Arsip Kategori: Dosa-Dosa Besar

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 13

MENDAHULUI IMAM SECARA SENGAJA DALAM SHALAT

Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya. Allah سبحانه و تعالي berfirman:

وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

اَلتَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.

”Pelan-pelan adalah dari Allah dan tergesa-gesa adalah dari setan.”1

Dalam shalat jama’ah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku’, sujud, takbir perpindahan, bahkan mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada diri sendiri.

Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu, oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم diperingatkan dan diancam secara keras dalam sabdanya:

أَمَا يَخْشَى الَّذِيْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ.

“Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?”2

Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, bagaimana pula halnya dengan shalat itu sendiri? Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, para fuqaha’ telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini yaitu, hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucap takbir. Ketika imam selesai melafazhkan huruf (ra’) dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerakan imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian, maka batasan itu menjadi jelas.

Dahulu para sahabat رضي الله عنهم sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi صلي الله عليه وسلم. Salah seorang sahabat bernama Al- Barra’ bin Azib رضي الله عنه berkata:

“Sungguh mereka (para sahabat) shalat di belakang Rasulullah صلي الله عليه وسلم, maka jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tidak melihat seorang pun yang membungkukkan punggungnya, sehingga Rasulullah صلي الله عليه وسلم meletakkan keningnya di atas, lalu orang yang berada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya).”3

Ketika Rasulullah صلي الله عليه وسلم mulai uzur dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ بَدَّنْتُ فَلاَ تَسْبِقُوْنِيْ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ

“Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud…”4

Dalam shalatnya, imam hendaknya melakukan sunnah dalam takbir, yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْكَعُ … ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَهْوِيْ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُم يُكَبِّرُ حِيْنَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا، وَيُكَبِّرُ حِيْنَ يَقُوْمُ مِنَ الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوْسِ.

“Bila Rasulullah صلي الله عليه وسلم berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’, kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahud pertama).”5

Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam, sebagaimana disebutkan di muka, maka jama’ah dalam shalat tersebut menjadi sempurna.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 12

BANYAK MELAKUKAN GERAKAN SIA-SIA DALAM SHALAT

Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari bencana ini. Yakni melakukan gerakan yang tidak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah yang tersebut dalam firman-Nya:

وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

“Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Juga tidak memahami firman Allah سبحانه و تعالي:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Suatu saat, Rasulullah صلي الله عليه وسلم ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud. Beliau menjawab,

لاَ تَمْسَحْ وَأَنْتَ تُصَلِّي فَإِنْ كُنْتَ لاَبُدَّ فَاعِلاً فَوَاحِدَةً تَسْوِيَةَ الْحَصَى.

“Jangan engkau mengusap ketika engkau dalam keadaan shalat. Jika (terpaksa) harus melakukannya, maka (cukup) sekali meratakan kerikil.”1

Para ulama menyebutkan, banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi orang yang melakukan pekerjaan yang tidak ada gunanya dalam shalat. Berdiri di hadapan Allah sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, dan ke kanan atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah mencabut penglihatannya atau syetan melalaikannya dari ibadah shalat.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 11

TIDAK TUMA’NINAH DALAM SHALAT

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

“Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Mereka bertanya, “Bagaimana ia mencuri dari shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.”1

Meninggalkan thuma’ninah2; Tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud; Tidak tegak ketika bangkit dari ruku; serta ketika duduk antara dua sujud; Semuanya merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan, hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

Thuma’ninah adalah rukun shalat, tanpa melakukannya shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيْمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ

“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.”3

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran. Pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya. Abu Abdillah Al-Asy’ari رضي الله عنه berkata, “(Suatu ketika) Rasulullah صلي الله عليه وسلم shalat bersama para sahabatnya, kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk,4 maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

أَتَرَوْنَ هَذَا؟ مَنْ مَاتَ عَلَى هَذَا مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ، يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ، إِنَّمَا مَثَلُ الَّذِيْ يَرْكَعُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ كَالْجَائِعِ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ فَمَاذَا يُغْنِيَانِ عَنْهُ.

“Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barangsiapa meninggal dengan keadaan seperti ini (shalatnya) maka dia meninggal di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya adalah bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya?”5

Zaid bin Wahb berkata, Hudzaifah رضي الله عنه pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud(nya). Ia lalu berkata, “Kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah tersebut Allah menciptakan Muhammad صلي الله عليه وسلم.”6

Orang yang meninggalkan thuma’ninah ketika mengerjakan shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits:

اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَـمْ تُصَلِّ

“Kembalilah dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.”

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 10

TERUS MENERUS MENINGGALKAN SHALAT JUM’AT DAN SHALAT JAMAAH TANPA HALANGAN

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam: 42-43)

Ka’ab al-Ahbar رحمه الله berkata:

مَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْأَيَةُ فِـيْ الَّذِيْنَ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْـجَمَاعَاتِ

“Ayat ini diturunkan sehubungan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah.”

Said bin Musayyib رحمه الله berkata, “Mereka dahulu mendengar seruan ‘hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah’, namun mereka tidak memenuhi panggilan itu, padahal keadaan mereka sehat tak kurang suatu apa.”

Dalam Shahih Bukhariy dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بـِحَطَبٍ يـُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ لاَ يَشْهَدُوْنَ الصَّلَاةَ فِـيْ الـجَمَاعَةِ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Demi (Dzat) yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku benar-benar telah berniat untuk menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh orang menyerukan adzan, dan menyuruh seseorang untuk mengimami shalat (menggantikanku) kemudian aku pergi kepada orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.”1

Dalam Shahih Muslim ada juga sebuah hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه berbunyi:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ فِتْيَتِي فَيَجْمَعُوا حُزَمًا مِنْ حَطَبٍ ثُمَّ اآتِيَ قَوْمًا يُصَلُّونَ فِي بُيُوتِـهِمْ لَيْسَتْ بـِهِمْ عِلَّةٌ فَأُحَرِّقَهَا عَلَيْهِمْ

“Aku benar-benar telah berniat menyuruh para pemuda untuk mengumpulkan seonggok kayu bakar, kemudian aku datangi orang-orang yang mengerjakan shalat di rumah-rumah mereka tanpa sebab, lalu aku bakar rumah-rumah mereka itu.”2

Ayat dan hadits-hadits di atas berisi ancaman keras terhadap orang yang meninggalkan shalat jamaah tanpa udzur.

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ اتِّبَاعِهِ عُذْرٌ قَالُوا وَمَا الْعُذْرُ قَالَ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى

Barangsiapa mendengar seruan adzan dan tidak ada suatu halangan pun yang menghalanginya dari memenuhi seruan itu -para sahabat bertanya, “Apakah halangan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Takut atau sakit,”- maka shalat yang dikerjakannya (tidak di masjid) tidak akan diterima Allah.”3

Imam Muslim meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki buta datang menemui Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak mempunyai penuntun yang menuntun saya ke masjid, apakah saya diizinkan untuk mengerjakan shalat di rumah?” Beliau mengizinkan-nya. Tetapi ketika orang itu berbalik hendak pulang, beliau memanggil kembali seraya bertanya, “Apakah kamu mendengar seruan adzan?” Orang itu menjawab, “Ya, saya mendengar.” Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda, “Kalau begitu, penuhilah!”4

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum datang menemui Nabi صلي الله عليه وسلم, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, di Madinah ini banyak serangga berbisa dan binatang buasnya, sedangkan saya ini seorang yang buta. Apakah saya diizinkan mengerjakan shalat di rumah?” Nabi menjawab, “Apakah kamu mendengar seruan ‘hayya ‘alash shalah hayya ‘alal falah?” Ibnu Ummi Maktum menjawab, “Ya, saya mendengarnya.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jawablah, datanglah (ke masjid)!”5

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, saya seorang buta dan rumah saya jauh. Meskipun saya punya orang yang menuntun saya tetapi saya tidak cocok dengannya. Apakah saya mendapatkan keringanan?” Beliau menjawab, “Datang dan jawablah!”‘6

Di dalam kitab al-Mustadrak, Hakim meriwayatkan sebuah hadits dengan syarat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mendengar suara adzan kemudian tidak ada halangan yang menghalanginya untuk mengikutinya, maka tidak ada shalat baginya (kecuali di masjid)?’ Para sahabat bertanya, “Apakah halangan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Takut dan sakit?”

‘Ali bin Abu Thalib رضي الله عنه berkata:

“Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” beliau ditanya, “Siapakah tetangga masjid itu?” Beliau menjawab, “Orang yang mendengar adzan.”

Beliau رضي الله عنه juga berkata, “Barangsiapa mendengar seruan adzan kemudian ia tidak datang, maka shalatnva tidak akan melewati kepalanya (tidak diterima), kecuali jika ia punya udzur.”

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَذِهِ الصَّلَوَاتِ الْـخَمْسِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ أَوْمَرِيْضٌ وَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Barangsiapa yang suka menemui Allah esok hari (pada hari kiamat) sebagai seorang muslim, hendaklah ia memelihara shalat yang lima waktu ini di tempat di mana ia diserukan (di masjid). Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan untuk Nabi kalian ‘sunan huda’, aturan-aturan sebagai petunjuk. Dan sungguh shalat jamaah itu termasuk ‘sunan huda’. Jika seandainya kalian menunaikan shalat di rumah seperti yang dikerjakan oleh orang yang meninggalkan (shalat jamaah) di rumahnya sungguh kamu telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian tersesat. Setahuku, dahulu tidak ada orang yang meninggalkan shalat jamaah kecuali orang munafik yang sudah jelas kemunafikannya atau orang yang sakit. Dahulu ada seseorang yang dibimbing oleh dua orang dan diberdirikan dalam shaf.” Demi mendapatkan keutamaan dan khawatir pada dosa meninggalkannya.

Keutamaan shalat jamaah itu sangat besar seperti yang disebutkan dalam tafsir firman Allah سبحانه و تعالي.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (sesudah Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (QS. Al-Anbiya’: 105)

Mereka itu adalah orang-orang yang mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah.

Firman Allah سبحانه و تعالي:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

“Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin : 12)

Maksud dari ‘bekas-bekas yang mereka tinggalkan’ adalah langkah-langkah mereka.

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu fardlu dari far dlu-far dlu shalat yang telah diwajibkan Allah, maka setiap langkah yang dilangkahkannya akan menghapuskan satu dosanya, dan langkah yang lainnya menaikkan satu derajat”.7

فَإِذَاصَلِّي لَـمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ اعْفِرْلَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ أَولَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Apabila ia selesai shalat, malaikat akan memohonkan ampunan baginya selama ia masih berada di tempat ia shalatnya. Malaikat berkata, “Ya Allah, ampunilah dia! Ya Allah, rahmatilah dia!”. Begitu selama ia tidak mengganggu di situ dan tidak berhadats.”8

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ

“Maukah kalian aku beritahu suatu amal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudlu sampai ke tempat yang sulit, memperbanyak langkah menuju ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya seusai mengerjakan shalat. Itulah ribath (berjaga dalam jihad)! Itulah ribath!”9.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 09

MENINGGALKAN SHALAT JAMAAH LALU MENGERJAKANNYA SENDIRIAN TANPA UDZUR

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه menyampaikan sebuah hadits, bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ ثُمَّ أُحْرِّقَ عَلَي رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عِنِ الْـجَمَاعَةِ بُيُوتَهُمْ

“Aku bermaksud untuk menyuruh seseorang mengimami shalat jamaah ini (menggantikanku) lalu aku pergi membakar rumah-rumah orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah”1

Juga:

لِيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدَعِهِمُ الْجَمَاعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِـهِمْ ثُـمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari perbuatan meninggalkan shalat jamaah, atau nanti Allah benar-benar akan mengunci mati hati mereka, kemudian mereka akan menjadi orang-orang yang lalai.”2

Beliau juga bersabda:

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بـِهـَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَي قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut karena meremehkannya, niscaya Allah akan mengunci mati pintu hatinya.”3

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْـجُمُعَةَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ ضَرَرِ كُتِبَ مُنَافِقا فِيْ دِيْوَانِ لاَيُـمْحَي وَلاَ يُبَدَّلُ

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tanpa halangan dan gangguan, maka ia dicatat sebagai seorang munafik, yang tidak akan dihapus atau diganti.”4

Hafshah رضي الله عنها berkata, “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

رَوَاحُ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُـحْتَلِمٍ

“Pergi menghadiri shalat Jumat adalah wajib atas setiap orang yang sudah dewasa.”5

Marilah kita memohon taufiq kepada Allah untuk semua yang dicintai dan diridlai-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Memberi lagi Maha Pemurah.

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 08

PENEKANAN UNTUK MENGERJAKAN SHALAT ISYA’ DAN SUBUH SECARA BERJAMAAH LEBIH DIBANDING YANG LAIN

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ أَثْقَلُ اَلصَّلَاةِ عَلَى اَلْمُنَافِقِينَ: صَلَاةُ اَلْعِشَاءِ, وَصَلَاةُ اَلْفَجْرِ, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sesungguhnya shalat yang dirasa paling berat oleh orang-orang munafik adalah shalat ‘Isya dan shalat Fajr (Shubuh). Seandainya mereka tahu pahala yang ada pada keduanya niscaya mereka akan mendatangi keduanya walau dengan merangkak.”1

Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata, “Jika ada seseorang di antara kami yang meninggalkan shalat ‘Isya dan Shubuh berjamaah, kami berburuk sangka kepadanya bahwa ia telah menjadi seorang menjadi seorang munafik.”

HIKAYAT

Ubaidullah bin Umar al-Qawaririy berkisah, “Aku belum pernah ketinggalan shalat ‘Isya’ secara berjamaah walau sekali. Suatu malam aku kedatangan tamu. Karenanya aku menyibukkan diri dan ketinggalan shalat Isya’ berjamaah. Aku pun mencoba untuk mencari, mungkin masih ada jamaah ‘Isya’ di seantero masjid kota Bashrah. Namun aku dapati semua orang sudah selesai mengerjakannya dan pintu masjid pun telah dikunci. Aku pulang dan bergumam, “Terdapat suatu hadits yang menyebutkan bahwa shalat jamaah itu lebih utama 27 derajat dibandingkan shalat sendirian. Maka aku pun mengerjakan shalat ‘Isya’ 27 kali.

Aku tidur dan bermimpi, seakan-akan aku bersama suatu kaum yang semuanya menunggang kuda perang. Aku juga menunggang kuda. Kami berpacu. Aku mengendalikan kuda sekencang-kencangnya, tetapi tetap tidak bisa mencapai mereka. Aku memperhatikan salah seorang dari mereka. Ia berkata, ‘Jangan kamu forsir kudamu, sekali-kali kamu tidak akan pernah bisa menyusul kami.’ ‘Mengapa begitu?!, tanyaku. Orang itu menjawab, ‘Karena kami mengerjakan shalat ‘Isya’ berjamaah sedangkan kamu mengerjakan-nya sendirian.’ Lalu aku terbangun dan diliputi rasa sedih dan sesal tiada tara.

Marilah kita momohon ma’unah (pertolongan) dan taufiq kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 07

PASAL: HUKUM MENINGGALKAN SHALAT JAMAAH BAGI YANG TIDAK BERHALANGAN

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, bagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera. (QS. Al-Qalam: 42-43)

Ini kejadian pada hari kiamat. Mereka diliputi penyesa’an. Dulu di dunia mereka telah diseru untuk bersujud.

Ibrahim At-Taimiy رحمه الله berkata, “Maksud dari ayat di atas adalah diseru kepada shalat wajib dengan adzan dan iqamah.”

Sa’id bin Musayyib رحمه الله berkata, “Mereka mendengar panggilan ‘Mari mengerjakan shalat! Mari menuju kemenangan!’, namun mereka tidak menjawab panggilan itu, padahal mereka dalam keadaan sehat sejahtera.”

Ka’ab al-Ahbar رحمه الله berkata, “Demi Allah, ayat ini tidak turun kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan shalat jamaah. Nah, ancaman apa yang lebih dahsyat bagi orang yang meninggalkan shalat jamaah padahal ia mampu mengerjakannya selain ayat ini?

Adapun dari sunnah, Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم jgg bersabda, “Sungguh aku hampir saja memerintahkan untuk shalat diiqamati, lalu aku perintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang. Sedang aku dan beberapa orang lagi pergi sambil membawa seonggok kayu bakar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat jamaah.”1 Tentunya mereka tidak diancam dengan pembakaran rumah -padahal di sana ada anak-anak dan harta kekayaan- kecuali karena mereka meninggalkan perkara yang wajib.”

Dalam kitab Shahih Muslim disebutkan, seorang buta menemui Nabi berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak punya orang yang menuntunku ke masjid.” Lalu ia meminta keringanan untuk diperbolehkan mengerjakan shalat di rumah. Rasulullah-pun mengizinkan. Tetapi ketika orang itu undur diri, beliau memanggilnya, “Apakah kamu mendengar seruan untuk shalat (adzan)?” Laki-laki itu menjawab, “Ya”, “Jika demikian jawablah seruan itu!”, sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم.2

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari Amru bin Ummi Maktum, bahwa ia menemui Nabi ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah ini banyak binatang berbisa dan binatang buasnya. Padahal aku ini rusak penglihatanku dan jauh rumahku. Aku punya penuntun jalan tapi aku tidak cocok dengannya. Apakah ada keringanan bagiku untuk mengerjakan shalat di rumah?” “Apakah kamu mendengar adzan?”, tanya Rasulullah. “Ya”, jawab orang itu. Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “jika demikian jawablah seruan itu. Aku tidak mendapatkan keringanan bagimu.” 3

Seorang lelaki buta telah mengadukan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi selama berjalan menuju masjid. Bahkan ia tidak punya orang yang menuntunnya. Meski begitu, Nabi صلي الله عليه وسلم tetap tidak memberi keringanan baginya untuk mengerjakan shalat di rumah. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang sehat penglihatannya sejahtera tanpa ada udzur?

Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mendengar muadzin padahal tidak ada udzur untuk mendatanginya ..” Seseorang menyela, “Apakah udzur itu wahai Rasulullah صلي الله عليه وسلم?” Beliau bersabda, “Yaitu takut atau sakit. Shalat yang ia kerjakan tidaklah diterima.”4 Maksudnya shalat yang dikerjakan di rumah.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, “Tidak ada shalat bagi tetangga masjid kecuali di masjid.” Seseorang bertanya, “Siapakah tetangga masjid itu?” Yaitu orang-orang yang mendengar adzan.”5

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata, “Barangsiapa senang untuk berjumpa dengan Allah esok hari -hari kiamat- sebagai seorang muslim hendaklah menjaga shalat lima waktu setiap kali terdengar panggilan untuk mengerjakannya. Sesungguhnya Allah mensyariatkan sunnah petunjuk (sunanul huda) bagi Nabi kalian. Dan shalat jamaah itu termasuk salah satunya. Andaikata kalian mengerjakan shalat di rumah seperti shalatnya orang yang ketinggalan di rumahnya berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, jika kalian meninggalkan sunnahnya niscaya kalian tersesat. Kalian semua telah melihat, tidak seorangpun di antara kita meninggalkan jamaah kecuali ia adalah seorang munafik yang tampak kemunafikannya atau seorang yang sakit. Sungguh telah ada seseorang yang dipapah oleh dua orang, diberdirikan di shaf atau diantar sampai ke masjid untuk dapat mengerjakan shalat berjamaah.6

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang lelaki yang telah lumpuh. Begitupun ia keluar untuk mengerjakan shalat jamaah dengan dipapah oleh dua orang. Seseorang berkata, “Wahai Abu Muhammad, Anda termasuk yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk mengerjakan shalat di rumah. Anda mempunyai udzur.” “Benar apa yang kalian katakan.” jawab Rabi’. “Tetapi aku mendengar muadzin menyeru, ‘Mari menuju shalat. Mari menuju kemenangan.’ Barangsiapa mampu menjawab seruan itu hendaklah memenuhinya, walau harus merangkak.”7

Hatim al-Asham menuturkan, “Sekali saja aku tidak mengerjakan shalat berjamaah. Abu Ishaq al-Bukhari mendatangiku, berta’ziah. Hanya dia seorang. Padahal seandainya salah satu anakku meninggal, pastilah lebih dari sepuluh ribu orang berta’ziyah ke rumahku. Yah, bagi kebanyakan orang musibah dien memang lebih ringan dari pada musibah dunia.”

Sebagian salaf berkata, “Tidaklah seseorang itu kehilangan kesempatan untuk shalat berjamaah kecuali karena dosa yang telah dikerjakannya.”

Ibnu Umar رضي الله عنهما mengisahkan, “Suatu hari Umar رضي الله عنه pergi ke kebun kurma. Sepulang darinya orang-orang sudah mengerjakan shalat Ashar (berjamaah). Umar pun berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku ketinggalan shalat jamaah. Saksikanlah bahwa kebun kurmaku aku jadikan sedekah bagi orang-orang miskin, semoga menjadi kaffarah atas apa yang dilakukan Umar”.

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 06

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT TANPA TUMAKNINAH

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. (Al-Ma’un: 4-5)

Diriwayatkan, tafsir dari ayat di atas adalah orang yang mengerjakan shalat secepat kilat, tanpa menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan, seseorang memasuki masjid dikala Rasulullah صلي الله عليه وسلم, sedang duduk di sana. Orang itu mengerjakan shalat lalu menghampiri Nabi dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi menjawab salam lalu berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya. Maka orang itu pun kembali mengerjakan shalat seperti yang telah dikerjakannya. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi Beliau menjawabnya lalu berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Orang itu pun kembali mengerjakannya seperti semula. Kemudian ia kembali dan mengucapkan salam kepada Nabi Beliau menjawabnya dan berkata, “Kembali kerjakanlah shalat. Sesungguhnya kamu tadi belum mengerjakannya.” Beliau mengulanginya tiga kali. Mendengar itu orang tadi berkata, “Demi (Allah) yang mengutusmu dengan kebenaran wahai Rasulullah, aku tidak bisa mengerjakan shalat yang lebih baik dari yang sudah aku kerjakan tadi. Karenanya ajarilah aku.” Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُـمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika kamu berdiri untuk mengerjakan shalat, bertakbirlah. Lalu bacalah beberapa ayat al-Qur’an sebisamu, lalu rukulah dengan tumakninah. Lalu angkatlah sampai kamu benar-benar berdiri tegak (I’tidal). Lalu sujudlah dengan tumakninah. Lalu duduklah dengan tumakninah. Lalu sujudlah dengan tumakninah. Demikian ini kerjakanlah dalam setiap (rakaat) shalatmu.”1

Al-Badriy رضي الله عنه meriwayatkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

“Tidak akan diberi pahala shalat seseorang yang tulang belakangnya tidak diluruskan ketika ruku.” (Hadits riwayat Imam Ahmad)

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Pada riwayat yang lain, “… sehingga ia meluruskan punggungnya ketika ruku’ dan sujud.”2

Inilah nash dari Nabi صلي الله عليه وسلم Barangsiapa tidak meluruskan punggungnya setelah ruku’ dan sujud seperti sediakala, maka shalatnya batal. Ini berlaku untuk shalat fardlu. Adapun tumakninah adalah ketika setiap tulang mengambil posisi masing-masing.

Diriwayatkan pula bahwa beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

“Manusia yang paling buruk perbuatan mencurinya adalah orang yang mencuri shalatnya.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah صلي الله عليه وسلم, bagaimanakah seseorang itu mencuri shalatnya?” “Yaitu tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.”, jawab Nabi.”3

Abu Hurairah رضي الله عنه mengabarkan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى صَلَاةِ رَجُلٍ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ

“Allah tidak akan melihat kepada seseorang yang tidak menegakkan tulang belakangnya di antara ruku’ dan sujudnya.”4

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“Inilah shalat seorang munafik. Duduk menunggu matahari sampai ketika ia berada di antara dua tanduk setan (hampir tenggelam) orang itu pun berdiri lalu shalat secepat kilat sebanyak empat rekaat. Dia tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit dalam mengerjakannya.”5

Abu Musa رضي الله عنه meriwayatkan, suatu hari Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengerjakan shalat bersama para sahabat, lalu beliau duduk. Seseorang datang, berdiri mengerjakan shalat. Ia ruku’ dan sujud seperti mematuk (karena cepat). Maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda, “Lihatlah itu! Seandainya dia mati, sungguh dia mati bukan di atas millah Muhammad. Dia mematuk shalatnya seperti seekor gagak meminum darah.”6

Dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersujud, hendaklah meletakkan wajahnya, hidungnya, dan tangannya di atas tanah. Karena Allah Ta’ala memerintahkan supaya bersujud dengan tujuh anggota badan: kening, hidung, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung telapak kaki, dan supaya tidak menahan rambut atau pakaian. Barangsiapa shalat dengan tidak memberikan kepada setiap bagian tubuh tersebut haknya, maka bagian tubuh itu akan melaknatnya sampai dia selesai dan shalatnya.” 7

Suatu ketika Hudzaifah bin Yaman melihat seseorang mengerjakan shalat, namun tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Hudzaifah pun menyapanya, “Kamu belum shalat. Andaisaja kamu mati padahal shalatmu seperti itu, sungguh kamu mati di atas selain fitrah Muhammad ” 8

Dalam riwayat Abu Dawud, Hudzaifah رضي الله عنه bertanya, “Sejak kapan kamu mengerjakan shalat seperti yang kulihat tadi?” “Sejak empat putuh tahun yang lalu.”, jawab orang itu. Lalu Hudzaifah berkata, “Selama empat puluh tahun ini kamu tidak shalat sama sekali. Dan jika kamu mati, kamu mati di atas selain fitrah Muhammad.”9

Hasan al-Bashriy رحمه الله bertutur, “Wahai anak Adam apalagi yang kamu baggakan dari dienmu jika shalatmu sudah kamu sepelekan? Padahal, tentang shalat itulah pertanyaan pertama yang diajukan kepadamu pada hari kiamat nanti- Nabi bersabda, “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika kurang, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” Dan bilamana amalan fardlu itu kurang sempurna Allah berfirman, “Lihatlah, apakah hambaKu memiliki amalan sunnah untuk melengkapinya?” Demikian sampai habis seluruh amalnya.”10

Maka, seorang hamba itu mestinya memperbanyak amalan sunnah untuk menyempurnakan amalan yang wajib. Dari Allah taufiq itu datang.

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 05

HUKUM MENINGGALKAN SHALAT

Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan hukum orang yang meninggalkan shalat. Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat hukum orang yang meninggalkan shalat adalah dipancung dengan sebilah pedang. Selanjutnya mereka berbeda pendapat tentang kekafirannya jika ia meninggalkannya tanpa ada udzur sehingga lewat waktunya. Ibrahim an-Nakha’iy, Ayyub as-Sikhtiyaniy, Abdullah bin Mubarak, Ahmad bin Hambal, dan Ishaq bin Rahuyah menyatakan bahwa ia kafir. Mereka berhujjah dengan sabda Nabi “Ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.”1 Juga sabda beliau, “Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” 2

Ibnu Abbas berkata, “Pada hari kiamat nanti, didatangkan seseorang dan dihadapkan kepada Allah. Allah memerintahkannya untuk masuk neraka. Tapi orang itu bertanya, “Wahai Rabbku, mengapa?” Dan Allah pun menjawab, “Untuk penundaan shalat dari waktunya dan sumpah palsumu atas nama-Ku.”1

Pada suatu hari Rasulullah صلي الله عليه وسلم berdo’a di tengah-tengah para sahabatnya, “Ya Allah, janganlah Engkau sisakan di antara kami orang yang ‘sengsara lagi terhalangi’.” Lalu beliau melanjutkan, “Tahukah kalian siapakah orang yang sengsara lagi terhalangi itu?” Para sahabat balik bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang meninggalkan shalat.”2

Diriwayatkan bahwa wajah yang pertama kali dikelamkan pada hari kiamat adalah wajah orang-orang yang meninggalkan shalat. Juga bahwa di neraka Jahannam ada suatu lembah yang disebut ‘al-Malham. Di situ ada ular banyak sekali. Ukurannya sebesar leher unta. Panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Ular-ular itu mematuk orang yang meninggalkan shalat. Bisanya akan merusak tubuh orang yang meninggalkan shalat selama 70 tahun sebelum selanjutnya daging-dagingnya membusuk.

HIKAYAT

Ada sebuah kisah, seorang perempuan dari Bani Israil menghadap Musa عليه السلام, berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan, satu dosa besar. Tapi aku telah bertaubat kepada Allah. Untuk itu sudilah kiranya engkau memohon kepada Allah agar mengampuni dosaku dan menerima taubatku.” Maka Musa pun bertanya, ‘Apakah dosa yang telah kamu lakukan itu?” Wanita itu menjawab, “Wahai Nabi Allah, sungguh aku telah berzina, melahirkan anak haram, lalu membunuhnya.” Musa berkata lagi, “Pergi jauhlah wahai pendosa! Jangan sampai api dari langit menyambar kami gara-gara dosa yang telah kamu lakukan itu!” Wanita itu pun meninggalkan Musa membawa hati yang hancur. Lalu Jibril mendatangi Musa dan berkata, Wahai Musa, Rabb bertanya kepadamu, “Mengapa kamu menolak seorang wanita yang telah bertaubat, wahai Musa? Apakah kamu sudah tidak mendapati yang lebih buruk darinya?” Musa balik bertanya, “Wahai Jibril, apakah yang lebih buruk darinya?” “Meninggalkan shalat dengan sengaja, jawab Jibril.

Marilah kita memohon pertolongan kepada Allah agar kita selalu dapat menjaga shalat pada waktunya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 04

PASAL: MENGAJARKAN SHALAT KEPADA ANAK-ANAK

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk shalat jika mereka telah mencapai umur tujuh tahun. Dan jika telah berumur sepuluh tahun pukullah dia jika meninggalkannya.”1

Dalam riwayat yang lain:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur diantara mereka.”2

Imam Abu Sulaiman al-Khaththabiy رحمه الله berkata, “Hadits ini menunjukkan betapa beratnya hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat jika telah mencapai akil balighnya.”

Sebagian sahabat Imam Syafi’i berhujjah dengan hadits ini dalam kaitannya dengan kewajiban membunuhnya, jika ia meninggalkannya dengan sengaja setelah baligh. Mereka berkata, “Jika ia boleh dipukul padahal belum baligh, maka ini menunjukkan bahwa setelah baligh nanti ia harus dikenai hukuman yang lebih berat darinya. Padahal tidak ada hukuman yang lebih berat setelah pukulan selain dibunuh.”

——————————————————————————–

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 03

MENINGGALKAN SHALAT

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً. إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh (QS. Maryam: 59-60)

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.”1

Imam para tabi’in, Sa’id bin Musayyib رحمه الله berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan shalat Zhuhur sehingga datang waktu Ashar. Tidak mengerjakan shalat Ashar sehingga datang Maghrib. Tidak shalat Maghrib sampai datang ‘Isya’. Tidak shalat ‘Isya’ sampai fajar menjelang. Tidak shalat Shubuh sampai matahari terbit. Barangsiapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertaubat, Allah menjanjikan baginya ‘Ghayy’, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”

Di tempat yang lain Allah سبحانه و تعالي berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan shalatnya. (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan shalat.

Sa’ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم. tentang orang-orang yang lupa akan shalatnya. Beliau menjawab, ‘Yaitu pengakhiran waktunya.”2

Mereka disebut orang-orang yang shalat. Namun ketika mereka meremekan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan ‘wail’, adzab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa ‘wail’ adalah sebuah lembah di neraka jahannam, jika gunung-gunung yang ada di dunia ini dimasukkan ke sana niscaya akan melelehlah semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi or-ang-orang yang meremehkan shalat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali orang-orang yang bertaubat kepada Allah ta’ala dan menyesal atas kelalaiannya.

Di ayat yang lain Allah سبحانه و تعالي berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Para mufassir menjelaskan, “Maksud ‘mengingat Allah’ dalam ayat ini adalah shalat lima waktu. Maka barangsiapa disibukkan oleh harta perniagaannya, kehidupan dunianya, sawah-ladangnya, dan anak-anaknya dari mengerjakan shalat pada waktunya, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.” Demikian, dan Nabi pun telah bersabda:

أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنَّ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرِ

“Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.”3

Berkenaan dengan penghuni neraka Allah سبحانه و تعالي berfirman,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ. وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ. فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian’.Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddatstsir: 42-48)

Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ الْعَهْدَ الَّذَي بَيْنَنَاوَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ،فَمَنْ تَرَكَهَافَقَدْكَفَرَ

“Sesungguhnya ikatan (pembeda) antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka telah kafirlah ia.”4

Beliau صلي الله عليه وسلم juga bersabda:

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Batas antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”5

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga bersabda:

مَنْ فَاتَتْهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa tidak mengerjakan shalat Ashar, terhapuslah amalnya.”6

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh telah lepaslah jaminan dari Allah.”7

Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Laa Ilaaha illallah’ (Tiada yang berhak diibadahi selain Allah) dan mengerjakan shalat serta membayar zakat. Jika mereka telah memenuhinya maka darah dan hartanya aku lindungi kecuali dengan haknya. Adapun hisabnya maka itu kepada Allah.”8

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَـمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَـمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa menjaganya maka ia akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari kiamat nanti. Sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak akan memiliki cahaya, bukti, dan keselamatan pada hari itu. Pada hari itu ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf”9

Umar bin Khathab رضي الله عنه berkata, “Sesungguhnya tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyiakan shalat.”10

Sebagian ulama berkata, “Bahwasanya orang yang meninggalkan shalat dikumpulkan dengan empat orang itu karena ia telah menyibukkan diri dengan harta, kekuasaan, pangkat/ jabatan, dan perniagaannya dari shalat. Jika ia disibukkan dengan hartanya ia akan dikumpulkan bersama Qarun. Jika ia disibukkan dengan kekuasaannya ia akan dikumpulkan dengan Fir’aun. Jika ia disibukkan dengan pangkat/ jabatannya ia akan dikumpulkan bersama Haman. Dan jika ia disibukkan dengan perniagaannya akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf, seorang pedagang yang kafir di Mekah saat itu.”

Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه meriwayatkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ

“Barangsiapa meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, telah lepas darinya jaminan dari Allah,”11

Kala Umar رضي الله عنه terluka karena tusukan seseorang mengatakan, “Anda tetap ingin mengerjakan shalat, wahai Amirul Mukminin?” “Ya, dan sungguh tidak ada tempat dalam Islam bagi yang menyia-nyialan shalat.”, jawabnya.12 Lalu ia pun mengerjakan shalat meski dari lukanya mengalir darah13 yang cukup banyak.

Abdullah bin Syaqiq -seorang tabiin- menuturkan, “Tidak ada satu amalan pun yang meninggalkannya dianggap kufur oleh para sahabat selain shalat.”14

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah ditanya tentang seorang wanita yang tidak shalat, menjawab, “Barangsiapa tidak shalat telah kafirlah ia.”15

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Barangsiapa tidak shalat maka ia tidak mempunyai dien.”16

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata, “Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja niscaya akan menghadap Allah yang dalam keadaan murka kepadanya.”17

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda,

“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan shalat, Dia tidak akan mempedulikan suatu kebaikan pun darinya.”18

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada dosa yang lebih besar sesudah syirik selain mengakhirkan shalat dari waktunya dan membunuh seorang mukmin bukan dengan haknya.”

Ibrahim an-Nakha’iy رحمه الله berujar, “Barangsiapa meninggalkan shalat maka telah kafir.” Hal senada diungkapkan oleh Ayyub as-Sikhtiyaniy رحمه الله.

‘Aun bin Abdullah رحمه الله berkata, “Apabila seorang hamba dimasukkan kedalam kuburnya, ia akan ditanya tentang shalat sebagai sesuatu yang pertama kali ditanyakan, jika baik barulah amal-amalnya yang lain dilihat. Sebaliknya jika tidak baik, tidak ada satu amalan pun yang dilihat (dianggap tidak baik semuanya).”

Marilah kita memohon taufiq dan i’anah kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pemurah dan Maha Pengasih diantara mereka yang mengasihi.

——————————————————————————–

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 02

BIOGRAFI IMAM ADZ-DZAHABI

Beliau adalah Syamsuddin Muhammad bin ‘Utsman bin Qaimaz At-Turkmaniy Al-Fariqiy Ad-Dimasyqiy Asy-Syafi’iy yang lebih masyhur dengan Adz-Dzahabi.

Beliau dilahirkan di Damaskus pada tahun 673 H/ 1274 M.

Beliau menuntut ilmu dari para Syaikh di negeri Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau juga mengunjungi berbagai negeri untuk tujuan ini. Beliau memiliki kapabilitas yang tinggi dalam berbagai disiplin ilmu; khususnya qira’at Al-Qur’an dan Hadits. Kenalan-kenalan beliau mengakui hafalan beliau. Beliau digelari dengan ‘Imamul Wujud Hifzhan’ (imamnya semua yang ada dalam hal hafalan), ‘Syaikhul Jarhi wat Ta’dil’ (pakar dalam menilai ketsiqqahan perawi), dan ‘Rajulur Rijdl fi kulli Sabil’ (satu dari seribu orang dalam seluruh disiplin ilmu). Suara beliau terdengar sampai ke ufuk dan para penuntut ilmu dari berbagai negeri pun menimba ilmu dari beliau.

Dalam kitab Mu’jam karya beliau, tercatat seribu tiga ratus syaikh yang darinya beliau sempat mengkaji ilmu dari mereka, juga yang beliau ajari dan beliau bacakan. Di antara mereka adalah para ulama besar yang terkenal dan para pengarang yang ternama.

Semasa hidup, beliau sempat mengayahi beberapa jabatan ilmiah di Damaskus. Namun sejak penglihatan beliau buta pada tahun 741 H. beliau menghentikan diri dari aktivitas ta’lif (menulis buku). Beliau mencukupkan diri dengan mengajar sampai ajal menjelang pada hari ketiga bulan Dzulqa’dah 747 H/ 1348 M. Beliau dimakamkan dipekuburan ‘Al-Bab Ash-Shaghir’ di Damaskus.

Imam adz-Dzahabiy mewariskan karya-karya ilmiah yang agung. Beliau menuliskannya dalam buku-buku beliau yang berjumlah sekitar 90 buah, mencakup bidang hadits, sejarah, biografi, dan sebagainya. Karya terbesar beliau adalah Tarikhul Islam, Siyarul A’lam, Mizanul I’tidal, Al-Musytabah fi Asmd’ir Rijal, Tajridul Ushul fi Ahaditsir rasul, dan masih banyak yang lainnya. Hampir semua kitab beliau tercetak dan tersebar.

Karya-karya Adz-Dzahabi sudah banyak diperbincangkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Mereka juga telah menulis berbagai artikel dan kajian tentang beliau yang dimuat dalam risalah-risalah dan majalah-majalah, baik yang berbahasa Arab maupun yang ber-bahasa asing. Semuanya mengakui ketinggian ilmu dan keutamaamnya. Karya-karya ilmiyah yang diwariskan oleh beliau banyak mendapat pujian dan telah memberi manfaat bagi generasi semasa beliau dan generasi-generasi sesudahnya sampai sekarang.

Kitab Al-Kabair [Dosa-Dosa Besar] merupakan karya beliau yang mula-mula beliau tulis khusus bagi ‘pembaca khusus’. Di dalam kitab ini beliau menampilkan topik-topik yang menarik bagi mereka serta memberi manfaat bagi dien dan dunia mereka. Dengan bahasa yang mudah dipahami, Adz-Dzahabi mampu menjelaskan bagian-bagian yang sulit, yang biasa didapati dalam kitab-kitab ilmiyah yang membahas topik khusus, buah karya para ulama dan para pencari ilmu.

Ungkapan-ungkapan beliau dalam kitab ini laksana petuah seorang ‘wa’izh mursyid’ (pemberi peringatan nan bijak) yang mencitakan kemaslahatan manusia dan meluruskan aqidah serta perilaku mereka. Adz-Dzahabi memaparkan semua pembahasan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, jelas, dan menarik. Beliau menjauhi hal-hal yang rumit, samar, dan dibuat-buat. Maka jadilah kitab ini berguna bagi para khatib, pemberi peringatan, pemberi petuah bagi orang-orang yang lalai dan bingung, serta menjadi teguran bagi ahli maksiat dan orang-orang yang menyimpang. Selain itu ia juga menjadi penuntun bagi orang-orang yang memiliki tekad membaja di dalam menempuh jalan Allah, jalan al-haq, jalan kebenaran.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

[ UIC 11.1 ] – Dosa-Dosa Seputar SHALAT 01

PENGANTAR

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ:

Puji dan syukur kita sanjungkan hanya kepada Allah سبحانه و تعالي, berkat karunia-Nya dapat kami ketengahkan eBook ini yang merupakan penjelasan dosa-dosa besar yang berkaitan dengan shalat. eBook ini gabungan dari tulisan Imam Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i dalam kitab al-Kabair [dosa-dosa besar] dan kitab Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid yang berjudul Dosa-dosa yang Dianggap Biasa.

Adapun yang berasal dari al-Kabair ialah:

Dosa Besar ke-4: Meninggalkan Shalat
Dosa Besar ke-65: Meninggalkan Shalat Jamaah Lalu Mengerjakannya Sendirian Tanpa Udzur
Dosa Besar ke-66: Terus Menerus Meninggalkan Shalat Jum’at Dan Shalat Jamaah Tanpa Halangan
Kami [Ibnu Majjah_pengcompile] membuang semua Hadits, Atsar, Hikayat yang dikatakan oleh pentahqiq akan palsu atau dhaif-nya. Dan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan mengatakan bahwa kitab al-Kabair dalam 2 naskah tulisan tangan bersih dari hadits-hadits palsu dan adanya penjelasan akan cacat atau lemahnya hadits-hadits dhaif.

Sedangkan yang berasal dari Dosa-dosa yang Dianggap Biasa adalah:

Tidak Tuma’ninah Dalam Shalat
Banyak Melakukan Gerakan Sia-sia Dalam Shalat
Mendahului Imam Secara Sengaja
Ketiganya dalam kitab Dosa-dosa yang Dianggap Biasa berada dalam nomor urut ke 6, 7 dan 8.

Hampir semua dosa yang disebutkan kedua penulis adalah hal-hal yang telah banyak dilakukan oleh kaum ‘muslim’ ditimur dan barat, khususnya dinegeri kita ini. Satu hal, bahwa menurut kebanyakan kita bahwa meninggalkan shalat berjama’ah bukanlah dosa, karenanya kami memposting eBook ini dengan judul “Ternyata Meninggalkan Shalat Berjama’ah Adalah Dosa Besar” sebagaimana dikatakan Imam Adz-Dzahabi yang merupakan imam Ahlu Sunnah yang bermadzhab Syafi’i.

Akhirnya, Kami berharap semoga kaum muslimin kembali berbondong-bondong ke Masjid-masjid mereka setiap shalat fardhu dan InsyaAllah bila itu terwujud maka kejayaan akan menghampiri umat ini. Shalawat dan salam kepada nabi kita Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, kepada keluarga dan para shahabatnya serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber