[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 35 – Syarah Ushuluts Tsalasah 35

Landasan 2. Rukun Iman: 6. Iman kepada takdir

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Qodar adalah takdir Alloh ta’ala terhadap seluruh makhluk yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya.

Iman kepada qodar meliputi empat hal:

Pertama:

Mengimani bahwa Alloh Ta’ala mengetahui segala sesuatu, secara global maupun terperinci, azali maupun abadi yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri maupun perbuatan para hamba-Nya.

Kedua:

Mengimani bahwa Alloh telah menulis hal itu dalam Lauh Mahfudz. Tentang kedua hal tersebut, Alloh Ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (Al-Hajj: 70)

Dalam shohih Maslim disebutkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa ia berkata, Aku pernah mendengar Rosululloh bersabda:

“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi dengan tenggang waktu lima puluh ribu tahun” (HR. Muslim dalam Kitabul Qodar).

Ketiga:

Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Alloh Ta’ala, apakah yang berkaitan dengan perbuatan Alloh maupun yang berkaitan dengan perbuatan para makhluk. Dalam hal yang berkaitan dengan perbuatan-Nya, Alloh berfirman:

“Robbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih” (Al-Qoshosh: 87)

“… Alloh mengerjakan sesuatu yang Dia kehendaki” (Ibrahim: 27)

“Dia yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana Dia kehendaki” (‘Ali ‘Imraan: 6)

Sedangkan yang berkaitan dengan perbuatan para makhluk-Nya, Alloh Ta’ala berfirman:

“Kalau Alloh menghendaki, maka Dia tentu telah menguasakan mereka atas kalian, lalu rnereka memerangi kalian” (An-Nisia: 90)

“Sekiranya Robbmu rnenghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 712)

Keempat:

Mengimani bahwa seluruh yang ada merupakan ciptaan

Alloh Ta’ala; dzatnya, sifatnya maupun gerakannya.

Alloh Ta’ala berfirman :

“Alloh adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia pemelihara segala sesuatu”(Az-Zumar: 62)

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (Al-Furqan: 2).

Alloh berfirman tenrang Nabi Ibrahim bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya:

“Allohlah yang telah menciptakan kalian dan apa lan g kalian kerjakan” (Ash-Shooffaat: 96)

Mengimani qodar seperti yang telah kami terangkan di atas, tidak menafikan bahwa manusia punya kehendak (masyiah) dalam hal perbuatan-perbuatan ikhtiyariyah-nya serta punya kemampuan untuk melaksanakannya. Sebab syara’ maupun realita menunjukkan ketetapan tentang hal itu.

Tentang bukti syara’, Alloh Ta’ala telah berfirman mengenai kehendak manusia:

“Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Robbnya” (An-Naba’: 39)

“Datangilah ‘ladangmu’ dari arah manapun atau bagaimana saja kama kehendaki” (Al-Baqarah: 223)

Mengenai adanya ‘qudroh’ (kemampuan) manusia, Alloh Ta’ala berfirman:

“Maka bertawakallaah kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengar dan taatlah …” (At-Taghoobun :16).

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggapannya. Ia mendapat pahala dari (kebaikan) yang dikerjakannya, dan ia juga mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakanrya” (Al-Baqoroh: 286).

Realita menunjukkan bahwa setiap manusia mengerti bahwa ia mempunyai kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuan itulah ia melakukan atau meninggalkan sesuatu (perbuatan). Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya, seperti yang berjalan, dan sesuatu yang diluar kehendaknya ia melakukan atau meninggalkan sesuatu (perbuatan). Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya, seperti berjalan, dan sesuatu yang di luar kehendaknya, seperti gemetar. Akan tetapi, kehendak maupun kemampuan manusia itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Alloh Ta’ala. Alloh berfirman:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (At-Takwir : 28-29).

Dan karena alam seluruhnya adalah milik Alloh, maka tak satupun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki-Nya. Iman kepada qodar (takdir) seperti yang kita sebutkan di atas tidak memberikan peluang bagi manusia untuk beralasan dalam meninggalkan kewaiiban-kewajiban atau melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Dengan demikian, maka alasan semacam ini adalah bathil (gugur) ditinjau dari beberapa sudut:

Pertama:

Firman Alloh Ta’ala :

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai

sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”(Al-An’am: 148)

Seandainya alasan mereka dengan qodar itu dapat dibenarkan, tentu Alloh Ta’ala tidak akan menimpakan siksa-Nya kepada mereka.

Kedua:

Firman Alloh Ta’ala:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa beri ta gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (An-Nisaa’ : 165)

Seandainya qodar itu dapat dijadikan alasan oleh orang-orang yang menyelisihi itu, maka alasan itu tidak ternafikan dengan diutusnya para rosul itu. Sebab, penyelisihan setelah diutusnya mereka itu terjadi dengan qodar Alloh Ta’ala.

Ketiga:

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi telah bersabda:

“Tak seorangpun diantara kamu kecuali telah ditulis tempat duduknya disurga atau dineraka” Salah seoran g sahabat bertanya, “Mengapakah kita tidak pasrah saj a wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:” Tidak ! Berbuatlah karena masing-masing dimudahkan!” Selanjutnya, beliau membaca ayat, “Adapun orang yan g memberikan (hartanya di jalan Alloh) dan bertakwa” (HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir)

Ini adalah lafal hadits yang diriwayatkan oleh Al-

Bukhari. Sedangkan lafal hadits yang diriwayatkan oleh

Muslim adalah:

“….  karena  masing-masing  dimudahkan  atas  apa  yang

tercipta untuknya” (HR.Muslim dalam Kitabul Qodar). Jadi Nabi memerintahkan untuk berbuat, dan melarang pasrah (menyerah) begitu saja kepada qodar.

Keempat:

Alloh Ta’ala memberikan perintah dan larangan kepada manusia, namun tidak membebaninya kecuali yang ia mampu. Alloh Ta’ala berfirman:

“Bertakwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu …” (At-Taghoobun: 16)

“Alloh tidak rnembebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Al-Baqoroh: 286)

Kalau saja manusia itu dipaksakan untuk melakukan sesuatu, berarti ia dibebani sesuatu yang ia tidak dapat melepaskan diri darinya. Ini adalah batil. Oleh karena itu, jika dia melakukan suatu maksiat disebabkan karena kejahilan (ketidaktahuan), lupa, atau terpaksa, maka ia tidak berdosa, karena ia dimaafkan dalam hal seperti itu.

Kelima:

Qodar Alloh adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui setelah yang diqodarkan itu terjadi. Kehendak manusia terhadap apa yang akan dikerjakan adalah terlebih dahulu ada sebelum ia mengerjakannya, sehingga kehendaknya untuk mengerjakan sesuatu itu tidak dibangun atas pengetahuannya tentang qodar Alloh. Ketika itu, hilanglah sudah alasannya dengan qodar. Sebab, tiada alasan (hujah) bagi seseorang dalam sesuatu yang tidak diketahuinya.

Keenam:

Kita dapat melihat adanya manusia yang ingin sekali meraih urusan duniawinya yang layak baginya, sehingga ia dapat meraihnya, dan ia tidak mau berpaling darinya kepada sesuatu yang tidak layak baginya, lantas ia beralasan dengan qodar atas keberpalingnnya itu. Maka mengapa ia berpaling dari sesuatu yang memberinya kemanfaatan dalam urusan-urusan duniawinya menuju sesuatu yang memadhorotinya, lalu beralasan dengan qodar?! Bukankah keberadaan dua hal itu sama saja?!

Anda akan saya beri contoh untuk memperjelas hal itu.

Jika di hadapan seseorang ada dua jalan, salah satunya akan membawanya menuju sebuah negeri yang penuh kekacauan, pembunuhan, perampasan, pemerkosaan kehormatan, ketakutan dan kelaparan; sedangkan jalan yang kedua akan membawanya kepada sebuah negeri yang segalanya teratur dan tertib, keamanannya terjamin, kesejahteraannya melimpah, dan juga jiwa, kehormatan maupun harta benda dihormati; maka mana dari kedua jalan yang akan ditempuh?

Sudah tentu ia akan menempuh jalan yang kedua, karena akan membawanya ke sebuah negeri yang tertib dan aman. Selamanya, seorang yang berakal sehat tidak akan mau menempuh jalan yang menuju sebuah negeri yang kacau dan menghawatirkan, Ialu beralasan dengan qodar. Maka kenapa dalam urusan akhrat ia mau menempuh jalan neraka, bukannya jalan surga, lalu beralasan dengan qodar?

Contoh lain, kita melihat orang sakit disuruh minum obat, lalu ia pun minum obat itu, padahal ia sebenarnya tidak suka. Ia juga dilarang menyantap makanan yang dapat membahayakannya, lalu ia pun meninggalkan makanan tersebut, padahal sebenarnya ia berselera terhadap makanan itu. Itu semua dilakukan demi mendapatkan kesembuhan dan keselamatan. Ia tak mungkin menolak minum obat, dan malah menyantap makanan yang dapat membahayakannya itu, seraya beralasan dengan qodar. Lalu kenapa manusia meninggalkan perintah Alloh dan Rosul-Nya, atau melakukan larangan Alloh dan Rosul-Nya seraya beralasan dengan qodar?!

Ketujuh:

Orang yang beralasan dengan qodar atas kewajiban yang

ditinggalkannya, atau atas kemaksiatan yang dilakukannya, seandainya ia dianiaya oleh seseorang yang kemudian merampas hartanya atau merusak kehormatannya, lantas orang itu beralasan dengan qodar seraya mengatakan, “Jangan salahkan aku, karena kezholimanku ini terjadi dengan qodar Alloh!” tentu ia tidak menerimanya. Nah, bagaimana ia tidak bisa menerima alasan dengan qodar yang dilakukan oleh orang lain dalam menzholiminya, lantas ia sendiri beralasan dengan qodar untuk membela dirinya dalam melakukan kezholiman terhadap hak Alloh Ta’ala”?!

Dikisahkan bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin Khoththob pernah menerima pencuri yang sudah berhak dipotong tangannya.’Umar pun memerintahkan agar tangan pencuri itu dipotong. Pencuri itu lantas berkata, “Sabar dulu, ya Amirul Mukminin! Aku ini mencuri hanya karena qodar Alloh”. ‘Umar pun akhirnya menjawab, “Ya, kami pun memotong tanganmu hanya karena qodar A1loh juga!”

Iman kepada qodar akan membuahkan hal-hal penting, diantaranya sebagai berikut :

# Bersandar kepada Alloh Ta’ala ketika melakukan berbagai “sebab” itu sendiri, karena segala sesuatu itu tergantung kepada qodar Alloh Ta’ala.

# Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya. Sebab, itu hanyalah nikmat dari Alloh Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Alloh. Kekagumannya terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat ini.

Adanya rasa ketenangan jiwa terhadap takdir Alloh Ta’ala yang berlaku atas dirinya, sehingga ia tidak akan gelisah atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau didapatkannya sesuatu yang dibencinya. Sebab itu semua terjadi dengan qodar Alloh Ta’ala, pemilik kerajaan langit dan bumi . Tentang hal itu, Alloh berfirman:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al-Hadid: 22-23).

Nabi Muhammad pernah bersabda:

“Sungguh mengherankan perkara orang mukmin, karena seluruh perkaranya baik, dan itu tidak ada pada seorangpun selain orang mukmin, yaitu jika ia memperoleh kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya; dan jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya” (HR. Muslim)

Dalam masalah qodar ini, ada dua golongan yang tersesat:

Pertama: Golongan Jabariyah.

Yaitu, mereka yang mengatakan bahwa manusia itu dipaksa atas perbuatannya, dan ia tidak punya kehendak (irodah) maupun kemampuan (qudroh) terhadap perbuatannya itu.

Kedua: Golongan Qodariyah.

Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia itu ‘merdeka’ dalam melakukan perbuatan-perbuatannya, dalam hal kehendak maupun kemampuan. Kehendak dan kemampuan Alloh tidak berdampak pada perbuatannya.

Golongan Jabariyah dapat dibantah dengan dasar syara’ maupun keyakinan. Tentang dalil syara’, maka sesungguhnya Alloh Ta’ala telah menetapkan adanya kehendak dan kemauan pada diri manusia serta menyandarkan perbuatan kepadanya juga. Alloh Ta’ala berfirman:

“Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan ad a pula yang menghendaki akhirat” (Ali-‘Imran:152)

“Katakanlah, ‘Kebenaran itu dari Robbmu. Barangsiapa yang menghendaki (iman) silakan beriman; dan barangsiapa yang menghendaki (kafir), biarlah kafir.’ Sesungahnya Kami telah menpersiapkan bagi orang-orang dzalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka…” (Al-Kahfi: 29)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (Fushshilat: 46).

Adapun bukti dari kenyataan bahwa sebenarnya manusia itu dapat mengetahui perbedaan antara perbuatan-perbuatannya yang bersifat ikhtiyari yang dilakukan berdasarkan kehendaknya, seperti makan-minum dan jual beli, dan yang terjadi pada dirinya tanpa kehendaknya, seperti gemetar karena demam dan jatuh dari teras.Pada contoh yang pertama, ia melakukannyadengan ikhtiar (usaha) sesuai dengan kehendaknyaa tanpa paksaan; sedangkan pada contoh yang kedua, tanpa ikhtiar dan ia tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya.

Golongan Qodariyah juga dapat dibantah berdasarkan syara’ maupun akal sehat.

Tentang dalil syara’, bahwa Alloh Ta’ala adalah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu itu terjadi (ada) dengan kehendak-Nya. Alloh Ta’ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya bahwa perbuatan para hamba itu terjadi dengan kehendak-Nya. Alloh berfirman:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (Al-Baqoroh :253).

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (As-Sajdah:13).

Tentang dalil akal, bahwa sesungguhnya alam semesta itu adalah dimiliki (dikuasai) oleh Alloh Ta’ala., sementara manusia merupakan satu bagian dan alam ini yang juga berada dalam kekuasaan Alloh. Tidak mungkin sesuatu yang ‘dikuasai’ itu dapat melakukan sesuatu dalam kekuasaan Sang Penguasa kecuali dengan izin dan kehendak dari-Nya.

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *