[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 40 – Syarah Ushuluts Tsalasah 40

Landasan 3. Mengenal Nabi: Periode Madaniyah

Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah, disyari’atkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta syari’at-syari’at Islam lainnya.
Beliau pun melaksanakan perintah untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari. Inilah agama yang beliau bawa.Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya. Dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah; sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Penulis mengatakan, “Tatkala Nabi telah menetap di Madinah Nabawiyah, beliau menerima perintah tambahan syariat-syariat Islam (yang belum diterima beliau ketika di Mekah). Itu karena ketika di Mekah, beliau menyeru kepada tauhid sekitar sepuluh tahun, dan juga telah difardukan sholat lima waktu ketika masih di Mekah. Kemudian beliau berhijrah ke Madinah. Sementara itu, zakat, puasa, haji serta syiar-syiar Islam lainnya belum difardukan atas beliau. 
Tampak dari perkataan penulis bahwa zakat itu, baik secara asal-mulanya maupun perinciannya, difardukan di Madinah. Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa zakat itu awal mulanya difardukan di Mekah, akan tetapi belum ditentukan kadar nishobnya dan juga belum ditentukan kadar yang wajib dikeluarkan. Kadar nishob dan kadar yang wajib dikeluarkan baru ditentukan ketika beliau sudah di Madinah. Mereka ini berdalil bahwa ayat-ayat yang mewajibkan zakat itu terdapat pada surat Makkiyah, seperti firman Alloh Ta’ala dalam surat Al-An’am,
“Tunaikanlah haknya pada hari panennya”. (Al-An’am :142)
Juga firman Alloh Ta’ala :
“Dan orang-orang yang di dalam harta mereka terdapa t hak (bagian) tertentu, untuk orang (miskin)yang meminta dan untuk orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (Al Ma’arij : 24-25)
Yang jelas, ketetapan zakat serta ketentuan kadar nishobnya, kewajiban yang harus dikeluarkan dan penjelasan mengenai orang-orang yang berhak menerimanya adalah di Madinah. Demikian juga mensyariatkan adzan dan sholat Jumat. Tampak juga, bahwa sholat jamaah itu baru difardukan (ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam) di Madinah, mengingat bahwa adzan yang berisi seruan untuk sholat jamaah itu difardukan pada tahun kedua. 
Sedangkan haji baru difardukan pada tahun kesembilan menurut pendapat yang kuat di antara pendapat-pendapat ahli ilmu yang ada. Itu terjadi setelah Mekah menjadi negeri Islam, setelah dibuka (ditaklukkan) pada tahun kedelapan hijrah. Demikian juga dengan amar makruf nahi munkar dan syiar-syiar lainnya, semuanya difardukan di Madinah setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam menetap dan telah mendirikan daulah Islamiyah di kota Madinah itu.

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *