[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 34 – Syarah Ushuluts Tsalasah 34

Landasan 2. Rukun Iman: 5. Iman kepada Hari Akhir

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Yang dimaksud dengan Hari Akhir adalah hari kiamat, di mana ketika itu seluruh manusia dibangkitkan untuk dihisab dan diberi balasan. Dinamakan hari akhir karena tidak ada hari lagi sesudahnya. Ketika itu para penghuni surga maupun penghuni neraka menetap pada tempatnya masing-masing.

Iman kepada hari akhir meliputi tiga hal:

Pertama:

Mengimani adanya kebangkitan (ba’ts), yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati tatkala ditiupkannya sangkakala untuk kedua kalinya. Pada hari itu seluruh manusia bangkit untuk menghadap kepada Robb semesta alam dalam keadaan telanjang kaki tanpa alas kaki, telanjang badan tanpa mengenakan penutup, serta masih berkulup tanpa disunat. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:

“… sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan rnelaksanakannya” (Al-Anbiya:104).

Kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti, dan ini telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunnah serta ijmak kaum muslimin. Alloh Ta’ala berfrman [artinya]:

“Kemudian sesungguhnya sesudah itu kamu sekalian benar-benar akan mati. Setelah itu kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat.” (Al-Mukminuun: 15-16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda :

“Pada hari kiamat, seluruh manasia akan dihimpun da lam keadaan tanpa alas kaki dan masih berkalup (belum sunat).” (Mutafaq’alaih, HR. Bukhari dalam Kitabur Riqaaq, HR. Muslim dalam Kitabul Jannah)

Kaum muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya kebangkitan itu. Ini sesuai dengan hikmah Alloh Ta’ala yang menjadikan tempat kembali’ (akhirat) bagi makhluknya ini, untuk kemudian Dia memberikan balasan kepada mereka atas apa yang telah dibebankan-Nya kepada mereka melalui lisan para rosul-Nya. Alloh Ta’ala berfirman:

“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dengan sia-sia saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukminun:115).

Kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, Alloh Ta’a1a, berfirman,

“Sesungguhnya yang telah mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-quran benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” (Al-Qoshosh: 85).

Kedua

Mengimani adanya hisab (perhitungan) dan jaza’ (balasan). Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan dihisab dan diberi balasan. Hal ini telah dituniukkan oleh Kitab, Sunnah serta ijmak kaum muslimin. Alloh Ta’ala berfirman,

“Sesunguhnya kepada Karnilah kembali mereka, kemudian sungguh kewajiban Kamilah menghisab mereka” (Al-Ghasyiyah: 25-26).

Alloh Ta’ala juga berfirman,

“Barangsiapa datang dengan mernbawa amal baik, maka baginya pahala sepulah kali lipat dari amalnya; dan barangsiapa yang datang dengan membawa amalan buruk, maka dia hanya akan diberi pembalasan seimbang dengan keburukannya, sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (Al-An’aam: 160).

Alloh Ta’ala berfirman,

“Kami akan memasang timbangan yang adil pada hai kiamat, maka tidaklah seseorang itu dirugikan barang sedikitpun. Dan jika amalan itu hanya seberat biji shallallahu ‘alaihi wassalami sekalipun, maka Kami pasti akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai penghisab.” (Al-Anbiya’: 47).

Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma, diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Sesunguhnya Alloh nanti akan mendekati orang mukmin, lalu meletakkan naungan-Nya pada orang itu untak menutupirya seraya menanyakan, “Tahukah kamu akan dosa yang ini? Tahukah kamu akan dosa yang itu?” Ia menjawab, “Ya saya tahu, wahai Robbku!” Sehinga ketika ia telah mengakui akan dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, maka Alloh berkata, “Aku tela h menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya”.

Selanjutnya, diberikanlah kepadany a kitab (catatan) kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, maka Alloh Ta’ala memangil mereka di hadapan orang banyak. Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Robbnya.Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang dzalim’ (HR. Bukhari dalam Kitabul Madzaalim, HR. Muslim dalam Kitabut Taubah).

Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang shahih disebutkan:

“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Alloh ta’ala menulisnya sepuluh kebaikan hinga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai lipat yang lebih banyak lagi disisi-Nya. Sedangkan oranmg yang berniat melakukan keburukan lalu mengerjakannya, Alloh hanya menulisnya satu keburakan saja” (HR Bukhari dalam Kitabur Raqaiq, HR. Muslim dalam Kitabul Iman).

Kaum muslimin juga telah berijmak mengenai kepastian adanya hisab dan jaza’ terhadap amal perbuatan, dan ini merupakan tuntutan hikmah.

Seperti yang kita ketahui, Allah ta’ala telah menurunkan kitab-kitab suci, mengutus para rosul serta mewajibkan para hamba untuk menerima ajaran yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang wajib diamalkan. Alloh juga mewajibkan kita untuk memerangi orang-orang yang menentang ajaran-Nya serta menghalalkan darah, keturunan, istri dan harta benda rnereka.

Kalau saja tidak ada hisab maupun jaza, tentulah ini semua akan percuma dan sia-sia saja; padahal Robb yang Maha Bijaksana tersucikan dari hal yang demikian. Alloh ta’ala telah mengisyaratkan hal itu dengan firman-Nya.

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rosul-rasul kepada mereka, dan sesungguhnya Kami akan menanyai pula para rosul itu. Lalu sungguh akan Kami kabarkan kepada mereka (apa saja yang telah mereka perbuat), sedang Kami mengetahui keadaan mereka, dan sekali-kali Kami tidak jauh dari mereka” (Al-A’raaf: 6-7).

Ketiga:

Mengimani adanya surga dan neraka, dan bahwa keduanya merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Alloh ta’ala bagi orang-orang mukmin yang bertakwi, yang mengimani apa yang telah diwajibkan oleh Allah atas mereka untuk mengimaninya, dan menunaikan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Alloh ta’ala dan dengan cara mengikuti Rosul-Nya. Di dalam surga terdapat berbagai macam kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Alloh ta’ala berfirman [artinya]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Al-Bayinah: 7-8).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (As-Sajdah: 17).

Sedangkan neraka adalah hunian yang penuh dengan adzab yang dipersiapkan oleh Alloh Ta’ala untuk orang-orang kafir zholim, yaitu orang-orang yang mengkufuri Allah dan mendurhakai para rasul-Nya. Didalamnya terdapat berbagai macam bentuk adzab dan siksaan yang tidak bisa dibayangkan.

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Jagalah dirimu dari neraka yang dipersiapkan untuk orang-orang kafir” (‘Ali ‘Imraan: 131).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek ” (Al- Kahfi: 29).

Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:

“Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (Al-Ahzaab: 64-66).

Termasuk iman kepada Hari Akhir adalah mengimani segala peristiwa yang akan terjadi setelah mati, seperti :

A. Fitnah (ujian) kubur; yaitu pertanyaan yang dilontarkan kepada mayit setelah ia dikuburkan, tentang Robbnya, agamanya dan nabinya. Alloh Ta’ala lalu meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga dengan kemantapannya ia menjawab, Robbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Sebaliknya, Allah menyesatkan orang-orang yang zholim. Orang yang kafir hanya bisa menjawab, “Hah…

hah… Aku tidak tahu”. Sementara itu, orang munafi k atau orag yang ragu menajawab,”Aku tidak tahu. Aku denga r orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengatakannya”

B. Adzab dan nikmat kubur. Adzab kubur adalah bagi orang-orang zholim, yaitu orang-orang munafik dan orang-orang kafr. Alloh Ta’ala berfirman :

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di wakt u orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya” (Al-An’aam: 93).

Tentang ‘keluarga’ (para pengikut) Fir’aun, Alloh Ta’ala berfrman :

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah ‘keluarga’ Fir’aun ek dalam adzab yang sangat keras”‘(Al-Mu’min: 46).

Dalam Shohih Muslim disebutkan riwayat hadits dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Kalau saja tidak karena kalian saling menguburkan (mayit), pasti aku memohon kepada Alloh agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian seperti yang aku dengar”. Selanjutnya beliau menghadapkan wajahnya dan berkata, “Berlindunglah kepada Alloh dari adzab neraka!” Para sahabat berkata, “Kami bedindung kepada Alloh dari adzab neraka!” Nabi bersabda lagi, “Berlindunglah kepada Alloh dan adzab kubur!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari adzab kubur”. Nabi bersabda lagi, “Berlindunglah kepada Alloh dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari fitnah-fitnah yang tampak maupun tersembunyi”. Nabi bersabda, “Berlindunglah kepada Alloh dari fitnah Dajal!” Mereka berkata, “Kami berlindung kepada Alloh dari fitnah Dajal” (HR. Mus lim dalam Kitabul Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha)

Sedangkan nikmat kubur itu diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang benar, Alloh Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka

dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(Fushshilat: 30).

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat,dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar? adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan.” (A l-Waqi’ah: 83-89).

Dari Al-Barro bin ‘Azib radhiallahu’anhu diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang orang mukmin tatkala menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam kuburnya,

“Ada suara yang berseru dari langit, ‘Hamba-Ku benar. Karena itu, maka berilah ia tilam dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukalah untuknya pintu menuju surga!’ Lalu datanglah menghampirinya kenikmatan dan keharuman surga, sementara itu kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang”(HR. Ahmad, Abu Daud, Haitsami, Abu Nu’aim, Ibnu Abu Syaibah, Al-Ajurri. Al-Haitsami mengatakan: Diriwayatkan oleh Ahmad dengan rijal yang shahih)

Buah dari iman kepada hari akhir diantaranya adalah :

# Senang dan antusias untuk melakukan ketaatan, dengan mengharap pahalanya kelak di hari akhir.

# Takut melakukan kemaksiatan dan khawatir bila sampai rela dengan kemaksiatan itu; karena takut kepada sanksi (siksa) di Hari Akhir itu.

# Hiburan bagi orang mukmin atas apa yang tidak ia dapatkan dari kesenangan duniawi ini dengan masih dapat mengharap kenikmatan dan pahala akhrat.

Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan beranggapan bahwa hal itu tidak mungkin (mustahil). Anggapan atau keyakinan seperti ini adalah batil. Dan kebatilannya telah ditunjukkan oleh syara’, indera, dan akal.

Tentang dalil dari syara’, Alloh Ta’ala berfirman

“Orang-orang kafir menganggap bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, Tidak demikian, demi Robbku, kalian benar-benar akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh” (At-Taghobun: 7)

Seluruh kitab samawi yang ada juga sepakat menyatakan demikian. Tentang dalil inderawi, bahwasanya Alloh Ta’ala, telah memperlihatkan kepada para hamba-Nya bagaimana dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati di dunia. Di dalam surat Al-Baqaroh terdapat lima contoh mengenai hal ini.

Contoh pertama:

Kaum Musa ketika mengatakan kepada Musa ‘alaihissalam:

“… kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami dapat melihat Alloh dengan terang…”(Al-Baqarah: 55)

Akhirnya Alloh mematikan mereka itu, lalu menghidupkan mereka kembali. Dalam hal itu, Alloh Ta’ala berfirman kepada Bani Israil:

“Ingatlah ketika kalian berkata, ‘Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kamu dapat melihat Alloh dengan terang!’ Karena itu, kalian disambar halilintar, sedang kalian menyaksikan peristiwa itu. Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah mati agar kalian bersyukur.”(Al-Baqoroh: 55-56).

Conloh kedua:

Dalam kisah orang yang terbunuh, yang dipersengketakan oleh Bani Israil tentang siapa pembunuhnya. Alloh akhirnya memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi untuk kemudian mereka memukulkan sebagian dari anggota tubuh sapi itu pada tubuh orang yang mati terbunuh tadi, agar dapat

memberitahukan kepada mereka siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Dalam kisah ini Alloh mengungkapkan :

“Ingatlah ketika kalian membunuh seseorang, lalu ka mu saling tuduh-menuduh tentang hal itu. Dan Alloh hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami akhirnya berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian dari anggota tubuh sapi itu! Demikianlah Alloh menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-

tanda kekuasaan-Nya agar kalian mengerti” (Al-Baqarah: 72-7 3).

Contoh ketiga:

Dalam kisah suatu kaum yang keluar dari negeri mereka karena hendak menghindar dari kematian yang jumlahnya ribuan orang, namun akhirnya Alloh mematikan mereka dan kemudian menghidupkan mereka kembali. Tentang kisah ini, Alloh Ta’ala berfirman:

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beriba-ribu jumlahnya, karena takut mati. Namun Alloh berfirman kepada mereka, ‘Matilah kalian!’ (Maka mereka pan mati). Kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sesungghnya Alloh menpunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi ternyata kebanyakan manusia tidak bersyukur.”(Al-Baqarah: 243)

Contoh keempat:

Dalam kisah orang yang melewati sebuah negeri yang ‘mati’, lalu ia meragukan bila Alloh Ta’ala dapat menghidupkan negeri itu kembali. Maka Allah lalu mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian Alloh menghidupkannya kembali. Tentang hal ini, Alloh Ta’ala berfirman :

“Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Baqarah:259).

Contoh kelima:

Dalam kisah Ibrahim Al-Khalil ketika memohon kepada Alloh Ta’ala agar memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Akhirnya Allah menyuruhnya untuk menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu untuk diletakkan di pegunungan sekitarnya. Kemudian Ibrahim memanggilnya, lalu bagian-bagran tubuh burung (yang telah dipotong-potong) itu satu sama lain menyatu kembali, dan datang kepada Ibrahim dengan segera. Kejadian ini dikisahkan oieh Alloh melalui firman-Nya:

“Dan  (ingatlah) ketika  Ibrahim  berkata:  “Ya  Tuhanku ,

perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Baqarah: 260)

Ini semua adalah contoh bukti inderawi yang nyata, yang menunjukkan dapat dihidupkannya kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Di depan juga disebutkan bahwa Alloh ta’ala menjadikan tanda-tanda kenabian (mukjizat) ‘Isa bin Maryam berupa dapat menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Alloh Ta’ala

Tentang dalil akal, dapat ditinjau dari dua sudut :

Pertama:

Bahwa Alloh ta’ala adalah pencipta langit dan bumi serta apa saja yang ada pada keduanya. Alloh adalah pencipta keduanya dari permulaan, yang sebelumnya keduanya tak ada. Yang Maha Kuasa untuk memulai penciptaan, sudah tentu mampu mengembalikannya. Alloh Ta’ala berfirman :

“Dialah yang memulai penciptaan, kemudian akan mengembalikannya (menghidupkan) lagi, dan ini lebih mudah bagi-Nya” (Ar-Ruum: 27)

Alloh ta’ala berfirman,

“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitutah Kami akan mengulanginya. Itulah saat janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya” (Al-Anbiya’: 104).

Dalam memerintahkan untuk menjawab orang yang mengingkari dihidupkannya kembali tulang-belulang yang telah hancur luluh, Alloh ta’ala berfirman,

‘Katakanlah, Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang telah menciptakannya kali pertama, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk'” (Yaasiin: :79).

Kedua:

Ada tanah yang mati dan tandus, tak ada satu pun pohon hijau yang hidup padanya. Lalu Alloh menurunkan hujan di tanah tandus itu, sehingga tumbuh-tumbuhan pun tumbuh subur menghijau padanya. Dzat yang kuasa menghidupkan tanah ini setelah matinya tentu mampu menghidupkan manusia yang mati. Alloh Ta’ala berfirman:

“Sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya adalah bahwa kamu melihat bumi ini kering tandus. Maka apabila Kami turunkan air (atasnya), niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang telah menghidupkannya, tentu dapat menghidupkan yang mati.

Sesunguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fushshilat: 39).

Alloh ta’ala berfirman:

“Kami turunkan air dari langit yng penuh berkah, la lu dengan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun berpohon dan biji-bijian yang dapat diketam. Dan juga pobon kurma yang tinggi dan mayangnya bersusun-susun. Ini adalah sebagai rezeki bagi para hamba. Dengan air itu pula, Kami menghidupkan negeri yang ‘mati’. Seperti itulah terjadinya kebangkitan” (Qaaf: 9-11).

Ada kelompok sesat dan kalangan orang-orang yang menyimpang, mereka mengingkari adanya adzab dan nikmat kubur, dengan anggapan bahwa hal itu tidak mungkin karena tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka katakan bahwa jika mayat yang ada di kuburnya itu dibongkar tentu akan tetap didapati sebagaimana semula. Dan kuburnya tidak berubah menjadi lebih luas atau lebih sempit.

Anggapan ini adalah batil menurut syara’, indera maupun akal. Dalil syara’, di depan telah disebutkan berbagai nash yang menunjukkan kepastian adanya adzab kubur dan kenikmatannya.

Dalam Shohih Bukhari disebutkan hadits dari lbnu Abbas radhiallahu’anhuma, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar dari salah satu kebun di kota Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang diadzab di dalam kuburnya” (HR. 226 Bukhari dalam Kitabul Wudhu, HR. Muslim dalam Kitabuth Thaharah).

Selanjutnya disebutkan bahwa masalahnya, yang satu tidak “menjaga” kencingnya dan seorang lagi suka mengadu domba.

Bukti inderawi:

Bahwa orang yang tidur terkadang bermimpi bahwa ia berada dalam sebuah tempat luas yang indah dan dapat bersenang-senang di dalamnya atau berada dalam suatu tempat yang menjijikkan dan menyakitkan, yang terkadang ia terbangun karenanya. Sekalipun demikian, ia tetap berada di atas ranjangnya di dalam kamar sebagaimana adanya. Tidur adalah saudaranya mati. Oleh karena itu, Alloh menamakannya dengan nama ‘wafat’. Alloh Ta’a1a, berfirman :

“Alloh ‘mewafatkan’ jiwa ketika matinya, dan jaga ‘mewafatkan’ jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai batas waktu yang ditentukan …”. (Az-Zumar: 42).

Dalil akal:

Orang yang tidur kadang bermimpi benar yang sesuai dengan kenyataan. Ada juga orang yang bermimpi melihat Nabi sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa yang melihat beliau sesuai dengan sifarnya, maka ia berarti benar-benar melihatnya. Sekalipun demikian, orang yang tidur tadi tetap berada di dalam kamarnya di atas ranjang dan jauh dari apa yang dilihatnya dalam mimpi. Jika hal itu adalah sesuatu yang mungkin di dunia, maka bukankah juga merupakan hal yang sangat mungkin di akhirat?

Adapun dasar pijakan mereka, sebagaimana yang mereka yakini itu, bahwa seandainya mayit yang ada di dalam kubur itu dibongkar tentu akan ditemukan sebagaimana adanya, sementara kuburannya tidak berubah menjadi luas arau sempit, maka dapat dijawab dari beberapa sudut, di antaranya sebagai berikut :

Pertama:

Sebenarnya tidak dibolehkan menentang apa yang diyakini apa yang dibawa oleh syara, dengan syubhat-syubhat yang batil seperti ini, yang seandainya saja orang yang menentangnya seperti itu mau merenungkan benar-benar, tentu ia akan mengetahui kebatilan syubhat ini. Dalam pepatah dikatakan, ‘Betapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar, padahal ‘bencananya’ berasal dari pemahamannya yang sakit’.”

Kedua:

Keadaan barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak ditangkap oleh indera. Karena jika dapat ditangkap oleh indera, tentu akan hilang faedah beriman kepada yang gaib dan akan sama saja antara orang-orang yang beriman kepada yang gaib dengan orang-orang yang mengingkarinya.

Keliga:

Adzab kubur maupun kenikmatannya dan keruasan maupun kesempitannya hanya dapat dimengerti oleh si mayit. Ini seperti halnya orang tidur yang bermimpi berada dalam sebuah tempat sempit yang menjijikkan, atau dalam sebuah tempat luas yang menyenangkan; namun demikian, orang lain tetap demikian melihatnya tak berubah sama sekali dari tidurnya, dan tetap saja berada di kamarnya sedang berselimut di atas ranjang. Nabi pernah mendapatkan wahyu ketika beliau berada di tengah-tengah para sahabat. Beliau mendengar wahyu, sedangkan para sahabat tidak mendengarnya. Kadang juga datang seorang malaikat kepada beliau dengan menjelma seorang lelaki, lalu bicara kepada beliau, namun para sahabat tidak ada yang melihat malaikat dan juga

Keempat:

Penangkapan (pengetahuan) manusia itu terbatas, sebatas yang diizinkan oleh Alloh Ta’ala untuk dapat mengetahuinya, dan tidak mungkin dapat menangkap segala yang ada. Langit yang tujuh serta bumi dan seisinya, dan juga segala sesuatu yang ada bertasbih memuji Alloh dengan tasbih secara hakiki yang terkadang diperdengarkan oleh Alloh kepada siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Sekalipun demikian, hal itu tertutup bagi kita.

Mengenai hal itu, Alloh berfirman :

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka ..” (Al-Israa ‘: 44).

Demikian halnya dengan setan dan jin yang melakukan perjalanan di muka bumi ini pulang dan pergi. Ada sekelompok jin yang datang kepada Rosululloh dan mendengarkan bacaan Al-Quran beliau dengan khidmat. Selanjutnya, mereka kembali kepada kaum mereka untuk menyampaikan peringatan (dakwah). Meskipun demikian yang terjadi, namun mereka semua tidak dapat kita lihat. Tentang hal ini, Alloh berfirman :

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat di tipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman” (Al-A’raaf: 27).

Jika manusia ini udak bisa menangkap segala yang ada, maka ia tidak boleh mengingkari perkara-perkara gaib yang telah ditetapkan oleh syara’, sekalipun ia tidak mampu menangkap hal yang gaib itu.

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *