[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 5 – Syarah Ushuluts Tsalasah 5

Perintah Tauhid dan Larangan Syirik


Ketahulah wahai Saudaraku, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya. Bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah agama yang menyeru manusia agar beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itulah sebenarnya mereka diciptakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:


Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
[Semoga Allah membimbingmu untuk taat]

Taat artinya menuruti apa yang dikehendaki dengan cara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.

[Hanifiyyah]

Hanifiyah adalah sebuah millah yang meninggalkan kesyirikan dan dibangun di atas landasan keikhlasan kepada Allah ‘azza wa jalla.


[Millah Ibrahim]

Millab Ibrahim adalah ajaran agama yang dianut oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.


[Nabi Ibrahim]
Ibrahim adalah kholilurrahmaan (kesayangan Alloh yang
Maha Rohmaan). Alloh ta’ala  berfirman [artinya]:
“… dan Alloh mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”(An-Nisa: 125)
Ia adalah abul ambiya, bapak para nabi. Berulang-ulang ajaran Nabi Ibrahim disebut dalam Al-quran, untuk dijadikan sebagai teladan yang diikuti.

[Anta’budallaha]

“anta’budallah” Hendaklah kamu beribadah kepada All ah adalah “khobar anna” dalam dalam perkataan penulis “annalhanifiyyata” (bahwa hanifiyyah itu)
Pengertian secara umum dari ibadah adalah:
Ketundukan kepada Allah yng dilandasi oleh cinta dan pengagungan dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan ketentuan syariat-Nya.
Adapun pengertian secara khusus dari ibadah adalah seperi yang telah dikatakan oleh Syaikhul lslam Ibnu Taimiyah:
Ibadah adalah sebuah nama yang maknanya meliputi seluruh ucapan dan tindakan yang dicintai Allah, baik yang bersifat lahir maupun bathin. Contohnya khouf, tawakal, shalat, zakat, puasa dan syaiat Islam yang lain.

[Ikhlas]

Arti ikhlas adalah at-tanqiyyah (membersihkan). Maksudnya, hendaklah seseorang melaksanakan ibadah dengan tujuan memperolah ridho Allah ta’ala dan mencapai negeri kemuliaan-Nya, dimana ia tidak beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya, tidak kepada malaikat yang terdekat kepada Alloh dan tidak pula kepada Nabi yang diutus oleh Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfrman [artinya]:
“Kemudian Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah millah Ibrahim yang hanif’. Dan ia bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah)” (An-Nahl: 123)
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya[90] di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-
orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al-Baqarah: 130-132)
[Perintah untuk berada pada hanifiyyah]

Alloh memerintahkan semua manusia untuk berada pada hanifiyyah itu, yaitu beribadah kepada Alloh dengan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Dan untuk itulah Allah menciptakan manusia, Sebagaimana frman Alloh [artinya]:
“Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu , melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada ilah melainkan Aku, maka beribadahlah kamu sekalian kepada-Ku” (Al-Anbiya: 25)
Allah ‘azza wa jalla juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk tujuan ini. Allah berfirman [artinya]:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(Adz-Dzariyat: 56)
[Beribadah kepada-Ku, yakni dengan mentauhidkan Aku]
Maksudnya, tauhid merupakan salah satu makna ibadah, sebab di muka telah dijelaskan makna ibadah dan apa saja yang tercakup dalam penyebutan kata ibadah, dan dijelaskan pula bahwa ibadah itu lebih umum dari pada tauhid.
Ketahuilah, penghambaan itu ada dua macam :
1.                  Penghambaan Kauniyah, yaitu tunduk kepada perintah Alloh yang berkaitan dengan kejadian dan penciptaan. Ketundukan semacam ini meliputi seluruh manusia.
Tidak ada seorangpun yang keluar dari ketundukan ini. Berdasarkan firman Alloh ta’ala [artinya]
“Tidak seorangpun di langit dan di bumi, kecuali ak an datang kepada Allah Yang Maha Rahmaa, selaku seorang hamba” (Maryam: 93)
Ayat ini meliputi orang mukmin maupun orang kafr, meliputi orang yang berbakti maupun orang yang berbuat dosa.
2.      Penghambaan syar’iyyah, yaitu kepatuhan kepada perintah Alloh yang berkaitan dengan syari’at. Ibadah ini hanya dilaksanakan oleh mereka yang menaati Alloh ta’ala dan mengikuti syariat yang dibawa oleh para rosul. Misalnya firman Alloh ta’ala [artinya]
“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Rahmaan adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati” (Al-Furqaan: 63)
Manusia tidak dipuji karena melaksanakan pengambaan kauniyah karena itu tidak berkaitan dengan perbuatannya. Hanya saja, kadang-kadang ia dipuji karena kesyukurannya ketika dalam keadaan senang dan kesabarannya ketika dalam keadaan diuji. Sedangkan pelaku ibadah syar’iyyah dipuji.
[Makna tauhid]

Secara bahasa, tauhid adalah mashdar dari fi’il “wahhada
– yuwahhidu”, artinya menjadikan sesuatu itu satu. Ini tidak terwujud kecuali dengan melakukan penafian dan penetapan. yaitu menafikan hukum dari selain yang ditauhidkan dan menetapkan hukum tersebut untuknya.
Misalnya kita mengatakan, “Tidak sempurna tauhid seseorang, sehingga ia bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Alloh.” Artinya ia menafikan uluhiyyah dari selain Alloh ta’ala dan menetapkan aluhiyyah tersebut untuk-Nya semata.
Adapun   secara   istilah,    penulis   telah   mendefinisikan
tauhid dengan perkataannya, “Tauhid adalah Mengesakan Allah dalam ibadah”. Artinya hendaklah Anda beribadah hanya kepada Alloh, tidak mempersekutukan-Nya dengan seorang nabi yang diutus, seorang malaikat yang terdekat, seorang pemimpin, raja, atau siapa saja di antara manusia.
Anda hanya beribadah kepada-Nya, diiringi rasa cinta, pengagungan, harapan, dan kecemasan. Yang dimaksudkan oleh Syaikh adalah tauhid yang para rosul diutus untuk mewujudkannya, sebab tauhid tersebut adalah yang diabaikan oleh kaum mereka.
Ada  definisi   tauhid  yang  lebih   bersifat  umum,   yaitu
Mengesakan Allah dalam hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya”
[Jenis tauhid ada 3]
1. Tauhid Rububiyah
Yaitu Mengesakan Alloh ‘azza wa jalla dalam penciptaan, kekuasaan dan pemeliharaan. Allah berfirman [artinya]:
“Allah menciptakan segala sesuatu” (Az-Zumar: 62)
“… adakah sesuatu pencipta selain Alloh yang dapat rnemberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi?Tidak ada ilah selain Dia …” (Fathir: 3)
‘Maha Suci Alloh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesaatu.'(Al-Mulk:1)
“Ingatlah, rnenciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Alloh, Robb sernesta alam” (Al-A’raf: 54)
2. Tauhid Uluhiyah
Yaitu Mengesakan Allah dalam beribadah . Caranya, hendaklah seseorang tidak beribadah maupun bertaqorub kepada siapapun selain Allah,seperti ibadah dan taqonabrya kepada Alloh”
3. Tauhid Asma Wa Sifaat
Mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam nama yang Dia namakan bagi diri-Nya dan sifat yang Dia sifatkan bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya atau melalui lisan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam.
Pengesaan ini dengan cara menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya dan meniadakan apa-apa yang telah ditiadakan bagi-Nya tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (peniadaan), takyif (penetapan bagaimananya) atau tamtsil (penyerupaan).
Tauhid yang dimaksud oleh Penulis di sini adalah tauhid uluhiyah. Berkenaan dengan tauhid inilah orang-orang musyrik tersesat, diperangi oleh Nabi, darah, harta, tanah, rumah, serta penawanan terhadap istri dan anak mereka dihalalkan. Dakwah yang disampaikan oleh para rosul kepada kaum mereka, kebanyakan berkenaan dengan tauhid uluhiyah ini. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]
“Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada setiap umat (untuk menyerukan) ‘Beribadahlah kepada Allah saja’” (An-Nahl: 36)
Ibadah tidak boleh dilaksanakan kecuali kepada Alloh ‘azza wa jalla, Barangsiapa mengabaikan tauhid ini, maka ia berstatus musyrik dan kafir, meskipun mengakui taubid rabubiah dan tauhid asma wa shifat.
Andaikata ada seseorang yang mengakui tauhid rububiah dan taahid asma’ wa shifat secara sempurna, tetapi ia mendatangi kuburan, beribadah kepada penghuninya atau bernadzar untuk memberikan sesaji kepadanya guna mendekatkan diri kepadanya, maka ia seorang musyrik dan kafir yang kekal di neraka.
Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Al-Ma’idah: 72)
Tauhid merupakan perintah Alloh yang paling agung, karena ia merupakan pondasi tempat dibangunnya seluruh ajaran agama Islam. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memulai dakwahnya dengan tauhid dan memerintah para delegasi yang diutusnya agar memulai dakwah dengan tauhid.
[Syirik merupakan larangan terbesar]

Larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Sebab hak yang paling agung adalah hak Alloh ‘azza wa jalla . Jika seseorang mengabaikannya, berartt ia telah mengabaikan hak yang paling agung yaitu pentauhidan Alloh ‘azza wa jalla. Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“… Sesungguhnya syirik itu merupakan kedzaliman yang besar” (Luqman: 13)
“… Barangsiapa mempersekutakan sesuatu dengan Alloh (rnusyik), maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan ternpatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang dzalirn itu seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72)
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An-Nisaa :48)
Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dosa yang paling besar adalah engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Allahlah yang telah menciptakanmu” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabi radhiallahu’anhu:
“Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah, sedangkan ia tidak mempersekutakan sesuatu dengan-Nya, maka ia masuk surga dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sedangkan ia mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka ia masuk neraka” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:
“Barangsiapa mati, sedangkan ia menyeru kepada seku tu selain Allah, maka ia masuk neraka” (HR. Bukhari da lam Kitabut Tafsir)
Penulis rahimahullah menyimpulkan perintah Alloh untuk beribadah dan larangan-Nya terhadap perbuatan syirik, berdasarkan firman Alloh ‘azza wa jalla ,
“Beribadahlah kepada Alloh dan jangan mempersekutakan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nahl: 36)
Dalam ayat ini Alloh memerintahkan beribadah kepada-Nya dan melarang perbuatan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya (syirik). Ini mengandung perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya.Barangsiapa tidak beribadah kepada-Nya, maka ia seorang yang kafir dan sombong. Sedangkan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya seraya beribadah kepada selain-Nya, maka ia seorang yang kafir dan musyrik.
Adapun orang yang beribadah kepada Alloh saja, maka ia seorang muslim yang mukhlis.
Syirik ada dua macam: syirik akbar dan syirik ashghar. Syirik akbar adalah setiap yang disebut syirik oleh Syari’ (Pemberi syariat), yang berkonsekuensi keluarnya seseorang dari agama. Sedangkan syirik asghar adalah setiap amal, baik yang betupa ucapan maupun tindakan yang disebut syirik oleh Syari’ akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari agama.
Manusia wajib berhati-hati dan syririk akbar maupun syirik ashghor. Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik” (An-Nisa’: 48)


والله أعلمُ بالـصـواب
Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *