[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 41 – Syarah Ushuluts Tsalasah 41

Landasan 3. Mengenal Nabi: Beliau Diutus Untuk Seluruh Umat


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Allah ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS.  Al-A’raf: 158).


Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Ayat ini menunjukan bahwa Muhammad adalah Rosululloh (utusan Alloh) kepada seluruh manusia, dan yang mengutusnya adalah Raja Langit dan Bumi, serta Dzat yang memiliki kekuasaan menghidupkan dan mematikan. Dia ‘azza wa jalla adalah yang diesakan dengan uluhiyah sebagaimana pula diesakan dalam hal rububiyah. Selanjutnya pada bagian akhir ayat tersebut, Alloh memerintahkan agar kita beriman kepda Rosul ini yang merupakan seorang Nabi yang ummi (buta huruf) dan agar kita mngikutinya. 

Bahwasanya hal itu merupakan sebab untuk memperoleh hidayah ‘ilmiyah dan ‘amaliyah, yaitu hidayah irsyad dan hidayah taufiq. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah utusan (rosul) kepda seluruh tsaqolain (dua beban), yaitu manusia dan jin. Dinamakan tsaqolain adalah karena banyaknya jumlah mereka.


Landasan 3. Mengenal Nabi: Islam Agama yang Sempurna


Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama- Nya untuk kita. Firman Allah ta’ala:
Pada hari ini, telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” ( Al-Ma’idah: 3)
Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Artinya, bahwa agama beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah tetap kekal hingga Hari Kiamat. Tidaklah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam wafat melainkan telah memberikan penjelasan kepada umat tentang segala yang dibutuhkannya berkaitan dengan segala urusannya. Sampai-sampai sahabat Abu Dzar mengatakan,
“Tidaklah Nabi membiarkan seekor burung yang mengibaskan kedua sayapnya di langit, melainkan beliau telah menyebutkan kepda kami tentang ilmunya”. (HR. Imam Ahmad Juz 5).

Salah seorang dari kalangan kaum musyrikin bertanya kepada Salman Al Farisi, “Apakah Nabimu mengajarkan sampai masalah tata krama buang air?” Salman menjawab, “Ya!” Beliau telah melarang kami menghada p ke arah kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil; juga melarang kami beristinja’ dengan kurang dari tiga batu, beristinja dengan tangan kanan, danjuga melarang beristinja’ dengan menggunakan kotoran hewan atau tulang” (HR. Muslim dalam Kitabut Thaharah).
Jadi Nabi telah menjelaskan tentang persoalan agama, entah melalui sabdanya, entah dengan perbuatannya dan entah dengan pengakuannya, baik dilakukan secara langsung dari beliau atau sebagai jawaban atas suatu pertanyaan. Perkara paling agung yang dijelaskan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wassalam adalah masalah tauhid.
Apa saja yang beliau perintahkan, maka hal itu memberi kebaikan bagi umat dalam kehidupan dunianya maupun ukhrowinya; dan apa saja yang dilarang olehnya, maka hal iut membawa keburukan bagi umat dalam kehidupan dunianya maupun ukhrowinya. Apa yang tidak dimengerti oleh sebagian manusia dan dianggap sebagai suatu kesempitan berkaitan dengan perintah dan larangan tersebut, maka hal itu hanya karena cacatnya persepsi, kurangnya kesabaran dan lemahnya agama yang dimiliki.
Kalaupun tidak, maka sesungguhnya yang menjadi kaidah umum bahwa Alloh Ta’ala tidak pernah menjadikan agama ini sebagai suatu yang menyulitkan kita; bahkan agama ini seluruhnya ringan dan mudah. Alloh Ta’ala berfirman :
“…Alloh menghendaki kemudahan bagimu …” (Al Baqorah : 185).
“Dan dia tidak menjadikan suatu yang menyulitkan (kesempitan) bagi kalian dalam urusan agama ini”. ( Al Hajj : 78).
“Alloh tidak ingin membuat suatu kesulitan bagi kal ian”. (Al Ma’idah : 6).
Segala puji bagi Alloh atas kelengkapan nikmat-Nya dan menyempurnakan agama-Nya.



والله أعلمُ بالـصـواب


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *