[ UIC 6.2 ] – Jenis-Jenis Bid’ah dan Berbagai Kondisi Para Pelakunya 05

Hajr (tidak menyapa) terhadap orang yang menyalahi (ahli bid’ah):

Di antara yang terkait bab ini adalah persoalan penting yang harus diketahui dengan jelas padanya, terutama di masa sekarang, yaitu persoalan hajr, yaitu berpaling dari orang yang menyalahi (ahli bid’ah), tidak duduk bersamanya, tidak menyapanya, tidak memberi salam kepadanya, dan tidak masuk kepadanya. Persoalan ini adalah persoalan yang harus diketahui tujuannya secara syar’i, sehingga bisa melakukan interaksi bersamanya dengan cara yang benar.

Disyari’atkan hajr:

Hajar adalah perkara yang disyari’atkan saat dibutuhkan, terkadang hukumnya sunnah dan terkadang wajib. Dan dalil-dalil disyari’atkan hajr saat dibutuhkan sangat banyak dari al-Qur`an, Sunnah dan ijma’.

Pertama: dari al-Qur`an:

  1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ {68}  ﴾ [الأنعام: ٩١]

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (maka larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang. orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS. al-An’aam:68)

Ayat ini merupakan dalil haramnya duduk-duduk bersama ahli bid’ah, pelaku dosa besar dan ahli maksiat. Al-Qurthuby rahimahullah berkata: ‘Dalam ayat ini merupakan bantahan dari al-Qur`an terhadap orang yang menduga bahwa para imam yang merupakan hujjah dan para pengikut mereka, mereka boleh berkumpul bersama orang-orang fasik dan membenarkan ucapan mereka secara taqiyyah. Ath-Thabary rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali rahimahullah, ia berkata: ‘Janganlah kamu duduk-duduk bersama orang-orang yang suka bermusuhan (ahli bid’ah), sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang memperolok-olokan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala.’ Ibnul Araby rahimahullah berkata: ‘Ini merupakan dalil bahwa duduk-duduk bersama pelaku dosa besar adalah tidak boleh.’ Ibnu Khuwairiz Mandad rahimahullah berkata: ‘Siapa yang memperolok-olokan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala niscaya ditinggalkan majelisnya (tidak boleh duduk bersamanya) dan dihajr, sama saja ia mukmin atau kafir. Demikian pula para ulama kita (mazhab Maliky) melarang masuk ke negeri musuh, tempat ibadah mereka, duduk-duduk bersama orang-orang kafir dan ahli bid’ah, dan jangan sampai mencintai mereka, jangan didengarkan ucapan mereka dan janganlah berdebat bersama mereka. Kemudian ia menyebutkan beberapa atsar dari kaum salaf dalam menghajr ahli bid’ah.[1]

  1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلاَ تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ إِنَّ اللهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا {140}﴾ [النساء: 140]

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam, (QS. an-Nisaa`:140)

Al-Qurthuby rahimahullah berkata: ‘Hal ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat apabila nampak kemungkaran dari mereka. Karena siapa yang tidak menjauhi mereka berarti ia ridha (senang) terhadap perbuatan mereka, dan ridha dengan kekufuran adalah kufur. Firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas (Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.) maka setiap orang yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkari mereka, berarti ia mendapatkan dosa bersama mereka. Seharusnya ia mengingkari mereka apabila mereka berbicara tentang maksiat dan melakukannya. Maka jika ia tidak mampu mengingkari perbuatan mereka maka semestinya ia meninggalkan mereka agar ia tidak termasuk orang yang mendapat ancaman dalam ayat ini.

Apabila sudah jelas kewajiban menjauhi para pelaku maksiat seperti yang telah kami jelaskan, maka menjauhi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu adalah lebih utama..Juwaibir meriwayatkan dari ad-Dahhak rahimahullah, ia berkata: ‘Masuk dalam ayat ini setiap ahli bid’ah yang menciptakan yang baru dalam agama hingga hari kiamat.’[2]

  1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ {113}   ﴾ [هود: 113]

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Huud:113)

Al-Qurthuby rahimahullah berkata: ‘Yang shahih dalam makna ayat tersebut adalah bahwa ia menunjukkan perintah hajr terhadap orang kafir dan pelaku maksiat serta selain mereka. Maka sesungguhnya berteman dengan mereka adalah kufur dan maksiat, karena berteman tidak terjadi kecuali bersumber dari rasa cinta. Tharafh bin ‘Abd berkata:

Tentang seseorang, janganlah engkau bertanya, dan bertanyalah tentang temannya,

Maka setiap teman mengikuti orang yang menemaninya

Jika persahaban itu karena kebutuhan dan taqiyyah, maka sudah dibicarakan dalam surat Ali Imran dan al-Maidah, dan menemani orang zalim dengan alasan taqiyyah dikecualikan dari larangan dalam kondisi dharurat.’ Wallahu A’lam.[3]

  1. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ﴾ [المجادلة: 22]

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS. al-Mujadilah:22)

Al-Qurthuby rahimahullah berkata: ‘Imam Malik rahimahullah mengambil dalil dari ayat ini atas memusuhi Qadariyah dan tidak duduk bersama mereka.  Asyhab berkata dari Malik rahimahullah: ‘Janganlah engkau duduk bersama Qadariyah dan musuhilah mereka karena Allah subhanahu wa ta’ala, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿ لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ ﴾ [المجادلة: 22]

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,..)

Dan sama seperti Qadariyah semua pelaku aniaya dan permusuhan.[4]

Kedua: dari Sunnah:

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « سَيَكُوْنُ فِى آخِرِ أُمَّتِي نَاسٌ يحدثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاءُكُمْ, فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُم » [ أخرجه مسلم]

Akan terjadi di akhir umatku orang-orang yang menciptakan yang baru-baru terhadapmu, sesuatu yang kamu dan bapak-bapakmu tidak pernah mendengarnya, maka hati-hatilah kalian dan jauhilah mereka.’[5]

  1. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لكل أمة مجوس  ومجوس أمتي الذين يقولون: لا قدر, إن مرضوا فلا تعودوهم وإن ماتوا فلاتشهدوهم » [ أخرجه أحمد وأبو داود ]

Bagi setiap umat ada golongan majusi, dan majusi dari umatku  adalah orang-orang yang berkata: tidak ada qadar. Jika mereka sakit janganlah engkau menengok mereka dan jika mereka wafat janganlah kamu menyaksikan mereka.[6]

  1. Hadits Hudzaifah lembaran (Shahifah) yang masyhur dari Ali radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « المدينة حرم ما بين عير وثور, فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Madinah adalah haram di antara Ier dan Tsaur, maka siapa yang menciptakan yang baru (dalam agama, bid’ah) atau menampung orang yang bid’ah, maka atasnya kutukan Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat dan semua manusia..”[7]

  1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُوْنَ وَأَصْحَابٌ, يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ, ثُمَّ إِنَّهَا تَخَلَّفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالَايَفْعَلُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ مَالَايُؤْمَرُوْنَ. فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٍ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ الْإِيْمَانِ حَبَّةَ خَرْدَلَةٍ» [ أخرجه مسلم ]

Tidak ada seorang nabi yang diutus Allah subhanahu wa ta’ala sebelum aku kepada satu umat kecuali baginya dari umatnya ada hawari dan para sahabat, mereka mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah mereka lahirlah generasi yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan yang tidak diperintahkan.  Maka siapa yang berjihad kepada mereka dengan tangannya maka ia seorang mukmin, siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia seorang mukmin, dan tidak ada sebiji sawipun dari iman di belakang itu.[8]

  1. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam membaca ayat ini:

﴿ هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلُُّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {7} ﴾ [آل عمران: 7]

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran:7)

Ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّي اللهُ فَاحْذَرْهُمْ» [ أخرجه البخاري و مسلم ]

‘Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti yang samar darinya maka merekalah orang-orang yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala, maka hati-hatilah terhadap mereka.’[9]

  1. Hadits-hadits yang sangat banyak dalam tindakan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr para pelaku maksiat sampai mereka bertaubat. Hal itu banyak diriwayatkan dalam berbagai peristiwa yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, di antara mereka: Ka’ab bin Malik, Ibnu ‘Amr meriwayatkan dua hadits, Aisyah, Anas, ‘Ammar, Ali, Abu Sa’id al-Khudry dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum.

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pernah menghajr Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua temannya tatkala ketinggalan perang Tabuk. Mereka terus dihajr selama lima puluh malam, sampai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengabarkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubat mereka.[10]

Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha sekitar dua bulan tatkala ia berkata: ‘Aku memberikan kepada wanita Yahudi tersebut’, maksudnya adalah Shafiyyah radhiyallahu ‘anha.[11]

Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr pemilik kubah yang mencolok dengan berpaling darinya sampai ia menghancurkannya.[12]

Dan beliau menghajr ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu dengan tidak memberi salam kepadanya karena ia memakai pakaian yang diberi wangian za’faran (jenis wewangian khusus untuk wanita, berwarna antara kuning dan merah) sampai ia mencucinya.[13]

Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr seorang laki-laki tatkala beliau melihat cincin emas di tangannya sampai ia melemparkannya, dan menghajrnya dengan cara berpaling darinya.[14] Dan contoh serupa dari hadits Abu Sa’id al-Khudry radhiyallahu ‘anhu.[15] Dan beliau menghajr seorang laki-laki dengan cara tidak menjawab salamnya, dan hal itu disebabkan ia memakai dua pakaian merah.[16]

Penerapan para sahabat dan generasi sesudahnya terhadap sunnah nabi ini:

Para sahabat telah menerapkan sunnah hajr dalam beberapa peristiwa:

Umar radhiyallahu ‘anhu menghajr Ziyad bin Hudair radhiyallahu ‘anhu tatkala melihat pakaian panjang atasnya dan kumisnya tidak terurus. Apabila Ziyad memberi salam, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menjawab sehingga ia melepaskan pakaian panjangnya dan mencukur kumisnya.[17]

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menangkap para pemain dadu di waktu pagi dan semisalnya, dan melarang memberi salam kepada mereka.[18]

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menghajr seorang laki-laki yang dia melihatnya menghadzaf (melempar hewan dengan kerikil kecil), setelah ia menyampaikan kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melarang hal itu dan ia berkata: ‘Demi Allah subhanahu wa ta’ala saya tidak akan berbicara denganmu selamanya.’[19]

Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu menghajr seorang laki-laki yang menghadzaf dalam kasus serupa, dan seorang Syaikh dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr seorang pemuda karena menghadzaf.[20]

Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu menghajr Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dalam perbedaan pendapat dalam masalah riba, dan ia berkata: ‘Aku menceritakan kepadamu dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan engkau menceritakan dari pendapatmu’, sungguh jika Allah subhanahu wa ta’ala mengeluarkan aku (dari wilayah kepemimpinan engkau) aku tidak akan tinggal di wilayah yang engkau menjadi amir padanya.’ Dan tatkala ia keluar (dari wilayah itu), ia mengadukannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepadanya: ‘Tidak ada kepemimpinan atasmu terhadapnya, dan bawalah manusia terhadap pendapatnya, sesungguhnya ia adalah perintah.’[21]

Dan kasus serupa terjadi bagi Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu bersama Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.[22]

Dan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menghajr seorang laki-laki yang dilihatnya tertawa terhadap jenazah, ia berkata: ‘Demi Allah, saya tidak akan berbicara denganmu selamanya.’[23]

Ketiga: Ijma’:

Dihikayatkan dari jama’ah, di antara mereka: al-Qadhy Abu Ya’la, al-Baghawi, al-Ghazali,.

Al-Qadhy Abu Ya’la rahimahullah berkata: ‘Ia merupakan ijma’ para sahabat dan tabi’in.’[24]

Al-Baghawi rahimahullah berkata setelah hadits Ka’ab bin Malik rahimahullah: ‘Dan padanya merupakan dalil bahwa sunnah hajr terhadap ahli bid’ah tetap berlaku untuk selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam khawatir sifat nifaq terhadap Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dan temannya ketika mereka tertinggal keluar bersamanya. Maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menyuruh menghajr mereka hingga Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan (al-Qur`an) tentang taubat mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam mengetahui bebasnya mereka (dari sifat nifak). Para sahabat, tabi’in, para pengikut mereka dan ulama sunnah terus menerapkan hal ini, sepakat untuk memusuhi ahli bid’ah dan menghajr mereka.[25]

Al-Ghazaly rahimahullah berkata: ‘Tata cara kaum salaf berbeda-beda dalam menampakkan kemarahan terhadap pelaku maksiat, dan semuanya sepakat untuk menerapkan kemarahan terhadap orang-orang zhalim dan pelaku bid’ah, dan kepada setiap pelaku maksiat yang berpengaruh terhadap orang lain.[26]

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: ‘Sudah ijma’ (para ulama) bahwa tidak boleh menghajr seorang muslim lebih dari tiga hari, kecuali dikhawatirkan dari bergaul dan berbicara dengannya sesuatu yang bisa merusak agamanya, atau menyebabkan bahaya terhadap dirinya pada agama dan dunianya, jika dikhawatirkan seperti itu dibolehkan baginya menjauhinya. Berapa banyak mendiamkan (menghajr, tidak menyapa) yang indah lebih baik dari pada bergaul yang menyakiti.’[27]

Dan ia berkata pula dalam mengambil dalil dari hadits Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendiamkannya bersama kaum muslimin:

‘Ini merupakan dasar di sisi para ulama dalam menjauhi orang yang melakukan bid’ah, mendiamkannya dan tidak berbicara bersamanya. Dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tidak berbicara terhadap laki-laki yang tertawa pada jenazah.[28]

 

Tujuan-tujuan syar’iyah bagi syari’at hajr (mendiamkan):

Bisa disimpulkan tujuan-tujuan syar’iyah bagi hajr dalam beberapa hal berikut ini:

  1. Sesungguhnya mencela dengan cara mendiamkan merupakan hukuman secara syar’i bagi yang didiamkan, maka ia termasuk jenis jihad fi sabilillah agar kalimah Allah subhanahu wa ta’ala tertinggi, menunaikan kawajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan kewajiban cinta pada-Nya subhanahu wa ta’ala.
  2. Membangkitkan rasa sadar di dalam jiwa kaum muslimin agar tidak terjerumus dalam bid’ah ini dan mengingatkan mereka.
  3. Membatasi tersebarnya bid’ah.
  4. Menekan pelaku bid’ah dan mencelanya, agar ia menjadi lemah dari menyebarkan bid’ahnya, karena bila terjadi pemboikotan terhadapnya dan menjauh darinya jadilah ia seperti musang dalam lobangnya.[29]
  5. Juga di antara tujuan syar’i: mengingatkan pelaku bid’ah terhadap kesalahannya agar ia merasa perbedaannya bagi kaum muslimin, lalu ia bertaubat dan kembali dari perbuatan bid’ahnya.

Catatan-catatan penting mendiamkan (hajr) yang disyari’atkan:

Yang perlu diingatkan dalam masalah ini bahwa mendiamkan ahli bid’ah adalah dari bab pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ibadah, maka harus ada dua syarat diterimanya, yaitu:

Pertama, ikhlas: ia adalah timbangan ibadah dalam batinnya. Maka yang mendiamkan ahli bid’ah harus bertujuan memberi nasihat karena Allah subhanahu wa ta’ala, bagi kitab-Nya, rasul-Nya, dan bagi semua kaum muslimin, dan bertujuan menutup pintu bid’ah,  dan mencela pelakunya agar kembali kepada sunnah, tanpa adanya tujuan-tujuan lain dari sisi hawa nafsu belaka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Apabila hal ini sudah diketahui, maka mendiamkan yang syar’i merupakan amal ibadah yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya. Taat harus ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala dan sesuai perintahnya. Maka siapa yang mendiamkan karena hawa nafsunya atau mendiamkan yang tidak diperintahkan, berarti ia keluar dari kriteria hal ini.[30]

Kedua: Mutaba’ah, yaitu timbangan amal secara lahir:

Mendiamkan ahli bid’ah harus berdasarkan beberapa catatan yang berdiri di atas kaidah menjaga mashlahat (kebaikan) dan menolak kerusakan. Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid rahimahullah berkata: ‘Disyari’atkan hajr adalah dalam lingkaran kriteria-kriteria syar’i yang dibangun di atas dasar menjaga mashlahat dan menolak kerusakan.’[31]

Sehingga bisa terealisasikan penyebab yang mengharuskan hajr (mendiamkan), harus dipastikan beberapa perkara:

  1. Memastikan adanya bid’ah, tidak cukup dengan isu dan ucapan fulan (si anu), akan tetapi harus dipastikan mendengar ucapannya atau melihat perbuatannya atau tulisannya.
  2. Bahwa bid’ah itu adalah sesuatu yang dipastikan bid’ahnya, maka janganlah ia menhajr dalam masalah-masalah yang para ulama yang berbeda pendapat padanya.
  3. Sampainya hujjah kepada pelaku bid’ah, memahaminya, hilangnya penghalang kebodohan, tidak adanya syubhat, dan tersingkapnya ghaflah (lupa, lalai).

Dan bisa disimpulkan kriteria syar’i bagi hajr dalam dua hal:

Pertama, menjaga mashlahat dan merusakan.

Kedua, hukuman menurut kadar kesalahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam tata cara yang benar dalam hajr: ‘Sesungguhnya satu kaum menjadikan hal itu berlaku secara umum, maka mereka melakukan dan mengingkari sesuatu yang mereka tidak disuruh dengannya, hukumnya tidak wajib dan tidak sunnah, dan terkadang dengannya mereka meninggalkan kewajiban kewajiban dan sunnah-sunnah, dan melakukan yang diharamkan dengannya.

Dan yang lain berpaling dari hal itu secara menyeluruh, maka mereka tidak menghajr sesuatu yang mereka disuruh menghajrnya dari perbuatan dosa yang bid’ah, bahkan mereka meninggalkannya karena berpaling, bukan meninggalkan orang yang berhenti lagi membenci, atau mereka terjerumus padanya. Dan terkadang mereka meninggalkannya seperti meninggalkan orang yang membenci (perbuatan bid’ah itu) dan tidak melarang orang lain darinya dan tidak menghukum dengan hajr dan semisalnya, orang yang pantas mendapat hukuman. Maka mereka telah menyia-nyiakan nahi mungkar yang mereka disuruh melakukannya dengan perintah wajib atau sunnah. Maka mereka di antara melakukan yang mungkar atau meninggalkan yang diperintahkan, dan hal itu melakukan yang mereka dilarang darinya dan meninggalkan yang mereka disuruh dengannya, maka ini adalah ini. Dan agama Allah subhanahu wa ta’ala berada di pertengahan di antara yang ghuluw (berlebihan) padanya dan jafi (yang menjauh, meninggalkan) darinya. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.[32]

Syaikh Nashiruddin al-Albany rahimahullah berkata: ‘Politik wala` dan bara` tidak mengharuskan memusuhi satu golongan dari golongan-golongan Islam atau satu kelompok dari kelompok-kelompok Islam, akan tetapi setiap kelompok darinya harus diperlakukan dalam batas dekat dan jauhnya dari akidah Islam, atau dari berpegang dengan Islam yang benar sebagai satu kesatuan utuh. Dan memusuhi tidak datang kecuali dalam kondisi putus asa dari memperbaiki dan membimbingnya. Maka di sini datang sesuatu yang dikenal dengan benci/marah karena Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun pada awalnya, tidak sewajarnya seorang muslim memusuhi seseorang dari kelompok-kelompok Islam, sekalipun menyalahi akidahnya.[33]

Maka dari sudut pandang perbedaan kedudukan dari sisi dosa, ia terdiri dari beberapa sisi[34]:

  • Dari sisi kondisinya kafir atau tidak kafir.

Maka yang mengkafirkan seperti Babiyah, Bahaiyyah dan Qadiyaniyyah.

Dan yang tidak mengkafirkan seperti umumnya bid’ah dalam ibadah, secara hakikat atau idhafah.

  • Dari sisi pelakunya bersembunyi dengannya atau menampakkan diri. Jika ia menampakkanya maka ia berhak mendapatkan hukuman, berbeda orang yang menyembunyikan, maka ia tidak lebih buruk dari pada orang-orang munafik yang Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menerima yang mereka nampakkan dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menyerahkan urusan batin mereka kepadanya, ini dan mereka berada di lapisan paling bawah dari api neraka.[35]

Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Karena alasan ini dan semisalnya, kaum muslimin berpendapat agar menghajr orang yang nampak tanda-tanda penyimpangan atasnya dari orang-orang yang menampakkan bid’ah dan mengajak kepadanya, serta yang menampakkan dosa besar. Adapun orang yang menyembunyikan maksiatnya atau menyembunyikan bid’ah yang mengkafirkan, maka sesungguhnya ini tidak dihajr. Sesungguhnya yang dihajr adalah yang mengajak kepada bid’ah, karena hajr adalah satu jenis hukuman, dan sesungguhnya yang dihukum adalah yang menampakkan maksiat secara ucapan dan perbuatan.[36]

  • Dan dari sisi kondisinya hakikat atau idhafah:

Maka bid’ah hakikat adalah bid’ah ibadah yang baru secara menyendiri seperti shalat raghaib, bukan bid’ah idhafiyah, dan seperti shalat qadar, shalat alfiyyah di malam nisfu Sya’ban, bid’ah maulid, hari-hari besar pemerintah, ied Ghadir kham di kalangan Syi’ah…dan seterusnya.

Dan bid’ah idhafiyyah: yaitu perkara bid’ah yang disandarkan kepada sesuatu yang disyari’atkan pada dasarnya dengan tambahan dan pengurangan. Contohnya adalah: berdoa secara berjama’ah setelah shalat. Doa adalah sesuatu yang disyari’atkan dan menjadikannya berjamaah adalah bid’ah yang disandarkan yang tidak ada nashnya. Dasar semua ibadah adalah tauqif (berdasarkan wahyu, akal tidak punya peran di dalamnya). Dan sujud syukur secara berjama’ah, menjadikan tabligh (penyambung takbir imam) di belakang imam sebagai suatu kebiasaan rutin padahal tidak diperlukan,..dan seterusnya.

  • Dan dari sisi kondisinya jelas atau sulit/rumit:

Maksudnya kondisinya jelas tempat pengambilannya, maka ia adalah bid’ah, maka ia adalah bid’ah murni seperti bid’ah-bid’ah upacara pemakaman dan maulid, shalat Raghaib… Atau bid’ah yang padanya ada kemungkinan karena samar tempat pengambilannya, contohnya: qunut dalam shalat isya` dan subuh. Memang hal itu pernah terjadi kemudian dinasakh dan tetap disyari’atkan padanya saat peristiwa tertentu, dan adanya syubhat khilaf (perbedaan pendapat) tidak menjadikannya disyari’atkan secara rutin.

Pada hakikatnya sesungguhnya sisi ini hanya pada gambaran saja, bukan pada hakikatnya, karena bid’ah-bid’ah berbagai macam bentuk pengambilanya bersumber dari isu-isu dan sikap fanatik buta tidaklah menjadikannya jelas. Wallahu A’lam.[37]

  • Dan dari sisi ijtihadnya padanya atau kondisinya muqallid (pengikut):

Mujtahid adalah orang yang menciptakan bid’ah, kecenderungan kepada kesesatan lebih mungkin di hatinya dari pada pengikut, sekalipun keduanya berdosa, akan tetapi dosa orang yang memberikan contoh yang buruk lebih besar dosanya. Wallahu A’lam.[38]

  • Dan dari sisi terus menerus melakukannya atau tidak:

Adapun terus menerus melakukannya maka ia menjadikannya dari bab (pintu) berdakwah kepadanya. Adapun yang tidak terus menerus melakukannya maka ia masuk dari pintu kekeliruan dan kekhilafan seorang alim, apabila ia melakukan kemudian tidak pernah mengulanginya lagi.[39]

  • Dan berbeda sesuai perbedaan kondisi orang yang melakukan kesalahan (ahli bid’ah) dan yang ada padanya berupa kebaikan dan keburukan:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Apabila tergabung pada seorang laki-laki kebaikan dan keburukan, fasik dan taat, maksiat, sunnah dan bid’ah: ia berhak mendapatkan perlakukan wala` (loyal) dan pahala sekadar kebaikan yang ada padanya, dan ia pantas dimusuhi dan hukuman menurut kadar keburukan yang ada padanya. Maka tergabung pada seseorang beberapa perkara yang mengharuskan mendapatkan penghormatan dan penghinaan. Maka tergabung baginya dari ini dan itu, seperti pencuri yang fakir, dipotong tangannya karena ia mencuri dan diberikan dari baitul mal yang mencukupi kebutuhannya. Inilah dasar yang disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah…[40]

  • Dan berbeda di antara seorang alim yang jiwanya menyerap dengan bid’ah akan tetapi ia tidak bergabung/bercambur dengan ulama Ahlus Sunnah dan tidak mengambil ilmu dari mereka, dan di antara seorang alim yang mengambil ilmu dari ahli bid’ah, kemudian ia bergabung dengan ahlus sunnah dan para ulama mereka, berkumpul bersama mereka satu masa yang bisa mendapatkan keyakinan, bahkan ia bergaul dengan mereka puluhan tahun. Kemudian ia tetap berada di atas serapan bid’ah yang terus dilakukannya, berdakwah kepadanya, terus menerus atasnya. Maka orang ini telah berdiri tegak hujjah atasnya lebih banyak dan jelas bukti-bukti baginya maka ia tidak lebih melihat. Ia adalah makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang paling berdosa dan benci terhadap Ahlus Sunnah. Maka yang pertama dalam menjinakkan hatinya untuk kembali kepada Ahlus Sunnah masih ada harapan. Adapun yang kedua, maka tidak. Bahkan wajib mendiamkannya dan menjauhinya, dan memberikan hukuman secara syar’i atasnya, menghajrnya setelah mati sebagaimana menghajrnya ketika masih hidup. Maka orang shalih tidak menshalatkannya dan tidak mengikuti jenazahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pada sebagian pelaku maksiat yang menampakkan kefasikan mereka: ‘Adapun bila seseorang menampakkan kemungkaran tentu wajib mengingkarinya secara terbuka dan tidak tersisa baginya ghibah (boleh menggunjingnya dalam masalah ini), dan harus dihukum secara terbuka dengan suatu hukuman yang membuatnya jera dari hal itu berupa didiamkan dan yang lainnya. Maka tidak boleh diberi salam kepadanya dan tidak dijawab salamnya, apabila yang melakukan hal itu bisa melakukannya tanpa berakibat kerusakan yang lebih buruk.

Sudah selayaknya para tokoh agama menghajrnya setelah wafat, sebagaimana menghajrnya ketika masih hidup, apabila hal itu bisa membuat jera para pelaku dosa, maka mereka tidak melayat jenazahnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam pernah beberapa kali tidak menshalatkan pelaku dosa. Dan sebagaimana dikatakan kepada Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu[41]: Sesungguhnya anakmu meninggal semalam.’ Ia berkata: ‘Jika ia meninggal aku tidak menshalatkannya.’ Maksudnya, sesungguhnya ia membantu membunuh dirinya maka ia sama seperti membunuh dirinya, dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak menshalatkan orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Demikian pula Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr tiga orang sahabat yang menampakkan dosa mereka dalam tidak ikut berjihad yang wajib sampai Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubat mereka. Maka bila ia menampakkan taubat niscaya nampak kebaikan baginya…[42]

  • Dan dibedakan dalam kondisi yang dihajar di antara yang mempunyai iman yang kuat dan yang lemah padanya. Sesungguhnya yang kuat dihukum dengan yang lebih berat dari pada yang lemah dalam agama, sebagaimana dalam cerita Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua temannya.[43]
  • Demikian pula menurut kondisi tempat:

Beda di antara tempat-tempat yang banyak bid’ah padanya, sebagaimana banyak Qadariyah di Bashrah, peramal di Khurasan, Syi’ah di Kufah dan di antara yang tidak ada yang demikian itu.[44] Dan ini menurut yang difatwakan imam Ahmad dan yang lainnya, dibangun atas dasar ini: menjaga mashlahat syar’iyah. ‘Dan berbeda menurut perbedaan orang yang menghajr dalam kekuatan dan kelemahan mereka, sedikit dan banyaknya mereka.[45]

Apabila mayoritas dan yang nampak bagi Ahlus Sunnah niscaya disyari’atkan hajr terhadap ahli bid’ah berdiri menurut asalnya. Dan jika kekuatan dan mayoritas bagi ahli bid’ah –tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala– maka ahli bid’ah dan yang lain tidak akan tersadar dengan tindakan hajr dan tidak bisa diperoleh tujuan syar’i, niscaya tidak disyari’atkan hajr dan yang terbaik adalah cara pendekatan karena khawatir bertambah keburukan.

Dan ini seperti kondisi yang disyari’atkan bersama musuh: terkadang berperang, terkadang berdamai, dan terkadang diambil jizyah. Semua itu tergantung kondisi dan mashlahat.[46]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: ‘Adapun menghajr mereka maka ini menjadi keharusan terhadap bid’ah. Apabila bid’ah itu menyebabkan kafir wajiblah menghajr. Apabila kurang dari itu, maka sesungguhnya kita tawaqquf (berhenti) dari menghajrnya, jika dalam menghajrnya adalah mashlahat maka kita melakukannya dan jika tidak ada mashlahat padanya niscaya kita menjauhinya. Hal itu dikarenakan bahwa pada dasarnya haram menghajr orang yang beriman, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَايَحِلُّ لِرَجُلٍ مُؤْمِنٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Tidak boleh bagi seseorang yang beriman menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”[47]

Maka setiap orang beriman, sekalipun ia fasik, haram menghajrnya selama tidak ada mashlahat dalam menghajrnya. Jika ada mashlahat dalam menghajrnya kita menghajrnya, karena hajr dalam kondisi itu menjadi obat. Adapun bila tidak ada mashlahat padanya atau bertambah maksiat dan pembangkangan padanya, maka sesungguhnya yang tidak ada mashlahat padanya maka meninggalkannya adalah mashlahat.[48]

Di masa sekarang, fitnah sangat besar dan bid’ah tersebar luas. Ahli bid’ah merupakan simbol di sebagian negara…mereka meninggikan bid’ah mereka dan mempublikasikannya.

Dan di sebagian negara, jika sunnah lemah nampaklah bid’ah dan jika sunnah kuat niscaya bid’ah mengerucut. Dan tidak samar terhadap orang yang melihat lagi mengetahui sumber pengambilan mazhab mereka yaitu mereka mengarang buku-buku propaganda untuk mazhab mereka, sehingga mempengaruhi akidah orang-orang yang jahil. Sebagaimana diberikan banyak kesempatan terhadap mereka untuk memasukkan bid’ah-bid’ah mereka di setiap rumah lewat stasiun televisi dan majalah serta lewat setiap cara yang bisa mereka lakukan.

Realita pada hari ini menjadi saksi terhadap apa yang kami katakan! Apakah perkaranya dibiarkan dan seolah-olah sesuatu yang tidak pernah terjadi? Ataukah dakwah kepada kebenaran dan sunnah merupakan suatu keharusan, semua menurut kadarnya. Kebutuhan yang sangat terhadap amar ma’ruf dan nahi munkar, meluruskan akidah, dan melakukan segala upaya untuk menghalangi kebatilan dan pelakunya?!!


[1] Tafsir al-Qurthuby 7/12-13.

[2] Tafsir al-Qurthuby 5/418.

[3] Tafsir al-Qurthuby 9/108.

[4] Tafsir al-Qurthuby 17/308

[5] Muslim 1/12 (6) dalam Muqaddimah.

[6] HR. Ahmad 2/86, 125, dan 5/406, Abu Daud 2/634 (4692).

[7] Al-Bukhari 6/2482, 6374 dan Muslim 2/2053, 2665.

[8] Muslim 1/69 (50).

[9] Al-Bukhari 4/1655 (4273) dan Muslim 4/2053 (2665).

[10] Al-Bukhari 4/1603, 1718, 5/2308, 6/2640  (4156, 4400, 5900, 6798), Muslim 4/2120 (2769).

[11] Abu Daud 2/609 (4602)

[12] Abu Daud 2/781 (5237)

[13] Abu Daud 2/609 (4601) dan Musnad ath-Thayalisy 1/90 (646).

[14] Al-Adabul Mufrad 1/352 (1020)

[15] An-Nasa`i 8/175 (5206) dan al-Adabul Mufraf 1/352 (1022).

[16] Abu Daud 2/450 (4065), An-Nasa`i 5/116 (2807), dan al-Mustadrak 4/211 (7399).

[17] Hilyatul Auliya` 4/197-198.

[18] Adabul Mufrad 1/422 (1268).

[19] Al-Mustadrak 4/315 (7760).

[20] Sunan ad-Darimy 1/127-128 (438-440)

[21]  Sunan Ibnu Majah 1/8 (18).

[22] Al-Muwaththa` 2/632 (1302) dan Musnad asy-Syafi`i 1/242 (1202)

[23] Az-Zuhd karya Imam Ahmad 1/161.

[24] Al-Adabusy Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 1/232.

[25] Syarh Sunnah karya al-Baghawi 1/226-227.

[26] Ihya` ‘Ulumiddin 2/168.

[27] At-Tamhid 6/127 dan lihat Fathul Bari 10/496.

[28] At-Tamhid 4/87

[29] Lihat: Hajrul Mubtadi’ karya Bakar bin Abdullah Abu Zaid hal. 11.

[30] Majmu’ Fatawa 28/207.

[31] Hajrul Mubtadi’ hal 41.

[32] Al-Fatawa 28/213 dan liha hal 206 darinya.

[33] Di antara fatwa Syaikh al-Albany di Makkah, kaset no. 7.

[34] Lihat uraian enam sisi ini dari I’tisham karya asy-Syathiby 1/167-174

[35] Lihat: Majmu’ Fatawa 28/205.

[36] Majmu’ Fatawa 24/174-175.

[37] Lihat: I’tisham 1/172-173.

[38] Lihat: I’tisham 1/167-168.

[39] Lihat: I’tisham 1/174

[40] Al-Fatawa 28/209 dan lihat hal 228 dengan penjelasan lebih luas dari ini.

[41] Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd 1/199.

[42] Al-Fatawa 28/217-218.

[43] Lihat: Fathul Bary 8/123, Kitab Maghazi.

[44] Fatawa 28/206-207

[45] Al-Fatawa 28/206.

[46] Hajrul Mubtadi’ hal 44.

[47] Al-Bukhari 6073 dan Muslim 2560.

[48] Al-Majmu’ ats-Tsamin 1/30-31.

  والله أعلمُ بالـصـواب
Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *