[ UIC 6.2 ] – Jenis-Jenis Bid’ah dan Berbagai Kondisi Para Pelakunya 02

Asy-Syathiby rahimahullah menyebutkan beberapa syarat kondisi bid’ah itu termasuk kecil, apabila kurang salah satu syaratnya bid’ah ini menjadi besar, ia berkata: ‘Apabila kita katakan: sesungguhnya di antara bid’ah ada yang kecil, maka hal itu dengan beberapa syarat:

Salah satunya: bahwa ia tidak terus menerus atasnya, sesungguhnya dosa kecil bagi orang yang terus menerus atasnya menjadi besar dibandingkan kepadanya, karena hal itu bersumber atas terus menerus, dan terus menerus terhadap dosa kecil membuatnya menjadi dosa besar. Dan karena itu mereka berkata: ‘Tidak ada dosa kecil disertai terus menerus dan tidak ada dosa besar disertai istighfar’,[1] demikian pula bid’ah tanpa ada perbedaan.

Syarat kedua: bahwa ia tidak mengajak kepadanya, sesungguhnya bid’ah terkadang termasuk bid’ah kecil, kemudian pembuat bid’ah itu mengajak mengucapkannya dan mengamalkan tuntutannya, maka dosa semua itu atasnya. Sesungguhnya dialah yang mengenalkannya dan menyebabkan banyak terjadi dan diamalkan dengannya. Maka sesungguhnya hadits shahih menetapkan bahwa setiap orang yang memberikan contoh yang buruk niscaya atasnya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga. Dosa kecil dan besar, sesungguhnya perbedaannya menurut banyak  dan sedikitnya dosa. Maka terkadang dosa kecil bisa menyamai dosa besar dari sisi atau melebihi atasnya.

Syarat ketiga: bahwa tidak dilakukan ditempat berkumpulnya manusia, atau tempat-tempat yang dilaksanakan padanya sunnah-sunnah dan nampak padanya bendera-bendera syari’at.

Adapun menampakkannya di perkumpulan orang banyak dari orang yang dijadikan panutan dengannya atau dari orang yang disangka baik, maka hal itu termasuk yang paling berbahaya terhadap sunnah Islam.

Syarat keempat: bahwa ia tidak meremehkannya, dan jika kita menganggapnya kecil maka sesungguhnya hal itu meremehkannya, dan memandang sepele suatu dosa lebih besar dari dosa itu sendiri.[2]

Namun yang nampak dari ucapannya rahimahullah bahwa syarat-syarat ini bergantung dengan ukuran dosa yang menimpa pelaku bid’ah, dan tidak berbicara tentang ukuran bid’ah itu sendiri.

Dan hukum terhadap pelaku bid’ah adalah menurut jenis bid’ah yang terjadi padanya dan tingkatannya, disertai pandangan kepada kondisi orang tersebut, dan syubhat atau takwil yang nampak baginya. Demikian pula derajat dan tingkatannya dalam ilmu dan sunnah,… hingga pertimbangan-pertimbangan lain yang mesti diperhatikan ketika menghukum terhadap orang yang terjerumus dalam bid’ah.

[1] Diriwayatkan oleh al-Qadha’iy dalam Musnad Syihab 2/44 dan ad-Dailamy dalam Musnad Firdaus 7994.

[2] I’tisham 2/551, 552, 553, 557

  والله أعلمُ بالـصـواب
Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *