[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 42 – Syarah Ushuluts Tsalasah 42

Landasan 3. Mengenal Nabi: Meninggalnya Rasulullah

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah ta’ala:

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan dihadapan Tuhanmu.” (Az-Zumar: 30-31)
  

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Ayat ini menunjukan bahwa Nabi dan umatnya, semuanya akan mati. Dan bahwasanya mereka itu pada hari Kiamat kelak akan berbantah-bantahan di hadapan Alloh, lalu Alloh menghukumi di antara mereka dengan kebenaran dan sekali-kali Alloh tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir atas orang-orang mukmin.

Ba’ts, Pembangkitan Manusia Setelah Meninggalnya

Manusia  sesudah  mati  akan  dibangkitkan  kembali. Dalilnya, firman Allah ta’ala:
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami  akan  mengembalikan kamu, dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Dan firman Allah ta’ala:
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 1 7-18) [2]

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[1] Dalam kalimat ini, Syaikh menjelaskan bahwa manusia itu jika telah mati pasti akan dibangkitkan lagi. Alloh akan membangkitkan mereka dalam keadaan hidup setelah kematian mereka untuk menerima balasan. Inilah nilai diutusnya para rosul, agar manusia itu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan ini. Alloh Ta’ala menyebutkan tentang keadaan dan kengerian Hari Kebangkitan ini yang menjadikan hati harus bertaubat kepada Alloh shallallahu ‘alaihi wassalam dan harus takut kepada hari kebangkitan ini. Alloh Ta’ala berfirman :

“ Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit pun pecah belah pada hari itu karena Alloh. Adalah janji-Nya pasti terlaksana.” (Al Muzammil : 17-18)

Kalimat yang dikemukakan oleh Syaikh di atas menunjukan kewajiban beriman kepada hari Kebangkitan. Kemudian Syaikh mengambil dua ayat diatas.

[2] Ayat ini sesuai persis dengan firman Alloh :

“Dari tanah kalian Kami ciptakan; kepadanya kalian kami kembalikan; dan darinya pula kalian akan Kami keluarkan (bangkitkan) untuk kedua kalinya”. (Thoha : 55).

Ayat ini yang semakna dengan ini jumlahnya cukup banyak. Alloh ‘azza wa jalla telah menjelaskan dan telah mengulang-ulang masalah kepastian hari kebangkitan sampai manusia beriman dengan hari kebangkitan itu serta semakin bertambah lagi keimanannya, lalu beramal untuk menghadapi hari kebangkitan itu dan tergolong orang-orang yang berbahagia di hari itu.

Hisab, Hari Perhitungan Amal

Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi  balasan sesuai  dengan  perbuatan  mereka.Firman Allah ta’ala:

“Dan hanya kepunyaan Allahlah  apa yang ada di lang it dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah  mereka   kerjakan  dan  memberi  balasan  kepada orang-orang  yang  berbuat  baik  dengan  (pahala)  yang lebih baik lagi (surga).” (QS. An-Najm: 31).

Barangsiapa yang tidak mengimani hari kebangkitan ini, maka dia adalah kafir. Firman Allah ta’ala:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian. Demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(QS. At-Taghabun: 7)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Maksudnya, bahwa manusia itu setelah dibangkitkan akan diberi balasan dan dihisab amal perbuatan mereka; jika baik, maka balasannya baik, dan jika buruk, maka balasannya buruk pula. Alloh Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula”. (A z-Zalzalah : 7-8)
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dizholimi (dirugikan) sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji shallallahu ‘alaihi wassalami, Kami pasti tetap mendatangkan (pahala)nya. Cukuplah Kami sebagai penghisab”. (Al Anbiya : 47).
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat; dan barangsiapa membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dizholimi (dirugikan) sedikit pun”. (Al An’am : 160).
Amalan kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan lebih banyak lagi, sebagai karunia dan kemurahan dari Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala telah melebihkan balasan yang luas dan banyak. Adapun amal buruk hanya akan diberi balasan sama dengan kadar keburukan itu, di mana manusia tidak akan diberi balasan melebihi keburukan yang dilakukannya. Alloh Ta’ala berfirman,
“ Barangsiapa yang membawa amal perbuatan jahat, maka dia tidaklah diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dirugikan sedikit pun”. (Al An’am : 160)
Ini merupakan bagian dari kesempurnaan karunia Alloh Ta’ala dan kebaikan hati-Nya.
Selanjutnya,  syaikh  membawakan  dalil  dengan  firman
Alloh Ta’ala :
“… Agar Dia memberi balasa kepada orang-orang yan g berbuat buruk sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan itu, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan balasan yang lebih baik lagi”. (An-Najm : 31)
Siapa saja yang mendustakan Hari Kebangkitan, maka ia adalah kafir, berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
“Mereka mengatakan, “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan’. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Robbnya (tentulah kamu melihat peristiwa yang
mengharukan). Alloh berfirman, ‘Bukankah (kebangkitan) ini benar?’ Mereka menjawab, ‘Sungguh benar, demi Robb kami’. Alloh berfirman, ‘Karena itu,
rasakanlah adzab ini disebabkan kamu mengingkari(nya)!” (Al An’am : 29-30)
Firman Alloh Ta’ala,
“Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Yaitu orang-orang yang mendustakan Hari Pembalasan. Tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi pendosa, yang apabila dibacakan kedapanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘itu adalah dongengan orang-orang dahulu’. Sekali-kali tidaklah demikian! Sebenarnya apa yang selsu mereka usahan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang (melihat) Robb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Lalu dikatakanlah (kepada mereka), inilah adzab yang dulu selalu kamu dustakan!” (Al Muthofifin : 1 0-17).
Firman Alloh Ta’ala,
“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat”.(Al Furqon : 11 )
Firman Alloh Ta’ala,
“Orang-orang yang mengkufuri (mengingkari) ayat-ayat Alloh dan mengkufuri pertemuan dengan-Nya, mereka telah putus asa dari rohmat-Ku, dan bagi mereka adzab yang pedih” (Al-‘Ankabut: 23)
Syaikh rahimahullah mengambil dalil dengan ayat ke-7 dari surat At-Taghabun di atas untuk memberi keterangan yang memuaskan kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan itu, maka dapat kami jelaskan sebagai berikut :
Pertama:
Bahwasanya masalah Hari Kebangkitan itu telah dinukil secara bersambung dari para nabi dan rosul dalam kitab-kitab ilahi dan syariat-syariat langit, serta telah diterima sepenuhnya oleh umat-umat para nabi dan rosul itu. Nah, bagamana Anda dapat mengingkarinya sedangkan Anda membenarkan apa yang dinukilkan untuk Anda dari seorang filosof, atau penemu suatu prinsip atau pemikiran (paham), sekalipun berita yang sampai kepada Anda tidak sebanding dengan berita mengenai kebang kitan, baik dalam hal sarana pengutipan (penukilan) maupun dalam hal kesaksian kenyataan?!
Kedua:
Masalah kebangkitan ini telah disaksikan oleh akal mengenai bakal terjadinya kebangkitan itu. Itu dapat dilihat dari beberapa sudut :
1. Setiap orang tidak akan mengingkari bahwa dirinya adalah makhluk yang tercipta dari ketiadaan, dan muncul setelah sebelumnya tidak ada. Dzat yang menciptakan dan mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada itu sudah tentu kuasa untuk mengembalikannya seperti semula. Ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
“Dialah yang telah menciptakan dari permulaan, kemudian akan mengembalikannya lagi; dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.. “(Ar-Rum: 27).
Alloh Ta’ala juga berfirman,
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang mesti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya” (Al-Anbiya: 104)
2. Setiap orang juga tidak ada yang mengingkari keagungan penciptaan langit dan bumi, betapa besar keduanya, serta tidak mengingkari keindahan penciptaan keduanya. Dzat yang telah menciptakan keduanya itu sudah tentu kuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka sebagai mana semula. Alloh Ta’ala berfrman :
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi itu lebih besar dari pada penciptaan manusia…” (Al-Mu’min: 57).
“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesunguhrya Alloh yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa untuk menghidapkan orang-orang mati?!Ya, sudah tentu kuasa. Bahkan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Ahqaf :33)
Alloh Ta’ala berfirman,
‘Bukankah Dqat yang telah menciptakan langit dan bumi itu kuasa untuk menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Tentu! Dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Tahu. Sesunguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah!”, maka jadilah apa yang dikehendaki.” (Yasin: 82)
3. Setiap orang yang punya penglihatan tentu dapat menyaksikan bumi yang gersang tak bertumbuhan. ketika air huian turun mengguyurnya, maka ia berubah menjadi subur dan tumbuhannya pun hidup kembali setelah sebelumnya mati. Dzat yang kuasa untuk menghidupkan bumi (tanah) -setelah kematiannya- sudah tentu kuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati dan kuasa membangkitkan mereka. Alloh Ta’ala, berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau li hat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”(Fushshilat: 39).
Ketiga:
Masalah terjadinya kebangkitan ini telah disaksikan oleh indera maupun kenyataan, sebagaimana telah diberitakan oleh Alloh Ta’ala kepada kita mengenai kejadian-kejadian nyata tentang dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati. Alloh Ta’ala menyebutkan hal itu di dalam surat Al- Baqoroh sebanyak lima peristiwa, di antaranya adalah firman-Nya.
“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.
” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi beubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” ( Al-Baqarah: 259)
Keempat:
Bahwasanya hikmah (kebijaksanaan) itu menuntut adanya kebangkitan, agar setiap jiwa dapat diberi balasan atas apa yang telah diusahakan atau dilakukan. Kalaulah bukan karena itu, maka penciptaan manusia itu akan percuma dan tidak ada nilaiya, tidak ada hikmah dari penciptaan itu, serta tidak ada perbedaan dalam kehidupan ini antara manusia dengan binatang. Alloh Ta’ala berfirman:
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia” (Al-Mukminun: 115-116)
Allah ta’ala juga berfirman:
“Sesunguhnya Hari Kiamat itu pasti datang, namun Aku merahasiakan (waktu)nya agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang dia usahakan.” (Thaha: 15)
Alloh ‘azza wa jalla berfirman,
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta.
Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, maka jadilah ia ” (An-Nahl [16] : 38-40)
Alloh ‘azza wa jalla berfirman,
“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “tidak demikian, demi Robbku; kamu benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (At-Taghabun: 7)
Jika keterangan-keterangan yang nyata int telah dijelaskan kepada orang-orang yang rnengingkari kebangkitan, namun mereka tetap saja mengingkarinya, maka mereka berarti orang-orang yang sombong dan menentang. Kelak orang-orang yang dzalim itu akan tahu pada tempat yang mana mereka kembali.
والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *