[ UIC 6.2 ] – Jenis-Jenis Bid’ah dan Berbagai Kondisi Para Pelakunya 04

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: ‘Dan karena inilah imam Ahmad rahimahullah dan mayoritas imam sesudah dan sebelumnya seperti imam Malik rahimahullah dan yang lainnya tidak menerima riwayat orang yang berdakwah kepada bid’ah dan tidak duduk bersamanya, berbeda dengan yang diam.’[1]

Abdurrahman al-Mu’allimy rahimahullah berkata: ‘Adapun yang tidak berdakwah maka sudah lewat kutipan ijma’ bahwa ia sama seperti sunny, apabila terbukti ‘adilnya niscaya diterima riwayatnya.’ Dan diriwayatkan dari Malik rahimahullah yang sama seperti itu. Dan dikatakan dari Malik rahimahullah: bahwa ia tidak meriwayatkan darinya juga, dan yang dilakukan adalah yang pertama.[2]

Al-Baghawi rahimahullah berkata dalam Syarh Sunnah: ‘Demikian pula mereka berbeda pendapat dalam riwayat ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu, mayoritas ahli hadits menerimanya apabila mereka jujur padanya. Muhammad bin Ismail telah meriwayatkan dari ‘Abbad bin Ya’qub ar-Rawijini. Dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah rahimahullah berkata: ‘Telah menceritakan kepada kami seseorang yang jujur dalam riwayatnya, tertuduh dalam agamanya: ‘Abbad bin Ya’qub!!

Al-Bukhari rahimahullah berhujjah pula dalam Shahih dengan Muhammad bin Ziyad al-Alhani dan Hirriz bin Utsman ar-Rahby, dan masyhur dari keduanya an-Nashb (golongan yang membenci Ali bin Abu Thalib, kebalikan dari Syi’ah). al-Bukhari dan Muslim sepakat berhujjah dengan Abu Mu’awiyah Muhammad bin Hazim adh-Dharir dan Ubaidullah bin Musa, dan terkenal dari keduanya sikap ghuluw.

Adapun Malik bin Anas rahimahullah, ia berkata: ‘Tidak diambil hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dari pengikut hawa nafsu yang mengajak (berdakwah) kepada hawa nafsunya (bid’ahnya), tidak pula dari pendusta yang berdusta pada hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sekalipun engkau tidak menuduhnya berdusta terhadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam.’ Yang menyebutkan perbedaan pendapat ini adalah al-Hakim Abu Abdillah dalam kitabnya tentang pembahasan menerima riwayat mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya: ‘Apakah ditulis hadits dari seorang Murji`ah dan Qadariyah serta selain mereka dari ahli bid’ah? Ia menjawab: ‘Ya, apabila ia tidak berdakwah kepadanya dan tidak banyak pembicaraan atasnya. Adapun bila ia berdakwah (kepada bid’ahnya) maka tidak.’[3]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Karena inilah tidak ada dalam kitab-kitab induk mereka (Ahli Hadits) seperti Shahih, Sunan, dan Masanid, riwayat dari orang-orang yang terkenal  berdakwah kepada bid’ah, sekalipun padanya ada riwayat dari orang yang padanya jenis bid’ah, seperti Khawarij, Syi’ah, Murji`ah, dan Qadariyah. Dan penjelasan hal itu karena mereka (para pengarang kitab hadits) tidak meninggalkan riwayat dari mereka karena fasik yang diduga oleh sebagian mereka, akan tetapi siapa yang menampakkan bid’ahnya niscaya wajiblah mengingkarinya, berbeda dengan orang yang menyamarkan dan menyembunyikannya. Apabila wajib mengingkarinya, niscaya yang termasuk mengingkarinya adalah menghajrnya (tidak menyapanya) hingga ia berhenti dari menampakkan bid’ahnya. Dan termasuk menghajrnya adalah tidak diambil ilmu darinya dan tidak dijadikan syahid (hadits penguat).[4]

Dan demikian pula di antara cabang pembahasan tentang perbedaan bid’ah dan tingkatan-tingkatannya: bab hukuman dan ta’zir (efek jera) bagi yang menyalahi Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sungguh sangat banyak riwayat dari salaf tentang hukuman terhadap ahli bid’ah dengan berbagai macam hukuman; berupa ditahan, dipukul, dicambuk, diasingkan, dihinakan, dan dihajr.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata pada Qadariyah: ‘Jika aku melihat salah seorang dari mereka niscaya aku mengambil rambutnya.[5] Dan ia berkata: ‘Jika aku melihat salah seorang dari mereka niscaya aku menggigit hidungnya.’[6]

Dikatakan kepada Nafi’ rahimahullah: ‘Sesungguhnya laki-laki ini berbicara tentang Qadar’…maka ia mengambil segenggam pasir lalu melemparkan ke wajahnya.[7]

Diriwayatkan dari Salim bin Abdullah rahimahullah bahwa ia melakukan hal itu terhadap seorang laki-laki yang datang kepadanya, ia berkata kepadanya: ‘Seorang laki-laki berzinah.’ Salim rahimahullah berkata: ‘Ia meminta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ia bertaubat kepada-Nya.’ Laki-laki itu berkata: ‘Apakah Allah subhanahu wa ta’ala mentaqdirkan hal itu kepadanya? Salim rahimahullah berkata: ‘Ya.’ Kemudian ia mengambil segenggam pasir lalu memukulkannya  ke wajah laki-laki itu seraya berkata: ‘Berdirilah.’[8]

Dari Malik rahimahullah, ia berkata: ‘Al-Qur`an adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala.’ Dan ia berkata: ‘Siapa yang berkata ‘al-Qur`an adalah makhluk’ dia harus dipukul dan ditahan hingga meninggal dunia.’[9]

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ia berkata: ‘Aku bertanya kepada bapakku tentang seorang laki-laki yang melakukan bid’ah yang dia mengajak kepadanya, ia mempunyai beberapa penyeru (juru dakwah) kepadanya, apakah engkau berpendapat bahwa ia harus ditahan? Ia menjawab: ‘Ya, saya berpendapat bahwa ia harus ditahan, agar bid’ahnya tidak menyebar di tengah kaum muslimin.’[10]

Dari Abul Hasan al-Lakhmy rahimahullah –dari pemuka mazhab Maliki- ia ditanya tentang kaum Ibadhiyah yang tinggal di tengah-tengah kaum muslimin dan membangun masjid yang mereka berkumpul di dalamnya dan mereka menampakkan mazhab mereka. Beliau menjawab: ‘Apabila kaum yang disebutkan menampakkan mazhabnya, mengumumkanya, membangun masjid yang mereka berkumpul di dalamnya, dan shalat ied berjamaah menjauh dari kaum muslimin, maka ini adalah pintu besar yang dikhawatirkan nantinya bertambah kuat, merusak agama kaum muslimin, dan orang-orang bodoh dan yang tidak bisa membedakan cenderung kepada mereka, maka pemerintah berkewajiban menyuruh mereka bertaubat dari keyakinan mereka. Maka jika mereka tidak kembali mereka harus dipukul dan dipenjara. Jika mereka tetap dalam keyakinan mereka, maka diperselisihkan hukum membunuh mereka. Adapun menghancurkan masjid yang mereka bangun maka suatu kebenaran dan semua yang mereka berkumpul padanya juga seperti itu…[11]

Dan sebaliknya, ada beberapa atsar salaf yang berbeda dari yang telah disebutkan.

Abu Daud rahimahullah berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad rahimahullah: ‘Kami memiliki beberapa kerabat yang berpendapat irja` (Murji`ah), bolehkah kami menulis surat ke Khurasan mengucap salam kepada mereka?  Ia menjawab: ‘Subhanallah, kenapa engkau tidak mengucap salam kepada mereka?

Dan dalam riwayat lain ia berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad rahimahullah: ‘Apakah kami berbicara dengan mereka? Ia menjawab: ‘Ya, kecuali ia berdakwah dan memusuhi padanya.’[12]

Bahkan diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah, sebagaimana Ibnu Muflih al-Hanbaly rahimahullah membuat satu judul dalam kitabnya ‘Adabus Syar’iyyah’, ia berkata: Pasal dalam melarang menahan ahli bid’ah karena bid’ah mereka: al-Marudzi rahimahullah berkata: ‘Aku bertanya kepada Abu Abdullah tentang satu kaum ahli bid’ah yang menentang dan mengkafirkan? Ia berkata: ‘Janganlah kamu menyentuh mereka.’ Aku berkata: ‘Kenapa engkau tidak suka mereka ditahan? Ia menjawab: ‘Mereka mempunyai ibu dan saudari.’

Aku berkata: ‘Mereka telah menahan seseorang dan berbuat aniaya kepadanya. Mereka meminta kepadaku agar aku berbicara pada perkaranya sehingga ia keluar.’ Ia menjawab: ‘Jika salah seorang dari mereka ditahan maka tidak.’ Kemudian Abu Abdillah berkata: ‘Ini adalah tetangga kami, laki-laki itu ditahan dan meninggal di penjara.’ Saya menduga ia berkata beberapa kali: ‘Bagaimana Abu Bakar bin Khallad rahimahullah meriwayatkan? Aku berkata kepadanya: ‘Ia (Abu Bakar) berkata: ‘Aku duduk di sisi Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, lalu datang Fudhail rahimahullah, ia berkata: ‘Janganlah kalian duduk bersamanya –maksudnya Ibnu Uyainah- engkau menahan seseorang dalam penjara? Apakah engkau merasa aman apa yang akan terjadi padanya dalam penjara? Berdiri dan keluarkan dia.’ Abu Abdillah merasa kagum dan menganggapnya baik.’[13]

Perbedaan sikap  dan pendirian salafus shalih dalam menghadapi ahli bid’ah dari sisi memberikan hukuman kepada mereka kembali kepada perbedaan bid’ah tersebut dan kondisi para pelakunya.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata setelah menyebutkan sebagian hukuman terhadap ahli bid’ah: ‘Apabila sudah diketahui bahwa ini termasuk sisi hukuman secara syar’i, niscaya diketahui bahwa ia berbeda tergantung perbedaan kondisi, dari sedikit bid’ah dan banyaknya, nampak sunnah dan samarnya,  dan sesungguhnya yang disyari’atkan terkadang dengan cara pendekatan dan terkadang dengan cara hajr (tidak disapa), sebagaimana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melakukan pendekatan terhadap beberapa kaum musyrikin yang baru masuk Islam dan orang yang dikhawatirkan fitnah terhadapnya, maka beliau shallallahu ‘alahi wa sallam memberi kepada yang dijinakkan hatinya (mu`allaf) a sesuatu yang tidak diberikan kepada selain mereka.

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda dalam hadis shahih:

Sesungguhnya aku memberikan kepada beberapa orang dan meninggalkan yang lain, dan yang tidak kuberi lebih kucintai dari para yang kuberi. Aku memberi kepada beberapa orang laki-laki karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dalam hati mereka rasa keluh kesah dan gelisah, dan aku tidak memberi kepada beberapa orang laki-laki karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan dalam hati mereka berupa rasa kaya dan kebaikan, di antara mereka adalah Amar bin Taghlib.’[14]

Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya aku memberi kepada seorang laki-laki dan yang lain lebih kucintai dari padanya, karena khawatir Allah subhanahu wa ta’ala menjerumuskan dia di neraka.’[15] Atau ucapan seperti itu.

Dan beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menghajr sebagian orang beriman, seperti beliau menghajr tiga orang yang tertinggal dari perang Tabuk, karena tujuannya adalah mengajak makhluk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan jalan paling lurus, maka digunakan cara raghbah (dorongan,rangsangan) di tempat yang paling tepat dan digunakan cara ancaman di tempat yang paling tepat.

Siapa yang mengetahui hal ini, jel’alaihissalamah baginya bahwa siapa yang menolak persaksian dan riwayat secara mutlak dari (ahli bid’ah) orang-orang yang menyalahi Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bertakwil maka pendapatnya adalah lemah, karena sesungguhnya salaf telah masuk dengan takwil dalam berbagai perkara besar. Dan siapa yang menjadikan orang-orang yang menampakkan bid’ah sebagai imam dalam ilmu dan persaksian yang tidak diingkari dengan hajr dan rada’, maka pendapatnya juga lemah. Demikian pula orang yang shalat di belakang orang yang menampakkan bid’ah dan kefasikan tanpa mengingkari dan tanpa berusaha mengganti dengan yang lebih baik darinya padahal mampu melakukannya, maka pendapatnya lemah. Dan ini memberikan konsekuensi membiarkan kemungkaran yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya, padahal ia mampu mengingkarinya, dan ini tidak boleh. Dan siapa yang mewajibkan mengulangi shalat bagi yang berjamaah bersama imam yang fasik dan ahli bid’ah, maka pendapatnya lemah. Karena sesungguhnya kaum salaf, para pemuka sahabat dan tabi’in shalat di belakang mereka  dan hal itu tatkala mereka menjadi pemimpin. Karena inilah, termasuk dasar akidah Ahlus Sunnah: bahwa shalat yang diimami oleh pemerintah, dilaksanakan shalat di belakang mereka, bagaimana pun kondisi mereka, sebagaimana berhaji dan berperang bersama mereka.[16]


[1] Majmu’ Fatawa 24/175.

[2] At-Tankil 1/231.

[3] Syarh Sunnah lil Baghawi 1/248-249.

[4] Minhajus Sunnah an-Nabawiyah 1/62-63.

[5] Asy-Syari’ah 454 (2/873-874).

[6] Asy-Syari’ah (2/873-874). Al-Laalika`i  dalam Syarh Ushuli I’tiqadi Ahlus Sunnah 1163 (4/644).

[7] Ibid 494 (2/904-905).

[8] Ibid 546 (901-902).

[9] Ibid 166 (1/501)

[10] Masail Imam Ahmad riwayat anaknya Abdullah hal 224.

[11] Tabshiratul Hukkam, Ibnu Farhun  1/426.

[12] Masail Imam Ahmad riwayat Abu Daud hal 286.

[13] Al-Adabus Syar’iyyah 1/276.

[14] Al-Bukhari 6/274 (7097).

[15] Abu Daud  2/632 (4683) dan an-Nasa`i 8/103 (4992).

[16] Minhaju Sunnah Nabawiyah 1/63-66.

  والله أعلمُ بالـصـواب
Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *