[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 9 – Syarah Ushuluts Tsalasah 9

Landasan 1. Jenis-jenis ibadah
Dan jenis-jenis ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam , Iman, Ihsan, do’a, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’  (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon
pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (menyembelih), nazar, dan jenis-jenis ibadah lainnya yang diperintahkan, semuanya itu hanya untuk Allah ‘azza wa jalla.
Dalinya adalah firman Allah Subahanahu wa ta’ala :
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah).” (QS. Al-
Jin: 18).
Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Dalilnya dalah firman Allah ta’ala:
“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orangorang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu’minun: 117).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

  
[Jenis-jenis ibadah]
Karena penulis rahimahullah telah menjelaskan bahwa kita berkewajiban untuk beribadah kepada Al1oh saja, tanpa sekutu bagi-Nya, maka pada pembahasan berikutnya penulis menjelaskan macam-macam ibadah.

Penulis mengatakan, “Macam-macam ibadah contohnya Islam, Iman, dan Ihsan.”
Ketiga hal tersebut adalah agama, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

“Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata,” Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam “
Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.”
Orang itu berkata, “Engkau benar,” kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Iman”
Rasulullah menjawab,”Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk”
Orang tadi berkata,” Engkau benar” Orang itu berkata lagi,” Beritahukan kepadaku tentang Ihsan”
Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”
Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang kiamat”
Rasulullah menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.”
Selanjutnya orang itu berkata lagi,”beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya”
Rasulullah menjawab,” Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan puterinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.”
Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab,” Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata,” Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu” (HR. Muslim)
[Seluruh ibadah hanya boleh untuk Allah semata]
Di sini Nabi menyebut hal-hal tersebut yang mencakup seluruh agama secara global. Seluruh jenis ibadah baik yang telah disebutkan oleh penulis maupun yang lain, merupakan hak Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya, karena itu tidak boleh diarahkan kepada selain Alloh ta’ala
[Barangsiapa yang memalingkan ibadah kepada selain Allah maka menjadi musyrik-kafir]
Penulis rahimahullah menyebutkan secara garis besar jenis-jenis ibadah, di samping menyebutkan bahwa barangsiapa mengalihkan sebagian darinya kepada selain Alloh, maka ia musyrik dan kafir. Penulis beralasan dengan frman Alloh Ta’ala [artinya]:
“Sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Alloh, maka janganlah kamu semua menyembah seorangpun di dalamnya di sanping Alloh” (Al-Jinn:18)
Dan firman Alloh Ta’ala [artinya]:
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” (Al-Mukminun: 117)
Sisi yang dijadikan alasan dari ayat pertama adalah bahwa Alloh Ta’ala telah memberi tahu bahwa masjid-masjid yaitu tempat-tempat bersujud atau anggota badan yang digunakan untuk bersujud, adalah milik Alloh. Pemberitahuan itu dilanjutkan dengan Firman-Nya, “Maka janganlah kamu semua menyembah seseorangpun disamping Allah” Maksudnya, janganlah kamu semuaberibadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya, misalnya kamu bersujud kepada selain-Nya.
Sedangkan sisi yang bisa dijadikan alasan pada ayat kedua adalah bahwa Alloh telah menjelaskan bahwa barangsiapa menyembah tuhan yang lain selain Alloh, maka ia kafir. Sebab, Alloh berfrman [artinya], “Sesungguhnya, orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”
Adapun pada firman-Nya [artinya], “Padahal tidak ad a satu alasan pun bagirya tentang itu,” adalah sifat yang menjelaskan hakikat suatu perkara, bukan sifat yang memberikan pembatasan yang mengecualikan bagi yang ada alasannya, karena tidak mungkin ada dalil yang menunjukkan bahwa ada tuhan lain selain Alloh.






والله أعلمُ بالـصـواب
Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *