[ UIC 6.2 ] – Jenis-Jenis Bid’ah dan Berbagai Kondisi Para Pelakunya 03

Kapan seseorang atau kelompok memisahkan diri dari Ahlus Sunnah:

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Dan bid’ah yang seseorang dipandang termasuk ahli bid’ah: yang terkenal menurut ulama sunnah menyalahinya terhadap al-Qur`an dan sunnah, seperti bid’ah kaum Khawarij, Rawafidh, Qadariyah, dan Murji`ah. Sesungguhnya Abdullah bin Mubarak rahimahullah dan Yusuf bin Asbath rahimahullah serta selain mereka berkata: ‘Dasar tujuh puluh dua golongan adalah empat golongan: Khawarij, Rawafidh, Qadariyah dan Murji`ah..[1]

Asy-Syathiby rahimahullah berkata: ‘Dan penjelasan yang demikian itu, bahwa golongan-golongan ini menjadi beberapa golongan karena menyalahi kelompok yang selamat dalam pengertian kully (menyeluruh) dalam agama dan kaidah dari kaidah-kaidah syari’at, bukan pada satu bagian dari bagian-bagiannya. Karena juz`i (bagian kecil) dan fara’ (cabang) yang langka tidak muncul darinya pelanggaran yang terjadi karenanya perpecahan beberapa golongan. Perpecahan hanya muncul ketika terjadi pelanggaran dalam perkara-perkara kulliyah (menyeluruh/umum), karena kulliyah merupakan nash (dalil) dari juz`iyat dan biasanya tidak hanya terbatas pada satu tempat dan satu bab saja.

Adapun juz`i maka sangat berbeda, bahkan dianggap terjadinya hal itu dari pelaku bid’ah sebagai kekeliruan dan kesalahan, sekalipun kesalahan seorang alim bisa meruntuhkan agama, di mana Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Tiga perkara bisa meruntuhkan agama: kesalahan seorang alim, perdebatan orang munafik dengan al-Qur`an, dan para pemimpin yang menyesatkan.’ Akan tetapi bila dekat posisi kekeliruan biasanya tidak akan terjadi perpecahan karenanya dan tidak sampai meruntuhkan agama, berbeda dengan masalah kulliyah.[2]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Dan mesti diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang bernisbah (berafiliasi) kepada yang diikuti (para pemimpin) dalam masalah ushuluddin (aqidah) dan kalam terbagai beberapa tingkatan. Di antara mereka ada yang menyalahi sunnah pada dasar yang besar. Di antara mereka ada yang menyalahi sunnah pada perkara-perkara kecil…hingga ia berkata: ‘Dan seperti mereka, apabila mereka tidak menjadikan sesuatu yang mereka ciptakan (bid’ah) sebagai perkataan yang memisahkan dengannya persatuan (jama’ah) kaum muslimin yang mereka wala` (setia, loyal) dan bara` (berlepas diri, benci) atasnya niscaya hal itu termasuk jenis kesalahan, dan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kesalahan orang-orang beriman dalam perkara seperti itu…hingga ia berkata: ‘Berbeda dengan orang yang bersikap wala` (loyal) kepada yang sependapat dengannya dan bara` kepada orang yang berbeda pendapat, memisahkan persatuan kaum muslimin, mengkafirkan dan menganggap fasik yang menyalahinya dalam masalah-masalah ijtihad dan pendapat, dan menghalalkan membunuh orang yang menyalahinya, maka mereka adalah orang-orang yang menyebabkan perpecahan dan perselisihan. Karena inilah, yang pertama kali memecah belah persatuan kaum muslimin dari ahli bid’ah adalah kaum Khawarij…[3]

Riwayat orang yang menyalahi (ahli bid’ah) dan hukum menerimanya:

Termasuk yang dihubungkan dalam masalah ini adalah riwayat ahli bid’ah, mayoritas ulama membedakan dalam masalah ini di antara ahli bid’ah menurut kadar bid’ahnya, menurut kadar semangat dan aktifitas mereka terhadap bid’ah ini. Mereka membedakan di antara pelaku bid’ah yang dikafirkan dan pelaku bid’ah yang fasik, dan di antara yang mengajak kepada bid’ah dan tidak mengajak.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: ‘Para ulama dari kalangan ahli hadits, fuqaha, ahli ushul berkata: ‘Ahli bid’ah yang dianggap kafir karena bid’ahnya tidak diterima riwayatnya dengan ittifaq (konsensus).[4]

Al-Mu’allimy[5] rahimahullah berkata: ‘Tidak ada syubhat (kesamaran) bahwa jika ahli bid’ah keluar dengan bid’ahnya dari Islam niscaya tidak diterima riwayatnya, karena termasuk syarat riwayat adalah Islam.[6]

Kemudian jika bid’ah tersebut tidak menyebabkan kufur, maka dilihat padanya; dibedakan di antara bid’ah kecil dan bid’ah besar. Dan dibedakan di antara orang yang bid’ahnya menjerumuskannya dalam menghalalkan dusta dan di antara orang yang bid’ahnya sangat jauh dari menghalalkan dusta.

Adz-Dzahaby rahimahullah berkata dalam biografi Aban bin Taghlib al-Kufy asy-Syi`iy: ‘Aban bin Taghlib al-Kufy, seorang syi’ah yang kuat, akan tetapi dia shaquq (jujur). Maka untuk kita kejujurannya dan atasnya bid’ahnya.

Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in dan Abu Hatim rahimahumullah mentsiqahkannya. Dan Ibnu ‘Ady rahimahullah menyebutkannya dan berkata: ‘Dia seorang yang ghuluw dalam keyakinan syi’ah.’ As-Sa’dy rahimahullah berkata: ‘Seorang yang menyimpang secara terang-terangan.’

Seseorang bisa berkata: ‘Bagaimana bisa mentsiqahkan ahli bid’ah, sementara definisi tsiqah adalah ‘adil dan itqaan? Bagaimana mungkin dianggap ‘adil dari seorang ahli bid’ah?

Jawabannya adalah: sesungguhnya bid’ah terbagi dua: bid’ah kecil seperti ghuluw tasyayyu`[7] atau tasyayyu’ tanpa ghuluw dan tahrif. Yang seperti ini banyak pada generasi tabi’in dan pengikut mereka disertai agama yang kuat, wara` dan jujur. Jika ditolak hadits mereka niscaya hilanglah sejumlah besar riwayat-riwayat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, dan ini merupakan kerusakan yang nyata.

Kemudian bid’ah besar seperti Rafidhah yang sempurna dan ghuluw padanya, merendahkan derajat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu dan mengajak kepada hal itu. Maka jenis ini tidak dijadikan hujjah dengan mereka dan tidak ada kemuliaan bagi mereka. Juga yang ada dalam jenis ini berupa seseorang yang tidak jujur dan tidak bisa dipercaya, bahkan bohong adalah syi’ar (pakaian luar) mereka, taqiyah dan nifak adalah pakaian dalam mereka, maka bagaimana bisa diterima riwayat dari orang yang kondisinya seperti ini? Sekali-kali tidak.

Syi’ah ghuluw yang ada di masa salaf dan pandangan umum di tengah mereka adalah orang yang berbicara dan mencela Utsman, Zubair, Thalah, dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in, dan golongan yang memerangi Ali radhiyallahu ‘anhu. Semestara syi’ah ghuluw yang ada di masa kita dan pandangan umum kita adalah orang-orang yang mengkafirkan mereka dan berlepas diri dari Syaikhain (Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhu). Ini adalah adalah orang sesat, Aban bin Taghlib tidak pernah sama sekali berbicara terhadap Syaikhaian (tidak pernah mencela mereka), akan tetapi ia mungkin meyakini Ali radhiyallahu ‘anhu lebih utama dari keduanya.[8]

Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata: ‘Sekelompok ulama berpendapat untuk menerima berita ahli ahwa (ahli bid’ah) yang tidak dikenal dari mereka menghalalkan dusta dan bersaksi untuk orang yang sependapat mereka dengan sesuatu yang tidak ada persaksian di sisi mereka padanya.[9]

An-Nawawi rahimahullah berkata: ‘Dan yang tidak kafir, ada yang berkata: Tidak dijadikan hujjah sama sekali dengannya. Ada yang berkata: Dijadikan hujjah dengannya jika ia tidak termasuk orang yang menghalalkan dusta dalam membela mazhabnya atau pengikut mazhabnya.[10]

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Dan menolak persaksian orang yang dikenal berdusta adalah perkara yang disepakati di antara fuqaha ( ahli fikih).’ Dan ia berkata: ‘Semua ulama sepakat bahwa dusta pada kalangan Rafidhah lebih nampak darinya pada semua ahli qiblat (kaum muslimin).

Sehingga pengarang kitab Shahih seperti al-Bukhari, tidak meriwayatkan dari seorang pun dari kalangan syi’ah qudama (terdahulu), seperti Ashim bin Dhamrah, Harits al-A’war, Abdullah bin Salamah, dan semisal mereka. Padahal mereka termasuk kalangan Syi’ah yang terbaik. Pengarang kitab Shahih hanya meriwayatkan hadits Ali radhiyallahu ‘anhu dari ahli baitnya, seperti Hasan radhiyallahu ‘anhu, Husain radhiyallahu ‘anhu, Muhammad bin Hanafiyah rahimahullah, dan penulisnya Ubaidullah bin Abi Rafi’ rahimahullah, atau dari pengikut Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seperti ‘Ubaidah as-Salmani rahimahullah, Harits bin Qais rahimahullah, atau dari orang yang serupa mereka. Mereka adalah para imam dalam riwayat dan ahli naqd (kritik) termasuk manusia yang paling jauh dari hawa nafsu, paling mengatakan terhadap kebenaran, tidak takut pada Allah subhanahu wa ta’ala celaan orang yang mencela.

Bid’ah bermacam-macam, kaum Khawarij, kendati mereka melewati Islam sebagaimana anak panah melewati sasaran (target, hewan buruan), Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyuruh memerangi mereka, para sahabat dan ulama Islam sepakat untuk memerangi mereka, dan shahih hadits pada mereka dari sepuluh jalur yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya, al-Bukhari meriwayatkan tiga darinya: mereka tidak termasuk orang yang sengaja berdusta, bahkan mereka terkenal jujur. Sehingga dikatakan: Sesungguhnya hadits mereka termasuk hadits paling shahih, akan tetapi mereka bodoh dan tersesat dalam bid’ah mereka.[11]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam pembicaraannya tentang hukum riwayat ahli bid’ah dan ucapan para ulama padanya:  ‘Dan dikatakan: ‘Diterima secara mutlak kecuali jika ia meyakini dusta.’[12]

As-Sayuthi rahimahullah berkata dalam memberi komentar terhadap ucapan an-Nawawi rahimahullah: ‘Dan ada yang berkata: Diambil hujjah dengannya jika ia bukan termasuk orang yang menghalalkan berdusta dalam membela mazhabnya, sama saja ia berdakwah atau tidak, dan tidak diterima jika ia menghalalkan hal itu.[13]

Al-Mu’allimy rahimahullah berkata dalam hukum riwayat ahli bid’ah: ‘…dan sesungguhnya jika ia menghalalkan dusta, maka bisa jadi ia kufur dengan hal itu dan bisa jadi ia fasik. Maka jika kita memaafkannya, maka di antara syarat diterima riwayat adalah jujur, maka tidak bisa diterima riwayatnya.[14]

Jika ahli bid’ah keluar dari golongan yang terdahulu –artinya bukan termasuk ahli bid’ah besar yang menyebabkan kufur- dan tidak termasuk orang yang membolehkan dusta, terjadilah perbedaan pendapat di antara para ulama dalam menerima riwayatnya.

Ibnu Shalah rahimahullah berkata: ‘Mereka berbeda pendapat dalam menerima riwayat ahli bid’ah yang tidak kufur dengan bid’ahnya: di antaranya ada yang menolak bid’ahnya karena ia seorang yang fasik dengan bid’ahnya, sebagaimana sama dalam kufur orang yang bertakwil dan yang tidak, sama pula dalam fasik orang yang bertakwil dan tidak. Di antara mereka ada yang menerima riwayat ahli bid’ah apabila ia bukan termasuk orang yang membolehkan dusta dalam membela mazhabnya atau pengikut mazhabnya. Sama saja ia mengajak (berdakwah) kepada bid’ahnya atau tidak, sebagian mereka menyandarkan hal ini kepada imam Syafi’i rahimahullah karena ucapannya: ‘Aku menerima persaksian ahlil ahwa (pengikut hawa nafsu/ahli bid’ah) kecuali golongan Khathabiyah dari golongan Rafidhah, karena mereka membolehkan bersaksi palsu untuk orang yang sepaham mereka.’ Satu kaum berkata: ‘Diterima riwayatnya apabila tidak mengajak kepada bid’ahnya dan tidak diterima apabila ia berdakwah.’ Ini adalah mazhab mayoritas ulama. Sebagian pengikut imam asy-Syafi’i rahimahullah menghikayatkan perbedaan pendapat di antara mereka dalam menerima riwayat ahli bid’ah apabila tidak mengajak kepada bid’ahnya dan ia berkata: Adapun bila ia berdakwah maka tidak ada perbedaan  di antara mereka dalam tidak diterima riwayatnya.

Abu Hatim bin Hibban al-Busty rahimahullah, salah seorang pengarang dari ulama hadits berkata: ‘Pengajak kepada bid’ah tidak boleh berhujjah dengannya menurut pendapat semua imam kita, saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara mereka.’

Mazhab yang ketiga ini adalah yang paling adil dan paling utama. Pendapat pertama sangat jauh karena sudah tersebar di kalangan para ulama hadits, sesungguhnya kitab-kitab mereka penuh dengan riwayat dari ahli bid’ah yang bukan pengajak, dan di dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) banyak ditemukan hadits-hadits mereka dalam syawahid (hadits penguat/pendukung) dan ushul. Wallahu A’lam.[15]

Membedakan di antara da’i dan bukan adalah pendapat mayoritas ulama seperti yang telah dijelaskan, bahkan Ibnu Hibban rahimahullah mengutip ijma’ atas pendapat ini, sekalipun pengakuan ijma’ tidaklah benar.

Dan di antara ulama yang dikutip darinya ucapan ini adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah, berdasarkan riwayat al-Khathib rahimahullah dengan sanadnya kepada Ali bin Hasan bin Syaqiq rahimahullah, ia berkata: ‘Aku berkata kepada Abdullah bin Mubarak: ‘Apakah engkau pernah mendengar dari ‘Amar bin ‘Ubaid? Maka ia mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini, maksudnya banyak. Aku berkata: ‘Kenapa engkau tidak menyebutkannya, sedangkan engkau menyebutkan selainnya dari golongan Qadariyah? Ia menjawab: ‘Karena sesungguhnya ini termasuk kepala (pimpinan).’[16]

Ucapan ini juga diriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah. Al-Khathib rahimahullah meriwayatkan darinya bahwa ia berkata: ‘Siapa yang berpendapat satu pendapat (yang bid’ah) dan tidak mengajak kepadanya ia bisa jadi (diterima riwayatnya) dan siapa yang berpendapat satu pendapat (bid’ah) dan mengajak kepadanya sungguh ia berhak ditinggalkan (riwayatnya).[17] Al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan darinya bahwa ia berkata: ‘Ilmu ditulis dari pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) dan boleh persaksian mereka selama mereka tidak berdakwah. Apabila ia berdakwah kepadanya niscaya tidak ditulis hadits dari mereka dan tidak boleh persaksian mereka.’[18]

Dan di antara yang mengatakan hal ini adalah imam Ahmad rahimahullah: al-Khathib rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Daud Sulaiman bin As’ts rahimahullah, ia berkata: ‘Aku berkata kepada Ahmad: ‘Apakah ditulis hadits dari seorang qadary? Ia menjawab: ‘Apabila ia tidak berdakwah.’[19]

Dalam Thabaqat Hanabilah karya Abu Ya’la, dari Ja’far bin Muhammad, ia berkata: ‘Wahai Abu Abdillah, apakah engkau meriwayatkan dari Abu Mu’awiyah sedangkan ia seorang Murji`ah? Ia menjawab: ‘Ia tidak berdakwah (kepada bid’ahnya).[20]

Al-Baghawi rahimahullah berkata: ‘Imam Ahmad rahimahullah ditanya: ‘Apakah ditulis (hadits) dari seorang Murji’ah dan Qadariyah, serta selain mereka dari ahli ahwa`? Ia menjawab: ‘Apabila ia tidak berdakwah kepadanya dan banyak pembicaraan padanya. Adapun orang yang berdakwah kepadanya maka tidak (diriwayatkan hadits darinya).’[21]

Pendapat ini juga diriwayatkan dari imam Malik rahimahullah, berdasarkan riwayat Ibnu Abdil Barr rahimahullah, ia berkata: ‘Ilmu tidak diambil dari empat golongan: Orang bodoh yang nyata kebodohannya, pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah) yang berdakwah kepadanya, seseorang yang terkenal berdusta dalam pembicaraan di tengah manusia sekalipun ia tidak berdusta terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan seseorang yang memiliki keutamaan dan shalih yang tidak mengetahui apa yang dia riwayatkan’.[22] Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: ‘Kami telah menyebutkan berita ini dari imam Malik rahimahullah dari beberapa jalur dalam at-Tamhid.’

Al-Khathib rahimahullah menyandarkan kepada imam Malik rahimahullah pendapat menolak riwayat ahli bid’ah secara mutlak (absolot) seperti yang telah lalu, dan pendapat menolak pendapat riwayat ahli bid’ah yang berdakwah dan menerima yang tidak berdakwah adalah yang masyhur darinya menurut para ahli tahqiq.


[1] Majmu’ Fatawa 35/414.

[2] I’tisham 2/712-713.

[3] Majmu’ Fatawa 3/348.

[4] Syarh Shahih Muslim, 1/60, dan lihat: at-Taqrib lin Nawawi hal 324.

[5] Abdurrahman bin Yahya bin Ali bin bin Muhammad al-Mu’allimy al-‘Atamy, faqih, muhaddits, wafat di Makkah tahun 1386 H.

[6] At-Tankil 1/228.

[7] Maksudnya pada zaman sahabat, orang yang berbicara para Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhum, mereka menganggapnya sebagai syi’ah yang ghuluw.

[8] Mizanul I’tidal 1/118-119.

[9] Al-Kifayah hal 120.

[10] At-Taqrib hal 324-325

[11] Minhajus Sunnah 1/66-68.

[12] Nuzhatun Nazhar hal. 50.

[13] Tadribur rawi hal 325.

[14] At-Tankil 1/221

[15] Ulumul Hadits hal 103-104.

[16] Al-Kifayah hal. 127.

[17] Al-Kifayah hal. 126-127

[18] As-Sunan Kubra 10/208.

[19] Al-Kifayah hal. 128.

[20] Thabaqah Hanabilah 1/250.

[21] Syarh Sunnah 1/250.

[22] Jami’u Bayanil Ilmi wa fadhlih 2/821.

  والله أعلمُ بالـصـواب
Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *