Arsip Kategori: Artikel – Makalah

Kuliah Syariah Online Gratis

Kuliah Syariah Online Gratis

Kuliah Syariah online gratis merupakan program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia karena memang luasnya wilayah dan juga banyaknya masyarakat Islam di Indonesia menjadikan kebutuhan akan tenaga pendidik di bidang agama islam yang sangat banyak.

Oleh sebab itu beberapa kendala dalam rangka penyebaran dakwah Islam di Indonesia adalah minimnya lembaga pendidikan yang berkualitas di daerah-daerah serta kemampuan masyarakat Indonesia dari segi ekonomi masih kurang terutama di pelosok pelosok.

Sehingga program kuliah Syariah online gratis merupakan solusi nyata dalam mengatasi permasalahan-permasalahan dakwah, karena pembelajaran online lebih mudah diakses oleh banyak orang sekaligus apalagi programnya tidak berbayar alias gratis..

Dengan cara tersebut diharapkan semakin banyak orang yang bisa mengakses pembelajaran Islam dengan lebih mudah sehingga akan muncul juru dakwah penyebar agama Islam di wilayah pelosok Indonesia.. Dengan demikian diharapkan masyarakat Indonesia lebih bisa meningkatkan kualitas pendidikan agama Islamnya menjadi lebih baik lagi, ini bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia di kemudian hari.

Kuliah Syariah Online Gratis ini memiliki beberapa kendala diantaranya harus memiliki akses internet yang cukup baik agar pembelajaran bisa dilakukan karena tentu saja sistem online mengharuskan pengguna menggunakan jaringan internet.. Namun demikian sekarang ini banyak fasilitas internet gratis yang disediakan oleh swasta.

Pelajari Mata Kuliah Agama Islam

Mata kuliah agama Islam

Mata kuliah agama Islam haruslah dipenuhi Apabila seseorang sedang menempuh pendidikan atau kuliah jurusan agama Islam,, diperlukan kesabaran dan ketelitian di dalam memahami mata kuliah agama Islam tersebut..

Seperti diketahui bahwa agama Islam adalah ilmu yang berkaitan dengan urusan dunia dan akhirat, oleh karena itu dalam memahami atau melakukan pembelajaran terhadap materi kuliah agama Islam harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh ketelitian serta kesabaran dalam menghapal ataupun mempelajarinya.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kita mempelajari mata kuliah agama Islam Kita juga harus memastikan referensi referensi atau sumber-sumber pembelajaran yang digunakan agar pemahaman dari agama Islam tidak salah atau keliru..

Karena tentu saja banyak golongan golongan atau aliran aliran sesat yang menyebarkan pemahaman sesat nya dengan cara menulis buku-buku agar masyarakat bisa mempelajari ajaran-ajaran yang mereka bawa..

Tentu saja setiap kita tidak menginginkan kerja keras dan kesabaran yang kita lakukan dalam memahami materi materi mata kuliah agama Islam namun ternyata pemahaman tersebut adalah salah yang mengakibatkan kerugian waktu ataupun materi yang kita miliki..

Kuliah Gratis Online Berijazah

Kuliah Gratis Online Berijazah

Kuliah gratis online berijazah bermanfaat dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, karena akan semakin banyak orang bisa meningkatkan kualitas pendidikannya lebih baik lagi.

Hari ini hal ini bisa menjadi sebuah batu loncatan karena akan terjadi percepatan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia secara keseluruhan sehingga dinas Pendidikan berkualitas tidak hanya dinikmati di sebagian daerah saja.

Orang di daerah terpencil bisa dengan mudah mengakses pembelajaran yang disediakan secara gratis sehingga mereka bisa meningkatkan pendidikannya dengan mudah dan orang-orang tersebut bisa mengajarkan kembali kepada masyarakat di sekitarnya.. Kuliah Gratis Online Berijazah

Inilah konsep efektif dalam rangka meningkatkan pendidikan masyarakat Indonesia secara keseluruhan sehingga masing-masing daerah bisa meningkatkan kualitas masyarakatnya mengembangkan potensi di daerahnya.

Perlu adanya tindakan yang nyata baik dari masyarakat ataupun pemerintah dalam penyediaan pendidikan berkualitas yang bisa diakses oleh setiap orang di Indonesia. Kuliah Gratis Online Berijazah

Kuliah Jurusan Agama Islam

Kuliah Jurusan Agama Islam

Kuliah jurusan agama Islam banyak diminati oleh masyarakat yang notabene sebagian besar penduduknya beragama Islam,, oleh karena itu sudah sewajarnya pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan yang berkualitas agar mahasiswa lulusannya bisa memiliki skill dan kompetensi yang baik..

Karena pada saat ini kita bisa menemukan lulusan lulusan dari Universitas Universitas Islam yang ada di Indonesia namun membaca alquran saja kurang baik dan hanya hafal beberapa surat Al Quran saja.. Kuliah Jurusan Agama Islam

Ini tentu saja menjadi PR bagi pemerintah dan masyarakat atau lembaga pendidikan Islam untuk terus meningkatkan kualitas  pendidikannya baik dari segi fasilitas pendidikan maupun tenaga kependidikannya agar mahasiswa atau lulusan nya kelak bisa memiliki  kompetensi tinggi.

lulusannya juga bisa diharapkan bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam sekarang ini, serta bisa turut serta dalam meningkatkan pemahaman agama masyarakat Islam di Indonesia.

lebih Lanjut lulusannya juga bisa secara mandiri mengembangkan dakwah islam ke seluruh penjuru Indonesia sehingga program peningkatan kualitas pemahaman agama umat Islam di Indonesia bisa tercapai..

Jika kualitas pendidikan umat Islam semakin baik maka diharapkan peradaban umat Islam di Indonesia juga memiliki kualitas yang tidak kalah baik dan bisa bersaing didunia internasional yang pada akhirnya bisa memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia.. Kuliah Jurusan Agama Islam

Kuliah Agama Islam Online Gratis

Kuliah agama Islam online gratis

Kuliah agama Islam online gratis cukup banyak diminati karena beberapa Yayasan atau individu memang menawarkan program tersebut dengan kualitas yang cukup baik.. Banyak orang yang tertarik dengan program tersebut dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat katrol kualitas pemahaman agama yang dimilikinya.

Sehingga ketika ada satu lembaga baik lisan ataupun individu menawarkan program kuliah agama Islam online gratis orang orang berbondong-bondong untuk mendaftar dan mempelajari materi materi yang disampaikan.. Kuliah agama Islam online gratis

Materi materi yang disampaikan pun beragam mulai dari dasar-dasar agama islam seperti aqidah maupun materi materi pembelajaran agama Islam lainnya yang saya cukup penting untuk dikuasai.
Namun beberapa kelemahan dari program ini adalah diantaranya banyak orang-orang yang hanya serius di awal pembelajaran nya saja namun ketika program tersebut sudah lama di jalan nih Semangat belajarnya menjadi lemah dan berkurang.

Mungkin hal ini dikarenakan karena program pembelajaran yang gratis serta tidak adanya seksi montok muka yang bisa menambah semangat pembelajaran. Akan tetapi bagi orang-orang yang memang benar-benar serius ingin memperdalam agama Islam maka banyak di antara mereka yang serius mempelajari materi nya Hingga selesai.. Kuliah agama Islam online gratis

Buku bimbingan Islam untuk hidup muslim

Buku bimbingan Islam untuk hidup muslim

Buku bimbingan Islam untuk hidup muslim sangat dibutuhkan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari khususnya bagi umat Islam, karena dengan memiliki buku ini kita bisa tahu apa apa yang harus dilakukan sebagai seorang muslim..

Kita bisa tahu amalan-amalan yang bisa dilakukan sehingga tersebut tentu saja peluang untuk mendapatkan pahala jauh lebih besar.. Buku bimbingan Islam untuk hidup muslim

Kita juga bisa mengetahui larangan-larangan di dalam agama Islam agar kita bisa menjauhi larangan-larangan tersebut sehingga tidak terjerumus kedalam dosa.. Orang karena itu sangat disarankan memiliki buku bimbingan Islam tersebut sebagai bekal di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari karena sebagai seorang muslim yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari adalah sangat berharap.

Orang Islam yang bisa memanfaatkan setiap waktunya menjadi ladang pahala ini merupakan sebaik-baik perkara sehingga orang tersebut bisa Mendulang pahala sebanyak mungkin. Sebaliknya Ketika seseorang di dilakukan untuk mendapatkan pahala dan tidak tahu mana perkara-perkara yang termasuk kedalam dosa maka orang tersebut bisa saja mengalami kerugian di dalam hidupnya.

Oleh karena itu buku bimbingan Islam untuk hidup muslim sangat layak dimiliki oleh setiap umat Islam agar dengan baik. Buku bimbingan Islam untuk hidup muslim

Ini Bimbingan Pranikah Islam

Bimbingan pranikah Islam

Bimbingan pranikah Islam memang dibutuhkan bagi orang-orang yang berencana melangsungkan pernikahan,, hal ini bermanfaat agar ketika menjalani pernikahan telah memiliki pengetahuan yang cukup perihal kehidupan berumah tangga..

Banyak manfaat yang bisa didapat Terutama ketika terjadi masalah di dalam rumah tangga di masa yang akan datang, orang yang memiliki pengetahuan cukup kemungkinan besar akan bisa mengatasi masalah masalah tersebut dengan baik..

Bahkan ketika seseorang telah memiliki pengetahuan seputar pernikahan juga bisa mencegah permasalahan-permasalahan yang bisa saja muncul di kemudian hari sehingga masalah tersebut tidak terjadi.. Bimbingan pranikah Islam

Karena pada dasarnya pernikahan ini telah dijalani oleh banyak orang sebelumnya sehingga apa-apa yang menjadi masalah bagi mereka di dalam rumah tangga bisa dipelajari dan dicarikan solusi ataupun cara mencegahnya.

Di dalam agama Islam pun telah banyak nasehat-nasehat atau ilmu terkait menjalani rumah tangga agar bisa berjalan dengan sesuai harapan,, mulai dari tata cara melangsungkan pernikahan sampai tata cara mendidik anak dan masih banyak lagi yang lainnya..

Oleh karena itu bimbingan pranikah di dalam agama Islam sangatlah penting sebagai bekal bagi seseorang yang akan melangsungkan pernikahan atau menjalani kehidupan berumah tangga agar bisa menjalani hari-hari pernikahan dengan baik..

Belajar Kuliah Islam Online Gratis

Belajar Kuliah Islam Online Gratis

Belajar kuliah Islam online gratis banyak dicari oleh orang-orang yang ingin terus memperdalam agama Islam lebih jauh lagi,,, hal ini dikarenakan pemerataan kualitas pembelajaran agama Islam di seluruh Indonesia masih lah kurang..

Banyak Universitas Universitas Islam yang berkualitas di suatu daerah akan tetapi di sisi lain kita bisa menjumpai daerah-daerah lain yang tidak memiliki Universitas Universitas Islam dengan kualitas unggul.

Inilah yang menyebabkan Banyak umat Islam yang ingin belajar atau kuliah Islam online secara gratis dikarenakan biaya untuk mengakses pembelajaran tersebut juga cukup mahal akan tetapi rata-rata penghasilan umat Islam di daerah-daerah masih minim.. Belajar Kuliah Islam Online Gratis

Kondisi seperti ini disadari oleh beberapa Universitas Universitas Islam yang akhirnya mereka membuka pusat pembelajaran agama Islam secara online yang bahkan bisa diakses secara gratis dan kalaupun membebankan biaya maka biaya tersebut cukup terjangkau atau murah bagi semua kalangan..

Ini salah satu metode pembelajaran yang cukup efektif dalam hal penyebaran atau pemerataan pembelajaran agama Islam ke banyak tempat sekaligus dalam waktu yang relatif singkat,, harapannya ketika suatu saat umat Islam di Indonesia memiliki kualitas keilmuan agama Islam yang lebih baik lagi..

Akan tetapi cara ini sangatlah mengandalkan teknologi internet,, inilah yang harus dipersiapkan para pembelajar agama Islam agar pembelajaran yang dilakukan bisa berjalan maksimal…

Seorang pembelajar yang mengakses pembelajarannya secara online Harusnya bisa menyesuaikan atau mengkondisikan waktunya agar tidak terbuang dengan cuma cuma karena beberapa orang yang mengakses internet cenderung akan membuka banyak situs sekaligus untuk memenuhi rasa ingin tahu yang dimiliki. Belajar Kuliah Islam Online Gratis

Belajar Islam Intensif Dimana..???

Belajar Islam Intensif

Belajar Islam intensif sangat penting untuk dilakukan agar setiap umat Islam bisa memiliki pemahaman agama Islam yang baik, karena memang diperlukan waktu yang khusus atau intensif dan terus-menerus untuk bisa memahami setiap pembelajarannya…

Setiap pembelajaran haruslah dipastikan kualitasnya sehingga pembelajaran menjadi elek lebih efektif dan hasil yang didapat lebih terasa manfaatnya.

Seperti diketahui bahwa ketika kita memahami suatu disiplin ilmu baik itu agama Islam atau ilmu pengetahuan lainnya maka buah dari pemahaman tersebut adalah aktualitas nyata yang bisa dilakukan sehingga manfaat ilmu bisa terasa di kehidupan nyata.

Misalnya ketika kita memahami tata cara shalat di dalam Islam maka ketika kita sudah memahaminya, hal yang harus dilakukan adalah kita mengamalkan dari pemahaman tersebut sehingga apa yang telah kita pelajari bisa bermanfaat dan bisa mendatangkan pahala buat kita. Belajar Islam Intensif

Semakin banyak pemahaman didalam agama Islam yang kita pahami maka semakin besar kemungkinan kita untuk melakukan amalan-amalan Sholeh yang tentu saja pada akhirnya bisa memperbesar peluang kita mendapatkan pahala yang semakin banyak…

Oleh karena itu belajar Islam intensif harus dilakukan bagi setiap muslim Jika menginginkan. pahala yang banyak dari Allah subhanahu wa ta’ala… Belajar Islam Intensif

Belajar Ilmu Agama Islam Harus Dilakukan

Belajar ilmu agama Islam

Belajar ilmu agama Islam adalah usaha yang dilakukan agar kita sebagai umat Islam memiliki kualitas pemahaman agama Islam yang cukup baik sehingga bisa menjalankan tugas sebagai umat Islam dengan baik baik pula.

Banyak amalan-amalan yang bisa kita lakukan apabila kita memiliki pemahaman agama Islam yang baik, sehingga kita bisa mendapatkan pahala lebih banyak pula, inilah salah satu manfaat dari kita yang terus mempelajari agama Islam itu dengan bersugguh-sungguh.. Belajar Ilmu Agama Islam 

Banyak metode pembelajaran yang bisa dilakukan untuk mempelajari agama Islam dari mulai mendownload video pembelajaran ataupun membaca artikel artikel yang berkaitan dengan agama Islam untuk mempelajarinya.

Dengan begitu Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak belajar ilmu agama Islam dengan lebih serius karena pada akhirnya bisa meningkatkan level pengetahuan agama Islam kita masing-masing.

Belajar Fiqih Islam Lebih Baik Lagi

Belajar Fiqih Islam

Belajar Fiqih Islam penting untuk dipahami karena ketika kita akan melakukan sesuatu hal baik itu di dalam ibadah ataupun muamalah sebagai seorang muslim di dalam melakukan aktivitas tersebut ada aturannya.

Misalnya ketika kita akan melakukan ibadah shalat, puasa, zakat dan ibadah lainnya maka agama Islam telah menetapkan aturannya dan itulah disebut dengan fiqih atau hukum-hukum di dalam Islam.

Manfaat apabila kita telah menguasai hukum hukum atau fiqih di dalam agama Islam misalnya ketika kita tahu tata cara sholat dengan baik maka ibadah salat yang kita lakukan bisa diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan mendapatkan pahala.

Sebaliknya ketika kita melakukan suatu ibadah misalkan shalat atau puasa dan tata cara shalat atau ibadah puasa tersebut tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka kemungkinan besar ibadah yang dilakukan tersebut tidak akan diterima.. Belajar Fiqih Islam

Inilah salah satu pentingnya kita sebagai umat Islam mempelajari fiqih atau hukum-hukum di dalam Islam agar kita mengetahui tata cara ibadah yang harus dilakukan sehingga kita bisa mendapatkan pahala dari apa yang dilakukan tersebut.. Belajar Fiqih Islam

Dengan memahami Fiqih Islam atau hukum-hukum yang ada di dalam agama Islam Kita juga bisa mengetahui banyak amalan-amalan lainnya yang bisa dikerjakan dan mendatangkan pahala bagi kita, Tentu saja Ini bisa menjadi ladang pahala yang besar buat kita.

Juga apabila kita memahami Fiqih Islam secara menyeluruh Kita juga bisa mengetahui apa apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan apa-apa yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam agar kita tidak terjerumus melakukan hal-hal yang diharamkan tersebut. Belajar Fiqih Islam

Ceramah Agama Islam Berqualitas

Ceramah Agama Islam

Ceramah agama Islam harus dilakukan oleh seseorang yang ingin terjun di dunia dakwah karena metode ceramah sangat penting untuk dikuasai agar ceramah yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh audiens.

Beberapa macam teknik atau metode ceramah bisa kita pelajari seperti cara membuka kajian atau ceramah, cara menarik perhatian audiens Bagaimana menyajikan materi yang bermanfaat dan tersusun dengan rapi.

Materi ceramah dan susunan yang akan disampaikan ini harus diperhatikan karena materi ceramah yang berkualitas namun susunannya acak-acakan tidak tertata dengan rapi maka akan mengurangi tingkat penerimaan dari audiens. Ceramah Agama Islam

Oleh karena itu materi ceramah yang tersusun dengan rapi sistematis akan lebih mudah dipahami sehingga tingkat penerimaan materi bisa lebih maksimal, tentu saja Ini Membutuhkan waktu belajar yang cukup lama..

Oleh karena itu seorang Dai atau ustadz yang ingin terjun lebih serius ke dalam dunia dakwah harus mempelajari metode ceramah dengan baik agar materi materi yang disampaikan bisa bermanfaat dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Ceramah Agama Islam

Belajar Agama Islam Lebih Mendalam

Belajar agama Islam lebih mendalam

Belajar agama Islam lebih mendalam harus dilakukan ketika seseorang Penganut Agama Islam merasa dirinya memiliki pengetahuan keilmuan Islam yang minim karena sebagai seorang umat Islam pasti dia membutuhkan banyak informasi atau pengetahuan tentang apa apa yang di harus dilakukan untuk terus mendapatkan pahala dan menjauh dari dosa.

Di dalam agama Islam semua pemeluknya dijanjikan akan memasuki surga Apabila mereka memiliki pahala yang lebih banyak dibandingkan dosa sehingga ini yang membuat umat Islam berlomba-lomba berbuat kebaikan baik itu terhadap sesama manusia ataupun beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Belajar agama Islam lebih mendalam

Akan tetapi mengetahui apa-apa saja yang membuat kita mendapatkan pahala dan apa-apa saja yang membuat kita mendapatkan dosa diperlukan ilmu pengetahuan yang cukup mempelajari atau belajar agama Islam lebih mendalam bisa membuat kita mengetahui hal-hal yang mendatangkan pahala atau mendatangkan dosa.

Dibutuhkan kesabaran dan kesungguhan di dalam setiap proses memahami pembelajaran yang banyak di dalam agama Islam, sampai pada akhirnya kita bisa memahami cukup banyak dan akhirnya kita bisa mengambil manfaat dari ilmu tersebut. Belajar agama Islam lebih mendalam

Belajar Agama Islam Untuk Pemula

Belajar Agama Islam Untuk Pemula

Belajar agama Islam untuk pemula harus dilakukan bagi orang-orang yang baru memeluk Islam atau mualaf,, tak terkecuali juga untuk orang-orang yang sudah lama memeluk Islam akan tetapi belum memahami pondasi agama Islam dengan baik.

Seseorang yang akan belajar agama Islam dari awal harus mengetahui tahapan-tahapan dalam mempelajari agama Islam dimulai dengan hal-hal yang bersifat fundamental seperti tauhid atau akidah hingga hal-hal yang bersifat cabang. Belajar Agama Islam Untuk Pemula

Referensi dari sumber yang kredibel harus menjadi rujukan tempat mempelajari agama Islam bagi pemula agar ilmu yang didapat bisa membuat dia benar-benar mengenal Islam lebih jauh..
Sudah banyak kasus ketika orang-orang salah dalam mengambil rujukan pembelajaran agama Islam yang akhirnya bisa menyesatkan bagi orang-orang tersebut.

Padahal tidak sedikit di antara mereka yang sungguh-sungguh ingin mempelajari agama Islam akan tetapi sangat disayangkan mereka mendapatkan referensi pembelajaran Islam yang salah. Belajar Agama Islam Untuk Pemula

Karena di dalam mempelajari sesuatu hal termasuk agama Islam semangat belajar saja tidak cukup akan tetapi harus teliti dan hati-hati di dalam memilih referensi pembelajaran yang akan dilakukan..

Ini Referensi Belajar aqidah

Belajar aqidah

Belajar aqidah bagi umat Islam merupakan hal yang paling penting seseorang yang memiliki aqidah lurus sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam hidupnya akan selamat di dunia dan di akhirat.

Aqidah yang benar merupakan salah satu syarat utama untuk seseorang bisa memasuki surga di akhirat kelak, orang-orang yang sangat rajin beribadah akan tetapi mereka memiliki aqidah yang tidak benar maka ini bisa membahayakan posisi mereka di akhirat.

Ketika akan belajar akidah maka kita harus benar-benar memperhatikan harapan yang sering prinsip pembelajaran yang akan dipelajari agar kita tidak terjerumus ke dalam aqidah yang sesat.
Kita harus benar-benar selektif dalam memilih guru ibuku pembelajarannya mengingat pentingnya pemahaman atau ilmu seputar aqidah di dalam agama Islam. Belajar aqidah

Dalam memilih referensi belajar aqidah mengutamakan seseorang yang hanya bermodalkan pintar ngomong saja tetapi kita harus telusuri Bagaimana akhlak pendidikannya serta Bagaimana akhlak dari ustad atau Dai tersebut,, jangan sampai kita terjerumus ke dalam aqidah yang sehat hanya karena tidak terpengaruh oleh gaya bicara dari seseorang yang hanya bermodalkan gaya bicara saja tanpa penemu seputar aqidah yang benar. Belajar aqidah

Belajar Agama Islam Online Terbaik..

Belajar agama Islam Online

Belajar agama Islam Online memang memudahkan bagi sebagian orang yang serius mempelajari lebih dalam pengetahuan seputar agama Islam, karena sistem pembelajaran online bisa diakses oleh banyak orang sekaligus tanpa terbatas tempat dan waktu.

Bayangkan Ketika seseorang memposting suatu materi tentang agama Islam di dalam suatu situs web baik itu berupa artikel ataupun audio bahkan video maka dalam beberapa saat kemudian Semua orang bisa langsung mengakses pembelajaran tersebut.

Hal ini Tentu saja sangat memudahkan terutama untuk orang-orang yang memang sangat ingin mempelajarai lebih dalam tentang ilmu agama Islam, karena dengan belajar agama Islam secara online orang-orang bisa mengakses pembelajaran tersebut dengan mudah. Belajar agama Islam Online

Di zaman ini sudah sangat banyak website-website yang menyediakan pembelajaran agama Islam secara online dengan kualitas yang baik dan media media pembelajaran beragam, ini merupakan salah satu nikmat yang sangat besar bagi umat Islam terutama bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin memperdalam pengetahuan di bidang agama Islam.

universitasislam.com

Belajar Agama Islam Dari Awal

Belajar Agama Islam Dari Awal

Belajar agama Islam dari awal atau sering juga disebut dengan belajar agama Islam dari nol adalah salah satu hal yang harus dilakukan bagi mereka bisa memahami agama Islam dengan baik karena kebanyakan orang Islam masih mengenal bagaimana islam hanya sebatas luarnya saja tidak mendetail secara keseluruhan.

Untuk itu mencari tempat belajar agama Islam dari nol atau dari awal harus dilakukan untuk bisa mendapatkan ilmu seputar agama Islam secara menyeluruh, setelah mendapatkan pembelajaran tersebut maka orang tersebut selanjutnya adalah tinggal mempelajarinya dengan sungguh-sungguh sabar dan pantang menyerah.

Ketika kita ingin memahami sesuatu hal termasuk ilmu tentang agama Islam dari awal maka kita tidak bisa main-main dalam melaksanakannya, dibutuhkan komitmen dan kerja keras serta kesabaran saat menjalankannya karena mempelajari agama Islam yang merupakan salah satu ilmu dengan detail yang  sangat banyak. belajar islam dari nol

Setiap cabang ilmu di dalam agama Islam memiliki cabang-cabang lain atau detaile yang harus dipahami, ketika kita hanya memahami bagian-bagian tertentu saja maka kemungkinan kita akan mendapatkan salah paham tentang materi tersebut atau tentang agama Islam secara keseluruhan.Belajar agama Islam dari awal

Bayangkan ketika kita mempelajari sesuatu hal untuk urusan dunia saja maka kita berusaha mempelajarinya dengan sungguh-sungguh Apalagi kita akan mempelajari materi materi agama Islam yang notabene bukan sekedar urusan dunia saja tetapi juga urusan akhirat kita di mana kehidupan di akhirat adalah kekal tidak seperti di dunia. belajar islam dari awal

UniversitasIslam.com berusaha menyajikan pembelajaran agama Islam dari awal yang bisa dilakukan atau dipelajari oleh semua orang dari semua kalangan termasuk orang-orang yang baru masuk Islam atau mualaf sekalipun. Belajar agama Islam dari awal

Mulai belajar KLIK DISINI…

 

Belajar Agama Islam Bagi Mualaf

Belajar Agama Islam Bagi Mualaf

Belajar Agama Islam Bagi Mualaf memang dibutuhkan bagi seseorang yang baru saja masuk atau memeluk agam islam, akan tetapi cukup banyaknya website agama islam sering kali membuat bingun bagi saudara-saudara kita yang baru saja memeluk islam, mereka seperti tidak mengatahui dari mana harus belajar dan apa saja yang harus dipelajari.

Akan tetapi hal tersebut memang lumrah dan termasuk hal yang wajar dikarenakan hampir setiap hal apabila kita baru mengenal hal tersebut pastilah akan mengalami kebingungan dan membutuhkan tempat untuk bertanya.

Oleh karena itu sebaiknya kita mendapatkan informasi sebanyak mungkin tak terkecuali informasi tentang Belajar Agama Islam Bagi Mualaf untuk mendapatkan pembelajaran yang akurat.
Kenapa demikian? Dikarenakan banyak pembelajaran atau termasuk juga buku-buku pembelajaran Islam yang Ternyata isinya tidak mencerminkan agama Islam itu sendiri, banyak diantara referensi pembelajaran tersebut menanamkan paham paham sesat bahkan extrem.

Karena itu kita harus benar-benar memilih preferensi pembelajaran yang tidak hanya baik tapi juga Memang mencerminkan nilai-nilai ajaran islam yang benar sesuai dengan pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Diantara situs-situs pembelajaran Islam bagi mualaf adalah situs UniversitasIslam.com yang memberikan pembelajaran dari dasar sampai tingkat menengah di UniversitasIslam.com para mualaf atau orang yang baru memeluk Islam bisa mendapatkan pembelajaran secara menyeluruh dari mulai dasar-dasarnya hingga pembelajaran ke tingkat yang lebih tinggi, Oleh karena itu disarankan bagi para mualaf untuk mengikuti pembelajaran di UniversitasIslam.com
sebaik mungkin dengan penuh kesungguhan dan dedikasi serta niat yang tulus untuk mendapatkan Ridho dari Allah subhanahu wa ta’ala beserta untuk menghilangkan kebodohan yang terkait dengan agama Islam. Belajar islam untuk mualaf

Mulai belajar KLIK DISINI…

 

Agama adalah Nasehat

 عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» ، قلنا: لمن ؟  قال: «لله ولكتابه ولرسوله لأئمة المسلمين وعامتهم » [ رواه مسلمٍ ]

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Derajat Hadits:

Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95.

 Biografi Singkat Perawi Hadits:

Perawi hadits ini, Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berasal dari negeri Palestina, tepatnya di kota Bait al-Lakhm (Betlehem). Meninggal pada tahun 40 H. Beliau termasuk sahabat yang sedikit riwayat haditsnya, di dalam kutub as sittah (Kutub as-Sittah adalah enam buku inti yang menghimpun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, buku-buku itu adalah: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai dan Sunan Ibn Majah) beliau hanya memiliki sembilan hadits saja, di dalam shahih muslim hanya ada satu hadits saja yang beliau riwayatkan, yaitu hadits yang akan kita bahas kali ini, yang mana dia merupakan hadits yang paling masyhur di antara hadits-hadits yang beliau riwayatkan. (Lihat: Siyar A’lam an-Nubala, (II/442-448))

 Kedudukan Hadits Ini:

Hadits ini merupakan salah satu hadits yang sangat agung kedudukannya, karena dia mencakup seluruh ajaran agama Islam, entah itu yang berkaitan dengan hak-hak Allah, hak-hak rasul-Nya maupun hak-hak umat manusia pada umumnya. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 54).

Penjelasan Hadits:

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ»

“Agama itu nasihat.”

Kata ad-dien dalam bahasa Arab mempunyai dua makna:

  1. Pembalasan, contohnya firman Allah ta’ala,مَالِكِ يَوْمِ الدِّيـن Artinya: “Yang menguasai hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah [1]: 4)
  2. Agama, contohnya firman Allah ta’ala, وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَدِيناً Artinya: “Dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Adapun dalam hadits kita ini, yang dimaksud dengan kata ad-dien adalah: agama (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal: 135-136).

Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu yang secara etimologi mengandung dua makna:

  1. Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu.
  2. Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.

Adapun definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.

Dalam memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “agama itu nasihat”, para ulama berbeda pendapat; ada yang mengatakan bahwa semua ajaran agama Islam tanpa terkecuali adalah nasihat. Sebagian ulama yang lain menjelaskan maksud dari hadits ini adalah bahwa sebagian besar ajaran agama Islam terdiri dari nasihat, menurut mereka hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((الدعاء هو العبادة)) [ أبو داود ]

 

“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Dawud (II/109 no. 1479), at-Tirmidzi (V/456 no. 3372) dan Ibnu Majah (V/354 no. 3828), At-Tirmidzi berkata: hadits ini hasan shahih, Ibnu Hajar dalam Fath al Bari, (I/49) berkata, sanadnya jayyid (bagus), Al-Albani berkata: shahih.)

Juga semisal dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

((الحج عرفة)) [ ألترميذي ]

“Haji adalah Arafah.” (HR. At-Tirmidzi (III/228 no. 889), an-Nasai (V/256), Ibnu Majah (IV/477 no. 3015), Ahmad (IV/309) dan Ibn Khuzaimah (IV/257). Al-Albani berkata: shahih.)

Bukan berarti bahwa ibadah dalam agama Islam itu hanya berbentuk doa saja, juga bukan berarti bahwa ritual ibadah haji hanya wukuf di Arafah saja, yang dimaksud dari kedua hadits adalah: menerangkan betapa pentingnya kedudukan dua macam ibadah tersebut.

Akan tetapi jika kita amati dengan seksama hal-hal yang memiliki hak untuk mendapatkan nasihat -yang disebutkan dalam hadits ini- akan kita dapati bahwa betul-betul ajaran agama Islam semuanya adalah nasihat, tanpa terkecuali. Entah itu yang berkenaan dengan akidah, ibadah, maupun muamalah. (Lihat: Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 54-55)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja tidak langsung menjelaskan dari awal siapa saja yang berhak mendapatkan nasihat ini, agar para sahabat sendiri yang bertanya untuk siapakah nasihat itu. Tujuan metode ini -yakni metode melemparkan suatu masalah secara global kemudian setelah itu diperincikan-, adalah agar ilmu tersebut membekas lebih dalam. Hal itu dikarenakan tatkala seseorang mengungkapkan suatu hal secara global, para pendengar akan mengharap-harap perincian hal tersebut, kemudian datanglah perincian itu di saat kondisi jiwa berharap serta menanti-nantikannya, sehingga membekaslah ilmu itu lebih dalam di dalam jiwa. Hal ini berbeda jika perincian suatu ilmu sudah disampaikan kepada pendengar sejak awal pembicaraan. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 136)

قلنا: لِمَـنْ ؟

Kami (para sahabat) bertanya, “Hak siapa nasihat itu wahai Rasulullah?”

Huruf lam dalam perkataan para sahabat لِمنْ fungsinya adalah untuk istihqaq (menerangkan milik atau hak), yang berarti: nasihat ini haknya siapa wahai Rasulullah? (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal 55).

قال: لله ولكتابه ولرسوله لأئمة المسلمين وعامتهم

Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”.

Dalam jawaban beliau ini diterangkan bahwa yang berhak untuk mendapatkan nasihat ada lima:

 Pertama: Nasihat untuk Allah ta’ala

Nasihat untuk Allah ta’ala artinya: menunaikan hak-hak Allah baik itu hak yang wajib maupun yang sunnah (Ibid, lihat pula: Ta’dzim Qadr ash-Shalah, karya Muhammad bin Nashr al-Marwazy, II/691-692).

Hak-hak Allah yang wajib mencakup antara lain:

  1. Beriman terhadap rububiyahAllah ta’ala, yang berarti: meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Rabb segala sesuatu, satu-satunya pencipta, Yang memberi rezeki, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang mendatangkan manfaat dan melindungi dari marabahaya, Yang mengabulkan doa, Yang Maha memiliki dan menguasai segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya (Taisir al- ‘Aziz al-Hamid, oleh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, hal 26). Allah ta’ala berfirman,

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الفتحة : 1]

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 1)

  1. Beriman terhadap uluhiyahAllah ta’ala, yang berarti: mengesakan Allah ta’ala dalam segala macam bentuk ibadah (Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, karya Dr. Shalih al-Fauzan, hal 30). Jadi kita harus mengikhlaskan semua ibadah kita, mulai dari shalat, doa, kurban, sampai al-khauf (rasa takut),al-mahabbah (cinta), dan ibadah-ibadah yang lainnya. Allah ta’ala berfirman,

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾ [الذريات : 56]

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

  1. Beriman terhadap asmaa’(nama-nama) dan shifaat (sifat-sifat) Allah ta’ala. Maksudnya adalah: Mengesakan Allah ta’ala dalam nama-nama-Nya yang mulia serta sifat-sifat-Nya yang agung, yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, sembari mengimani makna dan hukum-hukumnya, tanpa mengotorinya dengan tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (berusaha mencari-cari caranya), atau tamtsil (meyakini bahwa sifat-sifat Allah seperti sifat-sifat para makhluk). Allah ta’ala berfirman,

﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾ [الشرى : 11]

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11). (Lihat: Mu’taqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah fi Tauhidil Asma’ wash Shifat, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, hal 31)

  1. Melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-larangan yang diharamkan-Nya. Ini adalah salah satu tanda rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya. (Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, karya Dr. Bandar al-’Abdaly, hal 37). Allah berfirman,

﴿ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ * قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ﴾ [ال عمران : 32-31]

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran: 31-32)

Hal-hal yang wajib contohnya: mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, berdakwah kepada agama Allah dan lain-lain. Contoh larangan-larangan: syirik, berzina, bermain judi, dan lain sebagainya.

  1. Tidak rela melihat larangan-Nya dilanggar, serta merasa bahagia jika melihat para hamba-Nya taat dalam menjalankan perintah-Nya (Ta’zhim Qadr ash-Sholah, II/692).

 Nasehat Untuk KitabNya

Yaitu beriman dengan kitabNya menurut cara yang dicontohkan para salaful ummah. Keyakinan para salaf tentang Al Qur’an adalah meyakini bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, dan bukan makhluk. Al Imam Abu Utsman Ash Shabuni mengatakan dalam risalah Aqidatus Salaf Ashabil Hadits: “Para ahlul hadits bersaksi dan meyakini bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, kitab dan wahyuNya bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk dengan keyakinan, maka dia dianggap kafir oleh para ahlul hadits.” Al Qur’an adalah kalamullah dan wahyuNya yang dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berbahasa Arab untuk kaum yang mengetahui sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah (yang artinya):

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa oleh Ar Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy Syu’ara: 192-195)

Al Qur’an adalah wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya, sebagaimana beliau diperintahkan oleh Allah dalam ayat:

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (Al Maidah: 67).

Dan Al Qur’an adalah kalamullah sebagaimana hadits dari Jabir yang menceritakan Nabi menawarkan dirinya kepada orang yang pulang haji:

Adakah seorang yang akan membawaku kepada kaumnya, sebab orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Rabbku.” (HR. Bukhari dalam Khalqul Af’alil Ibad 86, 205).

Itulah Al Qur’an, dia bukan makhluk. Barangsiapa yang mengira dia makhluk, maka dia dianggap kafir menurut para ahlul hadits.

Imam Al Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya Al Jami’ li Ahkamil Qur’an, ketika menafsirkan makna ‘nasehat bagi kitab Allah’ adalah dengan:

  1. Membacanya

Membaca Al Qur’an memiliki banyak keutamaan. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan hal ini di antaranya adalah:

Bacalah Al Qur’an oleh kalian, karena dia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim dalam Kitabul Musafirin No.252/804)

b.Memahaminya

Kebanyakan kaum muslimin membaca Al Qur’an dengan indah, tetapi tidak memahami arti dan tafsir yang benar tentangnya. Demikian juga orang-orang yang menghafal Al Qur’an tetapi tidak memahaminya dan hanya sebatas menghafal huruf-hurufnya saja.

Al Imam Ath Thurthusi dalam Al Hawadits hal. 96, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan, menyatakan: “Termasuk kebid’ahan yang dilakukan oleh orang-orang tentang Al Qur’an adalah sekedar menghafal huruf-hurufnya tanpa memahaminya.” Imam Malik meriwayatkan dalam Muwatha’nya 1/205 menyatakan: “Abdullah bin Umar berhenti pada surat Al Baqarah selama delapan tahun. Para ulama berkata bahwa maknanya adalah beliau mempelajari faraidlnya, hukumnya, halal haramnya, janji, ancamannya dan lain-lain.”

Diriwayatkan dari Malik dalam Al Utaibah, beliau berkata: “Pernah ditulis surat kepada Umar bin Al Khathab dari Irak yang mengabarkan kepadanya bahwa beberapa orang telah menghafal Al Qur’an. Maka Umar memberikan imbalan pada mereka dengan mengatakan: Berikan kepada mereka harta.” Kemudian bertambah banyaklah orang yang menghafal Al Qur’an. Satu tahun setelah itu ditulis surat kepada Umar bahwa ada 700 orang yang telah menghafal Al Qur’an. Kemudian Umar membalas: “Aku khawatir kalau mereka bersegera dalam Al Qur’an tanpa memahaminya.” Imam Malik berkata: “Maknanya adalah beliau khawatir kalau mereka menakwilkannya dengan tidak benar.”

Beginilah keadaan para pembaca Al Qur’an di masa ini. Kamu dapati mereka sanggup meriwayatkan Al Qur’an dengan 100 jenis riwayat, mengatur hurufnya dengan rapi, padahal dia sangat jahil terhadap hukum-hukumnya. Kalau engkau menanyakan kepadanya permasalahan sebenarnya tentang niat dalam wudlu, tempatnya, membawakannya, membatalkannya dan dalam memisah-misahkannya terhadap anggota-anggota wudlu, dia tidak bisa menjawab padahal dia membaca dan menghafal ayat:

Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku.” (Al Maidah: 6).

Bahkan kalau engkau bertanya kepadanya apakah perintah Allah dalam ayat ini menunjukkan wajib atau nadb atau istihbab atau waqf atau mubah, belum tentu ia dapat menjawab secara rinci.

Imam Malik pernah ditanya tentang anak berumur 7 tahun yang telah menghafal Al Qur’an, maka beliau menjawab: “Menurutku hal itu tidak patut.” Sisi pengingkaran beliau dalam hal ini adalah karena para shahabat membenci cepat-cepat menghafal Al Qur’an tanpa memahami maknanya. Al Hasan berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an ini telah dibaca oleh para hamba dan anak-anak. Tapi mereka tidak tahu tafsirnya dan tidak memulai dari awalnya padahal Allah telah berfirman:

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (Shad : 29)

Tadabur terhadap ayat-ayat-Nya adalah mengikutinya dengan Ilmu. Demi Allah, bukan dengan menghapal huruf-hurufnya dan menyia-nyiakannya hukum-hukumnya, sampai salah seorang mereka ada yang berkata :’Demi Allah, aku telah membaca Al-Qur’an semuanya dan tidak satupun tertinggal dari hurufnya.’ Padahal dia-demi Allah- telah meninggalkannya. Tidak terlihat Al-Qur’an pada Akhlak dan amalnya. Diantaranya lagi ada yang berkata :’ Demi Allah aku bisa membaca Al-Qur’an dengan satu nafas.’ Meraka bukanlah qurra’ dan bukan pula ulama yang wara’. Kapan para qurra’ mengatakan demikian? Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang sepertimereka.”

Al-Hasan berkata lagi :” Orang yang membaca Al-Qur’an ada tiga jenis :

Pertama, Dia membaca Al-Qur’an dia jadikan Al-Qur’an sebagai barang dagangan dan dengannya dia mengharap harta manusia dari satu negeri ke negeri yang lain

Kedua, Ada yang membaca Al-Qur’an dengan indah, tetapi mereka menyia-nyiakan hukum-Nya. Meraka mengalirkan harta banyak harta yang dimiliki para penguasa dan memfitnah para penduduk negerinya. Alangkah banyak yang demikian. Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang yang demikian.

Ketiga, Ada yang membaca Al-Qur’an, dia memulai dengan yang mengandung obat yang dia ketahui dari Al-Qur’an. Kemudian dia gunakan untuk mengobati hatinya. Meleleh air matanya. Dia bergadang tidak tidur, sedih, khusyu’. Karena mereka, Allah menurunkan hujan, memusnahkan musuh-musuh, menolak bala. Demi Allah, pemikul Al-Qur’an seperti ini sangat sedikit di kalangan manusia.” (Masih dalam Tafsir Al-Qurthubi).

Beliau melanjutkan:” Allah telah berfirman tentang orang-orang yang menghafal kitab-kitab yang turun dari langit yang mereka tidak mengerti hukum-hukumnya, halal dan haramnya dengan ucapan-Nya : “Di antara mereka ada orang-orang yang ummi, mereka tidak mengetahui tentang Al-Kitab kecuali membaca (amani) dan mereka hanya menduga-duga” (Al-Baqarah : 78).

Meraka menghafal Al-Qur’an tetapi tidak mengetahui apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalamnya tentang hikmah-hikmah ddan pelajaran. Maka Allah mensifati mereka bahwa mereka hanya sekedar amani. Amani dalam konteks ini berarti tilawah (membaca).

Sufyan pernah berkata : “Tidak ada di dalam kitabullah ayat yang paling berat bagiku kecuali: Katakanlah :” Wahai ahli kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikitpun sampai kalian menegakkan ajaran Taurat dan Injil (Al-Maidah : 68). Menegakkan artinya, memahami dan mengamalkannya.” (Selesai ucapan Thurthusyi).

  1. Membelanya

Selanjutnya Imam Qurthubi mengatakan :”Seseorang tidak akan bisa membela Al-Qur’an, kecuali kalau dia memahami isinya“. (Selesai Ucapan Imam Qurthubi). Baik dari segi bahasa (nahwu, sharaf dan lain-lain) atau tafsirnya. Bagi orang yang lemah dalam hal-hal tersebut biasanya ketika diterpa badai syubhat dari ahlul bid’ah, dia akan tenggelam.

Membela Al-Qur’an bisa dalam banyak hal. Yaitu dalam semua perkara yang telah diterangkan Allah dalam Al-Qur’an. Yang terpenting adalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan perkara I’tiqad dan hukum.” (Sumber yang sama).

  1. Mengajarkannya

Pada point berikutnya beliau berkata :”Mengajarkan Al-Qur’an mengandungkeutamaan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya)

Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi)”.

  1. Memuliakannya

Memuliakan Al-Qur’an ketika membacanya berarti kita harus beradab ketika itu, seperti dalam keadaan wudlu, tidak bersandar dan tidak duduk seperti orang yang sombong. Memuliakan Al-Qur’an bukan hanya seperti yang dipahami oleh orang-orang awam yaitu dengan meletakkannya di tempat yang bersih, melainkan dibaca dan diamalkan setelah dipahami. Bahkan kadang-kadang ada rumah kaum muslimin yang tidak memiliki Al-Qur’an. Kalaupun punya, diletakan dalam lemari dan disimpan tanpa pernah disentuh.

  1. Berakhlaq dengannya

Manusia yang telah mengamalkan Al-Qur’an adalah Rasulullah shalallau’alaihi wa sallam. Bila kita ingin mengamalkan Al-Qur’an dan berakhlak dengannya maka hendaknya kita melihat Akhlak beliau. Hal itu pernah diucapkan oleh Aisyah radliyallahu’anha – Ibu kaum muslimin.

Akhlak Nabi shalallahu’alaihi wa sallam adalah Al Qur’an” (HR. Muslim no. 746).

Syaikh As Sa’diy menjelaskan bahwa nasehat kepada kitabullah adalah dengan menghafalnya dan mentadabburinya, mempelajari lafadz-lafadz dan makna nya, dan bersungguh-sungguh dalam mengamalkan kandungannya.  (Asy Syarhul Kabiir ‘alal arba’in An Nawawiyyah, 187)

Nasehat Bagi Rasul-Nya

Imam Al-Qurthubi dalam tafsir itu juga menyatakan bahwa maksud nasehat kepada Rasulullah shalallhu’alaihi wa sallam adalah :

-Membenarkan kenabiannya.

-Iltizam taat kepadannya dalam larangan dan perintah.

-Mencintai orang yang mencitainya dan membenci orang yang membencinya.

-Menghormatinya.

-Mencintai beliau dan keluarganya.

-Mengagungkan beliau.

-Mengagungkan sunnah beliau.

-Menghidupkan sunnahnya setelah wafatnya dengan: Membahasnya, Memahaminya, Membelanya, Menyebarkannya, Berdakwah kepadanya.

-Berakhlak dengan akhlak beliau yang mulia (8/227).

Syaikh As Sa’diy menjelaskan bahwa nasehat kepada Rasul adalah dengan mengimani dan mencintai-nya, mendahulukannya dibanding dirinya, hartanya maupun anaknya.Ittiba’ (meneladani) para Rasul dalam perkara pokok-pokok agama maupun perkara cabangnya. Mengutamakan perkataan Rasul dibanding perkataan manusia lain dan bersungguh-sungguh dalam mengambil petunjuk dari petunjuk-petunjuknya dan dalam menolong agamanya. (Asy Syarhul Kabiir, 187)

Nasehat kepada pemimpin kaum muslim

Maksudnya adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath I/167  “Membantu mereka pada perkara yang mereka pikul, mengiatkan mereka ketika lupa atau lalai, menutup kesalahan mereka ketika bersalah, menyatukan suara untuk mereka, mengembalikan hati-hati yang lari kepada mereka dan nasehat terbesar bagi mereka adalah menyelamatkan mereka dari kedhaliman dengan cara yang baik.

Termasuk pemimpin kaum muslimin adalah para imam mujtahidin. Nasehat untuk mereka adalah dengan menyebarkan ilmu mereka dan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka serta berbaik sangka kepada mereka. ” (Fathul Bari).

Menurut Imam Qurthubi : “Maksudnya tidak memberontak kepada mereka, membimbing mereka kepada kebenaran, mengiatkan mereka tentang perkara kaum muslimin yang mereka lalaikan, tetap taat kepada mereka dan menunaikan hak mereka yang wajib.” (Tafsir Al-Qurthubi, 8/227).

Sedangkan Al-Hafidh Ibnu Rajab berkata :”Maksudnya mencintai kebaikan, kecerdasan dan keadilanmereka, mencintai agar ummat ini bersatu di bawah kepemimpinan mereka, benci kalau terpecahnya ummat ini di bawah kepemimpinan mereka, beragama dengan taat kepada mereka dalam perkara taat kepada Allah, membenci orang-orang memiliki pendapat memberontak kepada mereka, mencintai kemulaan mereka dalam taat kepada Allah.” (Iqadhul Himam).

Syaikh Shalih Alu Syaikh menjelaskan bahwa nasehat bagi pemimpin kaum muslim adalah dengan memberikan hak-hak mereka yang telah Allah berikan kepada mereka, yang telah Allah jelaskan dalam kitab-kitab-Nya maupun yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan dalam sunnah beliau. Di antara hak tersebut adalah mentaati mereka dalam perkara yang ma’ruf, meninggalkan ketaatan dalam perkara maksiat, berkumpul dengan mereka dalam perkara hak dan petunjuk dan pada perkara yang kita ketahui tidak ada kemaksiatan di dalamnya. Dan termasuk nasehat bagi mereka yaitu memberikan nasehat dengan makna mengingatkan keasalahan-kesalahan mereka. Ibnu Daqiqil ‘id berkata bahwa bentuk nasehat ini hukumnya adalah fardhu kifayah, maka jika sudah ada sebagian orang yang melakukannya maka gugurlah kewajiban yang lainnya. (Asy Syarhul Kabiir, 633).

Nasehat kepada kaum muslim secara umum

Imam Quthubi berkata: “Maksudnya tidak memusuhi mereka, membimbing mereka, mencintai orang shalih diantara mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka dan menginginkan agar mereka mendapat kebaikan.”

Ibnu Hajar berkata: “Maksudnya menyayagi mereka, berusaha pada hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, mengerjakan yang bermanfaat bagi mereka, menhan gangguan terhadap mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintainya bagi dirinya dan membenci bagi mereka apa yang dibencinya bagi dirinya.

Imam An-Nawawi berkata: “Maksudnya membimbing mereka menuju kebaikan di dunia dan akhirat mereka, tidak mengganggu mereka, mengajarkan kepada mereka yang tidak mereka ketahui tentang agama mereka, membantu mereka untuk itu denganucapan dan amalan, menutup aurat mereka, menolak bahaya terhadap mereka, mengusahakan agar mereka mendapat kebaikan, menyuruh mereka kepda yang ma’ruf, mencegah mereka dari yang mungkar dengan kasih sayang dan ikhlas, menyayangi mereka, menghormati yang tua dari mereka, menyayangi yang muda, selalu menasehati mereka, tidak menipu mereka, tidak dengki kepada mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintai bagi dirinya dari kebaikan, membenci bagi mereka apa yang dibenci bagi dirinya dari kejahatan dan kejelekan, membela harta dan kehormatan mereka serta yang selain itu dengan ucapan dan tindakan, menganjurkan mereka untuk berakhlak dengan seluruh apa yang telah kita sebutkan tadi, memberi semangat agar mereka melakukan amalan-amalan taat.” (syarah shahih Muslim, 1/239).

Dan termasuk jenis nasehat bagi Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya dan hal ini khusus bagi para ulama adalah membantah pendapat-pendapat yang sesat dengan Al-Quran dan as-sunnah dan menerangkan dalil-dalil keduanya kepada yang menentang dan begitu pula membantah ucapan-ucapan yang lemah dari para ulama karena ketergelinciran dengan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan as-sunnah dan menerangkan hadits yang shahih atau dlaif serta rawi-rawinya, yang diterima dan yang ditolak.” (Ibnu Rajab dalam Iqadhatul Himam hal.129).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa bentuk nasehat kepada kaum muslim secara umum adalah dengan menampakkan kecintaan kepada mereka, menampakkan wajah yang berseri-seri, menebarkan salam, menasihati, saling tolong-menolong dan hal-hal lain yang dapat mendatangkan maslahat dan menghilangkan mafsadat. (Asy-Syarhul Kabiir, 181)

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata, Ketahuilah bahwa perkataanmu terhadap salah seorang kaum muslim tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap seorang pemimpin. Perkataanmu terhadap seorang pembangkang tidaklah boleh disamakan dengan perkataanmu terhadap orang yang masih bodoh. Maka, setiap kondisi orang ada perkataan (yang sesuai). Maka, berilah nasehat kepada kaum muslimin secara umum semampumu. (Asy Syarhul Kabiir, 181)

Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi penulis maupun orang-orang yang membacanya.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in

Rujukan:

“Agama Adalah Nasihat “  yang ditulis oleh: Al Ustadz Muhammad Zain MA dan Muhammad Ali Ishmah

 

Sumber

 

Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an Dan As-Sunnah

Sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita. Siapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesemabahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada beliau, keluarga, sahabat, dan segenap orang yang mengikutinya. Amma ba’du.

Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah umat Islam memandang bahwa bepegang kepada Islam akan mengganggu rizki mereka. Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan halal dan haram.

Mereka itu lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Khaliq Azza wa Jalla tidak mensyariatkan agamaNya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka di sana saja, tetapi Allah mensyaratkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagian mereka di dunia. Bahkan doa yang sering dipanjatkan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dijadikanNya sebagai teladan bagi umat manusia adalah.
﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار ِ﴾
“Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”[1]
Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan, berada dalam keraguan dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi sebaliknya, sebab-sebab rizki itu telah diatur dan dijelaskan. Seandainya umat ini mau memahami, menyadari, berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebab-sebab itu dengan baik, niscaya Allah Yang Maha Pemberi Rizki dan memiliki kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.

Didorong oleh keinginan untuk mengingatkan dan mengenalkan saudara-saudara sesama Muslim tentang berbagai sebab di atas dan untuk meluruskan pemahaman mereka tentang hal ini serta untuk mengingatkan orang yang telah tersesat dari jalan yang lurus dalam berusaha mencari rizki, maka saya bertekad dengan memohon taufik dari Allah untuk mengumpulkan sebagian sebab-sebab untuk mendapatkan rizki tersebut dalam buku kecil ini. Buku ini saya beri judul “Mafatih ar-Rizqi fi Dhau’al Kitab wa as-Sunnah”.

HAL-HAL YANG SAYA PERHATIKAN DALAM MAKALAH INI

Di antara hal-hal yang saya perhatikan –dengan karunia Allah- dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Rujukan utama dalam makalah ini adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya yang mulia.
2. Saya menukil hadits-hadits dari maraji’ (sumber) aslinya. Saya juga menyebutkan pandangan ulama tentang derajat hadits tersebut (shahih, hasan, dha’if dan lain sebagainya,-pent), kecuali apa yang saya nukil dari ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim). Sebab segenap umat Islam telah sepakat untuk menerima (keshahian keduanya) [2]
3. Ketika menggunakan dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits, saya berusaha mengambil faidah (penjelasan) dari kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab syarah (keterangan) hadits-hadits.
4. Saya memaparkan tentang apa yang dimaksud dengan sebab-sebab yang disyariatkan dalam mencari rizki dengan bantuan keterangan-keterangan –setelah memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- dari ucapan-ucapan para ulama, untuk menghilangkan keraguan-keraguan di dalamnya.
5. Saya tidak bermaksud membicarakan manfaat-manfaat dari sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan selain masalah rizki. Kecuali disebutkan secara kebetulan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan saya untuk membicarakan hal-hal tersebut di masa yang akan datang.
6. Saya jelaskan beberapa kata asing yang ada di dalam hadits-hadits, untuk lebih menyempurnakan manfaat, insya Allah.
7. Saya tuliskan beberapa maraji’ (sumber) yang cukup untuk memudahkan siapa saja yang ingin kembali padanya.
8. Saya tidak bermaksud menyebutkan sebab-sebab rizki seluruhnya. Tetapi yang saya bahas adalah apa yang dimudahkan oleh Allah padaku untuk mengumpulkannya.

Hakikat rizki

Rizki atau sering juga disebut rezeki, berasal dari kata rozaqo – yarzuku – rizqon, yang bermakna “memberi / pemberian”. Sehingga makna dari rizki adalah segala sesuatu yang dikaruniakan Alloh Subhanahu wa Ta’laa kepada hamba-hamba-Nya dan dimanfaatkan oleh hamba tersebut.
Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa yang termasuk dalam ketagori rizki, tidak terbatas hanya pada besar kecilnya gaji dan pendapatan atau banyak tidaknya harta maupun uang yang tersimpan. Tetapi makna rizki lebih luas daripada itu. Kesehatan tubuh dan jiwa, udara yang kita hirup, air hujan yang turun, keluarga yang menyenangkan, kepandaian, terhindarnya dari kecelakaan atau musibah, dan lain sebagainya adalah bagian dari rizki Alloh Subhanahu wa Ta’laa.

Termasuk juga turunnya hidayah Islam pada diri seorang hamba, pemahaman akan ilmu agama, terbukanya pintu-pintu amal sholih dan bahkan khusnul khotimah dan mati syahid juga merupakan bagian dari rizki yang tiada tara. Dan masih banyak lagi karunia Alloh Subhanahu wa Ta’laa yang sangat luar biasa, yang di-karuniakan kepada hamba-hamba-Nya dan tidak mungkin terhitung.
Setelah kita memahami makna dari rizki, tentu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Ar Roziq (Maha Pemberi Rizki). Semua makhluk pasti mendapatkan rizkinya. Entah dia manusia yang beriman atau kafir, kelompok jin yang taat atau jin syetan, semua binatang, para malaikat, tumbuhan dan semua makhluk-Nya yang Dia ciptakan. Hal ini menunjukkan asma dan sifat-Nya Ar Rohman (Maha Pengasih).

Rizki Alloh Subhanahu wa Ta’laa pasti terus mengalir. Tidak ada satu makhlukpun yang sanggup menghalangi berjalannya rizki pada seseorang bila, Alloh Subhanahu wa Ta’laa menghendaki itu terjadi pada seseorang. Begitu pula sebaliknya, tidak ada satu makhlukpun yang sanggup memberikan rizki pada seseorang, bila Alloh Subhanahu wa Ta’laa menghendaki hal itu tidak terjadi padanya. Kepastian datangnya rizki di dunia, seiring kepastian nyawa hadir pada diri seorang makhluk. Atau kata lainnya, tanda rizki dunia seseorang itu habis adalah hadirnya kematian padanya.

Bila rizki sudah tetap, lalu kenapa dibutuhkan kunci-kunci rizki?

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :
(( …ثمُ َّيُرْسَلُ إلِيَهِْ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَات : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ … ))
“…Kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal : menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan apakah ia celaka atau bahagia…”
(HR. Bukhori dan Muslim)
Memang ada empat perkara ketetapan Alloh Subhanahu wa Ta’laa yang terjadi pada diri manusia, dimana tidak ada satu manusiapun yang bisa merubah hal itu, yaitu rizki, ajal, amal dan celaka dimana manusia tidak ada yang bisa untuk memahaminya kecuali atas izin Alloh Subhanahu wa Ta’laa. Empat perkara di atas adalah permasalahan ghoib yang tidak ada makhluk yang mengetahuinya selain Alloh Subhanahu wa Ta’laa.

Sementara itu, berkenaan dengan rizki, jodoh, amal serta kebahagiaan, manusia hanya diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan berikhtiyar untuk mengusahakan sebab agar terpenuhinya segala pi-lihannya. Sedangkan hasil, kembalinya tetap kepada takdir Alloh Subhanahu wa Ta’laa. Manusia tidak akan bisa memastikan akan hidup selamanya walaupun dia berusaha semaksimal mungkin untuk memperpanjang usianya. Manusia tidak akan bisa menjamin akan miskin dan sengsara selamanya, kalau Alloh Subhanahu wa Ta’laa mentakdirkan dia menjadi kaya atau bahagia di waktu tertentu, begitu pula sebaliknya.

Segala bentuk usaha / ikhtiyar yang dilakukan manusia di dalam meraih pilihannya, dinilai sebagai ibadah bila dilaksanakan karena Alloh Subhanahu wa Ta’laa dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah ajaran Islam. Walaupun terkadang hasil yang dia capai dari ikhtiyarnya tersebut tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tapi yang harus ada pada hati setiap muslim, adalah sikap husnudzon (prasangka baik) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’laa. Apa yang Dia pilihkan untuk makhluknya, adalah yang terbaik bagi makhluk tersebut. Alloh Subhanahu wa Ta’laa tidak mungkin salah dalam memberikan suatu ketetapan.

Banyak hikmah yang diambil dari ditentukannya kunci-kunci rizki :
-Akan lebih melapangkan jalan rizki, yang sebelumnya terasa sempit.
-Seandainya secara lahir, jalan rizki belum lapang, bisa jadi dengan kunci-kunci rizki yang diusahakan, akan menambah sikap qonaah (menerima segala takdir Alloh Subhanahu wa Ta’laa) di hati.
-Dengan kunci-kunci rizki, maka akan menambah barokah rizki yang didapat manusia, walupun menurut ukuran lahir, rizki tersebut sangat sedikit.
-Bila di dunia ini belum terkabulkan apa yang kita usahakan akan atau kebahagiaan. Tetapi wajib difahami juga, bahwa empat hal di atas adalah meliputi ilmu Alloh Subhanahu wa Ta’laa berkenaan dengan kunci-kunci rizki, maka bisa jadi Alloh Subhanahu wa Ta’laa akan menggantinya di akhirat kelak.
-Dengan mengusahakan kunci-kunci rizki seperti yang disyariatkan Alloh Subhanahu wa Ta’laa, maka bertambah pula amal sholih kita.
-Dan fadhilah-fadhilah lain yang Alloh Subhanahu wa Ta’laa janjikan pada umat-Nya yang selalu beramal sholih.
Diantara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki (yang bersifat materi dan kemapanan duniawi). Sejumlah besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hukum Islam. Na’udzu billahi min dzalik.

Kunci – Kunci Rizki

1. Istighfar dan Taubat

Alloh Subhanahu wa Ta’laa berfirman :
“Maka aku katakan kepada mereka, ”Mohonlah ampun kepada Robb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan me-ngadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
(QS. Nuh : 10-12).

Ibnu Katsir berkata,”Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Alloh, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa menta’ati-Nya, niscaya Dia akan membanyakkan rizki kalian dan menurunkan hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan untuk kalian, membanyakkan anak dan melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di da-lamnya bermacam-macam buah-buahan untuk kalian serta menga-lirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4 / 449)
Sebagian umat Islam menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata, dengan hanya memperbanyak kalimat, “Astaghfirullohal ‘adzim”. Tetapi kalimat itu tidak membe-kas di dalam hati, juga tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Sesungguhnya istighfar dan taubat ini adalah taubatnya orang yang dusta.

Imam An Nawawi menjelaskan,”Para ulama berkata,”Bertaubat dari segala dosa adalah wajib. Jika dosa itu antara hamba dengan Alloh, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga, -pertama, hendaknya ia menjauhi dosa (maksiat) itu, -dua, ia harus menyesali perbuatan dosa itu, -tiga, ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang maka taubatnya tidak sah. Jika taubat itu berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat. Ketiga syarat di atas dan -ke empat, hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang tersebut. Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa (had) hukuman tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas-nya atau meminta maaf padanya. Jika berupa ghibah (menggunjing) maka ia harus meminta maaf.”
(Riyadush Sholihin).

2. Taqwa

Alloh Subhanahu wa Ta’laa berfirman : “Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan mengada-kan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Tholaq : 2-3 )
Al Hafidz Ibnu Katsir berkata,”Maknanya, barangsiapa bertaqwa kepada Alloh dengan melakukan apa yang diperinyahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Alloh akan memberi-nya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”
(Tafsir Ibnu Katsir, QS. Ath Tholaq : 2-3).
Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar Roghib Al Ashfahani berkata,”Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.”
(Al Mufrodat fie Ghoribil Qur’an)

Orang yang melihat dengan kedua bola matanya apa yang diharam-kan Alloh, atau mendengarnya dengan kedua telinganya apa yang di-murkai Alloh Subhanahu wa Ta’laa, atau mengambilnya dengan kedua tangannya apa yang tidak diridloi Alloh Subhanahu wa Ta’laa, atau berjalan ke tempat yang di kutuk Alloh Subhanahu wa Ta’laa, berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa.
Jadi, orang yang membangkang perintah Alloh Subhanahu wa Ta’laa serta melakukan apa yang dilarang-Nya, dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa. Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat, sehingga ia pantas mendapat murka Alloh Subhanahu wa Ta’laa, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.

3. Tawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’laa

Alloh Subhanahu wa Ta’laa berfirman :
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Alloh melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Alloh telah menga-dakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Ath Tholaq : 3) Menafsirkan ayat tersebut, Ar Robi’ bin Khutsaim berkata,”(mencu-kupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia.”
(Syarhus Sunnah, 14 / 298)
Menjelaskan makna tawakkal para ulama berkata, diantaranya Imam Ghozali, Beliau berkata,”Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada “WAKIIL” (yang ditawakkali) semata.”
(Ihya’ Ulumuddin, 4 / 259)
Al Allamah Al Manawi berkata,”Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali.”
(Faidhul Qodir, 5 / 311)
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

(( لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكَّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا )) [رواه الترمذي وابن حبان]
“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Sebagian manusia ada yang berkata,”Jika orang yangbertawakkal kepada Alloh itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit.”
Perkataan ini sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakekat tawakkal. Imam Ahmad berkata,”Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha. Sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal pada Alloh dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengeta-hui bahwa kebaikan (rizki) itu di tangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”(Tuhfatul Ahwadzi, 7 / 8)
Imam ahmad menambahkan,”Para shahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan merekalah teladan kita.”
(Fathul Bari, 11 / 305-306)

4. Beridah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’laa sepenuhnya

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :
(( إِنَّ اللهَ تَعَلىَ يَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَدَتِى أَمَْـَلأُصَدْرَكَ غِنىً، وَأَسُدُّ فَقْرَكَ. وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ ))
“Sesungguhnya Alloh Ta’laa berfirman,”Wahai anak Adam. Beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku ! Niscaya Aku penuhi di dalam dada dengan kekayaan dan aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi kebutuhanmu.” (HR. Ibnu Majah)
Al Mulla Ali Al Qori menjelaskan makna hadits -تَفَرَّغْ لِعِبَدَتِى – “beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku.”, Beliau berkata,”Makna-nya, jadikanlah hatimu benar-benar sepenuhnya (konsentrasi) untuk beribadah kepada Robb-mu.” (Murqotul Mafatih, 9 / 26)
Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimaksud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri dihadapan Alloh Maha Esa. Menghadirkan hati, betapa besar keagungan Alloh Subhanahu wa Ta’laa.

5. Melajutkan Haji dengan Umroh atau sebaliknya

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :

(( تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وِالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ ))
“Lanjutkanlah haji dengan umroh atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat mengilangkan kotoran besi.”
(HR. An Nasa’i)
Syaikh Abul Hasan As Sindi menjelaskan haji dengan umroh atau sebaliknya, berkata,”Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, dimana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umroh. Dan jika kalian menunaikan umroh maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.”
(Hasyiyatul Imam As Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 5 / 115)

Sedangkan Imam Ath Thoyyibi dalam menjelaskan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam :

(( فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ))

“…Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa…”
“Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.”
(Faidhul Qodir, 3 / 225)

6. Silaturrahim

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :
(( مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُسْطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ))
“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (diperpanjang usianya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahmi.” (HR. Bukhori)
Makna “ar rahim” adalah para kerabat dekat. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,”Ar rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahrom atau tidak. Menurut pendapat lain, mereka adalah “maharim” (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja. Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.”(Fathul Bari, 10 / 14)
Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qori adalah kinayah (ungkapan / sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka. (Murqotul Mafatih, 8 / 645)

7. Berinfaq di Jalan Alloh Subhanahu wa Ta’laa

Alloh Subhanahu wa Ta’laa berfirman : “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Alloh akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ : 39)
Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat di atas,”Betapapun sedikit apa yang kamu infaqkan dari apa yang diperintahkan Alloh kepadamudan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3 / 595)
Syaikh Ibnu Asyur berkata,”Yang dimaksud dengan infaq di sini adalah infaq yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfaq kepada orang-orang fakir dan berinfaq di jalan Alloh untuk menolong agama.” (Tafsirut Tahrir wa Tanwir, 22 / 221)

8. Memberi Nafkah kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syari’at (Agama)

(( كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِى النَّبِي صلى الله عليه وسلم وَاْلآخِرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِى ، فَقَالَ صلى الله عليه وسلم لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ ))

“Dahulu ada dua orang bersaudara pada masa Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam . Salah seorang dari mereka mendatangi Nabi Sholallohu ‘alaihi was salam (untuk menuntut ilmu) dan (saudaranya) yang lain pergi bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada Nabi Sholallohu ‘alaihi was salam . Maka Beliau Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda,”Mudah-mudahan engkau diberi rizki karena sebab dia” (HR. Tirmidzi)
Al Mulla Ali Al Qori menjelaskan sabda Nabi Sholallohu ‘alaihi was salam :
(( لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ))
”…Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia”
“Yang menggunakan shighot majhul (ungkapan kata kerja pasif) itu berkata, yakni, aku berharap atau aku takutkan bahwa engkau sebe-narnya diberi rizki karena berkahnya. Dan bukan berarti dia(si penuntut ilmu) diberi rizki karena pekerjaanmu. Oleh sebab itu jangan engkau mengungkit-ungkit pekerjaanmu kepadanya.”
(Murqotul Mafatih, 9 / 171)

9. Berbuat Baik pada Orang yang Lemah

Mush’ab bin Sa’d Rodliallohu ‘anhu berkata : “Bahwasanya Sa’d Rodliallohu ‘anhu merasa dirinya memiliki kelebihan daripada orang lain, maka Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda:

(( هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلاَّ بِضُعَفَا ئِكُمْ ))
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang yang lemah diantara kalian ?” (HR. Bukhori)

Karena itu, siapa yang ingin ditolong Alloh dan diberi rizki oleh-Nya maka hendaklah ia memuliakan orang-orang yang lemah dan berbuat baik kepada mereka.” (Shohihul Bukhori)

10. Hijrah di Jalan Alloh Subhanahu wa Ta’laa

Alloh Subhanahu wa Ta’laa berfirman :
“Barangsiapa berhijrah di jalan Alloh, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.”
(QS. An Nisa : 100)
Qotadah berkata,”Maknanya, keluasan dari kesesatan kepada petunjuk, dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan.”
(Tafsir Al Qurthubi, 5 / 348)
Imam Al Qurthubi berkata,”Sebab, keluasan negeri dan banyaknya bangunan menunjukkan keluasan rizki. Juga menunjukkan kela-pangan dada yang siap menanggung kesedihan dan pikiran serta hal-hal lain yang menunjukkan kemudahan.”
(Tafsir Al Qurthubi, 5 / 348)
Imam Ar Roghib Al Ashfahani berkata bahwa hijrah adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri yang iman, sebagaimana para shahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Sayid Muhammad Rosyid Ridlo mengatakan bahwa hijrah di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’laa harus dengan sebenar-benarnya. Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridho Alloh Subhanahu wa Ta’laa dengan menegakkan agam-Nya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Alloh Subhanahu wa Ta’laa, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

UCAPAN TERIMA KASIH DAN DOA

Inilah (karya sederhana itu), dan segala puji bagi Allah Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang semoga memberi nikmat kepada hambaNya yang lemah ini berupa rahmat, ampunan dan kemuliaan untuk menyelesaikan pembahasan ini. Kami ucapkan terima kasih sekaligus panjatkan doa kepada saudaraku Dr.Sayyid Muhammad Sadati asy-Syinqithi. Saya banyak mengambil manfaat dari beliau dalam penulisan makalah ini. Ucapan terima kasih serta penghargaan juga kami sampaikan kepada para pengurus Maktab at-Ta’awun li ad-Da’wah wa al-Irsyad (Kantor Urusan Kerjasama Dakwah dan Penyuluhan) Divisi Orang-Orang Asing di Batha’, Riyadh yang berada di bawah Koordinasi Departemen Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan Kerajaan Saudi Arabia. Dimana sebelumnya makalah ini berasal dari dua kali materi ceramah yang saya sampaikan di kantor tersebut. Doa saya juga untuk putra saya tersayang, Hammad Ilahi serta anak-anak saya yang lain. Mereka secara bersama-sama dengan saya, memeriksa naskah yang telah di seting dari buku ini. Mudah-mudahan Allah melimpahkan balasan kepada semuanya dengan sebaik-baik balasan di dunia maupun di akhirat.
Saya memohon kepada Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan, semoga Dia menjadikan pekerjaan saya ini benar-benar ikhlas karena mencari ridhaNya, serta menjadikannya sebagai simpanan saya dan simpanan kedua orang tua saya pada hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih. Sebagaimana saya juga memohon kepada Rabb yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus makhlukNya, semoga Dia memberi taufik kepada saya, juga kepada saudara-saudara, anak-anak, karib-kerabat saya serta segenap umat Islam untuk berpegang dan mengambil manfaat dari sebab-sebab rizki yang disyariatkan. Semoga pula Dia memudahkan kebaikan bagi kita di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Amin
Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, sahabat, dan segenap pengikutnya.
[Disalin dari kitab Mafatih ar-Rizq fi Dhau’ al-Kitab was-Sunnah, Penulis DR Fadhl Ilahi, Edisi Indonesia Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. Penerbit Darul Haq- Jakarta]

_______

Footnote
[1]. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau berkata :
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ))رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ((
“Doa yang sering dipanjatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah : Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”[Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da’awat, Bab Qaul an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rabbana Atina fi ad-Dunya Hasanah, 11/191 no. 6389]
[2]. Muqadimah Imam an-Nawawi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim, hal.14, juga Nuzhat an-Nazhar fi Taudhih Nukhbat al-Fikar, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, hal.29

 

https://islamhouse. com/id/articles/806110/