[ UIC 4.1 ] Belajar Aqidah 24 – Syarah Ushuluts Tsalasah 24

Landasan 2. Rukun Islam: 1. Syahadat ‘Laa ilaha illallah’

Dalil Syahadat adalah firman Allah ta’ala:
menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang  berilmu. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 18).
 
“Laa Ilaaha Illallah”, artinya: tiada sesembahan ya ng haq selain Allah. Syahadat ini mengandung dua unsur. Meniadakan dan menetapkan. “La Ilaaha”, adalah meniadakan segala bentuk sesembahan selain Allah,
 
“Illallah”, adalah menetapkan bahwa ibadah (penghambaan) itu hanya untuk Allah semata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam ibadah kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kakuasaan-Nya.
 
Tafsir  makna  syahadat  tersebut  diperjelas  oleh  firman
 
Allah ta’ala:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak nya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung-jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi aku menyembah Tuhan yang telah menjadikanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az-Zukhruf: 26-28) .
Dan firman Allah ta’ala:

“Katakanlah (Muhammad): “Hai Ahli Kitab! Marilah berpegang teguh kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran : 64).

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Pengertian Syahadat]

Syahadat yang artinya pernyataan bahwa tiada ilah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah rosul Alloh, merupakan satu rukun. Keduanya merupakan satu rukun, padahal terdiri dari dua bagian, hal ini tidak lain karena ibadah-ibadah dilaksanakan berdasarkan upaya untuk mewujudkan makna keduanya. 

Ibadah tidak diterima kecuali jika dilaksanakan dengan ikhlas kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, suatu hal yang terkandung dalam persaksian bahwa tidak ada ilah selain Alloh, dan meneladani Rosul shallallahu ‘alaihi wassalam, yaitu yang terkandung dalam persaksian bahwa Muhammad adalah Rosululloh.

[Dalil Syahadat]

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyatakan diri, bahwa tiada ilah kecuali Dia. Pernyataan itu juga dilakukan oreh para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Alloh juga menyatakan bahwa Dia senantiasa menegakkan keadilan. Kemudian pernyataan tersebut ditegaskan-Nya kembali dengan pernyataan “Tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana” Ayat ini mengandung pujian yang tinggi b agi para ulama, di mana Alloh menggambarkan bahwa mereka mengeluarkan pernyataan bersama Alloh dan para malaikat. Yang dimaksud dengan ulama di sini adalah mereka yang mengetahui ilmu syariat, termasuk yang paling utama di antara mereka adalah para rosul yang mulia.

Pernyataan ini merupakan pernyataan paling agung, karena keagungan yang menyatakan maupun yang dinyatakan. Yang menyatakan adalah Alloh, malaikat, dan para ulama; sedangkan yang dinyatakan adalah pengesaan Alloh dalam uluhiyah-Nya. Apalagi pernyataan ini ditegaskan dengan “Tiada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

[Makna “laa ilaaha illallah”]

Maksud perkataan Penulis, “Maknanya” adalah makna pernyataan “tidak ada ilah selain Alloh”. Di mana makna peryataan ini adalah “tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh”, Dengan menyatakan bahwa tidak ada i lah selain Alloh, berarti seseorang mengakui dengan ucapan dan hatinya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia adalah “ilah” yang dalam bahasa Arab bermakna “ma’luh” yan g diibadahi. “taalluh”artinya “ta’abbud”. Kalimat “ l aa ilaaha illallah” mengandung makna penafian dan penetapan. Penafian tersebut terkandung dalam kalimat “laa ilaha” (tidak ada ilah). 

Sedangkan penetapan t ersebut terkandung dalam kalimat “illallah” (kecuali Alloh) . Kata Alloh adalah lafzhul jalalah yang jika ditinjau dari struktur bahasa Arab berkedudukan sebagai “badal” d ari “khobar laa” yang terhapus. Penafsirannya “laa ilah a bi haqqin illallah” (tida ada ilah yang haq kecuali Al loh)”. Penafsiran khobar yang terhapus itu dengan kata “bi haqqin” memperjelas jawaban teradap pertanyaan berikut: Bagaimana bisa dikatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh, padahal banyak tuhan selain Alloh yang diibadahi? Bukankah Allah sendiri menyebutnya sebagai aalihah (tuhan-tuhan) dan para penyembahnya juga menyebutnya tuhan? Alloh Tabaraka wa ta’ala berfirman [artinya]

“… karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang.”(Huud: 101).

Bagamana mungkin kita menetapkan sifat ketuhanan bagi selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan para rosul berkata kepada kaum mereka :

“… beribadahlah kepada Alloh, tidak ada tuhan bagi kalian selain-Nya…” (Al-A’raaf: 59).

Jawaban atas kerancuan ini menjadi jelas dengan menafsirkan khobar dalam kalimat “laa ilaaha illall ah”, yaitu kita mengatakan, “Semua tuhan selain Alloh yang diibadahi ini memang disebut tuhan, tetapi semua itu merupakan tuhan yang batil, bukan tuhan yang haq. Mereka tidak memiliki hak ketuhanan sama sekali. Itu ditunjukkan oleh firman Alloh Ta’ala :

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Alloh, Dial ah (tuhan) yang haq dan sesunguhnya apa yang mereka seru selain Alloh, itulah yang batil, dan sesungahnya Alloh, Dialah yng Maha tinggi lagi Maha besar”(Al-Hajj: 62).

Hal itu juga ditunjukkan oleh firman Alloh Ta’ala [artinya] :

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (An-Najm 19-23)
Juga firman Alloh Ta’ala mengenai Yusuf ‘alaihissalam yang berkata :

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu…”(Yusuf: 40).

Jadi, makna “laa ilaaha illallah” adalah tidak ada tuhan yang di sembah secara haq kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Adapun sesembahan-sesembahan selain-Nya adalah sesembahan yang batil. Ketuhanan yang dinyatakan oleh para penyembahnya adalah tidak benar, atau dengan kata lain, bathil.

[Ibrahim]

Ibrahim adalah kesayangan Alloh, imam para penganut ajaran tauhid, dan rosul yang paling utama setelah Muhammad. Ayahnya bernamz Azar.

[Baro/berlepas diri]

Kata “barooun” adalah shifah musyabbahah dari kata “al-barooatun”, maknanya lebih tegas dibandingkan “bariiun”. Perkataan Ibrahim, “Aku menyatakan lepas dari segala yang kalian sembah”, setara dengan ucapan, “Tidak ada ilah”.

[Kecuali Tuhan yang telah menciptakan aku di atas fithrah]

Perkataan lbrahim, “Kecuali Tuhan yang telah menciptakanku di atas fithroh”, setara dengan ucapan, “Kecuali Alloh.” Jadi Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak mempunyai sekutu dalam peribadahan, sebagaimana Dia tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan. Dalilnya adalah frman Alloh.
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh. Maha Suci Alloh, Rabb semesta alam” (Al-A’raa : 54).

Ayat ini membatasi penciptaan dan hak memerintah pada Alloh Robbul ‘ilamin saja. Dialah yang menciptakan dan Dialah yang memerintah, baik perintah dalam pengertian kauni maupun dalam pengerttan syar’i.

[Akan menunjukiku]

“Akan menunjukiku”, artinya akan menunjukkan kebenaran kepadaku dan menolongku dalam melaksanakannya.

[Dan Ibrahim menjadikan kalimat itu]

“Dan Ibrahim menjadikan kalimat itu”, yaitu kalimat yang mengandung makna pernyataan berlepas diri dari setiap sesembahan selain Allah.

[Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab…”]

Perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, agar beliau berdialog dengan Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani.

“Marilah kalian kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisiban antara kami dan kalian”. Kalimat yang dimaksudkan di sini adalah hendaklah kita tidak beribadah, kecuali kepada Alloh dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Alloh. Pernyataan, “Kita tidak beribad ah kecuali kepada Alloh” adalah makna “laa ilaaha illa llah”

“Janganlah sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Alloh swt”, dimana ia puja sebagaimana Allah dipuja, disembah sebagaimana Alloh disembah, dan diberi hak untuk membuat hukum bagi yang lain.

“Jika mereka berpaling” artinya jika mereka menolak ajakan kalian.

[Saksikanlah bahwa kami orang-orang yang muslim]

Artinya, maka umumkan dan persaksikanlah bahwa kalian orang-orang yang berserah diri kepada Alloh. Kalian bedepas diri dari sikap mereka yang membandel dan berpaling dari kalimat yang agung ini, yaitu “l aa ilaaha illallah”.



والله أعلمُ بالـصـواب

Source ( Syarah Ushuuts Tsalatsah.pdf )


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *