[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 30 – Syarah Ushuluts Tsalasah 30

Landasan 2. Rukun Iman: 1. Iman kepada Allah

Rukun Iman ada 6: 
1. Iman kepada Allah 
2. Iman kepada para malaikat-Nya 
3. Iman kepada kitab-kitab-Nya 
4. Iman kepada para rasul-Nya 
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepada takdir yang baik dan yang buruk 
Dalil keenam rukun iman ini adalah firman Allah ta’ala
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi … [Al-Baqarah: 177]
Sedangkan dalil takdir adalah firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya segala sesuatu telah kami ciptakan sesuai dengan takdir” (Al-Qomar: 49)

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Iman kepada Alloh itu mencakup empat hal:
I. IMAN KEPADA KEWUJUDAN (ADANYA) ALLAH TA’ALA
Kewujudan Alloh ta’ala ini telah dibuktikan oleh fithroh, akal, syara’ dan indera.
Petunjuk fithroh menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fithroh ini, kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari firhroh itu. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:
“Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan di ata s (dalam keadaan) fithroh. Maka kedua orang tuanya yang akan menjadikannya sebagai orang Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari dalam Kitabul Janaiz, HR.Muslim dalam Kitabul Qadr).
Petunjuk akal menyatakan kewujudan Alloh, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada pencipta yang menciptakannya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya (tanpa ada yang menciptakannya).
Tidak mungkin makhluk itu tercipta oreh dirinya sendiri, karena sesuatu itu tidak dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebab, sebelum ia ada, ia tiada. Maka bagaimana mungkin ia bisa menjadi pencipta?
Ia juga tidak mungkin ada secara kebetulan, karena segala sesuatu yang terjadi itu sudah pasti ada yang menjadikannya. Dan lagi, wujudnya yang mengikuti keteraturan yang indah ini, mengikuti keserasian yang padu serta adanya hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara sebab dan musababnya, dan juga antara makhluk satu dengan lainnya; semuanya menolak penuh jika kewujudan sesuatu itu secara kebetulan. Sebab, sesuatu yang ada secara kebetulan berarti tidak mengikuti keteraturan pada asal kewujudannya; lalu bagaimana mungkin ia kemudian bisa menjadi teratur dalam perkembangan berikutnya?
Jika seluruh makhluk yang ada ini tidak mungkin ada dengan sendirinya (menciptakan dirinya sendiri) dan juga tidak mungkin ada secara kebetulan begitu saja, maka dapatlah dipastikan bahwa ada yang menciptakannya atau mengadakannya; yaitu Alloh Robb semesta alam!
Allah ta’ala sendiri telah menyebutkan dalil ‘aqli dan alasan yang qath’i ini dalam surat Ath-Thuur. Disitu Allah berfirman [artinya]
“Apakah mereka menicpta tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)” (Ath – Thuur:35)
Maksudnya, mereka itu tidaklah tercipta tanpa pencipta, dan merekapun tidak pula mencipta diri sendiri. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Alloh tabaraka wa ta’ala. Lantaran itu, tatkala Jubair bin Muth’im radhiallahu’anhu mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassalam sedang membaca surat Ath-Thuur hingga sampai pada ayat (yang artinya):
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thuur: 35-37).
(Dimana ketika itu Jubair masih musyrik), maka ia berkata, “Hampir-hampir saja hatiku hendak terbang. Ketika itulah mula pertama keimanan bersemayam di dalam hatiku.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara terpisah-pisah. (HR.Bukhari dalam Kitabu Al-Tafsir).
Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh berbagai taman, ada sungai-sungai yang mengalir diantara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunan inti maupun penyempurnaanya, lalu ia berkata kepada Anda,
“Sesungguhnya istana ini dengan berbagai kesempurnaanya yang ada tercipta oleh dirinya sendiri, atau tercipta seperti ini secara kebetulan tanpa ada yang mencipta”; maka Anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakan-Nya, dan Anda pasti akan mengkategorikan perkataannya itu sebagai perkataan tolol. Dengan demikian, apa mungkin jika alam yang luas dengan bumi dan langitnya, dengan orbitnya, dan dengan tatanannya yang indah dan luar biasa ini, semua mencipta dirinya sendiri, atau tercipta secara kebetulan tanpa ada yang mencipta?!
Petunjuk syar’i juga menyatakan kewujudan Alloh, sebab kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa hal itu datang dari Robb yang Bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluk-Nya. 
Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut, serta telah disaksikan oleh kenyataan tentang kebenarannya, merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Robb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan (mencipta) apa yang diberitakan itu.
Dan petunjuk indera mengenai kewujudan Alloh dapat dilihat dari dua hal :
Pertama:
Kita semua mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya ini menunjukkan secara qoth’i akan adanya Allah Ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Ingatlah akan kisah Nuuh sebelum itu ketika ia ber doa, lalu Kami kabulkan doanya” (Al-Anbiyaa’: 76)
“Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu Diapun mengabulkan permohonanmu” (Al-Anfaal: 9)
Dalam Shohih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik:
Bahwa seorang Arab pedalaman masuk (ke dalam masjid) pada hari Jumat, sementara Nabi sedang berkhutbah. Orang itu lantas berkata, “Ya Rosululloh, harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Alloh buat kami!” Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa . 
Tak lama kemudian, awan sebesar gunungpun tiba; sementara beliau masih berada di atas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada Jumat kedua (berikutnya), si Arab pedalaman itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata, “Ya Rosululloh, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Alloh untuk kami!” Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Alloh , turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami”(HR. Bukhari dalam Kitabul Jum’ah, HR. Muslim dalam Kitabul Istisqa).
Akhimya, tidaklah beliau menunjuk pada suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan). Terkabulnya permohonan orang-orang yang berdoa hingga hari ini masih dapat disaksikan dengan nyata, tentunya bagi orang yang benar-benar bersandar kepada Alloh Ta’ala serta memenuhi syarat-syarat dikabulkannya sebuah doa’.
Kedua:
Ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi yang dinamakan mukjizat yang disaksikan oleh manusia lain, atau yang mereka dengar merupakan bukti yang qoth’i akan adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Alloh Ta’ala. Sebab, kemukjizatan-kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja diberlakukan oleh Alloh Ta’ala untuk mengokohkan dan memenangkan para rosul-Nya.
Contoh pertama, mukjizat Musa ketika Alloh memerintahkannya untuk memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun memukulnya dan akhirnya laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering, sementara air laut berada di antara jalan-jalan itu laksana gunung.
Alloh Ta’ala berfirman:
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan i tu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar ” (Asy-Syu’ara: 63)
Contoh kedua, mukiizat ‘Isa berupa dapat menghidupkan kembali orang-otang yang sudah mati dan mengeluarkan mereka dari kubur dengan izin Alloh. Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“ ..dan aku (‘Isa) dapat menghidupkan orang mati dengan izin Allah…” (Ali ‘Imraan: 49)
“…dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku..” (Al-Maidah: 110)
Contoh ketiga, ketika kaum Quroisy meminta mukjizat dari Nabi Muhammad, maka beliau menunjuk bulan, lalu bulan itu terbelah menjadi dua, dan orang-orang pun menyaksikannya. Mengenai hal ini, Alloh Ta’ala berfirman :
“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda  (mukjizat),  mereka  berpaling  dan  berkata:  “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”  (Al-Qomar: 1-2).
Berbagai mukjizat yang dapat diindera yang sengaja dibuat oleh Alloh Ta’ala untuk mengokohkan dan menolong para rosul-Nya ini menunjukkan secara qoth’i akan adanya Alloh Ta’ala”.
II. IMAN KEPADA RUBUBIYAH-NYA
Artinya, bahwa Dia adalah satu-satunya Robb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong. Robb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Alloh, tiada yang memiliki kecuali Alloh serta tiada yang berhak memerintah kecuali Alloh.
Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“… ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah…”(Al-A’raaf: 54).
“…yang demikian itulah Rabb kalian. Hanya milik-Nyalah segala kerajaan. Sedangkan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Alloh itu tiada meniliki apa-apa walau hanya setipis kulit ari pun” (Faathir: 13)
Tidak ada ceritanya bahwa ada diantara makhluk ini yang mengingkari rububiyah Alloh Ta’ala, kecuali karena ia sombong namun sebenarnya ia tidak yakin dengan apa yang diucapkannya, ini seperti pernah terjadi pada diri Fir’aun ketika berkata kepada kaumnya sebagaimana disebutkan oleh Al-Quran:
“…akulah tuhan kalian yang maha tinggi!” (An-Nazi ‘at: 24).
“Hai para pembesar kaumku, aka tidak tahu akan adan ya tuhan lain bagimu selain aku … “(Al-Qoshosh: 38).
Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan. Alloh Ta’ala, berfirman [artinya]:
“Mereka mengingkarinya lantaran kedzaliman dan kesombongan (mereka) padahal sebenarnya di hati mereka meyakini (kebenaran)nya..”(An-Naml: 14).
Musa pernah berkata kepada Fir’aun sebagamana yang dikisahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an [artinya]:
“Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” (Al-Israa: 102).
Karena itu, kaum musyrikin itu mengakui rububiyah Alloh Ta’ala, namun mereka menyekutukan-Nya dalam hal uluhiyah-Nya. Alloh Ta’ala, berfirman [artinya]:
“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semu a yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang punya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (Al-Mukminuun: 84-89)
Alloh Ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Az-Zukhruf: 9)
Allah Ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?” (Az-Zukhruf: 87).
“Perintah” Robb di sini meiiputi segala perintah yang bersifat kauni (alam) dan syar’i. Dia adalah pengatur alam semesta ini, yang mengatur segala apa yang ada di dalamnya dengan kehendak-Nya sendiri sejalan dengan hikmah-Nya; maka demikian juga, Dia adalah hakim yang mensyariatkan peribadahan-peribadahan dan hukum-hukum muamalat sejalan dengan hikmah-Nya pula. Siapa saja yang menjadikan pensyariat lain dalam masalah-masalah ibadah atau menjadikan hakim lain dalam hal muamalah di samping Alloh, maka ia berarti telah menyekutukan-Nya, dan dengan demikian ia berarti belum merealisasikan keimanan.
III. IMAN KEPADA ULUHIYAH-NYA
Artinya bahwa Dia adalah satu-satunya ilah yang haq, tiada sekutu bagi-Nya. Kata ilah disini bermakna ma’luh, yang berarti ma’buud (yang disembah atau diibadahi) atas landasan kecintaan dan pengagungan. Allah ta’ala berfirman [artinya]:
“’Ilah kamu adalah ilah yang satu; tiada ilah selain Dia. Dia Maha Pemurah lagi Penyayang” (Al-Baqarah: 163).
Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Ali ‘Imraan: 18).
Segala yang dijadikan sebagai ilah disamping Allah, yang disembah selain Allah, maka uluhiyah sembahan itu adalah bathil.
Allah berfirman [artinya]:
“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alla h, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (Al-Hajj: 62).
Ilah-ilah selain Allah itu tidak mempunyai hak uluhiyah. Mengenai Latta, ‘Uzza dan Manaat, Allah ta’ala berfirman [artinya]:
“Ilah-ilah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang k amu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya” (An-Najm: 23).
Allah ta’ala berfirman tentang Nabi Huud bahwa ia pernah berkata kepada kaumnya [artinya]:
“Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama ilah yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu?” (Al-A’raaf: 71).
Alloh Ta’a1a, juga berfirman bahwa Nabi Yusuf pernah berkata kepada penghuni penjara:
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuh an-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama sesembahan itu” (Yuusuf: 39-40).
Oleh karena itu, seluruh rosul ‘alaihimussalam selalu berkata kepada kaum mereka, “Ibadahilah Alloh; tiada ilah selain-Nya bagi kalian”
Namun ternyata orang-orang musyrik itu enggan, dan mereka tetap saja mengambil ilah-ilah lain selain Alloh yang mereka sembah di samping Alloh serta dimintai pertolongan dan perlindungan.
Alloh Ta’ala telah membatilkan (menggugurkan) tindakan kaum musyrikin mengambil ilah-ilah ini dengan dua keterangan (hujah) ‘aqli:
Pertama:
Ilah-ilah yang disembah oleh kaum musyrikin ini sama sekali tidak memiliki karakteristik uluhiyah sedikit pun. Ilah-ilah itu sekedar makhluk yang tidak akan dapat mencipta, tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi penyembahnya, tidak dapat menolak kemadhorotan, dan mereka tidak kuasa untuk menghidupkan atau mematikan mereka serta tidak memiliki apa pun tentang apa yang ada di langit dan juga tidak mempunyai saham sedikit pun.
Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan” (Al-Furqaan:3)
Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Katakanlah: ” Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu” (Saba’: 22-23).
Allah juga berfirman [artinya]
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan” (Al-A’raaf: 191-192).
Jika seperti ini keadaan ilah-ilah itu, maka menjadikannya sebagai ilah (sembahan) merupakan tindakan yang paling tolol dan paling batil.
Kedua:
Sebenarnya kaum musyrikin itu mengakui bahwa Alloh Ta’ala saja satu-satunya Robb pencipta (Khaliq) yang memegang kekuasaan atas segala sesuatu, serta yang memberikan perlindungan; dan tidak ada yang dapat dirindungi atau diselamatkan dari adzab-Nya. Hal ini sebenarnya mengandung konsekuensi bahwa mereka harus mengesakan-Nya dalam hal uluhiyah. Sebagaimana mereka telah mengesakan-Nya dalam hal rububiyah.
Alloh Ta’ala berfirman [artinya]:
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu mengetahui” (Al-Baqarah: 21-22).
Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, siapa ya ng menciptakan mereka, tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (Az-Zukhruf: 87).
Allah ta’ala juga berfirman [artinya]:
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup] dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? “ (Yunus: 31-32).
IV. IMAN KEPADA NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT-NYA
Artinya, menetapkan apa saja yang telah ditetapkan oleh Alloh T’ala bagi diri-Nya, yang tersebut dalam Kitab-Nya atau Sunnah Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam tentang nama-nama (asma) dan sifat-sifat yang sesuai dengan kelayakan bagi-Nya, tanpa (melakukan) tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil. Alloh Ta’ala berfrman [artinya]:
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan ”(Al-A’raaf: 180)
Hanya milik-Nya sifat Yang Maha Tinggi di langit maupun di bumi. Firman Alloh Ta’ala [artinya]:
”Tiada sesuatu pun yng menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat” (Asy-Syu’ar:11)
Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:
Pertama : Golongan Mu’aththilah
Mereka adalah golongan yang mengingkari seluruh asma’ dan sifat Alloh, atau mengingkari sebagiannya, dengan anggapan (alasan) bahwa penetapan asma’ dan sifat-sifat itu berarti menuntut adanya penyerupaan (tasybih); yaitu penyerupaan Alloh Ta’ala dengan makhluk-Nya. Anggapan semacam ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; di antaranya:
Hal itu akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti kontradiksi mengenai firman-firman Alloh. Sebab, Alloh Ta’ala telah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi diri-Nya serta telah menyatakan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika penetapan asma’ dan sifat itu menuntut adanya penyerupaan (taybih), tentu hal ini menuntut adanya kontradiksi dalam firman Alloh serta adanya satu frman yang mendustakan firman lainnya.
Adanya kesesuaian (kesamaan) antara dua hal mengenai nama atau sifat, tidak mengharuskan keduanya sama. Anda dapat melihat adanya dua orang yang sama-sama sebagai manusia yang mendengar, melihat dan dapat berbicara. Namun kesamaan itu tidak mengharuskan adanya kesamaan di antara keduanya mengenai makna-makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda iuga mehhat berbagai binatang yang sama-sama mempunyai tangan, kaki dan mata. Namun kesamaan seperti itu tidak mengharuskan kesamaan (persis) mengenai tangat, kaki dan mata seluruh macam binatang tersebut.
Jika telah jelas adanya perbedaan antara berbagai makhluk dalam hal yang terdapat kesamaannya mengenai nama atau sifatnya, maka perbedaan antara Kholiq dengan makhluk tentunya jauh lebih jelas dan lebih besar.
Kedua : Golongan Musyabbihah
Mereka adalah orang-orang yang menetapkan asma’ dan sifat, namun mereka menyerupakan Alloh Ta’ala, dengan makhluk-Nya. Mereka beranggapan bahwa ini merupakan konsekuensi dan petunjuk nash-nash yang ada, karena Alloh Ta’ala menyatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami. Anggapan ini adalah batil ditinjau dari berbagai sudut; diantaranya:
# Keserupaan Alloh Ta’ala dengan makhluk-Nya merupakan perkara yang batil, yang dibatilkan oleh akal maupun syara’. Dan tidak mungkin bila konsekuensi dari nash-nash Kitab dan Sunnah itu merupakan hal yang batil.
# Alloh Ta’ala memang mengatakan kepada para hamba-Nya dengan ungkapan yang dapat mereka pahami dari segi asal maknanya. Adapun hakikat yang dikandung oleh makna tersebut termasuk perkara yang hanya diketahui oleh Alloh Ta’ala, termasuk mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Jika Alloh Ta’ala, telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu dapat kita ketahui bersama dari segi asal maknanya, yaitu penangkapan terhadap suara. Akan tetapi hakikat dari hal itu, jika dinisbatkan kepada pendengaran Alloh Ta’ala, maka hal itu tidak kita ketahui. Karena hakikat pendengaran itu berbeda-beda, sekalipun antara sesama makhluk, apalagi antara Kholiq dengan makhluk; tentunya perbedaannya lebih jelas dan lebih besar.
Iman kepada Alloh Ta’a1a, sesuai dengan yang kita kriteriakan di atas akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang beriman, di antaranya :
1. Terwujudnya ketauhidan kepada Alloh Ta’ala, di mana selain Alloh tidak ada yang digantungi dalam rangka mengharap atau cemas dan juga tidak ada yang diibadahi selain-Nya.
2. Sempurnanya kecintaan (mahabbah) kepada Alloh Ta’a1a dan pengagungan terhadap-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
3 . Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *