[ UIC 4.2 ] Belajar Aqidah 47 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 02

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ – Syaikh Shalih Al-Fauzan : Pendahuluan 02

“Sehingga, jika engkau mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau agar engkau beribadah kepadaNya”, yakni: Jika engkau telah mengetahui ayat ini, yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 
Dan engkau termasuk dari jenis manusia yang masuk ke dalam ayat ini dan engkau telah mengetahui bahwa Allah tidak menciptakan engkau sia-sia, Allah tidak menciptakan engkau agar engkau makan dan minum saja, engkau hidup di dunia ini kemudian bebas lagi sombong. Allah tidak menciptakan engkau untuk tujuan ini. Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini Allah tundukkan untuk engkau hanya agar dapat membantumu untuk beribadah kepadaNya, karena sungguh engkau tidak bisa hidup kecuali dengannya. Dan engkau tidak bisa sampai kepada tujuan beribadah kepada Allah kecuali dengannya. 
Allah tundukkan ia untukmu agar engkau menyembahNya, bukan agar engkau berbangga dengannya, lalu engkau bebas, sombong, berbuat fasik dan fajir. Engkau makan dan minum semaumu sendiri. Yang demikian itu adalah keadaannya binatang ternak. Adapun manusia, maka Allah jalla wa ‘ala menciptakan mereka untuk tujuan dan hikmah yang sangat agung, yaitu ibadah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-57).
Allah tidak menciptakanmu agar engkau memberi nafkah kepadaNya, bekerja, dan mengumpulkan harta untukNya. Seperti yang dilakukan sebagian manusia kepada sebagian yang lain. Mereka menjadikan para pekerja yang mengumpulkan penghasilan untuk mereka. Bukan untuk itu. Allah maha kaya dari hal tersebut dan Allah maha kaya dari alam semesta. Oleh karenanya, Allah berfirman yang artinya, “Aku tidak menginginkan sedikit pun rezeki dari mereka dan Aku tidak ingin agar mereka memberiKu makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 57). 
Allah jalla wa ‘ala yang memberi makan dan tidak diberi makan, Dia tidak butuh makanan, dan Allah jalla wa ‘ala adalah Dzat yang maha kaya. Allah tidak butuh pula kepada ibadahmu. Seandainya engkau kafir, engkau tidaklah mengurangi kerajaan Allah. Bahkan engkau lah yang butuh kepadaNya. Engkau yang butuh kepada ibadah. Sehingga, termasuk rahmat Allah adalah bahwa Dia memerintahkan engkau beribadah kepadaNya untuk kemaslahatanmu sendiri. 
Karena jika engkau menyembahNya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Jadi ibadah adalah sebab pemuliaan Allah kepadamu di dunia dan akhirat. Jadi, siapakah yang sesungguhnya mendapatkan faidah dari ibadah? Pihak yang mendapatkan faidah ibadah adalah hamba itu sendiri. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala tidak membutuhkan makhlukNya.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak bisa dinamakan ibadah kecuali disertai tauhid. Sebagaimana shalat itu tidak bisa dinamakan shalat kecuali disertai bersuci.”
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk ibadah kepadaNya, maka sungguh ibadah itu tidak menjadi ibadah yang benar yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai, kecuali jika dua syarat terpenuhi padanya. Jika satu syarat tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut batal.
Syarat pertama: Ibadah itu ikhlas mengharap wajah Allah, tidak ada sedikitpun syirik pada ibadah itu. Sehingga, jika syirik mencampuri ibadah itu, maka menjadi batal. Seperti bersuci. Jika hadats mencampurinya, maka kesuciannya batal. Seperti itu pula jika engkau menyembah Allah kemudian engkau sekutukan Dia, maka ibadahmu batal. Ini syarat pertama.
Syarat kedua: Mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, ibadah apa saja yang Rasulullah tidak contohkan, maka amalan ibadah tersebut bathil dan tertolak. Karena itu merupakan bid’ah dan keyakinan yang rusak. Atas hal inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalan itu tertolak.” 
Dalam riwayat lain, “Barangsiapa mengada-adakan -pada urusan agama kita ini- sesuatu yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak.” Maka, ibadah itu harus sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Ibadah itu bukan berdasarkan anggapan baik, niatan baik, dan tujuan baik manusia. Selama amalan itu tidak ditunjukkan oleh satu dalil syar’i, maka ia adalah bid’ah dan tidak dapat memberi manfaat kepada pelakunya. Bahkan ia memudharatkannya, karena itu merupakan kemaksiatan meskipun ia menyangka bahwa amalan itu dapat mendekatkan kepada Allah ‘azza wa jalla.
Jadi, ibadah itu harus ada dua syarat ini: ikhlas dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga jadilah ibadah tersebut benar lagi bermanfaat bagi pelakunya. Jika syirik mencampurinya, maka ibadah itu batal. Dan jika ibadah itu diada-adakan, tidak ada satu dalil pun padanya, maka ibadah itu pun bathil. Tanpa dua syarat ini, ibadah itu tidak ada faidahnya, karena amalan ibadah itu tidak di atas syariat Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Allah tidak menerima kecuali apa yang telah Dia syariatkan di dalam KitabNya atau melalui lisan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sehingga, tidak ada di sana satu pun makhlukNya yang wajib diikuti kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain Rasul, maka ia diikuti dan ditaati jika ia mengikuti Rasul. Adapun bila ia menyelisihi Rasul, maka tidak ada ketaatan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri kalian.” (QS. An-Nisa`: 59). 
Dan ulil amri adalah para pemimpin dan ulama. Sehingga, jika mereka mentaati Allah, maka wajib mentaati mereka dan mengikuti mereka. Adapun apabila mereka menyelisihi perintah Allah, maka tidak boleh mentaati mereka dan tidak boleh mengikuti mereka pada perkara yang mereka selisihi. Karena di sana tidak ada seorang pun yang ditaati secara tersendiri dari kalangan makhluk kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun selain beliau, maka ditaati dan diikuti jika ia mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti Rasul. Inilah ibadah yang benar.
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata: Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau mengetahui bahwa perkara terpenting yang wajib atasmu adalah mengenali hal itu. Semoga Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu menyekutukan Allah. Yaitu, yang Allah ta’ala berfirman tentangnya, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). 
Dan perkara tauhid dan syirik itu dikenali dengan cara mengenali empat kaidah yang telah Allah ta’ala sebutkan di dalam KitabNya: 
Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik apabila mencampuri ibadah akan merusaknya dan menghapus amal ibadah serta pelakunya akan menjadi orang-orang yang kekal di dalam neraka…” maknanya adalah selama engkau telah mengetahui tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, maka wajib pula atasmu untuk mengetahui apa itu syirik. 
Karena orang yang tidak mengetahui sesuatu dapat jatuh ke dalamnya. Sehingga engkau harus mengetahui jenis-jenis syirik untuk menjauhinya. Karena sungguh Allah telah memperingatkan dari syirik dan berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). 
Maka, inilah syirik dan inilah bahayanya, yaitu bahwa syirik dapat menyebabkan pelakunya diharamkan dari surga. “Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah haramkan surga untuknya.” (QS. Al-Maidah: 72). Dan syirik menyebabkan pelakunya diharamkan dari ampunan, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan Allah.” (QS. An-Nisa`: 48).

والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf





Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *