[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 36 – Syarah Ushuluts Tsalasah 36

Landasan 2. Tingkatan 3 : Ihsan

Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu:

“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-aka n kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Dalilnya, firman Allah ta’ala:

“Sesunggunya Allah beserta orang-orang yang bertakw a dan  orang-orang  yang  berbuat  kebajikan.”  (QS.  An-Nahl:128)..

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkas a lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Asy-syuaraa’: 217-220).

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…”. (QS. Yunus: 61).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata isaa’ah (berbuat buruk). Jadi ihsan adalah tindakan seseorang untuk melakukan yang makruf dan menahan diri dari dosa. Ia mendermakan kemakrufan kepada hamba-hamba Alloh Ta’ala, baik melalui hartanya, kemuliaannya, ilmunya maupun raganya.

Berkaitan dengan harta, maka ia akan berinfak, bershodaqoh, dan berzakat. Namun jenis ihsan yang paling utama dalam hal ini adalah zakat, karena zakat merupakan salah satu dari rukun Islam dan salah satu bangunan Islam yang pokok, bahkan keislaman seseorang tidak akan sempurna tanpa zakat.

Zakat juga merupakan nafkah yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala, dan untuk urutan yang selanjutnva adalah apa yang menjadi kewajiban manusia berupa menafkahi istri, ibu, ayah, keturunan, saudara laki-laki, anak-anak saudaranya, saudari-saudarinya, paman-pamannya, bibi-bibinya, dan seterusnya. Selanjutnya, shodaqoh kepada orang-orang miskin dan kepada siapa saja yang berhak menerima shodaqoh, seperti para penuntut ilmu -umpamanya-.

Berkaitan dengan kehormatan, maka manusia itu memiliki derajat yang berbeda-beda. Diantara mereka ada yang memiliki kedudukan di hadapan penguasa. Maka, di sini ia dapat mendermakan kemakrufan dengan kehormatannya. Seseorang mendatanginya untuk meminta syafaat darinya kepada penguasa agar berkenan memberikan syafaat kepadanya di sisi penguasa itu, entah dengan menolak kemadhorotan darinya ataukah mendapatkan keuntungan baginya.

Melalui ilmunya, ia bisa mendermakan ilmunya kepada hamba-hamba Alloh. Ini bisa dilakukan dengan cara melakukan pengajaran (ta’lim) di halaqoh-halaqoh dan majelis-majelis ta’lim, baik yang bersifat umum maupun khusus. Sampai-sampai, jika Anda sedang berada di sebuah warung pun, merupakan perbuatan kebajikan dan ihsan jika Anda memberikan pengajaran kepada manusia. Dan sekalipun Anda berada di tengah-tengah khalayak umum, maka adalah merupakan kebaikan bila Anda memberikan pengajaran kepada manusia. Namun perlu diingat, gunakan cara yang ‘hikmah’ dalam melakukanini semua.

Jangan sampai terlalu membebani atau memberatkan orang lain; setiap kali Anda duduk di suatu majlis, lantas Anda langsung menasehati mereka dan menyampaikan ‘ceramah’ kepada mereka. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri berhati-hati dalam menyampaikan nasihat dan tidak terlalu banyak. Sebab hati akan merasa bosan dan jemu. Jika telah bosan, maka akan menjadi penat dan lesu. Dan boleh jadi akan membenci kebaikan karena banyaknya orang yang ngomong soal kebaikan.

Tentang berbuat ihsan kepada sesama manusia melalui raga adalah seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam

“’Engkau bantu seseorang untuk naik ke atas hewan tungangannya, atau menaikkan barang-barangnya ke atas tunggangannya adalah shodaqoh” (HR. Bukhari dalam Kitabul Jihaad, HR. Muslim dalam Kitabuz Zakat)

Seseorang yang Anda bantu untuk membawa barang-barangnya atau Anda tunjukkan arah jalan yang mesti ia tempuh, atau contoh yang serupa dengan ini, semuanya merupakan bagian dari perbuatan ihsan. Ini adalah perbuatan ihsan bila dinisbatkan kepada hamba-hamba Alloh.

Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan bila dinisbatkan kepada peribadahan kepada Alloh, adalah Engkau mengibadahi Alloh seakan engkau melihat-Nya, seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.

Peribadahan manusia kepada Robbnya yang dilakukan seakan ia melihat-Nya ini adalah ibadah “tholab” (tuntutan) dan “syauq” (kerinduan). Ibadah tholab d an syauq akan menjadikan seseorang mendapatkan pendorong dalam dirinya untuk melakukan peribadahan itu, karena ia menuntut sesuatu yang dicintatnya ini. Ia mengibadahi-Nya seakan melihat-Nya, sehingga ia akan menuju-Nya, kembali (bertaubat kepada-Nya serta mendekatkan diri (taqorub) kepada-Nya. “Jika Engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.

Ini adalah ibadah “harb” (pelarian diri) dan “khouf ” (kekhawatiran). Karenanya yang ini merupakan tingkatan ihsan yang kedua. Jika engkau belum bisa mengibadahi Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan engkau melihat-Nya dan menuntut-Nya serta mendorong jiwa untuk sampai kepada-Nya, maka ibadahilah Dia seakan Dia-lah yang senantiasa melihatmu, sehingga engkau mengibadahi-Nya dalam bentuk peribadahan orang yang takut kepada-Nya serta lari dari adzab dan balasan-Nya. Tingkatan yang ini, menurut para ahli suluk, lebih rendah daripada tingkatan yang pertama tadi.

Mengibadahi Alloh Ta’ala adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah:

“Mengibadahi Ar-Rohmin adalah kecintaan yang optima l kepada-Nya

Disertai ketundukan penyembah-Nya, keduanya adalah rukun”

Jadi, ibadah itu dibangun di atas dua hal ini; kecintaan dan ketundukan yang optimal. Dalam kecintaan terdapat tuntutan, sedangkan di dalam ketundukan terdapat kekhawatiran dan ketakutan. Ini adalah ihsan dalam mengibadahi Alloh Ta’ala.

Jika seorang manusia mengibadahi Alloh dalam bentuk seperti ini, maka ia akan menjadi seorang yang ikhlas (mukhlis) demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Dalam mengibadahi-Nya tidak ingin riya maupun sum’ah ataupun karena pujian dari manusia lain; entah manusia lain melihatnya ataupun tidak, semuanya sama saja baginya.

Dia berarti mengihsankan ibadahnya. Bahkan diantara bentuk sempurnanya keikhlasan adalah keinginan seseorang agar tidak dilihat oleh seorang pun dalam melakukan ibadah dan agar supaya ibadahnya kepada Robbnya itu terahasiakan, kecuali apabila keterbukaan ibadahnya itu membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin atau bagi Islam itu sendiri. Misalnya, bila seseorang itu punya pengikut yang mencontoh pedakuannya dan ia ingin menjelaskan ibadahnya kepada manusia lainnya agar mereka dapat mengambil ‘lentera’ yang dapat menerangi jalan mereka, atau bila ia ingin menampakkan ibadah agar diikuti pula oleh temari-teman atau sahabat-sahabatnya.

Dalam hal yang demikian ini jelas terdapat kebaikan. Kemaslahatan semacam ini terkadang lebih utama dan lebih tinggi ketimbang kemaslahatan ibadah yang disembunyikan. Karena Alloh Ta’ala memberikan pujian terhadap orang-orang yang menginfakkan harta mereka secara rahasia maupun terang-terangan.

Bilamana secara rahasia itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi hati, lebih khusyuk, serta lebih menghadirkan diri kepada Alloh, maka mereka melakukannya secara rahasia atau sembunyi-sembunyi. Dan jika secara terbuka dan terang-terangan itu membawa maslahat bagi Islam dengan tampaknya syari’at-syari’atnya, serta bagi kaum muslimin yang akhirnya dapat mencontoh dan meneladani orang yang melakukan ibadah ini, maka mereka melakukan hal itu secara terang-terangan.

Seorang mukmin akan memperhatikan mana yang lebih bermaslahat. Manakala suatu ibadah lebih bermaslahat dan lebih membawa manfaat, maka ibadah itu jelas lebih sempurna dan lebih utama.

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *