[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 48 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 03

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ : KAIDAH PERTAMA

Jika demikian keadaannya, maka ini adalah bahaya yang sangat besar. Wajib bagimu untuk mengetahuinya sebelum bahaya apapun, karena pada kesyirikan itu akan sesat pemahaman dan akal-akal. Supaya kita mengetahui apa itu syirik dari Kitab dan Sunnah. Allah tidaklah memperingatkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskan dan tidak pula memerintahkan dari sesuatu pun kecuali telah menjelaskannya kepada manusia. 
Dan Dia tidak mengharamkan syirik lalu membiarkannya dengan gambaran yang masih global. Akan tetapi Dia telah menjelaskannya di dalam Al-Qur`an Al-‘Azhim dan RasulNya juga telah menjelaskannya di dalam As-Sunnah dengan penjelasan yang memuaskan. Oleh karena itu, apabila kita ingin untuk mengetahui apa itu syirik, maka kita kembali kepada Kitab dan Sunnah hingga kita mengetahui kesyirikan. Dan janganlah kita kembali kepada ucapan orang. Akan datang penjelasan ini.
Kaidah pertama: hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa Allah ta’ala adalah yang menciptakan dan mengatur. Namun hal itu tidak membuat mereka masuk ke dalam Islam. 
Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah. Lalu katakanlah, mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31).
Kaidah pertama: Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang dahulu diperangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan tauhid rububiyyah. Bersamaan dengan penetapan mereka terhadap tauhid rububiyyah, tidak menjadikan mereka masuk ke dalam Islam dan tidak pula menyebabkan darah-darah dan harta-harta mereka terjaga.
Ini menunjukkan bahwa tauhid itu tidak hanya menetapkan rububiyyah saja dan bahwa syirik itu tidak hanya syirik dalam hal rububiyyah saja. Bahkan di sana tidak ada seorang pun yang mempersekutukan Allah di dalam perkara rububiyyah kecuali orang yang berpemikiran ganjil saja. Bila tidak ada orang seperti ini, maka seluruh umat menetapkan tauhid rububiyyah.
Tauhid rububiyyah adalah menetapkan bahwa Allah adalah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur. Atau dengan ungkapan yang lebih ringkas, tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatanNya subhanahu wa ta’ala.
Sehingga, tidak ada satupun makhluk yang menyatakan bahwa di sana ada satu makhluk yang menciptakan bersama Allah atau memberi rezeki bersama Allah atau menghidupkan dan mematikan. Bahkan orang-orang musyrik pun menetapkan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan yang mengatur.
 “Dan sungguh apabila engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi. Niscaya mereka akan mengatakan Allah.” (QS. Luqman: 25). “Katakanlah, siapakah Rabb langit-langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang agung? Niscaya mereka mengatakan, milik Allah.” (QS. Al-Mu`minun: 86-87). 
Bacalah ayat-ayat akhir surah Al-Mu`minun, engkau akan mendapati bahwa orang-orang musyrik menetapkan tauhid rububiyyah. Demikian pula dalam surah Yunus, “Katakanlah, siapa yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan mengatakan, Allah.” (QS. Yunus: 31). 
Jadi, orang-orang musyrik itu menetapkan perkara tauhid rububiyyah ini.
Sehingga, tauhid itu bukan merupakan tauhid rububiyyah sebagaimana pendapat ulama ahli kalam dan cendekiawan menurut keyakinan mereka. Mereka menetapkan bahwa tauhid adalah pengakuan bahwa Allah lah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan saja. Mereka mengatakan, “(Allah itu) esa dzatNya tidak ada pembagian dalam dzatNya, esa sifat-sifatNya tidak ada yang menyerupaiNya, esa dalam perbuatan-perbuatanNya tidak ada sekutu baginya.” Ini adalah tauhid rububiyyah. Silakan merujuk kepada kitab manapun dari kitab-kitab ulama ahli kalam. 
Engkau akan mendapati pemahaman tauhid mereka tidak keluar dari tauhid rububiyyah saja. Padahal bukan tauhid ini yang Allah utus para rasul dengannya. Menetapkan tauhid ini saja tidak bermanfaat baginya karena tauhid rububiyyah ini diakui oleh orang-orang musyrik dan tokoh-tokoh kafir. Akan tetapi hal tersebut tidak mengeluarkan mereka dari kekafiran dan tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam. Jadi, ini merupakan kesalahan yang fatal. 
Barangsiapa yang meyakini dengan keyakinan ini tidak lebih baik daripada keyakinan Abu Jahl atau Abu Lahab. Sehingga, apa yang ada pada sebagian orang yang berpendidikan sekarang ini berupa penetapan tauhid rububiyyah saja dan tidak sampai mengarah kepada tauhid uluhiyyah, maka ini adalah kekeliruan besar di dalam definisi tauhid.

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *