[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 43 – Syarah Ushuluts Tsalasah 43

Rasul-rasul, Hikmah Pengutusan dan Seruannya

Allah telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi kabar gembira  dan  pemberi  peringatan.  Sebagaimana  firman Allah ta’ala:
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa beri ta gembira dan pemberi peringatan, agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu.” (QS. An-Nisa’: 165).
Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam, dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para Nabi. Dalil yang menunjukkan bahwa Rasul pertama adalah Nabi Nuh, firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya”. (QS. An-nisa’: 163).
Dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut. Allah ta’ala berfirman:
Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsamin

[Hikmah diutusnya para rasul]
Penulis rahimahullah menjelaskan bahwa Alloh Ta’ala mengutus seluruh rosul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sebagaimana firman Alloh di atas, “Kami telah mengutus rosul-rosul itu sebagai pemberi kabar gembira dan peingatan”, memberi kabar gembira dengan surga terhadap orang yang mengikutinya, serta memberi peringatan dengan neraka terhadap o:rang yang menyelisihinya.
Diutusnya para rosul itu punya banyak hikmah. Di antaranya yang terpenting, bahkan merupakan yang paling penting adalah tegaknya hujah atas manusia, sehingga tidak ada lagi suatu hujah (alasan) bagi mereka untuk membantah Alloh setelah diutusnya para rosul itu, sebagaimana firman Alloh di atas,
“supaya tidak ada lagi suatu alasan bagi rnanusia untuk membantah Alloh seteiah (diutusnya) para rosul”
Di antara hikmah lainnya adalah bahwa hal itu merupakan kesempurnaan nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya. Karena sesungguhnya akal manusia itu betapa pun hebatnya, tidak mungkin dapat mengetahui rincian apa saja yang wajib bagi Alloh Ta’ala yang berupa hak-hak khusus bagi-Nya, tidak mungkin dapat mengetahui apayang dimiliki oleh Alioh Ta’ala berupa sifat-sifat yang sempurna, dan juga tidak mungkin dapat mengetahui asmaul-husna yang dimiliki-Nya. 
Oleh karenanya, Alloh mengutus para rosul ‘alahimussalam sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan; serta telah menurunkan Kitab bersama mereka dengan membawa kebenaran, untuk menghukumi manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan.
Seruan (dakwah) para rosul yang paling agung, sejak rosul pertama Nuh ‘alahissalam; hingga rosul terakhir Muhammad , adalah tauhid. Alloh Ta’ala berfirman:
“Sesunguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Ibadahilah Alloh saja dan jauhilah thaghut!’”(An-Nahl: 36)
Alloh ‘azza wa jalla juga berfirman:
“Tidaklah Kami mengatus seorang rosul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, Babwasanya tidak ada ilah selain Aku, maka ibadahilah Aku!”‘(Al-Anbiya’ : 25)
[Nuh ‘alahissalam merupakan rasul pertama]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan bahwa rosul yang pertama adalah Nuh dan beliau mengambil dalil firman Alloh Ta’ala:
“Sesunguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya” (An-Nisaa: 163 )
Dalam hadits shahih tentang syafaat disebutkan:
“Sesungguhnya manusia nanti akan mendatangi Nuh lalu mengatakan kepadanya, ‘Engkau adalah rosul pertama yang diutus Alloh kpada penduduk bumi!’” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Iman)
Dengan demikian, tidak ada rosul sebelum Nuh ‘alahissalam
Dengan ini pula, kita tahu kesalahan para sejarawan yang mengatakan bahwa Idris ‘alahissalam itu sebelum Nuh ‘alahissalam, bahkan yang tampak adalah bahwa Idris itu termasuk di antara nabi-nabi Bani Israil.
Sedangkan nabi terakhir dan penutup para nabi adalah Muhammad shallallahu ‘alahi wassalam. Alloh Ta’ala berfirman,
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, akan tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup nabi-nabi. Adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzab: 40).
Dengan demikian, tidak ada nabi lagi setelah beliau. Siapa saja yang mengaku sebagai nabi sepeninggal beliau, maka ia adalah pendusta, kafir dan murtad dari Islam.
[Setiap Rasul menyerukan tauhid]
Maksudnya, bahwa Alloh telah mengutus seorang rosul untuk setiap umat, yang menyeru mereka untuk mengibadahi Allah saja, serta melarang mereka dari perbuatan syirik. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (rosul)” (Fathir: 24).
Alloh Ta’ala berfirman,
“Sesunguhnya Kami telah mengutus kepada setiap urnat seorang rosul (untuk menyerukan), ‘Ibadahilah Allah (saja) dan jauhilah thaghut!'” (An-Nahl: 36)
[Ibadahilah Allah saja dan jauhilah taghut]
Ini adalah makna laa ilaha illallah

Kewajiban Mengingkari Thaghut

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman kepada-Nya saja.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah ta’ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan: “Thaghut, ial ah segala sesuatu yang diperlakukan manusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi.”

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Wajibnya ingkar kepada taghut]

Syaikhul Islam rahimahullah memaksudkan bahwa tauhid itu tidak akan sempurna kecuali dengan mengibadahi Alloh saja, tiada sekutu bagi-Nya, serta dengan menjauhi thaghut.

Alloh telah mewajibkan hal itu kepada seluruh hamba. Sedangkan kata thaghut di sini merupakan pecahan dari kata thughyan yang mempunyai arti melampui batas. Di antara contohnya adalah firman Alloh Ta’ala,

“Sesunguhnya Kami, tatkala air telah ‘melampaui batas’, maka Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera” (Al-Haaqqah:11)

Maksudnya, ketika air itu telah melampaui batas yang normal (meluap melampaui batas), maka Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera.

Menurut istilah, pengertian thaghut yang paling tepat adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnul Qoryim rahimahullah, yaitu apa saja yang diperlakukan oleh hamba (manusia) secara melampaui batas; berupa sesuatu yang disembah, diikuti dan ditaati.

Yang dimaksud dengan yang disembah, diikuti dan ditaati sini adalah selain orang-orang sholih. Orang-orang sholih itu bukan thaghut, sekalipun mereka disembah, diikuti, atau ditaati. Berhala-berhala yang disembah selain Alloh, itulah thaghut.

Para ulama su’u, yang menyeru kepada kesesatan dan kekufuran, atau menyeru untuk menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh, maka mereka itu adalah para thaghut. Orang-orang yang menggoda para pemimpin atau penguasa untuk keluar dari syariat Islam untuk berganti menggunakan tatanan-tatanan yang mereka impor, yang menyelisihi tatanan agama Islam, maka mereka itu adalah para thaghut. Sebab, mereka ini telah melampaui batasnya. 

Batasan seorang alim (ulama) adalah mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi, karena pada hakekatnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para ulama itu mewarisi para nabi dalam mengurus umat para nabi itu, baik berkenaan dengan ilmu, amal, akhlak, serta dakwah maupun ta’lim. Jika para ulama itu telah melampaui batasan ini, lalu mereka justru menggoda para penguasa untuk keluar dari syariat Islam dengan berganti menggunakan tatanan-tatanan (nizham) semacam itu; maka mereka ini adalah para thaghut. Sebab, mereka telah melampaui batas yang diwajibkan atas mereka, yaitu mengikuti syariat.

Yang dimaksudkan dengan perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah “atau yang ditaati”, adalah para umaro yang ditaati karena syari maupun karena kebesaran atau keagunganya. Para umaro itu ditaati karena syar’i, manakala mereka memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rosul-Nya. Dalam hal semacam ini tidak benar jika mereka dikatakan sebagai thaghut. Bahkan mendengar dan menaati mereka merupakan kewajiban bagi rakyat. Ketaatan rakyat terhadap ulil amri dalam hal ini dan dengan ikatan seperti ini merupakan bentuk ketaatan kepada Alloh ‘azza wa jalla. 

Oleh karena itu, seyogyanya kita mesti selalu ingat bahwa ketika kita menunaikan apa yang diperintahkan oleh ulil amri dalam hal yang memang wajib ditaati, kita dalam menunaikan hal itu berarti beribadah kepada Alloh ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara mentaati ulil amri itu; sehingga perintah yang kita tunaikan ini meniadi suatu bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Alloh ‘azza wa jalla . Yang menjadi dasar bahwa kita mesti ingat akan hal ini adalah karena Alloh Ta’ala  berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya serta ulil amri di antara kalian” (An-Nisaa: 59).

Ketaatan kepada umaro bisa juga karena kebesaran umaro tersebut. Umaro’ itu jika memiliki kekuasaan yang kuat, maka manusia akan mematuhi mereka lantaran kuatnya kekuasaan itu, jika bukan karena kendali iman. Sebab, ketaatan kepada ulil amri itu sebenarnya atas dasar kendali iman; dan inilah ketaatan yang bermanfaat, bagi para ulil amri itu sendiri maupun juga bagi manusia atau rakyat seluruhnya.

Terkadang ketaatan atau kepatuhan itu lantaran kendali sang penguasa;karena dia kuat, sehingga manusia merasa takut dan khawatir kepadanya. Sebab ia akan menyiksa siapa saja yang menyelisihi perintahnya.

Oleh karena itu, dapat kami katakan bahwa hubungan antara manusia pada umumnya dengan para penguasa mereka dalam masalah ini terbagi menjadi beberapa kondisi :

Pertama : Kuatnya kendali iman dan kendali penguasa.

Inilah bentuk ketaatan yang paling sempurna dan paling tinggi.

Kedua: Lemahnya kendali iman dan kendali penguasa.

Ini adalah kondisi yang paling rendah dan paling berbahaya bagi masyarakat, baik terhadap penguasa itu sendiri maupun bagi rakyat Sebab jika kendali iman dan kendali penguasa itu lemah, maka yang terjadi adalah anarki pemikiran, akhlak maupun perbuatan.

Ketiga: Lemahnya kendali iman dan kuatnya kendali penguasa

Ini adalah tingkatan nomor tengah. Sebab jika kendali penguasa itu kuat, maka hal itu akan lebih bermaslahat bagi umat dalam bentuk luarnya. Jika kekuatan penguasa itu sudah tersembunyi, maka Anda tidak perlu tanya lagi mengenai kondisi umat dan aktivitasnya yang buruk.

Keempat: Kuatnya kendali iman dan lemahnya kendali penguasa.

Dalam kond.isi seperti ini, maka perwujudan luarnya lebih rendah dari pada kondisi yang ketiga di atas, akan tetapi hubungan antara manusia dengan Robbnya jauh lebih sempurna dan lebih tinggi.
والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *