[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 4 – Syarah Ushuluts Tsalasah 4


Kewajiban Mempelajari dan Mengamalkan 3 hal

Ketahuilah saudaraku, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu

Bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini:[1] Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang Rasul; maka barangsiapa mentaati Rasul tersebut pasti akan masuk surga, dan barangsiapa menentangnya pasti akan masuk neraka.Allah ta’ala berfirman:


















[2] Bahwa sesungguhnya Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang Nabi yang diutus menjadi Rasul.Firman Allah ta’ala:










[3] Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mentauhidkan Allah, tidak boleh mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga terdekat. Allah ta’ala berfirman:














“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul- Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anakanak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dar-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulahgolongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22).


Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Allah telah menciptakan kita]

Mengenai pengertian bahwa Alloh telah menciptakan kita, terdapat dalil sam’i maupun ‘aqli. Dalil sam’i mengenai hal ini banyak sekali, di antaranya adalah firman Allah :
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian Kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Al-An’am: 2)

“Sesunguhnya Karni telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu” (Al-A’raf: 11)
“Dan sesunguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang berbentuk” (Al-Hijr :26)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak” (Ar-Rum: 20)
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Ar-Rahmaan: 14)
“Allah menciptakan segala sesuatu” (Az-Zumar: 62)
“Padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” (Ash-Shaaffat :96)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56)
Banyak lagi ayat-ayat lainnya.
Adapun dalil ‘aqli yang menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan kita, diisyaratkan dalam frman Alloh ta’ala
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun atauka h mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (Ath-Thuur: 35)
Manusia itu tidak menciptakan dirinya sendiri, karena sebelum berwujud manusia, ia adalah “bukan sesuatu” (nothing) Sedangkan “bukan sesuatu” itu tidak bisa menciptakan sesuatu.
Manusia juga tidak diciptakan oleh ayahnya, ibunya, atau siapapun di antara manusia ini. Tidak mungkin pula ia tiba-tiba ada dengan sendirinya tanpa pencipta.
Di samping itu, keberadaan seluruh makhluk yang teratur, indah, rapi dan harmonis ini secara tegas membantah anggapan bahwa keberadaannya terjadi secara kebetulan, pasti pada asal keberadaannya sudah tidak teratur, sehingga mana mungkin setelah sekian lama dan berkembang menjadi teratur?”
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa yang menciptakan adalah Allah saja. Tidak ada yangmenciptakan dan memerintah alam ini kecuali Alloh. Alloh ta’ala berfirman [artinya]:
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah haryalah hak Allah” (Al-A’raaf: 54)
Tidak ada manusia yang diketahui menolak rububiyah Allah ta’ala kecuali karena kesombongannnya, sebagaimana yang terjadi pada Fir’aun. Suatu ketika, Jubair bin Muth’im mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassalam membaca Surat Ath-Thuur. Beliau membaca sampai pada ayat berikut :
“Apakah mereka menciptakan tanpa sesuatu pun atauka h mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa.yang mereka katakan). Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu ataukah mereka yang berkuasa?” (Ath-Thuur: 35-37)
Pada saat itu, Jubair bin Muth’im seorang musyrik. Tetapi mendengar ayat yang dibaca oleh Rasulullah tersebut, ia berkata, “Hampir saja hatiku terbang kegirangan. Itulah pertama kalinya iman bersemayam di hatiku” (HR. Bukhari dalam Kitabul Qadar, HR. Muslim dalam Kitabul Qodar)
[Allah yang memberi rizki kita]
Banyak dalil dari Al-Qur’an dan mengenai hal ini. Dalil dari Al-Quran adalah firman Alloh :
“Sesungahnya Allah, Dialah Maha pembei Rezki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 58)
“Katakanlah, ‘Siapakah yng memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi?’ Katakan, Allah!”(Adz-Dzariyaat: 24)
“Katakanlah, ‘Siapakah yng memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yng mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab,’Allah’” (Yunus: 31)
Banyak ayat lain mengenai hal ini.
Adapun dalil dari As-sunnah diantaranya adalah sabda Nabi mengenai janin. Ada malaikat yang diutus kepada janin itu dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal, yakni rezkinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagiakah ia.
Adapun dalil aqli yang menunjukkan bahwa Allah telah memberikan rezeki kepada kita adalah karena kita tidak bisa hidup kecuali dengan makanan dan minuman, sedangk an makanan dan minuman diciptakan oleh Alloh azza wa jalla. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala [artinya],
“Maka terangkan tentang apa yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (sambil berkata), ‘sungguh kami benar-benar menderita kerugian. Bahkan kami tidak mendapat hasil apa-apa. ‘Maka terangkanlah tentang yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, nisaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersukur?” (Al-Waqi’ah: 63-70).

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa rezeki kita yang berupa makanan maupun minuman berasal dari karunia Allah azza wa jalla.
[Allah tidak membiarkan begitu saja ..]

Inilah hakikat yang ditunjukkan oleh dalil-dalil sam’i maupun ‘aqli. Di antara dalil-dalil sam’i mengenaihal ini adalah :
“Maka apakah kamu mengira, sesunguhnya Kami rnenciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kanu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maha Tinggi Alloh, Raja yang sebenarnya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia …”(Al-Mu’minun: 115-116)
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa bertangungjawab)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim) Kernudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Alloh menciptakan dan menyempurnakannya. Lalu Alloh menjadikan dirirya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Al-Qiyamah: 36-40)
Adapun dalil aqli tentang hal itu adalah jika keberadaan manusia ini hanya untuk hidup, kemudian bersenang-senang, kemudian mati tanpa ada kebangkitan dan perhitungan, maka itu tidak layak dengan sifat bijaksana Alloh ta’ala.
Itu sebuah kesia-siaan belaka. Tidak mungkin Alloh rnengutus para rosul kepada mereka dan menghalalkan darah orang-orang yang menentang para rosul, namun akhirnya tidak ada apa-apa. Ini mustahil dipandang dari sifat bijaksana Alloh ta’ala.
 [Barangsiapa yang menaati Rasul maka masuk surga]

Maksudnya, Alloh ta’ala telah mengurus kepada kita umat Muhammad, seorang rosul yang membacakan ayat-ayat Robb kita, menyucikan kita, dan mengajari kita Al-Kitab dan Hikmah, sebagaimana Alloh telah mengutus para rosul kepada umat-umat sebelum kita. Alloh azza wa jalla berfirman [artinya]
“… dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (Fathir: 24)
Alloh pasti mengutus para rosul kepada manusia agar tegak hujah di hadapan mereka dan agar manusia beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang dicintai dan diridhoi-Nya.
Alloh azza wa jalla berfirman [artinya],
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman.
Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa: 163-165)
Tidak mungkin kita bisa beribadah kepada Alloh dengan melaksanakan apa-apa yang diridhoi-Nya kecuali melalui informasi dari para rosul ‘alaihissalam, karena mereka sajalah yang bisa menjelaskan kepada kita, apa yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh serta apa yang bisa mendekatkan kita kepada-Nya.

Karena itu merupakan salah satu bukti kebijaksanaan Allah bahwa Dia mengutus para rosul kepada segenap manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Dalil tentang hal ini adalah firman Allah ta’ala [artinya]
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (orang-orang kafr Mekah) seorang rosul sebagaimana kami telah mengutus seorang rosul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun nendurhakai rosul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat” (Al-Muzzammil: 15-16).

[Barangsiapa yang taat kepadanya maka masuk surga ..]
Kesimpulan ini benar dan bisa diambii dari firman Allah Ta’ala:
“Dan taatilah Alloh dan Rosul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan keada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertakwa.” (Ali-Imron: 132-133)
“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya nisca ya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (An-Nisaa:13)
“Barangsiapa taat kepada Alloh dan rosul-Nya, takut kepada Alloh dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan” (An-Nuur: 52)
“Barangsiapa menaati Alloh dan Rosul, mereka itu ak an bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (An-Nisaa: 59)
“Barangsiapa menaati Alloh dan Rosul-Nya, sungguh ia memperoleh kemenangan yang besar” (Al-Ahzab: 71)
Dan banyak lagi ayat lainnya.
Juga dapat disimpulkan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam :
“Setiap umatku akan masak surga, kecuali yang enggan. Beliau ditanya, ‘Siapakah yang enggan, wahai Rosullulloh?’ Beliau bersabda, Barang siapa menaatiku, niscaya masuk surga dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, niscaya masuk neraka’.” (HR. Al-Bukhari).

[Barangsiapa yang mendurhakai Rasul maka masuk neraka]
Kesimpulan   ini   juga   benar,   bisa   diambil   dari   firman Alloh Ta’ala:
“Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosal-Nya da n
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan ” (An-Nisaa: 71)
“Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. ” (Al-Jinn: 24)
Juga bisa disimpulkan dari sabda Nabi, “Barangsiapa bermaksiat kepadaku, niscaya masuk neraka.”
[Larangan syirik]

Masalah kedua yang harus kita ketahui adalah bahwa Alloh tidak rela jika ada yang disekutukan dengan-Nya dalam peribadahan kepada-Nya. Hanya Dia yang berhak diibadahi. Dalil mengenai hal ini adalah ayat yang disebutkan oleh penulis rahimahullah:
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaa n Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” (Al-Jinn:18)
Dalam ayat ini Alloh melarang manusia beribadah kepada selain Alloh di samping beribadah kepada-Nya.
Alloh tidak melarang suatu hal kecuali hal tersebut pasti tidak diridhoi oleh-Nya. Alloh azza wa jalla berfirman [artinya],
“Jika kanu kafir, maka sesungguhnya Alloh tidak memerlukan (iman)mu dan tidak meridboi kekafiran bagi hamba-Nya dan jika kamu bersyukur niscaya dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu.”(Az-Zumar:7)
“Tetapi jika sekiranya kamu ridho kepada mereka, ma ka suangguhnya Alloh tidak ridho kepada orang-orang yang fasik” (At-Taubah: 96)
Alloh azza wa jalla tidak meridhoi kekafiran dan kesyirikan, akan tetapi sesungguhnya Dia telah mengutus para rosul dan menurunkan kitab-kitab untuk memerangi kekafiran dan kesyirikan. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Dan perangilah mereka supaya jangan ada ftnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah” (Al-Anfal: 39)
Jika Alloh tidak meridhoi kekafira dan kesyirikan, maka seorang mukmin juga berkewajlban untuk tidak meridhoi keduanya, karena ridho dan murka seorang mukmin mengikuti ridho dan murka Alloh.
Ia murka terhadap apa yang dimurkai oleh Alloh dan ridho terhadap apa yang diridhoi oleh Alloh. Begitu pula jika Alloh tidak meridhoi kesyirikan dan kekaflran, maka seorang mukmin tidak layak meridhoinya.
Kesyirikan merupakan hal yang sangat berbahaya. Alloh Ta’ala, berfirman [artinya]:
“Sesunguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An-Nisa: 48)
“Sesunguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolongpun” (Al-Ma’idah: 72)
Nabi juga bersabda :
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah tanpa mempersekutukan-Nya sedikitpun, maka ia pasti masuk sorga. Tetapi barangsiapa yang berjumpa dengan Allah sedangkan dia telah mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka ia pasti masuk neraka” (HR. Bukhari dalam Kitabul ‘Ilmi, dan HR. Muslim dalam Kitabul Iman).
[Wala wal Baro]

Masalah ketiga yang harus diketahui adalah al-wala wal baro. Al-Wala merupakan prinsip agung. Banyak nash yang menyebutkan tentang prinsip ini. Alloh azza wa jalla berfirman [artinya]:
“Hai orang-orang yang beriman, jangan mengambil orang-orang yang di luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu, karena tidak henti-hentinya rnereka menimbulkan kemadhorotan bagimu…”. (Ali ‘Imran:118)
‘Hai orang-orang yang beriman, jangan mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin-(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka nenjadi peminpin, maka sesunguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesunguhnya Alloh tidak memberi petunjuk bagi orang-orang yang dholim.” (Al-Maidah: 51)
‘Hai orang-orang beriman, janganlah mengambil orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai buah ejekan dan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi Al-Kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik) menjadi pemimpin. Dan bertawakallah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (Al-Ma’idah: 57)
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. . Katakanlah: “jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. “ ( At-Taubah:23-24)
”Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bag imu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
“Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (Mumtahanah: 4)
Berwala’ dan mencintai orang yang memusuhi Alloh adalah tindakan yang menunjukkan lemahnya iman yang terdapat dalam hati seseorang kepada Alloh dan Rosul-Nya. Sebab tidak masuk akal jika seseorang mencintai sesuatu yang menjadi musuh kekasihnya. Berwala’ kepada orang-orang kafir itu bisa berupa menolong dan membantu mereka dalam melaksanakan kekafiran dan kesesatan mereka.
Mencintai mereka terjadi dengan melakukan sebab-sebab yang menjadikan mereka cinta. Anda melihat orang tersebut mencari kecintaan mereka dengan semua jalan. Tidak diragukan lagi, tindakan ini menafikan iman atau kesempurnaannya.
Seorang mukmin berkewajiban memusuhi siapa yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun yang memusuhi Alloh dan Rosul-Nya adalah orang yang paling dekat dengannya. Ia harus membenci dan menjauhinya. Namun kebencian ini tidak menghalanginya untuk menasihati dan mendakwahi orang tersebut kepada kebenaran.


والله أعلمُ بالـصـواب

Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *