[ UIC 4.2] Belajar Aqidah 46 – Syarh Al-Qawa’idul Arba’ 01

Syarh Al-Qawa’idul Arba’ – Syaikh Shalih Al-Fauzan : Pendahuluan 01

Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat. Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Ini adalah Al-Qawa’idul Arba’ (empat kaidah) yang telah ditulis oleh Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah.

Ini adalah risalah yang tersendiri. Akan tetapi dia diterbitkan bersama dengan Tsalatsatul Ushul dikarenakan kebutuhan untuk bisa sampai di hadapan para penuntut ilmu.

Al-Qawa’id adalah bentuk jamak dari qa’idah. Yaitu pondasi yang bercabang darinya banyak permasalahan atau cabang-cabang.

Kandungan keempat kaidah yang disebutkan oleh Syaikh di sini adalah mengenal tauhid dan syirik. Apa kaidah dalam masalah tauhid? Apa kaidah dalam perkara syirik? Karena banyak orang yang serampangan dalam dua perkara ini. Mereka seenaknya sendiri dalam memaknai apa tauhid dan syirik tersebut. Setiap orang menafsirkannya sesuai dengan hawa nafsunya.

Bahkan yang wajib bagi kita dalam meletakkan kaidah adalah dengan mengembalikan kepada kitab dan sunnah agar peletakan kaidah ini benar dan selamat diambil dari kitab Allah dan sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi dalam dua perkara yang besar ini, yaitu tauhid dan syirik.

Syaikh rahimahullah tidak menyebutkan kaidah ini dari pendapat atau pemikiran beliau sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang yang serampangan itu. Beliau mengambil kaidah-kaidah ini hanya dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perjalanan hidup beliau.

Maka, jika engkau telah mengetahui kaidah-kaidah ini dan memahaminya, akan mudah bagimu setelah itu untuk mengenali tauhid yang dengannya lah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitabNya; dan untuk mengenali syirik yang Allah telah peringatkan darinya dan Allah telah jelaskan bahayanya di dunia dan akhirat.

Ini adalah perkara yang sangat penting. Bahkan lebih penting bagimu daripada mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, ibadah, dan seluruh perkara agama. Karena ini adalah perkara yang paling pertama dan mendasar. Karena shalat, zakat, haji, dan ibadah lainnya tidak sah apabila tidak dibangun di atas pondasi akidah yang benar, yaitu tauhid yang murni untuk Allah ‘azza wa jalla.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah telah memulai empat kaidah ini dengan pendahuluan yang agung. Di dalamnya ada doa untuk para penuntut ilmu dan peringatan terhadap apa yang hendak beliau sampaikan. Yaitu, ketika beliau menyebutkan: Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb ‘arsy yang agung, agar Dia melindungi engkau di dunia dan akhirat.

Dan agar Dia menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada, dan agar menjadikan engkau menjadi seseorang yang jika diberi lalu dia bersyukur, jika diberi cobaan lalu dia bersabar, dan jika dia berbuat dosa maka dia memohon ampun. Karena ketiga hal ini adalah tanda kebahagiaan seorang hamba.

Ini adalah pendahuluan yang sangat agung. Di dalamnya ada doa dari Syaikh rahimahullah untuk setiap penuntut ilmu yang sedang mempelajari akidahnya dalam rangka menginginkan kebenaran dan hendak untuk menjauh dari kesesatan dan kesyirikan. Karenanya, ia pantas untuk mendapat perlindungan Allah di dunia dan akhirat.

Jika Allah telah melindunginya di dunia dan akhirat, maka tidak ada jalan bagi hal-hal yang tidak disukai untuk sampai kepadanya. Tidak pada agamanya, tidak pula pada dunianya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan…” (QS. Al-Baqarah: 257). Dan jika Allah telah melindungimu, maka dia akan mengeluarkan engkau dari segala kegelapan. Dari kegelapan syirik, kekufuran, keragu-raguan, dan penentangan menuju cahaya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal shalih. “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung.” (QS. Muhammad: 11).

Dan jika Allah telah melindungimu dengan pemeliharaanNya, taufiqNya, dan hidayahNya di dunia dan akhirat, maka sungguh engkau akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tidak ada kepedihan setelahnya selama-lamanya. Di dunia, Allah akan melindungimu dengan hidayah, taufik, dan perjalanan di atas metode yang selamat. Dan di akhirat, Allah akan melindungimu dengan memasukkan engkau ke dalam surgaNya, kekal dan dikekalkan. Di dalamnya tidak ada sedikitpun ketakutan, sakit, kepedihan, ketuaan, dan tidak ada pula perkara yang tidak disukai. Inilah perlindungan Allah bagi hambaNya yang beriman di dunia dan akhirat.

Beliau berkata, “Dan agar menjadikan engkau diberkahi di manapun engkau berada.” Jika Allah menjadikanmu diberkahi di mana saja engkau berada, maka ini adalah puncak cita-cita. Allah menjadikan umurmu berkah, rezekimu berkah, ilmumu berkah, amalanmu berkah, dan keturunanmu berkah. Di mana saja engkau, berkah menyertaimu ke mana saja engkau pergi. Ini adalah kebaikan yang sangat agung dan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab berkata, “Dan agar menjadikan engkau termasuk orang yang bila diberi, maka ia bersyukur.” Berbeda dengan orang yang jika diberi, lalu ia mengingkari kenikmatan itu dan menentangnya. Karena sungguh banyak manusia jika mereka diberi kenikmatan, mereka mengkufurinya dan mengingkarinya. Dan mereka menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Sehingga jadilah menjadi sebab kepada kecelakaan mereka. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah sungguh akan menambah kepadanya. “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb kalian memaklumkan: Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian…” (QS. Ibrahim: 7).

Dan Allah jalla wa ‘ala menambah karuniaNya dan kebaikanNya kepada orang-orang yang bersyukur. Sehingga jika engkau ingin tambahan nikmat, maka bersyukurlah kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan jika engkau ingin kenikmatan itu hilang, maka ingkarilah kenikmatan itu.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan bila ia diberi cobaan, maka ia sabar.” Allah jalla wa ‘ala memberi cobaan kepada para hamba. Dia menguji mereka dengan musibah-musibah, dengan perkara yang tidak disukai, dengan musuh-musuh dari kalangan orang kafir dan munafik. Sehingga mereka butuh untuk bersabar, tidak pesimis, dan tidak putus asa dari rahmat Allah.

Dan mereka tetap kokoh di atas agama mereka. Mereka tidak menjauh dari agama bersama fitnah-fitnah atau pasrah terhadap ujian-ujian. Bahkan mereka tetap kokoh di atas agama mereka dan sabar terhadap penderitaan berupa keletihan-keletihan di jalan agama itu. Beda dengan orang yang jika diberi cobaan, dia tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah ‘azza wa jalla. Justru ini adalah cobaan yang ditambah di atas cobaan dan musibah di atas musibah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka ia akan memberi cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha, maka ridha Allah baginya dan barangsiapa marah, maka kemurkaan Allah untuknya.”

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka.” Para rasul diberi cobaan, para shiddiqun diberi cobaan, para syuhada diberi cobaan, dan orang-orang mukmin pun diberi cobaan. Namun mereka bersabar. Adapun orang munafik, maka sungguh Allah telah berfirman mengenai mereka yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;” Yakni di pinggiran. “maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).

Jadi, dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia, dan ditolong. Tidak selamanya seperti itu. Allah menggilirnya di antara para hamba. Para sahabat itu adalah seutama-utama umat. Ternyata terjadi pada mereka cobaan-cobaan dan ujian-ujian. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Itulah hari-hari yang Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran: 140). Sehingga, hendaklah seorang hamba menenangkan jiwanya. Bahwa apabila dia diberi cobaan, sesungguhnya itu tidak hanya terjadi pada dirinya saja. Bahkan cobaan itu dahulu sudah menimpa para wali Allah. Maka hendaknya dia tenangkan jiwanya, sabar, dan menunggu kelapangan dari Allah ta’ala. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Dan apabila ia berbuat dosa, maka ia pun memohon ampun kepada Allah.” Adapun orang yang berbuat dosa lalu tidak meminta ampun, malah menambah dosa-dosa, maka ia celaka –wal ‘iyadzu billah-. Akan tetapi seorang yang beriman itu apabila muncul dosa dari dirinya, ia segera bertaubat. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (QS. Ali ‘Imran: 135).

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera.” (QS. An-Nisa`: 17).

Makna kejahilan bukanlah tidak adanya ilmu, karena orang yang tidak mengetahui ilmu itu tidak disiksa. Akan tetapi kejahilan di sini adalah tidak adanya penguasaan diri. Setiap orang yang bermakisat kepada Allah maka ia jahil yang bermakna kurang penguasaan diri, kurang akal, dan kurang peri kemanusiaannya. Terkadang seorang itu berilmu, akan tetapi ia jahil dari sisi yang lain. Dari sisi bahwa ia tidak memiliki penguasaan diri dan kekokohan di dalam beberapa perkara. “Kemudian mereka bertaubat dengan segera” yakni setiap mereka berbuat dosa, lantas mereka memohon ampun.

Tidak ada seorang pun yang ma’shum (terjaga) dari perbatan dosa. Akan tetapi, segala puji bagi Allah, bahwa Allah membuka pintu taubat. Maka, wajib bagi hamba jika ia berbuat dosa untuk segera bertaubat. Namun, apabila hamba itu tidak bertaubat dan tidak memohon ampun, maka ini adalah tanda kecelakaan baginya. Kemudian terkadang ia berputus asa dari rahmat Allah, lalu setan mendatanginya seraya mengatakan padanya: Tidak ada taubat untukmu.

Inilah ketiga perkara itu, yaitu: Jika ia diberi, ia bersyukur. Jika ia diberi cobaan, ia bersabar. Dan apabila ia berbuat dosa, lantas ia meminta ampun. Inilah tanda kebahagian. Barangsiapa yang diberi taufik oleh Allah di dalam tiga perkara ini, niscaya ia akan meraih kebahagiaan. Adapun orang yang dihalangi dari perkara tersebut atau sebagiannya, maka ia celaka.

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk mentaatiNya, bahwa agama yang lurus -agama Ibrahim- adalah bahwa engkau menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

“Ketahuilah, semoga Allah membimbing engkau” ini adalah doa dari Syaikh rahimahullah. Dan demikianlah selayaknya bagi pengajar untuk mendoakan kebaikan untuk para pelajar. Dan taat kepada Allah maknanya adalah melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

“Bahwa al-hanifiyyah adalah agama Ibrahim”, Allah jalla wa ‘ala memerintahkan Nabi kita untuk mengikuti agama Ibrahim, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus dan tidaklah Ibrahim termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123).

Al-hanifiyyah adalah agama al-hanif dan beliau adalah Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam. Al-hanif adalah yang menghadap kepada Allah dan berpaling dari selainNya. Inilah makna al-hanif, yaitu: yang menghadap kepada Allah dengan hatinya, amalan-amalannya, niat-niatnya, dan tujuan-tujuannya. Seluruhnya untuk Allah. Dan berpaling dari selain Dia. Dan Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tua kalian Ibrahim.” (QS. Al-Hajj: 78).

Agama Ibrahim adalah agar engkau beribadah kepada Allah semata dengan mengikhlaskan agama ini untukNya. Inilah al-hanifiyyah. Tidak cukup untuk dikatakan “agar engkau menyembah Allah” saja, namun harus dengan menambahkan perkataan “dengan mengikhlaskan agama ini untukNya”. Yakni: engkau juga harus menjauhi kesyirikan, karena sesungguhnya jika kesyirikan mencampuri ibadah, maka akan membatalkannya. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai ibadah kecuali jika selamat dari kesyirikan, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini dengan hanif.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Hunafa` adalah bentuk jamak dari hanif, yaitu: ikhlas untuk Allah ‘azza wa jalla.
Ibadah inilah yang Allah perintahkan seluruh makhluk untuk melakukannya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Dan makna beribadah kepadaKu adalah mengesakanKu dalam ibadah. Jadi, hikmah dari penciptaan makhluk adalah agar mereka menyembah Allah ‘azza wa jalla dengan mengikhlaskan agama untukNya. Memang, sebagian mereka ada yang melaksanakannya dan ada yang tidak melaksanakannya. Akan tetapi inilah hakikat hikmah penciptaan mereka. Sehingga, orang yang beribadah kepada selain Allah, maka orang ini hakikatnya menyelisihi hikmah penciptaan makhluk dan menyelisihi perintah dan syariat.

Ibrahim adalah bapak para nabi yang datang setelah beliau. Mereka seluruhnya termasuk keturunan beliau. Oleh karena inilah, Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan telah Kami jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.” (QS. Al-Ankabut: 27).

Mereka seluruhnya dari Bani Israil –cucu Ibrahim ‘alaihis salam-, kecuali Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau dari keturunan Isma’il. Jadi, setiap nabi dari anak-anak Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam sebagai kemuliaan bagi beliau.

Allah telah menjadikan beliau sebagai pemimpin manusia. Yakni, teladan. “Allah berkata, sesungguhnya Aku menjadikan seorang pemimpin bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124), yaitu: teladan. “Sesungguhnya Ibrahim adalah ummah.” (QS. An-Nahl: 120) yaitu: pemimpin yang dicontoh. Untuk perkara itulah Allah memerintahkan seluruh makhluk.

Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Maka, Ibrahim pun menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla sebagaimana para nabi yang lain. Seluruh para nabi mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh telah Kami utus seorang rasul pada setiap umat, agar (menyeru) beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36).

Adapun syariat yang merupakan perintah, larangan, dan halal haram, maka syariat ini berbeda-beda dengan berbedanya umat-umat sesuai kebutuhan. Allah menetapkan suatu syariat kemudian menghapusnya dengan syariat lain. Hingga syariat Islam datang. Maka syariat Islam ini menghapus seluruh syariat-syariat sebelumnya. Dan tetaplah syariat Islam ini sampai hari kiamat tiba. Adapun pokok agama para nabi –yaitu tauhid-, maka tidak dihapus dan tidak akan dihapus. Agama mereka satu yaitu agama Islam dengan makna ikhlas kepada Allah dengan mentauhidkanNya.

Adapun syariat tiap umat memang berbeda-beda dan dihapus. Akan tetapi tauhid dan akidah dari Nabi Adam sampai nabi terakhir semuanya mengajak kepada tauhid dan kepada menyembah Allah. Dan ibadah kepada Allah adalah mentaatiNya dengan apa yang telah Dia perintahkan dalam syariat, kapan pun itu. Namun, apabila syariat itu telah dihapus, maka mengamalkan syariat yang menghapus adalah ibadah. Adapun mengamalkan syariat yang telah dihapus bukan merupakan ibadah kepada Allah.

Sehingga, jika engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakan engkau untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah, bahwa ibadah itu tidak dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Sebagaimana bahwa shalat tidak dinamakan shalat kecuali bersama thaharah. Jika syirik masuk ke dalam ibadah, ia akan merusaknya. Seperti halnya hadats apabila masuk ke dalam thaharah.


والله أعلمُ بالـصـواب


Source :  Syarh Al-Qawa’idul Arba’ pdf




Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *