Artikel 01 – Memuji Hal yang Terpuji

Kita akan terpuji jika tulus memuji dengan cermat secara kalkulasi emosi dan efisiensi. Memuji Allah subhanahu wa ta’ala sudah tentu tidak diragukan lagi dapat membuat kita terpuji fid-daarain (di dunia dan di akhirat). Semakin kita sibuk memuji Allah subhanahu wa ta’ala, semakin tinggi pula intensitas pujian yang kita terima dari manusia, baik yang terang-terangan maupun rahasia.

Sementara itu, memuji makhluq-makhluq Allah tentu juga akan berbuah pujian dari Allah . Seperti memuji langit, matahari, bulan, pohon, gunung, sungai, angin, lautan, dan lain sebagainya sebagai ciptaan-ciptaan Allah, yang mengindikasikan kemahasempurnaan Allah . Bukan untuk mengagumi makhluq Allah, tapi mengagumi Sang Pencipta semua itu, yaitu Allah .

Bagaimana dengan memuji manusia? Memuji manusia artinya memuji karakternya baik karakter bawaan maupun karakter bentukan, memuji kenikmatan-kenikmatan Allah yang diterimanya, memuji aktifitasnya yang senantiasa diupayakan untuk dipersembahkan kepada Allah . Apakah memuji ketiga hal yang ada pada manusia ini dituntunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya?

Allah  memuji Nabi Nuh ,
ا
“(Yaitu) anak keturunan dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba yang bersyukur.” [QS. Al-Isra`: 3].

Allah  memuji Nabi Ibrahim ,

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar orang yang santun, senang berbelas kasih, dan suka kembali kepada Allah.” [QS. Hud: 75].

Allah  memuji Nabi Sulaiman ,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat sangat taat.” [QS. Shad: 30].

Allah  memuji Nabi Ayyub ,

“Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat sangat taat.” [QS. Shad: 44]

Dan Allah  memuji Nabi Muhammad ,
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlaq yang agung.” [QS. Al-Qalam: 4].

Akhlaq memuji ini diimplementasikan oleh Nabi Muhammad dengan sangat sempurna. Beliau memuji siapa saja yang patut dipuji, lebih-lebih yang telah dipuji Allah . Beliau memuji untuk membangkitkan optimisme, untuk meningkatkan potensi, untuk merawat konektivitas dan relasi sesame, untuk menjaga opini dan kredibilitas, memperkokoh keyakinan, dan lain sebagainya.

Beliau menangkap hikmah yang tinggi dan melimpah dari aktifitas gemar memuji secara tulus dan berimbang. Beliau seolah mengajarkan kepada kita, di balik aktifitas memuji, tersimpan ‘amunisi’ yang dahsyat dalam pengembangan keberdayaan umat secara cepat.

Dikisahkan oleh Salamah bin Al-Akwa`, pada perang Khaibar, ‘Ali menghindari sementara dari Rasulullah  karena matanya sedang sakit. Pada malam sebelum penaklukan benteng Yahudi Khaibar, Rasulullah  melontarkan ungkapan yang bersubstansi pujian, “Besok aku akan berikan ‘bendera’ ini kepada seseorang yang dicintai Allah dan RasulNya dan mencintai Allah dan RasulNya. Allah  berikan kemenangan melalui tangannya.” Salamah melanjutkan, “Ternyata kami dipimping oleh ‘Ali, padahal kami tidak menginginkannya. Sebagian shahabat berujar, “Ini ‘Ali.” Lalu Rasulullah  memberikan bendera kepadanya dan Allah  memberikan kemenangan dengannya.” [Shahih Al-Bukhari no. 2975; Shahih Muslim no. 2407].

Diceritakan oleh Salim bin ‘Abdullah dari bapaknya, pada masa Nabi , ada seseorang yang apabila bermimpi maka ia senantiasa menceritakannya kepada Rasulullah . Aku pun berharap dapat bermimpi lalu aku bisa menceritakannya kepada Rasulullah . Saat itu aku masih remaja. Pada masa Rasulullah , aku selalu tidur di masjid. Suatu waktu, aku bermimpi seolah ada dua malaikat yang membawaku. Mereka berdua membawaku ke neraka.

Dan ternyata neraka tersebut berbentuk seperti sumur yang memiliki dua tiang. Di dalamnya terdapat orang-orang yang aku kenal sehingga aku mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah dari neraka.” Lalu kami bertemu dengan salah satu malaikat yang berkata, “Kamu tidak akan takut lagi.” Aku pun menceritakan mimpi itu kepada Hafshah, lalu Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah , maka beliau bersabda, “Sebaik-baik orang adalah ‘Abdullah, sekiranya ia shalat malam.” Salim bin ‘Abdullah melanjutkan, maka setelah itu ‘Abdullah hanya tidur sebentar sekali di setiap malamnya. [Shahih Al-Bukhari no. 1121, 1122; Shahih Muslim no. 2479].

Masih sangat banyak lagi hadits-hadits yang mengabarkan betapa ‘agresif’nya Rasulullah  dalam menembakkan amunisi pujian dan hasilnya, banyak perkembangan menggembirakan pada diri para shahabat Rasulullah . Bagi mereka, pujian dari Rasulullah  adalah jauh lebih mahal dari harta termahal bangsa ‘Arab sejak dulu hingga kini, salah satunya unta merah, seperti diungkapkan ‘Amr bin Taghlib [Shahih Al-Bukhari no. 923].

Tradisi memuji dilanjutkan oleh para shahabat Rasul sepeninggal beliau. Contohnya, Ibnu Mas’ud pernah memuji Mu’adz, “Sesungguhnya Mu’adz adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah, dan hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempartnerkan/mensekutukan sesuatu dengan Allah .”

Pujian ini diadopsi dari QS. An-Nahl: 120. Pujian ini sama sekali bukan pujian yang tendensius ataupun pujian fiktif belaka. Pujian ini didasarkan pada fakta dan realita dan dengan tujuan agar orang-orang menjadikan Mu’adz sebagai teladan karena Mu’adz memiliki banyak kelebihan yang patut diteladani. Padahal Ibnu Mas’ud lebih tua, lebih dahulu keislamannya, dan lebih ‘alim, namun Ibnu Mas’ud tidak merasa gengsi untuk memuji orang lain.

Tradisi memuji dilanjutkan oleh generasi-generasi emas berikutnya. Mereka saling memuji bukan untuk bahan berbangga diri, melainkan untuk menjadi bukti rekomendasi keteladanan bagi orang lain maupun bagi yang memuji. Mereka saling memberikan pujian tanpa ada kebencian ataupun kedengkian. Orang yang memuji berarti telah berhasil membuktikan kebesaran jiwa dan kelapangan qalbunya serta kebersihan akhlaqnya. Tradisi saling memuji juga sudah sukses menciptakan iklim kondusif sehingga benih-benih perselisihan dapat dihambat pertumbuhannya secara massif.

Memuji dapat mendorong pelakunya memaafkan orang lain, berhusnuzhzhan dan rela berkorban, tidak mudah meremehkan kebaikan dan jasa orang lain, serta terbiasa bershadaqah dalam bentuk ucapan yang baik atau kalimah thayyibah.

Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd berpesan dalam Faqr Al-Masya’ir (Dar Ibn Khuzaimah, 1426 H) hendaklah mempergunakan sikap bijaksana dalam memberikan pujian dan mempertimbangkan secara matang dampak yang timbul pada orang yang dipuji. Pasalnya, sebagian orang ketika dipuji ada yang bertambah penerimaannya, bertambah semangat, keutamaan serta kemuliaannya. Namun, ada sebagian yang dipuji malah bangga diri (ujub dan takabbur), gegabah, tersesat, membangkang dan menjauh (dari kebenaran). Hal ini kembali kepada kebijaksanaan dan pengetahuan terhadap tabiat jiwa manusia.

Adalah sangat tepat, jika dalam memuji seseorang, baik karakternya, aktifitasnya, karunia Allah yang ada padanya, kita kaitkan dengan Allah agar orang yang dipuji ingat bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah .

Nabi  mengajarkan, “Barangsiapa yang orang lain berbuat baik kepadanya, kemudian ia mengatakan kepadanya, “Jazakallah khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)”, maka ia telah memujinya.” [Sunan At-Tirmidzi no. 2035].

Sering tidak kita sadari, kita melakukan perbuatan yang kita anggap biasa saja atau kita anggap sebagai kebaikan, tapi ternyata di menurut Allah , perbuatan itu adalah sebuah dosa. Kita harus akui, sehebat apa pun kita, kita tidak akan bisa seumur hidup terbebas dari dosa sekecil apa pun. Salah satunya, adalah memuji. Kita anggap memuji itu hal yang wajar bahkan bisa menjadi baik ketika ada yang menakjubkan. Siapa sih yang tidak suka dipuji. Semua orang suka dipuji. Betul? Tapi tahukah kita bahwa memuji itu tidak boleh sembarangan?

Pertama, tidak boleh memuji diri sendiri. Sebab kita tidak tahu apakah diri kita ini adalah hamba yang baik menurut Allah .
Allah  berfirman,
“Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dia lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” [QS. An-Najm no. 32] .

Rasulullah  juga pernah mewasiatkan, “Janganlah menganggap diri kalian suci. Hanya Allah lah yang mengetahui siapa yang baik di antara kalian.” [Mukhtashar Shahih Muslim no. 1407].

Kecuali kalau kebaikan diri kita itu adalah masalah duniawi dan tanpa berlebihan dalam menilai diri. Allah  mengisahkan Nabi Yusuf ,
“Berkata Yusuf , ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’.” [QS. Yusuf no. 55].

Demikian pun tidak berarti lantas kita maknai bahwa Nabi Yusuf  dalam firman Allah ini sedang berperilaku menyombongkan diri sendiri (takabbur & ‘ujub) atau memamerkan keahlian (riya` & sum’ah).

Penulis (Brilly El-Rasheed) mempersilakan pembaca majalah Al-Akhbar untuk mengkaji tafsir ayat ini. Semoga Allah  beri kesempatan  untuk penulis menjabarkan tafsir atau tadabbur ayat tersebut dalam majalah ini.

Kedua,  usahakan tidak memuji siapa pun kecuali Allah , yang memang pantas, berhak, dan wajib kita puji dan sanjung. Rasulullah  berkata, “Jauhilah sanjung-menyanjung, karena sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” [Ash-Shahihah no. 1284].

Ketiga, ada kalimat khusus ketika terpaksa, (ingat ya, terpaksa!) memuji seseorang. Sebagaimana dikisahkan oleh Abu Bakrah, bahwa ada seorang pria yang disebut-sebut di hadapan Rasulullah . Kemudian berkatalah seseorang, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang lebih baik darinya setelah Rasulullah  dalam hal ini dan itu.” Rasulullah segera angkat suara, “Hei, anda telah memenggal leher kawan anda.” Beliau mengatakannya tiga kali. Setelah itu Rasulullah  bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian harus menyanjung saudaranya, hendaklah ia berkata, ‘Menurutku, si Fulan adalah demikian, jika ia memandangnya seperti itu, dan tidaklah aku menyucikan seorang pun di atas Allah .” [Mukhtashar Shahih Muslim no.1510] .

Keempat, kalau ingin memuji seseorang atas kebaikannya yang kita saksikan sendiri, pujilah dia ketika dia sudah wafat. Kalau masih hidup, jangan, soalnya kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Bisa jadi di akhir hidupnya dia banyak berbuat maksiat. Lebih-lebih, kalau seseorang dipuji ketika masih hidup, bisa-bisa dia jadi takabbur (sombong), ‘ujub sama dirinya, tidak ikhlas dalam beramal. Rasulullah  berkata, “Janganlah kalian merasa takjub dengan amal seseorang, hingga kalian melihat bagaimana hidupnya berakhir.” [Ash-Shahihah no.1334].

Kita sebagai seorang Muslim harusnya keinginan dipuji itu cuma dipuji Allah . Tidak perlu kita berharap pujian dari manusia.  Kalaupun kita dipuji, segera ingat keburukan diri kita, biar kita tidak takabbur.

Di samping kita diperintahkan memuji, kita juga diperintahkan menjaga diri agar tetap terpuji, salah satunya dengan cara berdoa kepada Allah.

Allah  mengajarkan doa kemuliaan,
“Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami telah mendengar penyeru yang menyeru kepada iman, “Berimanlah kalian kepada Rabb kalian!” lalu kami beriman, wahai Rabb kami, maka ampunilah kami, hapuskan dari kami keburukan-keburukan kami, dan matikan kami bersama orang-orang yang baik. Wahai Rabb kami, dan berikan kepada kami apa yang telah Engkau janjikan untuk kami atas utusan-utusanMu, dan jangan hinakan kami pada hari qiyamah, sesungguhnya Engkau tiada mengingkari janji.” [QS. Ali ‘Imran: 193-194].

Islam yang mengajarkan kemuliaan dan doa-doa bebas dari kehinaan. Nabi Ibrahim , dengan syariat dan minhaj yang berbeda pun sudah memegang teguh prinsip kemuliaan dan sangat gigih memanjatkan doa-doa bebas dari kehinaan. Bukankah kita patut untuk malu, bagaimana Nabi Ibrahim  sangat berharap kepada Allah  kemuliaan hidup dan sangat berlindung kepada Allah dari kehinaan, padahal beliau jelas-jelas mulia, sementara kita?
Allah  berfirman,
“Wahai Rabb beri aku hikmah dan satukan aku dengan orang-orang shalih. Dan jadikan untukku lisan yang jujur di akhir (usia). Dan jadikan aku pewaris taman kenikmatan. Dan ampuni ayahku sesungguhnya dia termasuk orang-orang sesat. Dan jangan hinakan aku pada hari kebangkitan. Yaitu hari dimana harta dan anak keturunan tidak bermanfaat. Kecuali bagi siapa yang menemui Allah dengan qalbu yang selamat.” [QS. Asy-Syu’ara: 89-93].

Keteladanan Nabi Ibrahim  ini dilanjutkan oleh Rasulullah . Rasulullah  sebagai manusia paling mulia dan terjamin bebas dari kehinaan telah begitu tekun menjaga kemuliaan dan memanjatkan doa-doa bebas dari kehinaan. Doa-doa tersebut tidak semestinya kita sepelekan sedikitpun. Doa-doa kemuliaan tersebut seolah menjadi varian alternative sekaligus kompelementer bagi doa-doa kemuliaan yang sudah termaktub di dalam Al-Qur`an.

Dari Abu Hurairah , Nabi  berdoa,
“Wahai Allah, baguskan hasil setiap urusan kami semuanya, dan jauhkan kami dari kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.” [Musnad Ahmad no. 17628, cet. Ar-Risalah].

Dari ‘Umar bin Al-Khaththab , Nabi  berdoa,
“Wahai Allah, tambahi untuk kami dan jangan kurangi kami, muliakan kami dan jangan hinakan kami, beri kami dan jangan halangi kami, dahulukan kami dan jangan kesampingkan kami, ridhailah kami dan persembahan kami.” [Sunan At-Tirmidzi no. 3173, cet. Dar Al-Gharb Al-Islami, Beirut].

Dari Abu Hurairah , Nabi  berdoa,
“Wahai Allah, aku berlindung kepadaMu dari kefaqiran, kekurangan, dan kehinaan, dan aku berlindung kepadamu dari berbuat zhalim atau dizhalimi.” [Sunan Abu Dawud no. 1544; As-Sunan Al-Kubra An-Nasa`i no. 7844].

Dari Ummu Salamah (moga Allah meridhoinya), Nabi  berdoa,
“Dengan nama Allah, wahai Allah, aku berlindung kepadaMu dari berbuat hina, atau dari berbuat sesat, atau dari berbuat zhalim, atau dari berbuat bodoh, atau dibodohi.” [As-Sunan Al-Kubra An-Nasa`i no. 7868].

Dari Rifa’ah Az-Zuraqi , Nabi  juga mengajarkan doa,
“Ya Allah! Jadikanlah kami mencintai keimanan, jadikan iman sebagai penghias hati kami, dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang selalu bertindak benar. Ya Allah! Matikanlah kami dalam keadaan Muslim, hidupkan kami dalam keadaan Muslim, dan gabungkanlah kami bersama orang-orang shalih, tanpa mendapat kehinaan dan fitnah.” [Musnad Ahmad no. 14945].

Dari Anas bin Malik , RAsulullah  biasa berdoa,
 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari lemah, malas, penakut, bakhil, pikun, kerasnya qalbu, mudah lupa/lalai, kekurangan, hina dan kemiskinan. Dan aku berlindung kepadaMu dari kefaqiran, kekufuran, kefasiqan, pertikaian, sum’ah, riya`. Dan aku berlindung kepadaMu dari tuli, bisu, gila, kanker, lepra, dan penyakit-penyakit akut lainnya.” [Al-Mustadrak Al-Hakim; Al-Mu’jam Ash-Shaghir Ath-Thabrani 1/198 no. 316. Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2165].

Penulis: Brilly El-Rasheed, S.Pd.
Editor: Muhammad Syaifandi, Lc

Source

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *