Arsip Kategori: Fatwa – Tanya Jawab

Hukum Rukuk Sebelum Sampai Di Shaf Jamaah

Pertanyaan

Dalam shalat Ashar, saya masuk masjid dan mendapati Imam takbir untuk rukuk, maka saya rukuk sebelum sampai dalam barisan agar mendapatkan rakaat keempat, apakah hal ini dibolehkan?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Kalau (makmum) masbuk melakukan rukuk sebelum masuk shaf (barisan) agar mendapatkan rakaat bersama Imam, maka dia terkena makruh, akan tetapi shalatnya sah insyaallah.

Dalil tentang hal itu adalah hadits Abi Bakrah radhiallahu anhu, “Bahwa beliau mendapati Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan rukuk, maka dia rukuk sebelum masuk barisan, kemudian hal itu disebutkan kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka beliau bersabda,

زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا ، وَلاَ تَعُدْ

(رواه البخاري، رقم 783 وبوّب عليه بقوله : باب إذا ركع دون الصف)

“Semoga Allah tambah menjaga anda, dan jangan diulangi.” (HR. Bukhori, no. 783 dan beliau memasukkannya dalam  bab ‘Apabila rukuk sebelum masuk barisan shalat (shaf)’.

Hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang sahnya shalat orang yang rukuk sebelum masuk barisan (shaf). Meskipun begitu, prilaku ini makruh, berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam, “Jangan diulangi.”

Imam Syafi’I rahimahullah mengatakan, “Sepertinya beliau ingin masuk ke dalam shaf dan beranggapan tidak mengapa tergesa-gesa ruku sebelum masuk ke dalam shaf. Tidak diperintahkan untuk mengulangi. Bahkan di dalamnya ada dalil bahwa beliau berpendapat rukuknya seorang diri itu diterima.” (Al-Umm, 8/636).

Al-Khattabi rahimahullah mengatakan, “Ungkapan ‘Jangan engkau ulangi’ adalah  arahan agar ke depan melakukan yang lebih utama. Jika dianggap tidak sah, pasti diperintahkan untuk mengulanginya.” (Maalim Sunan, 1/186).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ungkapan ‘semoga Allah menambah anda’ maksudnya kebaikan. Ibnu Munayyir mengatatakan, Nabi sallallahu alaihi wa sallam membenarkan prilaku Abu Bakrah dari sisi umum –yaitu berusaha mendapatkan keutamaan berjamaah- namun menyalahkan secara khusus.

Ungkapan ‘Jangan mengulangi’ maksudnya adalah jangan mengulangi yang telah anda lakukan dengan bergerak cepak kemudian rukuk sebelum masuk shaf kemudian berjalan menuju shaf.

Sebagian ulama menyimpulkan hukum dari ungkapan ‘jangan mengulangi’ bahwa prilaku ini dahulu dibolehkan kemudian ada larangan. Berdasarkan ungkapan ‘jangan mengulangi’ tidak dibolehkan mengulangi apa yang dilarang oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam.

Ini metode Bukhari dalam buku ‘Juz’u Qiroah Kholfa Imam (Bagian bacaan di belakang Imam).

At-Thahawi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abu Hurairah marfuan (sampai kepada Nabi),

إذا أتى أحدكم الصلاة فلا يركع دون الصف حتى يأخذ مكانه من الصف

 “Jika salah seorang di antara kalian mendatangi shalat, jangan rukuk sebelum shaf sampai mengambil tempat dalam shaf.” (Diringkas dari Fathul Bari, 2/268-269).

Para Ulama Lajnah Daimah Lil Ifta’ mengatakan, “Bahwa rukuk sebelum shaf kemudian berjalan kepadanya menyalahi sunah dan dilarang. (Ucapan Nabi) ‘Semoga Allah tambah kesungguhanmu dan jangan ulangi’,  menjadi dalil larangan bagi orang yang melakukan seperti itu.”

Abdul Aziz bin Baz, Abdul Aziz Ali Syekh, Abdullah bin Godyan, Sholeh Fauzan, Bakr Abu Zaid. (Fatawa Lajnah Daimah, Vol II, (6/220).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Yang benar adalah jangan rukuk sebelum sampai di shaf. Karena hadits ini bersifat umum “Jangan mengulangi”. (Dari kitab Al-Majmu Syarh Al-Muhazzab Fatawa Wa Rosail Utsaimin, (13/8). Silahkan lihat jawaban soal no. 75156)

Wallahu a’lam

Sumber : https://islamqa. info/id/answers/160720/hukum-rukuk-sebelum-sampai-di-shaf-jamaah

Fatwa 10 – WARISAN BELUM DIBAGIKAN OLEH ORANG TUA, SEMENTARA SAUDARA-SAUDARA PEREMPUANNYA TIDAK MENDAPATKAN (BAGIAN). APAKAH HARUS DIULANGI PEMBAGIANNYA?

Kakekku telah meninggal dunia sejak lama dan meninggalkan beberapa gedung. Ayahku adalah anak laki-laki satu-satunya dan mempunyai empat saudara perempuan, salah satu saja dari mereka yang telah menikah. Setelah kematian kakekku ayahku belum membagi sebagaimana yang diajarkan oleh agama, akan tetapi beliau mengeluarkan harta untuk menikahkan saudari-saudarinya. Ayahku juga telah membangunkan rumah untuknya, dan untuk saudarinya yang belum menikah. Agar ayahku dapat membangun rumah, maka beliu menjual semua gedung yang diwariskan dari kakekku. Setelah itu beliau sakit terbaring hingga meninggal dunia.
Sekarang kami ada empat anak perempuan dari ayahku.

Sementara kami telah menjual rumah dan membeli (rumah) lain di kota lain. Yang menggangguku sekarang adalah kekhawatiran bahwa ayahku akan dibalas terhadap prilaku terhadap harta ayahnya karena beliau tidak membaginya sebagaimana perintah Allah Ta’ala antara beliau dan saudara-saudara perempuannya. Apa yang harus saya lakukan sekarang. Apakah kami jual rumah kami dan kami berikan kepada salah seorang saudara perempuan ayah kami? Perlu anda ketahui bahwa tiga dari kami sekarang telah menikah di rumah ini yang kami belinya. Sementara ibuku hidup bersama saudariku yang belum menikah juga. Saya mohon balasan untuk saya, apa yang selayaknya saya lakukan agar ayahku tidak dihukum terhadap apa yang telah dilakukannya.

Alhamdulillah

Seharusnya warisan kakek anda dibagikan kepada semua ahli waris sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Untuk laki-laki dua bagian dari wanita. Hendaknya dilihat, jika orang tua anda membayar dari hartanya pribadi ketika membangun, maka perlu diperhatikan hal itu ketika dalam pembagian. Begitu juga jika anda membayar sedikit dari harta anda ketika membeli rumah lain. Pembagian ini, bukan sekedar jawaban agar melepaskan tanggungan orang tua anda saja, melainkan untuk melepaskan tanggungan kalian juga. Karena kalian sekarang hidup di sesuatu yang bukan milik kalian. Anda menguasai hak orang lain tanpa dibenarkan.

Kalian tentu tidak mendapatkan rumah kecuali bagian dari orang tua kalian. Masalah ini juga dikatakan terhadap rumah yang ditempati oleh bibi anda. Maka dia tidak mendapatkan kecuali bagian dari warisan ayahnya. Hasilnya adalah harus dihitung semua peninggalan kakek kalian lalu dibagi kepada semua ahli warisnya. Mereka adalah ayah anda dan empat saudara perempuannya. Hati-hati dari kezaliman dan memakan harta haram serta hidup di rumah hasil digasab (dipakai tanpa izin pemiliknya). Karena hal itu berakibat bencana besar dan keburukan.
Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik dan membantu kalian untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya.

https://islamhouse. com/id/fatwa/419431/

Wallahua’lam

 

Fatwa 09 – BAGIAN WARIS SAUDARA PEREMPUAN SEBAPAK

Aku menyaksikan dialog antara dua orang ulama. Dialog tersebut menimbulkan pertanyaan dalam jiwaku, lalu aku berusaha keras mencari jawabannya. Setelah berusaha mencari, aku mendapatkan jawabannya di situs anda. Ternyata jawabannya sesuai sekali dengan pertanyaanku. Aku telah mendapatkan jawaban berikut di situs anda;

Anda telah sebutkan dalam fatwa anda bahwa saudara perempuan sekandung mendapatkan setengah warisan. Lalu anda berdalil dengan surat An-Nisa ayat 176, kemudian bagian isteri seperempat, lalu anda sebutkan bahwa saudara laki dan perempuan yang tidak sekandung mendapatkan sisanya, yaitu seperempat dan dibagi di antara mereka dengan standar bahwa bagian laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan.

Dalam ayat 176 tersebut, hanya disebutkan (وله أخت), dia memiliki saudara perempuan, tidak dibatasi apakah sekandung atau tidak. Apakah dalilnya yang membedakan antara sekandung dan tidak? Mohon penjalasannya.

Jazaakumullah khairan.

Alhamdulillah

Ayat terakhir dari surat An-Nisa adalah firman Allah Ta’ala,

“mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 176)

Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan warisan saudara sekandung atau sebapak. Adapun warisan saudara seibu, telah Allah sebutkan dalam surat An-Nisa ayat 12. yaitu firman-Nya,

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوْ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ (سورة النساء: 12)

“Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.” (QS. An-Nisa: 12)

Para ulama telah sepakat bahwa yang dimaksud saudara laki-laki dan saudara perempuan dalam ayat di atas adalah saudara seibu.

Lihat tafsir Ath-Thabarai, 3/2183, 4/2652, Ibnu Katsir, 1/600, 776, As-Sa’di, hal. 168-226.

Maka, berdasarkan hal ini, firman Allah Ta’ala dalam ayat yang ditanyakan, (وله أخت) jika dia memiliki saudara perempuan, maksudnya adalah saudara perempuan sekandung atau sebapak.

Akan tetapi, jika terdapat dua orang saudara perempuan (saudara perempuan sekandugn dan sebapak sekaligus), maka tidak mungkin disamaratakan di antara keduanya. Kedua saudara perempuan tidak dapat dibagi sama dari 2/3 harta. Akan tetapi, saudara perempuan sekandung mendapatkan setengah harta, dan saudara sebapak, diberikan sisa dari 2/3 tersebut, yaitu, seperenam. Ini adalah ijmak para ulama.

Lihat; At-Tahqiqat Al-Mardhiyyah fil Mabahits Al-Faradhiyyah, Syekh Shaleh Al-Fauzan, hal. 94.

Dalam kondisi seperti ini, jika bersama saudara perempuan sebapak terdapat saudara laki-laki sebapak, maka saudara perempuan tersebut berpindah posisinya dari pemilik bagian tertentu menjadi ashabah (bagian sisa). Maka dia (saudara perempuan sebapak) mendapat waris bersama saudara laki-lakinya sisa harta setelah saudara perempuan sekandung mengambil bagiannya yang telah ditentukan. Maka bagi saudara laki-laki sebapak tersebut dua kali lipat bagiannya dibanding saudara perempuan sebapak. Ini juga merupakan ijmak para ulama,sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kita Al-Mughni, 6/168

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

” Jika saudara perempuan sekandung hanya seorang diri, maka dia mendapatkan jatah seperenam bagian berdasarkan teks Al-Quran. Sedangkan sisa dari 2/3 harta yang diberikan untuk beberapa saudara orang perempuan adalah seperenam yang melengkapi bagian 2/3. Maka jumlah tersebut (seperenam) adalah untuk saudara perempuan sebapak. Karena itu para ahli fiqih menyebutkan pembagian tersebut dengan istilah seperenam sebagai pelengkap dari 2/3.

Jika saudara sebapak itu terdiri dari laki dan perempuan, maka sisanya dibagi di antara mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ (سورة : 176)

“Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 176)

(Al-Mughni, 6/168)

Dengan demikian, maka pembagian warisan yang disebutkan dalam jawaban soal no. 95520 adalah perkara yang telah disepakati para ulama dan tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka.

Kesimpulan jawaban, bahwa saudara perempuan yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala (وله أخت) surat An-Nisa: 176, adalah saudara perempuan sekandung dan sebapak. Jika mereka Cuma seorang, maka bagiannya adalah seperenam. Jika mereka saudara perempuan sekandung lebih dari satu, atau saudara perempuan sebapak lebih dari satu, maka bagian untuk mereka bersama 2/3. Adapun jika mereka bergabung, saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak, maka bagian untuk saudara perempuan sekandung adalah setengah, sedangkan untuk saudara perempuan sebapak adalah seperenam.

Wallahua’lam.

 

https://islamhouse. com/id/fatwa/419433/

 

Fatwa 08 – MENINGGAL DUNIA DAN HANYA MENINGGALKAN SAUDARA LAKI-LAKI ATAU SAUDARA PEREMPUAN SEIBU 

  Kalau bagian seperenam dari kalalah (pewaris yang tidak punya ayah dan anak) diberikan untuk saudara laki-laki atau saudara perempuan, bagaimana halnya dengan sisa bagian dari kalalah.

Alhamdulillah

Al-Kalalah adalah mayat yang tidak punya ayah dan anak. Kalau dia mempunyai saudara laki atau saudara perempuan seibu, maka masing-masing mendapatkan seperenam. Kalau mereka lebih dari itu, maka bersama-sama mendapatkan sepertiga berdasarkan firman Ta’ala:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ (سورة النساء: 12)

“Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.”  (QS. An-Nisa: 12)

Kalau dia mempunyai istri, maka bagiannya setengah. Kalau dia mempunyai saudara laki-laki sekandung, maka dia mendapatkan semua warisan, atau mendapat sisanya dengan cara ashobah (sisa warisan). Setelah (pembagian) ahli waris yang wajib kalau ada. Kalau dia mempunyai saudara perempuan sekandung, maka dia mendapatkan separuh. Kalau ada dua saudara sekandung, maka dapat bagian dua pertiga. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ (سورة  النساء: 176)

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan.” (QS. An-Nisa: 176)

Kalau dia tidak mempunyai ahli waris kecuali saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu, maka ahli warisnya mendapat bagian wajib seperenam. Dan sisa warisannya dikembalikan kepada ahli waris, bagi yang berpendapat mengembalikan (sisa warisan) yaitu Hanafiyah, Hanbali. Maka dia mendapat semua warisan, baik berdasarkan ketentuan wajib atau pengembalian.

Sementara Malik dan Syafi’i berpendapat sisa warisan dikembalikan ke baitul mal ketika tidak didapati ashobah (sisa ahli waris).

Ibnu Qudaman rahimahullah berkata dalam kitab Al-Mughni, 6/186,

“Jika mayat tidak meninggalkan ahli waris kecuali ahli waris wajib yang menjadikan hartanya tidak habis, seperti anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan dan nenek. Maka kelebihan dari pembagian yang wajib dikembalikan kepadanya sesuai dengan pembagian wajibnya kecuali suami dan istri. Hal itu diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas radhiallahu’anhum. Diceritakan dari Hasan, Ibnu Sirin, Syuraij, ‘Atho’, Mujahid, At-Tsaury, Abu Hanifah dan teman-temannya. Ibnu Suraqah berkata, ‘Dan hal ini telah diamalkan sekarang di semua kota.’

Sementara Zaid bin Tsabit berpendapat bahwa kelebihan dari pembagian wajib dikembalikan ke baitul mal. Tidak dikembalikan kepada salah seorang yang melebihi dari bagian yang wajib. Ini pendapat Malik, Al-Auza’i, As-Syafi’i radhillahu’anhum.”

(Ibnu Qudamah) juga berkata, “Adapun suami istri, tidak dikembalikan kepada keduanya menurut kesepakatan ahli ilmu, kecuali ada riwayat dari Utsman radhiallahu’anhu bahwa dikembalikan kepada suami, mungkin ia dianggap sebagai ashobah (yang berhak mendapat sisa warisan). Atau dianggap mempunyai hubungan kerabat (rahim) sehingga hal itu diberikan kepadanya. Atau diberikan kepadanya dari harta baitul mal. Bukan karena warisan.’

Selayaknya dalam masalah warisan bertanya pada setiap kondisi, sesuai dengan harta warisan yang ditinggalkan kepada ahli waris, agar tidak rancu dalam menerapkan hukum pada kondisi tertentu.

Wallahu’alam .

Sumber

Fatwa 07 – QODHO SHOLAT QOBLIYAH ZHUHUR…

PERTANYAAN :
Jika seseorang datang ke masjid untuk sholat Zuhur, namun dia tidak dapat melakukan sholat sunnah qobliyah Zuhur empat raka’at, apakah memungkinkan baginya untuk melakukannya setelah sholat fardhu, kemudian sesudah itu dia sholat ba’diyah Zuhur dua raka’at?

JAWABAN :

Alhamdulillah

Pertama:

Menurut pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama, mengqodho sholat sunnah rawatib adalah disunnahkan, ini adalah pendapat dalam mazhab Syafii dan pendapat yang masyhur dalam mazhab Hambali. Berbeda dengan pendapat dalam mazhab Hanafi dan Maliki.

Berdasarkan hadits Ummu Salamah rodhiallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at setelah Ashar, lalu dia ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda,

يَا بِنْتَ أَبِى أُمَيَّةَ ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ ، فَهُمَا هَاتَانِ. رواه البخاري (1233) ومسلم (834)

“Wahai puteri Abu Umayah (maksudnya Ummu Salamah), engkau menanyakan tentang dua raka’at setelah sholat Ashar. Telah datang menemuiku orang-orang dari kabilah Abdil-Qais, sehingga aku tidak sempat melaksanakan kedua roka’at tersebut setelah Zuhur. Maka itulah kedua roka’at (yang aku lakukan setelah sholat Ashar).” (HR. Bukhari, no. 1233, dan Muslim, no. 834)

Imam  Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah bahwa mengqodho sholat sunnah disunnahkan.” Pendapat ini juga dinyatakan oleh Muhammad Al-Muzani, Ahmad dalam salah satu riwayatnya. Sedangkan Abu Hanifah, Malik dan Abu Yusuf dalam riwayatnya yang paling terkenal berpendapat bahwa (sholat sunnah) tidak diqodho. Dalil kami adalah hadits shahih ini.” (Al-Majmu, 4/43)

Al-Mardawi yang bermazhab Hambali rahimahullah berkata, “Ucapannya ‘Siapa yang tidak sempat melaksanakan salah satu sunnah (rawatib) ini, disunnahkan baginya mengqodhonya’ Ini merupakan mazhab yang masyhur dikalangan kami (mazhab Hambali). Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Majd dalam syarahnya, dan dipilih oleh Syekh Taqiyuddin –Ibnu Taimiyah-.” (Al-Inshaf, 2/187)

Syekh Ibnu Utsaimin rohimahullah berkata, “Mengqodho shalat sunnah rawatib jika terlambat (dibolehkan). Dalilnya adalah bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertidur sehingga tidak sempat menunaikan shalat Fajar dan baru bangun setelah matahari terbit, lalu beliau melakukan sunnah Fajar dahulu, baru setelah itu menunaikan sholat Fajar.” (Liqoat Al-Babul-Maftuh, no. 74, soal no. 18. Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiah, 25/284)

Kedua:

Jika seseorang hendak mengqodho sholat qobliyah Zuhur setelah menunaikan sholat Zuhur, apakah dia melakukan sholat qobliyah dahulu kemudian sholat ba’diyah, atau sebaliknya?

Yang lebih kuat adalah bahwa perkara ini fleksibel, apakah sholat qobliyah dahulu atau ba’diyah. Yang penting adalah menunaikannya, baik didahulukan atau diakhirkan.

Sykeh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ulama berkata, jika anda tertinggal melakukan sholat qobliyah Zuhur dua roka’at, maka lakukanlah sholat tersebut setelah sholat, karena dia terhalang melakukannya sebelum sholat. Hal ini sering terjadi apabila seseorang datang ke masjid sementara iqamah sholat sudah dilakukan. Dalam kondisi ini hendaknya dia mengqodhonya setelah shalat Zuhur. Akan tetapi hendaknya dia melakukan sholat rawatib setelah Zuhur dahulu sebelum melakukan rawatib qobliyah Zuhur.

Seseorang datang sedang jama’ah sudah mulai sholat sehingga dia tidak dapat melaksanakan sholat sunnah Zuhur jika dia ikut sholat (bersama jamaah), maka hendaknya dia sholat dua rakaat dengan niat sholat ba’diya, kemudian dia mengqodho sholat rawatib qobliyah sesudahnya.

Demikian sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

(Fathu Dzil Jalali wal Ikram Bisyarhi Bulughil Maram, 2/225)

Wallahua’lam.

 

Sumber : http://islamqa. info/id/114233

 

Fatwa 06 – Bacaan Al-Ikhlas 1000 Kali Untuk Orang Sakit

Keluarga ingin melakukan khataman (mereka berkumpul dan mengulang-ulang bacaan surat Al-Ikhlas dengan lambat agar dapat membaca 10.000 kali, dengan niat agar orang yang sakit itu sembuh) apakah hal ini dibolehkan. Atau mereka harus berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala saja dan meminta pertolongan dari-Nya secara pribadi?

Alhamdulillah

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an ada obat untuk manusia. Telah ada pada sebagian ayat  dan surat secara khusus di dalamnya ada obat, menjaga manusia, dan menolak kejelekan dengan izin Allah Ta’ala. Seperti Al-Fatihah, surat Al-Mu’awwidzat (Al-Falaq dan An-Nass), ayat kursi dan surat Al-ikhlas. Barangsiapa yang membaca sedikit dari ayat atau surat dan diulang-ulang tiga atau tuuh kali atau sesuai dengan keperluan tanpa terikat dengan bilangan tertentu yang tidak ada petunjuk agama, maka hal itu tidak mengapa. Dengan keyakinan bahwa kesembuhan itu ada di tangan Allah dimana Allah menjadikan Al-Qur’an itu sebagai obat untuk manusia.

Kalau ruqyah itu ditambah dengan doa yang ada dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam meruqyah. Seperti sabda beliau sallallahu’alaiahi wa sallam:

اذهب الباس رب الناس اشف وأنت الشافي لا شفاء إلا شفاءك شفاء لا يغادر سقماً  (أخرجه البخاري ( 5243 ) ومسلم ( 4061 )

“Hilangkanlan penyakit wahai Tuhan seluruh manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan dari penyembuhan-Mu. Kesembuhan tanpa meninggalkan kepayahan.” )HR. Bukhari, 5243 dan Muslim, 4061)

Seperti wasiat beliau hal itu kepada shahabat mulia ketika mengadu kepada beliau atas sakit yang dideritanya, beliau mengatakan kepadanya:

” ضع يدك على الذي تألم من جسدك وقل باسم الله ثلاثاً وقل سبع مرات أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر ”

“Letakkan tangan anda di tempat yang sakit di tubuh anda dan bacalah ‘Bismillah’ tiga kali. Dan katakan tujuh kali ‘أعوذ بالله وقدرته من شر ما أجد وأحاذر ‘ Saya berlindung dengan (nama) Allah dan kekuasaan-Nya dari kejelekan yang saya dapatkan dan saya berhati-hati (darinya).”

Dan selain dari itu yang shahih dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam termasuk suatu yang baik sekali.

Kalau terkumpul antara tawakal kepada Allah disertai dengan menghadirkan makna ayat dan doa yang dibacanya, serta adanya kebaikan masing-masing dari orang yang meruqyah dan yang diruqyah, maka hal itu dengan izin Allah sangat bermanfaat sekali.

Dari penjelasan tadi, maka berkumpul dengan cara yang disebutkan dalam pertanyaan dan bacaan surat ‘Qul huwallahu Ahad’ dengan bilangan tertentu (10.000 kali) termasuk amalan yang tidak dianjurkan. Maka hendaknya anda mencukupkan diri dengan apa yang ada ketetapan dari sunnah.

Kami memohon kepada Allah agar mendapatkan kesembuhan orang yang sakit diantara anda dan diberikan kesehatan. Amin.

 

https://islamhouse. com/id/fatwa/419439/

 

Fatwa 05 – TERKENA FITNAH MELALUI CHANEL DAN WEBSITE PORNO

Saya seorang pemuda yang terkena fitnah melalui parabola dan wesite (porno) sampai pada taraf saya sangat lemah sekali dalam masalah agama, saya mohon kepada anda bantuan dan doa agar mendapatkan hidayah.


Alhamdulillah

Kami memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada anda. Dan memalingkan anda dari kejelekan serta kemunkaran. Menjadikan anda termasuk golongan hamba yang ikhlas.

Sebaik-baik wasiat untuk anda adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala. Hati-hati dari kemurkaan dan kemarahan-Nya, sangat pedih siksa-Nya. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala (masih) memberi kesempatan dan tidak akan melalaikannya. Siapa dapat menjamin, ketika Allah melihat anda dalam kondisi melakukan kemaksiatan, lalu Dia mengatakan, “Demi kemuliaan dan ketinggian-Ku, Aku tidak akan mengampuni enkau.”

Lihatlah anggota tubuh ini yang melakukan kemaksiatan, tidakkan anda paham bahwa Allah mampu untuk mengambil nikmat ini, lalu anda merasakan kepedihan atas kehilangannya.

Kemudian lihatlah bahwa Allah telah menutupi aib anda dan menyayangi  anda. Sementara anda mengetahui cemburunya kepada hamba-Nya. Apakah anda menjamin bahwa Dia tidak akan murka kepada anda lalu menyingkap segala rahasia anda sehingga orang-orang  mengetahuinya dan  menyebabkan cela di dunia sebelum di akhirat.

Bukankah akibat dari pandangan yang diharamkan hanya mendatangkan kerugian, kegelisahan dan kegelapan hati?

Katakanlah anda dapat menikmati kelezatan sehari, dua hari atau sebulan atau setahun. Kemudian setelah itu apa?

Meninggal dunia, kuburan, hisab, siksaan, telah hilang kesenangan tinggal kerugian. Kalau sekiranya anda malu dilihat oleh saudara melakukan kemaksiatan ini, bagaimana anda menjadikan lebih ringan pandangan Allah kepada anda? Apakah anda tidak mengetahui bahwa Allah melihat anda, para malaikat mencatat anda, dan anggota tubuh anda nanti akan berbicara dengan apa adanya?

Ambillah pelajaran dari kondisi anda setelah melakukan kemaksiatan, sedih hati, dada sempit dan ketakutan antara anda dan Allah. Hilang kekhusyu’an, tidak dapat qiyamul lail, dan tidak dapat menunaikan puasa. Katakan kepadaku demi Tuhanmu, apa nilai hidup ini?

Setiap kali satu pandangan yang anda lihat dari jendela setan ini, maka akan menempel satu titik hitam di hati anda. Sehingga terkumpul hitam di atas hitam, kemudian menjadi penutup yang dapat menutupi hati, sehingga tidak dapat merasakan nikmatnya ketaatan dan hilang manisnya iman.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersbda:

إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء، فإذا هو نزع واستغفر وتاب صقل قلبه ، وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه، وهو الران الذي ذكر الله ( كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون ) ” رواه الترمذي، رقم 3257 ، وابن ماجة، رقم 4234 وحسنه الألباني في صحيح ابن ماجه، رقم 3422)

“Sesungguhna seorang hamba ketika melakukan suatu kesalahan, maka dalam hatinya akan tertempel satu titik hitam. Kalau dia mengambilnya, beristigfar dan bertaubat maka hatinya akan kembali (bersih). Kalau dia kembali (melakukan kesalahan) maka akan bertambah sampai hatinya tertutup, yaitu tertutup dari mengingat Allah. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”

(HR. Tirmizi, no. 3257. Ibnu Majah, no. 4234, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam shahih Ibnu Majah, no. 3422)

Maka, jadilah orang yang meninggalkan dosa,  lalu beristigfar dan bertaubat. Perbanyak merendahkan diri di hadapan Allah agar hati anda bersih, jaga kemaluan anda dan jaga diri anda dari godaan setan.

Jauhilah semua sarana yang mengajak anda atau mengingatkan anda pada yang haram, jikalau anda benar-benar jujur ingin bertaubat. Maka bersegeralah keluarkan parabola dari rumah anda. Putuskan hubungan anda dengan website internet yang kotor.

Ketauhilah bahwa sebaik-baik sarana yang dapat membantu anda adalah meninggalkan kebiasaan anda (berbuat) haram adalah hendaknya berhenti ketika ada lamunan, keinginan dan pikiran. Tolak semua angan-angan yang mengajak anda untuk melihat, sebelum menjadi keinginan, kekuatan, tujuan kemudian perbuatan.

Al-Gozali rahimahullah mengatakan, “langkah pertama dalam kebatilan kalau tidak anda tolak, maka akan menimbulkan keinginan. Dan keinginan menimbulkan keinginan kuat. Dan keinginan kuat akan menimbulkan tujuan. Dan tujuan menimbulkan prilaku. Dan prilaku menimbulkan kemurkaan. Maka hendaknya memutus kejelekan dari sumber pertamnya yaitu angan-angan. Karena semua setelah itu akan mengikutinya.”

(Ihya Ulumudin, 6/17)

Hal ini diambila dari firman Allah Ta’ala:

يا أيها الذين آمنوا لا تتبعوا خطوات الشيطان ومن يتبع خطوات الشيطان فإنه يأمر بالفحشاء والمنكر (سورة النور: 21)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar.” (QS. An-Nur: 21)

Jika  anda dapat tinggalkan  internet sama sekali, maka lakukanlah, hingga hati anda merasa konsiten dan keimanan anda kuat. Carilah  teman yang baik yang selalu menunaikan shalat pada waktunya. Perbanyak ibadah-ibadah sunah. Jangan menyendiri dan berfikir sesuatu yang haram sebisa mungkin.

Kesimpulan, bahwa  pengobatannya  adalah dengan membuka  pintu-pintu kebaikan dan menutup semua pintu keburukan.

Kami memohon kepada Allah agar diberi taufik kepada kami dan anda untuk bertaubat nasuha secara ikhlas.

 

Wallahua’lam.

Sumber : https://islamhouse. com/id/fatwa/419441/

 

Fatwa 04 – Seorang Bocah Mencuri Harta Lalu Memberikannya Kepada Ayahnya

Seorang bocah mencuri harta lalu menyerahkannya kepada ayahnya. Kemudian si ayah meninggal dan tidak meninggalkan harta sedikitpun. Apakah si anak berkewajiban mengembalikan harta tersebut setelah ia baligh?

Jawab: 
Alhamdulillah, benar! Ia berkewajiban mengembalikannya. 
 
 
 
Wallahu’alam .
  

Source:  https://islamhouse. com/id/fatwa/419447/


Fatwa 03 – HAKEKAT WISATA DALAM ISLAM, HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

 Saya memohon anda menjelaskan informasi yang penting dan menyeluruh tentang wisata islami. Apa yang dimaksud wisata dalam Islam? Apa ketentuan wisata dalam Islam? Bagaimana menyelenggarakan wisata Islam? Bagaimana suatu negara itu dikakatan sebagai tujuan wisata islami? Dan apa program wisata islami? Kami ucapkan banyak terima kasih

Alhamdulillah
Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih dikhususkan pada sebagian makna itu. Yaitu, yang menunjukkan berjalan-jalan ke suatu negara untuk rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu. Bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap. Silakan lihat kitab Al-Mu’jam Al-Wasith, 469.

Berbicara tentang wisata menurut pandangan Islam, maka harus ada pembagian berikut ini,
Pertama: Pengertian wisata dalam Islam.

Islam datang untuk merubah banyak pemahaman keliru yang dibawa oleh akal manusia yang pendek, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai dan akhlak yang mulia. Wisata dalam pemahaman sebagian umat terdahulu dikaitkan dengan upaya menyiksa diri dan mengharuskannya untuk berjalan di muka bumi, serta membuat badan letih sebagai hukuman baginya atau zuhud dalam dunianya. Islam datang untuk menghapuskan pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hani dari Ahmad bin Hanbal, beliau ditanya tentang seseorang yang bepergian atau bermukim di suatu kota, mana yang lebih anda sukai? Beliau menjawab: “Wisata tidak ada sedikit pun dalam Islam, tidak juga prilaku para nabi dan orang-orang saleh.” (Talbis Iblis, 340).

Ibnu Rajab mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan mengatakan: “Wisata dengan pemahaman   ini telah dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal suka beribadah dan bersungguh-sungguh    tanpa didasari ilmu. Di antara mereka ada yang kembali ketika mengetahui hal itu.” (Fathul-Bari, karangan Ibnu Rajab, 1/56)

Kamudian Islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya

1. Mengaitkan wisata dengan ibadah, sehingga mengharuskan adanya safar -atau wisata- untuk menunaikan salah satu rukun dalam agama yaitu haji pada bulan-bulan tertentu. Disyariatkan umrah ke Baitullah Ta’ala dalam satahun.

Ketika ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam minta izin untuk berwisata dengan pemahaman lama, yaitu safar dengan makna  kerahiban atau sekedar menyiksa diri, Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada maksud yang lebih mulia dan tinggi dari sekedar berwisata dengan mengatakan kepadanya, “Sesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.” (HR. Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641). Perhatikanlah bagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengaitkan wisata yang dianjurkan dengan tujuan yang agung dan mulia.

2. Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab yang terkenal ‘Ar-Rihlah Fi Tolabil Hadits’, di dalamnya beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits saja.

Di antaranya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tabiin terkait dengan firman Allah Ta’ala:

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, melawat, ruku, sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah: 112).

Ikrimah berkata ‘As-Saa’ihuna’ mereka adalah pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim  dalam tafsirnya, 7/429. Silakan lihat Fathul Qadir, 2/408. Meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan ‘As-Saaihin’ adalah orang-orang  yang berpuasa.

3. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’anulkarim terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat.  Allah  berfirman: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-An’am: 11).

Dalam ayat lain, “Katakanlah: ‘Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.” (QS. An-Naml: 69).

Al-Qasimi rahimahullah berkata; ”Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya.” (Mahasinu At-Ta’wil, 16/225).

4. Mungkin di antara maksud yang paling mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah kepada Allah Ta’ala, dan menyampaikan kepada manusia cahaya yang diturunkan kepada Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Itulah tugas para Rasul dan para Nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para shahabat semoga, Allah meridhai mereka. Para shabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada kalimat yang benar. Kami berharap wisata yang ada sekarang mengikuti wisata   yang memiliki tujuan mulia dan agung.

5. Yang terakhir dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar untuk merenungi keindahan   ciptaan Allah Ta’la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiabn hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)
Kedua: Aturan wisata dalam Islam
Dalam ajaran Islam yang bijaksana terdapat hukum yang mengatur dan mengarahkan agar  wisata tetap menjaga maksud-maksud yang telah disebutkan tadi, jangan sampai keluar melewati  batas, sehingga wisata menjadi sumber keburukan  dan dampak negatif bagi masyarakat. Di antara hukum-hukum itu adalah:
1. Mengharamkan safar dengan maksud mengagungkan tempat tertentu kecuali tiga masjid. Dari  Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alai wa sallam bersabda:

“Tidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahu’alaihi wa saal dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)

Hadits ini menunjukkan akan haramnya  promosi wisata yang dinamakan Wisata Religi ke  selain tiga masjid, seperti ajakan mengajak wisata ziarah kubur, menyaksikan tempat-tempat   peninggalan kuno, terutama peninggalan yang diagungkan manusia, sehingga mereka terjerumus dalam  berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan. Dalam ajaran Islam tidak ada pengagungan pada tempat tertentu dengan menunaikan ibadah di dalamnya sehingga menjadi tempat yang  diagungkan selain tiga tempat tadi.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Aku pergi  Thur (gunung Tursina di Mesir), kemudian    aku bertemu Ka’b Al-Ahbar, lalu duduk bersamanya, lau beliau menyebutkan hadits yang panjang,  kemudian berkata, “Lalu aku bertemu Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifary dan berkata, “Dari mana kamu datang?” Aku menjawab, “Dari (gunung) Thur.”  Lalu beliau mengatakan, “Jika aku  menemuimu sebelum engkau keluar ke sana, maka (akan melarang) mu pergi, karena aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, ke Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjid Iliyya atau Baitul Maqdis.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha, no. 108. Nasa’i, no. 1430, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i)

Maka tidak dibolehkan memulai perjalanan menuju tempat suci selain tiga tempat ini. Hal  itu  bukan berarti dilarang mengunjungi masjid-masjid yang ada di negara muslim, karena kunjungan kesana dibolehkan, bahkan dianjurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah melakukan safar dengan niat seperti itu.   Kalau ada tujuan lain dalam safar, lalu diikuti dengan berkunjung ke (masjid), maka hal itu tidak mengapa. Bahkan terkadang diharuskan untuk menunaikan jum’at dan shalat berjamaah. Yang keharamannya lebih berat adalah apabila kunjungannya ke tempat-tempat suci agama lain. Seperti pergi mengunjungi Vatikan atau patung Budha atau  lainnya yang serupa.

2. Ada juga dalil yang mengharamkan wisata seorang muslim ke negara kafir secara umum. Karena berdampak buruk terhadap agama dan akhlak seorang muslim, akibat bercampur dengan kaum yang tidak mengindahkan agama dan akhlak. Khususnya apab ila tidak ada keperluan dalam  safar  tersebut seperti untuk berobat, berdagang atau semisalnya, kecuali Cuma sekedar bersenang senang dan rekreasi. Sesungguhnya Allah telah menjadikan negara muslim memiliki   keindahan penciptaan-Nya, sehingga tidak perlu pergi ke negara orang kafir.

Syekh Shaleh Al-Fauzan hafizahullah berkata: “Tidak boleh Safar ke negara kafir, karena ada kekhawatiran terhadap akidah, akhlak, akibat bercampur dan menetap di tengah  orang kafir  di antara mereka. Akan tetapi kalau ada keperluan mendesak dan tujuan yang benar untuk safar ke negara mereka seperti safar untuk berobat yang tidak ada di negaranya atau safar untuk belajar yang tidak didapatkan di negara muslim atau safar untuk berdagang, kesemuanya ini adalah tujuan yang benar, maka dibolehkan safar ke negara kafir dengan syarat menjaga syiar keislaman dan memungkinkan melaksanakan agamanya di negeri mereka. Hendaklah seperlunya, lalu kembali ke negeri Islam. Adapun kalau safarnya hanya untuk wisata, maka tidak dibolehkan. Karena seorang muslim tidak membutuhkan hal itu serta tidak ada manfaat yang sama atau yang lebih kuat dibandingkan dengan bahaya dan kerusakan pada agama dan keyakinan. (Al-Muntaqa Min Fatawa Syekh Al-Fauzan, 2 soal no. 221).

Penegasan tentang masalah ini telah diuraikan dalam situs kami secara terperinci dan  panjang lebar. Silakan lihat soal no. 13342, 8919, 52845.

3. Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam melarang wisata ke tempat-tempat rusak yang terdapat minuman keras, perzinaan, berbagai kemaksiatan seperti di pinggir    pantai yang bebas dan acara-acara bebas dan tempat-tempat kemaksiatan. Atau juga diharamkan safar untuk mengadakan perayaan bid’ah. Karena seorang muslim diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan maka jangan terjerumus (kedalamnya) dan jangan duduk dengan orang yang melakukan itu.

Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Tidak diperkenankan bepergian ke tempat-tempat kerusakan untuk berwisata. Karena hal itu mengundang bahaya terhadap agama dan akhlak. Karena ajaran Islam datang untuk menutup peluang yang menjerumuskan kepada keburukan.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/332).

Bagaimana dengan wisata yang menganjurkan kemaksiatan dan prilaku tercela, lalu kita ikut  mengatur, mendukung dan menganjurkannya?

Para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah juga berkata: “Kalau wisata tersebut mengandung unsur memudahkan melakukan kemaksiatan dan kemunkaran serta mengajak kesana, maka tidak boleh bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari Akhir membantu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah dan menyalahi perintahNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari itu. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 26/224).

4. Adapun berkunjung ke bekas peninggalan umat terdahulu dan situs-situs kuno , jika itu adalah  bekas tempat turunnya azab, atau tempat suatu kaum dibinasakan sebab kekufurannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak dibolehkan menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata dan hiburan.

Para Ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, ada di kota Al-Bada di  provinsi Tabuk terdapat peninggalan kuno dan rumah-rumah yang diukir di gunung. Sebagian orang mengatakan bahwa itu adalah tempat tinggal kaum Nabi Syu’aib alaihis salam. Pertanyaannya adalah, apakah ada dalil  bahwa ini adalah tempat tinggal kaum Syu’aib –alaihis salam- atau tidak ada dalil akan hal itu? dan apa hukum mengunjungi tempat purbakala itu bagi orang yang bermaksuk untuk sekedar melihat-lihat dan bagi yang bermaksud mengambil pelajaran dan nasehat?

Mereka menjawab: “Menurut ahli sejarah dikenal bahwa tempat tinggal bangsa Madyan yang  diutus kepada mereka Nabiyullah Syu’aib alaihis shalatu was salam berada di arah barat daya  Jazirah Arab yang sekarang dinamakan Al-Bada dan sekitarnya. Wallahu’alam akan kebenarannya. Jika itu benar, maka tidak diperkenankan berkunjung ke tempat ini dengan tujuan sekedar  melihat-lihat. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam ketika melewati Al-Hijr, yaitu tempat tinggal  bangsa Tsamud (yang dibinasakan) beliau bersabda: “Janganlah  kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi dirinya, khawatir kalian tertimpa seperti yang menimpa mereka,   kecuali kalian dalam kondisi manangis. Lalu beliau menundukkan kepala dan berjalan cepat     sampai melewati sungai.” (HR. Bukhari, no. 3200 dan Muslim, no. 2980).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkomentar ketika menjelaskan manfaat dan hukum yang diambil dari peristiwa perang Tabuk, di antaranya adalah barangsiapa yang melewati di tempat mereka yang Allah murkai dan turunkan azab, tidak sepatutnya dia memasukinya dan menetap di dalamnya, tetapi hendaknya dia mempercepat jalannya dan menutup wajahnya hingga lewat. Tidak boleh memasukinya kecuali dalam kondisi menangis dan mengambil pelajaran. Dengan landasan ini, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam menyegerakan jalan di wadi (sungai) Muhassir antara Mina dan Muzdalifah, karena di tempat itu Allah membinasakan pasukan gajah dan orang-orangnya.” (Zadul Ma’ad, 3/560).

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits tadi, “Hal ini mencakup  negeri  Tsamud dan negeri lainnya yang sifatnya sama meskipun sebabnya terkait dengan mereka.” (Fathul Bari, 6/380).

Silakan lihat kumpulan riset Majelis Ulama Saudi Arabia jilid ketiga, paper dengan judul Hukmu   Ihyai Diyar Tsamud (hukum menghidupkan perkampungan Tsamud). Juga silahkan lihat soal jawab no. 20894.

5. Tidak dibolehkan juga wanita bepergian tanpa mahram. Para ulama telah memberikan fatwa haramnya wanita pergi haji atau umrah tanpa mahram. Bagaimana dengan safar untuk wisata yang di dalamnya banyak tasahul (mempermudah masalah) dan campur baur yang diharamkan? Silakan lihat soal jawab no. 4523, 45917, 69337 dan 3098.

6. Adapun mengatur wisata untuk orang kafir di negara Islam, asalnya dibolehkan. Wisatawan kafir kalau diizinkan oleh pemerintahan Islam untuk masuk maka diberi keamanan sampai keluar. Akan tetapi keberadaannya di negara Islam harus terikat dan menghormati agama Islam, akhlak umat Islam dan kebudayaannya. Dia pun di larang mendakwahkan agamanya dan tidak menuduh Islam dengan batil. Mereka juga tidak boleh keluar kecuali dengan penampilan sopan dan memakai pakaian yang sesuai untuk negara Islam, bukan dengan pakaian yang biasa dia pakai di negaranya dengan terbuka dan tanpa baju. Mereka juga bukan sebagai mata-mata atau spionase untuk negaranya. Yang terakhir tidak diperbolehkan berkunjung ke dua tempat suci; Mekkah dan Madinah.

Ketiga:Tidak tersembunyi bagi siapa pun bahwa dunia wisata sekarang lebih dominan dengan kemaksiatan, segala perbuatan buruk dan melanggar yang diharamkan, baik sengaja bersolek diri, telanjang di tempat-tempat umum, bercampur baur yang bebas, meminum khamar, memasarkan kebejatan, menyerupai orang kafir, mengambil kebiasaan dan akhlaknya bahkan sampai penyakit mereka  yang  berbahaya. Belum lagi, menghamburkan uang yang banyak dan waktu serta kesungguhan. Semua itu dibungkus dengan nama wisata. Maka ingatlah bagi yang mempunyai kecemburuan terhadap agama, akhlak dan umatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jangan sampai menjadi penolong untuk mempromosikan wisata fasik ini. Akan tetapi hendaknya memeranginya dan memerangi   ajakan mempromosikannya. Hendaknya bangga dengan agama, wawasan dan akhlaknya. Hal tersebut akan menjadikan negeri kita terpelihara dari segala keburukan dan mendapatkankan pengganti keindahan penciptaan Allah ta’ala di negara islam yang terjaga.

Wallahu’alam .


Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajid
محمد صالح المنجد



Penterjemah: www.islamqa.info


Pengaturan: www.islamhouse.com



Fatwa 02 – Penjelasan Hai’ah Kibar Ulama tentang kecaman terhadap sikap melampaui batas dan mengkafirkan serta dampaknya yang

Soal Jawab Tentang Islam

Pada hari-hari ini diperhatikan ada sebagian pemuda yang tergesa-gesa dalam menetapkan kafir serta terjerumusnya mereka dalam sikap berbahaya dengan segala dampaknya yang berbahaya terhadap para ulama dan kehormatannya. Mohon nasehatnya.

Alhamdulillah.

Tidak diragukan lagi bahwa tergesa-gesa mengkafirkan orang lain dan menganggap remeh dalam menumpahkan darah serta melucuti kehormatan merupakan sikap yang sangat berbahaya yang terjadi di kalangan pemuda. Hal itu karena tipu daya setan yang selalu menghiasinya.

Masalah besar seperti ini hanya layak dibicarakan oleh para ulama yang mumpuni. Orang yang masuk ke dalam masalah ini tanpa ilmu, sesungguhnya dia telah memasuki fitnah dan terjerumus dalam kesesatan. Karena kesalahan dalam masalah ini tidak seperti kesalahan dalam masalah lainnya. Kesalahan dalam masalah ini artinya mengeluarkan seseorang dari agamanya, menghalalkan darahnya dan hartanya serta    kehormatannya.

Karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dari sikap ini dan hendaknya dia berkonsentrasi menuntut ilmu, berguru kepada para ulama, mendalami agama sebelum berbicara dalam masalah ini.

Ha’ah Kibar Ulama telah mengeluarkan nasehat berharga dalam masalah ini. Berikut uraiannya:

Alhamdulilllah, washshalatu wassalamu alaa rasulillah wa alaa aalihi wa shahbihi wa manihtada bi hudaahu, ammaa ba’du.

Dewan (Hai’ah Kibar Ulama) telah mengkaji dalam pertemuan rutinnya yang ke empatpuluh Sembilan, di Tha’if, sejak tanggal 2/4/1419 peristiwa yang terjadi di berbagai negeri Islam dan lainnya yaitu tindakan takfir (mengkafirkan) dan tafjir (pengeboman) serta dampaknya berupa tumpahnya darah dan hancurnya berbagai fasilitas.

Mempertimbangkan bahayanya perkara ini dan akibat yang ditimbulkannya berupa tumpahnya darah yang tak bersalah serta rusaknya harta yang seharusnya dilindungi, menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat dan mengganggu keamanan dan stabilitas, maka majelis memandang perlunya dikeluarkan pernyataan yang menjelaskan hukum semua itu, sebagai nasehat kepada Allah dan kepada para hambaNya serta untuk menunaikan tanggungjawab dan menghilangkan kerancuan pemahaman pada pihak yang masih samar dalam masalah ini.

Maka kami katakan seraya memohon taufiq kepada Allah;

Pertama: Takfir adalah hukum syar’i, rujukannya adalah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana pengharaman, penghalalan dan mewajibkan harus merujuk kepada Allah, Rasul-Nya, maka begitu juga halnya dengan takfir.

Tidak semua yang dikatakan kufur baik berupa ucapan atau perbuatan dianggap sebagai kufur besar yang mengeluarkan seseorang dari agama.

Karena patokan dalam menetapkan hukum takfir adalah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh kita mengkafirkan kecuali yang kekufurannya telah ditetapkan  Alquran dan Sunah

Karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengancam tindakan menghukumi kafir terhadap orang yang tidak kafir, sebagaimana sabdanya dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma,

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya ‘wahai kafir’ maka (kekufuran itu) akan kembali kepada salah satunya. Jika benar demikian (kekufuran akan mengenai yang dituduh), jika tidak, maka akan kembali kepadanya (yang menuduh).” (Muttafaq alaih)

Kadang terdapat dalam Alquran dan Sunah sesuatu yang dapat dipahami bahwa ucapan atau perbuatan atau keyakinan tertentu merupakan kekufuran, padahal orang yang melakukannya tidak dianggap kafir karena ada penghalang yang menghalanginya dari kekufuran.

Hukum ini seperti hukum lainnya yang tidak dapat ditetapkan kecuali jika telah ada sebab-sebab da syarat-syaratnya serta terhindar dari penghalangnya. Sebagaimana dalam hal warisan. Sebabnya adalah kekerabatan, misalnya, namun bisa jadi dia tidak mewarisi karena ada penghalangnya, seperti karena berbeda agama. Demikian pula halnya kekufuran, misalnya jika seorang muslim dipaksa, maka dia tidak dapat dikatakan kafir.

Seorang muslim boleh jadi mengucapkan kata-kata kufur; karena sangat gembira, marah atau semacamnya, maka dia tidak dikatakan kafir, karena tidak ada tujuan itu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kisah orang yang berkata, “Ya Allah, engkau adalah hambaku dan aku tuhanmu” dia salah karena sangat gembira.” (HR. Muslim dari hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu)

Tergesa-gesa menetapkan kufur (terhadap seseorang) berdampak berbagai perkara yang sangat berat, di antaranya dihalalkannya darah, terhalangnya waris mewarisi, dibatalkannya pernikahan dan dampak lainnya akibat murtad. Maka bagaimana ada orang yang berani melakukan hal ini berdasarkan asumsi yang sangat rendah?!

Apalagi jika hal ini terhadap para pemimpin, maka dia lebih berat. Karena dampaknya akan mengakibatkan pemberontakan terhadap mereka dan angkat senjata, kekacauan, pertumpahan darah, rusaknya masyarakat dan Negara. Karena itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk melawan penguasa, maka beliau bersabda,

“Kecuali jika mereka melihat kekufuran yang terang-terangan berdasarkan bukti-bukti dari Allah.” (Muttafaq alaih, dari hadits Ubadah radhiallahu anhu).

Pelajaran yang terkandung dalam sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

“Sebelum engkau melihat” menunjukkan bahwa hal ini tidak cukup hanya berdasarkan dugaan atau isu.

“berdasarkan bukti-bukti dari Allah” menunjukkan bahwa hal ini harus berdasaran dalil yang jelas. Shahih sumbernya dan jelas petunjuknya. Tidak cukup dengan dalil yang lemah sanadnya dan tidak jelas petunjuknya.

“Kufur” menunjukkan bahwa tidak cukup kefasikan, walaupun dosa besar, seperti zalim, minum khamar, berjudi atau mengutamakan yang haram.

“nyata-nyata” maksudnya tidak cukup kekafiran yang tidak tampak atau tidak nyata.

“Dari Allah” maksudnya pedomannya bukan perkataan salah seorang ulama betapapun kedudukan yang dia miliki dalam ilmu dan amanah, jika ucapannya tidak memiliki landasan dalil yang jelas dan shahih yang bersumber dari Kitabullah atau sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kesimpulannya adalah bahwa tergesa-gesa mengkafirkan orang lain sangat berbahaya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat[536].” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” SQ. Al-A’raf: 32

Akibat dari pemahaman yang salah ini adalah tertumpahnya darah, terkoyaknya kehormatan, terampasnya harta pribadi atau harta publik, diledakkannya bangunan dan kendaraan, dirusaknya fasilitas-fasilitas. Tindakan-tindakan ini dan yang semacamnya diharamkan secara syar’I berdasarkan ijmak kaum muslimin, karena perbuatan tersebut dapat merenggut nyawa yang terlindungi, merampas harta, mengganggu kemanan dan stabilitas serta kehidupan masyarakat tak berdosa yang tinggal di rumah-rumah mereka dan dalam aktifitas sehari-hari mereka. Tindakan inipun dapat merusak fasilitas-fasilitas umum masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Islam telah melindungi harta kaum muslimin, kehormatan dan fisik mereka serta sangat mengharamkan tindakan untuk merusaknya.  Bahkan pesan di antara pesan terakhir yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap umatnya pada saat khutbah haji wada adalah,

 “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian adalah haram bagi kalian, sebagaimana terhormatnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan negeri kalian ini.”

Kemudian beliau katakan, “Bukankah telah aku sampaikan?” (Muttafaq alaih dari hadits Abu Bakrah radhiallahu anhu).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap muslim atas muslim lainnya adalah diharamkan darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah).

Beliau juga  bersabda,

“Hindarilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim dari hadits Jabir radhiallahu anhu).

Allah Ta’ala telah mengancamm sangat keras kepada siapa yang membunuh jiwa yang dilindungi dalam firmanNya terkait hak muslim,

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” SQ. An-Nisaa’: 93.

Allah berfirman terkait dengan orang kafir yang mendapat perlindungan, jika terbunuh karena kesalahan:

“Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman.” SQ. AN-Nisaa’: 92

Jika orang kafir yang dilindungi terbunuh karena keliru, maka ada diyat dan kafarahnya, bagaimana jika dia dibunuh dengan sengaja?! Maka tentu kejahatannya dianggap lebih besar dan dosanya pun lebih besar.

Terdapat riwayat shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

“Siapa yang membunuh orang kafir (dalam perlindungan Islam), maka dia tidak akan mencium baunya surga. HR. Muttafaq’alaihi dari hadits Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma.

Ketiga: Majelis menjelaskan hukumm takfir kepada orang lain tanpa dalil dari Alquran dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta bahaya menebarkanya serta dampak-dampaknya berupa keburukan dan dosa, maka kami sampaikan kepada dunia bahwa Islam berlepas diri dari keyakinan keliru tersebut dan bahwa apa yang terjadi di sebagian Negara berupa pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa, peledakan terhadap tempat-tempat tinggal dan alat-alat transportasi  serta fasilitas umum dan khusus merupakan tindakan criminal dan Islam berlepas diri dari itu. Demikian pula halnya setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berlepas diri dari itu semua.

Hal tersebut tak lain merupakan tindakan orang yang memiliki pemikiran menyimpang, akidah yang sesaat, maka dialah yang akan menanggung dosa dan kesalahannya. Perbuatannya tidak dapat dilimpahkan kepada Islam juga kepada kaum muslimin yang berpegang pada petunjuk Islam serta Alquran Sunah dan tali Allah yang kuat. Hal itu murni perbuatan anarkis dan kejahatan yang ditolak oleh syariat dan fitrah. Karena itu nash-nash syariat mengharamkannya dan memperingatkan agar para pemeluknya menjauhi orang-orang yang memiliki pemikiran tersebut.

Allah Ta’ala berfirman,

 “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” SQ. Al-Baqarah: 204-206.

Wajib bagi kaum muslimin di semua tempat untuk saling menasehati dalam kebenaran, saling menasehati, tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, amar ma’ruf nahi munkar, mencegah kemunkaran dengan hikmah dan nasehat yang baik serta mendebat dengan cara yang lebih baik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” SQ. Al-Maidah: 2.

Allah Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” SQ. At-Taubah: 71.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 “Agama adalah nasehat (diucapkan tiga kali).” Ada yang bertanya, “Kepada siapa ya Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kepada Allah, kitab-kitabNya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh lapisan masyarakat.” (HR. Muslim dari hadits Tamim Ad-Dari radhiallahu anhu)
Beliau juga bersabda,

 “Perumpamaan seorang mukmin dalam kasih sayang di antara mereka seperti tubuh, jika salah satu bagian anggota tubuh maka semua anggota tubuh lainnya akan ikut merasakannya, tak dapat tidur dan demam.” (Muttafaq alaih dari hadits Nukman bin Bisyar radhiallahu anhuma).

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang semakna dalam masalah ini banyak.

Kami mohon kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifatNya yang mulia semoga kaum muslimin dijauhkan dari bahaya dan para pemimpin kaum muslimin diberi taufiq pada hal yang bermanfaat bagi rakyat dan bangsanya dan semoga mereka dapat menghalau para pelaku kejahatan serta menolong agamanya dengan kekuasaan mereka dan menegakkan kalimatnya serta memperbaiki urusan kaum muslimin seluruhanya di semua tempat serta membela kebenaran, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas semua itu.

Semoga shalawat terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarganya dan shahabatnya.”

Wallahua’lam.

SOURCE

Fatwa 01 – Hukum Donor Darah

حكم التبرع بالدم
[ Indonesia – Indonesian – إندونيسي ]
 Syaikh Muhammad Ibrahim Anl Al-Syaikh
محمد بن إبراهيم آل الشيخ
Penterjemah: www.islamqa.info
Pengaturan: www.islamhouse.com
ترجمة: موقع الإسلام سؤال وجواب
تنسيق: موقع islamhouse
2013 – 1434


Apa hukumnya donor darah?

Alhamdulillah, Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Aali Syaikh rahimahullah secara khusus menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut:

Ada tiga perkara yang harus dibicarakan untuk menjawab pertanyaan di atas:

Pertama: Siapakah orang yang menerima darah yang didonorkan itu?
Kedua: Siapakah orang yang mendonorkan darahnya itu?
Ketiga: Instruksi siapakah yang dipegang dalam pendonoran darah itu?

Masalah pertama: Yang boleh menerima darah yang didonorkan adalah orang yang berada dalam keadaan kritis karena sakit ataupun terluka dan sangat memerlukan tambahan darah. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (QS. 2:173).

Dalam ayat lain Allah berfirman:
Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3).

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
“Dan sungguh telah dijelaskan kepadamu apa-apa yang diharamkan atasmu kecuali yang terpaksa kamu memakannya.”

Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas bahwasanya jikalau keselamatan jiwa pasien karena sakit atau luka sangat tergantung kepada darah yang didonorkan oleh orang lain dan tidak ada zat makanan atau obat-obatan yang dapat menggantikannya untuk menyelamatkan jiwanya maka dibolehkan mendonorkan darah kepadanya. 

Dan hal itu dianggap sebagai pemberian zat makanan bagi si pasien bukan sebagai pemberian obat. Dan memakan makanan yang haram dalam kondisi darurat boleh hukumnya, seperti memakan bangkai bagi orang yang terpaksa memakannya.

Kedua: Boleh mendonorkan darah jika tidak menimbulkan bahaya dan akibat buruk terhadap si pendonor darah, berdasarkan hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam :

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”
Ketiga: Instruksi yang dipegang dalam pendonoran darah itu adalah instruksi seorang dokter muslim. Jika tidak ada, maka kelihatannya tidak ada larangan mengikuti instruksi dokter non muslim, baik dokter itu Yahudi, Nasrani ataupun selainnya. 

Dengan catatan ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran dan dipercaya banyak orang. Dasarnya adalah sebuah riwayat dalam kitab Ash-Shahih bahwasanya Rasulullah menyewa seorang lelaki dari Bani Ad-Diel sebagai khirrit sementara ia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy. Khirrit adalah penunjuk jalan (guide) yang mahir dan mengenal medan. (H.R Al-Bukhari No:2104).

Silakan lihat fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.
Lembaga tertinggi Majelis Ulama juga mengeluarkan fatwa berkenaan dengan masalah ini sebagai berikut:

Pertama: Boleh hukumnya mendonorkan darah selama tidak membahayakan jiwanya dalam kondisi yang memang dibutuhkan untuk menolong kaum muslimin yang benar-benar membutuhkannya.

Kedua: Boleh hukumnya mendirikan Bank donor darah Islami untuk menerima orang-orang yang bersedia mendonorkan darahnya guna menolong kaum muslimin yang membutuhkannya. Dan hendaknya bank tersebut tidak menerima imbalan harta dari si sakit ataupun ahli waris dan walinya sebagai ganti darah yang di donorkan. Dan tidak dibolehkan menjadikan hal itu sebagai lahan bisnis untuk mencari keuntungan, karena hal itu berkaitan dengan kemaslahatan umum kaum muslimin.