[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 33 – Syarah Ushuluts Tsalasah 33

Landasan 2. Rukun Iman: 4. Iman kepada para rasul-Nya

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Kata rusul merupakan bentuk jamak dari kata rosuul artinya mursal, yakni mab’uuts (yang diutus) untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksudkan di sini (menurut pengertian syara’) adalah manusia yang diberi wahyu (oleh Alloh) berupa syara’, dan diberi tugas untuk menyampaikannya.

Rosul pertama adalah Nuh, dan yang terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Alloh Ta’a1a berfrman [artinya]:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu itu kepada Nuh dan nabi-nabi sesudah-nya” (An-Nisa’: 163).

Dalam Shohihu Al-Bukhari mengenai hadits syafaat disebutkan riwayat dari Anas bin Maalik radhiallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam pernah menuturkan,

“Kelak manasia akan datang kepada Nabi Adam ‘alaihissalam agar ia berkenan memberikan syafaat kepada mereka, namun ternyata Nabi Adam meminta maaf kepada mereka (tidak bisa menberi syafaat) seraya berkata kepada mereka, Datanglah kepada Nuh sebagai rosul pertama yng diutus oleh Allah ….(HR. Bukhari dalam Kitab At-Tauhid, HR. Muslim dalam Kitabul Imaan).

Tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, Alloh Ta’ala berfirman,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak laki-laki di antara kami, tetapi dia adalah Rosululloh dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40).

Setiap umat tidak pernah kosong dari seorang rosul yang diutus oleh Alloh Ta’ala dengan membawa syariat tertentu untuk kaum (umat)nya, atau tidak pernah pula kosong dari seorang nabi yang diberi wahyu (oleh Alloh) dengan syariat nabi sebelumnya untuk melakukan pembaharuan syariat tersebut. Alloh Ta’ala berfrman,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada setiap umat agar menyerukan, Ibadahilah Alloh saja, dan jauhilah thaghut!”‘ (An-Nahl :36).

Alloh Ta’ala berfirman,

“Tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan ” (Fathir: 24).

Alloh Ta’ala berfirman,

“Sesunguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dengan kitab itu pula, diputuskan perkara orang-orang Yahudi” (A l-Ma’idah: 44).

Para rosul adalah manusia biasa yang juga merupakan makhluk Al1oh. Mereka sama sekali tidak memiliki karakteristik rububiyah maupun uluhiyah. Alloh Ta’ala berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang merupakan ‘penghulunya’ para utusan, yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah Ta’ala,

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaata n bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raaf: 188)

Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya” (Al-Jin: 21-22).

Para rosul justru mempunyai karakter-karakter kemanusiaan, seperti sakit, mati, butuh makan atau minum dan sebagainya.

Dalam mensifati Robbnya, Ibrahim ‘alaihissalam berkata -sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran-,

“Dialah (Robbku) yang telah memberikan makan dan minum. Apabila aku sakit, Dialah pula yang menyembuhkanku. Dia juga yang mematikanku, dan kemudian menghidupkannya (kembali)” (Asy-Syu’ara: 79-91)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kali an, aku bisa lupa seperti kalian juga. Maka jika aku lupa, maka ingatkanlah aku!” (HR. Bukhari dalam Kitabul Qiblah, HR. Muslim dalam Kitabul Masaajid).

Allah ta’ala mensifati para rasul itu sebagai manusia yang menempati peringkat paling tinggi dalam menghamba (ubudiyah) kepada-Nya. Allah ta’ala juga memberikan pujian kepada mereka. Tentang Nabi Nuuh ‘alaihissalam, Allah berfirman [artinya]:

“Sesungguhnya Nuuh adalah seorang hamba yang banyak bersyukur” (Al-Israa: 3).

Tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam,

Allah berfirman [artinya]:

”Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi juru ingat bagi seluruh alam” (Al-Furqaan: 1).

Tentang Ibrahim, Ishaaq, Ya’qub ‘alahimussalam, Allah berfirman [artinya]:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik” (Shaad: 45-47).

Tentang Nabi ‘Isa putra Maryam, Allah berfirman [artinya]:

“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail” (Az-Zukhruuf: 59)

Iman kepada para rosul mencakup empat perkara :

Pertama:

Iman bahwa risalah mereka adalah benar-benar dari Alloh Ta’ala. Barangsiapa mengkufuri risalah mereka, sekalipun hanya salah seorang dari mereka saja, maka ia berarti telah mengkufuri seluruh rosul yang ada. Ini berdasarkan frman Alloh Ta’ala [artinya]:

“Kaum Nuh telah mendustakan seluruh rasul” (Asy-Syu’aro: 105).

Alloh Ta’ala, telah menganggap mereka sebagai orang-orang yang mendustakan seluruh rosul yang diutus oleh Alloh, padahal ketika mereka mendustakan rosul itu, yang ada hanyalah Nuh. Berdasarkan ini, maka kaum Nasrani yang mendustakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan tidak mau mengikuti beliau, mereka berarti mendustakan Al-Masih bin Maryam juga, dan tidak mengikuti Al-Masih.

Lebih-lebih Al-Masih sendiri telah menyamparkan kabar gembira tcntang Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Adalah tidak ada artinya pemberian kabar gembira kepada mereka itu dengan kedatangan Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam, kecuali ia memang seorang rosul untuk mereka juga. Dengan Muhammad itulah, Alloh akan menyelamatkan mereka dari kesesatan serta memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus.

Kedua:

Iman kepada siapa saja diantara. mereka yang kita ketahui namanya, seperti Muhammad, Ibrahim, Musa, ‘Isa dan Nuh ‘alaihimussalam. Kelima nama rersebut adalah para rosul Ulul ‘Azmi di antara rosul-rosul yang ada. Alloh Ta’a1a, telah menyebut mereka pada dua tempat (surat) di dalam Al-Quran: surat Al-Ahzab dan As-Syu’ara. Firman Alloh [artinya]:

“Ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nab i-nabi dan dari kamu sendiri (Muhammad), Nuh, Ibrahim, Musa serta ‘Isa putra Maryam” (Al-Ahzaab: 7).

“ Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya” (Al-Mu’min: 78).

Adapun terhadap para rosul yang kita ketahui namanya, kita imani mereka secara global. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (Al-Mu’minun: 78).

Ketiga:

Membenarkan berita-berita mereka yang sah (shohih).

Keempat:

Mengamalkan syariat salah seorang di antara para rosul itu yang diutus kepada kita. Dia adalah penutup para rosul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam yang diutus kepada seluruh umat marrusia. Alloh Ta’ala berfrman [artinya]:

“Maka demi Robbmu, mereka pada hakikatnya tidaklah beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan suatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”(An-Nisaa: 65)

Iman kepada para rosul mempunyai buah yang sangat agung, di antaranya

1. Mengetahui akan rohmat Alloh Ta’ala dan perhatian-Nya terhadap para hamba-Nya dengan mengutus para rosul kepada mereka, agar para rosul itu memberi petunjuk mereka ke jalan. Alloh Ta’a1a, serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka beribadah kepada Alloh. Sebab akal manusia tidak memadai untuk mengetahui hal itu.

2. Mensyukuri nikmat Alloh yang amat besar ini.

3. Mencintai para rosul, mengagungkan mereka, serta memberikan pujian yang layak buat mereka. Sebab, mereka adalah para utusan Alloh Ta’ala dan juga karena

mereka menunaikan penghambaan kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya serta memberikan nasihat kepada para hamba-Nya.

Namun orang-orang yang membangkang telah mendustaka para rasul itu dengan beranggapan bahwa para utusan Alloh Ta’ala itu bukan dari golongan manusia. Alloh Ta’ala sendiri yang mengungkap adanya anggapan (keyakinan) ini dan sekaligus juga yang membatalkannya melalui firman-Nya :

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia unt uk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” Katakanlah: “Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul” (Al-Israa: 94-95)

Alloh Ta’ala menggugurkan anggapan yang keliru ini. Alloh menegaskan bahwa rosul itu harus berupa manusia, karena ia diutus untuk penduduk bumi yang juga adalah manusia. Seandainya penduduk bumi adalah para malaikat, pasti Alloh akan menurunkan kepada mereka seorang malaikat dari langit sebagai

rosul, agar bangsanya sama dengan bangsa mereka. Demikianlah, Alloh Ta’ala juga telah menuturkan tentang orang-orang yang mendustakan para rosul bahwa mereka itu mengatakan

“Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata”.

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah”(Ibrahiim: 10-11).

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *