAW.

Dia juga berguru dengan kontingen pertama dari generasi Tabi’in, terutama Sa’id bin al-Musayyib, Mak-hul asy-Syamy dan Salamah bin Dinar.

Dia terus berjerih payah pada malam hari dan siang harinya hingga betul-betul kelelahan.

Kita pernah mendengar para gurunya berkata, “Sesungguhnya ilmu itu tidak akan memberimu separoh dirinya kecuali bila kamu telah memberinya seluruh ragamu.”

Tidak berapa lama berlalu, namanya kemudian menjadi bergema, bintangnya telah berkibar dan saudara-saudaranya semakin banyak.

Para murid-muridnya amat menggandrunginya dan kaumnya telah menjadikannya sebagai pemuka mereka.

Kehidupan ulama Madinah ini berjalan damai dan tentram; separoh harinya dia berada di rumah bersama keluarga dan saudara-saudaranya. Separoh lagi dia gunakan di masjid Rasululullah guna menimba ilmu dari majlis-majlis dan halaqahnya.

Kehidupannya berjalan samar-samar hingga terjadilah sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka.

BERSAMBUNG

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 76

Rabi’ah ar-Ra’yi

(Dia Masih Dalam Kandungan Ibunya, Kala Ditinggalkan Sang Ayah Yang Haus Mati Syahid)-2 [habis]

EPISODE II

Pada bagian lalu telah dikemukakan bagaimana kepergian sang ayah dan bagaimana perjuangan sang ibu di dalam merawat dan mendidik anaknya, maka pada bagian ini pembaca akan mendapatkan hasil dari jerih payah sang ibu tersebut dan suatu kejadian yang amat langka sekaligus amat mengharukan

Pada suatu malam saat bulan purnama di musim panas, seorang pejuang yang sudah berumur sekitar enam puluh tahun-an baru sampai di Madinah.

Orang itu berjalan memasuki gang-gangnya dengan berkuda menuju rumahnya. Dia tidak tahu, apakah rumahnya masih berdiri seperti sedia kala atau sudah terjadi perubahan seiring dengan perjalanan waktu.

Sudah lama ia tingglkan, yaitu selama tiga puluh tahun atau sekitar itu.

Dia bertanya-tanya dalam hati tentang isterinya yang masih muda, yang dia tinggalkan di rumah itu; apa yang telah dia lakukan? Dan tentang jabang bayi yang dikandungnya; apakah anak laki-laki atau perempuan yang lahir? Apakah dia hidup atau mati? Dan jika hidup, bagaimana keadaannya?

Dia juga bertanya-tanya tentang uang banyak yang dia kumpulkan dari beberapa ghanimah jihad, yang dia titipkan padanya ketika akan berangkat berperang di jalan Allah bersama tentara kaum muslimin yang bergerak untuk menaklukkan negeri Bukhara, Samarkand dan sekitarnya.

Waktu itu, gang-gang Madinah dan jalan-jalannya masih ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang karena mereka hampir saja akan melaksanakan shalat isya’.

Akan tetapi tidak seorangpun dari orang-orang yang dia lewati mengenalnya, tidak ada yang memperdulikannya, tidak melihat kudanya yang kurus dan tidak melihat pedangnya yang menggelayut di pundaknya.

Penduduk kota-kota Islam telah terbiasa melihat pemandangan para mujahidin yang hendak berangkat menuju peperangan di jalan Allah atau kembali darinya.

Akan tetapi hal itulah yang justeru menimbulkan kesedihan dan rasa cemas di hati pejuang ini.

Tatkala pejuang ini hanyut dalam alam pikirannya, sembari terus berjalan mencari rumahnya di gang-gang yang sudah banyak berubah itu, tiba-tiba dia mendapati dirinya sudah berada di depan rumahnya.

Kebetulan dia dapati pintunya terbuka sehingga saking gembiranya, dia lupa meminta izin dulu kepada penghuninya. Dia langsung menyelonong masuk hingga sampai ke bagian dalam.

Pemilik rumah mendengar suara pintu, lalu dia melongok dari lantai atas. Ternyata di bawah benderang sinar rembulan, dia melihat seorang laki-laki yang menghunus pedang dan menggantungkan tombaknya sedang memasuki rumahnya di malam hari.

Waktu itu istrinya yang masih muda berdiri tidak jauh dari incaran mata orang asing itu.

Melihat gelagat itu, pemilik rumah langsung marah dan segera turun tanpa alas kaki seraya berkata,
“Apakah anda ingin sembunyi di balik kegelapan wahai musuh Allah dan merampok rumahku serta menyerang istriku?!”

Lalu dengan seketika, dia menyerang orang tersebut bak harimau yang ingin mempertahankan sarangnya jika ada yang ingin mengganggunya dan tidak memberikan kesempatan lagi kepadanya untuk berbicara.

Akhirnya, masing-masing saling baku hantam sehingga suasana gaduh semakin seru dan suaranya semakin mengencang. Karenanya, para tetangga berhamburan menuju ke rumah itu dari segala penjuru. Lalu mereka mengurung orang asing ini ibarat lingkaran borgol di tangan dan membantu tetangga mereka untuk menghadapinya.

Lantas pemilik rumah mencengkeram leher orang asing itu dan mengencangkan cengkeramannya seraya berkata,
“Demi Allah aku tidak akan melepaskanmu -wahai musuh Allah- kecuali nanti di samping gubernur.”

Maka orang itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan tidak melakukan dosa apa-apa.! Ini adalah rumahku dan budakku, aku mendapati pintunya terbuka lalu aku memasukinya.”

Kemudian orang asing itu menoleh ke arah khalayak sembari berkata,
“Wahai hadirin, tolong dengarkan aku. Rumah ini adalah rumahku yang aku beli dengan hartaku. Wahai hadirin, aku ini adalah farrukh. Apakah tidak ada seorang tetanggapun yang masih mengenali Farrukh yang pergi sejak tiga puluh tahun lalu untuk berjihad di jalan Allah?!.”

Waktu itu ibu pemilik rumah ini sedang tidur lalu terbangun karena mendengar keributan. Dia melongok dari jendela lantai atas dan melihat yang ternyata benar-benar suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hampir-hampir saja saking terkejutnya, lisannya tak dapat berbicara, untunglah tak berapa lama kemudian dia dapat mengatasinya seraya berkata,
“Biarkan dia, biarkan dia! wahai Rabi’ah! Biarkan dia, wahai anakku. Sesungguhnya dia itu adalah ayahmu. Wahai hadirin, pergilah kalian semua, semoga Allah memberkati kalian.”
“Berhati-hatilah, wahai Abu Abdurrahman.! Sesungguhnya orang yang engkau hadapi itu adalah anak dan belahan hatimu sendiri.”

Begitu ucapannya menyentuh telinganya, maka Farrukhpun segera menyongsong Rabi’ah, merengkuh dan memeluknya.

Sedangkan Rabi’ah, langsung menyongsong Farrukh lalu mencium kedua tangannya, lehernya dan kepalanya.
Dan orang-orang pun bubar…

Ummu Rabi’ah turun untuk memberi salam kepada suaminya yang sebelumnya dia tidak mengira akan bertemu dengannya di tanah ini setelah beritanya terputus selama hampir sepertiga abad.

Farrukh duduk di sebelah istrinya dan mulai bercerita tentang pengalamannya serta menyampaikan sebab terputusnya berita tentang dirinya tersebut.

Akan tetapi Ummu Rabi’ah tidak begitu memperhatikan omongannya. Rasa takut akan amarah suaminya karena telah menyia-nyiakan harta yang telah dititipkannya padanya telah memperkeruh kegembiraannya bertemu dengannya dan pertemuannya dengan anaknya.

Dalam hati dia berkata, “Kalau dia menanyaiku sekarang tentang sekian banyak uang yang dititipkannya padaku sebagai amanat, yang waktu itu dia berpesan agar aku membelanjakannya di jalan yang ma’ruf (baik), apa yang harus kujawab? Apa kira-kira reaksinya andai aku beritahu bahwa tidak ada sepeserpun yang tersisa? Apakah dia akan percaya bila aku katakan bahwa semua hartanya yang dia tinggalkan itu telah aku gunakan untuk biaya pendidikan dan pengajaran anaknya? Apakah mungkin biaya seorang anak bisa mencapai 30.000 dinar? Apakah dia akan percaya bahwa tangan sang anak lebih mulia daripada awan yang menurunkan hujan dan bahwa dia tidak menyisakan sepeser dinar atau dirham-pun untuk dirinya? Apakah dia akan percaya bahwa semua orang di Madinah ini pasti tahu bahwa anaknya itu telah menginfakkan beribu-ribu uang untuk rekan-rekannya?.”

Pada saat Ummu Rabi’ah tenggelam dalam lamunannya ini, suaminya menoleh kepadanya seraya berkata,
“Sekarang aku bawa lagi untukmu, wahai Ummu Rabi’ah sebanyak empat ribu dinar. Maka tolong perlihatkan uang yang dulu aku titipkan padamu supaya kita kalkulasi dengan yang ini, lalu harta kita semuanya itu kita belikan sebuah kebun atau real estate sehingga dari omsetnya kita bisa hidup selama hayat dikandung badan.”

Ummu Rabi’ah pura-pura menyibukkan diri dan tidak memberikan jawaban sedikitpun.

Lalu suaminya mengulang permintaannya kembali sembari berkata,
“Ayo, mana harta itu supaya aku gabungkan dengan yang ada di tanganku ini?”

Lalu Ummu Rabi’ah berkata,
“Aku telah menyimpannya di tempat yang layak dan akan aku berikan padamu beberapa hari lagi, insya Allah.” Untunglah, suara adzan memutus perbincangan keduanya.

Lalu Farrukh bergegas mengambil kendi dan berwudlu.
Kemudian cepat-cepat menuju pintu dan berteriak, “Di mana Rabi’ah.?”

Mereka menjawab, “Dia telah mendahuluimu ke masjid sejak adzan pertama, dan kami kira kamu tidak akan mendapatkan shalat jama’ah.”

Farrukh sampai di masjid, dan mendapati imam baru saja selesai dari shalat. Dia kemudian melakukan shalat wajib, lalu menuju kuburan yang mulia untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, kemudian beranjak ke Raudhah yang suci, karena hatinya masih rindu untuk melakukan shalat di sana.

Dia memilih suatu tempat di hamparannya yang sejuk dan melakukan shalat sunnah semampunya di sana, kemudian berdo’a kepada Allah.

Dan ketika ingin meninggalkan masjid, dia menemukan ruangannya yang luas telah disesaki majlis ilmu yang belum pernah dia saksikan sebanyak itu sebelumnya.

Dia melihat orang-orang telah melingkar di sekeliling Syaikh, satu demi satu hingga tidak ada lagi tempat menginjakkan kaki di lokasi itu, lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah orang-orang, ternyata di sana banyak sekali syaikh-syaikh yang memakai syal dan sudah tua-tua, orang-orang terhormat yang dari gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka orang-orang penting (berpangkat) dan para pemuda yang banyak sekali sedang bersimpuh di atas lutut mereka sembari mengambil pena dengan tangan untuk menulis apa saja yang dikatakan Syaikh tersebut layaknya permata-permata yang diperebutkan. Lalu menyimpan tulisan itu di dalam buku catatan mereka sebagaimana halnya benda-benda berharga disimpan.

Orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke arah di mana syaikh duduk, mendengarkan penuh khidmat setiap ucapan yang keluar hingga seakan-akan di atas kepala mereka ada burung yang bertengger. Para petugas penyampaian (Muballigh) menyampaikan apa yang diucapkan syaikh, paragraf demi paragraf sehingga sekalipun seseorang jauh tempatnya, tidak akan ketinggalan satu patah katapun.

Dalam pada itu, Farrukh berusaha memasati (mengamati dengan jelas) wajah si syaikh tersebut namun tidak berhasil karena tempatnya yang jauh.

Penjelasannya yang cemerlang, ilmunya yang mumpuni dan ingatannya yang luar biasa membuatnya tertawan, terlebih lagi dengan pemandangan orang-orang yang begitu tunduk di hadapannya. Tidak berapa lama, syaikhpun menutup majlis pengajiannya dan bangkit berdiri. Maka, serta-merta orang-orang menyongsong ke arahnya, berdesak-desakan, melingkarinya dan berdorong-dorong mengikuti dari belakangnya guna mengantarnya hingga ke luar arena masjid.

Ketika itulah, Farrukh menoleh ke arah orang yang duduk di sebelahnya tadi seraya berkata,
“Tolong katakan kepadaku –atas nama Rabbmu- siapa syaikh itu?.”

“Bukankah anda ini berasal dari Madinah.?” Jawab orang itu dengan penuh keheranan.

“Benar.” Kata Farrukh

“Apakah ada orang yang tidak mengenal syaikh di Madinah ini?.” kata orang itu lagi

“Ma’afkan aku, bila aku tidak begitu mengenalnya. Sudah sekitar 30 tahun aku habiskan waktu jauh dari kota Madinah ini dan baru kemarin aku kembali.” Kata Farrukh lagi

“Kalau begitu, nggak apa-apa. Mari duduk bersamaku sebentar, biar aku ceritakan tentang syaikh ini.”

Orang itu melanjutkan,
“Syaikh yang anda nikmati pengajiannya tadi itu adalah salah seorang pemuka Tabi’in dan tokoh kaum Muslimin. Dia lah Ahli hadits kota Madinah ini, Faqih berikut Imamnya sekalipun usianya masih belia.”

“Masya Allah, La Quwwata Illa Billah.” Jawab Farrukh

orang tadi meneruskan,
“Sebagaimana yang anda lihat, majlis pengajiannya juga dijubeli oleh Mâlik bin Anas, Abu Hanîfah (keduanya adalah imam madzhab terkenal), Yahya bin Sa’îd al-Anshâry, Sufyân ats-Tsaury, ‘Abdurrahmân bin ‘Amr al-Awzâ’iy, al-Laits dan banyak lagi yang lainnya.”

“Tetapi kamu…” celetuk Farrukh

Namun orang itu tidak memberikannya kesempatan untuk melanjutkan ucapannya tersebut dan langsung melanjutkan,
“Di atas semua itu, dia adalah seorang tuan, yang mulia pekertinya dan rendah diri lagi dicintai orang serta dermawan. Penduduk Madinah ini tidak pernah mengenal orang yang lebih dermawan darinya baik terhadap teman ataupun anak teman…tidak ada yang lebih zuhud darinya terhadap glamour duniawi serta tidak ada yang lebih besar cintanya terhadap anugerah Allah selainnya.”

“Tapi kamu belum juga menyebutkan kepadaku, siapa namanya!.” Komentar Farrukh

“Dia adalah Rabi’ah ar-Ra`yi.” Jawab orang itu

“Rabi’ah ar-Ra`yi?!” kata Farrukh
“Ya, namanya Rabi’ah… akan tetapi para ulama dan syaikh Madinah ini memanggilnya dengan Rabi’ah ar-Ra`yi karena bila mereka tidak mendapatkan satu nashpun dari suatu masalah baik di dalam Kitabullah ataupun hadits Rasulullah, pasti merujuk kepadanya, lantas dia berijtihad dengan ra`yi (pendapat)nya sendiri dalam hal itu. Dia analogkan masalah yang tidak terdapat nashnya itu terhadap masalah yang ada nashnya, lalu memberikan putusan terhadap masalah yang dirasakan rumit oleh mereka tersebut; sebuah putusan yang berkenan di hati.” Kata orang itu melanjutkan

“Tapi kamu belum menyebutkan siapa ayahnya kepadaku.!” Kata Farrukh memelas

“Dia lah Rabi’ah bin Farrukh, yang dijuluki dengan Abu ‘Abdirrahman. Dia dilahirkan setelah ayahnya itu meninggalkan Madinah ini untuk tujuan berjihad di jalan Allah sehingga ibunya lah yang kemudian mengurusi pendidikan dan pertumbuhannya. Aku sudah mendengar menjelang waktu shalat ini masuk tadi, ada orang-orang mengatakan bahwa ayahnya sudah kembali malam tadi.” Kata orang itu

Ketika itulah, dua tetes besar air mata Farrukh mengalir dari kedua matanya sehingga membuat orang tadi tidak mengetahui apa gerangan sebabnya.

Dia kemudian bergegas melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Tatkala Ummu Rabi’ah melihatnya berlinangkan air mata, dia menanyakan,
“Ada apa denganmu, wahai Rabi’ah?.”

“Ah, Aku baik-baik saja. Aku tadi telah melihat betapa anak kita sudah mencapai kedudukan ilmu, kehormatan dan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki oleh orang-orang sebelumnya.” Jawabnya

UmmU Rabi’ah kemudian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini seraya berkata,
“Kalau begitu; mana yang lebih kau cintai: 30.000 dinar atau martabat ilmu dan kehormatan yang telah dicapai anakmu ini?.”

“Demi Allah, malah inilah yang lebih aku cintai dan lebih aku dahulukan ketimbang seluruh harta dunia ini.”

“Sebenarnya, semua yang engkau titipkan padaku itu telah aku habiskan untuk membiayainya.” Kata Ummu Rabi’ah meyakinkan

“Ya, terimakasih, semoga engkau, dia dan kaum Muslimin mendapatkan balasan dariku dengan sebaik-baik balasan.” Ucapnya

SELESAI

CATATAN:
Sebagai bahan rujukan mengenai bigrafi Rabi’ah ar-Ra’yi, silahkan lihat:

1- Tadzkirah al-Huffâzh, I:148
2- Hilyah al-Awliyâ`, III:259
3- Sifah ash-Shafwah, II:83
4- Dzayl al-Muzîl, h.101
5- Târîkh Baghdâd, VIII:420
6- Mîzan al-I’tidâl, I:136
7- At-Tâjj, X:141
8- Wafayât al-A’yân, I:138
10- Târîkh ath-Thabariy

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 75

RAJA` BIN HAIWAH

(Ketika Penasehat Sang Penguasa Adalah Seorang Yang Shalih)

“Sesungguhnya pada suku Kindah terdapat tiga orang yang melalui doa mereka, Allah turunkan hujan dan menangkan atas musuh, salah satunya adalah Raja’ bin Haiwah” (Maslamah bin ‘Abdul Malik)

Pada masa Tabi’in ada tiga orang yang oleh orang-orang zaman itu tidak ada tandingan dan duanya.

Mereka seakan bertemu dalam satu janji; saling berwasiat dalam berbuat kebenaran dan bersabar, saling berikrar untuk berbuat kebaikan dan kebajikan, mewakafkan diri mereka untuk selalu berbuat ketakwaan dan mencari ilmu serta menjadikan diri mereka sebagai pelayan Allah, Rasul-Nya, kaum awam maupun kalangan khusus orang-orang beriman. Mereka itu adalah: Muhammad bin Sîrîn di ‘Iraq, al-Qâsim bin Muhammad bin Abu Bakr di Hijaz dan Rajâ` bin Haiwah di Syam.

Mari kita ikuti untuk beberapa saat yang diberkahi ini kisah orang ke-tiga dari ke-tiga orang-orang pilihan lagi berbakti tersebut, yaitu Rajâ` bin Haiwah.

Rajâ` bin Haiwah dilahirkan di Bîsân, sebuah kawasan di ranah Palestina, pada penghujung kekhilafahan ‘Utsman bin ‘Affan atau sekitar itu.

Dia berafiliasi kepada kabilah Kindah yang terkenal. Dengan demikian, Rajâ` bertempat lahir di Palestina, asal Arab dan bermarga Kindi.

Sejak dari kecilnya, pemuda Kindi ini sudah tumbuh dalam keta’atan kepada Allah sehingga Allah mencintainya, demikian juga, dia dicintai makhluk-Nya.

Sejak kecil pula, dia sudah begitu menggebu-gebu dalam menuntut ilmu sehingga seakan ilmu telah mendapatkan ladang subur dan kosong sebagai tempat berdomisili dan menetap di dalamnya.

Dia menjadikan hobi utamanya adalah mendalami Kitabullah dan berbekal diri dengan hadits Rasulullah. Karenanya, pemikirannya disinari oleh Nur al-Qur’an, mata batinnya disoroti oleh petunjuk Nubuwwah dan dadanya disesaki oleh wejangan dan hikmah. Siapa saja orang yang mendapatkan hikmah, maka berarti dia telah diberi kebaikan yang banyak.

Beruntung dia mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari sebagian besar para pemuka shahabat seperti Abu Sa’id al-Khudry, Abu ad-Dardâ`, Abu Umâmah, ‘Ubadah bin ash-Shâmit, Mu’âwiyah bin Abu Sufyân, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Âsh, an-Nawwâs bin Sam’ân dan para shahabat lainnya.

Merekalah yang menjadi lentera hidayah dan obor ilmu pengetahuan baginya.

Pemuda yang beruntung ini telah meletakkan sebuah Dustur (konstitusi) bagi dirinya untuk berkomitmen dengannya dan mengulangi-ulanginya selama hayat dikandung badan. Dia sering berkata,
“Alangkah indahnya Islam bila dihiasi dengan keimanan,
Alangkah indahnya Keimanan bila dihiasi dengan ketakwaan,
Alangkah indahnya ketakwaan bila dihiasi dengan ilmu,
Alangkah indahnya ilmu bila dihiasi dengan amal,
Dan alangkah indahnya amal bila dihiasi dengan kelemah-lembutan”

Rajâ` bin Haiwah telah beberapa kali menempati posisi Wazîr (menteri) bagi sebagian khalifah dari kalangan Bani Umayyah, mulai dari ‘Abdul Malik bin Marwân hingga ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.

Akan tetapi interaksinya dengan Sulaiman bin ‘Abdul Malik bin Marwân dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz melebihi interaksinya dengan selain mereka berdua.

Beliau menempati kedekatan khusus di hati para Khalifah kalangan Bani Umayyah karena ketajaman pandangannya, ketulusan logatnya, keikhlasan niatnya, hikmahnya di dalam menyelesaikan berbagai urusan. Kemudian hal itu semua dimahkotai oleh kezuhudannya terhadap perhiasan dunia yang mereka miliki, yang biasanya karena itu banyak orang datang berdesak-desakan.

Interaksi beliau dengan para khalifah Bani Umayyah tersebut merupakan rahmat yang agung dari Allah dan pemuliaan-Nya terhadap mereka.

Beliau telah mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan menunjuki mereka jalan-jalannya.

Beliau telah menjauhkan mereka dari kejahatan dan menutup pintu-pintunya terhadap mereka. Sehingga, beliau mempu menampakkan kebenaran kepada mereka dan merayu mereka untuk mengikutinya. Membelalakkan mata mereka terhadap kebatilan dan membuat mereka tidak suka untuk melakukannya.

Dengan begitu, beliau telah melakukan nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan orang-orang awam mereka.

Terjadi suatu kisah yang berhasil menyinari jalannya di dalam pergaulannya dengan para khalifah dan menentukan perannya bersama mereka. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Rajâ`,
“Tatkala aku berdiri bersama Sulaiman bin ‘Abdul Malik (Salah seorang pembesar khalifah Bani Umayyah, dialah yang membangun kota Ramallah di Palestina, memerangi kaum Bizantium dan mengepung Konstantinopel) yang berada di sela-sela khalayak manusia, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki menuju ke arah kami di tengah keramaian. Dia soerang yang berwajah ganteng, gerak-geriknya begitu agung. Dia terus merangsak di tengah barisan. Aku tidak meragukan lagi kalau dia ingin bertemu khalifah hingga ia berada sejajar denganku lalu berhenti di sampingku, kemudian memberi salam kepadaku seraya berkata,

‘Wahai Rajâ`, sesungguhnya engkau telah diuji dengan orang ini –sembari menunjuk ke arah khalifah-. Sesungguhnya mendekatinya akan membuahkan kebaikan yang banyak ataupun keburukan yang banyak. Maka, jadikanlah kedekatamu itu sebagai kebaikan bagimu, baginya dan bagi manusia.

Dan ketahuilah wahai Rajâ`, siapa saja yang memiliki kedudukan di mata seorang penguasa lalu dia dapat mengangkat hajat seorang yang lemah, yang dia tidak mampu melakukannya sendiri maka kelak pada hari pertemuan dengan-Nya, dia akan bertemu dengan Allah dalam kondisi telah dimudahkan baginya menghadapi hari perhitungan (Hisab).
Ingatlah wahai Rajâ`, bahwa siapa saja yang menolong hajat saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan menolong hajatnya.

Ketahuilah wahai Rajâ`, bahwa di antara amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati seorang Muslim.’

Dan saat aku memperhatikan ucapannya dan menunggu-nunggu dia menambah lagi nasehatnya, tiba-tiba khalifah memanggil seraya berujar,
‘Dimana Rajâ`?’
Lalu aku menoleh ke arahnya seraya menjawab,
‘Ini aku, wahai Amirul Mukminin.’

Kemudian dia bertanya sesuatu kepadaku dan begitu aku hampir usai menjawabnya dan menoleh lagi ke temanku tadi, aku sudah tidak mendapatinya lagi.

Lantas aku berkeliling ke sana ke mari untuk mencarinya namun tidak berhasil menemukan satu jejaknya pun di tengah-tengah orang-orang tadi.

Rajâ` bin Haiwah juga memiliki beberapa sikap yang tulus bersama para khalifah Bani Umayyah yang masih terus didokumentasikan oleh sejarah dalam lembaran-lembarannya yang paling cemerlang dan masih terus dinukil oleh generasi muda dari generasi tua.

Di antaranya, suatu ketika dia berada di majlis ‘Abdul Malik bin Marwan, lalu disinggunglah seseorang yang bersikap kurang baik terhadap Bani Umayyah. Dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya dia (orang tersebut) membela ‘Abdullah bin az-Zubair (yang merupakan saingan berat ‘Abdul Malik dalam memperebutkan khilafah) dan menyokongnya.’

Si pencerita ini menyebutkan tingkah laku dan perkataan-perkataan orang tersebut yang membangkitkan emosi khalifah. Maka serta-merta dia berkata,
‘Demi Allah, bila aku dapati orang tersebut, niscaya aku akan melakukan begini dan begitu terhadapnya serta akan kutebas batang lehernya.’

Tak berapa lama dari itu, orang tersebut berhasil ditangkap lalu digiring kepada beliau. Tatkala melihatnya, hampir saja melampiaskan kemarahannya dan ingin segera melaksanakan janjinya. Namun cepat-cepat Rajâ` mencegahnya seraya berkata,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala membuat kekuasaan untukmu sesuai yang engkau sukai, maka perbuatlah untuk Allah ma’af yang disukai-Nya.’

Maka tenanglah jiwa sang khalifah dan redalah emosinya sehingga orang tersebut dima’afkan dan dilepasnya bahkan diperlakukannya dengan baik.

Dan, pada tahun 91 H, al-Walîd bin ‘Abdul Malik melakukan ibadah haji didampingi Rajâ` bin Haiwah.

Tatkala tiba di Madinah, mereka berdua mengunjungi majid Nabawi didampingi juga oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.

Nampaknya al-Walîd ingin sekali melihat ke dalam lokasi al-Haram an-Nabawy secara teliti dan seksama. Sebab, dia telah bertekad kuat untuk melakukan perluasan hingga menjadi 200 hasta x 200 hasta.

Karena itu, orang-orang yang berada di dalam masjidpun dikeluarkan agar sang khalifah bisa mengamatinya sehingga tidak ada seorangpun lagi yang tersisa kecuali Sa’id bin al-Musayyab karena para penjaga tidak berani mengeluarkannya.

Lalu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz –yang saat itu baru menjabat gubernur Madinah- mengutus seseorang untuk menemuinya. Lalu dia berkata,
“Sudilah kiranya tuan keluar juga dari masjid ini seperti yang dilakukan orang-orang.”

“Aku tidak akan meninggalkan masjid ini kecuali pada waktu yang biasa meninggalkannya setiap harinya.” Jawab Sa’id
Lalu dia ditanyai lagi,
“Sudilah kiranya tuan berdiri untuk memberi salam kepada Amirul Mukminin.”

“Aku datang ke sini hanya untuk berdiri menghadap Rabb semesta ini.” Jawabnya.

Tatkala ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz mengetahui pembicaraan yang berlangsung antara utusannya dan Sa’id bin al-Musayyab dia menjauhkan khalifah dari tempat di mana Sa’id berada.

Sementara Rajâ` melengahkannya dengan pembicaraan karena kedua orang ini mengetahui benar tabi’at khalifah yang temperamental.

Al-Walîd berkata kepada keduanya,
“Siapa si syaikh itu? Bukankah dia Sa’id bin al-Musayyab.?”

“Benar, wahai Amirul Mukminin” Kata keduanya

Keduanya lalu menjelaskan secara panjang-lebar mengenai agama, ilmu, keutamaan dan ketakwaannya.

Kemudian mereka berdua menimpali lagi,
“Andaikata keduanya tahu tempat di mana Amirul Mukminin berada, tentulah dia akan bangkit dan memberi salam kepada anda namun sayang penglihatannya sudah lemah.”

“Sesungguhnya aku sudah mengetahui kondisinya sebagaimana yang kalian sebutkan itu. Karena itu, adalah lebih pantas bila kita yang mendatangi dan memberi salam kepadanya.” Kata al-Walîd

kemudian khalifah berkeliling di seputar masjid hingga mendatanginya dan berdiri di hadapannya lalu memberi salam kepadanya seraya berkata,
“Bagaimana kabarmu, wahai syaikh.?”

“Atas nikmat Allah, bagi-Nya segala pujian dan banyak pujian. Bagaimana pula kabar Amirul Mukminin? Semoga Allah memberinya taufiq terhadap hal yang dicintai dan diridlai-Nya.” Jawabnya tanpa beranjak dari tempatnya

Setelah itu, al-Walîd berpaling seraya berkata,
“Inilah sisa manusia ini. Inilah sisa Salaf umat ini.”

Tatkala kekhilafahan beralih kepada Sulaiman bin ‘Abdul Malik, maka Rajâ` memiliki kedudukan yang istimewa sekali di sisinya melelebihi yang didapatnya dari para khalifah terdahulu.

Sulaiman menaruh kepercayaan yang begitu besar terhadapnya, amat bergantung kepadanya serta begitu antusias untuk mengambil pendapatnya dari hal yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya.

Sikap-sikap yang ditunjukkan Rajâ` bersama Sulaiman begitu banyak dan amat menggugah hati.

Hanya saja peran besar dan paling serius yang dimainkannya untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin adalah sikapnya terhadap urusan yang terkait dengan putra mahkota dan pengaruhnya terhadap pembai’atan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.

Mengenai hal ini, Rajâ` bercerita,
“Pada Jum’at pertama di bulan Shafar tahun 99 H, kami bersama Amirul Mukminin, Sulaiman bin ‘Abdul Malik di Dâbiq. (Sebuah kampung dekat Halab di Syria yang biasa disinggahi Bani Umayyah bila melakukan perang terhadap negeri-negeri Romawi dan di sanilah terdapat makam Sulaiman bin ‘Abdul Malik)

Beliau telah mengirimkan pasukan besar ke Konstantinopel di bawah komando saudaranya, Maslamah bin ‘Abdul Malik, yang disertai putranya bernama Dâwûd serta sebagian besar dari keluarga besarnya.

Beliau telah bersumpah bahwa akan tetap tinggal di padang rumput Dâbiq hingga Allah menganugerahi penaklukan Konstantinopel atau dia mati karenanya.

Tatkala sudah dekat waktu shalat Jum’at, beliau berwudlu secara sempurna, kemudian memakai pakaian kebesarannya berwarna hijau dan syal (sorban) berwarna hijau juga. Beliau mamandang dirinya di cermin dengan pandangan berbangga pada dirinya dan masa mudanya. Usianya masih sekitar 40-an tahun.

Kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at bersama umat dan tidak pulang dari masjid kecuali keadaan demam.

Hari demi hari sakitnya bertambah berat. Karena itu, beliau meminta kepadaku agar ‘standby’ di sisinya.

Suatu ketika, aku mengunjunginya lalu mendapatinya sedang menulis surat (wasiat). Maka, aku bertanya,
“Apa yang sedang engkau perbuat, wahai Amirul Mukminin?.”

“Aku sedang menulis surat wasiat untuk menyerahkan kekhilafahan nantinya kepada anakku, Ayyûb.” Jawabnya

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya hal yang dapat menjaga khalifah di kuburnya dan membebaskannya dari beban (tanggungan diri) di sisi Rabbnya adalah agar yang menjadikan seorang yang shalih sebagai khalifah umat. Dan putramu, Ayyûb masih kanak-kanak yang belum mencapai usia baligh serta belum dapat dibedakan antara keshalihan dan ke-thalih-an (ketidakshalihan)nya.” Kataku

Akhirnya beliau tidak jadi menulisnya dan berkata lagi,
“Sesungguhnya itu tadi adalah kitab wasiat yang telah aku tulis dan aku ingin memohon pilihan baik (shalat istikharah) kepada Allah mengenainya namun aku masih belum memastikan.” Lalu beliau merobeknya.

Hal itu berselang selama satu atau dua hari, kemudian beliau memanggilku lagi seraya berkata,
“Bagaimana pendapatmu mengenai putraku (yang lain), Dâwûd, wahai Abu al-Miqdâm (Kun-yah Rajâ`-red.,).?”

“Dia sedang tidak ada dan masih bersama pasukan kaum Muslimin di Konstantinopel. Jadi, engkau tidak tahu sekarang apakah dia masih hidup atau sudah meninggal?.” Jawabku

“Kalau begitu, siapa yang pantas menurutmu, wahai Rajâ`.?” Tanyanya

“Yang berhak mengemukakan pendapat hanyalah engkau, wahai Amirul Mukminin.” Jawabku

Sebenarnya aku ingin melihat siapa saja yang disebutnya agar aku mengeliminasi (menggugurkan)nya satu per-satu hingga sampai kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.
“Bagaimana pendapatmu terhadap ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz.?” Tanyanya

“Demi Allah, yang aku ketahui bahwa dia hanyalah seorang yang mulia, sempurna, berakal dan sangat agamis.” Jawabku

“Engkau benar. Demi Allah sesungguhnya dia memang demikian.” Katanya

“Akan tetapi, jika aku mengangkatnya dan mengabaikan putra-putra ‘Abdul Malik, pastilah akan terjadi fitnah dan mereka selamanya tidak akan membiarkannya berkuasa atas mereka.” Sambungnya

“Kalau begitu, sertakan bersamanya salah seorang dari mereka dan jadikan posisinya setelahnya (sebagai penggantinya nanti).” Kataku

“Tepat sekali, sebab hal itu akan menentramkan hati mereka serta membuat mereka rela.” Katanya

Kemudian dia mengambil kitab wasiat lalu menulis dengan tangannya, bunyinya:
“Bismillâhirrahmânirrahîm, ini adalah wasiat dari hamba Allah, Sulaiman bin ‘Abdul Malik, Amirul Mukminin kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz. Sesungguhnya aku telah mengangkatnya menjadi khalifah sepeninggalku dan menjadikan Yazîd bin ‘Abdul Malik sebagai khalifah selanjutnya. Maka, dengarkanlah perintahnya, patuhlah dan bertakwalah kalian kepada Allah serta janganlah berselisih sehingga kalian dimanfa’atkan oleh kerakusan orang-orang rakus.” Kemudian beliau membubuhkan khatam padanya lalu menyerahkannya kepadaku.

Selanjutnya beliau meminta agar Ka’b bin Hâmiz, kepala polisi (bagian keamanan) dipanggil dan setelah datang, beliau berkata kepadanya,
“Tolong panggilkan keluarga besarku agar segera berkumpul dan beritahukanlah kepada mereka bahwa kitab wasiat yang berada di tangan Rajâ` bin Haiwah adalah kitab wasiatku serta suruhlah mereka agar membai’at siapa saja yang ditunjuk di dalamnya.”

Rajâ` melanjutkan kisahnya,
“Tatkala mereka sudah berkumpul, aku berkata kepada mereka, ‘Ini adalah kitab wasiat Amirul Mukminin, isinya pelimpahan kekhalifahan kepada khalifah pengganti beliau. Dan beliau telah memerintahkanku agar mengambil bai’at kalian kepada siapa saja yang telah diangkatnya.’

‘Kami akan mendengar terhadap perintah Amirul Mukminin dan patuh terhadap khalifah penggantinya.’ Kata mereka

Lalu mereka meminta agar aku mengizinkan mereka menemui Amirul Mukminin untuk memberi salam kepadanya.
‘Baiklah.’ Kataku

Tatkala sudah masuk, Amirul Mukminin berkata kepada mereka,
‘Sesungguhnya kitab wasiat yang berada di tangan Rajâ` bin Haiwah ini adalah kitab wasiatku, isinya pengangkatanku terhadap khalifah yang akan menggantikanku. Karena itu, dengarkan dan patuhlah terhadap siapa saja yang telah aku angkat serta bai’atlah siapa yang aku sebut di dalam kitab wasiat ini.’
Merekapun mulai membai’t satu demi satu.

Kemudian aku keluar membawa kitab wasiat itu yang sudah distempel. Tidak seorangpun yang mengetahui isinya selain diriku dan Amirul Mukminin.

Ketika orang-orang sudah berpencar, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz menemuiku seraya berkata,
‘Wahai Abu al-Miqdâm, sesungguhnya Amirul Mukminin adalah orang yang sangat berbaik sangka terhadapku. Dia telah banyak sekali memberikanku pemberiaan berkat kemuliaannya dalam berbuat baik dan kasih sayangnya yang tulus. Dan aku khawatir bilamana beliau telah melimpahkan sesuatu dari urusan ini kepadaku. Aku tegaskan kepadamu, demi Allah dan melalui kehormatan dan kasihsayangku aku memohon kepadamu agar memberitahuku bilamana di dalam kitab wasiat Amirul Mukminin itu ada sesuatu yang spesial buatku supaya aku segera menanggalkannya sebelum terlambat.’

‘Demi Allah, aku tidak akan memberitahumu walaupun satu huruf dari apa yang engkau mohonkan padaku.’ Jawabku
Dia berpaling dariku dengan emosi.

Kemudian tak berapa lama, datang pula Hisyâm bin ‘Abdul Malik menemuiku seraya berkata,
‘Wahai Abu al-Miqdâm, sesungguhnya aku memiliki kehormatan, kasih sayang yang lama di sisimu dan aku amat berterimakasih sekali padamu. Karena itu, beritahukanlah kepadaku mengenai isi kitab wasiat Amirul Mukminin. Bila urusan ini diserahkan kepadaku, aku akan diam dan bila kepada orang selainku, aku akan bicara sebab orang sepertiku tidak patut disingkirkan dari urusan ini. Dan aku berjanji kepada Allah untuk tidak menyebut namamu selamanya.’

‘Demi Allah, aku tidak akan memberitahukan kepadamu satu huruf pun hal yang telah dirahasiakan Amirul Mukminin kepadaku.’ Jawabku

lalu dia pergi dengan memukul telapak tangannya sembari berucap,
‘Kepada siapa urusan ini diserahkan bila aku disingkirkan? Apakah khilafah akan lepas dari tangan Bani ‘Abdul Malik? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah penghulu dan sebaik-baik keturunan ‘Abdul Malik.’

Kemudian aku menemui Sulaiman bin ‘Abdul Malik, ternyata dia sudah akan menghadapi Sakratul Maut, karena itu aku alihkan ke arah kiblat, lalu dia berkata kepadaku dalam kondisi berat sekali, ‘Belum lagi saatnya, wahai Rajâ`.’

Hingga akhirnya aku melakukan hal itu dua kali, dan ketika untuk yang ketiga kalinya, beliau berkata,
‘Sekarang waktunya wahai Rajâ`, jika engkau ingin melakukan sesuatu silahkan. Asyhadu An Lâ ilâha Illallâh Wa Anna Muhammadan Rasûlullah. ’

Lalu aku alihkan ke arah kiblat, maka tak berapa lama beliaupun menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.

Ketika itu, aku pejamkan kedua matanya dan tutup dengan sepotong kain berwarna hijau, lalu kukunci pintunya lantas keluar.

Lalu datang utusan isteri beliau datang kepadaku menanyakan perihalnya dan meminta agar diperkenankan melihat. Lalu aku buka pintunya dan berkata kepada utusannya tersebut,
‘Lihatlah, dia telah terlelap sekarang in setelah lama bergadang (susah tidur), karena itu biarkanlah dia.’

Maka utusan itupun kembali dan memberitahukan kondisinya sehingga diapun menerima dan yakin bahwa suaminya memang sedang tidur.

Kemudian aku tutup pintu rapat-rapat dan menempatkan seorang pengawal kepercayaanku di situ seraya berpesan kepadanya agar tidak beranjak dari tempatnya itu hingga aku kembali dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk masuk menemui khalifah.

Aku pergi dan bertemu dengan orang-orang yang bertanya,
‘Bagaimana kondisi Amirul Mukminin?.’

‘Semenjak sakit, baru kali inilah beliau lebih tenang dan damai.’ Jawabku
‘Alhamdulillah.’ Kata mereka

kemudian aku mengutus Ka’b bin Hâmiz, kepala polisi untuk mengumpulkan seluruh keluar besar Amirul Mukminin di Masjid Dâbiq. (Setelah mereka berkumpul) aku berkata,
‘Bai’atlah siapa saja yang tertera dalam kitab wasiat Amirul Mukminin ini.!’

‘Kami susah membai’atnya apakah harus dibai’at untuk kedua kalinya.?’ Tanya mereka

‘Ini perintah Amirul Mukminin. Bai’atlah atas apa yang diperintahkannya dan siapa saja yang disebutkan dalam kitab wasiat yang distempel ini!’ Tegasku
lalu merekapun melakukan bai’at, satu per-satu.

Tatkala merasa sudah dapat mengendalikan suasana, aku berkata,
‘Sesungguhnya khalifah telah wafat, Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.’

Lalu aku bacakan kitab wasiat tersebut kepada mereka, dan tatkala sampai kepada nama ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz, Hisyâm bin ‘Abdul Malik berkata,
‘Kami tidak akan pernah mau berbai’at kepadanya.!’

‘Demi Allah, kalau begitu aku akan memenggal lehermu.! Bangun dan berbai’atlah.!’ Kataku

Lalu dia bangkit sambil menyeret kedua kakinya dan tatkala sampai ke hadapan ‘Umar, dia berkata,
‘Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.’ (Dia mengucapkannya karena kekhilafahan berpindah ke tangan ‘Umar bukan ke tangannya ataupun salah seorang dari saudara-saudaranya, keturunan ‘Abdul Malik)

‘Umar pun menjawabnya,
‘Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.’ (Dia mengucapkannya atas berpindahnya kekhilafahan ke tangannya padahal dia amat tidak menyukainya)

Demikianlah, akhir suatu bai’at yang dengannya Allah perbarui kembali masa muda Islam dan mengangkat menara agama.

Beruntunglah khalifah kaum Muslimin, Sulaiman bin ‘Abdul Malik… Dia telah melepaskan tanggungan dirinya di hadapan Allah dengan mengangkat seorang laki-laki yang shalih.

Selamat buat seorang Wazîr (menteri) yang tulus, Rajâ` bin Haiwah… Dia telah melakukan nasehat untuk Allah, Rasul-Nya dan pemimpin kaum Muslimin…

Semoga Allah membalas para pembantu penguasa (pengawal dan menteri) yang shalih dan berbuat kebajikan dengan mengganjar pahala buat mereka… Dengan kecemerlangan pendapat mereka, para penguasa pilihan yang beruntung dan diberi taufik mendapatkan petunjuk.

CATATAN:
sebagai bahan rujukan mengenai biografi Rajâ` bin Haiwah, silahkan baca,

1- ath-Thabaqât al-Kubra, karya Ibnu Sa’d, Jld.V, h. 335-339; 395,407
2- Shifah ash-Shafwah, karya Ibn al-Jawziy, jld.IV, h.213
3- Hilyah al-Awliyâ`, karya al-Ashfahaniy, Jld.V, h.315-316
4- al-Bayân Wa at-Tabyîn, karya al-Jahizh, Jld. I, h.397; II, h.107-322
5- Tahdzîb at-Tahdzîb, karya Ibn Hajar, Jld.III, h.265
6- Târîkh ath-Thabariy, karya Ibn Jarîr ath-Thabariy, Jld.VI, h.365-370
7- Wafayât al-A’yân, karya Ibn Khalakân, Jld.I, h.430; II, h.301-303; VII, h.316..
8- Târîkh Khalîfah, karya Ibn Khayyâth, h. 357
9- al-Iqd al-Farîd, karya Ibn ‘Abd Rabbih, Jld.II, h.50, 82, 235; III, h.86, 105, 306; IV, h. 156,219; V, h.139, 166; VII, h.96
10- at-Tamtsîl Wa al-Muhâdlarah, karya ats-Tsa’labiy, h. 171.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 74

ABU HANIFAH-1

(Ulama Yang Juga Tajir)

“Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih berakal, lebih mulia dan lebih wara’ dari Abu Hanifah.” (Yazid bin Harun)

Sekilas tentang kehidupannya

Abu Hanifah memiliki wajah bagus dan rupa nan elok serta ucapan yang fasih dan manis. Ia tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, selalu memakai pakaian yang bagus dan enak dipandang, demikian juga suka memakai minyak wangi, orang akan mengetahui Abu Hanifah dari bau harum minyak wanginya sebelum ia terlihat. Itulah an-Nu’man bin Tsabit bin al-Marzuban yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, orang yang pertama kali menyingkap keutamaan dan keistimewaan yang ada dalam ilmu fiqih.

Abu Hanifah mendapati masa akhir kekhilafahan Bani Umayyah dan awal masa pemerintahan Bani Abbas. Ia hidup di sebuah masa yang mana para penguasa sering menghadiahkan harta kepada orang-orang yang berjasa kepada negara, mereka sering mendapatkan harta yang sangat banyak tanpa mereka sadari.

Akan tetapi Abu Hanifah memuliakan ilmu dan dirinya dari hal demikian, ia bertekad untuk hidup dari hasil jerih payahnya sendiri, sebagaimana ia juga bertekad agar tangannya selalu di atas (selalu memberi).

Pada suatu waktu al-Manshur memanggil Abu Hanifah ke rumahnya, maka tatkala ia sampai, al-Manshur memberi salam penghormatan dan sambutan yang sangat hangat serta memuliakannya, kemudian duduk di dekat Abu Hanifah dan mulai bertanya tentang permasalahan-permasalahan duniawi dan ukhrowi.

Di saat Abu Hanifah hendak pamit, al-Manshur memberinya sebuah kantung yang berisi tiga puluh ribu dirham –meskipun diketahui bahwa al Manshur termasuk orang yang pelit- maka Abu Hanifah berkata kepadanya, “Wahai Amirul mu’minin, sesungguhnya aku adalah orang asing di Baghdad, aku tidak memiliki tempat untuk menyimpan uang sebanyak ini dan aku takut kalau nanti ia akan hilang, maka dari itu jika boleh aku minta tolong agar ia disimpankan di Baitul Mal sehingga jika aku membutuhkan aku akan mengambilnya.”

Kemudian al Manshur mengabulkan permintaannya. Akan tetapi setelah kejadian itu, Abu Hanifah tidak hidup lama. Ketika ajal menjemput, ditemukan di rumahnya harta titipan orang banyak yang jumlahnya melebihi tiga puluh ribu dirham, maka tatkala al Manshur mendengar akan hal itu ia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah, dia telah memperdayaiku. Ia telah menolak sesuatu pun dari pemberian kami.”

Yang demikian itu tidaklah aneh, karena Abu Hanifah meyakini bahwasanya tidaklah seseorang makan satu suap lebih suci dan lebih mulia dari hasil jerih payahnya sendiri. Oleh karena itu, kita mendapati bahwa sebagian hidupnya adalah untuk berniaga. Ia berdagang al-Khiz (tenunan dari sutera dan bulu) dan bermacam pakaian yang terbuat darinya. Ia berdagang pulang pergi dari kota ke kota yang berada di Iraq. Ia memiliki sebuah toko terkenal yang didatangi oleh banyak pengunjung karena mereka mendapati Abu Hanifah sebagai orang yang jujur dan amanah, di samping, mereka juga mendapatkan barang yang bagus di tokonya.

Dari perdagangannya tersebut Abu Hanifah diberi anugerah oleh Allah berupa kekayaan yang melimpah.

Jika sampai masa satu tahun dari perdagangannya ia menghitung seluruh laba dan kemudian mengambil dari laba tersebut apa yang mencukupinya, setelah itu sisanya ia belikan barang-barang kebutuhan bagi para Qari, ahli hadits, ulama fiqih dan para penuntut ilmu dan juga membelikan makanan dan pakaian bagi mereka. Kemudian setiap dari mereka diberi sejumlah uang seraya berkata, “Ini adalah laba dari barang dagangan kalian yang diberi oleh Allah melalui tanganku, Demi Allah aku tidaklah memberi kalian sedikitpun dari hartaku, akan tetapi ia adalah karunia dari Allah bagi kalian melalui tanganku. Tidaklah seseorang memiliki daya untuk mendapatkan rizki kecuali dari Allah.”

Kabar tentang kedermawanan Abu Hanifah telah tersebar di timur dan barat, khususnya di kalangan para sahabat dan teman dekatnya. Sebagai suatu contoh, pada suatu hari seorang temannya pergi ke tokonya dan berkata,
“Sesungguhnya aku membutuhkan pakaian dari bahan al-Khizz, wahai Abu Hanifah.”
Abu Hanifah bertanya,”Apa warnanya?”
Orang itu menjawab, “Begini dan begini.”
“Sabar dan tunggulah sampai aku mendapatkan pakaian tersebut,” kata Abu Hanifah.
Seminggu kemudian pakaian yang dipesan telah jadi, maka tatkala temannya itu melewati toko, Abu Hanifah memanggilnya dan berkata,
“Aku punya pakaian yang kamu pesan.”
Temannya merasa gembira dan bertanya kepada Abu Hanifah,
“Berapa aku harus membayar pegawaimu?”
“Satu dirham,” jawab Abu Hanifah.
Ia merasa heran dan bertanya lagi, “Cuma satu dirham?”
“Ya,” kata Abu Hanifah
Temannya berkata, “Wahai Abu Hanifah, engkau tidak sedang bergurau bukan?”

Abu Hanifah manjawab, “Aku tidaklah bergurau, karena aku telah membeli pakaian ini dan yang satunya lagi dengan harga dua puluh dinar emas plus satu dirham perak, kemudian aku menjual salah satunya dengan dua puluh dinar emas sehingga tersisa satu dirham. Dan aku tidak akan mengambil untung dari teman dekatku sendiri.”

Pada waktu yang lain ada seorang perempuan tua datang ke tokonya dan memesan sebuah baju dari bahan al-Khizz, tatkala Abu Hanifah memberikan baju pesanannya, perempuan tua tadi berkata, “Sungguh aku adalah seorang perempuan yang sudah tua dan aku tidak tahu harga barang sedangkan baju pesananku adalah amanah seseorang. Maka juallah baju itu dengan harga belinya kemudian tambahkan sedikit laba atasnya, karena sesungguhnya aku orang miskin.”

Abu Hanifah menjawab, “Sesungguhnya aku telah membeli dua jenis pakaian dengan satu akad (transaksi), kemudian aku jual salah satunya kurang empat dirham dari harga modal, maka ambillah pakaian itu dengan harga empat dirham itu dan aku tidak akan meminta laba darimu.”

Pada suatu hari, Abu Hanifah melihat baju yang sudah usang sedang dipakai oleh salah seorang teman dekatnya. Ketika orang-orang-orang telah pergi dan tidak ada seorangpun di tempat itu kecuali mereka berdua, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Angkat sajadah ini dan ambillah apa yang ada di bawahnya.” Maka temannya mengangkat sajadah tersebut, tiba-tiba ia menemukan di bawahnya seribu dirham. Kemudian Abu Hanifah berkata, “Ambil dan perbaikilah kondisi dan penampilanmu.” Akan tetapi temannya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku seorang yang mampu (berkecukupan) dan sungguh Allah telah memberiku nikmat-Nya sehingga aku tidak membutuhkan uang tersebut.”

Berkata Abu Hanifah, “Jika Allah telah memberimu nikmat, maka di mana bekas dan tanda nikmata-Nya itu? Tidakkah sampai kepadamu bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.” Karena itu, seyogyanya kamu memperbaiki penampilanmu agar temanmu ini tidak sedih melihatnya.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan kebaikannya kepada orang lain telah sampai pada taraf di mana bila ia memberikan nafkah kepada keluarganya, maka ia pun mengeluarkan jumlah yang sama untuk orang lain yang menghajatkannya. Dan jika ia memakai baju baru maka ia akan membelikan orang-orang miskin baju yang seharga dengan baju barunya. Jika dihidangkan makanan di hadapannya, maka ia akan mengambil dua kali lipat dari apa yang biasa ia makan kemudian ia berikan kepada orang fakir.

Di antara hal yang diriwayatkan darinya adalah janjinya yang tidak akan bersumpah atas nama Allah di sela-sela perkataannya kecuali ia akan bersedekah dengan satu dirham perak. Kemudian lama-kelamaan janji pada dirinya itu ditingkatkan menjadi satu dinar emas. Sehingga setiap ia bersumpah atas nama Allah maka ia akan bersedekah sebanyak satu dinar.

Hafsh bin Abdur Rahman merupakan relasi dagang Abu Hanifah dalam sebagian perniagaannya. Ia menyiapkan barang-barang dagangan berupa al-Khizz dan mengirimnya bersamanya (Hafsh) ke sebgian kota yang ada di Iraq. Pada suatu waktu beliau menyiapkan untuk dibawa Hafsh barang dagangan yang banyak dan memberi tahu kepadanya bahwa di antara barang-barang tersebut ada yang cacat, ia berkata, “Apabila kamu mau menjualnya maka terangkanlah kepada pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut.”

Maka kemudian Hafsh menjual semua barang yang dititipkan dan ia lupa untuk memberi tahu sebagian barang yang ada cacatnya kepada para pembeli. Ia telah berupaya mngingat-ingat orang-orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, tetapi tidak berhasil. Maka tatkala Abu Hanifah tahu akan hal itu dan tidak mungkinnya mengenali orang-orang yang telah membeli barang yang cacat itu, hatinya tidak tenang sampai ia bersedekah dengan harga semua barang yang diperdagangkan oleh Hafsh.

Di samping semua sifat yang telah disebutkan di atas, ia juga seorang yang baik dalam bergaul dengan orang lain, teman dekatnya akan merasa bahagia bila bersamanya dan orang yang jauh darinya tidak akan merasa tersakiti bahkan musuhnya sekalipun. Salah seorang sahabatnya pernah berkata, aku telah mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, “Wahai Abu Abdillah, betapa jauhnya Abu Hanifah dari sifat menggunjing, aku sama sekali tidak pernah mendengar ia berkata tentang kejelekan musuhnya.” Maka Abu Sufyan berkata, “Sesungguhnya Abu Hanifah sangat waras sekali sehingga tidak mungkin melakukan hal yang dapat menghapus kebaikan-kebaikannya.”

Abu Hanifah adalah orang yang pandai mengambil hati manusia dan berusaha keras untuk melanggengkan persahabatan dengan mereka. Seperti diketahui bahwasanya jika saja ada orang asing yang duduk di majlisnya tanpa ada maksud dan keperluan, maka jika orang itu hendak pergi ia bertanya kepadanya, apabila orang itu mempunyai kebutuhan maka ia akan membantunya dan apabila sakit ia akan menjenguknya sampai orang itu menjadi teman yang dekat dengannya.

Di samping yang telah disebutkan itu semau, ia juga adalah seorang yang banyak berpuasa dan bangun malam (untuk shalat), berteman dengan al-Qur’an serta beristighfar meminta ampunan Allah pada penghujung malam.
Dan di antara sebab ketekunannya dalam beribadah dan semangatnya adalah karena pada suatu waktu ia bertemu dengan sekelompok orang, lalu ia mendengar mereka berkata, “Sesungguhnya orang yang kamu lihat ini tidak pernah tidur malam.” Maka, begitu telinganya menangkap apa yang mereka katakan itu, berkatalah ia di dalam hati, “Sesungguhnya diriku di sisi manusia berbeda dengan apa yang aku lakukan di sisi Allah. Demi Allah, sejak saat ini tidak boleh ada lagi orang yang berkata tentangku apa yang tidak aku lakukan. Aku tidak akan tidur di malam hari hingga aku menjumpai Allah (wafat).”

Kemudian mulai hari itu, ia menghidupkan seluruh malamnya dengan beribadah kepada Allah. Di saat malam telah menjelang dan punggung telah menuju ke peraduan (tenggelam dalam tidur), ia bangun malam lalu memakai pakaian yang paling bagus, merapikan jenggot, memakai minyak wangi dan berhias, kemudian menuju mihrabnya dan mulai menghidupkan malam dengan khusyu’ beribadah kepada Allah, larut dalam membaca al-Qur’an atau berdoa menengadahkan tangannya kepada Allah dengan penuh ketundukan.

Bisa jadi, ia membaca al-Qur’an 30 juz dalam satu rakaat atau mungkin saja ia menghidupkan seluruh malamnya dengan satu ayat saja.

Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya pada suatu malam, ia menghidupkan seluruh malam dengan mengulang-ulang firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya, “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (al-Qamar:46) Sembari menangis tersedu-sedu, sebuah tangisan yang mengiris hati.

Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang melakukan shalat Shubuh dengan wudhu shalat ‘Isya selama empat puluh tahun, tidak pernah sekal pun ia meninggalkan kebiasaan itu. Demikian juga, ia dikenal sebagai orang yang menghatamkan al-Qur’an di satu tempat di mana ia meninggal sebanyak 7000 kali.

Jika membaca surat az-Zalzalah, tubuhnya gemetar dan hatinya dirundung rasa ketakutan dan serta-merta ia memegang jenggotnya seraya mulai melantunkan,
Wahai Dzat Yang membalas kebaikan dengan kebaikan walaupun hanya seberat dzarrah
Wahai Dzat Yang membalas kejelekan dengan kejelekan walaupun seberat dzarrah
Berilah perlindungan kepada hamba-Mu yang bernama an-Nu’man dari api neraka
Jauhkanlah antara dirinya dengan sesuatu yang dapat mendekatkannya dari neraka
Dan masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari sang pengasih

(SUMBER: Hayaah at-Taabi’iin karya Dr. Abdurrahman Ra`fat al-Basya, Jld.VI, h.127-144)

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 73

ABU HANIFAH- 2-habis

(Sikap Bela Agama Dan Argumentasinya Yang Kuat)

“Abu Hanifah an-Nu’man adalah seorang yang sangat keras pembelaannya terhadap hak-hak Allah yang tidak boleh dilanggar, banyak diam dan selalu berfikir.” (Imam Abu Yusuf)

Pada suatu hari Abu Hanifah mendatangi majlis Imam Malik yang sedang berkumpul dengan para sahabatnya, maka tatkala ia keluar (karena pengajian sudah bubar), berkatalah Imam Malik kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Apakah kalian tahu siapa orang itu.?” Mereka menjawab, “Tidak.” Kemudian sang Imam berkata, “Ia adalah an-Nu’man bin Tsabit, seorang yang apabila mengatakan bahwasanya tiang masjid ini adalah emas maka perkataannya itu tentulah menjadi hujjah dan sungguh benar-benar tiang itu akan keluar seperti yang dikatakannya itu.”

Tidaklah Imam Malik berlebihan dalam mensifati Abu Hanifah dengan hal demikian karena memang ia memiliki hujjah yang kuat, kecepatan dalam megambil keputusan yang tepat dan ketajaman dalam berfikir.

Kitab-kitab sejarah telah menceritakan bagaimana pendirian dan sikapnya terhadap para penentang dan musuh-musuhnya dalam hal ra’yu dan aqidah, yang kesemuanya itu menjadi saksi akan kebenaran apa yang dikatakan oleh Imam Malik tentang Abu Hanifah, yang mana jika seandainya ia mengatakan bahwasanya pasir yang ada di depanmu adalah emas maka tidak ada alasan bagi kamu kecuali percaya dan menerima terhadap apa yang ia katakan. Maka bagaimana halnya jika ia mendebat tentang kebenaran.?

Sebagai satu contoh apa yang terjadi dengan salah seorang dari Kufah yang disesatkan Allah ia adalah seorang yang terpandang di mata sebagian orang dan kata-katanya didengar oleh mereka. Ia mengatakan kepada orang-orang bahwasanya Utsman bin Affan pada asalnya adalah seorang yahudi dan ia tetap menjadi yahudi setelah datangnya agama Islam. Maka demi mendengar perkataannya tersebut Abu Hanifah menghampirinya dan berkata, “Saya datang kepadamu hendak melamar anak perempuanmu untuk salah seorang sahabatku.”

Ia menjawab, “silahkan wahai Imam, sesungguhnya orang seperti dirimu tidak akan ditolak apabila meminta sesuatu, tetapi kalau boleh tahu siapakah orang yang mau menikahi anak perempuanku itu.?”

Abu Hanifah menjawab, “seseorang yang dikenal oleh kaumnya dengan kemuliaan dan kekayaan, dermawan dan ringan tangan serta suka membantu orang lain, hafal kitab Allah Azza wa Jalla, selalu menghidupkan seluruh malamnya untuk beribadah dan banyak menangis karena takutnya kepada Allah.”

Maka orang itu berkata, “cukuplah wahai Abu Hanifah, sesungguhnya sebagian dari sifat yang engkau sebutkan tadi telah menjadikan orang itu pantas untuk menikahi anak perempuan Amirul Mu’minin.”

Kemudian Abu Hanifah berkata lagi, “akan tetapi ia memiliki satu sifat yang harus engkau pertimbangkan.”

Ia bertanya, “apakah sifat tersebut.”
Sang Imam menjawab, “sesungguhnya ia adalah seorang yahudi.”

Maka setelah mendengar jawaban tersebut ia terguncang kaget seraya berkata, “ia seorang yahudi? apakah engkau akan memintaku untuk menikahkan anak perempuanku dengan seorang yahudi wahai Abu Hanifah?! Demi Allah aku tidak akan melakukannya sekalipun ia memiliki semua sifat baik dari kaum terdahulu hingga yang terakhir.”

Maka Abu Hanifah pun berkata, “engkau menolak untuk menikahkan anak perempuanmu dengan seorang yahudi dan engkau sangat mengingkarinya, kemudian engkau mengatakan kepada orang banyak bahwasanya Rasulullah SAW telah menikahkan kedua putri beliau dengan seorang yahudi !!”

Maka demi mendengar apa yang dikatakan Abu Hanifah tubuhnya bergetar kemudian berkata, “aku memohon ampun kepada Allah dari perkataan jelek yang telah aku katakan, dan aku bertaubat kepada-Nya dari kedustaan yang pernah aku lakukan.”

Contoh yang lain adalah apa yang terjadi pada salah seorang Khawarij* yang bernama adh-Dhahhak asy-Syary. Pada suatu hari ia mendatangi Abu Hanifah dan berkata, “Bertaubatlah engkau wahai Abu Hanifah.”

Sang Imam menjawab, “Dari hal apakah aku bertaubat?”
Orang itu menjawab, “Dari perkataanmu tentang dibolehkannya menentukan satu hakim untuk memutuskan apa yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah.”

Abu Hanifah berkata, “Apakah engkau mau berdebat denganku tentang masalah ini?” ia menjawab, “Ya”

Kemudian Abu Hanifah berkata, “Jika kita berselisih tentang apa yang kita perdebatkan, siapakah yang akan menjadi hakim antara kita”
Orang itu menjawab, “Pilihlah yang engkau mau.”

Maka sang Imam memandang salah seorang temannya dan berkata, “Wahai fulan, jadilah engkau penengah di antara kami tentang apa yang kami perselisihkan”

Selanjutnya ia berkata kepada Sang khawarij, “Aku ridlo temanmu menjadi penengah antara kita, apakah kamu juga demikian?”
Maka dengan senang hati ia menjawab, “Tentu”

Namun kemudian Abu Hanifah berkata, “Celakalah kamu, bagaimana kamu membolehkan adanya penengah di antara kita tentang apa yang kita perselisihkan, sedangkan kamu mengingkari adanya di antara dua sahabat Rasulullah SAW?!

Maka orang terebut diam seribu bahasa dan tidak dapat menjawabnya.

Kemudian di antara contoh lainnya adalah kisah perdebatan beliau dengan Jahm bin Shafwan seorang pemimpin aliran Jahmiyah yang sesat dan seorang yang menanam kejelekan di bumi Islam. Pada suatu saat ia mendatangi Abu Hanifah dan berkata, “Aku ingin berbincang-bincang denganmu tentang beberapa perkara yang telah aku siapkan.” Akan tetapi Abu Hanifah menjawab, “berbincang-bincang denganmu adalah merupakan aib, dan membicarakan tentang apa yang kamu yakini adalah seperti api yang menyala.”

Maka Jahm berkata, “bagaimana engkau menghukumiku demikian, sedangkan engkau belum pernah bertemu denganku sebelumnya dan belum pernah mendengar perkataanku?”
Kemudian Abu Hanifah menjawab, “sesungguhnya hal yang demikian telah tersebar dan terkenal di kalangan orang awam maupun para ulama, sehingga boleh bagiku untuk berkata demikian karena berita tentangmu telah mutawatir.”

Setelah itu Jahm berkata lagi, “aku tidak akan bertanya kepadamu kecuali tentang iman.”
Abu Hanifah menyela, “apakah sampai saat ini kamu belum tahu tentang iman sehingga kamu bertanya kepadaku tentangnya?”

Jahm menjawab, “aku tahu, akan tetapi aku merasa ragu pada salah satu macamnya.”
Abu Hanifah berkata, “ragu dalam hal keimanan adalah kufur.” Kemudian Jahm berkata, “kamu tidak boleh mensifatiku dengan kekufuran sebelum kamu mendengar apa yang membuatku kafir,”

Maka Abu Hanifah berkata, “katakan apa yang ingin kamu tanyakan!”
Jahm berkata, “kabarkanlah kepadaku tentang seorang yang meyakini akan keberadaan Allah dengan hatinya, dan ia yakin bahwasanya Allah adalah Esa dan tiada sekutu baginya. Ia juga tahu tentang sifat-sifat Allah dan yakin bahwasanya tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Kemudian ia mati akan tetapi tidak menyatakan keimanannya itu dengan lisannya. Apakah ia mati dalan keadaan mukmin atau kafir.?”

Abu Hanifah menjawab, “ia mati dalam keadaan kafir dan termasuk ahli neraka jika ia tidak menyatakan dengan lisannya tentang apa yang diyakini hatinya, kecuali jika ada sesuatu sebab yang menghalanginya untuk menyatakan keimanan dengan lisannya.”

Kemudian Jahm membantah dengan berkata, “bagaimana ia tidak menjadi mukmin sedangkan ia telah benar-benar meyakini adanya Allah.?”

Maka kemudian Abu Hanifah berkata, “jika kamu beriman kepada al-Qur’an dan kamu menjadikannya sebagai hujjah maka aku akan menjawab pertanyaanmu dengannya, tapi jika kamu tidak mengimani al-Qur’an dan kamu tidak memandangnya sebagai hujjah, maka aku akan menjawab pertanyaanmu dengan sesuatu yang biasa kami katakan kepada orang yang menyelisihi Islam.”

Akan tetapi kemudian Jahm menjawab, “justru aku mengimani al-Qur’an dan menjadikannya sebagai hujjah.”

Maka Abu Hanifah menjawab, “sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menjadikan keimanan itu dengan dua anggota badan yaitu hati dan lisan, tidak dengan salah satunya, dan yang demikian itu telah di sebutkan dalam Kitab Allah al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW, diantaranya adalah:
Firman Allah Ta’ala, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi atas (kebenaran al-Qur’an dan kenabian Muhammad s.a.w) Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shalih?” Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).”( al-Maidah: 83-85)

Disebutkan dalam ayat di atas bahwasanya mereka meyakini kebenaran dengan hati dan menyatakannya dengan lisan, maka karena apa yang mereka ucapkan Allah memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.

Dia juga berfirman, “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepda Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-Nya.”( Al-Baqarah: 136)

mereka diperintah untuk melafadzkan keimanan mereka dan tidak cukup hanya dengan hati.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Katakanlah, Laa ilaaha illallaah, maka kalian akan selamat.” beliau tidak menjadikan keselamatan hanya dengan keyakinan hati, akan tetapi harus disertai dengan dengan ucapan.

Di dalam hadits yang lain beliau SAW bersabda, “akan keluar dari neraka orang yang mengatakan Laa ilaaha illallaah.” Beliau tidak mengatakan, akan keluar dari neraka orang yang tahu adanya Allah. Dan jikalau perkataan itu tidak dibutuhkan, akan tetapi cukup keimanan itu hanya dengan hati, maka iblis itu termasuk orang yang beriman. Karena iblis tahu bahwasanya Allah itu ada, ia tahu bahwasanya Allah lah yang telah menciptakannya dan Allah pula yang akan mematikannya. Ia juga yakin bahwasanya Allah yang akan membangkitkannya dan Allah pula yang menyesatkannya.

Disebutkan dalam al-Qur’an bahwasanya iblis berkata, “Engkau menciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Al-A’raaf: 12
“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” (Al-Hijr: 36)
“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”(al-A’raaf: 16)

Dan jika apa yang engkau yakini adalah benar wahai Jahm, maka sebagian banyak orang kafir menjadi beriman karena mereka mengakui adanya Allah dengan hatinya walaupun mereka mengingkari dengan lisan mereka.

Allah berfirman, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya.” (An-Naml:14)

Keyakinan yang ada di hati mereka tidak dapat menjadikan mereka beriman, akan tetapi mereka tetap orang kafir karena pengingkaran lisan mereka.

Demikianlah Abu Hanifah menjelaskan tentang permasalahan iman dengan sangat gamblangnya, kadang dengan al-Qur’an dan terkadang dengan hadits, sehingga tampak pada wajah Jahm rasa minder dan kalah sampai kemudian ia berpamitan kepada Abu Hanifah seraya berkata, “engkau telah mengingatkanku akan sesuatu yang terlupa, aku pamit sebentar.” Akan tetapi ia pergi tanpa kembali lagi.

Di antara contoh yang lain, diceritakan bahwasanya pada suatu saat Abu Hanifah menemui sekelompok orang yang mengingkari adanya Sang Pencipta (Atheis), maka ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian katakan jika ada sebuah kapal yang penuh dengan muatan barang, di tengah lautan ia dikelilingi oleh ombak besar yang saling bertabrakan dan diterjang oleh angin yang sangat kencang, akan tetapi kapal tersebut dapat berlayar dengan sangat tenang menuju tempat tujuan tanpa adanya goncangan sedikitpun, sedangkan di atas kapal tersebut tidak ada seorang nahkodapun didalamnya. Apakah hal tersebut masuk akal?”
Mereka menjawab, “Tidak, sesungguhnya kejadian tersebut sama sekali tidak dapat diterima oleh akal”

kemudian ia berkata, “Begitukah? Subhaanallah!! Kalian mengingkari adanya sebuah kapal yang dapat berjalan dengan tenang tanpa nahkoda, sedangkan kalian meyakini bahwasanya alam semesta yang penuh dengan lautan luas, gugusan bintang yang selalu beredar, burung-burung yang selalu bertashbih dan berbagai macam binatang ada (tercipta) dengan sendirinya tanpa ada Sang Pencipta yang menciptakan dan mengatur semua itu? Celakalah kalian.!”

Demikianlah perjalanan hidup beliau yang selalu membela agama Allah dengan apa yang telah dianugerahkan oleh-Nya yang berupa kekuatan berhujjah dan kefasihan dalam berbicara.

Kemudian tatkala maut menjemput, telah ditemukan bahwasanya di antara wasiat beliau adalah agar jasadnya dikuburkan di tanah yang bersih (tidak ada syubhat rampasan atau lainnya) dan agar dijauhkan dari setiap tempat yang dikhawatirkan diambil dengan ghosob (diambil tanpa seizin pemiliknya).

Maka tatkala wasiat tersebut sampai ke telinga al-Manshur ia berkata, “siapakah yang berani mencela dia di depanku.?”

Abu Hanifah juga telah berwasiat agar jasadnya dimandikan oleh al-Hasan bin ‘Ammaroh, maka tatkala memandikannya ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Hanifah, dan semoga Dia menghapus dosa-dosamu sebagai balasan dari apa yang pernah engkau lakukan. Sesungguhnya engkau tidak pernah berbuka sejak tiga puluh tahun, dan tidak pernah tidur sejak empat puluh tahun. Dan sungguh engkau telah membikin susah ulama setelahmu (karena harus mencontoh dan meniru perilakumu).”

CATATAN:

* Al-Khawarij: orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Ali dan Mu’awiyah RA

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 72

SALAMAH IBN DINAR

(Dikenal Dengan Sebutan Abu Hazim al-A’raj)

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang mana hikmah sangat dekat dengan ucapannya daripada Abu Hazim al-A’raj” (Abdurrahman ibn Zaid)

Pada tahun 97 H, khalifatul muslimin Sulaiman ibn Abdul Malik bersiap-siap mengadakan perjalanan menuju ad-Diyar al-Muqaddasah (tempat-tempat suci; Mekkah dan Madinah) memenuhi panggilan Abul Anbiya Nabi Ibrahim AS. Unta-untanya melaju dengan cepat dari Damaskus ibukota Bani Umayyah menuju Madinah Munawwarah.

Kerinduan untuk shalat di Raudlah* yang suci juga kerinduan untuk mengajukan salam kepada Muhammad Rasulullah SAW telah memenuhi jiwanya.

Para Qurra (ahli qira`at), Muhaddits (ahli hadits), Fuqaha (ahli fiqih), ulama, Umara (para pemimpin) dan para panglima memenuhi rombongan khalifah.

Tatkala beliau sampai di Madinah Munawwarah dan tinggal di sana, manusia dan orang-orang terhormat menghampirinya untuk mengucapkan salam dan menyambutnya.

Namun Salamah ibn Dinar, Qadli Madinah dan ‘alimnya yang ilmunya dijadikan hujjah serta imamnya yang Tsiqah (terpercaya) tidak termasuk dalam hitungan orang-orang yang mengunjungi khalifah untuk mengucapkan selamat datang dan salam.

Setelah Sulaiman ibn Abdul Malik selesai menyambut orang-orang yang mengucapkan selamat datang, ia berkata kepada anggota majlisnya, “Sesungguhnya jiwa ini bisa berkarat sebagaimana berkaratnya logam apabila ia tidak menemukan orang yang bisa mengingatkannya (menasehatinya) dari waktu ke waktu serta menyepuh karatnya.”
“Benar, wahai Amirul Mukminin” jawab mereka.

Beliau berkata “Adakah seseorang di Madinah yang telah berjumpa dengan sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang bisa menasehati kita?.”
Mereka menjawab, “Ya, wahai Amirul Mukminin…Dialah Abu Hazim al-A’raj.”

“Siapakah Abu Hazim al-A’raj?” tanya khalifah.
Mereka menjawab, “Ia adalah Salamah ibn Dinar, ‘alimnya Madinah dan imamnya, salah seorang tabi’i yang telah berjumpa dengan beberapa sahabat yang mulia.”

“Undanglah dia untuk menemuiku dan bersikap lembutlah dalam mengundangnya,” kata khalifah.
Mereka lantas pergi menemuinya dan mengundangnya.

Ketika ia (Salamah) menemui khalifah….beliau mengucapkan selamat datang dan mempersilahkannya duduk dekat beliau. Ia berkata kepadanya seraya menegur, “Mengapa kamu berpaling acuh dariku wahai Abu Hazim?”
“Berpaling separti apa yang engkau dapati dariku wahai Amirul Mukminin?” jawabnya.

“Orang-orang mengunjungiku, tetapi kamu tidak!!” kata khalifah.
Ia menjawab, “Dikatakan berpaling kalau sudah saling mengenal. Sedangkan engkau tidak pernah mengenalku sebelumnya dan aku pun tidak pernah melihatmu. Maka, berpaling (sikap acuh) yang manakah yang terjadi dari diriku?.”

Khalifah berkata kepada anggota majlisnya, “Syaikh (Abu Hazim) telah tepat dalam memberikan alasannya, dan khalifah salah dalam cercaannya.”
Beliau kemudian menoleh kepada Abu Hazim seraya berkata, “Sesungguhnya ada hal-hal besar dalam jiwa ini yang ingin aku ungkapkan kepadamu wahai Abu Hazim.”
“Sampaikanlah –wahai Amirul Mukminin- dan hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan” jawabnya.

Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?!”
“(Itu) karena kita telah memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita, sehingga kita benci untuk keluar dari kemakmuran menuju kehancuran”, jawabnya.

“Engkau benar”, kata khalifah…kemudian beliau menyambung perkataannya, “Wahai Abu Hazim –seengkauinya aku tahu- apakah yang akan kita dapatkan di sisi Allah di hari esok (kiamat)?”
Abu Hazim menjawab, “Paparkanlah amalan engkau kepada Kitab Allah AWJ, niscaya engkau akan menemukan jawabannya.”

“Dimanakah aku bisa menemukannya dalam Kitab Allah ta’ala?” tanya khalifah.
Abu Hazim menjawab, “Engkau bisa menemukannya dalam firman-Nya yang maha tinggi, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (Surat al-Infithaar: 13-14).

“Kalau demikian, dimanakah rahmat Allah?” tanya khalifah lagi.
Abu Hazim menjawab, “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan”( Surat al-A’raf: 56).

Khalifah berkata, “Seengkauinya aku tahu, bagaimanakah kita besok akan menghadap Allah AWJ?.”
Abu Hazim menjawab, “Adapun orang yang berbuat baik, ia bagaikan orang yang pulang dari bepergian jauh mendatangi keluarganya (dipenuhi kerinduan untuk berjumpa, penj.)…Adapun orang yang berbuat jahat, Ia bagaikan budak yang kabur yang diseret menghadap tuannya dengan paksa (sehingga ia merasa ketakutan).”

Serta merta khalifah menangis, suara tangisannya meninggi dan bertambah keras. Kemudian beliau berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana (caranya) agar kita menjadi baik?.”
“Tinggalkan takabbur dan berhiaslah dengan maruah (sopan santun)”, jawabnya.

Khalifah berkata lagi, “Adapun dengan harta ini, bagaimana jalan menuju takwa kepada Allah padanya?.”
Abu Hazim menjawab, “(Yaitu) apabila engkau mengambilnya dengan cara yang haq…menyerahkannya kepada yang berhak…engkau bagi secara merata dan engkau berbuat adil di antara rakyatmu.”

Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, beritahukan kepadaku siapakah manusia yang paling mulia?.”
“Mereka adalah orang yang memiliki maruah dan ketakwaan” jawabnya.

Khalifah berkata, “Wahai Abu Hazim, perkataan apakah yang paling adil?”
“Yaitu kalimatul haq yang diucapkan oleh seseorang dihadapan orang yang ia takuti (keburukannya) dan dihadapan orang yang ia harapkan (kebaikannya)” jawabnya.

Khalifah bertanya, “Doa apakah yang paling cepat dikabulkan wahai Abu Hazim?”
“Yaitu doa orang baik untuk orang-orang baik” jawabnya.

Khalifah berkata, “Shadaqah apakah yang paling utama?.”
Ia menjawab, “(Yaitu) hasil kerja keras orang yang memiliki sedikit harta yang ia letakkan (shadaqahkan) pada tangan orang yang fakir miskin tanpa diiringi dengan mengungkit-ungkitnya dan menyakiti (perasaannya).”

Khalifah bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdik dan berakal, wahai Abu Hazim?.”
“Yaitu seseorang yang mendapatkan (amal) berupa ketaatan kepada Allah ta’ala sehingga ia mengamalkanya, kemudian ia membimbing manusia kepadanya”, jawabnya.

“Dan siapakah orang yang paling tolol?” tanya khalifah lagi.
“Yaitu seseorang yang tunduk bersama hawa nafsu temannya sedangkan temannya adalah orang zalim, sehingga ia menjual akhiratnya dengan dunia orang lain” jawabnya.

Khalifah berkata, “Maukah kamu menemani kami –wahai Abu Hazim- sehingga kamu bisa mengambil (upah) dari kami dan kami bisa mengambil (nasehat) darimu.”
Ia menjawab, “Tidak, wahai Amirul Mukminin.”

“Mengapa?” tanya khalifah.
Ia manjawab, “Saya khawatirkan akan sedikit menyengkaurkan diri kepadamu, sehingga Allah akan menimpakan kepayahan dunia dan adzab akhirat kepadaku.”

Khalifah berkata, “Sampaikan hajatmu kepada kami wahai Abu Hazim.”
Ia terdiam dan tidak menjawab.

Khalifah lantas mengulang perkataannya “Sampaikan hajatmu kepada kami wahai Abu Hazim, niscaya kami akan menunaikannya untukmu, seberapa pun besarnya.”
Ia menjawab, “Hajatku adalah agar engkau menyelamatkan saya dari neraka dan memasukkan saya ke dalam surga.”

“Itu bukan wewenangku wahai Abu Hazim” kata khalifah.
Abu Hazim berkata, “Saya tidak memiliki hajat selain itu wahai Amirul Mukminin.”

Maka khalifah berkata, “Doakanlah aku wahai Abu Hazim.”
Ia pun berdoa, “Ya Allah, apabila hambamu Sulaiman termasuk wali-waliMu, maka permudahkanlah ia untuk (mengerjakan) kebaikan dunia dan akhirat…Namun, apabila ia termasuk musuh-musuhMu, maka perbaikilah ia dan tunjukilah ia kepada apa yang Engkau cintai dan ridlai.”

Maka, seseorang dikalangan para hadirin ada yang berkata, “Alangkah buruknya apa yang kamu katakan sejak kamu masuk menemui Amirul Mukminin…Kamu telah menjadikan khalifah muslimin termasuk musuh-musuh Allah dan kamu telah menyakitinya.”
Abu Hazim berkata, “Bahkan, alangkah buruknya apa yang kamu katakan, sungguh Allah telah mengambil janji dari para ulama agar mereka selalu mengatakan kalimatul haq, Allah berfirman, “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya.” (Surat Ali Imran: 187)

Kemudian ia menoleh kepada khalifah dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya orang-orang sebelum kita dari umat-umat terdahulu selalu dalam kebaikan dan keselamatan selama para umara (pemimpin) mereka mendatangi para ulamanya dalam rangka mengharap (ilmu/nasehat) yang ada pada mereka. Kemudian didapatilah suatu kaum dari para orang-orang bodoh yang mempelajari ilmu dan mereka mendatangi para umara dengan ilmunya. Mereka mengharapkan bisa memperoleh sedikit dari bagian dunia dengan ilmu tersebut, sehingga para umara tidak butuh kepada ulama, sehingga mereka mejadi hancur dan tak berdaya serta jatuh dari mata (penilaian) Allah AWJ. Kalau seengkauinya para ulama berbuat zuhud terhadap (harta) yang di miliki para umara, niscaya para umara akan cinta dan senang kepada ilmu mereka. Akan tetapi mereka (ulama) mengharap dan senang terhadap apa yang di miliki para umara, sehingga mereka (umara) bersikap tidak membutuhkan (ilmu) mereka dan meremehkan mereka.”

Khalifah berkata, “Kamu benar…tambahkan nasehatmu kepadaku wahai Abu Hazim. Aku tidak pernah melihat seseorang yang mana hikmah lebih dekat dengan ucapannya dari pada kamu.”
Ia menjawab, “Kalau engkau termasuk Ahli istijabah (orang yang menerima dan melaksanakan permintaan), sungguh telah cukup bagimu apa yang telah saya katakan. Tetapi apabila engkau bukan termasuk ahlinya, maka tidaklah pantas bagiku untuk melepaskan anak panah dari busur yang tidak ada talinya.”

Khalifah berkata, “Aku bersumpah atasmu agar kamu memberikan wasiat kepadaku wahai Abi Hazim.”
Ia menjawab, “Ya…saya akan memberikan wasiat kepada anda dan akan menyingkatnya…(yaitu) agungkanlah Rabbmu AWJ dan sucikalah Dia dari melihat anda (melakukan) apa yang Dia larang…dan (dari) Dia tidak mendapatimu (melaksanakan) apa yang anda diperintahkan-Nya.” Kemudian dia pamit sembari mengucapkan salam.
Khalifah berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan sebagai seorang alim yang bisa memberikan nasihat.”

Ketika Abu Hazim hampir sampai ke rumahnya, Amirul Mukminin telah mengirimkan sekantong penuh berisi dinar, disertai surat yang berbunyi, “Sedekahkanlah, kamu bisa mendapatkan yang seperti itu dari saya dan masih banyak…”

Maka ia mengembalikan uang itu diiringi surat yang berbunyi, “Wahai Amirul Mukminin, saya berlindung kepada Allah dari pertanyaan anda kepada saya hanya candaan, atau jawaban yang saya berikan adalah jawaban yang salah. Demi Allah saya tidak rela hal itu terjadi pada anda wahai Amirul Mukminin, lantas bagaimana mungkin saya merelakannya untuk diri saya.? Wahai Amirul Mukminin jika uang dinar ini sebagai imbalan atas apa yang saya ucapkan dan nasehatkan pada anda, maka sungguh bangkai dan daging babi lebih halal dari padanya pada saat terpaksa, tapi jika memang hak saya (yang ada) di baitul Mal, apakah anda samakan antara hak saya dan hak manusia seluruhnya?.”

Rumah Salamah bin Dinar benar-benar seperti mata air yang segar bagi para penuntut ilmu dan para pencari kebaikan… tidak ada beda antara saudara-saudaranya dan murid-muridnya…

Pada suatu hari Abdurrahman bin Jabir dan anaknya datang menjenguknya, mereka berdua duduk dihadapannya seraya mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan dunia akhirat.

Maka salamah membalas salam keduanya dengan lebih baik, menyambut keduanya, kemudian mereka segera bercakap-cakap.

Abdurrahman bertanya, “Bagaimanakah trik mendapatkan hati yang selalu terjaga wahai Abu Hazim?.
Ia menjawab, “Ketika hati diperbaiki maka dosa-dosa besar terampuni… dan jika seoang hamba bertekad meninggalkan dosa, maka ia akan diliputi hati yang selalu terjaga. Jangan lupa wahai Abdurrahman bahwa kemewahan dunia akan menyibukkan hati dari kenikmatan akhirat… setiap nikmat yang tidak menjadikanmu dekat dengan Allah maka itu adalah bencana.”

Anak Abdurrahman berkata, “Sesungguhnya syaikh kami banyak dan kepada siapakah kami berteladan.”
Abdurrahman menjawab, “Wahai anakku, teladanilah syaikh yang paling takut kepada Allah, secara sembunyi-sembunyi dan menahan diri dari mengumbar aib… memperbaiki dirinya sejak masa muda dan hal itu tetap berlangsung hingga masa tua. Ketahuilah wahai anakku, tidaklah mentari bersinar di pagi hari melainkan pada hari itu nafsu dan ilmu akan menghampiri penuntut ilmu, lalu keduanya saling bertarung dalam dadanya dengan dahsyatnya… jika ilmunya mengalahkan nafsunya maka hari itu adalah hari keberuntungannya… tetapi jika nafsunya yang mengalahkan ilmunya maka hari itu adalah hari kerugiannya. “

Abdurrahman berkata, “Seringkali anda menasihati kami untuk bersyukur wahai Abu Hazim, apa sebenarnya hakikat syukur itu?.”
Ia mengatakan, “Tiap-tiap anggota dari tubuh kita, punya hak untuk kita syukuri.”

Abdurrahman berkata, “Bagaimana (cara) bersyukurnya kedua mata?.”
Ia menjawab, “(Yaitu) bila kamu melihat kebaikan dengan keduanya maka kamu mengumumkannya, dan bila kamu melihat keburukan maka kamu menutupinya.”

Abdurrahman berkata lagi, “Bagaiman (cara) bersyukurnya kedua telinga?.”
Ia menjawab, “Bila kamu mendengar kebaikan dengannya maka kamu memahaminya, dan bila kamu mendengar keburukan maka kamu menimbunnya.”

“Bagaimana (cara) bersyukurnya kedua tangan?” kata Abdurrahan lagi.
Ia menjawab, “Hendaklah kamu tidak mengambil apa yang bukan milikmu dengannya…hendaklah kamu tidak melarang hak dari hak-hak Allah dengannya…dan janganlah terlewatkan olehmu wahai Abdurrahman, bahwa orang yang hanya bersyukur dengan lisannya dan tidak mengikut sertakan seluruh anggota badan dan hatinya bersamanya…maka perumpamaannya adalah sema dengan orang yang memiliki kain (baju), tetapi ia hanya memegang ujungnya dan tidak mengenakannya…Maka yang demikian itu tidaklah melindunginya dari panas dan tidak pula membentenginya dari dingin.”

Pada suatu tahun, Salamah ibn Dinar berangkat bersama pasukan muslimin menuju negeri Romawi mengharapkan jihad fisabilillahbersama para mujahid.
Tatkala pasukan telah sampai di akhir perjalanan, maka ia memilih untuk beristirahat sebelum menghadapi musuh dan masuk ke medan pertempuran.

Di tengah-tengah pasukan ada seorang amir (pemimpin) dari umara Bani Umayyah, kemudian ia mengirim seorang utusan kepada Abu Hazim dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya pemimpin kita mengundangmu untuk menemuinya agar kamu menceramahinya dan memahamkannya (tentang agama).”

Kemudian ia pun menulis surat yang ditujukan kepada amir tersebut yang berbunyi, “Wahai amir, sungguh aku telah menjumpai ahlul ilmi sedangkan mereka tidak membawa agama ini kepada ahli dunia. Dan aku tidak berprasangka anda ingin agar aku menjadi orang yang pertama kali melakukan hal tersebut. Apabila engkau punya hajat kepada kami, maka datangilah kami, dan semoga keselamatan tercurahkan kepadamu dan orang-orang yang bersamamu.”

Ketika amir (selesai) membaca suratnya, ia lantas pergi menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya serta mendoakannya. Ia berkata, “Wahai Abu Hazim, sungguh kami telah membaca apa yang kamu tulis untuk kami, sehingga bertambahlah kemuliaanmu dan ‘izzahmu di sisi kami. Berilah peringatan kepada kami dan nasehatilah kami, semoga kamu diberi balasan atas kami dengan sebaik-baik balasan.”

Maka mulailah Abu Hazim menasehati dan mengingatkannya. Dan di antara apa ia katakan kepadanya (yaitu) “Lihatlah kepada apa yang engkau sukai untuk bisa menemanimu di akhirat, maka bersungguh-sungguhlah agar engkau mendapatkannya di dunia…Lihatlah kepada apa yang engkau benci untuk menjadi temanmu di akhirat, maka zuhudlah terhadapnya ketika engkau di dunia…Ketahuilah wahai amir, sesungguhnya apabila kebathilah telah dibuat menarik dan menjadi laku (laris) di sisimu, niscaya ahli kebathilan dan orang-orang munafik akan menemuimu dan berkumpul di sekitarmu. Dan apabila al-haq telah dibuat menarik dan ia menjadi laku (laris) di sisimu, niscaya ahlul khair akan berkumpul di sekelilingmu, dan mereka akan menolongmu untuk memenangkannya. Maka pilihlah apa yang kau sukai untuk dirimu.”

Tatkala kematian menjemput Abu Hazim al-A’raj, para sahabatnya berkata kepadanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Abu Hazim?”
Ia menjawab, “Andaikan kita selamat dari keburukan apa yang kita dapatkan dari dunia, maka tidaklah akan membahayakan kita sesuatu yang kita dihindarkan darinya”, kemudian ia membaca sebuah ayat yang mulia, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (Surat Maryam: 96)…ia terus saja mengulang-ulangi ayat tersebut hingga ajal menjemputnya

* Raudlah adalah tempat di masjid nabawi yang terletak antara mimbar dan kamar Nabi SAW, penj.

CATATAN:

Untuk lebih rinci mengenai kisah Salamah ibn Dinar, silahkan baca:
– Thabaqat Khalifah: 264
– Tarikh al-Bukhari: 2/78
– At-Tarikh ash-Shaghir: 2/47
– Al-Jarh wat Ta’dil: 4/159
– Hilyatul Auliyaa: 3/229
– Tahdzibut Tahdziib: 4/143
– Tadzib Ibn ‘Asakir: 6/216, 228
– Khulashah Tahdzibul Kamal: 147

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 71

SAID IBN JUBAIR

(Saat Sang Tirani, al-Hajjaj Akan Mengeksekusinya, Ia Tersenyum Penuh Kemenangan)

“Said ibn Jubair telah terbunuh, dan tidak ada seorang pun di muka bumi yang tidak membutuhkan ilmunya” (Ahmad ibn Hanbal)

Ia adalah seorang pemuda yang bertubuh kekar, berperawakan sempurna, cekatan, gesit dan rajin. Disamping itu ia adalah seorang yang pandai, cerdas, getol terhadap hal-hal mulia dan jauh dari yang haram.

Berkulit hitam, rambut keriting serta garis keturunan dari Habasyah bukanlah alasan untuk mencela kepribadiannya yang langka dan tiada banding walaupun masih belia.

Pemuda yang berasal dari Habsyah namun loyal kepada bangsa Arab ini, mengetahui bahwa ilmu adalah jalannya yang lurus yang akan menghantarnya kepada Allah.

Dan bahwa ketakwaan merupakan jalannya yang terbentang untuk mencapai surga. Maka, ia menjadikan takwa di sebelah kanannya dan ilmu di sebelah kirinya dan mengikat kedua tangannya dengannya.

Dengan takwa dan ilmu ia bertolak menghabiskan perjalanan hidup tanpa putus asa dan rasa jemu.

Semenjak kecil, orang-orang telah melihatnya entah itu dengan berkutat di depan kitabnya (untuk) belajar…atau berdiri di mihrab (untuk) beribadah. Dialah potret indah kaum muslimin di masanya…dialah Said ibn Jubair RA.

Pemuda yang bernama Said ibn Jubair telah menimba ilmu dari sekelompok sahabat-sahabat besar seperti Abu Said al-Khudri, ‘Adiy ibn Hatim ath-Thaa’i, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah ibn Umar dan Ummul Mukminin ‘Aisyah -semoga Allah meridlai mereka seluruhnya-.

Hanya saja gurunya yang terbesar dan pengajarnya yang agung adalah Abdullah ibn Abbas, ‘alimnya umat Muhammad serta samudra ilmunya yang melimpah luas.

Said ibn Jubair mengikuti Abdullah Ibnu Abbas sebagaimana bayangan sesuatu yang selalu menempel. Ia belajar al-Qur’an dan tafsir serta hadits dan detailnya dari beliau.

Ia juga memperdalam agama dan belajar tafsir kepadanya, ia mempelajari bahasa sehingga sangat menguasainya. Hingga begitu ia pergi tidak ada seorang pun di muka bumi dari penduduk zamannya kecuali pasti akan membutuhkan ilmunya.

Ia kemudian berkeliling di negeri-negeri muslimin untuk mencari ma’rifah (pengetahuan) beberapa saat lamanya.

Setelah sempurna apa yang ia inginkan dari ilmu. Ia memilih Kufah sebagai rumah dan tempat tinggalnya. Di situ, ia menjadi pengajar dan imam bagi masyarakatnya.

Ia menjadi Imam pada bulan Ramadlan. Pada satu malam ia membaca dengan Qiraa’at (cara baca al-Qur’an) ala Abdullah ibn Mas’ud*…pada malam yang lain dengan Qira’at ala Zaid ibn Tsabit**…dan pada malam yang ketiga dengan Qiraa’at yang lainnya, demikianlah seterusnya.

Apabila ia shalat sendiri, mungkin dalam satu shalat ia membaca seluruh al-Qur’an (sampai khatam 30 juz). Apabila melewati firman Allah AWJ, (artinya) “Kelak mereka akan mengetahui. Ketika belenggu dan rantai di pasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka di bakar dalam api” (QS.Ghafir:70-72), atau melewati ayat-ayat yang semisalnya yang berisi janji dan ancaman, maka berdirilah bulu kuduknya, hancur hatinya dan bercucuranlah air matanya. Kemudian ia selalu saja memulai dan mengulanginya lagi hingga hampir membuatnya mati.

Ia terbiasa mengadakan perjalanan ke Baitul Haram dua kali tiap tahun…sekali di bulan Rajab berihram untuk umrah dan sekali di bulan Dzul Qa’dah berihram untuk haji. Adalah para penuntut ilmu serta pencari kebaikan dan nasehat berdatangan ke Kufah agar mereka bisa minum dari sumber-sumber air Said ibn Jubair yang memancar segar…Dan agar mereka bisa menciduk petunjuknya yang lurus.

Ini si fulan bertanya kepadanya tentang khosy-yah (rasa takut), apakah itu?, Ia menjawabnya, “Khosy-yah adalah kamu takut kepada Allah AWJ hingga rasa takutmu menjadi penghalang antara dirimu dengan maksiat kepada-Nya.”

Dan fulan yang lain bertanya kepadanya tentang dzikir, apa itu? Maka ia menjawab, “Dzikir adalah taat kepada Allah AWJ, barangsiapa yang menghadap kepada Allah dan mentaati-Nya, maka ia telah berdzikir kepada-Nya dan barangsiapa yang berpaling dari-Nya dan tidak mentaati-Nya, maka ia tidak berdzikir kepada-Nya walaupun ia menghabiskan malam harinya dengan bertasbih dan tilawah.”

Adalah Kufah ketika dijadikan oleh Said ibn Jubair sebagai rumah tinggalnya tunduk di bawah pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofy. Dimana al-Hajjaj ketika itu adalah gubernur Irak, wilayah timur dan negeri Maa Wara’ an-Nahr (Asia Tengah). Ketika itu ia duduk menikmati puncak kekuasaannya. Dan itu setelah ia berhasil membunuh Abdullah ibn az-Zubair*** dan menumpas gerakannya…dan menundukkan Irak kepada kesultanan Bani Umayyah serta memadamkan api pergolakan (revolusi) yang terjadi di sana sini…Juga ia selalu mempergunakan pedang untuk membabat leher manusia (yang menentangnya)…

Ia menyebarkan rasa takut di seluruh penjuru negeri, sehingga hati-hati manusia dipenuhi dengan rasa takut dan ngeri terhadap renggutannya (siksanya).

Kemudian Allah berkehendak agar terjadi perselisihan antara al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi dengan Abdurrahman ibn al-Asy’ats salah seorang pembesar panglimanya. Dan (Allah berkehendak) untuk membalik perselisihan tersebut menjadi sebuah fitnah yang melumat segala yang hijau dan yang kering serta meninggalkan luka yang dalam di tubuh Kaum Muslimin.

Di antara cerita dari fitnah tersebut adalah bahwa al-Hajjaj mengutus Ibnu al-Asy’ats bersama pasukannya untuk memerangi “Ratbiil” raja Turki yang menguasai beberapa daerah yang terletak di seberang Sijistan****.

Maka sang panglima pemberani yang selalu sukses ini memerangi sebagian besar dari negeri “Ratbiil” dan menguasai benteng-benteng yang kuat dari negerinya. Ia memperoleh ghanimah (harta rampasan perang, penj.) yang banyak dari kota-kota dan desa-desanya. Kemudian ia mengirim utusan kepada al-Hajjaj menyampaikan kabar gembira kemenangan yang besar, dan mereka membawa seperlima ghanimah untuk disimpan di gudang Baitul Mal Muslimin. Ia juga menulis surat untuknya yang berisi permintaan ijinnya untuk berhenti berperang beberapa waktu guna menguji tempat-tempat masuk negeri dan tempat-tempat keluarnya serta mempelajari tabiat dan keadaannya. Dan yang demikian itu sebelum memasuki jalan-jalan gunungnya yang sepi dan majhul serta (sebelum) pasukan yang menang menghadapi bahaya.

Maka al-Hajjaj marah kepadanya…
Ia (al-Hajjaj) mengirim surat kepadanya dan mengatainya sebagai seorang pengecut dan lemah. Ia juga memperingatkannya dengan kehancuran dan kebinasaan dan mengancam akan memecatnya dari (jabatan) panglima pasukan.

Maka, Abdurrahman mengumpulkan para tentarannya dan para komando pletonnya. Ia membacakan surat al-Hajjaj kepada mereka serta bermusyawarah tentangnya.

Mereka mengajaknya untuk melakukan khuruuj (pemberontakan) terhadapnya dan bersegera untuk melepaskan ketaatan kepadanya.

Abdurrahman berkata kepada mereka, “Apakah kalian akan membaiatku atas hal tersebut dan bersama-sama membantuku untuk berjihad (menghadapinya) sehingga Allah mensucikan negeri Irak dari kejahatannya.”

Para tentara lantas membaiatnya atas seruan terebut.
Abdurrahman ibn al-Asy’ats bergerak bersama pasukannya yang telah dipenuhi kebencian terhadap al-Hajjaj. Terjadilah pertempuran-pertempuran sengit antara dirinya dengan pasukan Ibn Yusuf ats-Tsaqofi, dimana kemenangan gemilang dapat diraihnya. Maka, sempurnalah penguasaannya terhadap Sijistan dan sebagian besar negeri Persia. Kemudian ia mulai melangkah ingin merebut Kufah dan Bashrah dari genggaman al-Hajjaj.

Di saat api pertempuran berkobar antara dua kelompok, dan Ibn al-Asy’ats selalu berpindah dari satu kemenangan kepada kemenangan lain, al-Hajjaj tertimpa musibah yang menjadikan lawannya menjadi bertambah kuat.

(Ceritanya demikian), bahwa para wali kota mengirim surat kepada al-Hajjaj yang isinya, “Bahwa Ahli dzimmah (Yahudi dan Nasrani yang hidup di antara kaum muslimin dan berada dalam dzimmah (pertanggungan) Allah dan Rasul-Nya) mulai masuk Islam agar mereka terbebas dari membayar Jizyah (pajak yang dibayar oleh ahlu dzimmah ), dan mereka telah meninggalkan desa-desa yang mereka bekerja padanya dan menetap di kota-kota. Dan bahwa kharaaj (pajak bumi) telah lepas (hilang) dan pungutan-pungutan telah habis.”

Maka, al-Hajjaj menulis surat kepada para walinya di Bashrah dan yang lainnya. Ia memerintahkan mereka untuk mengumpulkan seluruh orang yang berpindah ke kota dari Ahli dzimmah…dan mengembalikan mereka ke desa-desa walaupun perpindahannya membutuhkan waktu yang lama.

Para wali melasanakan perintah tersebut dan mereka mengeluarkan jumlah yang banyak dari rumah-rumah mereka, dan menjauhkan mereka dari sumber-sumber rizki serta mengumpulkan mereka di ujung kota.

Mereka juga mengeluarkan para wanita dan anak-anak…dan mendorong mereka untuk berjalan menuju desa setelah beberapa saat lamanya mereka berpisah dengannya.

Mulailah para wanita, anak-anak dan orang tua menangis, menjerit, meminta tolong dan memanggil-manggil “Wahai Muhammad (tolonglah)…wahai Muhammad (tolonglah)…”

Mereka dibikin bingung atas apa yang mereka perbuat dan kemanakah mereka akan pergi?

Para Fuqaha dan Qurra (ahli ibadah dan zuhud dan hafal qur’an) Bashrah keluar untuk menolong mereka dan memberikan syafaat, namun mereka tidak mampu. Mulailah mereka ikut menangis karena tangisan mereka, dan mereka memohon pertolongan atas apa yang menimpa mereka.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abdurrahman ibn al-Asy’ats, ia menyeru para Fuqaha dan Qurra untuk membantunya.

Sekelompok dari para pembesar tabi’in dan imam muslimin memenuhi seruannya, dan di barisan paling depan ada Said ibn Jubair dan Abdurrahman ibn Abi Laila (salah seorang pembesar tabi’in ), asy-Sya’bi (salah seorang fuqoha tabi’in dan penyair serta cendekiawan mereka yang sangat langka), Abu al-Bukhturi (Seorang tabi’in ahli ibadah dan zuhud ) dan yang lainnya.

Berputarlah roda pertempuran antara kedua kelompok. Pada mulanya kemenangan ada pada pihak Ibn al-Asy’ats atas al-Hajjaj dan para tentaranya.

Kemudian mulailah al-Hajjaj mengungguli sedikit demi sedikit, sehingga Ibn al-Asy’ats menderita kekalahan yang begitu memilukan dan lari menyelamatkan dirinya sendiri. Adapun pasukannya, maka mereka menyerahkan diri kepada al-Hajjaj dan bala tentaranya.

Al-Hajjaj memerintahkan juru bicaranya untuk menyeru di antara para prajurit yang mengalami kekalahan dan mengajak mereka untuk memperbaharui bai’at kepadanya.

Sebagian besar dari mereka memenuhi seruan tersebut dan sebagian lagi menolak. Adalah Said ibn Jubair RA di antara orang yang menolak.

Tatkala orang-orang yang menyerah mulai maju untuk membaiatnya, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan sesuatu yang tidak pernah mereka duga.

Al-Hajjaj mulai berkata kepada salah satu dari mereka, “Apakah kamu bersaksi atas dirimu, bahwa kamu telah kafir dengan
membatalkan baiat terhadap wali Amirul Mukminin?”

Apabila ia menjawab “ya”, maka ia menerima pembaharuan baiatnya dan membebaskannya, dan bila ia menjawab “tidak”, maka ia membunuhnya.

Sebagian dari mereka tunduk kepadanya dan mengakui kekufuran atas dirinya untuk meyelamatkan dirinya dari pembunuhan.

Dan sebagian lainnya merasa berat dan mengingkarinya. Sehingga, ia membayar keengganannya dan pengingkarannya dengan leher sebagai tebusannya.

Berita pembantaian yang mengerikan ini telah menyebar, dimana telah terbunuh sekian ribu orang karenanya. Dan sekian ribu dari mereka selamat setelah mereka mengakui kekufuran atas dirinya.

Dan di antaranya pula…ada seorang lelaki tua renta dari kabilah “Khots’am”, ia tidak berpihak kepada salah satu dari kedua kelompok tersebut…ia tinggal di seberang sungai Eufrat (sungai yang membentang antara Suriyah dan Irak ).

Ia diseret kehadapan al-Hajjaj bersama orang-orang yang diseret kepadanya. Tatkala ia dimasukkan menghadapnya, al-Hajjaj bertanya tentang keadaannya. Ia menjawab, “Semenjak api pertempuran berkobar aku selalu saja menyepi/menyendiri di seberang sungai ini. Aku menunggu apa yang akan disingkap oleh pertempuran ini, tatkala engkau yang muncul dan menang, aku datang kepadamu untuk berbaiat.”

“Celaka engkau…apakah engkau hanya duduk saja menunggu tanpa ikut berperang bersama amirmu (pemimpinmu)?!” kata al-Hajjaj.

Kemudian ia (al-Hajjaj) menghardiknya seraya berkata, “Apakah kamu bersaksi atas dirimu dengan kekufuran?”

Ia menjawab, “Seburuk-buruk orang adalah aku bila aku beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun, kemudian setelah itu aku bersaksi kekufuran atas diriku.”

“Kalau demikian aku akan membunuhmu” kata al-Hajjaj.
Ia menjawab, “Apabila engkau membunuhku…maka demi Allah umurku tidak tersisa kecuali hanya sebatas kesabaran keledai menahan haus (waktu yang singkat, penj.)…ia minum di pagi hari dan di sore harinya mati…dan aku sedang menunggu kematian pagi dan sore hari, maka lakukanlah apa yang kamu kehendaki.”

“Penggal lehernya” perintah al-Hajjaj kepada algojonya.
Sang algojo lantas memenggal lehernya. Tidak ada seorang pun di majlis tersebut dari para pengikut al-Hajjaj atau dari orang-orang yang memusuhinya kecuali mengagungkan syaikh yang lanjut usia tadi, dan merasa iba serta kasihan kepadanya.

Kemudian al-Hajjaj memanggil Kamil ibn Ziyad an-Nakha’i dan berkata kepadanya, “Apakah kamu bersaksi kekufuran atas dirimu?”

“Demi Allah aku tidak akan bersaksi” jawabnya.
“Kalau demikian aku akan membunuhmu” kata al-Hajjaj.
Ia menjawab, “Laksanakan apa yang menjadi keputusanmu…sesungguhnya waktu untuk pertemuan antara kita adalah di sisi Allah (di hari kiamat)…dan setelah pembunuhan ada hisab.”

Al-Hajjaj berkata kepadanya, “Hujjah pada saat itu akan menjadi bumerang atas dirimu bukan menjadi penolongmu.”
Ia menjawab, “Itu apabila kamu adalah Qadli-nya saat itu.”
“Bunuhlah ia” perintahnya.
Ia kemudian dimajukan dan dibunuh.

Kemudian dihadapkan kepadanya orang lain lagi. Ia sangat membencinya dan sangat ingin membunuhnya di sebabkan atas apa yang sampai kepadanya bahwa orang tersebut meremehkannya…ia lantas mendahuluinya dengan berkata, “Sungguh aku melihat seseorang di hadapanku yang aku tidak menyangkanya akan bersaksi kekufuran atas dirinya.”

Orang tersebut berkata, “Engkau jangan menjerumuskanku dalam kehancuran dan menipuku atas diriku. Aku adalah penduduk bumi yang paling kafir dan lebih kafir dari Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak).”

Al-Hajjaj kemudian membebaskannya padahal ia sangat ingin membunuhnya.

Berita pembantaian yang menyeramkan itu telah tersebar, dimana sekian ribu muslimin yang teguh dalam pendirian dibantai disana…dan sekian ribu yang lainnya selamat dari pembantaian tersebut, mereka adalah orang-orang yang dipaksa untuk mensifati diri mereka dengan kekufuran.

Sehingga Said ibn Jubair merasa yakin bahwa apabila ia berada di hadapan al-Hajjaj ia akan berada dalam dua pilihan tidak ada pilihan ketiga, yaitu ia akan dipenggal lehernya atau ia harus mengakui kekufuran atas dirinya. Kedua pilihan tersebut bagaikan buah si malakama…maka, ia memilih untuk keluar dari negeri Irak dan menjauh (bersembunyi) dari pengkaungan. Ia terus berjalan di bumi Allah yang luas, bersembunyi dari al-Hajjaj dan mata-matanya, hingga ia bernaung di sebuah desa kecil di tanah Mekkah.

Ia terus berada dalam keadaan tersebut genap sepuluh tahun lamanya. Waktu yang cukup untuk memadamkan api al-Hajjaj yang menyala dalam dadanya, dan cukup untuk menghilangkan kedengkian yang ada pada dirinya terhadapnya.

Hanya saja yang terjadi tidak pernah di perkirakan oleh siapapun…yaitu datangnya seorang gubernur baru dari para wali Bani Umayyah…ia adalah “Khalid ibn Abdullah al-Qosri.”

Para sahabat Said ibn Jubair merasa takut dalam hatinya dari (kejahatan)nya karena mereka mengetahui keburukan perilakunya dan memprediksikan keburukan pada kedua tangannya.

Sebagian dari mereka datang kepada Said seraya berkata kepadanya, “Sesungguhnya orang ini (Khalid ibn Abdullah al-Qosri) telah datang ke Mekkah, demi Allah kami merasa tidak aman dengan keberadaanmu…perkenankanlah permintaan kami dan keluarlah dari negeri ini.”

Ia menjawab, “Demi Allah, aku telah lari hingga aku merasa malu terhadap Allah. Aku telah ber’azm untuk tetap tinggal di tempat ini…biarlah Allah berbuat apa yang Dia kehendaki kepadaku.”

Khalid tidaklah mendustakan prasangka buruk yang di prasangkakan manusia kepadanya. Begitu mengetahui keberadaan Said ibn Jubair, ia segera mengutus beberapa orang dari pasukannya dan memerintahkan mereka untuk menggiringnya dalam keadaan terborgol kepada al-Hajjaj di kota “Wasith”*****.

Para pasukan mengepung rumah syaikh dan segera memborgol kedua tangan syaikh dengan disaksikan oleh para sahabatnya.

Mereka mengumumkan kepadanya untuk segera berangkat menuju al-Hajjaj, ia pun menerimanya dengan jiwa tenang dan hati yang tenteram.

Ia kemudian menoleh kepada para sahabatnya dan berkata, “Aku tidak melihat diriku kecuali akan terbunuh di tangan orang dzalim itu (al-Hajjaj). Sungguh dulu aku pernah bersama dua sahabatku berada di suatu malam sedang beribadah, kami merasakan manisnya doa. Kami memanjatkan doa kepada Allah dengan doa kami, kami merendahkan diri kepada-Nya dengan apa yang Allah kehendaki untuk kami merendahkan diri. Kemudian kami memohon kepada Allah agar menuliskan syahadah (mati syahid) kepada kami. Dan sungguh Allah telah menganugerahkannya kepada dua sahabatku, dan tinggallah aku sendirian menunggunya.”

Belum selesai ia berbicara hingga putri kecilnya muncul dan melihatnya terborgol, sedangkan para tentara menggiringnya. Ia pun bergelayut padanya dan mulai menangis sesenggukan.

Maka syaikh menjauhkannya dengan lembut dan berkata kepadanya, “Katakan kepada ibumu wahai putri kecilku, “Sesungguhnya tempat pertemuan kita adalah surga Insya Allah ta’ala.”

Kemudian ia beranjak pergi…
Para tentara sampai di kota “Wasith” bersama imam yang ‘alim, ‘abid (ahli ibadah), zuhud, bertakwa, suci lagi wara’. Mereka membawanya masuk kepada al-Hajjaj.

Setelah ia berada di hadapannya, dengan pengkaungan penuh kedengkian ia (al-Hajjaj) bertanya kepadanya, “Siapa namamu?”
“Said ibn Jubair” jawab syaikh.

“(Bahkan namamu) Syaqiy ibn Kusair******“ bentak al-Hajjaj.

Syaikh menjawab, “Ibuku lebih tahu tentang namaku dari pada kamu.”

“Apa yang kamu katakan tentang Muhammad?” tanya al-Hajjaj.

“Maksudmu Muhammad ibn Abdullah SAW?!” tanya syaikh.
“Ya” jawab al-Hajjaj.

Syaikh menjawab, “Ia adalah Sayyid (pemimpin) anak Adam, seorang Nabi yang terpilih, sebaik-baik manusia yang tersisa dan sebaik-baik manusia yang telah lewat…Ia memberikan nasehat untuk Allah, kitab-Nya, dan (untuk) kaum muslimin yang awam dan khusus.”

“Apa yang kamu katakan tentang Abu Bakar” tanya al-Hajjaj.
Syaikh menjawab, “Ia adalah ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah SAW, ia telah pergi (wafat) dengan terpuji dan hidup bahagia…ia berjalan di atas Manhaj (jalan hidup) Nabi SAW. Ia tidak merubahnya dan tidak menggantinya.”

“Apa yang kamu katakan tentang Umar?” tanya al-Hajjaj.
Syaikh menjawab “Ia adalah al-Faaruq yang dengannya Allah memisahkan antara yang haq dan bathil. Ia adalah pilihan Allah dan Rasul-Nya, ia telah berjalan di atas manhaj dua sahabatnya (yaitu Rasulullah dan Abu Bakar), ia hidup dengan terpuji dan terbunuh secara syahid.”

“Apa yang kamu katakan tentang Utsman?” tanya al-Hajjaj.
Syaikh menjawab, “Dialah yang telah menyiapkan bekal pasukan perang Tabuk…Ia yang menggali (membeli, penj.) sumur Ruumah*******…ia yang telah membeli sebuah rumah di surga untuk dirinya…ia menantu Rasulullah SAW (yang menikahi) dua putrinya. Nabi telah menikahkannya dengan wahyu dari langit. Dan dia telah terbunuh dengan cara yang dzalim.”

“Apa yang kamu katakan tentang Ali?” tanya al-Hajjaj lagi.
Syaikh menjawab, “Ia adalah misan Rasulullah SAW dan orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan pemuda…Ia suami dari Fathimah yang suci…Ayah al-Hasan dan al-Husain dua orang Sayyid (pemimpin) pemuda penduduk surga.”

Al-Hajjaj bertanya lagi, “Siapakah khalifah Bani Umayyah yang paling kamu kagumi?”

“Ia adalah orang yang paling diridlai oleh khaliqnya” jawab syaikh.

“(Lalu) siapakah yang paling diridlai oleh sang khaliq?” tanya al-Hajjaj.
Syaikh menjawab, “Ilmu tentang hal itu ada di sisi Allah yang mengetahui rahasia dan bisikan mereka.”

Al-Hajjaj bertanya, “Apa yang kamu katakan tentang aku?.”
“Kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri” jawab syaikh.
“Tetapi aku ingin tahu komentarmu” kata al-Hajjaj.

“Kalau demikian, itu akan membuatmu sedih dan tidak membuatmu gembira” kata syaikh.

“Aku harus mendengarnya darimu” kata al-Hajjaj.
Syaikh menjawab, “Sungguh aku mengetahui bahwa kamu menyelisihi kitab Allah ta’ala…Kamu melakukan perkara-perkara yang kamu mengharapkan wibawa darinya, (namun sebenarnya) ia menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan mendorongmu ke dalam neraka.”

Al-Hajjaj berkata, “Sungguh demi Allah aku akan membunuhmu.”

“Kalau demikian maka kamu merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu” kata syaikh.

“Pilihlah pembunuhan yang kamu kehendaki untuk dirimu” kata al-Hajjaj.

“Pilihlah sendiri olehmu wahai al-Hajjaj…Demi Allah tidaklah kamu membunuhku dengan suatu pembunuhan kecuali Allah akan membunuhmu dengan cara yang sama di akhirat” kata syaikh.

Al-Hajjaj berkata, “Apakah kamu ingin aku mengampunimu?”
“Ampunan hanyalah dari Allah ta’ala…adapun kamu tidak ada ampunan dan udzur darimu” jawab al-Hajjaj.

(Mendengar jawaban tersebut) murkalah al-Hajjaj, dan ia berkata, “Ambillah pedang dan karpet (alas) wahai anak-anak!.”

Said tersenyum, maka berkatalah al-Hajjaj kepadanya, “Apa yang membuatmu tersenyum?.”

“Aku sungguh heran terhadap kelancanganmu atas Allah dan (heran) atas kesabaran Allah atas dirimu” jawab syaikh.

“Bunuhlah ia wahai pengawal” perintahnya.
Syaikh lalu menghadap kiblat dan membaca, “Aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutkan Tuhan (QS. al-An’am: 79).”

“Palingkan wajahnya dari kiblat” perintah al-Hajjaj.
Syaikh kemudian membaca, “Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. al-Baqarah: 115)

“Telungkupkan dia ke tanah” perintahnya lagi.
Syaikh membaca, “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu kali yang lain (QS. Thaahaa: 55).”

Al-Hajjaj berkata, “Sembelihlah musuh Allah, aku tidak melihat seseorang yang sangat kuat hafalannya terhadap al-Qur’an daripada dirinya.”

Said mengangkat kedua telapak tangannya dan berdoa, “Ya Allah janganlah Engkau menguasakan al-Hajjaj kepada siapapun sepeninggalku.”

Tidak lebih dari lima belas hari setelah kematian Said ibn Jubair hingga al-Hajjaj terserang demam, dan sakitnya terus bertambah parah. Ia tertidur sebentar kemudian terbangun kembali…Apabila ia tertidur sesaat, ia terbangun dengan perasaan takut seraya berteriak, “Ini Said ibn Jubair mendatangiku dan mencekik leherku…ini Said ibn Jubair berkata, “Mengapa kamu membunuhku?!.”

Ia lantas menangis dan berkata, “Ada apa denganku dan dengan Said ibn Jubair?! Singkirkan Said ibn Jubair dariku.”

Setelah ia meninggal dan di kubur, sebagian orang melihatnya dalam mimpi, ia berkata kepadanya, “Apa yang telah Allah perbuat kepadamu pada orang-orang yang telah kamu bunuh wahai al-Hajjaj?”

Ia menjawab, “Allah membunuhku dengan setiap orang satu kali pembunuhan, dan (Allah) membunuhku dengan (kematian) Said ibn Jubair sebanyak tujuh puluh kali pembunuhan”.

CATATAN KAKI:

* Abdullah ibn Mas’ud, ia adalah seorang sahabat yang berkhidmah kepada Rasulullah SAW. Ia orang yang pertama kali menjaharkan (mengeraskan) al-Qur’an. Lihat kitab “Shuwar min hayatis shahabah” oleh penulis

** Zaid ibn Tsabit adalah seorang sahabat yang termasuk pencatat wahyu. Ia orang yang di dahulukan dalam hal qiro’ah, qadla (peradilan) dan fatwa. Lihat kitab “Shuwar min hayatis shahabah” oleh penulis
*** Abdullah ibn az-Zubair ibn al-‘Awwam di bai’at sebagai khalifah, kemudian al-Hajjaj menumpasnya.

**** Sijistan adalah wilayah yang terletak antara Iran dan Afghanistan
***** Washit adalah kota yang terletak antara Bashrah dan Kufah. Dinamakan Washit karena lataknya yang di washat (tengah-tengahnya). Jaraknya lima puluh mil dari kedua kota tersebut

****** Ia menamai syaikh dengan nama tersebut karena Said berarti orang yang bahagia dan Jubair berarti yang menambal atau menutupi. Sedangkan Syaqiy berarti orang yang sengsara dan Kusair berarti pecah. Ia menamainya demikian karena kedengkiannya kepada syaikh –penj

******* Sumur Ruumah adalah sumur di ‘Aqiq Madinah Munawwarah yang telah dibeli oleh Utsman ibn ‘Affan dengan harga seratus unta dan ia shadaqahkan kepada kaum muslimin

SUMBER:

Sebagai tambahan tentang Said bin Jubair, lihat:
1. ath-Thabaqatul Kubra oleh Ibn Sa’d: 6/256
2. az-Zuhd oleh Ahmad ibn Hanbal: 370
3. Thabaqat al-Fuqoha oleh asy-Syiraazi: 82
4. al-Bidayah wan Nihayah: 9/96-97
5. Tarikh al-Bukhari: 3/461
6. Wafayaatul A’yaan: 2/371
7. Tarikhul Islam: 4/2
8. Tadzkiratul Huffadz: 1/71
9. al-‘Ibar Fi Akhbaar Man Ghabar: 1/112
10. Akhbarul Qudlat: 2/411
11. al-‘Aqduts Tsamiin: 4/549
12. an-Nujumuz Zaahirah: 1/228
13. Thabaqatul Mufassirin: 1/181
14. Syadzaratudz Dzahab: 1/108

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 70

Muhammad Ibn Waasi’ al-Azdiy -[1-2]

(Syaikh Ahli Zuhud Dan Pemilik Doa Mustajab)

“Para umara memiliki qurra, orang-orang kaya memiliki qurra dan Muhammad ibn Waasi’ adalah qurranya ar-Rahman” (Malik ibn Dinar)

Kita sekarang berada di bawah pemerintahan khilafah Amirul Mukminin Sulaiman ibn Abdul Malik.

Inilah Yazid ibn al-Muhallab ibn Abi Shufrah salah seorang dari suyuuful Islam (pedang Islam) yang terhunus dan wali Khurasan yang gagah perkasa.

Ia bergerak bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu personil, belum termasuk para sukarelawan dari para pencari syahid dan orang-orang yang mengharapkan pahala.

Ia bertekad untuk menaklukkan “Jurjaan” dan “Thabaristan”*…Dan adalah di antara para pelopor sukarelawan seorang tabi’in mulia (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy al-Anshari yang di beri gelar Zainul Fuqaha (hiasan para fuqaha)…dan dikenal dengan sebutan ‘Abid al-Bashrah (ahli ibadahnya Bashrah) serta murid seorang sahabat mulia Anas ibn Malik al-Anshari, pelayan Rasulullah SAW.

Yazib ibn al-Muhallab singgah bersama pasukannya di “Dihistan” yang dihuni sekelompok kaum dari “Turki” yang sangat keras siksanya, sangat kuat dan sangat kokoh bentengnya.

Setiap hari mereka keluar untuk memerangi kaum muslimin. Apabila ditimpa kepayahan dan pertempuran bertambah sengit mendesak mereka, mereka berlindung di jalan-jalan perbukitan. Mereka bertahan di benteng-benteng yang kokoh dan berlindung di puncak-puncaknya yang tinggi.

Adalah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy memiliki peran signifikan dalam pertempuran ini walaupun secara fisik kelihatan lemah dan usianya telah lanjut.

Dan sungguh tentara muslimin mendapatkan ketenangan dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang lembut. Mereka bersemangat untuk mendapatkan hangatnya dzikir yang menyala dari lisannya yang sejuk. Mereka merasa tenteram dengan doa-doanya yang mustajab di saat-saat genting dan bencana.

Yang biasa ia lakukan, apabila panglima pasukan telah menerobos masuk ke medan perang, ia menyeru, “Wahai pasukan Allah naiklah…wahai pasukan Allah naiklah…”

Hampir-hampir tidaklah tentara muslimin mendengar seruannya kecuali mereka segera merangsak maju memerangi musuhnya sebagaimana bergeraknya singa-singa yang menerkam. Mereka mendatangi medan pertempuran bak orang-orang yang kehausan mendatangi air dingin di hari yang terik.

Pada suatu pertempuran dari hari-hari pertempuran yang sengit tersebut, muncullah seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang mana mata tidak pernah melihat badan yang sekekar itu, begitu kuat, pemberani dan sangat kuat keteguhannya. Ia terus saja menerobos masuk ke tengah-tengah barisan sehingga memojokkan kaum muslimin dari tempat-tempat mereka. Ia juga menimbulkan rasa takut dan gentar di hati mereka.

Kemudian ia mulai mengajak mereka untuk berduel menantang dengan sombong. Ia terus mengulangi tantangannya.

Maka, tidaklah Muhammad ibn Waasi’ mendengar ajakannya kecuali ia bertekad untuk berduel dengannya.

Di saat itulah kegagahan (keberanian) merayap dalam jiwa pasukan muslimin…Salah seorang dari mereka mendatangi orang tua ini dan bersumpah agar ia tidak melakukannya dan memohonnya supaya membiarkannya mengantikannya. Orang tua itu lantas mengabulkan sumpahnya dan mendoakan kemenangan dan pertolongan untuknya.

Kedua prajurit tersebut saling mendatangi lawannya laksana datangnya kematian. Keduanya saling menerkam laksana dua singa yang kuat. Mata dan hati seluruh tentara memperhatikan dari setiap tempat. Keduanya terus saling menerkam dan menyerang beberapa saat hingga kelelahan.

Di saat yang bersamaan keduanya saling menebas kepala lawannya…

Adapun pedang prajurit Turki menancap di penutup kepala prajurit muslim…sedangkan pedang prajurit muslim turun mengenai pelipis prajurit Turki sehingga membelah kepalanya menjadi dua bagian. Terpecahlah kepalanya menjadi dua…

Prajurit yang menang tersebut kembali ke barisan muslimin di bawah tatapan mata yang tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti itu.

Pedang di tangannya meneteskan darah…
Dan sebuah pedang menancap di atas ‘helm’-nya berkilat di bawah sinar matahari.

Kaum muslimin menyambutnya dengan tahlil, takbir dan tahmid.

Yazid ibn al-Muhallab memandang kepada kilatan dua pedang itu, ‘helm’ dan senjata orang tersebut. Ia berkata, “Alangkah menakjubkannya prajurit ini!!,” Manusia apakah dia.?”

Maka dikatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang telah mendapatkan berkah dari doanya Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

Neraca kekuatan berbalik setelah tewasnya prajurit Turki…rasa takut dan gentar menjalar di dalam diri kaum musyrikin seperti api yang menyambar daun ilalang yang kering-kerontang.

Api semangat dan izzah kemudian menyala dalam dada kaum Muslimin.

Mereka mendatangi musuhnya laksana datangnya air bah…
Mereka mengepungnya seperti kalung yang melingkar di leher…

Mereka juga memutuskan (pintu-pintu) air dan suplai makanan.

Sehingga raja mereka tidak menemukan jalan selain perdamaian. Ia kemudian mengirim utusan kepada Yazid untuk menawarkan perdamaian kepadanya, dan mengumumkan kesiapannya untuk menyerahkan negara yang ada dalam kekuasaannya dengan segenap apa dan siapa yang ada padanya, dengan jaminan ia (Yazid) memberikan keamanan kepada dirinya, harta dan keluarganya.

Yazid menerima perdamaian darinya dan memberikan syarat agar ia memberikan tujuh ratus ribu dirham kepadanya dengan cara diangsur dan membayar tunai di muka sebesar empat ratus ribu. Dan memberikan empat ratus kendaraan yang dipenuhi dengan Za’faraan** kepadanya. Dan hendaklah ia menggiring empat ratus orang, pada tangan setiap orang terdapat satu gelas yang terbuat dari perak dan di atas kepalanya terdapat Burnus*** dari sutra dan di atas Burnus terdapat Thailasan**** yang terbuat dari beludru sutra dan selendang sutra yang akan di pakai oleh istri-istri para prajurit.

Ketika peperangan telah mereda, Yazid ibn al-Muhallab berkata kepada penjaga gudangnya, “Hitunglah Ghanimah yang kita raih sehingga kita bisa memberi kepada setiap orang haknya.”

Si penjaga gudang dan orang yang bersamanya berusaha untuk menghitungnya namun mereka kewalahan. Akhirnya ghanimah tersebut dibagi di antara prajurit dengan pembagian yang dibangun atas toleransi.

Dalam ghanimah tersebut, kaum muslimin menemukan sebuah mahkota yang di lapisi emas murni, dihias dengan berlian dan mutiara, dan dihias dengan ukiran-ukiran yang indah.

Orang-orang saling mendongakkan leher (untuk melihat) kearahnya…mata-mata tidak berkedip memengkaung kemilaunya.

Yazid memungut dengan tangannya dan mengangkatnya sehingga yang belum melihatnya bisa melihatnya, kemudian ia berkata, “Apakah kalian melihat ada orang yang zuhud terhadap mahkota ini?!”

“Semoga Allah memperbaiki keadaan tuanku…siapakah orangnya yang akan zuhud kepadanya” jawab mereka.

Ia berkata, “Kalian akan melihat, bahwa masih ada pada umat Muhammad SAW orang yang zuhud terhadapnya dan terhadap sepenuh bumi yang sepertinya.”

Ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata, “Carilah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy untukku.”

Penjaga tersebut segera bertolak mencarinya di setiap arah…dan ia menemukannya telah menepi di tempat yang jauh dari manusia. Ia berdiri tegak mengerjakan shalat sunnah dan berdoa serta memohon ampun.

Ia lantas menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Amir memanggilmu untuk menemuinya, dan memintamu untuk berangkat ke sana sekarang juga.”

Ia berangkat bersama penjaga, hingga ketika ia telah berada di sisi Amir, ia mengucapkan salam dan duduk di dekatnya. Amir menjawab salamnya dengan yang lebih baik darinya.

Ia kemudian mengangkat mahkota dengan tangannya dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya tentara muslimin telah beruntung dengan (mendapatkan) mahkota yang berharga ini…dan aku berpendapat untuk memuliakanmu dengannya, dan menjadikannya termasuk bagianmu, sehingga jiwa para tentara pun menjadi lega dengannya.”

“Engkau menjadikannya termasuk bagianku, wahai amir?!” katanya.

“Ya, termasuk bagianmu,” kata Amir
Ia berkata, “Aku sama sekali tidak membutuhkannya wahai Amir…semoga engkau dan mereka dibalasi dengan kebaikan atasku.”

“Aku bersumpah dengan nama Allah atasmu agar kamu mengambilnya,” kata Amir.

Ketika Amir bersumpah, Muhammad ibn Waasi’ pun terpaksa mengambil mahkota, kemudian ia memohon pamit kepadanya dan beranjak pergi.

Beberapa orang yang tidak mengenal syaikh berkata, “Inilah orangnya yang telah mengkhususkan dirinya dengan mahkota dan ia pergi membawanya.”

Yazid lantas memerintahkan seorang budaknya untuk menguntitnya dengan sembunyi-sembunyi…dan untuk memperhatikan apa yang akan ia perbuat dengan mahkota tersebut…kemudian datang dengan membawa beritanya.

Budak tersebut menguntitnya sedangkan syaikh tidak mengetahuinya.

Muhammad ibn Waasi’ berjalan di jalannya sedangkan mahkota barada di tangannya…ia lalu dihadang oleh seseorang yang berambut acak-acakan, berdebu dan berpenampilan dekil, ia memintanya dengan berkata, “Dari harta Allah….”

Syaikh memengkaung ke sebelah kanannya, kirinya dan belakanganya…ketika ia yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia menyerahkan mahkota tersebut kepada orang yang meminta tadi…kemudian ia bertolak dengan perasaan gembira dan senang…seakan-akan ia telah melemparkan beban berat dari pundaknya yang memberatkan punggungnya.

Budak tersebut lantas memegang tangan si peminta tadi, lalu membawanya kepada Amir dan ia menceritakan kisahnya kepadanya…

Amir kemudian mengambil mahkota tesebut dari tangan si peminta, dan menggantinya dengan harta yang cukup sehingga menjadikannya ridla. Kemudian ia menoleh kepada para tentaranya dan berkata, “Bukankah sudah aku katakan kepada kalian, sesungguhnya masih ada di antara umat Muhammad SAW orang-orang yang zuhud terhadap mahkota ini dan yang semisalnya dan yang semisalnya.”

Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terus saja ikut berjihad (memerangi) musyrikin di bawah bendera Yazid ibn al-Muhallab hingga musim haji mendekat.

Ketika tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya waktu yang singkat, ia masuk menemui Amir dan meminta ijinnya untuk berangkat mengerjakan nusuk.*****

Yazid berkata kepadanya, “Ijinmu berada di tanganmu sendiri wahai Abu Abdillah, berangkatlah kapan saja kamu mau…dan kami telah memerintahkan untuk memberikan harta kepadamu agar bisa membantu hajimu.”

Ia menjawab, “Apakah kamu juga memerintahkan (untuk memberikan) seperti harta ini kepada setiap tentara-tentaramu wahai Amir?!”

“Tidak…” jawab Amir
Ia berkata, “Aku tidak punya hajat dengan sesuatu yang aku dikhususkan dengannya tanpa tentara muslimin yang lain.”

Ia kemudian mengucapkan selamat berpisah dan segera berangkat.

Kepergian Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terasa begitu memberatkan Yazid ibn al-Muhallab sebagaimana juga terasa berat atas tentara muslimin yang telah berjalan di temani olehnya.

Mereka merasa bersedih atas terhalangnya pasukan yang menang dari berkah-berkahnya, mereka berharap agar ia kembali lagi setelah selesai menunaikan nusuk-nya.

Tidaklah mengherankan, sungguh para panglima muslimin yang tersebar di seluruh penjuru negeri telah berlomba-lomba agar ‘Abidul Bashrah (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy berada dalam kelompok pasukannya. Mereka bergembira dengan keberadaannya bersama mereka dengan kebaikan yang banyak…mereka mengharap kepada Allah AWJ agar menganugerahkan kemenangan gemilang dengan kebaikan doanya dan berkahnya yang banyak.

Selanjutnya, alangkah mulia jiwa-jiwa ini yang terasa begitu kecil di matanya…(namun) begitu besar di sisi Allah dan para manusia.

Alangkah mulia sejarah ini yang telah beruntung dengan orang-orang langka dari manusia-manusia yang menakjubkan.

Sampai berjumpa lagi bersama ‘Abidul Bashrah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

CATATAN:

* Jurjaan dan Thabaristan telah ditaklukkan oleh Yazid ibn Al-Muhallab, keduanya termasuk daerah Persia
** Za’faran adalah tumbuhan yang dipergunakan untuk mengharumkan dan mewarnai makanan
*** Burnus adalah pakaian yang penutup kepalanya merupakan bagian darinya
**** Thailasan adalah jubah yang berwarna hijau yang dipakai oleh orang-orang tertentu
***** Nusuk adalah mengerjakan haji yang sunnah dan itu dikerjakan setelah menunaikan haji yang wajib

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 69

Muhammad Ibn Waasi’ al-Azdiy -[1-2]

(Syaikh Ahli Zuhud Dan Pemilik Doa Mustajab)

“Para umara memiliki qurra, orang-orang kaya memiliki qurra dan Muhammad ibn Waasi’ adalah qurranya ar-Rahman” (Malik ibn Dinar)

Kita sekarang berada di bawah pemerintahan khilafah Amirul Mukminin Sulaiman ibn Abdul Malik.

Inilah Yazid ibn al-Muhallab ibn Abi Shufrah salah seorang dari suyuuful Islam (pedang Islam) yang terhunus dan wali Khurasan yang gagah perkasa.

Ia bergerak bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu personil, belum termasuk para sukarelawan dari para pencari syahid dan orang-orang yang mengharapkan pahala.

Ia bertekad untuk menaklukkan “Jurjaan” dan “Thabaristan”*…Dan adalah di antara para pelopor sukarelawan seorang tabi’in mulia (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy al-Anshari yang di beri gelar Zainul Fuqaha (hiasan para fuqaha)…dan dikenal dengan sebutan ‘Abid al-Bashrah (ahli ibadahnya Bashrah) serta murid seorang sahabat mulia Anas ibn Malik al-Anshari, pelayan Rasulullah SAW.

Yazib ibn al-Muhallab singgah bersama pasukannya di “Dihistan” yang dihuni sekelompok kaum dari “Turki” yang sangat keras siksanya, sangat kuat dan sangat kokoh bentengnya.

Setiap hari mereka keluar untuk memerangi kaum muslimin. Apabila ditimpa kepayahan dan pertempuran bertambah sengit mendesak mereka, mereka berlindung di jalan-jalan perbukitan. Mereka bertahan di benteng-benteng yang kokoh dan berlindung di puncak-puncaknya yang tinggi.

Adalah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy memiliki peran signifikan dalam pertempuran ini walaupun secara fisik kelihatan lemah dan usianya telah lanjut.

Dan sungguh tentara muslimin mendapatkan ketenangan dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang lembut. Mereka bersemangat untuk mendapatkan hangatnya dzikir yang menyala dari lisannya yang sejuk. Mereka merasa tenteram dengan doa-doanya yang mustajab di saat-saat genting dan bencana.

Yang biasa ia lakukan, apabila panglima pasukan telah menerobos masuk ke medan perang, ia menyeru, “Wahai pasukan Allah naiklah…wahai pasukan Allah naiklah…”

Hampir-hampir tidaklah tentara muslimin mendengar seruannya kecuali mereka segera merangsak maju memerangi musuhnya sebagaimana bergeraknya singa-singa yang menerkam. Mereka mendatangi medan pertempuran bak orang-orang yang kehausan mendatangi air dingin di hari yang terik.

Pada suatu pertempuran dari hari-hari pertempuran yang sengit tersebut, muncullah seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang mana mata tidak pernah melihat badan yang sekekar itu, begitu kuat, pemberani dan sangat kuat keteguhannya. Ia terus saja menerobos masuk ke tengah-tengah barisan sehingga memojokkan kaum muslimin dari tempat-tempat mereka. Ia juga menimbulkan rasa takut dan gentar di hati mereka.

Kemudian ia mulai mengajak mereka untuk berduel menantang dengan sombong. Ia terus mengulangi tantangannya.

Maka, tidaklah Muhammad ibn Waasi’ mendengar ajakannya kecuali ia bertekad untuk berduel dengannya.

Di saat itulah kegagahan (keberanian) merayap dalam jiwa pasukan muslimin…Salah seorang dari mereka mendatangi orang tua ini dan bersumpah agar ia tidak melakukannya dan memohonnya supaya membiarkannya mengantikannya. Orang tua itu lantas mengabulkan sumpahnya dan mendoakan kemenangan dan pertolongan untuknya.

Kedua prajurit tersebut saling mendatangi lawannya laksana datangnya kematian. Keduanya saling menerkam laksana dua singa yang kuat. Mata dan hati seluruh tentara memperhatikan dari setiap tempat. Keduanya terus saling menerkam dan menyerang beberapa saat hingga kelelahan.

Di saat yang bersamaan keduanya saling menebas kepala lawannya…

Adapun pedang prajurit Turki menancap di penutup kepala prajurit muslim…sedangkan pedang prajurit muslim turun mengenai pelipis prajurit Turki sehingga membelah kepalanya menjadi dua bagian. Terpecahlah kepalanya menjadi dua…

Prajurit yang menang tersebut kembali ke barisan muslimin di bawah tatapan mata yang tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti itu.

Pedang di tangannya meneteskan darah…
Dan sebuah pedang menancap di atas ‘helm’-nya berkilat di bawah sinar matahari.

Kaum muslimin menyambutnya dengan tahlil, takbir dan tahmid.

Yazid ibn al-Muhallab memandang kepada kilatan dua pedang itu, ‘helm’ dan senjata orang tersebut. Ia berkata, “Alangkah menakjubkannya prajurit ini!!,” Manusia apakah dia.?”

Maka dikatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang telah mendapatkan berkah dari doanya Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

Neraca kekuatan berbalik setelah tewasnya prajurit Turki…rasa takut dan gentar menjalar di dalam diri kaum musyrikin seperti api yang menyambar daun ilalang yang kering-kerontang.

Api semangat dan izzah kemudian menyala dalam dada kaum Muslimin.

Mereka mendatangi musuhnya laksana datangnya air bah…
Mereka mengepungnya seperti kalung yang melingkar di leher…

Mereka juga memutuskan (pintu-pintu) air dan suplai makanan.

Sehingga raja mereka tidak menemukan jalan selain perdamaian. Ia kemudian mengirim utusan kepada Yazid untuk menawarkan perdamaian kepadanya, dan mengumumkan kesiapannya untuk menyerahkan negara yang ada dalam kekuasaannya dengan segenap apa dan siapa yang ada padanya, dengan jaminan ia (Yazid) memberikan keamanan kepada dirinya, harta dan keluarganya.

Yazid menerima perdamaian darinya dan memberikan syarat agar ia memberikan tujuh ratus ribu dirham kepadanya dengan cara diangsur dan membayar tunai di muka sebesar empat ratus ribu. Dan memberikan empat ratus kendaraan yang dipenuhi dengan Za’faraan** kepadanya. Dan hendaklah ia menggiring empat ratus orang, pada tangan setiap orang terdapat satu gelas yang terbuat dari perak dan di atas kepalanya terdapat Burnus*** dari sutra dan di atas Burnus terdapat Thailasan**** yang terbuat dari beludru sutra dan selendang sutra yang akan di pakai oleh istri-istri para prajurit.

Ketika peperangan telah mereda, Yazid ibn al-Muhallab berkata kepada penjaga gudangnya, “Hitunglah Ghanimah yang kita raih sehingga kita bisa memberi kepada setiap orang haknya.”

Si penjaga gudang dan orang yang bersamanya berusaha untuk menghitungnya namun mereka kewalahan. Akhirnya ghanimah tersebut dibagi di antara prajurit dengan pembagian yang dibangun atas toleransi.

Dalam ghanimah tersebut, kaum muslimin menemukan sebuah mahkota yang di lapisi emas murni, dihias dengan berlian dan mutiara, dan dihias dengan ukiran-ukiran yang indah.

Orang-orang saling mendongakkan leher (untuk melihat) kearahnya…mata-mata tidak berkedip memengkaung kemilaunya.

Yazid memungut dengan tangannya dan mengangkatnya sehingga yang belum melihatnya bisa melihatnya, kemudian ia berkata, “Apakah kalian melihat ada orang yang zuhud terhadap mahkota ini?!”

“Semoga Allah memperbaiki keadaan tuanku…siapakah orangnya yang akan zuhud kepadanya” jawab mereka.

Ia berkata, “Kalian akan melihat, bahwa masih ada pada umat Muhammad SAW orang yang zuhud terhadapnya dan terhadap sepenuh bumi yang sepertinya.”

Ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata, “Carilah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy untukku.”

Penjaga tersebut segera bertolak mencarinya di setiap arah…dan ia menemukannya telah menepi di tempat yang jauh dari manusia. Ia berdiri tegak mengerjakan shalat sunnah dan berdoa serta memohon ampun.

Ia lantas menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Amir memanggilmu untuk menemuinya, dan memintamu untuk berangkat ke sana sekarang juga.”

Ia berangkat bersama penjaga, hingga ketika ia telah berada di sisi Amir, ia mengucapkan salam dan duduk di dekatnya. Amir menjawab salamnya dengan yang lebih baik darinya.

Ia kemudian mengangkat mahkota dengan tangannya dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya tentara muslimin telah beruntung dengan (mendapatkan) mahkota yang berharga ini…dan aku berpendapat untuk memuliakanmu dengannya, dan menjadikannya termasuk bagianmu, sehingga jiwa para tentara pun menjadi lega dengannya.”

“Engkau menjadikannya termasuk bagianku, wahai amir?!” katanya.

“Ya, termasuk bagianmu,” kata Amir
Ia berkata, “Aku sama sekali tidak membutuhkannya wahai Amir…semoga engkau dan mereka dibalasi dengan kebaikan atasku.”

“Aku bersumpah dengan nama Allah atasmu agar kamu mengambilnya,” kata Amir.

Ketika Amir bersumpah, Muhammad ibn Waasi’ pun terpaksa mengambil mahkota, kemudian ia memohon pamit kepadanya dan beranjak pergi.

Beberapa orang yang tidak mengenal syaikh berkata, “Inilah orangnya yang telah mengkhususkan dirinya dengan mahkota dan ia pergi membawanya.”

Yazid lantas memerintahkan seorang budaknya untuk menguntitnya dengan sembunyi-sembunyi…dan untuk memperhatikan apa yang akan ia perbuat dengan mahkota tersebut…kemudian datang dengan membawa beritanya.

Budak tersebut menguntitnya sedangkan syaikh tidak mengetahuinya.

Muhammad ibn Waasi’ berjalan di jalannya sedangkan mahkota barada di tangannya…ia lalu dihadang oleh seseorang yang berambut acak-acakan, berdebu dan berpenampilan dekil, ia memintanya dengan berkata, “Dari harta Allah….”

Syaikh memengkaung ke sebelah kanannya, kirinya dan belakanganya…ketika ia yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia menyerahkan mahkota tersebut kepada orang yang meminta tadi…kemudian ia bertolak dengan perasaan gembira dan senang…seakan-akan ia telah melemparkan beban berat dari pundaknya yang memberatkan punggungnya.

Budak tersebut lantas memegang tangan si peminta tadi, lalu membawanya kepada Amir dan ia menceritakan kisahnya kepadanya…

Amir kemudian mengambil mahkota tesebut dari tangan si peminta, dan menggantinya dengan harta yang cukup sehingga menjadikannya ridla. Kemudian ia menoleh kepada para tentaranya dan berkata, “Bukankah sudah aku katakan kepada kalian, sesungguhnya masih ada di antara umat Muhammad SAW orang-orang yang zuhud terhadap mahkota ini dan yang semisalnya dan yang semisalnya.”

Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terus saja ikut berjihad (memerangi) musyrikin di bawah bendera Yazid ibn al-Muhallab hingga musim haji mendekat.

Ketika tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya waktu yang singkat, ia masuk menemui Amir dan meminta ijinnya untuk berangkat mengerjakan nusuk.*****

Yazid berkata kepadanya, “Ijinmu berada di tanganmu sendiri wahai Abu Abdillah, berangkatlah kapan saja kamu mau…dan kami telah memerintahkan untuk memberikan harta kepadamu agar bisa membantu hajimu.”

Ia menjawab, “Apakah kamu juga memerintahkan (untuk memberikan) seperti harta ini kepada setiap tentara-tentaramu wahai Amir?!”

“Tidak…” jawab Amir
Ia berkata, “Aku tidak punya hajat dengan sesuatu yang aku dikhususkan dengannya tanpa tentara muslimin yang lain.”

Ia kemudian mengucapkan selamat berpisah dan segera berangkat.

Kepergian Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terasa begitu memberatkan Yazid ibn al-Muhallab sebagaimana juga terasa berat atas tentara muslimin yang telah berjalan di temani olehnya.

Mereka merasa bersedih atas terhalangnya pasukan yang menang dari berkah-berkahnya, mereka berharap agar ia kembali lagi setelah selesai menunaikan nusuk-nya.

Tidaklah mengherankan, sungguh para panglima muslimin yang tersebar di seluruh penjuru negeri telah berlomba-lomba agar ‘Abidul Bashrah (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy berada dalam kelompok pasukannya. Mereka bergembira dengan keberadaannya bersama mereka dengan kebaikan yang banyak…mereka mengharap kepada Allah AWJ agar menganugerahkan kemenangan gemilang dengan kebaikan doanya dan berkahnya yang banyak.

Selanjutnya, alangkah mulia jiwa-jiwa ini yang terasa begitu kecil di matanya…(namun) begitu besar di sisi Allah dan para manusia.

Alangkah mulia sejarah ini yang telah beruntung dengan orang-orang langka dari manusia-manusia yang menakjubkan.

Sampai berjumpa lagi bersama ‘Abidul Bashrah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

CATATAN:

* Jurjaan dan Thabaristan telah ditaklukkan oleh Yazid ibn Al-Muhallab, keduanya termasuk daerah Persia
** Za’faran adalah tumbuhan yang dipergunakan untuk mengharumkan dan mewarnai makanan
*** Burnus adalah pakaian yang penutup kepalanya merupakan bagian darinya
**** Thailasan adalah jubah yang berwarna hijau yang dipakai oleh orang-orang tertentu
***** Nusuk adalah mengerjakan haji yang sunnah dan itu dikerjakan setelah menunaikan haji yang wajib

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 68

Muhammad Ibn Waasi’ al-Azdiy -[1-2]

(Syaikh Ahli Zuhud Dan Pemilik Doa Mustajab)

“Para umara memiliki qurra, orang-orang kaya memiliki qurra dan Muhammad ibn Waasi’ adalah qurranya ar-Rahman” (Malik ibn Dinar)

Kita sekarang berada di bawah pemerintahan khilafah Amirul Mukminin Sulaiman ibn Abdul Malik.

Inilah Yazid ibn al-Muhallab ibn Abi Shufrah salah seorang dari suyuuful Islam (pedang Islam) yang terhunus dan wali Khurasan yang gagah perkasa.

Ia bergerak bersama pasukannya yang berjumlah seratus ribu personil, belum termasuk para sukarelawan dari para pencari syahid dan orang-orang yang mengharapkan pahala.

Ia bertekad untuk menaklukkan “Jurjaan” dan “Thabaristan”*…Dan adalah di antara para pelopor sukarelawan seorang tabi’in mulia (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy al-Anshari yang di beri gelar Zainul Fuqaha (hiasan para fuqaha)…dan dikenal dengan sebutan ‘Abid al-Bashrah (ahli ibadahnya Bashrah) serta murid seorang sahabat mulia Anas ibn Malik al-Anshari, pelayan Rasulullah SAW.

Yazib ibn al-Muhallab singgah bersama pasukannya di “Dihistan” yang dihuni sekelompok kaum dari “Turki” yang sangat keras siksanya, sangat kuat dan sangat kokoh bentengnya.

Setiap hari mereka keluar untuk memerangi kaum muslimin. Apabila ditimpa kepayahan dan pertempuran bertambah sengit mendesak mereka, mereka berlindung di jalan-jalan perbukitan. Mereka bertahan di benteng-benteng yang kokoh dan berlindung di puncak-puncaknya yang tinggi.

Adalah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy memiliki peran signifikan dalam pertempuran ini walaupun secara fisik kelihatan lemah dan usianya telah lanjut.

Dan sungguh tentara muslimin mendapatkan ketenangan dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang lembut. Mereka bersemangat untuk mendapatkan hangatnya dzikir yang menyala dari lisannya yang sejuk. Mereka merasa tenteram dengan doa-doanya yang mustajab di saat-saat genting dan bencana.

Yang biasa ia lakukan, apabila panglima pasukan telah menerobos masuk ke medan perang, ia menyeru, “Wahai pasukan Allah naiklah…wahai pasukan Allah naiklah…”

Hampir-hampir tidaklah tentara muslimin mendengar seruannya kecuali mereka segera merangsak maju memerangi musuhnya sebagaimana bergeraknya singa-singa yang menerkam. Mereka mendatangi medan pertempuran bak orang-orang yang kehausan mendatangi air dingin di hari yang terik.

Pada suatu pertempuran dari hari-hari pertempuran yang sengit tersebut, muncullah seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang mana mata tidak pernah melihat badan yang sekekar itu, begitu kuat, pemberani dan sangat kuat keteguhannya. Ia terus saja menerobos masuk ke tengah-tengah barisan sehingga memojokkan kaum muslimin dari tempat-tempat mereka. Ia juga menimbulkan rasa takut dan gentar di hati mereka.

Kemudian ia mulai mengajak mereka untuk berduel menantang dengan sombong. Ia terus mengulangi tantangannya.

Maka, tidaklah Muhammad ibn Waasi’ mendengar ajakannya kecuali ia bertekad untuk berduel dengannya.

Di saat itulah kegagahan (keberanian) merayap dalam jiwa pasukan muslimin…Salah seorang dari mereka mendatangi orang tua ini dan bersumpah agar ia tidak melakukannya dan memohonnya supaya membiarkannya mengantikannya. Orang tua itu lantas mengabulkan sumpahnya dan mendoakan kemenangan dan pertolongan untuknya.

Kedua prajurit tersebut saling mendatangi lawannya laksana datangnya kematian. Keduanya saling menerkam laksana dua singa yang kuat. Mata dan hati seluruh tentara memperhatikan dari setiap tempat. Keduanya terus saling menerkam dan menyerang beberapa saat hingga kelelahan.

Di saat yang bersamaan keduanya saling menebas kepala lawannya…

Adapun pedang prajurit Turki menancap di penutup kepala prajurit muslim…sedangkan pedang prajurit muslim turun mengenai pelipis prajurit Turki sehingga membelah kepalanya menjadi dua bagian. Terpecahlah kepalanya menjadi dua…

Prajurit yang menang tersebut kembali ke barisan muslimin di bawah tatapan mata yang tidak pernah menyaksikan pemandangan seperti itu.

Pedang di tangannya meneteskan darah…
Dan sebuah pedang menancap di atas ‘helm’-nya berkilat di bawah sinar matahari.

Kaum muslimin menyambutnya dengan tahlil, takbir dan tahmid.

Yazid ibn al-Muhallab memandang kepada kilatan dua pedang itu, ‘helm’ dan senjata orang tersebut. Ia berkata, “Alangkah menakjubkannya prajurit ini!!,” Manusia apakah dia.?”

Maka dikatakan kepadanya bahwa ia adalah orang yang telah mendapatkan berkah dari doanya Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

Neraca kekuatan berbalik setelah tewasnya prajurit Turki…rasa takut dan gentar menjalar di dalam diri kaum musyrikin seperti api yang menyambar daun ilalang yang kering-kerontang.

Api semangat dan izzah kemudian menyala dalam dada kaum Muslimin.

Mereka mendatangi musuhnya laksana datangnya air bah…
Mereka mengepungnya seperti kalung yang melingkar di leher…

Mereka juga memutuskan (pintu-pintu) air dan suplai makanan.

Sehingga raja mereka tidak menemukan jalan selain perdamaian. Ia kemudian mengirim utusan kepada Yazid untuk menawarkan perdamaian kepadanya, dan mengumumkan kesiapannya untuk menyerahkan negara yang ada dalam kekuasaannya dengan segenap apa dan siapa yang ada padanya, dengan jaminan ia (Yazid) memberikan keamanan kepada dirinya, harta dan keluarganya.

Yazid menerima perdamaian darinya dan memberikan syarat agar ia memberikan tujuh ratus ribu dirham kepadanya dengan cara diangsur dan membayar tunai di muka sebesar empat ratus ribu. Dan memberikan empat ratus kendaraan yang dipenuhi dengan Za’faraan** kepadanya. Dan hendaklah ia menggiring empat ratus orang, pada tangan setiap orang terdapat satu gelas yang terbuat dari perak dan di atas kepalanya terdapat Burnus*** dari sutra dan di atas Burnus terdapat Thailasan**** yang terbuat dari beludru sutra dan selendang sutra yang akan di pakai oleh istri-istri para prajurit.

Ketika peperangan telah mereda, Yazid ibn al-Muhallab berkata kepada penjaga gudangnya, “Hitunglah Ghanimah yang kita raih sehingga kita bisa memberi kepada setiap orang haknya.”

Si penjaga gudang dan orang yang bersamanya berusaha untuk menghitungnya namun mereka kewalahan. Akhirnya ghanimah tersebut dibagi di antara prajurit dengan pembagian yang dibangun atas toleransi.

Dalam ghanimah tersebut, kaum muslimin menemukan sebuah mahkota yang di lapisi emas murni, dihias dengan berlian dan mutiara, dan dihias dengan ukiran-ukiran yang indah.

Orang-orang saling mendongakkan leher (untuk melihat) kearahnya…mata-mata tidak berkedip memengkaung kemilaunya.

Yazid memungut dengan tangannya dan mengangkatnya sehingga yang belum melihatnya bisa melihatnya, kemudian ia berkata, “Apakah kalian melihat ada orang yang zuhud terhadap mahkota ini?!”

“Semoga Allah memperbaiki keadaan tuanku…siapakah orangnya yang akan zuhud kepadanya” jawab mereka.

Ia berkata, “Kalian akan melihat, bahwa masih ada pada umat Muhammad SAW orang yang zuhud terhadapnya dan terhadap sepenuh bumi yang sepertinya.”

Ia menoleh kepada pengawalnya dan berkata, “Carilah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy untukku.”

Penjaga tersebut segera bertolak mencarinya di setiap arah…dan ia menemukannya telah menepi di tempat yang jauh dari manusia. Ia berdiri tegak mengerjakan shalat sunnah dan berdoa serta memohon ampun.

Ia lantas menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Amir memanggilmu untuk menemuinya, dan memintamu untuk berangkat ke sana sekarang juga.”

Ia berangkat bersama penjaga, hingga ketika ia telah berada di sisi Amir, ia mengucapkan salam dan duduk di dekatnya. Amir menjawab salamnya dengan yang lebih baik darinya.

Ia kemudian mengangkat mahkota dengan tangannya dan berkata, “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya tentara muslimin telah beruntung dengan (mendapatkan) mahkota yang berharga ini…dan aku berpendapat untuk memuliakanmu dengannya, dan menjadikannya termasuk bagianmu, sehingga jiwa para tentara pun menjadi lega dengannya.”

“Engkau menjadikannya termasuk bagianku, wahai amir?!” katanya.

“Ya, termasuk bagianmu,” kata Amir
Ia berkata, “Aku sama sekali tidak membutuhkannya wahai Amir…semoga engkau dan mereka dibalasi dengan kebaikan atasku.”

“Aku bersumpah dengan nama Allah atasmu agar kamu mengambilnya,” kata Amir.

Ketika Amir bersumpah, Muhammad ibn Waasi’ pun terpaksa mengambil mahkota, kemudian ia memohon pamit kepadanya dan beranjak pergi.

Beberapa orang yang tidak mengenal syaikh berkata, “Inilah orangnya yang telah mengkhususkan dirinya dengan mahkota dan ia pergi membawanya.”

Yazid lantas memerintahkan seorang budaknya untuk menguntitnya dengan sembunyi-sembunyi…dan untuk memperhatikan apa yang akan ia perbuat dengan mahkota tersebut…kemudian datang dengan membawa beritanya.

Budak tersebut menguntitnya sedangkan syaikh tidak mengetahuinya.

Muhammad ibn Waasi’ berjalan di jalannya sedangkan mahkota barada di tangannya…ia lalu dihadang oleh seseorang yang berambut acak-acakan, berdebu dan berpenampilan dekil, ia memintanya dengan berkata, “Dari harta Allah….”

Syaikh memengkaung ke sebelah kanannya, kirinya dan belakanganya…ketika ia yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia menyerahkan mahkota tersebut kepada orang yang meminta tadi…kemudian ia bertolak dengan perasaan gembira dan senang…seakan-akan ia telah melemparkan beban berat dari pundaknya yang memberatkan punggungnya.

Budak tersebut lantas memegang tangan si peminta tadi, lalu membawanya kepada Amir dan ia menceritakan kisahnya kepadanya…

Amir kemudian mengambil mahkota tesebut dari tangan si peminta, dan menggantinya dengan harta yang cukup sehingga menjadikannya ridla. Kemudian ia menoleh kepada para tentaranya dan berkata, “Bukankah sudah aku katakan kepada kalian, sesungguhnya masih ada di antara umat Muhammad SAW orang-orang yang zuhud terhadap mahkota ini dan yang semisalnya dan yang semisalnya.”

Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terus saja ikut berjihad (memerangi) musyrikin di bawah bendera Yazid ibn al-Muhallab hingga musim haji mendekat.

Ketika tidak tersisa di hadapannya kecuali hanya waktu yang singkat, ia masuk menemui Amir dan meminta ijinnya untuk berangkat mengerjakan nusuk.*****

Yazid berkata kepadanya, “Ijinmu berada di tanganmu sendiri wahai Abu Abdillah, berangkatlah kapan saja kamu mau…dan kami telah memerintahkan untuk memberikan harta kepadamu agar bisa membantu hajimu.”

Ia menjawab, “Apakah kamu juga memerintahkan (untuk memberikan) seperti harta ini kepada setiap tentara-tentaramu wahai Amir?!”

“Tidak…” jawab Amir
Ia berkata, “Aku tidak punya hajat dengan sesuatu yang aku dikhususkan dengannya tanpa tentara muslimin yang lain.”

Ia kemudian mengucapkan selamat berpisah dan segera berangkat.

Kepergian Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy terasa begitu memberatkan Yazid ibn al-Muhallab sebagaimana juga terasa berat atas tentara muslimin yang telah berjalan di temani olehnya.

Mereka merasa bersedih atas terhalangnya pasukan yang menang dari berkah-berkahnya, mereka berharap agar ia kembali lagi setelah selesai menunaikan nusuk-nya.

Tidaklah mengherankan, sungguh para panglima muslimin yang tersebar di seluruh penjuru negeri telah berlomba-lomba agar ‘Abidul Bashrah (yaitu) Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy berada dalam kelompok pasukannya. Mereka bergembira dengan keberadaannya bersama mereka dengan kebaikan yang banyak…mereka mengharap kepada Allah AWJ agar menganugerahkan kemenangan gemilang dengan kebaikan doanya dan berkahnya yang banyak.

Selanjutnya, alangkah mulia jiwa-jiwa ini yang terasa begitu kecil di matanya…(namun) begitu besar di sisi Allah dan para manusia.

Alangkah mulia sejarah ini yang telah beruntung dengan orang-orang langka dari manusia-manusia yang menakjubkan.

Sampai berjumpa lagi bersama ‘Abidul Bashrah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

CATATAN:

* Jurjaan dan Thabaristan telah ditaklukkan oleh Yazid ibn Al-Muhallab, keduanya termasuk daerah Persia
** Za’faran adalah tumbuhan yang dipergunakan untuk mengharumkan dan mewarnai makanan
*** Burnus adalah pakaian yang penutup kepalanya merupakan bagian darinya
**** Thailasan adalah jubah yang berwarna hijau yang dipakai oleh orang-orang tertentu
***** Nusuk adalah mengerjakan haji yang sunnah dan itu dikerjakan setelah menunaikan haji yang wajib

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 67

MUHAMMAD IBN WAASI’ AL-AZDIY-[2-2] (

Bersama Qutaibah bin Muslim: Kemesraan Ulama Dan Penguasa)

“Sesungguhnya jemari-jemari Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy lebih aku cintai daripada seribu pedang yang terhunus yang dibawa oleh seribu pemuda yang gagah” (Qutaibah ibn Muslim)
Kita sekarang berada pada tahun 87 H…
Inilah kebanggaan kaum muslimin seorang panglima al-Faatih (yang telah menaklukkan banyak kota) yaitu Qutaibah ibn Muslim al-Bahili, ia berangkat bersama pasukannya yang banyak dari kota Marwa* mengarah ke daerah Bukhara.**

Ia bertekad untuk menaklukkan apa yang tersisa dari negeri-negeri Maa Waraa’ an-Nahri***…dan memerangi ujung Cina dan mewajibkan jizyah (upeti) kepada para penduduknya.

Akan tetapi belum sampai Qutaibah ibn Muslim menyeberangi sungai “Sihuun “**** penduduk Bukhara sudah mengetahui dan bersiap-siap (menghadapinya). Berhamburlah mereka memukul genderang pertempuran di setiap tempat.

Mereka mulai memanggil kaum-kaum yang berada di sekitar mereka dari ash-Shughd,***** Turki, Cina dan yang lainnya.

Maka, terhimpunlah pasukan besar dari berbagai kulit dan asal, juga bahasa dan agama…hingga jumlah mereka sampai berlipat-lipat melebihi kaum muslimin baik dari segi perbekalan maupun jumlahnya.

Mereka segera menutup mulut-mulut jalan di hadapan kaum muslimin…mereka juga menutup perbatasan dan jalan-jalan.

Sampai-sampai Qutaibah ibn Muslim tidak mampu menyusupkan detasemen kecil dari detasemen-detasemennya kepada mereka untuk mencuri berita tentang keadaan mereka dan datang dengan membawa beritanya…Sebagaimana tidak seorangpun dari mata-matanya yang disebar di antara mereka mampu untuk menembusnya.

Qutaibah ibn Muslim membangun perkemahan bersama pasukannya dekat dengan kota “Bailand”, ia menetap di sana tidak maju dan tidak pula mundur.

Bersama terbitnya pagi, mulailah musuh muncul (menyerangnya) dengan front terdepannya, dan mencoba kekuatan pasukannya sepanjang siang. Apabila malam telah gelap mereka kembali ke benteng-benteng mereka yang kokoh lagi aman.

Keadaan seperti ini terus berlanjut selama dua bulan berturut-turut. Dan Qutaibah bingung dibuatnya. Ia tidak tahu apakah akan mundur atau maju?.

Tidak berselang lama, hingga berita tentang Qutaibah dan tentaranya sampai ke telinga kaum muslimin di setiap tempat.

Orang-orang pun bersedih terhadap pasukan besar yang belum pernah terkalahkan…dan panglima agung yang belum terkalahkan.

Pengarahan-pengarahan berdatangan kepada para wali di seluruh kota untuk mendoakan pasukan muslimin yang sedang berjuang keras di negeri Maa Waraa’ an-Nahri setiap selesai shalat.

Masjid-masjid mulai bergema dengan doa untuk mereka…
Menara-menara adzan terus bergaung dengan doa dan permohonan.

Para imam bersungguh-sungguh melakukan qunut nazilah pada setiap shalat.

Berhamburanlah jumlah yang banyak untuk menolong pasukan yang kuat itu. Dan adalah yang memimpin mereka seorang tabi’in mulia Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.

Adalah Qutaibah ibn Muslim al-Bahili memiliki seorang mata-mata keturunan ‘ajam (non Arab), ia orang yang diakui pengalamannya, hikmahnya dan kecerdikannya. Ia biasa dipanggil “Taidzar.”

Para musuh kemudian merayu dan memikatnya agar mau bergabung dengan mereka. Mereka memberikan kepadanya harta secara royal.

Mereka meminta kepadanya untuk mempergunakan muslihat dan kecerdikannya guna melemahkan kekuatan muslimin, dan membawa mereka untuk meninggalkan negeri tersebut tanpa peperangan.

“Taidzar” masuk menemui Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy, majlisnya pada saat itu penuh dengan para pembesar panglimanya dan para tentaranya. Ia lalu mengambil tempat di dekatnya, kemudian memiringkan badannya dan membisikkan ke telinganya, “Wahai amir, kosongkanlah majlismu bila engkau kehendaki.”

Qutaibah memberikan isyarat kepada orang yang berada di majlisnya agar beranjak, semuanya beranjak pergi kecuali Dlirar ibn al-Hushain yang diminta Qutaibah untuk tetap tinggal.

Di saat itulah “Taidzar” menoleh kepada Qutaibah dan berkata, “Aku memiliki berita untukmu wahai amir…”

“Sampaikanlah,” Qutaibah berkata dengan penasaran.
Taidzar berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin di Damaskus telah memecat al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofi…dan memecat para panglima yang dipimpinnya…engkau termasuk salah satunya. Ia telah mengangkat para panglima baru untuk pasukannya dan mengerahkan mereka ke tempat-tempat kerja mereka. Dan sesungguhnya orang yang akan menggantikanmu akan datang dalam waktu yang tidak lama lagi. Dan aku mengusulkan agar engkau segera meninggalkan negeri ini bersama pasukanmu. Dan hendaklah engkau kembali ke Marwa untuk memikirkan urusanmu jauh dari medan pertempuran.

Belum selesai “Taidzar” menyempurnakan perkataannya hingga Qutaibah ibn Muslim memanggil budaknya “Siyaah”, ketika ia telah berada di depannya, Qutaibah berkata kepadanya, “Penggallah leher pengkhianat ini wahai Siyaah!.”

Siyaah kemudian memenggal lehernya dan kembali ke tempatnya semula.

Lalu Qutaibah menoleh kepada Dlirar ibn al-Hushain dan berkata, “Tidak ada seorangpun di bumi ini yang mendengar berita tersebut selain aku dan kamu, sungguh aku bersumpah demi Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, apabila perkara ini diketahui oleh seseorang sebelum berakhirnya perang kita ini, sungguh-sungguh aku akan menyusulkanmu dengan pengkhianat ini (memenggalmu). Apabila kamu memiliki hajat dalam dirimu, maka sembunyikanlah perkara ini dan jangan engkau ceritakan kepada siapapun. Ketahuilah bahwa tersebarnya pembicaraan ini akan melemahkan kekuatan pasukan…dan akan menimpakan kekalahan yang menyakitkan kepada kita.”

Qutaibah kemudian mengijinkan orang-orangnya masuk menemuinya.

Tatkala mereka melihat “Taidzar” terkapar di tanah, tenggelam dalam darahnya…mereka berdiri kaget, diam dan ketakutan.

Maka, Qutaibah berkata kepada mereka, “Apa yang menjadikan kalian takut dengan kematian seorang pengkhianat?”

Mereka menjawab, “Kami (dahulu) menganggapnya seorang pemberi nasihat bagi kaum muslimin.”

“Bahkan ia adalah seorang penipu bagi mereka (muslimin), sehingga Allah mengadzabnya dengan sebab dosanya,” kata Qutaibah

Ia kemudian mengangkat suaranya seraya berkata, “Sekarang berangkatlah untuk memerangi musuh kalian…dan hadapilah dengan hati yang berbeda dengan hati yang kalian gunakan untuk menghadapi mereka sebelumnya.”

Para pasukan melaksanakan perintah panglima mereka Qutaibah ibn Muslim. Mereka menyeberangi perbatasan untuk menghadapi musuh.
Ketika kedua pasukan saling berhadapan, kaum muslimin melihat jumlah musuh yang banyak dan perlengkapan serta persiapan mereka yang cukup, hal ini menjadian hati mereka dipenuhi rasa takut dan gentar.

Qutaibah merasakan apa yang berputar dalam pikiran pasukannya, ia pun berkeliling di antara pleton-pleton dan meneguhkan niat serta menguatkan tekad mereka.

Ia menoleh kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata, “Dimana Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy.”

“Ia berada di sayap kanan, wahai amir,” jawab mereka
“Apa yang ia lakukan,” katanya

Mereka menjawab, “Ia sedang bersandar pada tombaknya, matanya terbuka dan ia menggerakkan jemarinya ke arah langit…apakah kami memanggilnya untukmu wahai amir?”

“Biarkan ia,” katanya, kemudian ia menyambung perkataannya, “Demi Allah, sesungguhnya jari-jari itu lebih aku cintai dari pada seribu pedang yang terhunus dibawa oleh seribu pemuda yang gagah…biarkan ia berdoa…kami tidak mengenalnya kecuali orang yang terkabulkan doanya.”

Pasukan muslimin dan pasukan musuh saling bergerak menerjang seperti singa-singa yang akan menyergap buruannya.

Bertemulah dua pasukan laksana bertemunya gelombang samudera yang berkejaran sambung-menyambung di waktu badai.

Allah menurunkan ketenangan di hati kaum muslimin…dan Allah membantu mereka dengan pertolongan dari sisi-Nya. Mereka terus membabatkan pedang ke arah musuh sepanjang siang, hingga ketika malam telah datang, Allah menggetarkan kaki-kaki kaum musyrikin dan melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga mereka lari tunggang langgang meninggalkan kaum muslimin. Para mujahidin mengungguli mereka dengan membunuh, menawan dan mengusir.

Di saat itulah mereka meminta perdamaian dan fidyah (tebusan) kepada Qutaibah…ia pun menerima perdamaian dari mereka.

Di antara tawanan musuh ada seorang yang buruk jiwanya, sangat jahat perangainya dan memiliki pengaruh yang kuat untuk menggerakkan kaumnya melawan kaum muslimin…ia berkata kepada Qutaibah ibn Muslim, “Aku akan menebus diriku wahai amir.”

Maka dikatakan kepadanya “Berapa yang akan kamu berikan (sebagai tebusan).”

Ia menjawab, “Lima ribu (kain) sutra Cina yang berharga satu juta.”
Qutaibah menoleh ke arah pasukannya dan berkata, “Apa pendapat kalian?”

Mereka menjawab “Kami melihat bahwa harta ini akan menambah ghanimah kaum muslimin…kemudian setelah menjaga kemenangan ini, kita tidak merasa takut terhadap kejahatan orang ini dan yang semisalnya…”

Qutaibah lalu menoleh kepada Muhammad ibn Waasi’ dan berkata, “Apa pendapatmu wahai Abu Abdillah?”

Ia menjawab, “Wahai amir, sesungguhnya kaum muslimin tidak keluar dari rumah-rumah mereka untuk mengumpulkan ghanimah dan memperbanyak harta, akan tetapi mereka keluar mengharap ridla Allah…dan menyebarkan agama-Nya di muka bumi…serta (untuk) menghajar musuhnya.”

“Jazakallah khairan…demi Allah, aku tidak akan membiarkannya menakut-nakuti seorang muslimah setelah ini, walaupun ia memberikan harta dunia sebagai tebusan untuk dirinya…” kata Qutaibah.

Kemudian ia memerintahkan untuk membunuhnya.
Hubungan antara Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy dengan para penguasa Bani Umayyah tidak terbatas dengan Yazid ibn al-Muhallab dan Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy…akan tetapi berlanjut kepada selain mereka berdua dari para wali dan umara. Adalah di antara yang paling menonjol yang memiliki hubungan dengannya adalah wali Bashrah yaitu Bilal ibn Abi Burdah.

Ada kisah-kisah yang (diceritakan) turun temurun dan masyhur antara dirinya dengan guberner tersebut, juga cerita-cerita yang diriwayatkan dan terjaga…di antaranya adalah, bahwa ia suatu hari masuk menemuinya dengan mengenakan midra’ah****** kasar yang terbuat dari wool. Maka Bilal berkata kepadanya, “Apa yang mendorongmu untuk mengenakan pakaian kasar ini wahai Abu Abdillah?”

Syaikh pun (Muhammad bin Waasi’) menyibukkan dirinya dan tidak menjawabnya.
Bilal memegangnya dan berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak menjawabku wahai Abu Abdillah?!”

Ia menjawab, “Aku benci untuk mengatakan (bahwa aku) zuhud sehingga aku mensucikan diriku…dan aku benci untuk mengatakan bahwa aku fakir sehingga aku mengeluh kepada Tuhanku…dan aku tidak menginginkan (jawaban) yang ini tidak juga yang itu.”

“Lalu apakah kamu punya hajat sehingga kami akan menunaikannya wahai Abu Abdillah” tanya Bilal.

Ia menjawab, “Adapun aku, maka aku tidak punya hajat yang aku memintanya kepada seorang pun dari manusia…hanyalah aku mendatangimu pada suatu hajat untuk saudara muslim…apabila Allah mengijinkan untuk menunaikannya maka engkau menunaikannya, dan engkau terpuji…namun bila Allah tidak mengijinkannya maka engkau tidak menunaikannya dan engkau termaafkan.”

“Bahkan aku akan menunaikannya dengan ijin Allah” katanya. Kemudian ia menoleh kepadanya dan berkata, “Apa yang kamu katakan tentang qadla dan qadar wahai Abu Abdillah?”

Ia menjawab, “Wahai amir…sesungguhnya Allah AWJ tidak akan menanyai hamba-Nya tentang qadla dan qadar pada hari kiamat…Dia hanyalah menanyai tentang amalan mereka.”

Sang gubernur pun malu terhadapnya dan memilih diam.
Dan di saat syaikh sedang duduk di sisinya, tibalah waktu makan siang, maka wali mengundangnya untuk makan tetapi ia menolaknya…wali memaksanya, sehingga ia mulai beralasan dengan bermacam-macam alasan…

Gubernur sedikit marah kepadanya, dan berkata, “Aku melihatmu tidak suka menyantap makanan kami wahai Abu Abdillah!!!”

Ia berkata kepadanya “Engkau jangan berkata begitu wahai amir…demi Allah, sungguh orang terbaik di antara kalian -wahai sekalian para penguasa- benar-benar lebih aku cintai daripada anak-anak kami dan keluaga kami yang terdekat.”

Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy telah diminta untuk menduduki jabatan Qadla (pengadilan) lebih dari sekali namun ia menolaknya dengan keras…dan disebabkan karena penolakannya ia telah menyebabkan siksa untuk dirinya…

Di antarnya, bahwa Muhammad ibn al-Mundzir pejabat keamanan Bashroh telah mengundangnya, dan ia berkata, “Sesungguhnya penguasa Irak meminta dariku untuk memanggilmu agar menduduki jabatan Qadla.”

Ia menjawab, “Maafkan aku dari hal tersebut, semoga Allah memaafkanmu.”

Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) memintanya kembali untuk yang kedua dan ketiga kalinya, namun ia terus menolaknya.

Ia berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh-sungguh kamu harus menduduki jabatan Qadla, atau aku akan mencambukmu sebanyak tiga ratus cambukan, dan sungguh-sungguh aku akan mempermalukanmu.”

“Kalau engkau mau melakukannya, sesungguhnya engkau adalah orang yang bebas…dan sesungguhnya diadzab di dunia lebih baik daripada diadzab di akhirat” jawabnya.

Ia (Muhammad ibn al-Mundzir) merasa malu (mendengar jawaban) darinya dan ia pun melepaskannya dan memperlakukannya dengan baik.

Majlis Muhammad ibn Waasi’ di masjid Bashrah merupakan tempat bernaungnya para penuntut ilmu dan tempat berkumpulnya para pencari hikmah dan mau’idzah.

Kitab-kitab tarikh dan sirah penuh dengan cerita-cerita tentang majlisnya ini.

Di antaranya, bahwa salah seorang dari mereka berkata kepadanya, “Berilah wasiat kepadaku wahai Abu Abdillah.”

“Aku wasiatkan kepadamu agar menjadi raja di dunia dan di akhirat” jawabnya.

Si penanya terheran, dan berkata, “Bagaimana aku mendapatkan itu wahai Abu Abdillah?!”

“Zuhudlah terhadap dunia yang fana ini, niscaya kamu akan menjadi raja di sini dengan kamu merasa cukup (tidak membutuhkan) terhadap apa yang ada di tangan manusia…dan kamu akan menjadi raja di sana dengan mendapatkan kemenangan memperoleh pahala yang baik di sisi Allah” jawab syaikh.

Orang lain lagi berkata kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu karena Allah wahai Abu Abdillah.”

“Semoga Allah mencintaimu yang telah mencintaiku karena-Nya” jawab syaikh.

Kemudian ia (syaikh) pergi seraya berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari aku dicintai karena-Mu sedangkan Engkau membenciku.”

Dan setiap kali ia mendengar pujian manusia kepadanya dan sanjungan mereka terhadap ketakwaan dan ibadahnya, ia berkata kepada mereka, “Seandainya dosa-dosa mempunyai bau busuk yang menyengat, maka tidak ada seorang pun dari kalian yang mampu mendekat kepadaku karena ia akan merasa terganggu dengan bauku.”

Muhammad ibn Waasi’ senantiasa mendorong murid-muridnya untuk selalu berpegang teguh dengan kitab Allah AWJ dan hidup di bawah petunjuknya. Ia berkata, “Al-Qur’an adalah kebunnya orang muslim…di manapun ia menempatinya, maka ia singgah di taman…”

Sebagaimana ia juga mewasiati mereka untuk sedikit makan, ia berkata, “Barangsiapa yang sedikit makannya akan faham dan bisa memahamkan (orang lain)…ia akan suci dan menjadi lembut (hatinya)…karena sesungguhnya banyak makan akan membikin orang berat untuk melakukan banyak hal yang ia inginkan.”

Muhammad ibn Waasi’ telah sampai kepada tingkat ketakwaan dan wara’ yang begitu agung. Banyak sekali cerita yang telah diriwayatkan baginya akan hal tersebut…

Di antaranya, ia pernah terlihat berada di pasar, ia menawarkan himarnya (keledainya) untuk dijual, maka ada seseorang yang memintanya, “Apakah engkau ridla ia untukku wahai syaikh?”

“Apabila aku meridlainya untuk diriku maka aku tidak akan menjualnya,” jawabnya.

Muhammad ibn Waasi’ telah menjalani seluruh hidupnya dengan perasaan takut terhadap dosa-dosanya dan takut terhadap dipaparkannya amalan di hadapan Tuhannya.

Apabila ditanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Abu Abdillah?
Ia menjawab, “Aku bangun dalam keadaan telah dekat ajalku…jauh angan-anganku…dan buruk amalanku.”

Apabila ia melihat suatu keheranan yang nampak dari pancaran wajah orang-orang yang menanyainya, ia berkata, “Apa prasangka kalian terhadap orang yang setiap hari memutus satu tingkatan ke akhirat?!”

Ketika Muhammad ibn Waasi’ jatuh sakit yang menjadi sebab akhir hayatnya, orang-orang berdatangan membesuknya hingga rumahnya tenggelam oleh banyaknya orang yang keluar masuk…yang berdiri dan duduk di rumahnya…

Ia kemudian memiringkan badannya kepada salah seorang kerabatnya dan berkata, “Kabarkan kepadaku, bahwa mereka tidak akan mampu menolongku apabila esok (di hari kiamat) telah di pegang ubun-ubun dan kaki kita?! Dan mereka tidak akan bermanfaat untukku bila aku dilemparkan ke neraka?!

Kemudian ia menghadap kepada Tuhannya dan mulai berkata, “Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu dari setiap tempat buruk yang aku berdiri padanya…dari setiap tempat duduk yang buruk yang aku duduki…dari setiap tempat masuk yang buruk yang aku masuki…dari setiap tempat keluar yang buruk yang aku keluar darinya…dari setiap amalan buruk yang aku kerjakan…dari setiap perkataan buruk yang aku ucapkan. Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu dari itu semua, maka ampunilah aku. Aku bertaubat kepada-Mu, maka terimalah taubatku…dan aku sampaikan salam kepada-Mu sebelum aku dihisab.”
Kemudian lepaslah ruhnya.

REFERENSI

Sebagai tambahan tentang kisah Muhammad ibn Waasi’ al-Azdiy, lihat:
· Tarikh al-Bukhari: 1/255
· At-Tarikh ash-Shaghir: 1/318-319
· Al-Jarh wat Ta’dil: 8/113
· Hilyatul Auliyaa: 2/345-357
· Al-Waafi bil Wifyaat: 5/272
· Tahdzibut Tahdziib: 9/499-500

CATATAN:

* “Marwa ar-Ruudz” salah satu ibukota Persia dimana al-Muhallab ibn Abi Shufrah mati di sana.
** kota di Uzbekistan terletak di persimpangan jalan antara Persia dan Rusia serta India dan Cina
*** negeri yang terletak di seberang sungai “Jiihuun” di Khurasan
**** sungai besar dan terkenal terletak setelah Samarqondi
***** umat yang masuk dalam ketaatan Persia
****** jubah yang sobek bagian depannya, jamaknya Madaari’

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 16 ] – Tokoh-tokoh Islam 66

UMAR IBN ABDUL AZIZ

(Kisah Kezuhudan Dan Kesahajaan Seorang Pemimipin Negara Yang Taqwa)

“Umar ibn Abdul Aziz oleh para ahlul ilmi terhitung dalam jajaran ulama ‘amilin (yang beramal) dan khulafaur rasyidin” (adz-Dzahabi).

Bercerita tentang seorang khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khulafaur rasyidin yang kelima ini adalah sebuah cerita yang lebih harum daripada bau misk (kasturi), lebih indah dari sepetak taman…

Sirah (perjalanan hidup)-nya yang indah dan mulia adalah kebun yang subur, dimanapun anda menempatinya, pasti akan menemukan sebuah tanaman yang segar…bunga yang indah…dan buah yang ranum.

Apabila tidak ada waktu yang lapang bagi kita sekarang untuk memahami sirahnya yang menghiasi puncak sejarah, maka hal tersebut tidak menghalangi kita untuk memetik setangkai bunga dari tamannya…dan kita mengambil secercah cahayanya. Yang demikian itu karena apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya maka tidak ditinggalkan sebagiannya (jika tidak bisa semuanya sedikitpun tak apa).

(Sekarang) ambillah tiga potret kehidupan Umar ibn Abdul Aziz, kemudian akan diikuti dengan potret yang lain dalam kitab berikut bila Allah mengijinkan dan memudahkannya.

Adapun potret yang pertama, maka yang telah meriwayatkan kepada kita adalah Salamah ibn Dinar, seorang ‘alim Madinah, qadli dan syaikhnya. Ia menuturkan, “Aku mendatangi khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz, ia berada di “Khunashirah” daerah bagian “Halab.” Umurku telah lanjut dan sudah lama aku tidak menemuinya. Aku mendapatkannya berada di depan rumah, hanya saja aku tidak mengenalinya karena keadaannya telah berubah tidak seperti yang pernah aku kenal ketika ia menjabat sebagai gubernur Madinah. Ia kemudian mengucapkan selamat datang kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim.”

Tatkala aku mendekat kepadanya, aku berkata, “Bukankah engkau amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz?”

“Ya…” jawabnya.
Aku berkata, “Apa yang telah terjadi denganmu?!! Bukankah wajahmu (dahulu) berseri, kulitmu segar dan kehidupanmu penuh kenikmatan.”
“Ya…” jawabnya.

Aku berkata, “Lalu apakah yang telah merubah penampilanmu setelah engkau memiliki emas dan perak, dan engkau menjadi seorang amir bagi kaum muslimin?”

“Apa yang telah berubah pada diriku wahai Abu Hazim?!” tanyanya.
Aku menjawab, “Badanmu (menjadi) kurus…kulitmu kasar…wajahmu menguning…dan pancaran kedua matamu sayu.”

Ia lantas menangis dan berkata, “Maka bagaimana bila kamu melihatku di dalam kubur setelah tiga hari?!…Kedua mataku meleleh di atas pipi…perutku terputus-putus dan robek-robek…dan ulat (belatung) bergerak menyantap badanku. Sesungguhnya apabila kamu melihatku pada saat itu –wahai Abu Hazim- niscaya kamu akan lebih terheran lagi dengan keadaanku daripada harimu ini.”

Ia kemudian mengangkat pandangannya kepadaku dan berkata, “Tidakkah kamu ingat sebuah hadits yang pernah kamu katakan kepadaku di Madinah wahai Abu Hazim?”

Aku menjawab, “Aku telah menyampaikan kepadamu banyak hadits wahai amirul mukminin…(hadits) manakah yang engkau maksudkan?.”

“Ia adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah” jawabnya.
“Ya…aku mengingatnya wahai amirul mukminin” kataku.

Ia berkata, “Ulangilah untukku, sesungguhnya aku ingin mendengarnya darimu.”
Aku berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di depan kalian ada jalan mendaki yang sulit dilalui, penuh dengan bahaya, tidak ada yang mampu melewatinya kecuali setiap orang yang berbadan kurus (karena banyak beribadah dan berjihad).”

Umar kemudian menangis dengan begitu kerasnya hingga aku merasa takut kalau ulu hatinya menjadi pecah.

Ia lalu mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata, “Apakah kamu akan mencelaku wahai Abu Hazim apabila aku menguruskan badanku untuk jalan mendaki lagi sukar tersebut, dengan harapan aku bisa selamat darinya…sedangkan aku tidak menganggap diriku bisa selamat.”

Adapun potret kedua dari potret kehidupan Umar, maka ath-Thabari telah meriwayatkannya kepada kita dari ath-Thufail ibn Mirdaas, ia menuturkan, “Sesungguhnya amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz ketika menjabat sebagai khalifah, ia menulis surat kepada Sulaiman ibn Abi as-Sariy wakilnya di “ash-Shughd”, ia berkata padanya, “Dirikanlah penginapan-penginapan di negerimu untuk menerima tamu-tamu muslimin, apabila ada salah seorang dari mereka yang melewatinya maka jamulah ia sehari semalam dan layanilah dengan baik serta jagalah kendaraannya. Apabila ia mengeluh kelelahan maka jamulah selama dua hari dua malam dan bantulah ia. Apabila ia adalah orang yang terputus perjalanannya, tidak memiliki bekal serta kendaraan yang bisa mengangkutnya, maka berilah kepadanya apa yang bisa menutupi hajatnya dan sampaikanlah ia ke negerinya.”

Wali tersebut melaksanakan perintah amirul mukminin, ia mendirikan losmen-losmen yang diperintahkan untuk menyiapkannya. Berita tersebut tersebar di setiap tempat. Mulailah orang-orang di belahan timur dan barat negeri Islam menceritakan tentangnya dan memuji-muji keadilan khalifah dan ketakwaannya.

Tidaklah orang-orang penduduk “Samarkand” (mendengarnya) kecuali mereka segera mengutus delegasi kepada gubernur Samarkand yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya pendahulumu “Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy” telah menjajah negeri kami tanpa ada peringatan terlebih dahulu, dan di dalam memerangi kami ia tidak menempuh jalan seperti apa yang kalian tempuh wahai sekalian kaum muslimin…sungguh kami telah mengetahui bahwa kalian menyeru musuh kalian untuk masuk Islam…bila mereka menolak, kalian menyeru mereka untuk membayar jizyah…dan bila mereka menolak, kalian mengumumkan perang kepada mereka. Sungguh kami telah melihat keadilah khalifah kalian dan ketakwaannya hal mana ini membuat kami bersemangat untuk mengadukan pasukan kalian kepadamu…dan meminta pertolongan denganmu atas apa yang ditimpakan kepada kami oleh salah seorang panglima dari panglima-panglimamu. Maka, ijinkah kami –wahai amir- untuk mengutus delegasi kepada khalifahmu, dan agar kami bisa mengangkat kedzaliman-kedzaliman yang menimpa kami. Bila kami memiliki hak, maka kami akan diberinya…dan bila tidak, maka kami akan kembali ke tempat semula.”

Sulaiman mengijinkan delegasi mereka untuk mendatangi khalifah di Damaskus, sesampainya di rumah khalifah, mereka mengangkat (mengadukan) perkara mereka kepada khalifah muslimin Umar ibn Abdul Aziz.

Khalifah kemudian menulis surat kepada walinya yaitu Sulaiman ibn Abi as-Sariy yang berisi, “Amma ba’du…apabila suratku telah sampai kepadamu, maka tempatkanlah seorang qadli ke penduduk “Samarkand” untuk menangani pengaduan mereka…Apabila ia memutuskan kemenangan untuk mereka, maka perintahkan pasukanmu untuk meninggalkan kota mereka…serulah kaum muslimin yang tinggal di antara mereka untuk meninggalkan negeri mereka…dan kembalilah kalian sebagaimana semula dan (sebagaimana) mereka dahulu sebelum Qutaibah ibn Muslim al-Bahiliy masuk ke negeri mereka.”

Tatkala delegasi tersebut datang kepada Sulaiman ibn Abi as-Sariy dan menyerahkan surat amirul mukminin kepadanya…ia segera menempatkan seorang qadli qudlat (hakim agung) untuk mereka yaitu Jumai’ ibn Haadlir an-Naaji.

Ia (Jumai’) melihat kepada keluhan mereka dan meneliti berita mereka…ia mendengarkan persaksian sekelompok tentara muslimin dan panglima mereka. Sehingga teranglah baginya kebenaran klaim (dakwaan) penduduk Samarkand. Ia pun memutuskan kemenangan mereka.

Di saat itulah, sang wali memerintahkan pasukan muslimin untuk mengosongkan rumah-rumahnya untuk mereka, dan agar kembali ke perkemahan, dan memerangi mereka kali yang lain. Entah mereka (muslimin) memasuki negeri mereka dengan perdamaian…entah mereka memenangkannya dengan peperangan dan entah kemenangan tidak mereka dapatkan.

Ketika para pembesar kaum mendengar keputusan qadli qudlat muslimin untuk mereka. Mereka berkata satu sama lainnya, “Celaka kalian…sungguh kalian telah berbaur (berinteraksi) dengan mereka, kalian telah tinggal bersama mereka. Kalian telah melihat budi pekerti mereka, keadilan dan kebenaran mereka apa-apa yang kalian telah lihat…Maka, biarkan mereka (muslimin) tetap tinggal di sisi kalian…dan tenanglah dengan bergaul dengan mereka…dan berbahagialah dengan berteman dengan mereka.”

Adapun potret ketiga dari potret kehidupan Umar ibn Abdul Aziz adalah seperti yang diriwayatkan kepada kami oleh Ibn Abdil Hakam dalam kitabnya yang berharga, yang berjudul “Sirah Umar ibn Abdul Aziz.” Ia menuturkan, “Ketika kematian mendatangi Umar, Maslamah ibn Abdul Malik masuk menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya engkau –wahai Amirul Mukminin- telah melarang mulut anak-anakmu dari harta ini. Alangkah baiknya bila kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu.”

Setelah Maslamah selesai dari perkataannya, Umar berkata, “Dudukkan aku.” Mereka kemudian mendudukkannya, dan ia berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar apa yang kamu katakan, adapun perkataanmu “Sesungguhnya aku telah melarang mulut anak-anakku dari harta ini…Demi Allah sesungguhnya aku tidak melarang mereka dari apa yang menjadi hak mereka, dan aku tidak pernah memberikan kepada mereka sesuatu yang bukan menjadi haknya. Adapun perkataanmu “seandainya kamu berwasiat kepadaku untuk mereka atau kepada orang yang engkau kehendaki dari keluargamu”, maka hanyalah yang menjadi penerima wasiatku dan waliku pada mereka adalah Allah yang telah menurunkan al-Kitab dengan haq, dan Dia-lah yang menjaga orang-orang shalih. Ketahuilah wahai Maslamah, bahwa anak-anakku adalah salah satu dari dua orang; entah orang yang shalih dan bertakwa, maka Allah akan mencukupkannya dengan karunia-Nya dan menjadikan jalan keluar bagi urusannya…dan entah orang yang thalih (jahat dan durhaka) dan gemar melakukan maksiat, maka aku tidak akan menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta atas maksiat kepada Allah ta’ala.”

Ia kemudian berkata, “Panggilkan anak-anakku.”
Ia (Maslamah) memanggil mereka yang berjumlah sekitar sembilan belas orang.

Ketika (Umar) melihat mereka berlinanglah air matanya dan ia berkata, “Sungguh…aku akan meninggalkan mereka sebagai pemuda yang fakir tidak memiliki sesuatupun.” Ia menangis hingga tidak terdengar suaranya…kemudian menoleh kepada mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku…sesungguhnya aku telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kalian…sesungguhnya tidaklah kalian melewati seorang pun dari kaum muslimin atau ahli dzimmah kecuali mereka melihat kalian memiliki hak atas mereka. Wahai anak-anakku, sesungguhnya di depan kalian ada dua pilihan, entah kalian menjadi kaya dan ayah kalian masuk neraka…atau kalian menjadi fakir dan ayah kalian masuk surga. Aku tidak menyangka kecuali kalian akan mendahulukan untuk menyelamatkan ayah kalian dari neraka daripada kekayaan.”

Kemudian ia memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang dan berkata, “Bangkitlah, semoga Allah menjaga kalian…bangkitlah semoga Allah memberikan rizki kepada kalian….”

Maslamah menoleh kepadanya dan berkata, “Aku mempunyai yang lebih baik dari itu wahai amirul mukminin.”

“Apa itu?!” katanya.
Ia menjawab, “Aku mempunyai tiga ratus ribu dinar…dan sesungguhnya aku menghibahkannya kepadamu, maka bagilah untuk mereka…atau engkau bersedekah dengannya bila engkau kehendaki.”

Umar berkata kepadanya, “Bukankah ada yang lebih baik dari itu wahai Maslamah?”
“Apa itu wahai Amirul Mukminin?” tanya Maslamah.

Ia menjawab, “Engkau mengembalikannya kepada orang yang telah kamu ambil darinya, karena sesungguhnya kamu tidak punya hak.”

Kedua mata Maslamah berkaca-kaca, ia berkata, “Semoga Allah merahmatimu –wahai amirul mukminin- dalam keadaan hidup dan mati…engkau telah melembutkan hati kami yang keras…engkau telah mengingatkannya di saat ia lupa…dan engkau telah meninggalkan kenangan untuk kami dalam kumpulan orang-orang shalih.”

Orang-orang kemudian mengikuti berita tentang anak-anak Umar sepeninggalnya. Mereka melihat bahwa tidak ada seorangpun dari mereka yang merasa butuh dan fakir…

Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Surat an-Nisaa: 9).

CATATAN:

Sebagai tambahan tentang kisah Umar bin Abdul Aziz, lihatlah:

1. Sirah Umar ibn Abdul Aziz oleh Ibn Abdil Hakam
2. Sirah Umar ibn Abdul Aziz oleh Ibn al-Jauzi
3. Sirah Umar ibn Abdul Aziz oleh al-Aajjurri
4. Ath-Thabaqatul Kubra oleh Ibn as-Sa’d: 5/330
5. Tarikh Khalifah: 321-322
6. At-Tarikh al-Kubra: 6/174
7. Tarikh al-Fasawi: 1/568, 620
8. Ath-Thabari: 6/565-573
9. Al-Jarh wat Ta’dil: 6/122
10. Ath-Thabaqat oleh asy-Syiiraazi: 64

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber