[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 50 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 05

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ : KAIDAH KETIGA

Kaidah ketiga: bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia yang berbeda-beda peribadahannya. Sebagian mereka ada yang beribadah kepada malaikat, ada yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang shalih, ada yang beribadah kepada bebatuan dan pepohonan, dan ada pula yang beribadah kepada matahari dan bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan Kesimpulannya: bahwa syafaat yang ditiadakan adalah syafaat yang diminta tanpa seizin Allah atau yang diminta untuk orang musyrik. Adapun syafaat yang ditetapkan adalah syafaat setelah izin Allah dan untuk orang yang bertauhid, tidak membeda-bedakan mereka.
Kaidah ketiga: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang dari kalangan musyrikin. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Sebagian mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Sebagian mereka ada yang menyembah berhala, bebatuan, dan pepohonan. Dan sebagian yang lain menyembah para wali dan orang shalih.
Dan ini termasuk dari buruknya kesyirikan yaitu bahwa pelakunya tidak bersepakat dalam satu perkara. Berbeda halnya dengan orang yang bertauhid, karena sesungguhnya sesembahan mereka adalah satu yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. “Apakah rabb-rabb yang berbeda-beda itu lebih baik ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa. Tidaklah yang kalian sembah selain Allah itu kecuali nama-nama yang telah kalian namakan sendiri.” (QS. Yusuf: 39-40).
Maka, termasuk sisi negatif dan kebatilan kesyirikan adalah bahwa pelakunya berbeda-beda dalam ibadah-ibadah mereka. Tidak ada satu ketentuan pun yang dapat menyatukan mereka. Hal ini karena mereka tidak berjalan di atas pondasi yang benar. Hanyalah mereka berjalan mengikuti hawa nafsu dan propaganda para penyesat. Akibatnya banyak timbul perpecahan di antara mereka. “Allah telah membuat sebuah perumpamaan seorang (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh seorang (saja). Apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 29). 
Sehingga, orang yang beribadah kepada Allah semata keadaannya seperti hamba sahaya yang diperbudak oleh satu tuan yang dia bisa tenang bersamanya. Karena ia mengerti maksud dan keinginan tuannya sehingga ia tenang bersamanya. Sedangkan orang musyrik keadaannya seperti hamba sahaya yang dimiliki beberapa tuan. Ia tidak tahu tuan yang mana yang ia buat ridha dengannya. Setiap tuannya memiliki selera dan permintaan sendiri-sendiri. Setiap tuannya memiliki keinginan. 
Dan setiap tuannya ingin agar budak itu ada di sisinya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Allah telah membuat sebuah perumpamaan seorang (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan” yakni: beberapa tuan memiliki seorang budak itu, budak itu tidak tahu siapa di antara mereka yang hendak ia buat ridha. “Dan seorang hamba sahaya yang menjadi milik penuh seorang (saja)” pemilik budak ini satu tuan saja sehingga budak ini tenang dengannya. Inilah perumpamaan yang Allah buat untuk orang musyrik dan orang yang bertauhid.
Jadi, orang-orang musyrik itu berpecah belah di dalam ibadah mereka. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan mereka. Beliau memerangi penyembah berhala, memerangi Yahudi dan Nashara, memerangi Majusi. Beliau memerangi seluruh orang musyrik, memerangi orang-orang yang menyembah malaikat dan orang-orang yang menyembah wali-wali yang shalih. Beliau tidak membeda-bedakan mereka.
Sehingga ini merupakan bantahan kepada orang yang mengatakan: Orang-orang yang menyembah berhala tidak sama dengan orang yang menyembah orang shalih dan malaikat, karena penyembah berhala itu menyembah bebatuan dan pepohonan, mereka menyembah benda-benda mati. Adapun yang menyembah orang shalih dan wali Allah tidak sama dengan orang yang menyembah berhala.
Mereka maukan dari ucapan itu bahwa orang yang menyembah kuburan pada saat ini berbeda hukumnya dengan orang yang menyembah berhala. Jadi dia tidak kafir dan amalannya tidak bisa disebut kesyirikan, serta tidak boleh diperangi. Maka kita jawab: Rasul tidak membeda-bedakan mereka. Bahkan beliau menganggap mereka seluruhnya orang musyrik. 
Beliau menghalalkan darah dan harta mereka. Beliau tidak membedakan mereka. Sehingga, orang-orang yang menyembah Isa Al-Masih padahal Isa adalah Rasul Allah, tetap saja beliau perangi. Adapun Yahudi, mereka menyembah ‘Uzair padahal beliau adalah termasuk nabi atau orang shalih mereka, tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau tidak membeda-bedakan mereka.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun dan sampai agama ini hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 194)
Sehingga syirik itu tidak ada perbedaan antara orang yang menyembah orang shalih dengan yang menyembah berhala, bebatuan, dan pepohonan. Karena syirik adalah ibadah kepada selain Allah apa pun itu. Karenanya, Allah berfirman yang artinya, “Sembahlah Allah dan jangan kalian sekutukan sesuatu pun dengannya.” (QS. An-Nisa`: 36). Dan kata “ شَيۡئًا ” berbentuk nakirah dalam konteks larangan yang berarti umum meliputi segala sesuatu. Umum meliputi setiap yang disekutukan bersama Allah ‘azza wa jalla berupa malaikat, rasul-rasul, orang shalih, wali-wali, bebatuan, dan pepohonan.
Ucapan beliau: (Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah sedikit pun.”) yaitu dalil yang menunjukkan untuk memerangi kaum musyrikin tanpa membeda-bedakan mereka berdasar sembahan-sembahan mereka. Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan perangilah mereka”, ini umum mencakup seluruh orang musyrik, Allah tidak mengecualikan satu pun. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “sampai tidak ada fitnah sedikit pun.” Fitnah di sini adalah kesyirikan. Sehingga artinya: tidak didapati satu kesyirikan pun. Ini juga umum, syirik apa pun itu. Sama saja apakah menyekutukan Allah dengan wali-wali dan orang shalih atau dengan bebatuan dan pepohonan, atau dengan matahari dan bulan.
Dalil bahwa ada yang menyembah matahari dan bulan dan itu adalah kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan termasuk tanda-tandaNya adanya malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan.” (QS. Fushshilat: 37).

“dan sampai agama ini…” artinya sampai ibadah ini seluruhnya hanya untuk Allah. Tidak ada satu sekutu pun di dalam ibadah ini, apa pun itu. Jadi, tidak ada perbedaan antara syirik dengan wali-wali dan orang shalih atau bebatuan dan pepohonan atau dengan setan-setan atau selain mereka.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari dan bulan. Untuk itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari shalat ketika matahari terbit dan tenggelam untuk menutup pintu kejelekan. Karena di sana ada orang-orang yang sujud kepada matahari ketika terbit dan sujud kepadanya ketika tenggelam. Sehingga kita dilarang untuk shalat di dua waktu ini, meskipun shalat itu ditujukan untuk Allah, akan tetapi ketika shalat di dua waktu ini menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, maka dilarang dari hal tersebut sebagai upaya untuk menutup pintu kejelekan yang dapat mengantarkan kepada kesyirikan. 
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang membawa syariat yang melarang dari kesyirikan sekaligus menutup pintu yang dapat menyampaikan, Dalil bahwa ada yang menyembah malaikat dan hal tersebut merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Dia tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi sebagai rabb-rabb.” (QS. Ali ‘Imran: 80)
Ucapan beliau: “Dan dalil malaikat…” dst, menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah malaikat dan para nabi dan bahwa hal tersebut adalah kesyirikan.
Dan para pemuja kuburan pada hari ini mengatakan bahwa orang yang menyembah para malaikat, para nabi, dan orang-orang shalih tidaklah kafir.
Dalil bahwa ada orang yang menyembah para nabi dan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan ingatlah, ketika Allah mengatakan, Wahai ‘Isa bin Maryam apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah? ‘Isa menjawab: Maha suci Engkau, tidak pantas bagiku untuk mengatakan perkataan yang tidak benar. Jika aku telah mengatakannya, maka sungguh Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau adalah maha mengetahui hal-hal yang ghaib.” (QS. Al-Maidah: 13)
Ucapan beliau, “Dan dalil para nabi… dst.” Pada ucapan beliau terdapat dalil bahwa peribadahan kepada para nabi adalah kesyirikan sebagaimana beribadah kepada berhala. Di dalam ucapan beliau juga terdapat bantahan terhadap orang yang membeda-bedakan dalam perkara ini dari kalangan para pemuja kuburan.
Ucapan beliau membantah orang-orang yang mengatakan bahwa syirik adalah menyembah berhala. Menurut mereka tidak bisa disamakan antara orang yang menyembah berhala dengan orang yang menyembah wali atau orang shalih. Mereka juga mengingkari penyamarataan tersebut. Mereka menyangka bahwa syirik itu terbatas pada Dalil bahwa ada orang yang menyembah orang-orang shalih dan perbuatan itu merupakan kesyirikan adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmatNya dan takut akan azabNya.” (QS. Al-Isra`: 57).
Menyembah berhala saja. Tentu, ini adalah kekeliruan yang nyata dari dua sisi:
– Sisi pertama: bahwa Allah jalla wa ‘ala mengingkari seluruh jenis kesyirikan tersebut di dalam Al-Qur`an dan memerintahkan untuk memerangi seluruhnya.
– Sisi kedua: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membeda-bedakan antara penyembah berhala dan penyembah malaikat atau orang shalih.
“Dan dalil orang-orang shalih” yakni bahwa di sana ada yang menyembah orang-orang shalih dari kalangan manusia adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).” (QS. Al-Isra`: 57).
Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun mengenai orang yang menyembah ‘Isa Al-Masih dan ibunya, serta ‘Uzair. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa ‘Isa Al-Masih, ibu beliau Maryam, dan ‘Uzair seluruhnya adalah hamba-hamba milik Allah. Mereka mendekatkan diri kepada Allah, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang butuh kepada Allah, faqir kepadaNya. Mereka berdoa kepadaNya dan bertawasul kepadaNya dengan mengerjakan ketaatan. “mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Isra`: 57). 
Yakni: kedekatan denganNya subhanahu wa ta’ala dengan menaatiNya dan beribadah kepadaNya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak boleh untuk diibadahi karena mereka adalah manusia yang butuh dan faqir, mereka berdoa kepada Allah, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Barangsiapa yang demikian keadaaannya, maka dia tidak boleh diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala.
Pendapat kedua bahwa ayat ini turun mengenai orang dari kaum musyrikin yang menyembah sekelompok jin. Lalu jin itu masuk Islam namun orang-orang yang menyembah mereka tadi tidak mengetahui dengan keislaman mereka. Jin-jin tersebut mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan dan ketundukan diri, mengharap rahmatNya, dan takut dari azabNya. Jadi, mereka adalah hamba-hamba yang butuh dan faqir. Tidak boleh untuk diibadahi.
Pendapat mana saja yang diinginkan dari ayat yang mulia ini tetap menunjukkan bahwa tidak boleh ibadah kepada orang-orang shalih. Sama saja apakah mereka itu para nabi, shiddiqin, atau dari kalangan para wali dan orang-orang shalih. Tidak boleh beribadah kepada mereka. Karena seluruhnya adalah hamba Allah yang faqir kepadaNya. Lantas bagaimana bisa mereka diibadahi bersama Allah jalla wa ‘ala?!
Wasilah maknanya adalah ketaatan dan kedekatan. Wasilah secara bahasa adalah sesuatu yang menyampaikan kepada tujuan. Sehingga setiap yang menyampaikan kepada ridha Allah dan surgaNya, maka ia adalah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyariatkan dalam firmanNya ta’ala yang artinya, “dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 35).
Adapun orang yang menyimpang dan ahli khurafat, mereka mengatakan bahwa wasilah yaitu kita menjadikan antara engkau dengan Allah suatu perantara dari para wali, orang-orang shalih, dan orang-orang yang telah mati. Kita menjadikan mereka sebagai perantara antara engkau dengan Allah supaya mereka dapat mendekatkan engkau kepada Allah. “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3). 
Jadi, makna wasilah menurut ahli khurafat adalah engkau menjadikan antara engkau dengan Allah suatu perantara yang dapat mengenalkan engkau kepada Allah dan menyampaikan dan mengabarkan kebutuhanmu kepadaNya. Seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui atau seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu pelit tidak mau memberi kecuali setelah mendekat kepadaNya melalui perantara. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Berdasar pemahaman ini, mereka menyerupakan Allah dengan manusia dan mengatakan: Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Isra`: 57). 
Kata mereka, ayat ini menunjukkan bahwa menjadikan wasilah dari kalangan makhluk untuk menyampaikan kepada Allah adalah perkara yang disyariatkan karena Allah memuji pelakunya. Juga pada ayat yang lainnya, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan carilah wasilah kepadaNya serta berjihadlah di jalanNya.” (QS. Al-Maidah: 35).
Mereka mengatakan: Allah memerintahkan kita agar kita menjadikan wasilah kepadaNya, sedangkan wasilah artinya perantara. Seperti inilah mereka mengubah-ubah perkataan dari tempat-tempatnya. Wasilah yang disyariatkan di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah ketaatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bertawasul dengan nama-nama dan sifat-sifatNya subhanahu wa ta’ala. Inilah wasilah yang disyariatkan. 
Adapun bertawasul kepada Allah dengan makhluk-makhluk, maka ini adalah wasilah yang dilarang dan wasilah syirik. Dan inilah perbuatan orang-orang musyrikin dahulu, “Mereka beribadah kepada selain Allah yang tidak dapat mendatangkan madharat dan tidak pula dapat memberi manfaat. Mereka mengatakan bahwa sesembahan itu adalah pemberi syafaat untuk kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).  
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali-wali berkata: Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Ini adalah kesyirikan orang-orang dahulu dan sekarang. Sama persis. Meskipun mereka menamainya dengan wasilah, namun hakikatnya itulah kesyirikan dan bukan wasilah yang Allah subhanahu wa ta’ala syariatkan. 
Karena Allah tidak menjadikan kesyirikan sebagai jalan yang mendekatkan kepadaNya selama-lamanya. Bahkan ia menjauhkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah haramkan surga atasnya dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 72). 
Sehingga bagaimana bisa kesyirikan dijadikan sebagai perantara kepadaNya?!! Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Sisi pendalilan dari ayat tersebut adalah bahwa di ayat tersebut ada dalil bahwa di sana ada orang-orang musyrik yang menyembah orang-orang shalih. Karena Allah menjelaskan hal tersebut dan Dia juga menjelaskan bahwa yang mereka jadikan sesembahan itu adalah hamba-hamba yang faqir. 
“Mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka” yakni: mereka mendekatkan kepadaNya dengan melakukan ketaatan. “Siapa di antara mereka yang lebih dekat” mereka berlomba-lomba menuju Allah jalla wa ‘ala dengan ibadah. Karena kefakiran dan kebutuhan mereka kepada Allah. “Mereka mengharap rahmatNya dan takut dari azabNya” sehingga barangsiapa yang keadaannya seperti ini, maka ia tidak boleh untuk menjadi sesembahan yang diseru dan diibadahi bersama Allah ‘azza wa jalla.
Ucapan beliau “dalil bebatuan dan pepohonan… dst”, pada ayat ini ada dalil bahwa di sana ada orang musyrik yang menyembah bebatuan dan pepohonan. Firman Allah, أ ف رأ يۡتُم adalah pertanyaan pengingkaran. Yakni: Kabarkanlah kepadaku. Termasuk pada pertanyaan pengingkaran dan perendahan.
Laata dengan huruf ta` yang tidak ditasydid adalah nama berhala di Thaif. Ungkapan dari sebuah batu berukir yang di atasnya dibangun rumah yang mempunyai tirai-tirai sehingga menandingi Ka’bah. Di sekitarnya ada lapangan dan di dekatnya ada juru kuncinya. Mereka dahulu menyembahnya selain kepada Allah ‘azza wa jalla. Berhala ini milik Bani Tsaqif dan kabilah-kabilah yang loyal kepada mereka. Mereka membanggakan berhala tersebut.
Bisa dibaca pula dengan Laatta dengan mentasydid huruf ta` yaitu isim fa’il dari ل تَّ يَ لُ تَ , yaitu: seorang yang shalih dahulu biasa mengadon tepung lalu memberi makan orang-orang yang haji dengannya. Ketika orang tersebut meninggal, orang-orang membangun rumah di atas kuburannya. Mereka menjuntaikan tirai-tirai. Akhirnya mereka menyembahnya selain kepada Allah ‘azza wa jalla. Inilah Laatta.
‘Uzza adalah pohon-pohon yang termasuk jenis salam (satu jenis pohon akasia yang daunnya bisa dipakai untuk menyamak) di Wadi Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Di sekitarnya ada bangunan dan tirai-tirai dan di dekatnya ada juru kuncinya. Di dalam pohon tersebut ada setan-setan yang berbicara kepada manusia. Orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pohon tersebut atau rumah yang mereka bangun. Padahal sesungguhnya yang berbicara kepada mereka adalah setan-setan untuk menyesatkan mereka dari jalan Allah. Berhala ini dulunya milik Quraisy dan penduduk Makkah dan sekitarnya.
Manat adalah sebuah batu besar di suatu tempat yang terletak di dekat gunung Qudaid, di antara Makkah dan Madinah. Dulunya batu ini milik Khuza’ah, ‘Aus, dan Khazraj. Mereka dulunya berihram haji dari situ dan mereka sembah selain Allah.
Tiga berhala ini adalah berhala yang paling besar di ‘Arab.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kabarkan kepadaku tentang Laata, ‘Uzza, dan Manat.” Apakah berhala-berhala itu dapat mencukupi sesuatu? Apakah mereka memberi manfaat kepada kalian? Apakah mereka menolong kalian? Apakah mereka menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan? Apa yang kalian dapatkan dari mereka? Ayat ini dalam konteks mengingkari dan memperingatkan akal-akal agar kembali kepada akal yang lurus. Berhala-berhala ini hanyalah bebatuan dan pepohonan yang tidak memiliki manfaat dan madharat, bahkan mereka itu diciptakan.
Tatkala Allah mendatangkan syariat Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka kota Makkah yang mulia, beliau mengutus Al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb menuju Laata di Thaif. Keduanya menghancurkannya sesuai perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga mengutus Khalid ibnul Walid menuju ‘Uzza. Lalu Khalid menghancurkannya dan menebang pepohonan serta membunuh jin wanita yang dulunya berada di dalamnya mengajak bicara orang-orang dan menyesatkan mereka. Maka, Khalid memusnahkan sampai ke akar-akarnya. 
Alhamdulillah. Nabi juga mengutus ‘Ali bin Abi Thalib menuju Manat, lalu ‘Ali menghancurkan dan memusnahkannya. Ternyata berhala-berhala itu tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri. Lalu bagaimana mereka bisa menyelamatkan para pemuja dan penyembahnya. “Kabarkanlah kepadaku tentang Laata, ‘Uzza, dan Manat yang ketiga yang lain.” Kemana perginya mereka? Apakah bermanfaat bagi kalian? Apakah mereka dapat menahan diri mereka dari para tentara Allah dan pasukan tauhid?
Kesimpulannya, di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa di sana ada orang-orang yang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala dalam ayat tersebut merupakan berhala orang-orang musyrik yang paling besar. Namun demikian, Allah telah memusnahkan keberadaan mereka. Berhala-berhala itu tidak dapat membela dirinya dan tidak dapat memberi manfaat untuk para penyembahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerangi mereka dan berhala-berhala itu pun tidak dapat mencegahnya. Kandungan inilah Dan hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain. Waktu itu kami masih baru masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka i’tikaf di situ dan mereka gantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon itu dinamakan Dzatu Anwath. Ketika kami melewati pohon itu, kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath…” Al-Hadits

Subhanallah, manusia yang berakal malah menyembah pepohonan dan bebatuan yang mati, yang tidak punya akal, yang tidak bisa bergerak, dan tidak hidup. Di mana akal-akal manusia itu? Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Dari Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu. Beliau termasuk shahabat yang masuk Islam pada tahun Fathu Makkah tahun 8 hijriyyah menurut pendapat yang masyhur. Dinamakan dzatu anwath. Al-anwath adalah bentuk jamak dari nauth yang artinya gantungan. Jadi artinya pohon yang mempunyai gantungan-gantungan yang digunakan untuk menggantung senjata-senjata mereka untuk mencari berkah dengannya. Sebagian shahabat yang baru saja memeluk agama Islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna mengatakan, “Buatkanlah dzatu anwath untuk kami sebagaimana mereka memiliki dzatu anwath.
” Ini adalah bencana akibat taklid dan tasyabbuh. Bahkan ini adalah bencana yang paling besar. Seketika itu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkejut seraya mengatakan, “Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!” Beliau apabila terkejut oleh sesuatu atau mengingkari sesuatu biasa mengucapkan takbir atau mengatakan, “Subhanallah” dan beliau ulang-ulang.
Innaha sunan yaitu jalan-jalan yang manusia tempuh dan sebagian mereka mencontoh sebagian yang lain. Jadi sebab yang mengantarkan mereka mengatakan ucapan tersebut adalah mengikuti jalan-jalan hidup orang-orang dahulu dan menyerupai orang-orang musyrik.
Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, kalian telah mengatakan seperti perkataan Bani Israil kepada Musa: “Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 138). Musa ‘alaihis salam ketika telah melewati laut bersama Bani Israil dan ketika Allah telah menenggelamkan musuh mereka di dalam laut dalam keadaan mereka melihatnya; Musa dan Bani Israil melewati orang-orang musyrik yang sedang beri’tikaf di tempat berhala mereka. Lalu Bani Israil berkata kepada Musa ‘alaihis salam, “Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui.” Musa mengingkari mereka dan berkata, “Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya” yakni batal. “Dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan” karena perbuatan mereka adalah kesyirikan. “Musa menjawab: Patutkah aku mencari sesembahan untuk kalian selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (QS. Al-A’raf: 139-140). 
Musa ‘alaihish shalatu was salam mengingkari mereka sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para shahabat itu. Namun Bani Israil dan para shahabat belum sampai melakukan kesyirikan. Bani Israil ketika mengucapkan ucapan tersebut, mereka tidak sampai syirik karena mereka tidak sampai melakukannya. Demikian pula para shahabat. Seandainya mereka membuat dzatu anwath niscaya mereka jatuh dalam kesyirikan. 
Akan tetapi Allah menjaga mereka, yaitu ketika Nabi mereka melarang mereka lantas mereka pun berhenti. Di samping itu, mereka mengucapkan ucapan tersebut karena kebodohan. Mereka tidak mengucapkannya dengan tujuan syirik. Sehingga ketika mereka telah mengetahui bahwa ucapan tersebut adalah kesyirikan, mereka berhenti dan tidak melakukannya. Sekiranya mereka melakukannya niscaya mereka terjatuh dalam perbuatan menyekutukan Allah ‘azza wa jalla.
Yang menjadi dalil dari ayat tersebut adalah bahwa di sana ada orang yang menyembah pepohonan. Karena orang-orang musyrik itu telah membuat dzatu anwath. Dan orang-orang yang belum mapan ilmunya di dalam hatinya dari kalangan shahabat berusaha untuk menyerupai mereka sekiranya Allah tidak menjaga mereka melalui RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang menjadi dalil adalah bahwa di sana ada orang yang mencari berkah kepada pepohonan dan beri’tikaf di situ. I’tikaf artinya menetap di tempat itu beberapa saat dalam rangka mendekatkan diri kepadanya. Jadi arti i’tikaf adalah menetap di sebuah tempat.
Hadits ini menunjukkan beberapa masalah yang agung:
1. Bahaya kebodohan terhadap tauhid. Karena barangsiapa yang bodoh terhadap tauhid sangat mungkin jatuh ke dalam kesyirikan dalam keadaan tidak menyadari. Atas dasar itu, wajib untuk mempelajari tauhid dan lawannya yaitu syirik sehingga sampai manusia itu berada di atas ilmu supaya tidak melakukan kesyirikan akibat ketidaktahuannya. Terlebih lagi apabila ia melihat seseorang yang melakukan kesyirikan, lalu ia menganggapnya sebagai kebenaran akibat ketidaktahuannya. Jadi pada hadits tersebut mengandung faidah bahayanya kebodohan terlebih di dalam perkara akidah.
2. Di dalam hadits ini ada faidah bahayanya menyerupai orang-orang musyrik. Hal ini sering mengantarkan kepada kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Sehingga, tidak boleh menyerupai orang-orang musyrik.
3. Bahwa mencari berkah kepada bebatuan, pepohonan, dan bangunan-bangunan adalah syirik, walaupun perbuatan ini mereka tidak namakan syirik. Karena ia telah mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan.

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *